Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Senin, 30-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 201   

 “Kau cerdik cantrik,” jawab orang itu. “Tetapi jangan menganggap bahwa aku menjadi yakin, bahwa kau dan kawan-kawanmu tidak mengetahui. Tetapi kami berdua memang merasa tidak ada perlunya untuk memaksa kalian. Kiai dan Nyai Soka pun tahu, bahwa kami berdua tidak akan memaksa seorang cantrik pun untuk mengatakan apa yang sebenarnya memang mereka ketahui. Karena itu, kedua suami istri itu tidak menyuruh kalian menyingkir pula.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya kedua orang ini bukan sejenis orang yang sangat garang dan menakutkan. 

Namun karena itu, maka para cantrik itu pun menjadi heran, bahwa orang-orang itu telah menaruh dendam kepada Kiai dan Nyai Soka. Apakah persoalan yang telah terjadi berpuluh tahun itu tiba-tiba telah terangkat kembali, dan api dendam itu kemudian menyala di hati mereka. 

Sejenak kedua orang itu saling berdiam diri. Nampak kemudian salah seorang di antara mereka bertanya, “Kapan kedua orang suami istri itu berangkat?” 

“Dua hari yang lalu,” jawab cantrik itu. 

“Jadi mereka sudah melihat pertanda di pintu gerbang itu. Karena aku menempelkan pertanda itu tiga hari yang lalu. Karena itu agaknya mereka memang menghindari kehadiran kami di sini,” gumam yang lain. 

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah arti pertanda di pintu gerbang itu? Kami juga melihat pertanda itu.” 

“Itu adalah bahwa kami yang sudah dikenal oleh kedua suami istri itu akan datang pada malam ini,” jawab salah seorang dari keduanya. 

Cantrik itu mengangguk-angguk. Ia memang melihat sebuah pisau belati kecil yang tertancap di regol padepokan. Pada pisau belati itu tergantung sebuah jambe yang sudah terbelah dua. Kemudian terdapat tiga goresan pisau di atas pisau belati yang tertancap di pintu gerbang padepokan itu. 

Tetapi Kiai dan Nya Soka tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya berpesan bahwa padepokan itu akan mereka tinggalkan dan untuk beberapa hari mereka berada di Tlaga Kuning, karena seorang akan da-tang dengan maksud buruk malam ini. 

“Ki Sanak,” tiba-tiba saja salah seorang dari kedua orang itu berkata, “Jadi kalian yakin bahwa Kiai dan Nyai Soka telah melihat pertanda itu?” 

“Ya. Kami para cantrik yakin. Kiai dan Nyai Soka telah mengamati pertanda yang berada di regol itu,” jawab cantrik itu. 

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata, “Baiklah, Ki Sanak, kumpulkan kawan-kawanmu aku minta semua cantrik berada di halaman. Aku ingin berbicara dengan kalian.” 

Cantrik itu termangu-mangu. Namun orang itu mendesak, “Cepat. Lakukan.” 

Cantrik itu terkejut. Ketika ia memandang wajah orang itu, maka wajah itu seakan-akan telah berubah. Dari sorot mata orang itu seakan-akan mulai memancarkan cahaya api yang dapat membakar jantung. 

Karena itu, maka cantrik itu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian meninggalkan kedua orang itu untuk menemui kawan-kawannya. 

“Kita semua harus berkumpul di halaman,” berkata cantrik itu. 

“Untuk apa?” bertanya yang lain. 

“Aku tidak tahu. Tetapi kedua orang itu memerintahkan, agar kita semua berkumpul di halaman padepokan.” 

Meskipun di dalam setiap hati timbul pertanyaan, namun para cantrik itu pun mulai bergerak dan berkumpul di halaman. Dalam keremangan cahaya lampu minyak di pendapa, nampak wajah-wajah mereka yang tegang memancarkan kegelisahan. 

Sejenak kemudian, maka kedua orang yang berada di pendapa itu pun bangkit dari duduknya dan melangkah ke tengah. Dipandanginya para cantrik yang ada di halaman itu. Dengan suara lantang salah seorang di antara kedua orang itu bertanya sekali lagi kepada para cantrik, “Jadi kalian tidak tahu ke mana Kiai dan Nyai Soka pergi?” 

Seorang cantrik yang tertua di antara mereka itu pun menjawab, “Ki Sanak. Kiai dan Nyai Soka tidak pernah mengatakan kepada kami ke mana saja mereka akan pergi.” 

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang di antara mereka maju selangkah sambil berkata, “Baiklah. Jika demikian maka kalian tidak mempunyai arti lagi bagi kami. Karena itu, maka seorang demi seorang dari kalian akan kami bunuh. Kami akan berhenti pada saat seorang di antara kalian bersedia mengatakan di mana Kiai Soka dan Nyai Soka berada.” 

Wajah para cantrik itu menjadi tegang. Sementara itu, cantrik yang tertua pun berkata, “Ki Sanak. Apakah langkah yang akan Ki Sanak ambil itu telah kalian pikirkan?” 

“Aku sudah memikirkannya berulang balik. Akhirnya aku memang sampai pada satu kesimpulan, bahwa kalian memang tidak ada gunanya lagi. Orang-orang yang sudah tidak hanya sekadar menghabiskan makanan dan minuman,” jawab salah seorang di antara mereka. 

Para cantrik menjadi bertambah tegang. Namun seorang di antara para cantrik itu tiba-tiba saja telah melangkah maju sambil berkata, “Ki Sanak. Jika kalian datang untuk membalas dendam kepada Kiai dan Nyai Soka, maka kalian tentu orang-orang yang pilih tanding. Namun demikian, tidak ada orang yang dengan suka rela menyerahkan lehernya untuk ditebas dengan pedang betapapun tajamnya. Karena itu, Ki Sanak, bukan berarti kami tidak menghormati tamu-tamu kami. Tetapi kami memang berniat untuk mempertahankan hidup kami.” 

Tiba-tiba saja kedua orang itu tertawa. Seorang di antaranya berkata, “Apakah kalian sudah gila. Kalian akan melawan kami?” 

“Kami tidak akan melawan. Tetapi kami akan sekadar mempertahankan hidup kami. Hanya itu. Meskipun kami tahu, bahwa kemudian kami juga akan mati, tetapi kematian kami adalah kematian seorang laki-laki yang terhormat. Bukan kematian seekor kelinci yang menyerahkan lehernya untuk disembelih,” jawab cantrik itu. 

Kedua orang itu masih tertawa. Seorang di antaranya berkata, “Baiklah. Marilah. Matilah sebagai laki-laki. Bagi kami kematian cara apapun yang kalian pilih tidak akan banyak bedanya. Kalian akan mati. Itu yang penting bagi kami, agar dengan demikian orang-orang yang tidak berguna seperti kalian akan lenyap dari muka bumi ini.” 

Cantrik-cantrik itu pun tiba-tiba berdiri meregang. Bagaimana pun juga mereka adalah cantrik dari sebuah padepokan yang dipimpin oleh dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Sehingga karena itu, maka para cantrik itu pun serba sedikit juga memiliki bekal dalam olah kanuragan. 

Kedua orang itu mengamati para cantrik itu sejenak. Namun kemudian ditebarkannya pandangan matanya ke dinding padepokan yang dibayangi oleh kegelapan. 

Tetapi kedua orang itu tidak melihat sesuatu. (Bersambung)-k

.
Selasa, 31-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 202   

 Dalam pada itu, para cantrik pun telah menebar semakin luas. Bahkan mereka telah berada di seputar pendapa padepokan kecil itu. 
Namun kedua orang itu sama sekali masih belum bergerak. Bahkan seorang di antara mereka berkata, “Kalian ternyata terlalu cepat dibakar oleh perasaan kalian tanpa pertimbangan nalar. Karena itu, coba pikirkan, apakah kalian ingin melawan kami berdua tanpa senjata? dengan senjata kalian tidak akan dapat berbuat banyak. Apalagi dengan sombong kalian bersiap melawan kami tanpa senjata sama sekali.”

 Para cantrik itu saling berpandangan di antara mereka, sementara orang itu berkata selanjutnya, “Pergilah. Ambillah senjata kalian. Apa saja yang kalian miliki dan kalian kuasai. Kami berdua akan mempergunakan senjata yang telah kami bawa. Kami masing-masing akan mempergunakan pedang kami.” 

Para cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang tertua di antara mereka berkata, “Baiklah Ki Sanak. Agaknya kalian memang terlalu yakin akan kemampuan kalian. Karena itu, maka biarlah kami mengambil senjata kami masing-masing.” 

Cantrik itu tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian melangkah ke dalam baraknya diikuti oleh para cantrik yang lain untuk mengambil senjata masing-masing. 

Sementara para cantrik itu pergi, seorang di antara kedua orang itu pun berkata, “Aku yakin, kedua orang itu ada disini. Jika kita memaksa para cantrik itu untuk bertempur maka kedua orang itu tentu akan hadir.” 

“Jika tidak?” bertanya yang lain. 

“Kita akan meninggalkan arena. Biarlah para cantrik itu merasa diri mereka menang,” jawab yang pertama. 

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi. 

Dalam pada itu, maka para cantrik pun kemudian telah kembali dengan senjata masing-masing. 

Sejenak kemudian para cantrik itu pun telah bersiap untuk bertempur. Senjata mereka telah teracu. Mereka benar-benar ingin bertempur, karena mereka tidak akan membiarkan diri mereka dibantai tanpa berbuat sesuatu. 

Kedua orang itu pun kemudian melangkah turun dari tangga pendapa. sejenak mereka berdiri tegak memandang berkeliling. Namun keduanya kemudian telah bergeser saling menjauh. Agaknya mereka tidak akan bertempur berpasangan. Tetapi mereka akan bertempur seorang-seorang melawan sekelompok kecil para cantrik di padepokan itu. 

Namun kedua orang itu memang nampak gelisah. Setiap kali mereka memperhatikan dinding halaman padepokan itu, atau sudut-sudut yang gelap disekitar halaman. Tetapi mereka tidak melihat seseorang. Bahkan dengan ketajaman indera mereka, sama sekali tidak menangkap isyarat bahwa di sekitar mereka ada seseorang yang bersembunyi atau mengamati keadaan di halaman itu. 

Karena itu, maka mereka tidak dapat menunggu lebih lama lagi, karena justru para cantriklah yang mulai bergerak mendekat dengan senjata yang mulai bergetar. 

Kedua orang itu segera mempersiapkan diri. Mereka pun telah mencabut pedang mereka dan mulai berputar di tangan mereka. Selangkah keduanya bergeser semakin menjauh dan agaknya mereka pun sudah siap untuk bertempur. 

Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran antara kedua orang itu dengan para cantrik. Ternyata kedua orang itu memang mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat mengagumkan. Mereka berloncatan sambil memutar pedang mereka. Setiap sentuhan senjata terasa, tangan para cantrik itu menjadih pedih. Agaknya kekuatan kedua orang itu pun jauh melampaui kekuatan orang kebanyakan. 

Untuk beberapa saat pertempuran itu berlangsung. Namun senjata mereka dari kedua belah pihak sama sekali masih belum menyentuh kulit dan tubuh. Meskipun kedua orang itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tinggi, namun seakan-akan mereka tidak dapat menembus pertahanan para cantrik. 

Dalam pada itu, selagi pertempuran di halaman itu terjadi, dua sosok tubuh telah dengan sangat hati-hati mendekat dinding halaman padepokan itu. Keduanya terkejut ketika mereka mendengar dentang senjata beradu. Menilik derap dan hentakan-hentakan senjata, maka agaknya telah terjadi pertempuran dari sekelompok orang. 

“Apa yang terjadi?” desis yang seseorang. 

“Pertempuran,” jawab yang lain. 

Keduanya menjadi tegang. Yang pertama kemudian berdesis, “Tentu para cantrik. Jika Kiai dan Nyai Soka tidak ada, maka akibatnya tentu akan sangat parah bagi para cantrik itu. Bukankah dua orang yang berniat untuk membalas dendam terhadap Kiai dan Nyai Soka itu tentu orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi?” 

Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun kemudian yang seorang berkata, “Kita tidak dapat tinggal diam. Apaboleh buat.”

Hampir serentak keduanya pun telah meloncat ke atas dinding padepokan. Yang mereka lihat sebagaimana mereka duga, di halaman itu telah terjadi pertempuran antara dua orang melawan para cantrik. 

Kedua orang itu pun kemudian telah meloncat turun kehalaman. Sementara itu, dua orang yang bertempur melawan para cantrik itu pun segera melihat kedua orang yang meloncat masuk. Sejenak mereka berharap. Namun kemudian keduanya menjadi kecewa, bahwa ternyata kedua orang itu bukan Kiai dan Nyai Soka. 

Dalam pada itu, kedua orang itu yang meloncat masuk itu pun kemudian dengan cepat mendekati arena. Salah seorang di antara mereka berkata, “Inilah yang kalian lakukan? Menurut pendengaranku kalian ingin membuat perhitungan dengan Kiai Soka. Tetapi ternyata bahwa kalian telah melakukan sesuatu yang kurang terpuji. Apakah kebanggaan kalian seandainya kalian dapat memenangkan pertempuran melawan para cantrik ini?” 

Semua mata telah memandang kedua orang itu. Dengan nada yang tinggi beberapa cantrik berdesis, “Kiai Badra.” 

Ternyata kedua orang itu pun telah mengenal pula kedua orang yang datang itu. Katanya, “Selamat datang Kiai Badra dan Gandar.” (Bersambung)-m.
 Kamis, 02-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 203   

 “KALIAN telah mengenal kami?” bertanya Kiai Badra. 

“Ya. Kami telah mengenal kalian berdua. Bahkan kami pun telah mengetahui hubungan kalian dengan Kiai Soka. Bukankah kau saudara tua Nyai Soka? Dan bukankah cucu perempuanmu yang bernama Iswari kau titipkan disini, karena menurut ceriteranya cucumu itu sudah mati.”

Wajah Kiai Badra menjadi tegang. Namun Gandarlah yang menyahut, “Aku tidak tahu persoalan apakah sebenarnya yang telah terjadi antara kau dan Kiai Soka. Mungkin benar kata seorang cantrik bahwa kau ingin membalas dendam atas kematian ayahmu beberapa puluh tahun yang lalu. Tetapi aku tidak peduli. Tingkah laku kalian berdua telah menggelitik hati kami. Apalagi karena kalian mengetahui rahasia yang selama ini kami pegang teguh.” 

“Marilah,” berkata salah seorang di antara kedua orang itu, “Kita berbicara tentang persoalan yang kita hadapi.” 

“Kami tidak mempunyai persoalan dengan kalian. Tetapi kami harus mencegah kalian berbuat sewenang-wenang atas para cantrik, karena persoalan kalian tidak dengan para cantrik, tetapi dengan Kiai Soka,” jawab Gandar. 

“Karena itu, kita dapat membicarakannya,” jawab orang itu. 

“Sebaiknya kalian menyerah kepada kami,” geram Gandar yang menjadi tidak sabar. 

“Jangan membuat persoalan Ki Sanak,” berkata salah seorang di antara kedua orang itu. “Jika sampai saat ini tidak ada persoalan di antara kita, sebaiknya kita tetap pada keadaan seperti itu. Sekali lagi aku minta, kita dapat membicarakannya”, berkata orang itu.

“Tetapi bukannya tidak ada persoalan yang sebenarnya,” jawab Gandar. “Kalian telah menyebut nama Iswari. Jika kalian tidak berkepentingan dengan anak itu, kalian tentu tidak akan menyelidiki sampai tempat tinggalnya yang terakhir. Menyerahlah. Kita akan berbicara kemudian,” geram Gandar. “Kau sudah mulai dengan kesombonganmu, menakut-nakuti para cantrik. Karena itu, letakkan senjatamu.” 

“Kau jangan terlalu kasar Ki Sanak,” sahut salah seorang dari kedua orang itu, “Kami tidak mau kau perlakukan seperti itu.” 

Tetapi Gandar memang sudah mempunyai prasangka buruk terhadap kedua orang itu. Mula-mula ia mendapat keterangan bahwa orang itu mungkin akan membalas dendam sakit hatinya karena kematian ayahnya. Kemudian orang itu ternyata mengetahui bahwa Iswari ada di padepokan Tlaga Kembang, sehingga endapan-endapan yang ada di dalam dada Gandar itu pun bagaikan terungkat. Adalah di luar sadarnya bahwa tiba-tiba saja ia telah menghubungkan orang-orang ini dengan keluarga Kalamerta yang sedang memburu Iswari yang bagi mereka harus dibinasakan. 

Karena itu, maka pikiran Gandar tidak lagi dapat dipergunakannya dengan jernih. 

Dalam pada itu, Kiai Badra sendiri ternyata dihinggapi oleh keragu-raguan. Sikap kedua orang itu memang bukan sikap yang kasar yang biasa ditunjukkan oleh kelompok-kelompok dunia hitam. 

Namun selagi orang tua itu masih membuat pertimbangan-pertimbangan di dalam hatinya, terdengar seorang cantrik berteriak,” Kiai, kedua orang itu berniat membunuh kami semua. Seorang demi seorang sampai ada di antara kami yang mengatakan dimana Kiai dan Nyai Soka berada. 

“Gila,” geram Gandar. “Itukah perbuatan seorang yang mengaku tidak mempunyai persoalan dengan kami sekarang ini? Yang kalian lakukan adalah perbuatan di luar peradaban manusia. Karena itu, maka segera lepaskan senjata kalian atau kami akan bertindak lebih tegas.” 

Wajah kedua orang itu menjadi semakin tegang. Sementara itu seorang cantrik yang lain berkata pula, “Mereka memang datang untuk membunuh.” 

Gandar tidak dapat menahan hatinya lagi. Ia pun kemudian maju beberapa langkah. Namun Kiai Badra menggamitnya sambil berdesis. “Kita akan berbicara Gandar.” (Bersambung)-c.

 

Jumat, 03-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 204   

Gandar berpaling. Tetapi ia tidak menghiraukan kata-kata Kiai Badra. Satu sikap yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Namun karena nalarnya sedang gelap karena kedua orang itu dianggapnya sedang memburu Iswari sebagai tujuan utamanya, sedangkan alasan untuk membalas dendam itu hanyalah sekadar dicari-cari, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali menghadapi orang-orang itu dengan kekerasan.

Kedua orang itu menjadi tegang. Apalagi ketika beberapa orang cantrik yang lain pun berteriak-teriak pula mengadu. Darah Gandar menjadi semakin panas. 

Ternyata kedua orang itu pun tidak mau berbicara terlalu banyak. Mereka benar-benar telah tersinggung, sehingga karena itu, maka keduanya pun telah mempersiapkan diri. 

Namun sejenak Gandar termangu-mangu. Karena itu sama sekali tidak bersikap untuk melakukan hal yang semacam itu, maka Gandar memang tidak menyiapkan senjata. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berkata kepada seorang cantrik, “Berikan senjatamu. Aku akan membela kalian dari kelaliman orang-orang ini.” 

Seorang cantrik yang terdekat menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian menyerahkan tombak pendek yang digenggamnya. 

Dengan demikian maka Gandar pun telah bersiap dengan tombak ditangannya. Selangkah demi selangkah ia mendekat. Tombaknya mulai merunduk dan bergetar. 

Memang tidak ada kemungkinan lain dari benturan senjata. Salah seorang dari kedua orang yang membawa pedang itu pun telah mendekat pula menghadapi Gandar. Keduanya yang telah bersiap sepenuhnya itu akhirnya mulai menggerakkan senjata mereka menyerang lawan. 

Meskipun serangan yang bermula-mula bukanlah serangan yang sangat berbahaya, namun sejenak kemudian, maka mereka pun telah bergerak semakin cepat menghadapi keadaan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya. 

Ternyata orang yang datang untuk membuat perhitungan dengan Kiai Soka ini memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun orang itu masih belum mengerahkan segenap kemampuannya, namun orang itu ternyata sudah menunjukkan ketangkasannya yang membuat para cantrik menjadi bingung. Selama orang itu bertempur melawan mereka maka cantrik itu tidak melihat kemampuan yang hampir di luar nalar itu. 

Namun lawannya adalah Gandar. Seorang yang untuk beberapa lamanya telah meletakkan senjatanya dan hidup dengan damai di sebuah padepokan kecil. Tetapi peristiwa demi peristiwa telah menggelitiknya, sehingga ia pun terpaksa mempergunakan lagi kekerasan untuk mempertahankan satu sikap dan pendirian. 

Sejak Iswari berada di Tanah Perdikan Sembojan, sebenarnyalah hati Gandar telah terguncang. Tapi ia masih mampu dengan susah payah mempertahankan keseimbangan nalar dan perasaannya. Tetapi ketika Iswari itu kemudian hilang, maka kadang-kadang Gandar tidak mampu lagi mengekang dirinya. Sekali-kali ia berusaha melepaskan gejolak perasaannya dengan melakukan sesuatu tanpa dilihat orang lain. Ia telah menghantam batu-batu padas sehingga pecah berserakkan dengan sisi telapak tangannya. Ia pun telah mengguncang dan merobohkan sebatang pohon yang besar dengan kekuatan cadangannya di tengah-tengah hutan. Bahkan ketika Gandar kehilangan pengamatan dirinya, maka Gandar telah membunuh seekor harimau yang tidak bersalah, meskipun harimau itu hendak menerkamnya. Tetapi yang dilakukan oleh harimau itu semata-mata tidak nalurinya tanpa sikap memusuhinya. 

Dan kini Gandar berhadapan dengan seorang yang dianggapnya keluarga Kalamerta yang sedang memburu Iswari sekaligus akan membalas dendam kepada Kiai Soka dan istrinya yang kebetulan adalah adik Kiai Badra itu sendiri. 

Karena itu, maka Gandar benar-benar telah berniat untuk menghancurkan lawannya tanpa ragu-ragu lagi.

(Bersambung)-b

 

 

Sabtu, 04-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 205   

 Lawannya yang semula berusaha untuk sekadar menjajagi kemampuan Gandar, ternyata terkejut sekali dengan serangan-serangan Gandar yang langsung pada tataran tertinggi dari ilmunya.

 Untunglah bahwa orang itu masih mempunyai kesempatan menghindar dan kemudian membangunkan puncak kemampuannya, sehingga dengan demikian ia tidak tergilas oleh gejolak perasaan Gandar yang tidak terkekang. 

Dengan demikian, maka pertempuran antara kedua orang itu pun telah menjadi semakin sengit. Keduanya langsung sampai pada ting-kat kemampuan mereka yang tertinggi. 

Dalam pada itu, maka pedang orang yang datang untuk mencari Kiai Soka itu berputaran dengan kecepatan baling-baling. Kemudian menebas mendatar setinggi lambung. Namun tiba-tiba telah mematuk ke arah jantung. 

Tetapi sementara itu, tombak di tangan Gandar pun bergerak dengan cepat pula. Sekali menyilang di depan wajahnya namun kemudian berputar menangkis serangan pedang lawan. Tetapi sejenak kemudian serangan Gandar pun datang bagaikan prahara. Ujung tombaknya bagaikan ujung lidah api di langit yang menukik menyambar sasarannya. 

Lawannya yang menyadari bahwa tombak Gandar adalah sekadar tombak kebanyakan yang dipinjamnya dari seorang cantrik berusaha untuk membenturkan pedangnya pada tombak itu. Karena itu, maka dengan cerdik orang itu telah memancing Gandar untuk menikam dengan ujung tombaknya ke arah lambung. Tetapi orang itu sempat mengelak, karena memang serangan yang demikian yang diharapkannya. Demikian tombak Gandar mematuk, maka dengan sekuat tenaganya orang itu mengayunkan pedangnya menebas leher. 

Seperti yang diharapkan, Gandar tidak sempat mengelak telah menyilangkan landean tombaknya untuk melindungi lehernya itu. 

Sejenak kemudian telah terjadi benturan senjata yang dahsyat sekali. Lawan Gandar telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan tenaga cadangannya untuk menghantam tangkai tombak di tangan Gandar. Karena tombak itu tombak kebanyakan, bukan sebatang tombak pusaka, maka orang itu memastikan, bahwa kekuatan dan kemampuannya akan mampu mematahkan landean tombak itu. 

Demikianlah, benturan yang dahsyat itu terjadi. Gandar terdorong dua langkah surut. Namun dalam pada itu, lawannya pun telah mengalami kesulitan yang mengganggu. Pedangnya memang membentur landean tombak lawannya. Namun adalah diluar dugaannya, bahwa landean tombak itu sama sekali tidak patah. Karena itu, maka kekuatannya sendiri yang menghantam kekuatan bertahan Gandar telah menolak kekuatan itu dan justru telah melemparkannya beberapa langkah surut. 

Sebenarnyalah, bahwa landean tombak Gandar tidak patah. Hal itu ternyata juga dilihat seorang yang lain yang datang untuk mencari Kiai dan Nyai Soka itu, yang berdiri termangu-mangu di dekat Kiai Badra. 

“Luar biasa,” desis orang itu.

 

 Banner 10000004

 

Minggu, 05-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
206   

 Kiai Badra berpaling. Namun menilik sikapnya orang itu tidak akan menyerangnya. Bahkan kemudian katanya, “Kawanmu memang luar biasa Kiai Badra. Dengan demikian aku mengerti, bahwa kau tentu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang itu.” 
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. 
Sementara itu, orang yang berdiri di samping Kiai Badra itu berdesis, “Bagaimana mungkin landean tombak itu tidak patah.

Tombak itu adalah tombak kebanyakan yang diambilnya dari seorang cantrik. Sedangkan pedang kawanku, sebagaimana pedangku adalah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Menurut perhitungan nalar, maka tangkai tombak itu tentu akan patah pada benturan, karena tenaga kawanku itu melampaui tenaga seekor kerbau jantan.” 

Kiai Badra masih tetap berdiam diri. 

Karena Kiai Badra tidak menyahut, maka orang itu berkata selanjutnya, “Kai. Mungkin pertempuran antara keduanya akan berlanjut untuk waktu yang lama. Tetapi jika kawanku kemudian terdesak, sudah barang tentu aku tidak akan tinggal diam.” 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jika orang yang berdiri disampingnya itu benar-benar akan turun ke medan, apakah ia akan tinggal diam. 

Dalam pada itu, Gandar yang didasari dengan kebencian yang mendalam, telah bertempur dengan mengerahkan segenap ilmunya. Bukan saja landean tombaknya yang tidak dapat dipatahkan oleh lawannya, namun kemudian kecepatan gerak Gandar pun seakan-akan menjadi semakin tinggi. 

Dengan kemampuan ilmunya, Gandar memang telah mengalirkan tenaga yang dapat dibangunkan oleh ilmunya itu seakan-akan menyusuri senjatanya, sehingga senjata yang ada di tangannya itu pun menjadi senjata yang kekuatannya melampaui kekuatan senjata kebanyakan sebagaimana senjata itu sendiri. 

Dengan mengerahkan ilmunya, maka Gandar pun semakin lama menjadi semakin mendesak lawannya. Meskipun lawannya juga memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ternyata bahwa Gandar masih memiliki kelebihan dari lawannya itu. 

Kekuatan dan kecepatan geraknya, merupakan kelebihan yang sulit untuk diimbangi oleh lawannya. Meskipun lawannya memiliki ilmu pedang yang hampir sempurna, namun ternyata ia tidak mampu mengatasi putaran senjata Gandar. 

Dengan demikian, maka perlahan-lahan Gandar berhasil mendesak lawannya. Semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa kemampuan Gandar benar-benar sulit untuk diimbangi. 

Karena itu, maka orang yang berdiri di samping Kiai Badra itu menjadi cemas. Dengan suara bergetar ia berkata, “Luar biasa. Memang luar biasa. Tetapi aku tidak dapat membiarkan adik seperguruan itu akan benar-benar menjadi korban dalam permainan ini.” 

Kiai Badra menjadi berdebar-debar. Jika orang itu melibatkan diri dan bertempur berpasangan, maka Gandar sulit untuk dapat bertahan. Apalagi orang yang belum melibatkan diri itu adalah saudara tua seperguruan dengan orang yang sedang bertempur melawan Gandar. 

Karena itu, maka Kiai Badra pun berkata, “Ki Sanak. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Gandar hanya menghendaki kalian menyerah. Kemudian segala sesuatunya akan dibicarakan dengan Kiai dan Nyai Soka.” 

“Kau aneh Kiai. Sudah tentu kami tidak akan menyerah,” jawab orang itu. Lalu, “Sebenarnya kami tidak berkeberatan untuk berbicara tentang persoalan kami, tetapi Gandar tidak mau mendengarkannya.” 

“Ia juga ingin bicara,” jawab Kiai Badra. 

“Tetapi dengan syarat yang gila. Kami harus menyerah dahulu. Itu sangat menyinggung harga diri kami,” jawab orang itu. 

“Itulah permohonannya,” berkata Kiai Badra. “Agaknya Gandar melakukan hal itu bukannya tidak beralasan.” 

“Apapun alasannya, tetapi kami tidak dapat mengorbankan harga diri kami. Karena itu, aku akan ikut campur dalam pertempuran ini,” berkata orang itu.
(Bersambung)-m.

 

 

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

 
Senin, 06-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 207   

 “JANGAN Ki Sanak,” berkata Kai Badra. 
Tetapi orang itu bergeser melangkah mendekati arena. Sementara itu pertempuran antara Gandar dan lawannya itu pun menjadi semakin sengit. Dengan puncak kemampuannya lawan Gandar itu berusaha bertahan. Pedangnya berputar seperti prahara. Sekali-kali masih juga ia sempat melibat Gandar dalam serangan yang dahsyat. Tetapi Gandar memiliki kemampuan yang luar biasa. Tombaknya bukan saja mematuk seperti seekor ular, tetapi kadang-kadang terayun dengan cepat kemudian berputar dan satu serangan yang mendebarkan mengarah ke kepala lawannya tidak dengan ujungnya, tetapi dengan pangkal landeannya.


Dalam pada itu, dalam setiap benturan kekuatan, ternyata bahwa kekuatan Gandar mampu mendesak lawannya pula. Sekali-kali terasa tangan lawannya yang menggenggam pedang itu menjadi pedih. Sementara itu, landean tombak itu ternyata tidak juga mau patah. 

“Ki Sanak,” panggil Kiai Badra ketika yang seorang lagi menjadi semakin mendekati arena, “Aku persilakan, jangan.” 

“Aku menyadari Kiai, bahwa kau akan mencegah aku. Itulah yang sebenarnya aku tunggu,” jawab orang itu. “Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kemampuan Kiai untuk kemudian dapat membantu saudara seperguruanku. Ternyata bahwa Gandar, pembantu Kiai itu memiliki ilmu yang luar biasa. Aku sadar, bahwa dengan demikian Kiai sendiri tentu memiliki ilmu melampaui ilmu Gandar itu. Tetapi apaboleh buat. Kami tidak akan dapat Kiai paksa untuk menyerah.” 

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Jika orang itu memaksa untuk memasuki arena, maka ia memang tidak dapat berbuat lain, kecuali mencegahnya. 

Sejenak Kiai Badra berdiri bagaikan membeku. Ketika orang itu bergeser semakin dekat dengan arena, maka Kiai Badra pun telah menarik nafas dalam-dalam. 

“Apa boleh buat,” desisnya. 

Sekilas ia memandang para cantrik yang menyaksikan pertempuran antara Gandar dengan lawannya. Mereka berdiri membeku ditempatnya. Pertempuran itu benar-benar pertempuran yang sulit mereka mengerti. 

Dalam pada itu, terngiang di telinga Kiai Badra keluh para cantrik itu. Bahwa kedua orang itu sudah berniat untuk membunuh para cantrik itu seorang demi seorang sampai salah seorang di antara mereka mengatakan dimana Kiai dan Nyai Soka berada. 

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra kemudian, “Aku adalah orang tua yang barangkali lebih tua dari Ki Sanak. Sebenarnya sudah tidak pantas bagiku untuk bermain-main seperti anak-anak muda. Juga Ki Sanak sebaiknya sudah tidak lagi melakukannya.” 

“Tetapi apakah aku harus membiarkan adik seperguruanku itu mengalami kesulitan?” bertanya orang itu. 

“Biarlah adik seperguruan Ki Sanak itu menyerah. Gandar tidak akan melakukan satu perbuatan yang tidak wajar menghadapi orang yang sudah menyerah,” berkata Kiai Badra. 

“Kiai,” jawab orang itu. “Sudah berapa kali aku mengatakan, bahwa aku dan adikku sama sekali tidak ingin menyerah. Apapun yang akan terjadi. Memang pertemuan kami dengan Kiai dan Gandar adalah di luar dugaan. Juga kemampuan Gandar dan tentu kemampuan Kiai dalam olah kanuragan juga di luar dugaan kami. Tetapi semisal orang yang menyeberangi sungai, kami sudah ada di tengah. Kembali pun kami sudah basah sebagaimana jika kami melanjutkannya sampai ke seberang.” 

“Jadi Ki Sanak sudah tidak mempunyai jalan lain?” bertanya Kiai Badra. 

“Seharusnya kamilah yang bertanya demikian, bukan Kiai,” jawab orang itu. 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Nyai Soka adalah adikku. Jika benar kau akan membalas dendam atau jika benar kau memiliki persoalan dengan iswari, cucuku itu, serta jika benar kalian akan membunuh para cantrik itu satu demi satu, maka agaknya aku yang tua ini tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha mencegahnya.” 

Orang itu kemudian bergeser sambil menghadap Kiai Badra. Sejenak ia berpaling. Namun ia masih berharap bahwa adik seperguruannya itu akan mampu bertahan untuk beberapa saat. Sementara itu, ia ingin mencoba kemampuan Kiai Badra, yang tentu lebih baik dari Gandar. 

(Bersambung)-c.

 

 

Selasa, 07-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 208 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Tetapi orang itu pun merasa, bahwa ia pun memiliki ilmu yang lebih luas dan lebih mapan dari adik seperguruannya. Karena itu, maka dengan tatag ia tetap bersiap menghadapi Kiai Badra. 
Tetapi Kiai Badra masih juga berkata, “Ki Sanak. Aku adalah orang tua. Aku bukan saja mempunyai seorang cucu, tetapi aku sudah mempunyai seorang cicit. Seharusnya orang setua aku ini tidak lagi berbuat aneh-aneh seperti anak-anak muda.”

 “Tetapi Kiai sekarang berdiri disimpang jalan,” berkata orang itu. “Sudahlah. Jangan berpura-pura menjadi seorang yang sudah tidak berkepentingan lagi dengan dunia ini dan segala macam seluk-beluknya termasuk kekerasan. Aku sudah siap. Dan aku memang berharap Kiai mencegah aku karena aku akan membantu adik seperguruanku. Bukankah Kiai sudah mengatakan, bahwa Kiai tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha mencegahku. Nah, sekarang sampai saatnya Kiai melakukannya.” 

Kiai Badra memang tidak dapat mengelak lagi. Orang itulah yang kemudian mengacukan senjata ke arah orang tua itu. 

“Marilah Kiai. Sebagaimana Gandar telah bersungguh-sungguh, maka aku pun akan bersungguh-sungguh. Biarlah kita menyelesaikan persoalan yang sebenarnya tidak pernah ada di antara kita dengan cara yang telah dipilih oleh Gandar,” berkata orang itu. 

Kiai Badra memandang orang itu dengan tajamnya. Namun terasa di dalam hatinya, bahwa sebenarnyalah mereka dapat mengambil jalan lain untuk mencari penyelesaian. Tetapi semuanya sudah tertutup. Yang kini dihadapi adalah ujung pedang lawannya itu. 

“Kiai,” berkata orang itu. “Jika kau ingin meminjam sepucuk senjata, silakan sebagaimana dilakukan oleh Gandar. Aku pun tahu bahwa senjata yang betapapun jeleknya, di tangan Kiai akan menjadi senjata yang tidak ada duanya.” 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Sanak. Aku akan meminjam senjata. Sebenarnyalah ketika kami berangkat dari padepokan kami, sama sekali tidak terlintas di hati kami, bahwa akan terjadi peristiwa seperti ini. Karena itu, kami sama sekali tidak membawa sepucuk senjatapun. Apalagi memang sudah lama kami melepaskan senjata kami dan menyimpannya di dalam gledeg di bilik tidur kami. Demikian juga Gandar. Ia pun tidak mempersiapkan diri menghadapi peristiwa ini. Dan sebagaimana aku, ia pun tidak membawa senjata dari padepokan karena kedatangan kami ke padepokan ini adalah untuk menengok saudara dan cucu serta cicit.” 

“Tetapi sekarang Kiai tidak akan dapat mengelak, “ jawab orang itu. 

Kiai Badra tidak menjawab. Sementara itu ia mendekati seorang cantrik yang menggenggam sebilah pedang. 

“Aku meminjam pedangmu. Karena lawanku juga bersenjata pedang, maka aku pun akan mempergunakan senjata serupa,” berkata Kiai Badra. 

Cantrik itu tidak menjawab. Tetapi ia menyerahkan pedangnya kepada Kiai Badra. Sebilah pedang yang tidak lebih dari pedang kebanyakan yang dibuat oleh pande besi di sudut pasar. 

Orang yang siap melawan Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia memandang pedangnya sendiri. Pedang yang memiliki banyak kelebihan dari pedang biasa, sebagaimana yang dipegang oleh Kiai Badra itu. Pedang yang tidak lebih dari parang membelah kayu, karena yang dapat disebut pedang hanyalah bentuknya. 

Tetapi pedangnya sendiri adalah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Pedang yang tajamnya melampaui tajamnya welat pring wulung, namun mempunyai kekuatan melampaui batang linggis sebesar lengan. 

Sejenak orang itu termangu-mangu. Namun katanya dalam hati, “Kiai Badra harus menyadari, bahwa aku bukannya adik seperguruanku.” 

Karena itu, maka yang akan dilakukan oleh orang itu pertama-tama adalah mengejutkan Kiai Badra. Pedang di tangan Kiai Badra harus dipatahkannya. 

Karena itu, ketika kemudian Kiai Badra sudah siap, maka orang itu pun mulai menyerangnya. Dengan cepat ia menjulurkan pedangnya mengarah ke dada. 

Kiai Badra bergeser selangkah. Pedang lawannya itu tidak dapat menggapainya. 

Namun lawannya itu meloncat maju sambil mengayunkan pedangnya mendatar. 

Sekali lagi Kiai Badra menghindar. 

 

 

 VirusAlert_468x60

 
Rabu, 08-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 209   

 Namun orang itu sampai pada rencananya pada permulaan pertempuran itu. Demikian Kiai Badra meloncat, maka dengan kecepatan yang tidak tampak oleh mata wadag orang itu telah mengayunkan pedangnya dengan segenap kemampuan ilmunya. Tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya telah dikerahkannya didorong oleh kekuatan ilmu yang sangat tinggi, tersalur pada ayunan pedang yang terbuat dari baja pilihan itu.

Karena itu, maka sebagaimana dilakukan oleh Gandar. Kekuatan ilmu Kiai Badra yang seakan-akan dihisapnya dari bumi lewat sentuhan kakinya, mengalir ke daun pedang yang dalam keadaan wajarnya tidak lebih dari parang pembelah kayu itu. Bahkan melampaui kemampuan Gandar, Kiai Badra telah memanfaatkan kekuatan api di dalam dirinya. 

“Aku tidak bermaksud menyombongkan diri Ki Sanak,” berkata Kiai Badra di dalam hatinya. “Tetapi aku ingin pertempuran ini cepat selesai.” 

Demikianlah, maka telah terjadi satu benturan yang sangat dahsyat. Kiai Badra memang menyilangkan pedangnya untuk menangkis serangan lawannya, sebagaimana dikehendaki oleh lawannya itu. Sementara itu lawannya memang telah mengerahkan segenap kemampuannya serta kekuatan ilmu yang ada pada dirinya. 

Namun ternyata pedang di tangan Kiai Badra itu memang tidak patah. Ayunan pedang lawannya terasa bagaikan membentur bukit baja yang tidak terguyahkan. Bahkan dari benturan itu telah memercik bunga api bagaikan menyembur keudara. 

Benar-benar satu hal yang tidak terduga sama sekali oleh lawannya. Dengan serta merta ia telah meloncat menjauh, menghindari bunga api yang bagaikan dengan sengaja ditaburkan ke arahnya. Ketika sepercik kecil menyentuh kulitnya, maka terasa kulitnya menjadi hangus dan sangat pedih. 

“Gila,” geram orang itu. 

Kiai Badra masih berdiri tegak ditempatnya. Ia sama sekali tidak berusaha memburunya. 

“Luar biasa Kiai,” desis lawannya. 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudahlah. Menyerahlah. Maksudku, kau harus mengurungkan niatmu untuk membalas dendam terhadap Kiai dan Nyai Soka. Kau juga harus memberikan keterangan tentang usahamu menyelidiki Iswari sehingga kau menemukannya sendiri.” 

“Sayang Kiai,” jawab orang itu. “Aku tidak dapat menyerah. Aku masih mempunyai kemungkinan untuk menghancurkan kesombongan Kiai dengan ilmuku yang lain.” 

Kiai Badra memandang orang itu dengan tatapan mata yang redup. Ternyata ia sudah terpancing untuk bertempur dalam tataran ilmu yang tinggi. 

Tetapi ia memang tidak dapat mengelak. 

Dalam pada itu, lawannya itu pun berdiri tegak sambil menggenggam pedangnya yang bersilang di dadanya. Sejenak kemudian memang terjadi satu keajaiban. Di dalam keremangan malam, Kiai Badra melihat pedang lawannya itu bagaikan membara. Daun pedang itu menjadi kemerah-merahan memancarkan kekuatan ilmu yang tiada taranya. 

Sejenak kemudian, orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mulai menggerakkan pedang yang membara itu. 

“Kiai sudah menunjukkan kelebihan Kiai dengan memercikkan bunga api pada benturan senjata. Sekarang giliranku untuk melakukannya. Pedangku akan mampu membakar Kiai, bukan saja dengan percikan api,” geram orang itu yang agaknya mulai benar-benar menjai marah. 

Kiai Badra bergeser setapak. Ia melihat orang itu memusatkan nalar budinya. Kemudian tiba-tiba saja ia meloncat dengan ayunan pedangnya yang membara. 

Kiai Badra yang belum mengenal kekuatan ilmu lawannya itu tidak menangkis. Tetapi ia bergeser menghindar. 

Namun ketika pedang itu terayun sejengkal di sisinya, terasa sambaran udara panas membakar tubuhnya. Hanya karena Kiai Badra dengan cepat mengerahkan daya tahan tubuhnya sambil meloncat menjauh sajalah, maka ia tidak menjadi lemas dan kehilangan tenaga. 

Tetapi yang terjadi itu pun membuat lawannya menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Kau memang orang luar biasa Kiai. Kau mampu bertahan atas panasnya api yang dipancarkan oleh pedangku atas alas ilmuku. Namun jika aku berhasil menyentuh tubuhmu dengan pedangku yang membara ini Kiai, maka aku kira aku tidak perlu mengulangi seranganku.

 


 

 

 affinity468x60_7

 

Kamis, 09-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 210   

 Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi ia sudah dapat menjajagi kemampuan puncak ilmu lawannya. Panas yang dilontarkan oleh serangan pedang atas alas ilmunya itu memang luar biasa. Tetapi Kiai Badra adalah orang yang memiliki pengalaman yang luas, serta menyimpan ilmu yang mapan dalam dirinya.

Karena itu, maka ia pun kemudian menimang pedangnya. Meskipun pedang itu pedang kebanyakan, tetapi Kiai Badra akan mampu mempergunakannya melawan pedang lawannya yang memiliki kekuatan yang nggegirisi. 

Ternyata bahwa Kiai Badra juga mampu melepaskan ilmu sebagaimana dilakukan lawannya. Bahkan agaknya Kiai Badra memiliki daya lontar dari ilmunya lebih baik dari lawannya. Karena itu, maka sebagaimana diinginkannya, ia pun berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran. 

Ketika kemudian lawannya menyerangnya bagaikan deru badai yang menyemburkan putaran angin yang panas, maka Kiai Badra pun telah mengimbanginya dengan caranya. Ia sama sekali tidak perlu menjadikan pedangnya membara. Tetapi justru berdiri tegak sambil mengacukan pedangnya ke arah lawan. Kemudian memutarnya perlahan-lahan sambil mengerahkan ilmunya. 

Lawannya terkejut bukan kepalang. Dari putaran pedang Kiai Badra yang perlahan-lahan itu telah memancarkan panas yang melampaui panasnya bara api pada pedang lawannya. Bahkan panas yang dilontarkan oleh ilmu Kiai Badra itu bagaikan berembus mengejarnya kemana saja ia meloncat. 

Ternyata lawannya itu benar-benar mengalami kesulitan. Meskipun ia berusaha untuk membangunkan daya tahan di dalam dirinya, namun udara yang panas itu bagaikan menerkamnya tanpa dapat diuraikannya. 

Bagaimana pun juga, orang itu harus mengakui, bahwa ilmu Kiai Badra berada di atas tingkat ilmunya. Ia harus mampu melakukannya sampai pada batas mengimbangi kekuatan ilmu Kiai Badra. 

Namun demikian, agaknya orang itu bukan orang yang lemah hati. Meskipun tubuhnya bagaikan di rebus dalam uap air yang mendidih namun sama sekali tidak ada niatnya untuk menyerah. 

Karena itu, dengan sisa kekuatan yang ada padanya, orang itu justru melangkah tertatih-tatih mendekat sambil berusaha mengacukan pedangnya. Wajahnya masih memancarkan tekadnya yang membara sebagaimana daun pedangnya membara. 

“Menyerahlah,” desis Kiai Badra. 

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja melangkah mendekat, seolah-olah dengan sengaja menyongsong maut. 

“Berhentilah,” teriak Kiai Badra. “Jangan mendekat lagi.” 

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia justru melangkah semakin dekat dengan pedangnya yang membara itu teracu ke arah lawannya. 

Tetapi pengaruh panas pedang itu masih belum mencapai lawannya, justru ia sendiri seakan-akan telah terbakar oleh panas ilmu lawannya itu. 

“Berhenti,” sekali lagi Kiai Badra memperingatkan. 

 


 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 8/1/2003
12 Oct. is Bali's mourn


Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....



KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

 

 

Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant