Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Selasa, 26-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 171   

 “Tetapi bukankah tangan dan kaki Ki Gede masih terasa sangat lemah?” bertanya Kiai Badra. 
“Ki Gede menyadari,” jawab salah seorang dari kedua orang itu. “Tetapi Ki Gede akan tetap melakukannya dibantu oleh Wiradana.” 
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih akan mengucapkan banyak sekali tuntutan dan penyesalan atas hilangnya cucunya. Tetapi ketika ia mendengar sikap Ki Gede meskipun tangan dan kakinya sudah menjadi cacat itu merasa bertanggung jawab sepenuhnya, maka kata-katanya tidak lagi dapat dilontarkan lewat bibirnya. Bahkan yang dikatakannya kemudian adalah, “Ki Sanak. Sampaikan kepada Ki Gede, aku mengucapkan beribu terima kasih atas tanggung jawab Ki Gede terhadap cucuku itu. Mudah-mudahan cucuku dapat diketemukan dengan selamat dan kembali lagi ke rumah Ki Gede, hidup rukun dan damai bersama suaminya. Sebenarnyalah cucuku itu adalah satu-satunya orang yang akan menyambung keturunanku kelak.”


Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Bagi Kiai Badra, Iswari merupakan orang yang sangat penting yang akan dapat menyambung garis keturunannya. Jika Iswari tidak dapat diketemukan atau katakanlah mengalami nasib sangat buruk, sehingga Nyai Wiradana itu tidak dapat diketemukan hidup, tetapi diketemukan meninggal, maka garis keturunan Kiai Badra akan terputus sampai cucunya itu saja. 

Demikianlah, kedua orang itu tidak terlalu lama berada di padepokan Kiai Badra. Ketika mereka sudah menyampaikan persoalan yang mereka bawa, serta mendapat hidangan sekadarnya, maka mereka pun segera meninggalkan padepokan Kiai Badra. 

Dalam pada itu, ternyata Iswari yang naik pedati, memerlukan watu yang lama di perjalanan. Menurut perhitungan Gandar, mereka baru akan sampai di keesokan harinya menjelang tengah hari. Namun di malam hari mereka berhenti sepenuhnya. 

Ternyata mereka tidak mengalami hambatan sesuatu di perjalanan. Seperti perhitungan Gandar, maka mereka memasuki padukuhan Tlaga Kembar menjelang tengah hari. 

Dalam suasana yang buram, Iswari memasuki satu padepokan yang meskipun sudah dikenalnya, tetapi bukan daerah bermainnya sendiri semasa kecilnya. 

Kedatangan Iswari dan Gandar disambut dengan senang hati oleh adik Kiai Badra. Mereka gembira sekali melihat kedatangan Iswari yang jarang sekali mengunjunginya. 

Karena itu, maka dengan tergopoh-gopoh adik Kiai Badra bersama suaminya telah mempersilakannya naik ke pendapa padepokan kecil itu. 

Tetapi kegembiraan itu tidak terlalu lama meliputi suasana pertemuan itu. Karena setelah mereka duduk bersama dan saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka nenek Iswari itu pun bertanya keperluannya datang. 

Sebagaimana dilakukan terhadap Kiai Badra, Gandar pun berkata terus terang tanpa ada yang disembunyikan. Sejak Iswari dibawa ke Tanah Perdikan Sembojan, sampai saat ia harus meninggalkan Tanah Perdikan itu dengan hati yang terluka. 

Kedua orang tua pemilik padepokan itu mengangguk-angguk. Dengan nada lembut neneknya itu pun bertanya kepada Gandar, “Jadi, segala sesuatunya telah diatur sendiri oleh suaminya itu?” 

“Ya Nyai,” jawab Gandar. “Memang sungguh menusuk perasaan. Namun sudah barang tentu bahwa kita akan sampai pada saatnya menerima kenyataan itu dengan hati yang pasrah kepada Yang Maha Kuasa.” 

“Ya Gandar,” berkata nenek Iswari. “Karena itu, aku akan menerima Iswari dengan senang hati. Biarlah ia tinggal untuk sementara disini. Aku kira sampai saatnya ia melahirkan, akan lebih baik jika ia berada disini. Di rumah kakeknya, tidak ada seorang perempuan yang akan dapat membantu kelahiran anak di dalam kandungan itu. Tetapi disini, aku akan dapat menolongnya, karena aku memang seorang dukun bayi.” 

“Terima kasih Nyai,” sahut Gandar. “Biarlah Iswari menetap untuk sementara disini. Ia akan dapat menghirup satu suasana yang baru yang mungkin akan dapat sedikit menjernihkan nalar budinya. Sementara itu, kita tidak akan mencemaskan jika saat-saat kelahiran itu tiba.” 

(Bersambung)-m.

 

 

 

Rabu, 27-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 172   

DEMIKIANLAH, sejak saat itu Iswari telah berada di rumah suami istri yang oleh para cantriknya disebut Kiai dan Nyai Soka di Tlaga Kembang. 

Kedua suami istri yang sudah tua itu merasa sangat kasihan kepada Iswari yang mengalami satu nasib yang sangat buruk, sementara kedua orang suami istri itu sama sekali tidak mempunyai seorang anak pun. Sebenarnya Nyai Soka telah melahirkan dua kali. Tetapi kedua-duanya telah diambil kembali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian, maka kedua orang tua itu pun merasa seakan-akan kehadiran Iswari di padepokannya, sebagai kedatangan anak kandungnya sendiri yang telah lama meninggalkan mereka. 

Karena itulah maka sikap kedua suami istri itu kepada Iswari bagaikan sikap dua orang tua kepada anaknya sendiri. 

Dengan sungguh-sungguh Nyai Soka mengamati perkembangan kandungan Iswari yang semakin lama menjadi semakin besar itu. Menjelang saat kelahiran, maka Nyai Soka memberikan beberapa petunjuk khusus bagi Iswari. 

“Di saat-saat senggang, sebaiknya kau berjalan-jalan perlahan-lahan mengelilingi padepokan ini. Dengan demikian, mudah-mudahan akan dapat berpengaruh, mempercepat kelahiran anakmu jika saatnya tiba,” berkata Nyai Soka. 

Iswari pun melakukan semua pesan dengan sebaik-baiknya. Kadang-kadang dipagi hari menjelang fajar, Iswari sudah berjalan beberapa kali mengelilingi padepokan. Tetapi seperti pesan Nyai Soka, jangan terlalu me-maksa diri apabila kakinya sudah merasa lelah. 

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Ki Gede Sembojan benar-benar menjadi sangat berprihatin. Nampaknya Ki Gede jauh lebih bersedih daripada Wiradana sendiri. 

Seperti yang diminta, maka telah disiapkan dua puluh lima orang pengawal terpilih di Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata meskipun Ki Gede mengalami kelemahan kaki dan tangan, tetapi ia benar-benar telah memberikan latihan-latihan khusus kepada dua puluh lima orang itu. Dengan isyarat kata dan perintah-perintah, Ki Gede telah memberikan latihan khusus kepada mereka dan terutama kepada Wiradana sendiri. 

“Wiradana. Kau sudah memiliki semua dasar ilmuku. Kau harus mampu mengembangkannya dan memecahkan beberapa persoalan dalam ilmu kanuragan. Kau akan memimpin dua puluh lima orang ini kelak untuk menghancurkan keluarga Kalamerta yang tersisa, yang agaknya masih tetap mengancam Tanah Perdikan Sembojan. Hilangnya Iswari merupakan penghinaan yang paling besar di dalam hidupku sampai setua ini. Kau dan dua puluh lima pengawal ini harus dapat menghancurkan sisa keluarga Kalamerta. Jika masih ada orang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka seharusnya kau mampu mengalahkannya dengan landasan ilmumu yang sudah lengkap itu,” berkata Ki Gede Sembojan setiap kali kepada anak laki-lakinya. 

Wiradana hanya menundukkan kepalanya saja. Tetapi ternyata ia lebih sering berada di rumah Warsi daripada berada di sanggarnya. Sehingga menurut penilikan Ki Gede, kemajuan ilmu Wiradana terasa sangat lamban sekali. 

Ki Gede memang menjadi sangat berprihatin atas anak laki-lakinya yang tunggal itu. Setiap kali ia selalu memberikan nasehat agar anaknya menyadari kedudukannya. Bahkan kadang-kadang ia masih marah kepada anaknya itu. Apalagi setelah Iswari hilang dari Tanah Perdikan 

“Wiradana,” berkata Ki Gede, “Seharusnya kaulah yang menangis karena istrimu itu hilang. Kaulah yang paling terhina karenanya. Jika kau setiap malam pergi ke daerah-daerah yang kurang aman meskipun di luar Tanah Perdikan untuk mengetahui dan mempelajari perkembangan keadaan, maka seharusnya kau sudah dapat mengambil kesimpulan. Katakanlah, bahwa keluarga Kalamerta masih saja membayangi Tanah Perdikan Sembojan.”

 

Kamis, 28-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 173   

 WIRADANA tidak dapat menjawab setiap ayahnya mempersoalkannya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya ia lebih baik menghindari ayahnya daripada harus menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

 Tetapi Ki Gede justru menjadi semakin keras menempa dua puluh lima pengawal yang dipersiapkan untuk menghancurkan sisa-sisa keluarga Kalamerta yang masih dianggap selalu membayangi Tanah Perdikan Sembojan. 

Sementara itu, selagi Ki Gede sibuk dengan para pengawal terpilihnya, Warsi merasa bahwa jalan menjadi semakin lapang baginya. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu saat-saat ia dibawa pulang ke rumah Wiradana. Ia akan menjadi orang yang penting di Tanah Perdikan Sembojan, sekaligus kesempatan untuk membalas sakit hati pamannya menjadi makin luas pula. 

Tetapi Warsi harus menahan diri. Setiap kali Wiradana masih minta waktu, karena sikap ayahnya yang keras. 

“Aku tidak tergesa-gesa,” berkata Warsi. “Bahkan sebenarnya aku tidak ingin untuk pindah dari rumah ini. Rasa-rasa-nya rumah kecil ini telah memberikan kesejukan dihatiku, asal kakang Wiradana selalu berada disisiku. Aku sama sekali tidak menginginkan apapun juga, selain kakang Wiradana. Karena itu, bi-arlah Ki Gede melakukan apa yang ingin dilakukan.” 

“Aku menjadi jemu untuk mengikuti perintahnya,” berkata Wiradana. 

“Ah, seharusnya kakang tidak berbuat seperti itu,” berkata Warsi. “Bukankah Ki Gede itu ayah kakang. Bukankah menjadi kewajiban kakang untuk mengikuti segala perintahnya.” 

“Ayah ingin memenjarakan aku di da-lam sangkar sehingga aku tidak mempunyai kesempatan berbuat lain. Waktuku untuk datang kepadamu menjadi sangat terbatas,” jawab Wiradana. 

Tetapi Warsi tersenyum. Senyumnya masih tetap manis sekali bagi Wiradana. 

Katanya, “Kakang. Semakin sering kau berada di dalam sangkar, maka me-nurut ceritamu, ilmumu menjadi sema-kin meningkat. Karena itu kenapa kau berkeberatan.” 

Wiradana menarik nafas dalam-da-lam. Katanya, “Aku tidak dapat terlalu lama berpisah denganmu Warsi. Biar sajalah ilmuku sama sekali tidak meningkat. Di Tanah Perdikan Sembojan terdapat anak-anak muda yang menjadi pengawal yang tangguh. Mereka akan dapat melindungi aku dan Tanah Perdikan karena jumlah mereka cukup banyak.” 

Warsi tidak mendesak. Sebenarnyalah ia tidak ingin Wiradana meningkatkan ilmunya, karena ia menjadi cemas, bahwa pada suatu saat, ilmu Wiradana akan dapat melampaui ilmunya sendiri, sehingga jika perselisihan di antara mereka, Wiradana tidak lagi dapat dikuasai dengan ilmunya. 

Namun dengan demikian, maka sikap Wiradana membuat Ki Gede menjadi sangat berprihatin. Semakin lama Wiradana menjadi semakin jarang berada di rumah. Bermacam-macam alasan yang dikatakannya kepada ayahnya. Bahkan suatu hari ia berkata, “Ayah, aku tidak dapat berada di rumah ini terlalu lama. Aku tidak dapat menenangkan diriku sepeninggal istriku. Setiap aku melihat pintu bilik itu, aku selalu teringat akan Iswari yang hilang itu.” 

“Jangan cengeng,” jawab ayahnya. “Kau jangan meratap seperti itu. Tetapi kau harus berbuat sesuatu karena hilangnya istrimu. Kau harus meningkatkan ilmumu, kemudian mencari istrimu yang hilang, merebutnya dengan kekerasan, jika perlu mengorbankan nyawamu sendiri.” 

Wiradana termangu-mangu. Tetapi ia diam saja. 

“Wiradana, meskipun aku sudah cacat, tetapi aku berniat untuk mencarinya, apapun yang akan terjadi. Aku harus menemukan satu cara untuk menghadapi lawan, tanpa tangan dan kakiku yang lemah ini,” geram ayahnya yang kehilangan kesabaran. 

Seperti yang dikatakan, maka Ki Gede itu pun telah bekerja keras. Duapuluh lima orang pengawal itu akan menjadi tangan-tangan dan kakinya. Mereka berlatih tanpa mengenal lelah untuk mencapai satu tataran tertentu jika mereka pada suatu saat benar-benar dihadapkan pada para pengikut Kalamerta yang sudah kehilangan pimpinannya itu. 

“Keluarga Kalamerta tanpa Kalamerta itu sendiri tentu,” kata-kata Ki Gede di dalam hatinya, “Meskipun ia menyadari bahwa di antara mereka ada yang memiliki kemampuan melampaui Wiradana apapun yang pernah dikatakan oleh Wiradana tentang lawannya itu.” 

 

 Jumat, 29-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 174   

 KARENA itu, maka yang dilakukan oleh Ki Gede itu bukan hanya satu dua hari saja tetapi ia telah melakukannya dalam hitungan bulan. 
Sementara Ki Gede bekerja keras dalam keadaan cacat, di padepokan Tlaga Kembang, Iswari sudah sampai pada suatu waktu, dimana kandungannya sampai pada saat kelahirannya.

 Di bawah perawatan Nyai Soka serta para pembantunya maka Iswari kemudian benar-benar telah melahirkan anak-nya dengan selamat. Seorang anak laki-laki yang besar dan tampan. Berkulit kuning dan bermata hitam. 

“O,” desisnya Nyai Soka, “Alangkah gagahnya.” 

Ketika Iswari kemudian untuk pertama kali melihat wajah anak laki-lakinya, maka ia ti-dak lagi dapat menahan air ma-tanya yang meleleh dipipinya. Anak itu mirip sekali dengan ayahnya, Ki Wiradana. Anak Kepala Tanah Perdikan di Sembojan. 

“Sudahlah Iswari,” berkata Nyai Soka. “Bersyukurlah kepada Tuhan, bahwa kau telah melahirkan anakmu dengan selamat.” 

Iswari hanya dapat mengangguk kecil. Namun bagaimana mungkin ia dapat melupakan peristiwa yang sangat pahit dalam hidupnya. Disingkirkan oleh suaminya sendiri, bahkan hampir saja nyawanya telah direnggutnya sama sekali. 

Namun kemudian atas tuntunan Nyai Soka, Iswari berhasil mengatasi gejolak perasaannya. Sementara Nyai Soka pun mengerti, betapa sakitnya perasaan Iswari. Namun Iswari tidak dapat dibiar-kan perasaannya itu menderita tanpa akhir. 

Kabar gembira itu pun segera disampaikan oleh Kiai dan Nyai Soka kepada Kiai Badra dan Gandar yang telah kembali ke padepokannya. Betapa perasaan gembira membuat keduanya melupakan sejenak apa yang pernah terjadi atas cucu Kiai Badra itu. 

Karena itu, maka keduanya telah ber-niat untuk segera mengunjungi Iswari dan anaknya yang baru lahir. Namun dengan pesan, agar tidak seorang pun dari penghuni padepokan yang ditinggalkan itu mengatakan kepada siapapun juga bahwa Iswari masih hidup dan bahkan melahirkan anaknya di padepokan Tlaga Kembang. 

Kehadiran Kiai Badra dan Gandar di Tlaga Kembang membuat Kiai dan Nyai Soka semakin bergembira. Meskipun Iswari tidak dapat menahan perasaannya pada saat ia melihat kakeknya me-ngunjunginya, namun kemudian wajahnya menjadi cerah pula. 

“Anak laki-laki itu adalah keturunan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,” desis Gandar ditelinga Kiai Badra. 

“Maksudmu?” bertanya Kiai Badra. 

“Ia berhak atas kedudukan kakeknya,” jawab Gandar. “Bukan semata-mata karena kedudukan yang baik itu, tetapi pada suatu saat, harus dinyatakan kepada orang-orang Sembojan, bahwa anak Iswari itu adalah satu-satunya orang yang berhak menggantikan kedudukan Wiradana. Bukan anak dari perempuan cantik yang gila itu, seandainya ia kelak mempunyai juga seorang anak.” 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada Iswari, karena ia yakin, bahwa Iswari akan menolak setiap usaha untuk menghubungkan kembali anak itu dengan ayahnya, yang menganggap bahwa Iswari telah mati.

Namun dalam pada itu, ketika pada malam hari, Kiai Badra, Gandar dan Nyai Soka sedang duduk di pendapa maka terbersitlah satu pikiran pada Nyai Soka untuk membentuk Iswari menjadi seorang yang lain dari Iswari sebelumnya. 

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Badra. 

“Kakang,” berkata Nyai Soka. “Sebe-narnya aku merasa aneh akan sikap kakang dan yang kemudian juga sikap Gandar. Selama ini kalian benar-benar seperti dua orang penghuni padepokan yang tidak berarti apa-apa selain sekali-sekali menolong mengobati orang yang sedang sakit.” 

“Ah, bagaimana mungkin kau menyebut aku tidak berarti selain menolong orang yang sakit,” jawab Kiai Badra. “Coba, sebutkan Soka, apa yang lebih baik daripada menolong orang yang sedang sakit dan kemudian menyembuhkannya dalam batas jangkauan kemampuannya?” 

“Aku mengerti kakang,” jawab Nyai Soka. “Tetapi bukankah kalian memiliki sesuatu yang lebih daripada sekadar mengobati seseorang? Bukankah kakang jika menghendaki akan mampu menolong orang lain lebih banyak lagi.” 

“Aku tahu maksudmu? Membunuh lagi?” sahut Kiai Badra.

 

 

 

 Banner 10000004

 

Sabtu, 30-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 175   

 “AH. Kakang terlalu menyudutkan diri sendiri,” berkata Kiai Soka. “Kenapa kakang mempergunakan istilah itu? Bukankah kakang dapat mengatakan, menolong seseorang yang mengalami kesulitan karena dirampok orang misalnya. Atau membebaskan satu padukuhan dari keganasan para berandal yang ingin merampas semua kekayaan di padukuhan itu.”

 “Kenapa begitu? Bukankah tidak pernah ada lagi peram-pokan dan tindakan kekerasan seperti itu lagi sekarang ini?” bertanya Kiai Badra. 

“Kenapa tidak? Bukankah hal itu telah terjadi atas cucumu sendiri?” sahut Nyai Soka. 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Itu bukan persoalan satu perampokan.” 

“Apapun namanya, tetapi peristiwa itu adalah peristiwa kekerasan. Kenapa kakang atau Gandar sama sekali tidak berbuat apa-apa untuk mencegah hal itu terjadi?” bertanya Nyai Soka. 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam, sementara Gan-dar hanya dapat menundukkan kepalanya saja. 

“Sekarang kita tidak akan dapat berbuat banyak atas Iswari yang seakan-akan tidak lagi mempunyai keinginan apa-pun juga di dalam hidupnya,” berkata Nyai Soka. Lalu, “Karena itu, aku harus membentuknya menjadi orang lain.” 

“Apa yang akan kau lakukan?” ber-tanya Kiai Badra. 

“Aku yakin, bahwa di dalam tubuh Iswari itu mengalir darah sebagaimana yang mengalir ditubuh kakang,” jawab Nyai Soka. “Sehingga karena itu, maka aku tidak akan banyak mengalami kesulitan jika aku dan kakang Soka menjadikan seseorang yang akan mampu mengimbangi kemampuan perempuan yang dikatakan oleh Gandar, sebagai istri muda Ki Wiradana yang memiliki ciri gerak dan sikap dari perguruan Kalamerta.” 

Wajah Kiai Badra menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Sebenar-nya aku tidak ingin mengotori Iswari dengan darah. Sejak ia tumbuh menjadi seorang gadis remaja, aku dibayangi oleh keinginan untuk membuatnya se-orang gadis yang lain. Tetapi ternyata aku berpendapat, bahwa sebaiknya Iswari menjadi seorang yang bersih, yang tidak dibekali dengan satu keingin-an untuk bermusuhan. Sebagaimana aku sendiri, yang merasa bahwa sebaik-nya aku meninggalkan dunia yang pe-nuh dengan dengan tetesan darah se-sama itu. 

“Tetapi yang terjadi adalah seperti yang kita lihat bersama atas Iswari sekarang ini,” berkata Kiai Soka, “Ia mengalami perlakuan yang sangat tidak adil. Jika ia memiliki ilmu kanuragan mungkin akibatnya akan lain.” 

“Ya. Mungkin Iswari sudah mati,” jawab Kiai Badra. “Jika Iswari mempu-nyai ilmu kanuragan, maka ia tentu ber-sikap lain terhadap perempuan yang akan membunuhnya itu, sehingga mungkin sekali timbul perkelahian antara Iswari dengan perempuan itu. Karena Iswari baru mengandung, maka geraknya tentu sangat terbatas, sehingga akhirnya ia justru akan terbunuh karenanya.” 

Kiai Soka menarik nafas dalam-da-lam. Katanya, “Memang segala sesuatu-nya dapat dipandang dari sudut yang berbeda-beda. Demikian juga ilmu kanuragan. Ilmu ini akan dapat dipergunakan untuk menambah dosa, tetapi juga dapat dipergunakan untuk berbuat kebajikan. Melindungi orang-orang yang lemah dan menegakkan keadilan. Pada satu saat kakang sendiri adalah orang yang ditakuti di dunia olah kanuragan. Namun pada saat yang lain, kakang menganggap bahwa kakang lebih baik menarik diri dan tinggal di sebuah pa-depokan kecil dengan pesan yang berbeda bagi sesama.” 

(Bersambung)-c.

 

 
 Minggu, 01-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 176   

Kiai Badra termangu-mangu. Namun akhirnya ia pun bertanya kepada Gandar, “Apa pendapatmu Gandar?” 
Gandar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah jika Iswari memiliki ilmu yang cukup, ia tidak terdorong untuk membalas dendam sakit hatinya dan membunuh orang-orang yang dianggap pernah bersalah kepadanya?” 

“Jangan takut Gandar,” berkata Kiai Soka. “Jika kami menampanya, maka kami tidak hanya akan menempanya dalam olah kanuragan saja, tetapi juga dalam otak kejiwaannya.”

 Gandar mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Segala sesuatunya terserah kepada Kiai dan Nyai Soka. Aku percaya bahwa yang akan dilakukan itu tentu sudah dipertimbangkan masak-masak dan dipertanggungjawabkan.” 

“Ya Gandar. Aku akan bertanggung jawab terhadap kakeknya dan lebih dari itu, aku bertanggung jawab pula terhadap Yang Maha Kuasa. Jika ternyata kemudian dengan ilmunya Iswari akan melepaskan dendamnya kepada siapapun juga tanpa alasan, maka akan terjadi kewajiban kami untuk mencegahnya.” 

Gandar mengangguk-angguk. Sambil memandang kepada Kiai Badra ia berkata, “Kita serahkan saja semuanya kepada kebijakan Kiai Soka berdua.” 

Kiai Badra pun mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, “Baiklah Soka. Seperti yang dikatakan Gandar, maka segalanya terserah kepadamu. Tetapi bukankah kau menunggu sampai saatnya Iswari mampu melakukannya setelah ia melahirkan?” 

“Ya kakang. Bukankah kita tidak tergesa-gesa,” jawab Nyai Soka. 

Kiai Badra pun kemudian mempercayakan Iswari sepenuhnya kepada Kiai Soka dan Nyai Soka yang sementara belas kasihan yang mendalam kepada Iswari. Karena itu, maka mereka benar-benar ingin membentuk agar pada suatu saat Iswari dapat membawa anaknya itu kembali ke kedudukan yang seharusnya Kepala Tanah Perdikan di Sembojan. 

Ternyata Kiai Badra dan Gandar berada di padepokan Tlaga Kembang itu tidak terlalu lama. Meskipun rasa-rasanya Gandar tidak ingin meninggalkan padepokan itu, namun setelah ia yakin bahwa Iswari justru akan tumbuh dan berkembang dalam olah kanuragan, maka rasa-rasanya Gandar pun menjadi yakin atas masa depan anak yang baru dilahirkan oleh Iswari. 

Karena itu, maka Kiai Badra dan Gandar hanya bermalam dua malam saja di padepokan kecil itu, dan kemudian minta diri untuk kembali ke padepokannya. 

Kiai dan Nyai Soka melepaskan mereka dengan pesan, agar Kiai Badra dan Gandar atau salah seorang di antara mereka sering datang ke padepokan kecil itu untuk melihat perkembangan Iswari dalam olah kanuragan, dan melihat pertumbuhan anak yang dilahirkannya itu. 

Demikianlah, maka Kiai Badra dan Gandar pun meninggalkan padepokan itu dengan berbagai macam pikiran. Bahkan diperjalanan Gandar berkata kepada Kiai Badra, “Kiai, tiba-tiba saja aku mempunyai satu pikiran yang barangkali kurang baik bagi Kiai. Aku tiba-tiba saja seperti yang pernah dikatakan ingin mendapatkan satu keyakinan bahwa anak Iswari itu akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan dan mendapatkan kedudukannya.” 

“Kenapa kau berpikiran demikian,” berkata Kiai Badra. “Apakah kau menganggap bahwa kedudukan itu adalah satu-satunya jalan yang akan dapat membahagiakan cucuku dan anak laki-lakinya itu? Sebenarnya aku pun menyadari bahwa tujuan utama dari Soka suami istri adalah seperti yang kau katakan itu pula.” 

“Entahlah Kiai,” berkata Gandar kemudian. “Tetapi aku membayangkan, seandainya perempuan cantik itu mempunyai anak laki-laki pula dan kelak menggantikan kedudukan Wiradana, apakah yang akan terjadi dengan Tanah Perdikan Sembojan itu. Namun yang lebih menggelisahkan aku lagi adalah bahwa perempuan cantik itu menurut penilaianku sekilas, mempunyai ciri-ciri dari perguruan Kalamerta sebagaimana yang Kiai pernah memberitahukan kepadaku. Ciri-ciri yang khusus pada setiap usaha pemusatan kemampuan pada orang-orang yang termasuk tataran yang tinggi. Dan sikap itu telah aku lihat dilakukan oleh perempuan itu sebagaimana pernah aku katakan kepada Kiai dan Kiai pun agaknya sependapat, bahwa ciri-ciri itu adalah ciri-ciri perguruan Kalamerta.” 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Adalah kebetulan bahwa aku mengenal ciri-ciri perguruan Kalamerta dan perguruan Sembojan. Agaknya aku pun mengerti maksudmu dan aku pun mengerti dasar kecemasanmu. Jika perempuan itu berhasil masuk ke dalam keluarga Wiradana yang sudah tidak mempunyai istri lagi itu, maka perempuan itu akan menjadi sangat berbahaya bagi Ki Gede di Sembojan itu, karena Ki Gedelah yang telah membunuh Kalamerta.”
(Bersambung)-b.

 

Senin, 02-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 177   

 “YA Kiai,” sahut Gandar. “Hal itu tentu sudah diperhitungkan pula oleh perempuan cantik itu.” 
“Lalu apa yang akan kau lakukan kemudian Gandar?” bertanya Kiai Badra.

 “Sudah tentu dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan Kiai. Aku ingin menyampaikan semua persoalan ini kepada Ki Gede Sembojan,” berkata Gandar.

“Ah,” Kiai Badra berdesah. “Apakah kau akan dapat meyakinkan Ki Gede bahwa hal seperti ini telah sebenarnya terjadi?” 

“Mudah-mudahan Kiai. Tetapi aku memang memerlukan waktu yang panjang. Mudah-mudahan aku tidak terlambat, karena perempuan cantik itu telah ber-tindak lebih dahulu,” berkata Gandar. “Tetapi aku berharap, bahwa Wiradana pun tidak akan dapat dengan serta merta membawa perempuan itu kembali ke rumahnya, karena ia baru saja kehilangan istrinya. Ki Gede agaknya masih berusaha untuk menemukan Iswari meskipun Wiradana sendiri tidak membantunya.” 

“Terserahlah kepadamu Gandar. Tetapi berhati-hatilah. Jika benar kau akan berhadapan de-ngan perguruan Kalamerta, maka kau benar-benar harus mempersiapkan dirimu. Agaknya dengan demikian, kau harus kembali kepada alat-alat pembunuh yang sudah kau letakkan itu,” berkata Kiai Badra.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya firasatnya memang sudah mengatakannya lebih dahulu bahwa pada suatu saat, ia akan kembali meraba alat-alat pembunuh itu. Ketika ia akan pergi ke Sembojan, sebelum terjadi malapetaka atas Iswari, ia pun sudah menyentuh senjatanya yang sudah disimpannya itu. Dan agaknya ia benar-benar akan mempergu-nakannya kembali atau jenis senjata lain yang manapun. Namun ia pada suatu saat akan mempergunakan senjata lagi. 

“Gandar,” berkata Kiai Badra kemudian, “Jika kau pada suatu saat mengambil satu keputusan untuk melakukan langkah yang akan dapat berakibat luas, aku minta kau menghubungi aku lebih dahulu jika waktunya memungkinkan.” 

Gandar mengangguk sambil menjawab, “Ya Kiai. Bagaimana pun juga aku tidak berbuat sendiri.” 

Namun dalam pada itu, Gandar tidak segera mendapatkan jalan, bagaimana yang sebaiknya. Setiap kali ia mendekati Tanah Perdikan Sembojan, maka rasa-rasanya ia akan memasuki satu daerah yang tertutup baginya. 

“Apa yang akan kau lakukan? Menemui Ki Gede? Atau memaksa Wiradana untuk mengatakan apa yang telah dilakukan?” bertanya kepada diri sendiri. 

Namun setiap kali Gandar selalu menunda usahanya untuk berbicara dengan orang-orang Sembojan. 

Karena itu, maka Gandar pun kemudian menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak perlu tergesa-gesa, karena jika sekali ia salah langkah, maka kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi bukan saja atas dirinya, tetapi mungkin atas Ki Gede Sembojan atau perempuan yang pernah me-nyelamatkan Iswari dari pembunuhan yang keji. 

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Ki Gede telah berhasil menempa duapuluh lima orang pengawal itu pun mulai memberikan tugas-tugas kepada mereka. Pada pengawal itu mendapat pe-rintah untuk menilai keadaan di Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya. 

Tetapi duapuluh lima orang itu sama sekali tidak menemukan tanda-tanda bahwa Tanah Perdikan itu masih dibayangi oleh kekuatan yang dapat membahayakan Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan menurut pengamatan mereka, di padukuhan-padukuhan di perbatasan di luar Tanah Perdikan itu pun tidak ada gejala yang dapat menunjukkan adanya gangguan terhadap ketenangan dan ketentraman. 

Karena itu, maka salah seorang dari anak-anak muda yang mendapat tempaan khusus itu berkata, “Bagaimana jika kita melangkah keluar Tanah Perdikan Ki Gede?” 

Ki Gede masih merasa ragu-ragu. Ketika ia memanggil Wiradana dan berbicara tentang hal itu, maka Wiradana itu pun berkata, “Ayah, sebaiknya kita tidak me-langgar wewenang orang lain. Dalam hal hilangnya Iswari, kita sudah tidak kekurangan langkah. Segala usaha sudah kita lakukan. Dua puluh lima orang pengawal khusus itu telah memeriksa setiap rumah dan bertanya hampir setiap orang yang mungkin melihat Iswari pada saat-saat terakhir. Sementara aku sendiri siang dan malam telah berusaha mencarinya, bahkan dengan diam-diam tanpa menimbulkan gangguan di daerah tetangga kita aku sudah berusaha untuk menemukan pula. Tetapi semuanya sia-sia saja. Iswari hilang begitu saja. Bahkan akhirnya aku curiga, bahwa Iswari memang berusaha untuk meninggalkan kita.” 

(Bersambung)-c.

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

 
Selasa, 03-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 178   

“Itu tidak mungkin,” jawab ayahnya. “Aku yakin, bahwa Iswari telah menjadi kerasan tinggal disini. Ia menganggap aku sebagai ayahnya sendiri, karena ia sudah tidak berayah. Ia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik menurut pengamatanku. Ia tidak pernah mengeluh meskipun hampir setiap malam ia kau tinggalkan justru pada saat ia mengandung. Ia tetap melakukan tugasnya, bukan saja sebagai seorang istri yang setia, tetapi juga kewajibannya terhadap para tetangga bahkan di padukuhan-padukuhan lain di Tanah Perdikan ini. Ia hilang pada saat ia akan pergi ke rumah Pasih yang baru saja melahirkan anak.”

 Wiradana tidak menjawab. Setiap kali ia berbicara dengan ayahnya tentang Iswari yang hilang itu, rasa-rasanya ada saja persoalan yang tidak dapat bertemu. 

“Pada saatnya ia akan melupakannya,” berkata Wiradana di dalam hatinya. 

Karena itu, setiap kali Wiradana selalu berusaha untuk menghindari pembicaraan dengan ayahnya tentang Iswari. Yang dilakukan oleh Wiradana kemudian adalah kerja. Ia berusaha untuk menutupi kelemahannya dengan kerja keras bersama anak-anak Tanah Perdikan di siang hari. Dengan rajin ia mengamati parit-parit dan bendungan. Jika terdapat kekurangan, maka ia pun segera memanggil anak-anak muda untuk bersama-sama memperbaikinya. 

Namun di malam hari, Wiradana hampir tidak pernah ada di rumahnya. Ia selalu berada disisi istrinya yang cantik yang telah membuatnya menjadi bagaikan gila.

“Kakang,” berkata Warsi pada satu saat, “Aku harap kakang tidak salah mengerti. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kakang.” 

“Tentang apa Warsi?” bertanya Wiradana. 

“Tentang hubungan kita,” jawab Warsi. “Tetapi sekali lagi, kakang jangan salah mengerti kata-kataku.” 

Wiradana mengerutkan keningnya. Namun dengan sungguh-sungguh ia mendengarkan Warsi berkata, “Kakang, sudah sekian lama aku menjadi istri kakang. Namun rasa-rasanya aku masih dibayangi oleh keragu-raguan. Seolah-olah rumah tangga kita bukannya rumah tangga yang sewajarnya.” 

“Apa yang kau maksudkan Warsi?” bertanya Wiradana. 

“Kakang ada di rumah hanya pada malam hari,” berkata Warsi kemudian, “Bahkan kadang-kadang malam hari pun tidak atau hanya sebentar sekali. Jika aku melihat orang-orang lain dalam hubungan keluarga, mereka berkumpul hampir di setiap saat dalam waktu-waktu lepas dari kerja. Maksudku, setiap kali seorang suami akan pulang untuk makan bersama istrinya. Bukan hanya di malam hari. Tetapi juga di siang hari. Jika matahari mulai turun ke Barat, maka seorang suami akan meninggalkan kerjanya dan pulang untuk makan bersama istri di rumah. Mungkin ia akan pergi lagi di sore hari. Tetapi ia akan segera pulang untuk mandi dan sekali-kali bergurau bersama keluarga menjelang malam. Itulah yang sebenarnya aku risaukan kakang. Bukan karena rumah ini terlalu kecil. Tetapi jika kakang selalu ada, maka rumah ini merupakan istana yang paling berharga bagiku.” 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Aku me-ngerti Warsi. Sabarlah. Aku akan berusaha untuk segera membawamu ke rumah.” 

“Jangan salah mengerti kakang. Bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya,” sahut Warsi. “Aku tidak ingin pindah dari rumah ini. Rumah ini memberikan kesan tersendiri kepadaku. Tetapi yang aku inginkan, rumah tangga kita menjadi wajar, sebagaimana rumah tangga yang lain.” 

Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata, “Tetapi selama kau masih ada disini, maka tidak akan terjadi satu kehidupan yang serasi di antara kita. Aku masih harus selalu berpura-pura. Mengatakan yang tidak sebenarnya. Dan bahkan kadang-kadang aku kehilangan akal untuk menyusun alasan-alasanku berikutnya.” 

Warsi menundukkan kepalanya. Setiap kali ia berbuat seakan-akan menyesali sikapnya sendiri. 

“Maafkan aku kakang. Lupakan saja kata-kataku semuanya. Aku tidak ingin membuat kau menjadi semakin terdesak dalam kesulitan,” berkata Warsi. 

“Tidak Warsi,” jawab Wiradana. “Yang kau kehendaki adalah sesuatu yang wajar sekali. Adalah menjadi kewajibanku untuk dapat membantumu bahagia lahir dan batin.” 

 

 

 

 VirusAlert_468x60

 
 Rabu, 04-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 179   

 “Tetapi aku tidak ingin membebanimu dengan berbagai macam persoalan. Aku tahu, bahwa tugas-tugasmu cukup banyak di Tanah Perdikan,” jawab Warsi.

 Dalam keadaan demikian, Wiradana justru merasa semakin terdesak. Ia merasa bahwa selama ini ia tidak dapat berbuat sebagaimana seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas istrinya. Seorang laki-laki yang seharusnya mampu memberikan kesejahteraan kepada istrinya. Bukan sebaliknya, justru seakan-akan telah menyiksanya.

“Warsi tidak ingin apa-apa, apalagi yang berlebihan,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Ia hanya menginginkan kewajaran dalam rumah tangga.” 

Dengan demikian, maka keinginan Wiradana untuk membawa Warsi ke rumahnya menjadi semakin terdesak di dadanya. Ayahnya yang masih saja bersedih karena hilangnya Iswari, rasa-rasanya benar-benar telah menjadi penghalang baginya. 

“Seharusnya ayah mengerti keadaanku,” berkata Wiradana di dalam hatinya. Namun Wiradana tidak akan berani mengatakannya sebelum ia menemukan satu keadaan yang paling tepat. 

Pada saat Wiradana masih dikekang oleh kegelisahan tentang keinginan Warsi untuk hidup wajar, maka di padepokan Tlaga Kembang, Iswari telah mampu sedikit demi sedikit melepaskan diri dari kepahitan perasaan karena sikap suaminya. Selain anaknya yang tumbuh dengan cepat menjadi anak yang gemuk dan segar, maka Kiai Soka suami istri telah berusaha untuk benar-benar membuatnya menjadi orang lain. 

Ketika keadaan tubuh Iswari telah pulih kembali setelah ia melahirkan, serta anaknya nampak sehat dan tidak mengalami gangguan apapun, Nyai Soka mulai membawa Iswari memasuki satu dunia yang sebelumnya terasa asing baginya. 

“Iswari,” berkata Nyai Soka. “Dengarlah. Bahwa di dalam kehidupan ini kadang-kadang kita dihadapkan pada satu keharusan yang tidak kita kehendaki. Mungkin di saat kita berjalan di tengah-tengah bulak yang panjang tiba-tiba saja hujan turun.” 

Iswari mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menangkap maksud Nyai Soka. 

Dalam pada itu, maka Nyai Soka itu pun melanjutkannya, “Karena itu Iswari, jika kita sudah melihat mendung dilangit, dan kita akan menempuh perjalanan lewat bulak-bulak panjang, maka sebaiknya kita membawa payung. Seandainya hujan tidak jadi turun, kita tidak dirugikan karenanya. Tetapi jika hujan benar-benar akan turun maka kita tidak akan menyesal karenanya.” 

Iswari masih belum menangkap maksud Nyai Soka. Sehingga Nyai Soka akhirnya menjelaskan. “Iswari. Cobalah melihat kepada dirimu sendiri.” 

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia mengerti maksud Nyai Soka. Namun demikian, ia masih juga bertanya, “Lalu apakah yang sebaiknya aku lakukan, nek?” 

“Nenek sudah tua,” jawab Nyai Soka. “Sementara itu nenek tidak mempunyai seorang anakpun. Seorang anak yang akan mewarisi harta yang paling berharga yang aku miliki berdua bersama kakekmu Kiai Soka,” Nyai Soka diam sejenak, lalu, “Tetapi harta yang paling berharga itu bukannya benda yang besar. Tetapi yang nenek miliki adalah sekadar ilmu. Ilmu yang jika tidak aku wariskan kepada siapapun juga, akan hilang tidak berarti bersama jasad nenek dan kekek Soka yang tua ini. Sementara dua orang cantrik yang ada di padepokan ini, tidak dapat kami harapkan untuk dapat menjadi murid yang benar-benar memenuhi keinginan nenek dan kakekmu disini. Selebihnya, jika kau anggap penting maka ilmu itu akan merupakan payung yang akan dapat kau bawa mengarungi kelangsungan hidupmu dan hidup anakmu.” 

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya,”Apakah artinya ilmu itu bagiku, nek. Aku sudah merasa senang tinggal disini bersama nenek dan kakek. Aku tidak ingin berbuat lebih banyak daripada berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan yang ada padaku, sekadar menanak nasi, mencuci pakaian dan membersihkan rumah.” 

“Benar,” jawab Nyai Soka. “Tetapi meskipun kau hanya akan menanak nasi, mencuci pakaian dan membersihkan rumah, alangkah baiknya jika kau mampu berbuat sesuatu jika anakmu berada dalam bahaya. Sekarang aku dan kakekmu masih ada, sehingga meskipun kami sudah tua, tetapi masih mungkin untuk membantu dan berusaha menyelamatkan anakmu. Tetapi pada saatnya kami akan kembali dipanggil oleh Tuhan yang maha menitahkan kami, sementara itu anakmu tumbuh makin besar. Iswari, apakah kau menyadari bahaya yang dapat menerkam anakmu setiap saat?” 

(Bersambung)-c.

 

Minggu, 08-12-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 180   

 Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari arah pembicaraan Nyai Soka. Dan ia pun menyadari kemungkinan itu atas anaknya, karena anaknya adalah anak Wiradana. 
Karena Iswari masih saja merenung, maka Nyai Soka itu lalu bertanya, “Iswari, apakah kau mengerti maksudku?”

 Iswari mengangguk kecil, sementara itu Nyai Soka berkata, “Karena anakmu itu mempunyai kemungkinan untuk memegang pimpinan di Tanah Perdikan Sembojan menurut hak atas dasar keturunan, maka tentu ada orang yang tidak atas dasar keturunan, maka tentu ada orang yang tidak senang menerimanya, sebagaimana orang itu tidak senang menerima kehadiranmu di Tanah Perdikan ini.” 

“Ya nek,” suara Iswari terdengar lirih. 

“Nah, jika kau menyadari, maka ikutilah nenek yang tua selagi nenek masih berkesempatan,” berkata Nyai Soka. 

Iswari tidak membantah. Ia sadar, bahwa sejak saat itu, ia akan memasuki satu dunia yang selamanya belum pernah disentuhnya. 

Di hari berikutnya, neneknya telah mengajak Iswari berjalan-jalan. Mereka memutari padepokan kecil itu beberapa kali. Demikian yang mereka lakukan dari hari kehari. Semakin lama semakin bertambah jumlah putaran yang mereka tempuh. 

“Karena kau sedang menyusui Iswari, maka kita akan mulai dengan perlahan-lahan saja. Kita tidak tergesa-gesa. Kita memerlukan waktu bukan hanya satu dua bulan. Bukan hanya satu dua tahun. Tetapi mungkin sampai bertahun-tahun, sementara itu anakmu tumbuh semakin besar. Waktu kita memang terbatas Iswari. Sampai saatnya nenek dan kakek Soka ini dipanggil menghadap Yang Maha Agung.” 

 

Iswari hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ternyata ia adalah seorang yang patuh. Sejak ia dianggap oleh adik kakeknya itu sebagai muridnya, maka apapun yang harus dilakukan, telah dilakukannya meskipun terasa berat. Karena Iswari yakin, bahwa neneknya itu tahu pasti, ukuran yang dipergunakan untuk menakar kemampuan Iswari. 

Sebenarnyalah yang dilakukan Iswari itu sama sekali tidak mengganggunya dalam saat-saat ia sedang menyusui, karena Nyai Soka telah memperhitungkan segala sesuatunya sebaik-baiknya. 

Di hari-hari berikutnya Nyai Soka mulai dengan latihan-latihan di sanggar dengan gerakan-gerakan yang sangat sederhana. Nyai Soka mengerti, bahwa Iswari sama sekali belum pernah mengenal ilmu kanuragan. Tetapi karena di dalam tubuhnya mengalir darah keturunan Kiai Badra, maka Nyai Soka yakin, bahwa perempuan itu akan dapat dibentuknya menjadi seorang perempuan yang memiliki kelebihan dari orang lain. 

Pada hari pertama, maka gerak-gerak yang sederhana itu sudah terasa sangat sulit bagi Iswari. Tetapi demikian ia mulai dengan gerak yang pertama dari latihan-latihan yang diikutinya untuk selanjutnya, terasa oleh Iswari seakan-akan ia memang dituntut untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. 

Karena itu, maka Iswari pun kemudian mengikuti segala latihan dengan sungguh-sungguh tanpa mengabaikan kewajibannya terhadap anak laki-lakinya yang tumbuh dengan suburnya. 

Sementara itu, betapapun kuatnya kemauan Ki Gede di Sembojan untuk berusaha menemukan Iswari hidup atau mati, namun akhirnya ia mulai dibayangi oleh satu kenyataan, bahwa Iswari tidak akan dapat diketemukan. Kemarahannya yang tertuju kepada keluarga Kalamerta harus dikekangnya, karena para pengawal yang terlatih itu sama sekali tidak menemukan sekelompok orang yang dapat dicurigai sebagai sisa-sisa gerombolan Kalamerta itu.


 

 

 affinity468x60_7

 

 

 

 


 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 11/XII/2002
 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant