Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Senin, 09-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 181   

 Saat-saat yang demikian itulah sebenarnya yang ditunggu oleh Wiradana. Tetapi ia memang tidak mau salah langkah. Ia tidak tergesa-gesa mengatakan kepada ayahnya bahwa ia ingin beristri lagi. Tetapi untuk beberapa saat lamanya Wiradana masih menunggu.

 Namun tiba-tiba hati Wiradana telah terguncang ketika pada suatu hari, Gandar telah datang ke Tanah Perdikan Sembojan. Gandar yang untuk beberapa lama selalu ragu-ragu dan kebingungan untuk menemukan suatu jalan menuju ke sebuah pertemuan dengan Ki Gede, akhirnya menemukannya. 

Ia tidak ingin datang dengan diam-diam mengintip dan mengikuti segala gerak-gerik Wiradana. Tetapi ia ingin dengan terbuka langsung menuju ke rumah Ki Gede di Sembojan. 

Kedatangannya memang cukup mengejutkan. Tetapi karena di wajahnya tidak terbayang kesan-kesan yang mendebar-kan, bahkan nampaknya Gan-dar datang sambil tersenyum-senyum, maka Wiradana menjadi agak tenang menghadapinya. 

Gandar telah diterima oleh Ki Gede dan Wiradana di pendapa. Ki Gede yang selalu merasa bersalah, berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya atas temuannya itu, meskipun menurut anggapannya, Gandar tidak lebih dari seorang pembantu Kiai Badra yang agak kurang tinggi kemampuan daya nalar-nya. 

Setelah hidangan disuguhkan, maka mulailah Gandar mengatakan kepentingannya datang ke rumah Ki Gede. Katanya, “Ki Gede, sebenarnyalah bahwa aku telah diperintahkan oleh Kiai Badra untuk menyampaikan satu pertanyaan tentang cucunya. Apakah telah didapat kabar atau keterangan tentang Iswari. Apakah ia masih hidup atau sudah mati. Jika masih hidup dimanakah orangnya, tetapi jika mati dimanakah kuburnya?” 

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditatapnya wajah Wiradana sambil berkata, “Jawablah, karena Iswari adalah istrimu.” 

Wiradana tidak dapat ingkar. Maka ia pun berusaha untuk memberikan jawaban. “Gandar, kami sudah berusaha sejauh-jauh dapat kami lakukan. Ayah sudah membentuk sepasukan pengawal khusus dan aku sendiri telah menjelajahi bukan saja Tanah Perdikan ini, tetapi padukuhan-padukuhan disekitarnya. Namun kami belum menemukan petunjuk apapun. Bagi kami, Iswari seakan-akan hilang begitu saja tanpa jejak.” 

Namun tanpa diduga Gandar menjawab, “Itu tidak mungkin Ki Wiradana. Tidak ada orang yang dapat lenyap begitu saja. Tentu ada sebabnya. Juga Iswari.” 

Wiradana menjadi berdebar-debar. Ia menyangka bahwa Gandar dapat bersikap demikian. Namun kemudian jawabnya, “Maksudmu Gandar, Iswari telah hilang dan sampai sekarang tidak dapat diketemukan.” 

“KI Wiradana,” berkata Gandar kemudian, “Bagi Kiai Badra, Iswari adalah orang yang sangat penting. Kelangsungan hidup keturunan Kiai Badra tergantung kepada Iswari. Jika Iswari itu benar-benar hilang dan tidak diketemukan, berarti kelangsungan keturunan Kiai Badra terputus. Dan nama darah keturunan Kiai Badra pun akan terhapus dari muka bumi.” 

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Gandar. Dan sebenarnyalah kami belum berhenti berusaha. Duapuluh lima orang pengawal yang aku latih secara khusus telah berusaha untuk mencari. Tetapi sampai sekarang masih belum berhasil seperti yang dikatakan oleh Wiradana itu.” 

Karena yang menjawab Ki Gede maka Gandar pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya, “Ki Gede. Karena itu, apakah aku diperkenankan untuk berada di Tanah Perdikan ini barang dua tiga hari. Siapa tahu, justru pada saat aku berada disini, maka Iswari dapat diketemukan.” 

“O, silakan. Silakan Gandar. Kau dapat berada di Tanah Perdikan ini berapa hari saja kau kehendaki. Selama kau berada di Tanah Perdikan ini, maka kau dapat tinggal di rumah ini,” jawab Ki Gede. 

“Terima kasih Ki Gede,” berkata Gandar kemudian. “Mudah-mudahan anak-anak muda Sembojan itu dapat menemukan jejaknya. Apapun yang terjadi atas Nyai Wiradana, namun jika kami sudah mendapat kejelasan, maka rasa-rasanya kami akan dapat menjadi tenang.” 

“Ya, ya Gandar,” jawab Ki Gede. “Perasaan yang demikian itu dapat mengerti. Karena itu, maka kami akan berusaha sebaik-baiknya.” 

 

 

Selasa, 10-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 182   

 Demikianlah, maka Gandar pun telah tinggal untuk beberapa lamanya di Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, anak-anak muda yang duapuluh lima orang yang mendapat tempaan khusus dari Ki Gede itu telah mendapat perintah ulangan, mencari Nyai Wiradana karena Gandar ada di Tanah Perikan itu.

 “Kalian jangan mencari Nyai Wiradana sebagai mencari orang secara watah,” pesan Ki Gede. “Kalian harus mencarinya dengan mencari jejak, mengurai pengamatan dan kemudian mengambil kesimpulan. 

Anak-anak muda itu mengerti. Dan mereka pun kemudian telah berpencar mencari jejak. Mereka bertanya kepada siapa saja yang mungkin akan dapat memberikan petunjuk atau siapakah yang telah melihat Iswari untuk yang terakhir kalinya. 

Tidak ada orang yang dapat memberikan keterangan. Sehingga dengan demikian maka jalur penyelidikan pun telah terputus. 

Dalam pada itu, Wiradana sendiri juga kelihatan bertambah sibuk. Namun dengan demikian ia semakin sering tidak berada di rumah. Dengan alasan mencari jejak Iswari yang telah hilang itu, maka ia pun lebih sering berada di rumah Warsi. 

“Kehadiran orang itu sangat memuakkan,” berkata Wiradana kepada istrinya yang cantik itu. 

“Tetapi ia tamu kakang. Bagaimanapun juga tamu itu harus dihormati,” berkata istrinya itu. 

“Aku akan menghormati tamu yang memang pantas dihormati. Tetapi tamu yang seorang ini tidak,” jawab Wiradana. 

Istrinya tidak menjawab lagi. Sebenarnyalah bahwa Warsi sendiri juga merasa muak mendengar nama Gandar itu disebut-sebut. 

Namun, kehadiran Gandar memang bukan sekadar untuk mencari atau dengan kehadirannya, maka Tanah Perdikan Sembojan telah dibuatnya bagaikan diguncang lagi. Tetapi memang ingin berbicara dengan Ki Gede tanpa diketahui oleh siapapun juga, termasuk Wiradana. Adalah kebetulan sekali bahwa Ki Wiradana terlalu sering meninggalkan rumahnya, sehingga kesempatan itu sebenarnya cukup luas. 

Tetapi agaknya Ki Gede sendiri, yang merasa bersalah atas hilangnya Iswari, lebih banyak mengarahkan perhatiannya kepada anak-anak muda yang sedang mencari jejak itu. Bahkan sekali dua kali, Ki Gede pernah ke luar pula dari halaman rumahnya untuk bersama-sama dengan anak-anak muda itu melihat-lihat diseputar Tanah Perdikan. Meskipun kaki dan tangannya mengalami kelemahan, namun Ki Gede masih dapat duduk di atas punggung kuda. Dengan pertolongan seseorang Ki Gede naik dan duduk di atas punggung kuda, kemudian dengan tangannya yang lemah, Ki Gede masih mampu menggerakkan kendali. 

Namun Ki Gede sendiri itu pun tidak pernah menemukan jejak apapun. 

Sementara itu, Gandar telah berusaha untuk mendapat kesempatan berbicara langsung tanpa ada orang lain. Tetapi ternyata kesempatan yang dirasanya cukup luas itu sulit dicarinya. Setiap mereka duduk di pendapa, ada saja orang lain yang ikut duduk bersamanya. Jika bukan Wiradana, sekali-kali juga para bebahu Tanah Perdikan itu, atau bahkan Ki Gedelah yang kemudian minta diri untuk melakukan sesuatu. 

Tetapi Gandar telah bertekad untuk menunggu kesempatan itu yang ia yakin pada satu saat pasti didapatkannya. Tetapi sudah barang tentu Gandar tidak akan dapat menyusul Ki Gede yang sedang duduk merenung di dalam biliknya atau sedang berbincang dengan anak-anak muda yang telah ditempanya secara khusus. 

Namun Gandar cukup sabar. Meskipun ia sudah sepekan berada di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi karena ia masih belum sempat berbicara langsung dengan Ki Gede tanpa orang lain, maka ia masih juga belum berniat untuk meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. 

Bahkan rasa-rasanya Gandar ingin mencoba berbicara dengan Ki Gede justru di perjalanan pada saat-saat Ki Gede berkeliling Tanah Perdikan untuk mencari jejak. Meskipun Gandar tahu, bahwa yang dicari Ki Gede bukan sekadar Nyai Wiradana yang hilang, tetapi juga mencari kemungkinan adanya orang-orang yang mengganggu Tanah Perdikan karena dendam mereka atas terbunuhnya Kalamerta. 
Rabu, 11-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 183   

 Sebenarnya Ki Gede sendiri telah dibakar oleh perasaan dendam terhadap para pengikut Kalamerta, karena menurut pendapatnya Iswari adalah karena pokal para pengikut Kalamerta itu. Karena itulah, maka Ki Gede berusaha untuk menemukan seorang saja di antara para pengikut Kalamerta itu, untuk diperas keterangannya tentang hilangnya menantunya.

 Ketika Gandar melihat pada satu pagi, Ki Gede bersiap-siap untuk mengelilingi Tanah Perdikan bersama lima orang pengawal berkuda, maka Ganar pun telah memberanikan diri untuk minta ijin, ikut bersama dengan sekelompok kecil orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu. 

“Kebetulan sekali,” jawab Ki Gede. “Senang sekali pergi bersamamu Gandar. Kau akan melihat sendiri keadaan Tanah Perdikan ini. Mungkin kau melihat sesuatu yang dapat menarik perhatianmu dan kemudian dapat dipergunakan untuk menelusuri jejak hilangnya Iswari.” 

Namun ketika Ki Gede memerintahkan seseorang mempersiapkan seekor kuda, maka orang itu telah bergeremeng dengan kawannya, “Seperti mencari sepucuk jarum di lautan. Bukankah hilangnya Nyai Wiradana sudah terjadi untuk waktu yang cukup lama? Apapun yang kita lakukan sekarang, aku kira tidak akan memberikan hasil apapun juga.” 

“Kau bodoh,” sahut kawannya. “Ki Gede bukan saja mencari jejak hilangnya Nyai Wiradana. Tetapi Ki Gede itu percaya bahwa di Tanah Perdikan ini masih ada orang-orang yang ingin mengacaukan ketenangan dan ketentraman yang sumbernya adalah para pengikut Kalamerta.” 

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja mereka berpaling ketika mereka melihat Wiradana melintas di sebelah kandang. Namun Wiradana itu tiba-tiba saja berhenti dan bertanya, “Ada apa? Dimanakah beberapa ekor kuda yang lain?” 

Orang itu pun kemudian memberitahukan kepada Wiradana, bahwa Ki Gede akan meronda bersama beberapa orang anak muda. Akan ikut bersama Ki Gede, Gandar, tamu dari padepokan kecil, saudara Nyai Wiradana. 

“Jadi Gandar akan ikut?” bertanya Wiradana. 

“Ya,” jawab orang yang sedang menyiapkan kuda itu. 

Wiradana berpikir sejanak. Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh orang itu. Mungkin satu usaha untuk mempengaruhi Ki Gede, agar ia mencurigai Wiradana yang jarang-jarang di rumah. 

Karena kesalahan yang dilakukannya, maka Wiradana selalu mencurigai orang-orang yang berhubungan dengan kesalahan yang dilakukannya. 

Tiba-tiba saja Wiradana itu berkata, “Aku akan ikut. Siapkan kuda untukku.” 

Orang yang sedang menyiapkan kuda itu termangu-mangu. Namun ia pun ternyata tidak sempat bertanya, karena Wiradana telah meloncat masuk ke dalam rumahnya lewat pintu butulan. 

Orang itu hanya dapat menarik nafas. Sementara kawannya berkata, “Kau tidak perlu mempersoalkannya. Siapkan saja kudanya.”” 

“Aku sudah mengerti,” jawabnya setengah membentak. 

Wiradana yang langsung masuk ke dalam biliknya telah berbenah diri. Sebenarnya ia tidak ingin ikut bersama ayahnya meskipun ia tahu, bahwa ayahnya hari ini akan pergi. Bahkan ia telah minta diri kepada istrinya untuk pulang lebih pagi, karena Ki Gede akan pergi. 

“Mungkin ayah akan memberikan beberapa pesan kepadaku,” berkata Wiradana. 

Istrinya tidak pernah menahannya. Apapun yang dilakukan oleh Wiradana seakan-akan selalu baik baginya, meskipun sekali-kali ia mengusulkan agar Wiradana bersikap lebih baik kepada ayahnya dan pada saat terakhir kepada tamunya yang bernama Gandar. Karena dengan demikian Warsi yakin, bahwa akibatnya akan terjadi justru sebaliknya. 

Ketika semuanya sudah siap, maka Ki Gede mengerutkan keningnya ketika ia melihat Wiradana ada di antara mereka. 

“Kapan kau datang?” bertanya ayahnya. 

“Baru saja ayah,” jawab Wiradana. “Aku akan ikut bersama ayah.” 

“Apakah kau tidak letih?” bertanya ayahnya. 

“Tidak ayah,” jawab Wiradana. “Justru ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada ayah. Aku minta ayah menelusuri pinggir hutan yang berbatasan dengan bukit padas di sebelah bulak Pasungan.” 

 

 Banner 10000004

Kamis, 12-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 184   

 “ADA apa?” bertanya ayahnya. 

“Mungkin aku hanya terpengaruh oleh perasaanku. Rasa-rasanya ada sesuatu yang pantas diamati. Mudah-mudahan dugaanku tidak benar,” jawab Wiradana.

 “Ya, apa yang kau lihat,” desak ayahnya. 

“Aku melihat beberapa orang di pinggir hutan dicelah-celah bukit-bukit padas. 

Wajah Ki Gede meremang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kau pasti bahwa mereka bukan orang-orang Sembojan?” 

“Mereka bukan orang-orang Sembojan. Sebenarnya aku ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka, tetapi aku cemas bahwa mereka akan dengan tergesa-gesa pergi. Mudah-mudahan mereka masih ada disana,” jawab Wiradana. 

Ki Gede mengangguk-angguk. Dendamnya kepada orang-orang yang menjadi pengikut Kalamerta semakin memuncak sejak hilangnya Iswari dari Tanah Perdikan Sembojan. 

Demikianlah, maka sekelompok kecil orang-orang itu pun segera mempersiapkan diri. Dibantu oleh seorang pengawal, Ki Gede pun segera naik ke atas punggung kudanya. Kemudian yang lain pun telah berloncatan pula naik, termasuk Wiradana dan kemudian Gandar. 

“Marilah saudara-saudaraku,” berkata Ki Gede. “Seperti yang pernah kita lakukan, kita mencari jejak hilangnya menantu dan sekaligus mencari para pengikut Kalamerta yang masih berkeliaran di Tanah Perdikan ini.” 

Para pengiringnya pun telah siap untuk berangkat. Dengan tangannya yang lemah Ki Gede pun kemudian menggerakkan kendali kudanya untuk mendorong kudanya melangkah meninggalkan halaman itu. 

Tetapi ternyata telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Justru karena perhatian semua orang, terutama Gandar, tertuju kepada Ki Gede, maka ia tidak sempat memperhatikan sesuatu di luar halaman rumah Ki Gede. Gandar yang cemas akan keadaan Ki Gede tangan dan kakinya mengalami kelemahan sementara ia duduk di punggung kuda, serta karena ia sama sekali tidak menduga, bahwa akan terjadi sesuatu dengan Ki Gede di halaman itu justru sebelum Ki Gede mulai menggerakkan kudanya, maka Gandar tidak mendengar kehadiran seseorang. 

Namun yang terjadi benar-benar menggemparkan. Selagi kuda Ki Gede siap untuk bergerak, maka tiba-tiba saja terdengar Ki Gede mengeluh tertahan. Tangannya yang lemah itu pun berusaha untuk meraba punggungnya sambil berdesis,” Setan. Aku telah dikenai senjata rahasia sekarang ini.” 

“Apa ayah?” Wiradana menjadi heran sementara orang-orang lain menjadi bingung. 

Ki Gede berusaha menahan keseimbangannya. Namun pada wajahnya nampak gejolak kemarahan dan kecemasan hatinya. 

Gandarlah yang kemudian meloncat turun. Kemudian dengan hati-hati ia berusaha membantu Ki Gede turun sambil berkata, “Marilah Ki Gede, kita akan melihat, apa yang telah terjadi.” 

“Punggungku,” desis Ki Gede. “Aku merasa sesuatu mengenaiku. Tentu senjata rahasia, semacam sumpit beracun.” 

Demikian Ki Gede turun dari kudanya, Gandar tidak sempat membawanya naik ke pendapa. Dibiarkannya Ki Gede duduk di tanah, sementara ia mencoba untuk melihat punggung Ki Gede dengan melepas baju luriknya. 

Jantung Gandar tergetar. Sebagai seorang pembantu Kiai Badra yang memahami tentang obat-obatan, maka Gandar pun mempunyai pengetahuan tidak sedikit tentang pengobatan itu pula. 

Karena itu, demikian ia melihat punggung Ki Gede Sembojan, maka ia pun telah menjadi gelisah. 

Gandar melihat sebuah mata sumpit yang melekat pada kulit Ki Gede agak membenam ke dalam dagingnya. Gandar pun melihat disekitar luka itu terdapat noda yang kebiru-biruan. 

“Paser beracun,” desisnya. 

“Apa?” mata Wiradana terbelalak. 

“Punggung Ki Gede telah dikenai semacam paser kecil yang mungkin dilontarkan dengan sumpit,” sahut Gandar. 

“Gila,” wajah Wiradana menjadi tegang. “Siapa yang melakukannya?” 

Gandar tiba-tiba lupa akan dirinya, seorang pembantu Kiai Badra yang agak kedungu-dunguan. Tiba-tiba saja ia pun berteriak lantang. “Cepat. Kepung padukuhan induk ini. Tentu seorang yang berilmu tinggi telah melakukan pengkhianatan yang licik ini.” 

 

 

Jumat, 13-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayagn-Bayang 185   

 Wiradana pun bagaikan kehilangan nalar. Ia tidak sempat berpikir. Seakan-akan diluar sadarnya, maka ia pun telah berlari ke arah kudanya. Sekali loncat ia sudah berada di punggung kuda sambil memberikan aba-aba, “Cepat. Pergi ke semua pintu gerbang. Seorang di antara kalian membunyikan isyarat kentongan. Kita akan menutup semua pintu dan mengepung padukuhan induk ini.”

Sesaat kemudian, maka kuda Wiradana pun telah berderap meninggalkan halaman, disusul oleh anak-anak muda yang lain. Mereka melarikan kuda mereka ke arah yang berbeda, karena mereka akan menutup semua pintu gerbang. Sementara itu, seorang yang lain, yang kebetulan berada di halaman itu, telah berlari ke gardu di sebelah regol halaman dan memukul kentongan dengan nada titir. 

Gandar sendiri termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika ia berniat ikut mencari orang yang menyerang dengan licik itu, ia melihat Ki Gede menjadi pucat dan kejang-kejang. 

Gandar tidak dapat meninggalkannya. Ia tidak sampai hati melihat keadaan Ki Gede yang menjadi sangat gawat. 

Karena itu, maka ia pun kemudian telah berjongkok disamping Ki Gede sambil berdesis, “Marilah Ki Gede. Biarlah aku mencoba mengobati.” 

Ki Gede tidak menjawab. Keadaannya telah menjadi sangat parah. Ketahanan tubuh Ki Gede ternyata tidak lagi seperti sebelum ia mengalami kelemahan pada tangan dan kakinya. 

Gandar tidak bertanya lagi. Ia segera memapah Ki Gede dan membawanya naik ke pendapa. Membaringkannya miring agar ia dapat mengobati luka-lukanya. 

Kepada seorang yang kebingungan di halaman, Gandar berteriak, “Cepat, ambilkan air.” 

Berlari-lari orang itu mengambil air. Dengan air itu, Gandar telah mencairkan serbuk obat yang dibawanya. Obat yang dapat melawan racun. 

Dengan obat itu Gandar mengusap luka di punggung Ki Gede yang tidak berdarah, sementara jarum paser yang dilontarkan dengan sumpit itu pun masih berada di dalam luka itu. 

Ki Gede Sembojan menggeliat. Ter-nyata ia masih dipengaruhi oleh perasaan pedih karena obat Gandar. Obat yang seakan-akan menghisap racun, bukan saja pada jarum paser kecil itu, tetapi juga yang sudah mengalir di dalam darah Ki Gede. 

Sementara itu, Gandar pun telah mencairkan obat yang lain pada mang-kuk yang lain pula. Perlahan-lahan ia menitikkan obat itu di bibir Ki Gede yang kemudian kepalanya berada di pangkuan Gandar. 

Ternyata Ki Gede masih berpengharapan. Titik-titik air yang mengandung obat itu masih dapat melintasi kerongkongan Ki Gede. 

Namun ternyata bahwa Ki Gede sudah terlalu lemah. Racun yang bekerja pada tubuh Ki Gede adalah racun yang sangat kuat, sementara daya tahan Ki Gede sendiri agaknya sudah tidak terlalu kuat. 

Karena itu, usaha Gandar pun tidak akan banyak berpengaruh atas keadaan Ki Gede. 

Tetapi agaknya Ki Gede masih sempat membuka matanya. Ketika dengan agak kabur dilihatnya Gandar, Ki Gede itu pun tersenyum. 

“Dimana Wiradana,” desisnya. 

(Bersambung)-m

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

Sabtu, 14-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 186   

 “Sekelompok anak muda telah memencar dan menutup semua jalan keluar padukuhan induk ini Ki Gede. Sementara itu, isyarat kentongan telah dibunyikan, sehingga tidak memungkinkan seorang pun dapat keluar dari padukuhan induk ini.”

 Ki Gede masih tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah bahwa mereka mampu berpikir cepat.” Namun tiba-tiba senyum dibibir Ki Gede itu larut, “Tentu orang Kalamerta. Sayang aku belum sempat menjumpainya. Tetapi Wiradana harus tetap mencari mereka dan mencari jejak hilangnya Iswari.” 

Terasa jantung Gandar menjadi berdegupan. Namun katanya, “Sebaiknya Ki Gede menenangkan pikiran. Aku berusaha untuk mengobati Ki Gede.” 

Tetapi Ki Gede justru menggeleng. Katanya, “Tidak ada gunanya Gandar. Keadaanku sudah sangat lemah. Aku merasa, obat yang kau oleskan pada lukaku untuk sesaat mampu menghentikan arus racun di dalam darahku. Tetapi ternyata darahku sudah terlalu dalam di kotori oleh racun yang sangat kuat itu, sehingga obat yang kau berikan hanya sekadar menahan saja. Tetapi tidak akan mampu menyembuhkannya.” 

“Aku akan berusaha Ki Gede,” berkata Gandar. 

“Tidak akan ada gunanya,” desis Ki Gede hampir berbisik. 

Gandar tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun merasakan keadaan sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede. 

Namun dalam pada itu, pada saat-saat yang gawat bagi hidup Ki Gede, timbullah niat Gandar untuk mengatakan sesuatu kepada Ki Gede yang menyangkut menantunya yang sangat dikasihi itu. Karena itu, untuk beberapa saat ia termangu-mangu. Namun akhirnya ia memaksa juga bibirnya berkata setelah ia yakin tidak ada orang yang akan dapat mendengarnya. “Ki Gede. Cobalah Ki Gede mengerahkan segala daya tahan Ki Gede untuk tetap hidup. Bagaimanapun buruknya obat-obatku, tetapi aku akan mampu membantu Ki Gede jika Ki Gede sendiri menghendaki untuk tetap bertahan.” 

“Apapun yang akan kau lakukan Gandar, tetapi jika seorang telah terantuk batas, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak,” jawab Ki Gede sendat. 

“Tetapi Ki Gede,” berkata Gandar. “Ada sesuatu yang akan dapat dijadikan satu pancadan bagi Ki Gede untuk bergairah tetap hidup,” berkata Gandar. 

Ki Gede memandang Gandar dengan pandangan yang kabur. Namun ia pun bertanya, “Apa maksudmu Gandar?” 

“Ki Gede,” berkata Gandar kemudian. “Sebenarnya bahwa Iswari masih hidup.” 

“He,” Tiba-tiba terasa Ki Gede akan bangkit. Tetapi tubuhnya sudah terlalu letih, sehingga kepalanya yang sedikit terangkat itupun telah terkulai jatuh kembali di pangkuan Gan-dar. 

“Ya Ki Gede, sebenarnyalah demikian,” berkata Gandar kemudian. 

“Tetapi dimana anak itu sekarang?” bertanya Ki Gede. 

“Ia sudah berada di rumah kakeknya?” jawab Gandar. 

“Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” bertanya Ki Gede pula. 

“Ki Gede,” berkata Gandar. “Sebenarnyalah bahwa Iswari akan dibunuh. Seorang telah menyelamatkannya dan membawa Iswari kembali ke kakeknya. Untuk sementara Iswari disembunyikan agar orang yang ingin membunuhnya tidak mengetahui bahwa Iswari sebenarnya masih belum mati. Sementara itu aku datang kemari untuk memberitahukan hal ini kepada KiGede, tetapi untuk memberikan kesan agar Iswari memang sudah mati, maka aku pun berpura-pura mencari perempuan itu.” 

“O,” Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. “Apakah kau tahu, siapakah yang akan membunuhnya?” bertanya Ki Gede. 

(Bersambung)-m.

 

 

 

 VirusAlert_468x60

Minggu, 15-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 187   

Gandar menjadi ragu-ragu. Dalam keadaan yang demikian, Gandar tidak sampai hati mengatakan bahwa Wiradana sendirilah sumber dari usaha pembunuhan itu. Jika benar obatnya tidak dapat menyembuhkannya, maka persoalan itu agar tidak menjadi beban pada saat-saat terakhir. 

Karena itu, maka Gandar pun menjawab, “Ki Gede. Agaknya dugaan Ki Gede benar. Sisa gerombolan Kalamerta.” 


 “Nah apa kataku,” desis Ki Gede lemah. “Syukurlah jika ia masih hidup. Biarlah kakeknya melindunginya untuk selamanya. Tetapi apakah Wiradana sudah tahu akan hal ini?” 

Gandar menjadi ragu-ragu. Tetapi katanya kemudian, “Sudah Ki Gede.” 

“O,” Ki Gede mengerutkan keningnya. Seakan-akan ia ingin melihat lebih jelas lagi wajah Gandar yang menjadi kabur. Dengan suara parau Ki Gede kemudian berkata, “Tetapi Wiradana sama sekali tidak memberikan kesan, bahwa ia sudah mengetahui,” Ki Gede menyeringai menahan sakitnya yang seakan-akan menghimpit seluruh tubuhnya. Namun kemudian dengan ketabahan seorang laki-laki yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, maka Ki Gede pun tersenyum, “Itulah agaknya yang membuatnya tidak terlalu bersedih atas hilangnya istrinya. Bahkan seakan-akan ia tidak menghiraukannya lagi setelah lewat beberapa pekan. Agaknya ia memang sama sekali tidak merasa kehilangan.” 

Gandarlah yang terkejut mendengar jawaban itu. Bahkan rasa-rasanya jantungnyalah yang berdeguban semakin cepat. Di dalam hati ia memaki Wiradana tidak habis-habisnya. Namun dihadapan Ki Gede yang dalam keadaan yang parah itu, Gandar masih berusaha untuk tetap mengekang diri. 

“Gandar,” berkata Ki Gede. “Agaknya aku benar-benar tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Umurku sudah sampai pada batasnya. Sampaikan kepada Kiai Badra bahwa aku mohon maaf atas peristiwa yang terjadi atas cucunya. Meskipun Iswari masih tetap selamat, namun percobaan pembunuhan atas dirinya sudah merupakan satu peristiwa yang dapat mengguncang hati orang tua itu. Juga sampaikan ucapan terima kasihku yang tidak terhingga, seakan-akan Kiai Badra sudah dapat menyambung hidupku untuk beberapa lama, sehingga tugasku benar-benar telah selesai. Aku sudah mengawinkan anak laki-laki satu-satunya yang aku miliki.” 

“Ya Ki Gede,” desis Gandar. “Tetapi Ki Gede harus berusaha untuk bertahan dan memohon kepada Sumber Hidup. Bukankah Ki Gede masih ingin bertemu dengan cucu Ki Gede?” 

“Cucu?” bertanya Ki Gede dengan suara yang semakin lemah. 

“Ya. Cucu Ki Gede. Cucu Ki Gede itu sudah lahir. Seorang anak laki-laki yang sehat, tampan dan nampaknya memiliki kecerdasan dan bekal yang diwarisinya dari kakeknya,” sahut Gandar. 

Ki Gede yang sudah menjadi gemetar itu sempat tersenyum. Meskipun wajahnya bagaikan sudah hampir membeku, namun ia masih berusaha untuk berkata, “Aku mengucap sukur kepada Tuhan, bahwa Iswari sudah melahirkan anaknya. Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja. Kurnia Yang Maha Agung itu harus mendapat tempat sewajarnya di dunia yang ternyata merupakan arena pergolakan yang sangat keras ini,” Ki Gede terdiam sejenak, lalu, “Gandar. Apakah Wiradana belum datang?” 

“Belum Ki Gede,” jawab Gandar. 

“Baiklah. Aku titipkan kepadamu. Pertanda penguasa di Tanah Perdikan ini,” desis Ki Gede. Suaranya menjadi parau dan hampir tak kedengaran lagi. 

Dalam pada itu Ki Gede rasa-rasanya ingin menggerakkan tangannya. Tetapi ia sudah menjadi sangat lemah. 

Gandar menjadi berdebar-debar. Ia menyesal, bahwa ia agak terlambat bertindak. Apalagi tubuh Ki Gede yang cacat itu tidak memiliki daya tahan yang cukup untuk melawan racun yang sangat tajam. Sehingga dengan demikian, agaknya obat yang diberikan oleh Gandar itu hanya mampu menunda saat-saat kematian. Tetapi tidak akan dapat menyelamatkannya. 

“Seandainya Kiai Badra ada disini,” berkata Gandar di dalam hatinya.
(Bersambung)-m
.

 

 


 

 

 affinity468x60_7

 

 

 Senin, 16-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 188   

Namun dalam pada itu, karena Ki Gede tidak mampu menggerakkan tangannya, maka ia pun berkata dengan suara yang lemah bergetar, “Gandar. Tolong ambilkan sebuah bandul beserta rantainya di kantong ikat pinggangku.”

 “Bandul, Ki Gede,” ulang Gandar. 

“Ya,” desis Ki Gede. Suaranya menjadi semakin lirih. 

Gandar tidak menjawab lagi. Perlahan-lahan ia mulai meraba kantong ikat pinggang Ki Gede sementara Ki Gede masih tetap berbaring beralaskan pangkuan Gandar. 

Ternyata bahwa di kantong ikat pinggang Ki Gede memang terdapat sebuah bandul yang tergantung pada seutas rantai. Semuanya terbuat dari emas yang kuning gemerlap. Bandul yang bulat sebesar biji jengkol itu bertatahkan lukisan kepala seekor burung elang. 

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Benda itu tentu mahal sekali harganya. 

Dalam pada itu, Ki Gede pun kemudian berkata, “Gandar. Tolong berikan benda itu kepada Wiradana. Ia akan berhak memiliki benda itu sebagai pertanda bahwa ia akan memimpin Tanah Perdikan ini.” 

Jantung Gandar terasa berdenyut semakin cepat. Namun ia menjawab, “Baiklah Ki Gede. Aku akan memberikan nanti jika ia kembali.” 

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Tugasku memang sudah selesai, Gandar. Pesanku kepada Wiradana. Hati-hatilah ia dengan istrinya. Ia harus ikut bertanggungjawab atas keselamatannya meskipun untuk sementara istrinya berada di padepokannya. Tetapi pada suatu saat, cucuku itulah yang akan memiliki bandul itu sesudah Wiradana. Karena cucuku itulah yang kelak akan berhak menggantikan Wiradana menjadi Kepala Tanah Perdikan ini.” 

“Ya Ki Gede,” jawab Gandar dengan suara datar. 

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berdesis, “Agaknya aku tidak sempat menunggu orang-orang Tanah Perdikan ini. He, siapa yang berada di halaman?” 

Gandar berpaling ke halaman. Ia melihat empat orang berdiri tegang dibawah tangga pendapa. Namun Gandar yang cerdik itu telah membelakangi mereka sehingga orang-orang itu tidak melihat dan tidak mendengar apa yang telah dibicarakan antara Gandar dan Ki Gede. 

Sementara itu, suara titir yang mengumandang bukan saja di padukuhan induk, telah memanggil anak-anak muda. Selain mereka yang mengepung padukuhan induk itu, beberapa di antara mereka telah terkumpul di depan regol rumah Kepala Tanah Perdikannya. Tetapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di pendapa. Mereka hanya melihat seseorang berusaha untuk mengobati Ki Gede, sedangkan empat orang yang terdahulu tegang dibawah tangga pendapa. 

Nampaknya mereka telah berbicara di antara mereka. Menebak apa yang kira-kira terjadi dan menurut selera mereka sendiri-sendiri memberikan arti dari peristiwa itu. 

Sementara itu, keadaan Ki Gede menjadi parah. Gandar tidak mampu berbuat apa-apa. Obat yang dibawanya tidak dapat menahan arus racun di dalam darah Ki Gede, justru selagi daya tahan Ki Gede sudah menurun. 

Sejenak kemudian maka Ki Gede itu pun berkata, “Gandar. Kau adalah orang satu-satunya yang ada disini, justru pada saat umurku sampai ke batas. Tetapi aku percaya kepadamu. Kau akan membantu memecahkan masalah yang akan timbul di Tanah Perdikan ini sepeninggalanku.” 

“Ya Ki Gede,” jawab Gandar. “Aku akan berusaha.” 

“Terima kasih,” desis Ki Gede sambil tersenyum. Namun wajahnya menjadi semakin pucat. Noda yang berwarna kebiru-biruan mulai muncul di wajah itu. 

Akhirnya, Ki Gede itu benar-benar menjadi semakin lemah. Ketika Ki Gede itu sempat membuka matanya yang mulai terpejam, maka serasa sebuah senyuman masih saja membayang. 

“Ki Gede,” panggil Gandar. 

Tetapi Gandar tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Gede itu meninggal dalam suasana yang pasrah. Ia merasa bahwa tugasnya memang sudah selesai. Apalagi ketika ia mendengar bahwa menantunya yang sangat disayanginya masih hidup dan bahkan cucunya telah lahir pula dengan selamat.
Selasa, 17-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 189   

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede sudah tidak bernafas lagi ia masih berbaring dipangkuannya. Sejenak Gandar menimang bandul dan rantai yang diambilnya dari kantong ikat pinggang Ki Gede. Benda berharga bukan saja karena terbuat dari emas, tetapi juga nilainya sebagai pertanda seorang Kepala Tanah Perdikan di Sembojan itu telah menimbulkan persoalan di dalam dirinya. Benda itu sesuai dengan pesan Ki Gede harus diserahkan kepada Wiradana. Tetapi tumbuh satu pertanyaan dihati Gandar. “Seandainya Ki Gede mengetahui apa yang telah dilakukan oleh anak laki-lakinya terhadap istrinya, apakah sikap Ki Gede tidak akan berubah?”

Sejenak Gandar termangu-mangu. Namun ia pun kemudian teringat pesan Ki Gede pula, bahwa kelak anak Iswari itu akan berhak memiliki bandul itu pula.

Sekilas Gandar berpaling ke halaman. Ia masih melihat orang-orang yang gelisah. Sementara diregol halaman semakin lama menjadi semain banyak orang yang berkumpul. Bukan saja anak-anak muda, tetapi juga beberapa orang lain yang mengetahui dan mendengar dari anak-anak muda yang hilir mudik dengan sibuknya, apa yang telah terjadi dengan Ki Gede.

Dalam pada itu, Gandar masih dalam kegelisahan karena bandul yang diberikan oleh Ki Gede kepadanya, yang harus disampaikannya kepada Wiradana. Di dasar hatinya ada semacam ketidakrelaan, bahwa Tanah Perdikan ini akan dipimpin oleh Wiradana yang mempunyai seorang istri lain kecuali Iswari. Bahkan istrinya itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

“Ki Gede benar,” desis Gandar. “Memang keluarga Kalamerta yang telah mengacaukan ketenangan Tanah Perdikan ini.
Tiba-tiba Gandar mengambil keputusan untuk menyimpan bandul itu. Setidak-tidaknya untuk sementara. Ia akan melihat keadaan sebelum ia akan menyerahkan bandul itu kepada Wiradana. Meskipun ia sadar bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak berhak untuk berbuat demikian.
Karena itu, maka bandul itu pun telah dimasukkan ke dalam kantong ikat pinggangnya sendiri tanpa diketahui oleh siapapun.
Baru kemudian Gandar itu meletakkan Ki Gede perlahan-lahan. Kemudian ia pun bangkit dan melangkah ke tangga pendapa, mendekati orang-orang yang sedang gelisah itu.
“Ki Gede sudah meninggal,” desis Gandar.
“He,” orang-orang di halaman itu menjadi tegang. Salah seorang di antara mereka telah melangkah naik perlahan-lahan mendekati tubuh Ki Gede yang terbaring. Ketika ia berjongkok sambil meraba tangan Ki Gede yang bersilang didada, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede sudah memejamkan matanya dan tidak bernafas lagi.

“Ya,” desisnya. “Ki Gede sudah meninggal.”

Demikianlah, maka beberapa orang yang lain pun telah naik pula ke pendapa. Mereka memang melihat tubuh Ki Gede yang pada wajahnya terdapat noda-noda yang kebiru-biruan. Sehingga beberapa orang di antara mereka dapat mengenali, bahwa Ki Gede memang terkena racun.

“Aku gagal mengobatinya,” desis Gandar. “Aku mohon maaf. Seandainya Kiai Badra sendiri ada disini, mungkin ia dapat meramu obat yang lebih baik, yang sesuai dengan kemampuan racun yang sangat tinggi ini.”
Memang tidak ada orang yang menyalahkan Gandar. Ia sudah berusaha. Tetapi usahanya tidak berhasil.”

Karena itu, maka atas kesepakatan beberapa orang itu, maka Ki Gede pun kemudian telah diangkat dibawa masuk ke ruang tengah. Diletakkan di atas amben yang besar dan ditutup dengan sehelai kain dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.

Namun mereka masih belum berbuat apa-apa, karena mereka masih menunggu Wiradana.
Sementara itu, Wiradana memimpin anak-anak muda mengepung seluruh padukuhan induk. Ia memerintahkan anak-anak muda itu tidak saja menutup semua regol. Tetapi setiap jengkal tanah yang melingkar padukuhan induk harus diawasi.
Ketika semua jalan keluar sudah tertutup, maka Wiradana memerintahkan anak-anak muda Tanah Perdikan untuk mencari orang yang pantas dicurigai diseluruh padukuhan induk, semua rumah harus dimasuki tanpa terkecuali. Meskipun rumah itu bebahu Tanah Perdikan itu sekalipun.


Rabu, 18-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 190   

 “Jangan satu atau dua orang untuk setiap kelompok. Tetapi lebih dari itu. Sedikit-dikitnya lima orang, agar setiap pengamatan dapat meyakinkan,” perintah Wiradana.

 Dengan demikian, anak-anak muda dan bahkan hampir setiap laki-laki di Tanah Perdikan Sebojan, terutama di padukuhan induk itu menjadi sibuk. Me-reka melihat setiap rumah. Halamannya, ruang dalamnya bahkan kandang dan lumbung-lumbungnya. Mungkin seorang bersembunyi atau dengan sengaja menyembunyikannya diri sepengetahuan pemilik ru-mahnya. 

Wiradana sendiri hilir mudik di atas punggung kudanya, sambil setiap kali meneriakkan aba-aba bagi anak-anak muda yang berkumpul di gardu-gardu dan bagi mereka yang sedang sibuk melihat setiap halaman dan isi rumah dan bangunan-bangunan yang ada. Bahkan banjar padukuhan induk itu pun tidak luput dari pengamatan anak-anak muda yang ma-rah itu. 

Tetapi mereka tidak menemukan seorang pun yang pantas mereka curigai. 

“Cari sampai dapat,” setiap kali Wiradana membentak. 

Namun mereka tidak menemukan orang yang dikehendaki. Tidak ada orang asing di padukuhan induk itu. Bahkan kebetulan sekali, tidak ada tamu seorang pun di rumah penghuni padukuhan induk. Orang-orang dari tetangga padukuhan pun tidak ada yang kebetulan berada di padukuhan induk. 

Wiradana menjadi semakin geram. Namun ketika ia masih akan mengelilingi padukuhan itu sekali lagi, seorang telah menemuinya untuk mengabarkan, bahwa Ki Gede telah meninggal. 

“Ayah telah meninggal?” wajah Wiradana menegang. 

“Ya,” jawab orang yang memberitahukan itu. 

“Bukankah Gandar sudah berusaha mengobatinya?” bertanya Wiradana. 

“Ya. Tetapi gagal. Gandar telah berusaha sejauh dapat dilakukan. Namun obat yang kebetulan dibawanya tidak mampu menyelamatkan Ki Gede. Entahlah, jika Kiai Badra sendiri ada disini sekarang,” jawab orang itu. 

Wiradana pun mengurungkan niatnya untuk sekali lagi mengelilingi padukuhan itu. Tetapi ia langsung kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan ayahnya. 

Kepada para pemimpin kelompok yang ditemuinya ia berpesan, agar usaha itu terus dilakukan. 

“Aku yakin, orang itu tentu masih ada di padukuhan induk ini,” berkata Wiradana. “Jika tidak ada orang lain, tentu salah seorang di antara kita sendiri.” 

Dengan demikian maka anak-anak muda itu pun masih sibuk dengan usaha mereka, sementara Wiradana sendiri telah kembali ke rumahnya setelah ia mendengar bahwa ayahnya telah meninggal. 

Demikian kudanya memasuki halaman, maka Wiradana itu pun segera meloncat turun. Dengan tergesa-gesa ia naik ke pendapa dan bertanya kepada Gandar yang duduk dipendapa itu pula, “Dimana ayah?” 

Gandar pun bangkit dan membawa Wiradana masuk ke ruang dalam. Demikian ia masuk, maka ia pun tertegun. Dilihatnya sesosok tubuh yang terbaring, diselubungi oleh kain dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. 

 

 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 18/XII/2002
12 Oct. is Bali's mourn
17 Dec 02, Sipadan and Ligitan now owned by Malaysia


Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....



Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant