Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Good bye Sipadan, Good Bye Ligitan, satu presiden terbilang , satu-dua pulau hilang...

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

 

Kamis, 19-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 191   

 "AYAH," desis Wiradana. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati sosok tubuh yang membeku itu. Perlahan-lahan ia membuka selubung itu di arah kepala.

 Jantung Wiradana terasa berdegup semakin cepat ketika ia melihat wajah ayahnya yang bernoda kebiru-biruan dibeberapa tempat. Bahkan ternyata juga di tangannya dan bahkan diseluruh tubuhnya. 

"Racun," desis Wiradana. 

"Aku sudah mencoba mengobatinya. Aku sudah mengobati di arah lukanya. Aku berharap bahwa obat itu akan dapat membantu menghisap racun yang mulai bekerja ditubuh lewat saluran darah Ki Gede. Dan aku pun sudah menitikkan obat dibibirnya. Sebenarnya aku berpengharapan bahwa obat-obatku akan bermanfaat setelah obat itu berhasil melewat kerongkongan. Tetapi ternyata aku gagal," jawab Gandar. 

Wiradana berdiri dengan kepala tunduk. Bagaimana pun juga kematian ayahnya merupakan suatu peristiwa yang pahit baginya. Setelah ia kehilangan ibunya, maka ia pun kini kehilangan ayahnya, sehingga dengan demikian ia menjadi yatim piatu. 

Gandar melihat mata Wiradana menjadi basah. Tetapi Wiradana bertahan untuk tidak menangis. 

"Agaknya sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede sendiri, saatnya memang telah tiba," berkata Gandar. 

"Ya," Wiradana mengangguk. Namun ia sempat menelusuri jalan hidup yang ditempuhnya selama ini. Sekilas ia teringat pula kepada istrinya yang disangkanya sudah mati, Iswari. Istrinya itu adalah seorang perempuan yang sangat dikasihi oleh ayahnya. Kini ayahnya justru telah menyusul Iswari yang disangkanya sudah mati. 

"Sudahlah," berkata Gandar. "Yang perlu dipikirkan kemudian adalah bagaimana menyelenggarakan jenazah Ki Gede." 

Wiradana mengangguk kecil. Katanya, "Baiklah Gandar. Apapun yang terjadi atas ayahku, aku tetap mengucapkan terima kasih atas segala usahamu. Tetapi agaknya memang sudah sampai saatnya ayah harus menghadap kembali kepada Yang Maha Agung." 

Gandar mengangguk-angguk. Namun ia menjawab, " Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk berusaha saling menolong. Tetapi kali ini aku memang telah gagal menolong Ki Gede." 

Wiradana pun kemudian melangkah keluar. Kepada orang-orang yang berada di pendapa ia berkata, "Tolong, marilah kita selenggarakan jenazah ayah. Sementara itu anak-anak muda masih berusaha untuk mencari orang yang dengan curang telah membunuh ayah." 

Demikianlah, di halaman rumah Ki Gede telah terjadi kesibukan tersendiri, sementara di seluruh padukuhan induk-pun masih juga sibuk mencari orang yang pantas dituduh membunuh Ki Gede di Sembojan. 

Namun sementara itu, dalam kesibukan di dalam dan di luar halaman rumah Ki Gede, Gandar masih sempat merenungui bandul yang diberikan oleh Ki Gede Sem-bojan. Apakah ia akan memenuhi permin-taan Ki Gede menyampaikan bandul itu kepada Wiradana, atau ia akan menempuh satu kebijaksanaan lain, meskipun tidak untuk dimilikinya sendiri. 

"Jika aku memberikan bandul ini kepada yang berhak sekarang, maka aku telah menunaikan satu beban yang dipercayakan kepadaku. Dari seseorang yang sekarang sudah meninggal," berkata Gandar di dalam hatinya. "Tetapi jika aku menyerahkan bandul itu, maka aku yakin bahwa akan terjadi sesuatu yang akan dapat mengeruhkan susana masa depan Tanah Perdikan ini. Jika perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi itu juga mempunyai seorang anak, maka Wiradana tidak akan dapat berbuat adil dengan menyerahkan bandul itu kepada anaknya yang sulung. Apalagi agaknya Wiradana tidak akan mampu melawan kehendak perempuan cantik itu apabila pada saatnya perempuan itu menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. 

Adalah tiba-tiba saja, bahwa Gandar telah melontarkan dugaannya atas kematian Ki Gede itu kepada perempuan yang menjadi istri Wiradana. Dengan ilmunya yang tinggi, ia akan dapat melakukan seperti apa yang telah terjadi. Ia dapat melontarkan paser-paser kecil itu dengan sumpit. Kemudian dengan ilmunya yang tinggi itu pula, ia dapat melarikan diri sebelum padukuhan induk itu sempat dikepung. (Bersambung)-b.

 

 

 

 

Jumat, 20-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 192   

 "IA tentu memiliki ilmu iblis," geram Gandar. 
Ia menyesal bahwa ia tidak berusaha mengejarnya, menangkapnya dan menunjukkan kebenaran tentang istri mudanya itu kepada Wiradana. Jika ia menyadari bahwa akhirnya Ki Gede juga akan tidak tertolong lagi, maka ia mungkin masih mempunyai kesempatan untuk mengejar orang itu. Meskipun Gandar pun tidak yakin, bahwa ia akan dapat menangkap perempuan itu. Tetapi seandainya ia sempat bertahan beberapa lama, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan akan dapat mengepungnya dan menjadi saksi, bahwa perempuan itu adalah perempuan yang berbahaya bagi Sembojan.

Tetapi semuanya sudah telanjur. Pembunuh itu sudah pergi. Namun besar dugaan Gandar, bahwa pembunuh itu adalah istri muda Wiradana sendiri, yang merasa rencananya akan selalu dapat dihambat oleh Ki Gede Sembojan. 

Namun untuk dapat mengatakan demikian Gandar harus dapat meyakinkan diri dan menemukan bukti-bukti yang dapat meyakinkan orang lain bahwa hal itu memang terjadi. 

Hari ini Sembojan telah berkabung. Pemimpin Tanah Perdikan yang untuk waktu yang lama bekerja keras dan menjadikan Sembojan sebuah Tanah Perdikan yang besar, telah meninggalkan hasil kerjanya oleh kelicikan seseorang. Terakhir pemimpin yang disegani itu telah berhasil membunuh seorang penjahat yang namanya ditakuti bukan saja oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan dan sekitarnya, bahkan namanya disegani oleh seluruh daerah Pajang dan Kadipaten-kadipaten yang lain. 

Dengan kepala tunduk orang-orang Sembojan mengantarkan jenazah Ki Gede ke makam yang akan menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir. Terasa betapa pahitnya untuk berpisah dengan seorang pemimpin yang hatinya berada di antara rakyatnya. 

"Tetapi saat kematian memang datang di luar kehendak seseorang. Meskipun seseorang wenang berusaha, namun terakhir keputusan berada di tangan Tuhan Yang Maha Kasih," guman beberapa orang yang mengantar tubuh Ki Gede dan memberikan penghormatan terakhir. 

Namun dalam pada itu, padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu masih tetap dikepung. Tidak seorang pun boleh keluar dari Tanah Perdikan itu. Ketika iring-iringan janazah Ki Gede melintasi regol diikuti oleh sederet panjang rakyat Tanah Perdikan Sembojan, bukan saja dari padukuhan induk, tetapi dari padukuhan-padukuhan yang lain, maka ternyata pengawasan atas setiap orang yang keluar masuk regol padukuhan induk menjadi kendor. Namun para pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu telah memberikan perintah kepada para pengawal untuk mengamati setiap orang dalam iring-iringan itu. Jika mereka melihat seseorang yang mencurigakan, maka setidak-tidaknya orang itu harus dimintai keterangan. 

Gandar pun ikut pula bersama iring-iringan itu ke makam. Tetapi para pengawal sudah banyak yang mengenalnya. Mereka sama sekali tidak menaruh curiga kepadanya, karena justru Gandar dan Kiai Badra telah banyak memberikan jasanya kepada Tanah Perdikan itu, khususnya kepada Ki Gede Sembojan. 

Di perjalanan menuju ke makam, Gandar masih selalu digelisahkan oleh bandul sebesar biji jengkol yang bergambar kepala burung elang dan tergantung pada seutas rantai, yang semuanya terbuat dari emas. 

"Aku akan menyimpannya untuk sementara," akhirnya Gandar mengambil keputusan. 

Demikianlah, akhirnya upacara penguburan jenazah Ki Gede itu pun selesai. Satu persatu orang-orang yang memberikan penghormatan terakhir itu pun meninggalkan makam itu. Semakin lama makam itu pun menjadi semakin senyap. 

Sementara itu, matahari pun menjadi semakin rendah pula, mendekati punggung bukit di sebelah Barat. 

Yang terakhir di makam itu adalah Wiradana yang ditunggu oleh beberapa orang pengawal di regol makam. Sejenak Wiradana memandangi makam ayahnya yang masih basah oleh air bunga yang ditaburkan oleh orang-orang yang memberikan penghormatan terakhirnya. 

 

Sabtu, 21-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 193   

 Namun kemudian sambil menarik nafas ia pun melangkah meninggalkan makam yang membeku itu. 
Namun ternyata masih ada seseorang yang tertinggal. Gandarlah yang kemudian mendekati makam itu. Bahkan ia pun telah berlutut disisi makam Ki Gede yang masih merah itu.

 “Maafkan aku Ki Gede,” desis Gandar. “Aku tidak melakukan sebagaimana yang Ki Gede pesankan tentang bandul pertanda pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu. Aku untuk sementara tidak akan menyerahkan bandul itu kepada Wiradana, karena aku tahu, bahwa tingkah laku anak itu tidak sebagaimana yang Ki Gede kehendaki.” 

Suasana di makam itu terasa hening. Yang terdengar kemudian adalah desis angin yang lembut menggerakkan daun semboja yang tumbuh dengan suburnya. Bunganya yang putih bersih bergayutan di ranting-rantingnya yang nampak segar dilekati oleh daunnya yang hijau. 

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan makam itu sambil berkata kepada diri sendiri. “Anak Iswari itulah yang berhak menerima pertanda ini. Wiradana sudah menyimpang dari kebenaran tingkah laku seorang pewaris jabatan tertinggi di Tanah Perdikan ini. Bahkan seandainya hal ini didengar oleh Adipati Pajang, maka dapat terjadi hak atas Tanah Perdikan ini dapat dicabut.” 

Tetapi Gandar tidak ingin mempersoalkan Tanah Perdikan itu sampai ke Adipati Pajang. Karena jika demikian, dan hak atas Tanah Perdikan beberapa Kademangan dalam kedudukan yang sama dengan kademangan-kademangan yang lain, maka anak Iswari itu pun akan kehilangan haknya pula. 

Karena itu, maka Gandar harus mencari jalan lain untuk membuat penyelesaian atas Tanah Perdikan itu dalam persoalan yang gawat, karena ia sadar, bahwa ia akan berhadapan dengan kekuatan keluarga Kalamerta. Dalam persoalan berikutnya, mau tidak mau maka istri Wiradana yang cantik itu tentu akan melibatkan seluruh kekuatan keluarga Kalamerta yang tertinggal. 

Tetapi Gandar pun mempunyai keyakinan pada dirinya sendiri dan kepada orang-orang yang tentu akan bersedia membantunya. Bahkan pada saatnya ia yakin, rakyat Tanah Perdikan Sembojan akan mampu memilih, siapakah yang akan mereka kehendaki. Iswari atau perempuan cantik yang tentu akan segera memasuki rumah Wiradana sebagai istrinya yang sah, yang memiliki kekuatan paugeran sebagai seorang istri. 

Malam itu Gandar masih berada di Tanah Perdikan Sembojan. Ia berada di antara orang-orang yang berduka di pendapa rumah Ki Gede. Terbayang di wajah orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, penyesalan yang mendalam atas peristiwa yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. 

Para bebahu Tanah Perdikan itu saling membicarakan hasil yang pernah dicapai oleh Ki Gede selama ia memegang pemerintahan di Tanah Perdikan itu. Sementara itu, beberapa orang di antara mereka pun mulai berbicara tentang Wiradana. 

“Tetapi dimana Ki Wiradana sekarang?” bertanya salah satu di antara mereka. 

“Kemarahan dan dendam di hatinya tidak terbendung lagi. Ia telah meninggalkan rumah ini sebelum senja,” jawab seseorang. 

“Kemana?” bertanya yang lain. 

“Seperti seseorang yang berkelana di dalam kelam. Tanpa tujuan dan tanpa titik arah. Ia berusaha untuk menemukan orang yang telah membunuh Ki Gede dengan licik. Tetapi tentu suatu usaha yang sangat sulit. Mungkin orang yang membunuh Ki Gede sudah berada beratus bahkan beribu tonggak dari tempat ini, atau bahkan masih tetap di dalam persembunyiannya,” jawab orang itu. 

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka membayangkan, Ki Wiradana memacu kudanya dengan marah kesegenap arah dan menyusuri semua jalan di Tanah Perdikan ini. Tetapi ia tidak akan menemukan seorang pun yang akan dapat dicurigainya. 

Hanya Gandar yang tahu pasti, kemana Wiradana itu pergi. 

Sebenarnyalah Wiradana telah berada di rumah istrinya yang cantik. Dengan nafas terengah-engah ia menceriterakan apa yang telah terjadi dengan ayahnya. 

“Seorang dengan licik telah membunuh ayah,” geram Wiradana. 

Warsi tidak menyahut. Tetapi kepalanya semakin lama semakin menunduk. Bahkan kemudian titik-titik air matanya telah jatuh di pangkuannya. 

“Kakang,” desisnya disela-sela isaknya. “Aku adalah orang yang paling malang. Aku sudah terlalu lama menunggu satu kesempatan, kapan aku dapat bersimpuh sujud di kaki Ki Gede Sembojan. Bagaimanapun rendahnya martabatku sebagai penari jalanan, tetapi aku adalah menantunya. Namun Ki Gede itu kini sudah tidak ada lagi. Aku merasa bahwa perkawinan kita belum pernah mendapat restunya.” 

“Sudahlah,” berkata Wiradana. “Semuanya sudah terjadi. Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Segalanya agaknya memang sudah menjadi takdir Yang Maha Agung, sehingga hal itu harus terjadi.”
(Bersambung)-b.

 

 

Minggu, 22-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
194   

 Warsi mengusap matanya. Tetapi ia masih terisak. Katanya kemudian, “Perkawinan kita adalah perkawinan yang aneh kakang. Meskipun aku sudah menjadi istrimu, tetapi aku merasa orang asing bagimu dan bagi keluargamu, sehingga akhirnya aku terlambat mencium kaki ayah mertuaku. Meskipun mungkin aku akan dikibaskannya dari kulit kakinya yang tersentuh oleh bibirku akan dicuci tujuh kali, namun adalah menjadi kewajibanku untuk datang bersimpuh dan mencium kakinya itu.”

 “Bukan salahmu,” berkata Wiradana. “Mungkin akulah yang terlalu lemah sehingga aku belum berani membawamu pulang ke rumah.” 

Warsi tidak menjawab. Sementara itu Wiradana berkata selanjutnya, “Warsi, marilah kita mengambil manfaat dari kematian ayah. Bukan aku tidak bersedih karena aku ditinggalkan oleh ayahku. Tetapi karena hal itu sudah terjadi diluar kehendakku, maka aku merasa tidak bersalah jika aku akan berbuat sesuai dengan kehendakku sepeninggalan ayahku.” 

“Apa yang akan kau lakukan kakang?” bertanya Warsi. 

“Aku akan segera menjadi kepala Tanah Perdikan,” berkata Wiradana. “Aku akan dapat berbuat apa saja tanpa seorang pun yang dapat mencegahnya. Aku akan dapat membawamu pulang.” 

“Itulah yang aku takutkan kakang,” jawab Warsi. 

“Kenapa takut?” bertanya Wiradana. 

“Rasa-rasanya aku datang sambil bersembunyunyi. Meskipun Ki Gede sudah tidak ada, tetapi jiwa dari perbuatanku adalah demikian. Aku datang pada saat Ki Gede mengetahuinya, sebagai laku seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah seseorang,” jawab Warsi. 

“Kau terlalu banyak mempertimbangkan persoalan-persoalan yang sebenarnya tidak usah kau pikirkan,” jawab Wiradana. “Rumah itu adalah rumahku. Kau adalah istriku. Apalagi?” 

Warsi tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih saja menunduk. Sekali-kali ia mengusap matanya yang basah oleh air mata. 

“Sudahlah Warsi,” berkata Wiradana. “Semuanya akan dapat diatur sebaik-baiknya. Semuanya akan berlangsung dalam waktu yang dekat. Kau tidak usah membuat pertimbangan yang akan dapat membantumu kecewa atau mungkin menyesal atau perasaan-perasaan lain semacamnya.” 

Warsi mengangguk perlahan. 

“Aku akan bertanggung jawab. Aku akan segera menjadi kepala Tanah Perdikan yang dapat menentukan apa saja di Tanah Perdikan ini. Tidak seorang pun akan dapat mengganggu aku, apalagi dalam persoalan pribadi,” berkata Wiradana kemudian. 

Warsi masih saja berdiam diri dan mengangguk kecil. 

Namun dalam pada itu, Wiradana pun kemudian minta diri. Katanya, “Malam ini sebaiknya aku kembali ke Tanah Perdikan. Di rumah tentu banyak orang berjaga-jaga.” 

“Silakan kakang,” jawab Warsi yang masih saja mengusap air matanya. 

Sejenak kemudian, maka Wiradana pun telah berkemas meninggalkan Warsi untuk kembali ke Tanah Perdikan, berjaga-jaga bersama orang-orang Tanah Perdikan yang berduka. 

Namun, demikian Wiradana berderap dan hilang di dalam gelapnya malam, terdengar suara Warsi tertawa. Suaranya bagaikan iblis betina yang menemukan sosok mayat baru di pekuburan yang basah. 

“Sekarang tidak ada lagi yang dapat menghalangi aku untuk memasuki rumah Kepala Tanah Perdikan itu,” berkata Warsi disela-sela tertawa iblisnya, selebihnya. “Aku sudah menunaikan tugasku yang paling sulit. Aku tidak sabar menunggu untuk meracunnya. Justru dengan cara ini, sekaligus aku membuka jalan untuk masuk ke rumah Wiradana.” Suara tertawa Warsi menjadi semakin meninggi. 

“Sebentar lagi kau akan tunduk kepadaku anak manis,” katanya pula. 

Sambil tersenyum puas Warsi masuk ke dalam biliknya. Sambil membaringkan diri, tangannya sempat meraba sebuah sumpit dibawah tikar di pembaringannya. 

Sebenarnyalah sebagaimana diduga oleh Gandar, Warsilah yang telah melakukan pembunuhan itu. Ia telah menyamar sebagai seorang laki-laki memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan, demikian suaminya meninggalkannya pagi itu. Dengan kemampuan seorang berilmu tinggi, maka ia dapat melakukan tugasnya dengan sangat licik. Kemudian dengan ilmunya pula ia berlari jauh melampaui kecepatan lari orang kebanyakan. Sehingga ketika ketika padukuhan induk itu dikepung, Warsi memang sudah berada diluarnya. 

Karena itu, Wiradana tidak dapat menemukan seorang pun yang pantas untuk dicurigai di padukuhan induk. 

Pada sisa malam itu, Wiradana memang kembali ke rumahnya. Ia pun kemudian duduk di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang berjaga-jaga. Termasuk Gandar. 

Namun rasa-rasanya Wiradana menjadi berdebar-debar setiap ia memandang wajah orang itu. Baginya, seakan-akan Gandar itu pun selalu memandanginya tembus sampai kejantung. Seakan-akan Gandar itu ingin melihat kebersihan hatinya tentang kematian Iswari sebelum kematian ayahnya itu terjadi.

 

 

 

 

 Banner 10000004

 

 

Senin, 23-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 195   

 "Setan," geram Wiradana di dalam hatinya. "Jika ia selalu mengganggu ketenanganku, aku akan membunuhnya." 
Namun ternyata, disaat itu Gandar sudah memikirkan saat ia akan minta diri. Agaknya ia memang tidak perlu terlalu lama berada di Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan rasa-rasanya ada sesuatu yang mendesaknya untuk segera bertemu dengan Kiai Badra. Bandul yang dibawanya itu memang selalu membebani perasaannya, karena telah terjadi pertentangan di dalam dirinya. Ia merasa bersalah karena ia tidak memenuhi permintaan seseorang yang ternyata sudah meninggal. Namun ia sadar, bahwa jika ia memenuhinya, maka akan terjadi ketidak adilan karena sikapnya itu.

Dengan demikian maka Gandar ingin segera bertemu dan berbicara dengan Kiai Badra. Seakan-akan ia ingin membagi beban yang memberati perasaannya itu. 

Karena itulah, ketika malam kemudian lewat, pagi-pagi Gandar sudah menemui Ki Wiradana. Dengan nada yang menyesal, ia minta diri, karena ia tidak dapat lebih lama lagi berada di Tanah Perdikan Sembojan. 

"Kenapa tergesa-gesa?" bertanya Wiradana untuk berbasa-basi. 

"Aku tidak ingin mengganggu Tanah Perdikan yang berduka ini," berkata Gandar. "Meskipun demikian bukan berarti bahwa aku telah melupakan adikku Iswari yang hilang di Tanah Perdikan ini. Dengan kematian Ki Gede aku semakin yakin, sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede, bahwa keluarga Kalamerta masih tetap membayangi Tanah Perdikan ini." 

Wiradana memaki di dalam hati. Tetapi ia menjawab, "Yang terjadi adalah diluar kemampuan kami. Kematian Iswari juga berada di luar kemampuan kami untuk mencegahnya. Bahkan kematian ayah sendiri." 

"Aku mengerti," berkata Gandar. "Yang penting bagi Tanah Perdikan ini kemudian adalah menemukan. Siapakah keluarga Kalamerta yang masih berkeliaran dan melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Jika orang itu masih belum diketemukan, maka pada suatu saat, kau juga akan menjadi sasaran." 

Wiradana mengerutkan keningnya. Tetapi yang dikatakan oleh Gandar itu memang mungkin sekali terjadi. Seseorang dengan licik membunuhnya dengan paser-paser kecil beracun yang dilontarkan dengan sumpit. 

Sambil mengangguk-angguk Wiradana berkata, "Baiklah Gandar. Agaknya aku sependapat. Sisa-sisa kekuatan Kalamerta yang masih ada di Tanah Perdikan ini memang harus dihancurkan sampai tuntas. Jika tidak, aku pun percaya kepada pendapatmu itu, mungkin pada suatu saat, akulah yang akan menjadi korbannya." 

"Terima kasih jika kau masih mau memikirkan hal itu, karena hal itu akan berarti bahwa kau juga memikirkan keselamatan sendiri," berkata Gandar. 

Demikianlah maka Gandar pun hari itu telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa Gandar telah membawa bandul yang tergantung pada seutas rantai yang terbuat dari emas. 

Adalah diluar kehendaknya sendiri ketika kaki Gandar telah membawanya menelusuri pematang dan kemudian tanggul sungai yang pernah dilalui oleh Iswari dibawah ancaman patren seseorang perempuan yang disebut Serigala Betina. Tetapi ternyata bahwa Serigala Betina yang pernah terlibat kedalam dunia yang hitam itu masih juga berjantung, sehingga Iswari tidak juga dibunuhnya. Meskipun seandainya hal itu akan dilakukan juga oleh Serigala Betina, Gandar sudah siap untuk menyelamatkannya.
 

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

Selasa, 24-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 196   

Tetapi ternyata bahwa Gandar telah mengagumi sikap perempuan itu. Betapapun kelam hatinya namun masih juga ada sepercik cahaya yang memancar di dalam hatinya itu.

 “Aku tidak boleh melupakannya,” berkata Gandar. “Jika saatnya Iswari muncul, maka perempuan itu harus diberitahu, agar ia menyingkir dari kemungkinan yang paling buruk karena pembalasan dendam Ki Wiradana.” 

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, kepergian Gandar ternyata mampu melapangkan dada Wiradana. Ia merasa bebas dari tatapan mata yang seakan-akan selalu menusuk-nusuk sampai ke jantung. Mata yang ingin melihat kenyataan dari tingkah lakunya terhadap istrinya yang dikatakannya hilang tanpa diketahuinya. 

Dalam pada itu, sepeninggal Ki Gede, maka pemerintahan di Tanah Perdikan Sembojan telah dipegang sepenuhnya oleh Wiradana. Ia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya. Setiap kali Wiradana pergi mengelilingi Tanah Perdikannya untuk melihat perkembangan kesejahteraan rakyatnya. Dengan demikian, maka Wiradana dapat mengamati dengan langsung apa yang sebenarnya diperlukan oleh rakyatnya. 

Namun ternyata bahwa Wiradana memang bukan Ki Gede Sembojan. Bagaimanapun juga, ada perbedaan di antara mereka. Wiradana mulai menunjukkan sifat-sifat yang lain dari ayahnya. Dengan kuasanya ia mulai menunjukkan sifat-sifat yang membingungkan orang-orang Sembojan. 

Namun yang paling mengherankan orang-orang Sembojan, terutama para bebahu, setiap malam Wiradana masih saja tidak ada di rumahnya. Meskipun ia masih mempergunakan alasan yang mungkin dipercaya, mencari jejak hilangnya istrinya yang sudah lama terjadi serta mencari kemungkinan adanya sisa keluarga Kalamerta yang masih mendendam, namun beberapa orang mulai kurang mengerti atas tingkah lakunya. 

Tetapi Wiradana memang tidak akan terlalu lama diombang-ambingkan oleh hubungannya yang samar-samar dengan istrinya. Ketika ia merasa kedudukannya sebagai Kepala Tanah Perdikan sudah mapan, meskipun belum diwisuda oleh penguasa Pajang, namun ia merasa berhak untuk menentukan sikap sesuai dengan keinginannya. 

Karena itu, maka ia mulai merintis jalan untuk mengambil istrinya dan membawanya kerumah. 

Tetapi Wiradana tidak akan memberikan kesan bahwa ia sudah berhubungan dengan perempuan itu untuk waktu yang lama, agar tidak memancing pertanyaan bahkan mungkin dapat menuntun arah pikiran beberapa orang tua di Tanah Perdikan Sembojan tentang kematian istrinya. 

Dengan demikian, maka Wiradana mempunyai gagasan untuk mengulangi perkawinannya dengan Warsi sebagaimana dilakukan dengan Iswari, seolah-olah ia belum pernah melakukan perkawinan itu dengan Warsi. 

Ketika rencana itu disampaikan kepada Warsi, maka sambil menarik nafas dalam-dalam Warsi berkata, “Segalanya terserah kepadamu kakang.” 

Meskipun demikian namun nampak wajah Warsi menjadi suram. 

“Warsi,” berkata Wiradana kemudian. “Apakah kau mempunyai keberatan? Aku minta kau berterus terang. Meskipun seandainya pendapatmu itu sama sekali berlawanan dengan pendapatku. Karena bagiku, meskipun kau menyerahkan segala sesuatunya, tetapi hatimu tidak ikhlas, maka hal itu akan merupakan persoalan tersendiri bagi keserasian hidup kita kelak.” 

Warsi memandang suaminya sekilas. Kemudian katanya, “Kakang. Aku memang tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun dengan demikian aku menyadari, bahwa perkawinan kita selama ini benar-benar perkawinan yang tidak sewajarnya. Tetapi semuanya itu sudah berlalu. Aku memang mengharap bahwa hari-hari kita yang akan datang akan menjadi lebih baik dari masa yang telah kita lalui, itu kakang.” 

“Semua akan berubah Warsi. Kita akan hidup sewajarnya sebagai seorang suami istri. Tidak ada yang akan dapat menghalangi kita lagi, karena kekuasaan Tanah Perdikan ini sudah berada di tanganku meskipun aku belum diwisuda,” jawab Wiradana. 

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Memang segalanya terserah kepada kakang.” 

“Tetapi apakah kau juga melihat kemungkinan yang lebih baik bagi masa depan seperti yang kau katakan?” desak Wiradana. 

Warsi termenung sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya. (Bersambung)-b.
 

 

 

 

 VirusAlert_468x60

 

 


Kamis, 26-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 197   

Demikianlah, maka Wiradana pun mulai membuka jalan bagi perkawinan yang akan diselenggarakannya lagi dengan upacara sebagaimana pernah dilakukannya.

Kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana menyampaikan keluhannya, bahwa baginya terlalu sepi untuk hidup seorang diri. 

“Angger Wiradana,” berkata salah seorang tetua Tanah Perdikan, “Hilangnya angger Iswari telah melampaui waktu seratus hari. Bahkan sudah jauh lewat. Karena itu, seandainya memang ada niat di hati angger Wiradana untuk kawin lagi, maka aku kira memang tidak ada halangannya. Angger dapat memilih gadis yang manakah yang paling sesuai bagi angger Wiradana. Setiap orang tua akan dengan senang hati memenuhi permintaan angger atas anak gadis yang angger kehendaki.” 

Tetapi Wiradana menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku belum mempunyai pilihan paman. Yang ingin aku dapatkan petunjuk, apakah pantas jika aku kawin lagi dalam waktu yang dekat ini. Jika hal itu memang pantas aku lakukan, baru kemudian aku akan memilih calon istriku itu.” 

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Seperti yang sudah aku katakan. Waktu yang diperlukan sudah lama lewat. Apalagi angger kini telah memangku jabatan ayah angger yang sudah tidak ada lagi. Aku kira memang sudah sepantasnya jika angger mengambil seorang istri yang pantas yang setidak-tidaknya mendekati angger Iswari.” 

Wiradana mengerutkan keningnya. Terbayang sekilas wajah, sikap dan tingkah laku Iswari yang sangat dikasihi ayahnya itu. Terngiang pula suara Iswari yang kadang-kadang membaca kidung di malam hari, mengumandangkan, menggetarkan sepinya malam dengan suara-nya yang jernih. 

Tidak seorang pun yang dapat menyangkal, bahwa Iswari telah meletakkan dirinya sesuai dengan kedudukannya, sebagai seorang menantu Kepala Tanah Perdikan. Karena pada saat itu, Ki Gede tidak lagi mempunyai seorang istri, maka seakan-akan Iswarilah yang mengisi kedudukan istri Kepala Tanah Perdikan itu. Meskipun umurnya masih cukup muda, tetapi ternyata Iswari berhasil menarik perhatian perempuan-perempuan di Tanah Perdikan Sembojan dengan sikap, tingkah laku dan kecapakannya. 

Untuk sekejab Wiradana sempat memperbandingkan kedua orang perempuan yang menjadi istrinya itu. Warsi bagi Wiradana adalah seorang perempuan yang lembut, luhur budi dan hatinya yang mudah tersentuh. 

“Mudah-mudahan dengan bekal sifat-sifatnya itu, Warsi akan merebut hati perempuan Tanah Perdikan ini melampaui Iswari’’ berkata Wiradana di dalam hatinya. 

Meskipun demikian agaknya Wiradana sendiri kurang yakin. Hampir seluruh Tanah Perdikan ini mengetahui, bahwa Warsi adalah seorang penari keliling yang mendapat nafkahnya dari belas kasihan orang atau yang ingin melihat tariannya. Bahkan ada yang terdorong oleh satu keinginan yang kasar untuk menari bersama dalam satu acara tayub atau bahkan janggrung. 

“Aku tidak peduli,” Wiradana akhirnya tidak mau lagi membuat pertimbangan-pertimbangan. Agaknya hatinya memang sudah terbius oleh kecantikan penari itu. 

Namun pendapat salah seorang tetua Tanah Perdikan itu membuat hati Wiradana menjadi agak terang. Ketika ia menghubungi beberapa orang lain, maka mereka pun sependapat. Bahwa tidak ada lagi kesulitannya jika Wiradana memang ingin kawin lagi. 

Dengan cermat Wiradana mengatur segalanya. Ia tidak percaya kepada siapapun juga untuk ikut memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kemudian. Namun ia sudah bertekad bahwa segalanya harus berlangsung. 

Ketika saatnya sudah tiba, maka Wiradana pun memanggil beberapa orang tua di Tanah Perdikan Sembojan. Dengan beberapa penjelasan dan bahkan bernada tekanan, Wiradana akhirnya menyampaikan kepada orang-orang tua itu, “Paman dan para tetua Tanah Perdikan. Ternyata bahwa setelah aku berusaha untuk menemukan seorang perempuan yang pantas untuk menjadi istriku, akhirnya aku mendapatkan juga.” 

Orang-orang tua itu saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang di antara mereka bertanya, “Siapakah perempuan itu ngger?” 

“Besok pada saatnya, paman akan mengetahuinya juga,” jawab Wiradana. 

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tidak bertanya lagi, karena agaknya Wiradana masih belum ingin mengatakannya. 

Sementara itu, di padepokan kecil Kiai Badra, Gandar telah melaporkan semua yang dialami. Bahkan kecurigaannya kepada istri Wiradana pun telah dikatakannya pula kepada Kiai Badra. 

Orang tua itu menjadi sangat berprihatin mendengar laporan Gandar tentang Tanah Perdikan Sembojan. Terbayang di angan-angan Kiai Badra, bahwa jika Wiradana masih saja berpijak pada watak dan sifat-sifatnya, serta dikendalikan oleh perempuan yang termasuk keluarga Kalamerta menilik sikap ilmunya, maka Tanah Perdikan Sembojan akan menjadi Tanah Perdikan yang paling buruk di seluruh Pajang, sehingga apabila hal itu diketahui oleh Adipati Pajang, maka Wiradana tentu tidak akan diwisuda.

 

 

 affinity468x60_7

 

Jumat, 27-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 198   

 Namun dalam pada itu, Gandar pun telah memberitahukan pula tentang bandul yang dibawanya. Bandul yang bergantung pada seutas rantai dan terbuat dari emas.

 “Benda itu tentu akan dibutuhkan saat Wiradana akan diwisuda,” berkata Kiai Badra. 

“Bagaimana jika tanpa benda itu?” bertanya Gandar. 

“Aku tidak tahu. Tetapi mungkin Wiradana akan mendapat kesulitan,” jawab Kiai Badra. 

Gandar termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku tidak rela menyerahkan benda ini kepada Wiradana. Apalagi jika kelak perempuan yang menjadi istrinya itu melahirkan anak pula. Maka anak Iswari itu tentu akan tersisih dari kemungkinan untuk mendapatkan haknya.” 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Sebenarnya Kiai Badra sama sekali tidak terikat kepada satu keinginan bahwa anak cucunya itu harus menjadi Kepala Tanah Perdikan. Ia bukan termasuk salah seorang yang tergila-gila kepada pangkat dan kedudukan. Namun seperti juga Gandar, maka ia tidak mau rasa keadilannya tersinggung. Disingkirkannya Iswari dengan cara yang kotor itu telah membuat darahnya menjadi panas. Untunglah bahwa ia masih mampu menahan diri dan tidak melakukan satu langkah tanpa dipertimbangkan dengan nalar. Sementara itu Tuhan masih memberikan titik terang dihati perempuan yang disebut Serigala Betina itu, yang menilik sifat-sifatnya tidak akan mungkin mempunyai perasaan yang jernih terhadap Iswari. Namun ternyata Tuhan menghendaki demikian. 

Karena itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Baiklah Gandar. Kita akan dapat menyimpan untuk sementara bandul itu. Kita akan melihat perkembangan Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, kau dapat setiap kali jika kau senggang dan tidak ada pekerjaan untuk pergi ke Tanah Perdikan itu. Mungkin kau akan mendapat bahan pertimbangan untuk mengambil langkah selanjutnya.” 

Gandar mengangguk. Katanya, “Rasa-rasanya memang menarik untuk setiap kali pergi ke Tanah Perdikan itu Kiai. Nampaknya Tanah Perdikan itu tidak akan berkembang menjadi baik. Tetapi justru sebaliknya.” 

“Hal itu sudah dapat dibayangkan Gandar,” berkata Kiai Badra. “Tetapi apakah untuk seterusnya tidak ada usaha yang dapat menolong Tanah Perdikan itu dari kehancuran.” 

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berdesis, “Anak itu pada suatu saat harus mampu menjadikan Tanah Perdikan itu jauh menjadi lebih baik.” 

Kiai Badra tidak menyahut. Sementara itu, maka Gandar pun berdesis, “Aku akan pergi ke kandang Kiai.” 

“Pergilah,” jawab Kiai Badra. “Kuda yang berwarna coklat merah itu sudah agak lama tidak mendapat kesempatan untuk berlari-lari.” 

Gandar pun kemudian meninggalkan Kiai Badra yang duduk merenungi diri. Namun tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk bertemu dengan Iswari dan sekaligus melihat, apa saja yang dilakukan di Tlaga Kembang. 

Pagi-pagi benar Gandar sudah menyiapkan dua ekor kuda. Mereka akan pergi berkuda menuju ke Tlaga Kembang. 

Tidak ada persoalan apapun yang timbul di perjalanan. Demikian mereka memasuki regol padepokan Tlaga Kembang, maka para cantrik yang ada di padepokan itu telah menyambut mereka dengan ramahnya

“Marilah Kiai,” cantrik itu mempersilakan. 

Setelah menyerahkan kuda mereka kepada para cantrik maka keduanya pun kemudian duduk di pendapa rumah induk padepokan itu. 

Sejenak kemudian maka seorang cantrik telah menghidangkan minuman dan makanan serta mempersilakan mereka minum. 

“He,” bertanya Kiai Badra, “Dimana Kiai dan Nyai Soka?” 

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Mereka berada di sebuah pondok kecil di tepi Tlaga Kuning, disebelah grojogan air di lereng bukit.” 

“O, apakah mereka sedang berjalan-jalan?” bertanya Kiai Badra kemudian. 

“Tidak. Mereka sudah disana selama lebih dari sepekan,” jawab cantrik itu. 

“Untuk apa? Dan dimana Iswari?” bertanya Kiai Badra pula dengan gelisah. 

“Iswari ikut bersama mereka,” jawab cantrik itu. 

“Dan anaknya?” bertanya Kiai Badra selanjutnya. 

“Anak itu dibawa serta,” jawab cantrik itu. “Tetapi mereka membawa seorang pemomong yang akan dapat membantu Iswari melayani anaknya yang mulai nakal itu.” 

“O,” Kiai Badra tersenyum. “Apa yang sudah dilakukan oleh anak itu?” 

“Berteriak-teriak,” jawab cantrik itu. “Setiap pagi sebelum dini hari bersahut-sahut dengan kokok ayam jantan.” 

Kiai Badra tertawa. Keinginannya untuk bertemu dengan cucu dan cicitnya itu menjadi semakin mendesaknya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Apakah letak Tlaga Kuning itu jauh?” 

“Tidak,” jawab cantrik itu. 

“Tolong, bawa aku ke Tlaga itu,” berkata Kiai Badra kemudian. 

“Tetapi Kiai bermalam disini saja untuk malam ini. Sekarang langit sudah menjadi merah,” jawab cantrik itu. 

“Tetapi bukankah Tlaga Kuning itu tidak terlalu jauh?” sahut Kiai Badra. 

“Memang tidak terlalu jauh,” jawab cantrik itu. “Tidak ada setengah malam perjalanan.” 

“He, setengah malam perjalanan? Dan itu kau katakan tidak terlalu jauh?” berkata Kiai Badra kemudian. 

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya pula, “Bukan kah tidak terlalu jauh dibandingkan dengan padepokan Kiai itu?” 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Memang tidak terlalu jauh. Tetapi aku sependapat, bahwa besok aku akan pergi ke Tlaga Kuning.” 

 

Sabtu, 28-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 199   

 Malam itu Kiai Badra dan Gandar telah sepakat untuk bermalam saja di luar padepokan.” 

“Ada apa sebenarnya?” bertanya Kiai Badra.

Cantrik itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kiai. Sebenarnyalah Kiai dan Nyai Soka berusaha untuk menghindarkan diri dari satu pertumpahan darah. Seorang sahabat Kiai Soka dimasa mudanya merasa kehilangan seorang ayah. Orang itu menduga, bahwa ayahnya telah dibunuh oleh guru Kiai Soka pada saat itu. Pada satu waktu yang sudah lama. Tetapi dendamnya tiba-tiba beralih kepada Nyai dan Kiai Soka sekarang ini.” 

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Apakah orang itu orang yang sangat luar biasa. Maksudku, bahwa Kiai dan Nyai Soka terpaksa mengungsi?” 

“Bukan mengungsi Kiai. Tetapi mereka menghindari pertumpahan darah. Agaknya Kiai Soka masih ingin memberikan penjelasan. Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini. Orang itu tentu tidak akan mendengarkannya. Karena itu, maka padepokan ini lebih baik dikosongkan. Mereka tidak akan menemukan lawan di padepokan ini.” 

“Siapa orang yang memusuhi adikku itu?” bertanya Kiai Badra. 

“Aku kurang tahu Kiai. Tetapi sebaiknya Kiai juga menghindarkan diri dari kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi,” berkata cantrik itu. 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Lalu bagaimana dengan kalian?” 

“O,” jawab cantrik itu. “Kami hanya cantrik-cantrik padepokan. Tentu mereka tidak akan berbuat apa-apa terhadap kami.” 

Kiai Badra memandang Gandar sejenak. Namun kemudian katanya, “Gandar. Marilah kita menyingkir. Malam ini padukuhan ini akan didatangi oleh orang-orang yang ingin membalas dendam kepada Kiai Soka karena peristiwa sekian puluh tahun yang lalu.” 

“Baiklah Kiai. Aku akan ikut saja apa yang Kiai perintahkan,” jawab Gandar. 

Namun dalam pada itu Kiai Badra bertanya, “Lalu bagaimana dengan kuda-kuda kami. Orang-orang yang membalas dendam itu mungkin seorang yang gemar sekali mengumpulkan kuda. Bukankah dengan demikian semua kuda di padepokan ini akan dibawa oleh penjahat itu. 

Para cantrik itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Kiai benar. Kuda-kuda itu pun harus disingkirkan.” 

Dengan demikian, maka para cantrik di padepokan itu pun telah membawa Kiai Badra, Gandar dan beberapa ekor kuda menyingkir. Mereka telah membawa kedua tamu mereka jauh dari padepokan itu. Karena di halaman rumah itu tidak ada kandang, maka kuda-kuda itu pun telah diikat saja pada batang-batang pohon. 

Pemilik rumah itu ternyata orang yang sangat ramah. Mereka mempersilakan Kiai Badra dan Gandar untuk berada di ruang dalam. 

“Silakan Ki Sanak,” berkata orang itu, “Menurut para cantrik, padepokan itu akan didatangi oleh orang-orang yang berniat buruk, sehingga Ki Sanak terpaksa diungsikan kemari.” 

“Begitulah menurut para cantrik,” jawab Kiai Badra. “Kami sama sekali tidak menyangka, bahwa akan terjadi hal seperti itu disini. Jika kami mengetahuinya, maka lebih baik kami tidak datang di padepokan ini.” 

“Tetapi Ki Sanak dapat tinggal disini dengan tenang. Aku sudah kenal dengan baik Kiai dan Nyai Soka. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Karena itu, aku sama sekali tidak berkeberatan Ki Sanak berada di rumah ini semalam justru untuk menghindarkan diri dari kemungkinan-kemungkinan buruk,” berkata pemilik rumah itu. “Anggaplah rumah ini sebagai bagian dari padepokan Kiai dan Nyai Soka.” 

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Kiai Badra. 

Ketika kemudian malam turun dan gelap pun menyelubungi padepokan kecil itu, maka Kiai Badra dan Gandar telah berada di dalam bilik yang disediakan untuk mereka. 

“Kenapa kita tidak pergi saja ke Tlaga Kuning Kiai?” bertanya Gandar. “Bukankah itu lebih baik daripada kita berada disini.” 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Rasa-rasanya ada yang mengikat aku disini. Aku sebelumnya tidak pernah mendengar adikku itu pernah bermusuhan dengan siapapun juga. Kini tiba-tiba seseorang telah datang untuk membalas dendam. Seandainya benar kata cantrik itu, bahwa yang datang untuk membalas dendam itu adalah sahabat Kiai Soka di masa mudanya, memang mungkin aku tidak mengetahuinya. Hal itu mungkin sekali terjadi sebelum Kiai Soka kawin dengan adikku. Tetapi adalah mengherankan sekali, bahwa tiba-tiba setelah sekian puluh tahun, orang yang pernah menjadi seorang sahabat itu datang untuk membalas dendam.” 

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun sebenarnya juga dihinggapi keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi, dan kenapa tiba-tiba saja sahabat itu teringat untuk membalas dendam. 

Karena itu, maka Gandar pun kemudian sependapat dengan Kiai Badra untuk berada di rumah kecil itu. Bahkan seandainya sahabat itu tidak datang malam itu, Kiai Badra akan menunggu di malam berikutnya. 

Ketika keduanya sudah mendapatkan su-guhan makan malam, maka kedua orang itu telah berada kembali di dalam biliknya. Untuk mengisi waktu maka Gandar mulai berbicara tentang anak laki-laki Iswari dan bandul yang dibawanya. 

Sebenarnyalah bahwa malam itu dua orang berkuda telah mendekati padepokan Tlaga Kembang. Dua orang yang bertubuh tegap kekar. Meskipun umur mereka sudah melampaui pertengahan abad, namun nampak bahwa mereka masih tetap orang-orang yang memancarkan kemampuan yang tinggi yang tersimpan di dalam dirinya. 

Di dalam sepinya malam kuda itu berderap di atas jalan berbatu-batu. Kemudian mereka mulai memperlambat kuda mereka setelah mereka mendekati regol padepokan Kiai dan Nyai Soka yang kosong, selain beberapa cantrik yang tidak mengetahui persoalan yang dibawa oleh kedua orang itu secara pasti. Yang mereka ketahui adalah sebagaimana yang mereka katakan kepada Kiai Badra dan Gandar yang mereka singkirkan ke rumah seorang penghuni padukuhan sebelah.

 
Minggu, 29-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
200   

 Namun satu hal yang harus diingat oleh para cantrik, bahwa mereka tidak perlu mengatakan dimana Kiai dan Nyai Soka berada. Apapun yang terjadi atas mereka, namun mereka harus tetap merahasiakannya. 
Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun sudah turun dari kuda mereka dan mengetuk regol padepokan. Seolah-olah mereka adalah tamu-tamu yang memang sudah diharapkan tanpa keseganan dan apalagi berusaha memasuki padepokan dengan diam-diam.

Beberapa kali orang itu mengetuk pintu. Baru kemudian seorang cantrik berlari-lari membuka pintu regol. 

Jantung cantrik itu menjadi berdebar-debar. Ia sudah menduga bahwa yang datang itu tentu orang yang dikatakan oleh Kiai Soka sebagai orang-orang yang ingin membalas dendam. 

Namun justru karena itu, maka cantrik itu menjadi bagaikan terbungkam. Ia berdiri saja memandangi kedua orang itu dengan mata yang tidak berkedip. Namun mulutnya tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. 

Karena cantrik yang membuka pintu regol itu tidak mengucapkan kata-kata, maka salah seorang dari kedua orang itulah yang bertanya, “Apakah kau ingin mempersilakan aku masuk?” 

Cantrik itu menjawab dengan gagap, “Ya. Ya. Silakan.” 

Kedua orang itu pun kemudian menuntun kuda mereka memasuki halaman padepokan itu. Rasa-rasanya padepokan kecil itu memang sepi. Apalagi di malam hari. 

Keduanya pun kemudian mengikatkan kuda mereka pada tonggak-tonggak yang sudah tersedia di halaman. Kemudian berdiri tegak sambil menunggu. 

Cantrik yang mengikutinya itu pun kemudian menyadari, bahwa ia harus mempersilakan kedua orang itu sebagaimana ia mempersilakan seorang tamu. Karena itu, maka katanya kemudian, “Marilah Ki Sanak. Silakan naik ke pendapa.” 

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian keduanya pun telah naik pula ke pendapa. 

Sejenak kemudian cantrik-cantrik yang memang sudah siap telah menghidangkan minuman panas dan makanan. Tetapi keduanya yang duduk di pendapa itu menunggu, kenapa Kiai dan Nyai Soka tidak segera keluar menemui mereka. 

Ketika keduanya tidak sabar lagi, maka mereka telah memanggil seorang cantrik yang kebetulan lewat. Ketika cantrik itu mendekat seorang di antara mereka bertanya, “Dimana Kiai Soka, he?” 

Cantrik itu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia menjawab, “Kiai dan Nyai Soka tidak ada di padepokan.” 

“He,” kedua orang itu terkejut. “Mereka pergi katamu?” 

“Ya Ki Sanak. Keduanya telah pergi,” jawab cantrik itu. 

“Kemana?” bertanya salah seorang dari tamunya. 

“Aku tidak tahu Ki Sanak. Kiai dan Nyai Soka hanya mengatakan bahwa untuk sementara mereka tidak akan berada di padepokan,” jawab cantrik itu. 

“Aneh,” geram seorang yang lain. “Bukankah ia melihat pertanda di pintu regol itu? Aku sudah mengabarkan, bahwa malam ini aku akan datang. Tetapi kenapa ia justru pergi?” 

“Aku kurang tahu Ki Sanak. Kiai dan Nyai sama sekali tidak berpesan apapun. Menurut pendapat kami keduanya akan melakukan pengembaraan seperti yang sering mereka lakukan untuk barang sepuluh, lima belas hari,” jawab cantrik itu. 

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Kemudian salah seorang di antara mereka bertanya, “Kau tahu, arah mereka pergi? Mungkin mereka mempunyai kebiasaan dalam pengembaraan mereka pergi ke satu tempat yang mereka hormati.” 

Cantrik itu menggeleng, katanya, “Tidak Ki Sanak. Aku tidak pernah tahu, kemana saja Kiai dan Nyai Soka pergi jika mereka meninggalkan padepokan. Mereka tidak pernah mengatakannya, dan agaknya mereka tidak mengunjungi satu tempat saja jika mereka pergi.” 

“Hal ini bukan satu kebiasaan Kiai dan Nyai Soka dahulu,” berkata salah seorang di antara mereka. “Aku sudah memberi tanda akan kehadiranku malam ini. Apakah selama ini telah terjadi satu perubahan di dalam cara hidup mereka? Sehingga mereka tidak lagi menghormati harga diri?” 

Cantrik itu sama sekali tidak menyahut. Ia duduk saja sambil menundukkan kepalanya. 

“Ki Sanak,” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “Apakah kau benar-benar tidak tahu kemana suami istri itu pergi, atau kau memang mendapat pesan untuk tidak mengatakannya.” 

“Kami, para cantrik memang tidak pernah diberi tahu,” jawab cantrik itu. 

“Bagaimana seandainya aku menangkapmu dan memaksamu untuk berbicara?” bertanya salah seorang di antara tamu-tamu itu. 

Wajah cantrik itu menjadi tegang. Namun kemudian ia menjawab, “Seandainya Ki Sanak memaksa, mungkin aku akan mengucapkan satu arah perjalanan, tetapi aku sendiri tidak tahu apakah yang aku katakan itu benar atau tidak, karena yang aku lakukan sekadar untuk memenuhi tekanan. Karena itu aku tentu akan menjawab apa saja.”


 

 

 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 30/XII/2002
12 Oct. is Bali's mourn


Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....



KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant