Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 011

Minggu, 16-06-2002

 Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka memang mengenal watak Ki Gede Sembojan, sehingga karena itu, maka mereka memang tidak menyalahkan Wiradana. 
Namun dalam pada itu, salah seorang di antara anak-anak muda itu bertanya, “Dengan siapa Ki Gede berperang tanding?”

“Dengan lawan lamanya, Gonggang Wirit. Tetapi yang kemudian bernama Kalamerta,” jawab Wiradana. 

“Kalamerta,” kembali anak-anak muda itu terkejut. Kalamerta bagi mereka adalah hantu yang menakutkan. Tanah Perdikan Sembojan telah mengadakan persiapan yang kuat untuk menghadapi gerombolan Kalamerta yang mulai mengganggu. Bahkan menurut beberapa orang yang pernah bersentuhan dengan orang-orang dari gerombolan itu, Kalamerta adalah orang yang bukan manusia biasa. Menurut para pengikutnya yang mulai mengganggu Tanah Perdikan itu, Kalamerta adalah ujud dari manusia yang memiliki kemampuan tidak terbatas. 

“Wiradana,” berkata salah seorang anak muda, “Apakah kau tidak pernah mendengar nama itu?” 

“Tentu pernah,” jawab Wiradana. “Sebagaimana ayah juga pernah mendengarnya.” 

“Tetapi kenapa Ki Gede telah turun dalam perang tanding? Seharusnya kita, para pengawal diseluruh Tanah Perdikan dikerahkan untuk menghadapi gerombolan itu. Itupun masih belum tentu kita akan dapat mengalahkan gerombolan yang dipimpin oleh seseorang yang memiliki kemampuan tidak terbatas,” sahut salah seorang di antara anak-anak muda itu. Lalu, “Tetapi tentu ada bedanya jika kita semuanya ikut melibatkan diri dalam usaha untuk mengusir gerombolan itu.” 

“Tetapi ayah tidak akan menghadapi seluruh gerombolan Kalamerta. Ayah akan melakukan perang tanding dengan pemimpin gerombolan itu, yang dikenal bernama Gonggang Wirit,” jawab Wiradana. 

Tetapi salah seorang di antara anak-anak muda itu berkata, “Kalamerta itulah yang disebut memeiliki kemampuan yang tidak terbatas. Sebenarnyalah jika demikian, kami mencemaskan keselamatan Ki Gede.” 

Wiradana mengerutkan keningnya. Kecemasan itu telah mencengkam jantungnya pula. Tetapi ia masih ragu-ragu untuk memerintahkan mencari ayahnya. Jika perang tanding itu masih belum selesai, maka akibatnya justru akan menyulitkan ayahnya sendiri. 

Karena itu, maka Wiradana itu pun berkata, “Kita akan menunggu sampai tengah hari. Jika sampai tengah hari ayah belum kembali, maka kita akan mencarinya.” 

“Sampai tengah hari?” bertanya seorang di antara anak-anak muda itu. “Itu terlalu lama. Tentu kita tidak ingin terlambat.” 

Wiradana termangu-mangu. Tetapi ia yakin, bahwa ayahnya akan mampu melakukan perang tanding untuk waktu yang lama jika kedua-duanya masih tetap dalam keseimbangan. Tetapi sudah tentu bahwa ia pun tidak ingin terlibat jika terjadi sesuatu atas ayahnya. 

Untuk beberapa saat Wiradana termangu-mangu. Ia benar-benar dicengkam oleh kebimbangan menghadapi persoalan yang mendebarkan itu. 

Namun dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu masih berbincang tentang banyak kemungkinan, mereka telah dikejutkan oleh kedatangan sebuah pedati yang diikuti oleh sederet anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan beberapa orang tua pun ikut pula bersama mereka. 

Wiradana menjadi berdebar-debar. Dengan serta merta ia pun telah menyongsong pedati itu keluar regol halaman rumahnya. 

“Ada apa?” Wiradana itu pun bertanya kepada seseorang yang berada di depan pedati itu. 

“Ki Gede terluka parah,” jawab orang itu. 

“Ayah,” desis Wiradana. 

“Ya,” jawab orang itu. (Bersambung)-m

  

 

SURAMNYA BAYAN-BAYANG 012

Senin, 17-06-2002

 Wiradana pun kemudian meloncat untuk naik ke dalam pedati. Tetapi seorang tua berjanggut putih telah mencegahnya. Katanya, “Jangan anak muda.” 
“Aku anaknya. Siapa kau?” bertanya Wiradana.

“O, jadi kau putera Ki Gede Sembojan?” bertanya orang tua itu. 

“Ya. Aku Wiradana,” jawabnya. 

Orang tua itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tetap mencegahnya. Katanya, “Jika kau adalah puteranya, maka seharusnya kau mengikuti petunjukku. Ki Gede sedang dalam keadaan yang sangat gawat.” 

Wiradana termangu-mangu. Namun ia pun mengurungkan niatnya untuk memasuki pedati itu. 

Perlahan-lahan pedati itu memasuki regol halaman rumah Ki Gede, dengan diikuti oleh sebuah iring-iringan yang panjang. Orang-orang Sembojan itu ingin tahu, apa yang telah terjadi dengan Kepala Tanah Perdikannya. 

Pedati itu pun kemudian berhenti di depan pandapa. Orang tua berjanggut putih itupun kemudian meminta Wiradana dan beberapa orang yang lain membantunya, mengangkat Ki Gede dan membawanya ke dalam biliknya. 

“Apa yang telah terjadi?” Wiradana mendesak. 

Orang tua itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku harus berusaha menolongnya lebih dahulu. Baru kemudian aku akan berceritera, meskipun aku tidak banyak mengetahui persoalannya.” 

Wiradana tidak mengganggunya lagi. Ketika Ki Gede sudah terbaring di pembaringannya, maka seorang laki-laki yang masih cukup muda bergeser mendekati orang berjanggut putih itu. 

“Kita harus mengulanginya lagi,” berkata orang berjanggut putih itu. “Tetapi agaknya obat kita yang pertama telah berhasil menghentikan racun yang sangat tajam itu.” 

“Ya Kiai,” jawab laki-laki yang masih agak muda itu, “Mudah-mudahan Kiai dapat berhasil.” 

“Ambillah air,” berkata orang berjanggut putih itu. 

Laki-laki itu pun kemudian minta kepada Wiradana semangguk air bersih. 

“Cepat, ambil air,” desis Wiradana kepada salah seorang anak muda yang berdiri dibelakangnya. 

Sejenak kemudian, anak muda itu telah menyerahkan semangkuk air kepada orang tua berjanggut putih itu. 

“Maaf Ki Sanak,” berkata orang tua itu kemudian kepada orang-orang yang ada di dalam bilik Ki Gede, “Aku mohon Ki Sanak keluar dari bilik ini, kecuali yang sangat berkepentingan, agar udara di dalam bilik ini tidak menjadi terlalu pengab.” 

Wiradanalah yang kemudian mempersilahkan orang-orang yang berjejalan di dalam bilik itu untuk keluar. Hanya Wiradana dan seorang pembantu terdekat Ki Gede sajalah yang kemudian berada di bilik itu. 

“Angger,” berkata orang berjanggut putih itu, “Kami berusaha untuk mengobati luka-luka ayah angger dengan segenap kemampuan yang ada pada kami. Tetapi segalanya terserah kepada Yang Maha Agung. Karena itu, berdoalah bersama dengan kami, mudah-mudahan usaha ini berhasil.” 

Wiradana mengangguk kecil. Namun sebenarnyalah jantungnya bagaikan meledak oleh kecemasan. 

Sejenak kemudian, maka orang tua itu telah meramu obat yang dibawanya. Sebagian dari obat-obat itu akan dimasukkan ke dalam tubuh Ki Gede lewat kerongkongannya, sementara yang lain akan dioleskan pada luka yang terkena racun yang sangat tajam itu.

“Kami sudah berusaha mengobatinya pada saat kami menemukannya,” berkata orang tua itu sambil meramu obat, “Agaknya keadaannya memang sangat parah.” 

(Bersambung)-o
SURAMNYA BAYANG-BAYANG 013

Selasa, 18-06-2002

 Wiradana tidak menjawab. Tetapi dengan tegang ia mengikuti usaha orang yang tidak dikenalnya itu. Di dalam hati, sebagaimana dikatakan oleh orang berjanggut putih itu, Wiradana berdoa bagi keselamatan ayahnya. Dengan hati-hati maka setelah ramuan obat itu selesai dicairkan, diteteskannya ke bibir Ki Gede yang seakan-akan telah membeku. Ketika titik-titik ramuan obat itu perlahan-lahan masuk ke dalam kerongkongan itu, maka orang berjanggut putih itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kita masih dapat berpengharapan ngger,” desisnya. 

Wiradana menjadi semakin tegang. Tetapi ia hanya dapat berdiri termangu apa yang akan terjadi. 

Setelah ramuan obat itu sebagian besar dengan telaten telah dimasukkan ke dalam kerongkongan, maka dengan obat yang lain, luka Ki Gede yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu telah diolesinya pula. 

“Semoga saja obat-obat ini ada manfaatnya,” gumam orang tua itu kemudian. 

Wiradana yang cemas itu pun kemudian bertanya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan ayah, Kiai?” 

Orang berjanggut putih itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil bergeser sedikit ia pun berkata, “Marilah silahkan duduk ngger.” 

Wiradana termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah duduk pula dibibir amben telah mengambil dingklik kayu dan duduk pula dihadapan orang tua itu. 

“Angger,” berkata orang tua itu. “Sebenarnya kami berdua pun tidak terlalu banyak tahu apa yang telah terjadi. Ketika kami berdua berjalan melalui ujung Kali Pideksa, maka kami telah menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam. Untunglah anjing-anjing liar di hutan itu masih belum menemukan. 

Tanpa mengetahui apa sebabnya, maka kami berusaha untuk melihat keadaan kedua sosok tubuh itu. Yang seorang mengalami luka parah karena ujung senjata telah menyayat kulit dan dagingnya, sementara yang lain mengalami luka tidak begitu dalam, tetapi luka itu telah menjadi pintu masuknya racun yang sangat kuat. Ketika kami berdua mengamati keduanya, maka seorang di antaranya telah meninggal. Luka yang parah itu agaknya telah menumpahkan terlalu banyak darah, sehingga orang itu tidak dapat bertahan untuk tetap hidup. Sementara yang seorang lagi masih mampu bertahan atas tajamnya racun di dalam tubuhnya. Agaknya yang seorang itu telah berusaha mengobati dirinya sendiri, tetapi racun yang masuk ke dalam tubuh itu memang terlalu kuat, sehingga obat itu tidak dapat menolak seluruhnya kekuatan racun yang menyusup memasuki urat darahnya. Untunglah bahwa aku juga membawa obat penangkal racun yang agaknya lebih baik dari obat yang dimiliki oleh orang ini, yang kemudian ternyata adalah Ki Gede Sembojan.” 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Menilik ceritera orang itu, maka seorang lagi yang diketemukan terbaring di ujung Kali Pideksa itu telah mati. Dan orang itu tentu Gonggang Wirit yang juga disebut Kalamerta. 

Namun dalam pada itu, Wiradana itu pun masih juga bertanya untuk meyakinkan dugaannya, “Kiai, apakah Kiai mengetahui, siapakah yang telah terbunuh itu?” 

Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak ngger. Aku tidak tahu siapakah yang telah meninggal itu.” 

“Dimanakah mayat itu sekarang, Kiai?” bertanya Wiradana. 

“Pada saat aku menemukan, maka aku menjadi ragu-ragu atas keduanya. Aku memang sudah menduga, bahwa telah terjadi perang tanding. Karena itu, maka keduanya telah kami bawa ke padukuhan terdekat. Kami berdua telah memapah kedua tubuh itu. Dan di padukuhan terdekat, barulah aku tahu, bahwa seorang di antara keduanya adalah Ki Gede Sembojan menurut pengenalan orang-orang padukuhan itu,” berkata orang tua itu, “Tetapi yang lain, tidak seorang pun dapat mengatakannya. Dan sementara ini tubuh yang kami tinggal di banjar padukuhan itu, yang ternyata adalah daerah Sembojan pula.”

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 014

Rabu, 19-06-2002

 Wiradana mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menceriterakan kepada orang tua itu, apa yang telah dilakukan oleh ayahnya.

“Ayah memang memancing perang tanding dengan pemimpin brandal Kalamerta yang mulai menjamah Tanah Perdikan ini, Kiai,” berkata Wiradana. 

‘’Kalamerta?” jawab orang tua itu menjadi tegang. “Jadi yang terbunuh itu agaknya adalah Kalamerta itu sendiri.” 

“Mungkin sekali,” jawab Wiradana. 

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sekali. Memang aku melihat ciri-ciri pada orang yang disebut Kalamerta itu.” 

“Apakah Kiai mengenal ciri-cirinya?” bertanya Wiradana. 

“Ya. Aku menemukan sebilah keris yang besar sekali. Menurut pendengaranku, senjata Kalamerta adalah keris yang besar itu,” jawab orang tua itu. 

“Jika demikian agaknya ayah telah berhasil membunuhnya, meskipun keadaan ayah sendiri menjadi parah,” desis Wiradana. Namun kemudian katanya, “Dengan demikian maka kekuatan gerombolan itu manjadi jauh susut, karena kekuatan mereka hanyalah bertumpu kepada kemampuan seseorang. Sedangkan yang lain tidak lebih dari orang kebanyakan, sehingga gerombolan brandal itu tidak lagi menakutkan bagi kami.” 

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka Ki Gede Sembojan ini memang orang yang luar biasa. Orang yang memiliki kemampuan yang tidak terbatas sebagaimana Kalamerta itu sendiri.” 

“Aku tidak dapat mengatakan apa-apa tentang ayahku. Tetapi ayah memang seorang yang tekun berada di dalam sanggar,” berkata Wiradana. 

“Tetapi bukankah dengan demikian angger juga seorang yang memiliki ilmu yang tidak terbatas seperti ayah angger itu?” bertanya orang tua itu. 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya dipandanginya pembantu ayahnya yang terdekat itu. Namun akhirnya ia berkata, “Aku adalah seorang anak yang malas. Aku memang mempelajari ilmu dari ayah. Tetapi aku baru memiliki dasar-dasarnya saja yang masih harus dikembangkan. 

“O,” orang tua itu mengangguk-angguk, “Sebenarnyalah itu sudah cukup. Bukankah memang hanya dasar-dasarnya itu saja yang dapat diwariskan kepada orang lain. Tetapi yang menerima itulah yang harus mengembangkannya sendiri.” 

“Begitulah yang dikatakan ayah kepadaku,” jawab Wiradana, “Tetapi aku bukan orang yang rajin dan tekun, sehingga perkembangan ilmuku pun tidak sepesat yang ayah kehendaki.” 

Orang tua itu tersenyum. Katanya, “Angger merendahkan diri. Agaknya memang menjadi tabiat orang-orang berilmu tinggi untuk merendahkan dirinya.” 

“Aku tidak merendahkan diri,” jawab Wiradana. “Dengan jujur aku katakan aku memang kurang rajin menekuni ilmu itu.” 

Tetapi orang tua itu berkata, “Itu bukan soal. Tetapi angger telah menguasai dasar-dasarnya, sehingga terbersit niat angger untuk mendalaminya, maka angger dapat melakukan setiap saat.” 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. 

Dalam pada itu, obat yang diberikan oleh orang tua itu pun mulai bekerja. Perlahan-lahan tetapi mampu menumbuhkan harapan bagi Wiradana. Ketika bibir ayahnya mulai bergerak, rasa-rasanya Wiradana ingin meloncat dan mengguncangkan membangunkannya. 

Tetapi orang tua itu melarangnya. Katanya, “jangan kau kejutkan ngger. Biarlah ayahmu sadar dengan sendirinya oleh kekuatan obat yang bekerja di dalam tubuhnya.” 

Wiradana mengangguk kecil. Betapapun juga terjadi pergolakan di dalam dadanya, namun ia masih harus menahan diri. 

(Bersambung)--m

 

 

 Banner 10000004

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 015

Kamis, 20-06-2002

  “Biarlah ayahmu sadar dari pingsannya yang gawat. Baru jika keadaan memungkinkan, kita dapat bertanya sesuatu kepadanya,” berkata orang tua itu. Dengan demikian, maka orang-orang yang ada di dalam bilik itupun kemudian hanya sekadar menunggu perkembangan keadaan Ki Gede Sembojan itu.

 Dalam pada itu, maka orang-orang yang ada diluar bilik itu pun menjadi sangat gelisah. Beberapa orang telah turun kehalaman. Tetapi ada di antara mereka yang masih saja berada di ruang dalam. Mereka menunggu, apakah yang terjadi dengan kepala Tanah Perdikan mereka yang menurut orang-orang Sembojan adalah seorang yang bekerja keras untuk kepentingan Tanah Perdikan itu. Seorang yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan keadaan mereka, melampaui Kepala Tanah Perdikan yang terdahulu. Yang karena tidak mempunyai seorang anak pun telah melimpahkan kekuasaan kepada kemenakannya. Ki Gede Sembojan yang terluka dan dalam keadaan yang gawat itu. 

Sementara itu, di dalam bilik orang tua berjanggut putih itu dengan tegang pula mengikuti perkembangan keadaan Ki Gede Sambojan. 

Orang-orang yang berada di dalam bilik itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Ki Gede mulai membuka matanya. Wiradana beringsut semakin dekat. Tetapi seperti pesan orang tua berjanggut putih itu. Wiradana sama sekali tidak menyentuhnya. 

Akhirnya wajah yang pucat itu mulai bergerak. Ki Gede yang telah membuka matanya itu mencoba untuk melihat orang-orang yang berada di sekitarnya. 

Mula-mula yang nampak adalah tubuh-tubuh yang buram tanpa dapat dikenalnya. Namun perlahan-lahan Ki Gede mulai melihat seorang yang berjanggut putih memandanginya dengan tatapan mata yang sejuk. 

Perlahan-lahan Ki Gede mencoba untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan dirinya. Perlahan-lahan pula ia mulai dapat mengenang kembali perang tanding di ujung Kali Pideksa, di sebelah sepasang pohon raksasa yang terpisah oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas. 

“Apakah aku memang sudah mati,” berkata Ki Gede di dalam hati. “Dan yang berjanggut putih ini adalah ujud-ujud aneh di akhirat?” 

Namun ketika ia perlahan-lahan menggerakkan kepalanya, maka dilihatnya wajah anak laki-lakinya, Wiradana. 

“Wiradana,” perlahan sekali terdengar Ki Gede berdesis. 

Namun Wiradana yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan perkembangan ayahnya itu mendengarnya. Karena itu, maka ia pun semakin dekat sambil menjawab, “Ya ayah. Ini aku Wiradana.” 

Ki Gede mencoba menarik nafas panjang. Tetapi terasa pusat dadanya masih pedih bagaikan tertusuk duri. (Bersambung)-m

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  SURAMNYA BAYANG-BAYANG 016

Namun kemudian terdengar Ki Gede itu berdesah, “Aku sekarang berada dimana Wiradana? Apakah aku masih tetap hidup?” “Ya ayah,” jawab Wiradana, “Ayah masih tetap hidup. Ayah sekarang berada dirumah.”

 “O,” Ki Gede menyeringai menahan sakit diseluruh tubuhnya, “Jadi aku masih tetap hidup?” 

“Ya ayah. Seseorang telah menolong ayah,” jawab Wiradana. 

“Siapa? Bukankah aku telah terkena racun yang tidak dapat diobati? Obat penangkal racun yang aku bawa ternyata tidak berhasil melawan racun yang sangat kuat, yang terdapat pada ujung keris Gonggang Wirit,” desis Ki Gede. 

Wiradana termangu-mangu. Ia memang belum bertanya, siapakah sebenarnya orang tua yang telah menolong ayahnya itu. 

Karena itu, maka baru kemudian ia bertanya, “Siapakah sebenarnya Kiai ini?” 

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku penghuni sebuah padepokan yang terpencil, Ki Gede. Aku tinggal bersama seorang yang masih terhitung kadangku sendiri, yang sekarang ikut bersamaku ini, serta seorang cucuku perempuan. Yang sudi menyebut namaku adalah Kiai Badra.” 

“Kiai telah menolong aku?” bertanya Ki Gede. 

“Secara kebetulan kami berdua menemukan Ki Gede terbaring. Menilik keadaan Ki Gede, maka agaknya Ki Gede telah terkena racun yang luar biasa, sehingga obat yang agaknya telah Ki Gede telan sebelumnya tidak berhasil menahan kekuatan racun itu selain menghambatnya.” 

“Terima kasih,” suara Ki Gede masih sendat. Tetapi jelas terdengar. 

“Sementara ini silakan Ki Gede beristirahat sebaik-baiknya. Mudah-mudahan keadaan Ki Gede akan menjadi semakin baik,” berkata Ki Badra itu. 

Ki Gede menarik nafas. Dadanya masih terasa sakit. Tetapi peredaran pernafasannya terasa menjadi semakin lapang. 

Dalam pada itu, maka orang tua berjanggut putih yang bernama Ki Badra itu pun berkata, “Angger Wiradana. Terserah kepada angger. Di banjar padukuhan di dekat Kali Pideksa terdapat mayat yang mungkin sebagaimana disebut oleh angger sebagai Kalamerta. Mayat itu dapat diselenggarakan sebagaimana seharusnya.” 

“Baik Kiai. Kami akan mengubur mayat itu baik-baik,” jawab Wiradana. 

Namun sementara itu, Kiai Badra pun berkata, “Tetapi sayang sekali ngger, bahwa aku tidak dapat terlalu lama berada di tempat ini. Aku akan segera minta diri.”

“Kenapa terlalu tergesa-gesa,” bertanya Wiradana, “Aku mohon agar Kiai bersedia tinggal disini untuk sementara sampai keadaan ayah menjadi semakin baik.” 

“Aku akan meninggalkan obat untuk kesembuhan Ki Gede, ngger. Tetapi aku tidak akan dapat tinggal lebih lama lagi. Aku telah meninggalkan cucuku, seorang gadis yang mungkin akan menjadi ketakutan jika aku terlalu lama pergi,” jawab Ki Badra. 

“Apakah tidak ada orang lain di padepokan Kiai? Mungkin para cantrik atau putut?” bertanya Wiradana. 

Tetapi Kiai Badra menggeleng. Katanya, “Aku hanya mempunyai seorang cantrik yang kebetulan adalah masih ada hubungan darah. Dan sekarang ia berada disini pula, sehingga cucuku itu benar-benar hanya seorang diri.” 

Wiradana termangu-mangu. Sementara itu, Ki Gede yang juga mendengar pembicaraan itu berdesis, “Kiai jangan pergi.” 

“Maaf Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Aku tidak sampai hati untuk meninggalkan cucuku terlalu lama. Nanti, pada saat lain, mungkin dua atau tiga hari lagi aku akan datang. Kecuali untuk melihat kesehatan Ki Gede, aku akan membawa obat lagi seandainya obat yang aku tinggalkan nanti sudah habis.” 

Dahi Ki Gede nampak berkerut. Ketika ia ingin beringsut, ternyata ia memerlukan bantuan Wiradana. 

 

 VirusAlert_468x60


SURAMNYA BAYANG-BAYANG 017

 “Kiai,” berkata Ki Gede itu kemudian, “Jika cucu Kiai itu memang tidak ada kawannya di padepokan, biarlah ia dibawa kemari. Biarlah cantrik Ki Gede yang seorang itu menjemputnya.”

 Ki Badra termangu-mangu sejenak. Dipandanginya laki-laki yang mengikutinya itu. Namun kemudian katanya, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya jika Ki Gede memperkenankan aku membawa cucuku ke rumah ini. 

Tetapi biarlah aku sendiri menjemputnya, sementara cantrikku ini akan tinggal disini. Ia akan dapat memberikan pengobatan sebaik-baiknya, jika aku sudah menyediakan obatnya. Ia sudah memiliki pengalaman yang cukup karena ia terlalu sering melihat dan membantu aku mengobati orang sakit.” 

Ki Gede mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berdesis menahan sakit. Baru kemudian katanya, “Baiklah Kiai. Jika demikian silakan. Tetapi Kiai jangan terlalu lama pergi.” 

“Aku akan berusaha secepatnya kembali Ki Gede. Aku akan berada disini sampai keadaan Ki Gede menjadi baik,” berkata orang tua berjanggut putih.

“Jika demikian, apakah Kiai memerlukan kuda?” bertanya Wiradana. 

“Tidak. Tidak ngger. Biarlah aku berjalan kaki saja,” jawab orang tua itu, lalu, “Tetapi tolong selain menyelenggarakan mayat orang yang mungkin adalah Kalamerta itu, kembalikan pedati yang aku bawa untuk membawa Ki Gede itu kepada pemiliknya. Aku tidak tahu siapakah namanya. Ia tinggal di padukuhan itu pula. Aku meminjamnya untuk membawa Ki Gede agar tidak terlalu mengganggu keadaan tubuhnya yang sangat lemah itu.” 

“Baik Kiai,” jawab Wiradana. “Aku akan segera mengembalikannya.” 

Demikianlah, maka orang tua itu pun segera minta diri, sementara laki-laki yang disebut cantriknya itu pun telah ditinggalkannya, untuk membantu merawat Ki Gede Sembojan. 

“Siapa namamu Ki Sanak?” bertanya Wiradana kepada orang itu. 

“Gandar,” jawab orang itu singkat. 

Wiradana mengangguk kecil. Hampir tidak didengar orang lain ia mengulang, “Gandar.” 

Dengan demikian, maka sepeninggal orang tua berjanggut putih itu, Gandarlah yang menunggui Ki Gede bersama Wiradana. Dengan sungguh-sungguh Gandar selalu memperhatikan keadaan Ki Gede. Dilakukannya sebagaimana pesan Kiai Badra dengan sebaik-baiknya. 

Karena itulah, maka keadaan Ki Gede memang berangsur-angsur baik. Di hari pertama, maka Ki Gede sudah dapat menelan titik-titik air yang diteteskan di bibirnya. Dengan demikian maka keadaannya pun berangsur menjadi segar. 

Wiradana dan orang-orang Sembojan pun menjadi semakin berpengharapan. Meskipun Ki Gede masih berada di pembaringannya, dan masih belum mampu bangkit untuk duduk, namun wajahnya sudah berangsur nampak menjadi merah. Noda-noda yang kebiru-biruan ditubuhnya tidak lagi bertambah mekar. 

Ketika malam kemudian turun, maka Wiradana pun telah memanggil beberapa orang untuk mendengarkan laporan tentang Kalamerta yang berada di banjar padukuhan di ujung Tanah Perdikan. Dari beberapa pengawal Wiradana mendapat keterangan bahwa ada sesuatu peristiwa yang penting. 

“Tetapi semua pengawal Tanah Perdikan harus selalu bersiap-siap,” berkata Wiradana. “Gonggang Wirit yang dikenal bernama Kalamerta itu mempunyai pengikut yang kuat. Jika mereka menjadi marah atas kematian pemimpinnya, maka mereka akan dapat berbuat apa saja diluar dugaan kita.” 

“Kami selalu bersiaga,” jawab pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan. “Setiap saat anak-anak kami dapat dikerahkan.” 

“Terima kasih,” berkata Wiradana. “Meskipun agaknya gerombolan yang sudah kehilangan pemimpinnya itu tidak akan segarang sebelumnya pada saat Kalamerta masih memimpin mereka.” 

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 018

 “Tetapi dapat juga sebaliknya,” jawab pemimpin pengawal. “Kematian pemimpinnya, membuat mereka menjadi gila dan berbuat apa saja diluar batas-batas peradaban manusia.”

 Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Memang mungkin. Sebaiknya kita memang harus bersiap-siap.” 

Pemimpin pengawal itu pun kemudian meninggalkan Wiradana. Dengan para pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan yang termasuk dalam daerah Tanah Perdikan Sembojan, ia telah mengadakan satu pembicaraan untuk menanggapi kemungkinan yang dapat terjadi. 

Sebenarnyalah, bahwa kematian Gonggang Wirit yang juga disebut Kalamerta itu sudah sampai ke telinga para pengikutnya. Kemarahan yang luar biasa telah membakar jantung mereka. Seorang yang paling mendapat kepercayaan dari Gonggang Wirit dengan serta merta telah mengangkat dirinya menjadi pemimpin gerombolan Kalamerta itu. 

“Kita akan menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan,” berkata orang itu, orang yang bertubuh tinggi kekar dan berambut ikal. 

“Tetapi kita sudah kehilangan pemimpin kita,” desis seorang pengikutnya. 

“Tanah Perdikan Sembojan sudah kehilangan pemimpinnya, setidak-tidaknya untuk sementara. Ki Gede Sembojan dalam keadaan luka parah, sehingga ia tidak akan turun ke medan. Tanpa Ki Gede, maka Sembojanpun tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan kita,” berkata orang bertubuh kekar itu. “Kita akan menghancurkan Sembojan dan membakarnya menjadi karang abang, setelah itu kita mengambil semua kekayaan yang ada di Tanah Perdikan itu. Kita juga akan membunuh Ki Gede yang sedang terluka parah itu. Kematian pemimpin kita harus ditebus dengan sangat mahal oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.” 

Para pengikut Kalamerta itu mengangguk-angguk. Sebagian terbesar dari mereka sependapat dengan orang yang bertubuh tinggi dan kekar itu, agar mereka menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan setelah mereka mengambil semua kekayaan yang ada di Tanah Perdikan itu. 

“Kapan kita akan melakukannya?” bertanya salah seorang di antara pera pengikut Kalamerta itu, “Malam nanti?” 

“Jangan tergesa-gesa. Hari ini seluruh Tanah Perdikan itu tentu sedang mempersiapkan diri. Kita akan menunggu dua tiga hari. Jika mereka lengah, maka kita akan menyergap. Meskipun kita tidak gentar melawan para pengawal yang kehilangan pemimpinnya itu dalam kekuatan puncak mereka. Tetapi sebaiknya kita juga memperhitungkan korban di pihak kita sendiri. Kita dapat menghancurkan Tanah Perdikan itu dengan korban yang sekecil-kecilnya,” jawab orang bertubuh kekar itu. 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Ternyata orang yang bertubuh kekar itu mempunyai perhitungan yang mapan dan mampu menahan gejolak perasaannya. Sehingga karena itulah, maka para pengikut Kalamerta itu harus bersabar untuk beberapa hari. Namun demikian, setiap hari dua atau tiga orang di antara mereka telah keluar dari persembunyian mereka, turun ke daerah Tanah Perdikan untuk mengamati keadaan. 

Namun dalam pada itu, anak-anak muda Sembojan ternyata tidak pernah lengah. Setelah dua hari dari peristiwa yang terjadi di ujung Kali Pideksa itu, anak-anak muda Sembojan justru memperketat penjagaan mereka. Gardu-gardu setiap malam dipenuhi oleh anak-anak muda, sementara para pengawal yang terlatih telah bersiap di banjar-banjar. Jika terjadi sesuatu dimana pun juga, mereka siap untuk bertindak. 

Meskipun kesiagaan itu tidak lepas dari pengamatan para pengawas yang dikirim oleh gerombolan Kalamerta, namun akhirnya orang bertubuh tinggi kekar itu mempunyai pertimbangan lain. (Bersambung)-m

 

 affinity468x60_7

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 019

 


 “Kita tidak dapat menunggu lebih lama lagi,” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu. “Jika dalam dua hari lagi, kesiagaan mereka tidak menurun, maka kita harus bertindak. Aku kira, meskipun mereka mengerahkan segenap pengawal dan anak-anak muda yang ada di Tanah Perdikan, mereka tidak akan dapat melawan kekuatan kita. Meskipun jumlah kita jauh lebih sedikit, tetapi kita mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak. Kita akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan. Selagi padukuhan itu memanggil para pengawal dari padukuhan lain, kita sudah selesai dengan penghancuran para pengawal di padukuhan itu.” 
“Dan kita masih sibuk merampok semua harta benda yang ada di tempat itu,” berkata yang lain.


“Tidak. Kita tidak akan merampok pada hari yang sama. Kita akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan,” berkata orang bertubuh tinggi itu, “Baru kemudian setelah Tanah Pardikan itu tidak mempunyai kekuatan, kita akan merampok.” 

Tetapi seorang yang berumur lebih tua dari orang bertubuh tinggi itu berkata, “Kita jangan lengah. Jika hal ini telah didengar oleh Adipati Pajang, maka mereka akan dapat mengirim pasukan kemari.” 

Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar. Karena itu, maka kita akan melihat keadaan. Kapan kita akan merampok. Tetapi seandainya prajurit-prajurit dari Kadipaten Pajang itu datang, apalagi dari Demak, maka kita akan meninggalkan tempat ini. Meksipun seandainya kita tidak mendapat apa-apa, kita sudah dapat membalaskan dendam kematian pemimpin kita. Syukurlah jika kita sempat membunuh Ki Gede yang sudah tidak berdaya itu.” 

Kawan-kawannya pun mengangguk-angguk. Agaknya demikianlah yang akan dapat mereka lakukan atas Tanah Pardikan yang telah membunuh pemimpin mereka yang sangat mereka banggakan. Kalamerta, orang yang sebelumnya dianggap memiliki kemampuan yang tidak ada batasnya. Namun yang dalam parang tanding melawan Ki Gede Sembojan telah terbunuh di arena. 

Dalam pada itu, sebagaimana mereka memperhitungkan sebelumnya, maka dalam waktu dua hari lagi, kesigapan anak-anak muda Sembojan sama sekali tidak mengendor. Gerdu-gardu masih tetap penuh setiap malam, dan banjar-banjar pun tidak pernah kosong oleh para pengawal yang siap dengan senjata-senjata mereka. 

Sementara itu, keadaan Ki Gede menjadi berangsur baik. Wajahnya tidak lagi pucat, karena darahnya telah mengalir sewajarnya. 

Namun demikian, Ki Gede masih tetap berbaring ditempatnya. Ia masih belum dapat bangkit untuk duduk. Anggota badannya masih terasa sangat lemah. 

Pada hari keempat, obat yang ditinggalkan oleh Kiai Badra telah hampir habis seluruhnya. Gandar yang setiap hari merawat Ki Gede sudah mulai gelisah. Jika Kiai Badra tidak segera datang, Maka ia akan kehabisan obat, sementara keadaan Ki Gede masih sangat lemah. 

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Kiai Badra tidak melupakan janjinya. Pada saat obat yang ditinggalkan bagi Ki Gede sudah habis, maka Kiai Badra telah datang bersama cucunya perempuan, seorang gadis yang sudah meningkat dewasa. 

Gandar yang menyabut kedatangan Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Aku sudah gelisah Kiai.” 

“Aku sebenarnya ingin datang lebih cepat,” berkata Kiai Badra. “Tetapi adikmu telah menghambat keberangkatanku sehari.” 

Gandar memandang wajah cucu perempuan Kiai Badra itu. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Kau merajuk?” 

 

 spiral_laptop

 


SURAMNYA BAYANG-BAYANG 020
25 Juni 2002

 Gadis itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. 
“Marilah,” Wiradana mempersilakan.

 Kiai Badrapun kemudian naik ke pendapa. Sementara itu, Wiradana telah memerintahkan untuk membersihkan gandok sebelah kiri karena untuk sementara Kiai Badra akan tinggal di Kabuyutan itu bersama Gandar dan cucunya. 

Setelah beristirahat sejenak, dan setelah mereka minum air panas dengan hidangan beberapa potong makanan, maka Kiai Badra pun dipersilakan untuk melihat Ki Gede, sementara cucu perempuannya dipersilakan untuk beristirahat di gandok sebelah kiri. 

“Hampir saja aku gagal mengajaknya,” berkata Kiai Badra kepada Gandar. 

“Aku memang sudah mengira,” jawab Gandar. 

“Untunglah, akhirnya ia mau juga ikut bersamaku,” berkata Kiai Badra kemudian, “Tetapi hanya untuk dua tiga hari.” 

Demikianlah, sejenak kemudian, maka bersama Wiradana dan Gandar, Kiai Badra telah memasuki bilik Ki Gede yang masih saja terbaring di pembaringannya. 

“Selamat datang Kiai,” desis Ki Gede yang melihat kehadiran orang berjanggut putih itu. 

“Selamat Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Bagaimana keadaan Ki Gede?” 

“Sebagaimana Kiai lihat, aku sudah berangsur baik. Tetapi aku masih belum dapat bangkit Kiai. Rasa-rasanya tubuhku telah kehilangan segenap urat nadinya dan bahkan tulang-tulangnya,” jawab Ki Gede. 

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Sepercik kecemasan melonjak didadanya. Namun demikian, ia sama sekali masih belum mengatakan sesuatu sebelumnya ia melihat keadaan Ki Gede. 

Sejenak kemudian, maka Kiai Badra pun mulai meraba tubuh Ki Gede yang sudah menjadi hangat kembali. Namun demikian, ada sesuatu yang membuat jantung Kiai Badra berdegup semakin keras. 

Perlahan-lahan Kiai Badra mengangkat tangan Ki Gede, menggerakkan pergelangannya dan kemudan menekuk sikunya perlahan-lahan. Demikian pula atas kaki Ki Gede yang ternyata masih belum dapat digerakkan sama sekali. 

Wajah Ki Badra menjadi tegang. Dipandanginya Ki Gede yang terbaring itu. Tetapi untuk beberapa saat ia masih tetap berdiam diri. 

“Bagaimana Kiai?” bertanya Ki Gede. 

Kiai Badra tidak segera menjawab. Terasa sesuatu telah tertahan didalam hatinya. 

Ternyata Ki Gede melihat kegelisahan di wajah orang tua itu. Karena itu, maka katanya, “Kiai. Katakan apa yang Kiai ketahui. Kiai tidak usah menjadi ragu-ragu. Aku bukan kanak-kanak lagi, yang mungkin akan mengingkari satu kenyataan yang harus disandang. Tetapi aku sudah cukup tua mengalami apapun yang telah terjadi atas diriku sebagai satu kenyataan.” 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ki Gede. Sebenarnya terlalu berat bagiku untuk mengatakannya tentang keadaan Ki Gede.” 


 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 25/VI/2002

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 & (021) 5601215
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant