Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

 

Sabtu, 16-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 161   

 ISWARI tidak dapat menahan air matanya. Meskipun ia menyadari, bahwa perjalanan ke padepokan kakeknya memerlukan perjalanan yang sangat melelahkan, apalagi pada saat ia sedang mengandung, namun agaknya hal itu lebih baik daripada ia harus mati di tebing kedung dan kemudian mayatnya menjadi makanan buaya kerdil. Jika ia masih hidup, maka ia akan dapat berusaha dengan cara apapun juga untuk mencapai padepokan kakeknya. 

“Terima kasih Nyai,” desis Iswari. “Jika kita berkesempatan untuk bertemu lagi, aku tidak akan melupakan kebaikan hati Nyai. Nyai telah menyelamatkan nyawaku dan nyawa anakku yang masih berada di dalam kandungan,” Iswari berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Nyai, jika aku boleh mengetahui, kenapa suamiku ingin membunuh aku?”


Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ki Wiradana memang seorang laki-laki yang kurang bertanggung jawab Nyai. Aku minta Nyai jangan terkejut. Keresahan dihati Nyai akan dapat berakibat buruk bagi anak di dalam kandungan Nyai. Karena itu ikhlaskan saja tingkah laku suamimu Nyai. Serahkan semuanya kepada nasib.” 

“Ya, tetapi kenapa?” Iswari semakin ingin tahu. 

“Ketahuilah Nyai, sebenarnya suamimu telah beristri lagi,” jawab perempuan itu ragu. 

“Oh,” Iswari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya tiba-tiba saja bagaikan terguncang. 

Untunglah bahwa perempuan itu cepat meloncat dan menangkap Iswari sambil berkata, “Nyai, hati-hatilah. Dibawah itu adalah kedung yang menyimpan buaya-buaya kerdil yang dapat mengoyak tubuh Nyai. Jika Nyai tergelincir masuk ke dalamnya, maka sia-sialah usahaku untuk membiarkan Nyai untuk tetap hidup.” 

Iswari menyadari keadaannya. Bahkan tiba-tba saja, darahnya yang seakan-akan berhenti mengalir, telah bergejolak. Wajahnya yang pucat telah membara. Kekuatan yang tidak dikenal telah mengalir di dalam dirinya. 

Perlahan-lahan ia melepaskan diri dari tangan perempuan yang mendapat perintah dari suaminya untuk membunuhnya. Dengan suara bergetar oleh gejolak di dalam hatinya ia berkata, “Nyai, sebenarnyalah terima kasihku kepadamu tidak terhingga. Sekarang aku minta diri. Aku akan mencari jalan kembali ke padepokan. Aku tidak mau mati sebelum aku bertemu dengan kakek. Aku berdoa dan memohon, semoga keinginanku dikabulkan oleh Yang Maha Agung.” 

“Yang Maha Agung,” perempuan itu mengulang, “Sebutan yang asing bagiku. Tetapi aku akan membantumu berdoa bagi Yang Maha Agung.” 

“Terima kasih. Mudah-mudahan kau pun tidak akan mengalami kesulitan,” berkata Iswari. 

“Kita akan berpisah Nyai. Aku akan bertemu dengan Ki Wiradana besok pagi. Aku akan membasahi patremku. Aku akan mengatakan, bahwa patremku telah aku cuci semalam,” berkata perempuan itu. 

Iswari tidak menjawab. Dipandanginya perempuan itu dengan tajamnya. Di dalam gelapnya malam, perempuan itu merasakan, bahwa sorot mata Iswari memancarikan ucapkan terima kasih yang tidak terhingga bercampur dengan kemarahan yang menyesak di dadanya. 

Perempuan itulah yang lebih dahulu berkisar dan melangkah meninggalkan Iswari. Beberapa langkah ia berpaling. Perempuan itu masih sempat mengangkat tangannya, memberikan salam perpisahan yang dijawab pula oleh Iswari meskipun tangannya terasa gemetar. 

Beberapa saat kemudian, perempuan itu telah hilang didalam gelapnya malam. 

Yang tinggal kemudian adalah Iswari sendiri. Ketika perempuan yang semula mengaku Nyai Jagabaya itu sudah tidak nampak lagi, maka malam pun seakan-akan menjadi semakin pekat. Kekuatan asing yang muncul di dalam dirinya tiba-tiba telah lenyap pula. 

 

Minggu, 17-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang bayang 162   

 Iswari berjongkok di tebing itu sambil menangis. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak tahu, jalan manakah yang harus ditempuh jika ia ingin kembali ke padepokannya. Ia baru sekali menempuh perjalanan itu. Dari padepokannya ke Tanah Perdikan Sembojan. Dan terlalu sulit baginya untuk mengingat kembali jalan yang ditempuhnya pada waktu itu. Apalagi di malam hari.

 Iswari terpekik kecil ketika ia merasa tubuhnya digamit seseorang. Tiba-tiba saja ia bangkit berdiri sambil berputar.

Sekali lagi Iswari terkejut. Dalam keremangan malam ia melihat seseorang yang agaknya sudah dikenalnya dengan baik, sehingga demikian ia melihat bentuk bayangan kehitaman di hadapannya, ia langsung dapat mengenalinya.

"Kakang Gandar?" desis Iswari.

Orang itu memang Gandar. Karena itu jawabnya, "Ya, Iswari. Aku Gandar."

Tiba-tiba saja Iswari berlari memeluknya sambil menangis. Di sela-sela tangisnya ia berdesis, "Kakang, nasibku ternyata sangat buruk kakang."

"Sudahlah Iswari," sahut Gandar. "Jangan menangis. Aku sudah mengetahui seluruhnya apa yang terjadi atas dirimu. Aku menunggui pembicaraanmu dengan perempuan itu. Tetapi karena ternyata perempuan yang disebut serigala betina itu tiba-tiba saja membatalkan niatnya, untuk membunuhmu, maka rasa-rasanya aku tidak perlu berbuat apa-apa terhadapnya."

"O," Iswari bertanya, "Jadi kakang melihat semua yang terjadi dan mendengar semua pembicaran kami?"

"Ya, Iswari. Aku tahu, bahwa perempuan itu telah mendapat perintah dari Wiradana untuk membunuhmu, karena Wiradana telah kawin lagi," jawab Gandar. "Tetapi kita wajib berterima kasih kepada Yang Maha Agung dan kepada perempuan yang telah melepaskan kau dari malapetaka itu. Betapa buramnya hatinya, tetapi rasa-rasanya ia masih juga mendapat cahaya di dalam hatinya, sehingga ia tidak mau membunuhmu karena kau sedang mengandung."

Iswari masih saja terisak. Namun Gandar berkata, "Sudahlah Iswari. Kau harus kembali kepada tekadmu. Kau tidak mau mati sebelum bertemu dengan kakekmu, Kiai Badra."

Iswari mengangguk sambil berdesis, "Ya kakang. Aku harus bertemu dengan kakek. Kakeklah yang semula mempertemukan aku dengan Wiradana."

"Tetapi kau jangan menyalahkan kakekmu Iswari. Aku kira Wiradana menurut perhitungan kewadagan, memang seorang laki-laki yang pentas menjadi suamimu. Tetapi ternyata bahwa perhitungan itu salah."

Iswari hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara itu, maka Gandar pun berkata, "Marilah Iswari. Aku antar kau pulang."

"Tetapi kenapa tiba-tiba saja kakang berada disini? Bukankah dua hari yang lalu, kakang telah minta diri untuk kembali ke padepokan?" bertanya Iswari tiba-tiba.

"Ya, Iswari," jawab Gandar. "Tetapi aku mendapat firasat buruk tentang dirimu. Karena itu aku mengurungkan niatku untuk pulang. Bahkan timbul niatku untuk mengawasimu setiap malam. Ternyata yang terjadi adalah seperti ini."

Iswari menarik nafas dalam-dalam, sementara sekali lagi Gandar berkata, "Marilah. Kita tinggalkan tempat ini sebelum Wiradana datang untuk menyaksikan apakah kau benar-benar sudah tidak ada."

"Marilah kakang," jawa Iswari.

Tetapi sementara itu, Gandar berkata, "Iswari. Berjalanlah menyusuri tebing itu dahulu. Aku akan meninggalkan bekas yang akan meyakinkan Wiradana bahwa kau memang sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, aku pun sudah membantu perempuan yang tidak sampai hati membunuhmu itu, agar ia mendapat kepercayaan dari Wiradana."

"Apa yang akan kau lakukan?" bertanya Iswari. Bersambung

 

Senin, 18-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 163   

 “DI tempat ini harus ada bekas darah,” jawab Gandar. Dengan demikian, maka perbuatan perempuan yang disebut serigala betina itu benar-benar meyakinkan.

 “Bagaimana kau mendapatkan darah itu,” bertanya Iswari pula. 

“Tidak terlalu sulit Iswari. Aku ingin melukai tanganku sendiri dan menitikkan darah itu ditebing ini. Kemudian aku akan dapat mengobatinya sehingga luka itu pampat. Tidak terlalu banyak, asal bekas itu ada.” 

Iswari menjadi berdebar-debar. Tetapi ia menurut sebagaimana dikatakan oleh Gandar. Ia pun kemudian melangkah beberapa langkah menjauh. 

Dalam pada itu, Gandar melakukan sebagaimana dikatakannya. Ia telah menggigit tangannya sendiri. Kemudian menghamburkan darah yang mengalir dari luka itu di atas tebing dan dicaukannya pada lereng tebing itu pula. Memang tidak terlalu banyak, karena Gancar pun kemudian menghamburka obat pada luka itu, sehingga luka itu menjadi pampat. 

Sejenak Gandar berdiri tegak. Dipusatkannya kemampuannya pada indera penglihatannya, sehingga meskipun malam menjadi bertambah gelap, namun ia dapat melihat noda-noda darah ditebing itu. 

“Sudah cukup,” desis Gandar kepada diri sendiri. 

Sejenak kemudian, maka Gandar pun telah menyusul Iswari yang sudah berjalan beberapa langkah menjauh. Ketika ia berada dibelakangnya, maka ia pun berdesis, “Iswari. Ingat. Kau harus sampai kepada kakekmu. Karena itu, kau harus dapat mengatasi kelemahan wadagmu, meskipun kau harus mengingat pula kandunganmu. Kita harus menempuh perjalanan agak jauh. Bukankah kau masih ingat serba sedikit, pada saat kau datang kemari?” 

Iswari mengangguk. Dan Gandar pun berkata lebih lanjut, “Tetapi sekali lagi kau harus yakin, bahwa kau akan bertemu dengan kakekmu dalam keadaan yang baik.” 

Demikianlah, maka keduanya pun telah melanjutkan perjalanan. Gandar tidak merasa perlu untuk tergesa-gesa. Ia sadar, bahwa Iswari tidak akan dapat berjalan terlalu cepat karena kandungannya. Sementara itu, ia merasa bahwa orang-orang Wiradana tentu tidak akan mencarinya lagi. Kecuali ditebing itu sudah ada bekas darah, maka seperti yang dikatakan oleh serigala betina itu, bahwa seseorang yang terperosok kedalam kedung itu, tentu akan menjadi makanan buaya-buaya kerdil yang terdapat di dalam kedung itu. 

Namun dalam perjalanan itu, Gandar sempat menilai perempuan yang menyebut dirinya serigala betina itu. Ia mungkin benar, seorang perempuan yang telah menjadi berandal dan melakukan perampokan dan pembunuhan. Tetapi sebenarnyalah menurut Gandar, dibanding dengan istri Wiradana yang cantik itu, perempuan yang disebut serigala betina itu belum bernilai sekuku irengnya. Serigala betina itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi istri Wiradana yang cantik, yang menurut penilaian Gandar, tentu mempunyai ilmu yang sangat tinggi, sebagaimana Kalamerta. 

Meskipun Gandar dan Iswari berjalan tidak terlalu cepat, namun mereka pun semakin lama menjadi semakin jauh. Namun Iswari tidak perlu cemas, bahwa ia akan kehilangan jalan. Gandar tentu tidak akan kehilangan arah kembali ke padepokannya. 

Dalam pada itu, maka perempuan yang disebut serigala betina itu tidak langsung menuju ke rumah Ki Wiradana. Ia ingin pulang dan beristirahat. Baru di pagi hari berikutnya, ia akan melaporkan hasil kerjanya kepada Wiradana. 

Namun, alangkah terkejutnya perempuan itu, ketika ia memasuki halaman rumahnya, Wiradana telah duduk diserambi, di atas amben bambo yang memang diletakkannya di serambi itu. 

“Ki Wiradana,” desis serigala betina itu. 

Ki Wiradana mengangguk, “Ya, Nyai. Aku sudah menunggumu.” (Bersambung)-x.

 

 

 

 

 

 Banner 10000004

 

Selasa, 19-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 164   

 “Marilah. Silakan masuk,” perempuan itu mempersilakan. 
“Terima kasih. Aku sudah lama duduk di sini. Yang ingin segera aku ketahui, bagaimana hasil tugasmu itu Nyai?” bertanya Ki Wiradana. 
“O, semuanya berjalan lancar. Aku sudah menyelesaikannya di tebing, di atas kedung. Kemudian melemparkannya ke dalam kedung itu sebagaimana Ki Wiradana kehendaki,” jawab perempuan itu.

 Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Nyai. Cobalah berikan patremmu itu kepadaku,” berkata Wiradana. 

Jantung perempuan itu menjadi berdeguban. Namun kemudian katanya, “Aku sudah mencucinya.” 

“O,” Wiradana mengerutkan keningnya. “Apakah menjadi kebiasaanmu mencuci patrem itu dengan air wantah? Bukankah kau setiap kali memandikan patremmu dengan warangan?” 

Perempuan yang disebut serigala betina itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Aku tidak ingin patremku berbau bacin. Aku telah menusuk tubuh seorang yang sedang mengandung. Satu perbuatan terkutuk yang seharusnya tidak aku lakukan. Tetapi karena upah yang Ki Wiradana tawarkan terlalu banyak, maka aku telah melakukannya. Tetapi justru karena itu, aku telah mencuci kerisku. Tidak dengan air, tetapi dengan pasir. Aku hujamkan patrem ini ke dalam pasir beberapa kali sehingga bersih karenanya. Meskipun pasir ditepian itu basah juga oleh air, tetapi nilainya berbeda. Dan sudah barang tentu, aku harus memandikan kerisku dengan warangan, sehingga keris kecilku ini tidak kehilangan daya bunuhnya.” 

Ki Wiradana bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati perempuan itu sambil berkata, “Tunjukkan keris kecilmu itu.” 

Serigala betina itu tidak berbuat dengan ragu-ragu. Dengan tatag diserahkannya patremnya kepada Ki Wiradana. Namun demikian patrem itu diterima, maka perempuan itu telah melangkah surut. 

Ki Wiradana telah menarik patrem itu dari sarungnya. Namun seperti dikatakan oleh perempuan itu, bahwa patrem itu telah bersih. Tidak ada bekas darah yang melekat pada daun patrem itu. 

Wiradana memandang perempuan itu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Mungkin kau benar, bahwa patrem ini sudah kau bersihkan. Tetapi kau tentu tidak sempat membersihkan tempat dimana Iswari kau tusuk dengan patremmu itu.” 

Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak boleh ragu-ragu. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apa maksud Ki Wiradana?” 

“Kita pergi ke tempat kau membunuh Iswari,” berkata Wiradana. 

“Aku sama sekali tidak berkeberatan,” berkata perempuan itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi kau tentu tidak akan dapat menemukan Nyai Wiradana yang sudah menjadi makanan buaya kerdil di kedung itu.” 

“Aku ingin melihatnya,” berkata Wiradana sambil menyerahkan kembali patrem perempuan itu. 

Perempuan itu bergeser mendekat untuk menerima patremnya. Ia sama sekali tidak ragu-ragu untuk pergi bersama dengan Ki Wiradana ke tebing di atas kedung meskipun sebenarnya hatinya terasa bergejolak. 

Sejenak kemudian maka keduanya pun telah pergi ke tempat yang menurut pengakuan perempuan itu, dipergunakannya untuk membunuh Nyai Wiradana. Ternyata jarak itu tidak terlalu dekat. Apalagi keduanya berusaha untuk tidak memotong jalan menyeberangi Tanah Perdikan Sembojan, karena Ki Wiradana tidak ingin bertemu dengan orang-orang Sembojan. 

Karena itu, maka mereka memerlukan waktu yang cukup lama. Lebih lama dari waktu yang dipergunakan perempuan itu kembali ke rumahnya, di padukuhan di luar Tanah Perdikan Sembojan disebelah padukuhan yang dipergunakan oleh Ki Wiradana. 

(Bersambung)-m.

 

Rabu, 20-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 165   

 LEWAT tengah malam, keduanya baru sampai ditempat yang mereka tuju. Tebing di atas sebuah kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya kerdil yang rakus.

 “Dimana kau bunuh perempuan itu?” bertanya Wiradana. 

“Disini,” berkata perempuan itu tanpa ragu-ragu. 

“Menyingkirlah,” desis Wiradana. 

Perempuan itu bergeser mundur. Ia tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Wiradana. 

Ternyata Wiradana telah mengambil serangkai biji jarak pada sebatang lidi yang dibawanya. Kemudian dengan thithikan ia membuat api untuk menyalakan sebuah dimik belerang. Dengan dimik itulah ia kemudian menyalakan biji jarak yang sudah kering itu. 

Perempuan yang mengaku Nyai Jagabaya itu menjadi semakin berdebar-debar. Namun tiba-tiba hatinya menjadi mapan. Ia sama sekali tidak menyesal bahwa ia telah membiarkan Nyai Wiradana hidup meskipun seandainya ia sendiri harus mengalami perlakuan yang buruk. Perempuan itu sadar, bahwa Ki Wiradana adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Namun demikian, jika ia harus mati, maka biarlah ia mati sebagaimana seorang berandal yang pernah bertualang dan melakukan pembunuhan-pembunuhan. Karena itu, jika Ki Wiradana ingin menghukumnya karena ia ingkar akan tugas yang diberikan kepadanya, maka ia akan melawan meskipun akhirnya ia harus mati. 

Sejenak kemudian maka biji jarak itu telah menyala sebagaimana sebuah obor kecil. Dengan terang nyala biji jarak itu, Wiradana melihat-lihat tempat yang disebut sebagai tempat perempuan itu membunuh Iswari. 

Namun tiba-tiba justru perempuan itulah yang terkejut. Dalam cahaya lampu obor kecil itu, ia telah melihat darah yang tercecer di tebing itu. Sebagian memang sudah terhapus oleh jejak kaki Ki Wiradana, tetapi di dedaunan perdu dan rerumputan mereka masih melihat darah yang mulai mengering. 

“Darah,” desis perempuan itu di dalam hatinya, “Apa pula yang telah terjadi? Apakah sepeninggalanku justru Wiradana sendiri yang telah membunuh istrinya karena aku membiarkannya hidup?” 

Pertanyaan itu telah menghantam dinding dadanya. Jika demikian maka yang dilakukan oleh Wiradana itu sekadar berpura-pura untuk membawanya ketempat itu dan kemudian membunuhnya pula. 

Namun perempuan itu terkejut ketika ia mendengar Ki Wiradana itu berkata, “Ya. Aku memang melihat darah. Agaknya kau memang benar-benar telah membunuhnya.” 

Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi ia masih tetap curiga. 

Namun dalam pada itu, obor kecil itu ternyata tidak tahan terlalu lama. Sebentar kemudian obor itu pun telah menyalakan biji jarak yang terakhir, sehingga sejenak kemudian api pun telah padam. 

 
Kamis, 21-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 166   

 “TERIMA kasih,” berkata Wiradana. “Dengan kematian Iswari aku telah bebas dari persoalan-persoalan yang sangat rumit, meskipun belum berarti bahwa persoalanku telah selesai seluruhnya.” 
Perempuan itu masih termangu-mangu. Ia melihat Wiradana mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya dan kemudian diserahkannya kepada perempuan itu sambil berkata, “Ini upah yang aku janjikan. Tetapi ingat, bahwa jika rahasia ini bocor, maka nyawamu akan menjadi taruhannya. Aku tidak akan dapat memaafkanmu meskipun aku akan dapat mengelakkan segala tuduhan.”

Perempuan itu diam saja. Tetapi dengan hati-hati ia menerima upah yang diberikan oleh Wiradana. Tetapi ia tidak sempat menghitung apakah upah itu sudah sesuai dengan jumlah yang dijanjikan. 

Sejenak kemudian Wiradana telah meninggalkan tempat itu. Ternyata obor kecilnya tidak cukup lama menyala, sehingga Wiradana tidak sempat melihat rerumputan di lereng. Jika ia teringat akan hal itu, mungkin ia akan mempertanyakan, kenapa rerumputan di lereng itu tidak menunjukkan bekas bahwa seseorang telah menelusur kebawah, sehingga rerumputan dan daun-daun perdu akan berpatahan. 

Dalam pada itu, sepeninggalan Ki Wiradana, perempuan itulah yang justru mulai merenung. Di tempat itu benar-benar ada darah. Cukup banyak, berhamburan di tanah dan terpercik pada rerumputan dan daun-daun perdu, meskipun sebagian telah terhapus oleh kaki-kaki mereka. 

“Darah siapa?” pertanyaan itu selalu bergejolak di dalam hatinya. 

Tetapi akhirnya perempuan itu pun melangkah meninggalkan tempat itu. Namun bagaimana pun juga ia masih tetap berteka-teki di dalam hatinya. 

Dalam pada itu, sejenak kemudian maka matahari pun telah naik ke sisi langit disebelah Timur. Iswari yang merasa dirinya terlalu kusut itu pun telah mencari sebuah belik. Setelah mencuci muka dan membersihkan tangan dan kakinya, maka Iswari pun telah membenahi dirinya. 

“Perjalanan kita masih cukup jauh Iswari,” berkata Gandar. “Biarlah jika kau sependapat, singgah barang sejenak di sebuah warung makan dan minum. Aku masih mempunyai sisa bekal yang aku bawa dari rumah.” 

Iswari tidak berkeberatan. Mereka telah berada di luar Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan agak jauh, sehingga tidak akan ada orang yang akan dapat mengenalinya lagi. 

Ternyata dengan makan dan minum di sebuah kedai, tubuh Iswari terasa menjadi lebih segar. Ia pun kemudian mampu berjalan lebih cepat lagi meskipun tetap sangat terbatas. 

“Jika kau merasa lelah, berkatalah. Kita mencari tempat untuk istirahat. Biarlah kita sampai di padepokan dalam waktu tiga hari atau lebih, asal saja dengan selamat. Kau dan kandunganmu.” 

Iswari mengerti maksud Gandar. Karena itu, maka ia pun menjadi tidak tergesa-gesa pula karenanya dan berjalan tidak terlalu cepat. Sementara itu, mereka makan dan minum di perjalanan dengan sisa uang yang masih ada pada Gandar. 

Demikianlah betapapun lambatnya, namun akhirnya Iswari dan Gandar sampai juga di padepokan. 

Kedatangan Iswari benar-benar telah mengejutkan Kiai Badra. Karena itu, maka ia pun segera bertanya apa artinya kedatangan cucunya itu. 

Gandar tidak mau berteka-teki. Ia pun segera mengatakan apa yang telah terjadi dengan Iswari sehingga perempuan itu telah pulang bersamanya. 

Ketika Kiai Badra mendengar laporan itu, maka rasa-rasanya jantungnya telah berhenti berdetak. Sesaat wajahnya menjadi pucat. Namun sesaat kemudian wajah itu menjadi merah membara. 

(Bersambung)-m.

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

Jumat, 22-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 167  

NAMUN akhirnya ia berkata, “Tuhan Maha Kasih. Ternyata Tuhan masih berbelas kasihan kepadamu Iswari, Kau masih diperkenankan menatap matahari. Sementara itu, kau pun harus berterima kasih kepada perempuan yang telah mengaku Nyi Jagabaya itu.”

 “Ya kakek,” suara Iswari menjadi sangat dalam. Air matanya kembali menitik di pipinya mengenang peristiwa yang dialaminya, “Tetapi aku tidak mengenal perempuan itu, kakek. Ia menyebut dirinya serigala betina, karena ia memang dinamai demikian oleh orang-orang di sekitarnya karena ia pernah menjadi salah seorang di antara orang-orang sepadukuhan yang menjadi perampok. Agaknya memang tidak banyak perempuan yang menjadi perampok. Salah seorang di antaranya adalah perempuan itu.” 

“Apakah kau tahu nama sebenarnya?” bertanya Kiai Badra. 

“Tidak kakek. Aku tidak tahu namanya yang sebenarnya,” jawab Iswari. 

“Tetapi apakah kau masih akan tetap mengenalinya jika kau bertemu lagi?” bertanya kakek itu pula. 

Iswari termangu-mangu. Katanya, “Aku bertemu dengan orang itu menjelang senja. Tetapi aku masih dapat melihat wajahnya dengan jelas. Agaknya jika aku berkesempatan untuk bertemu lagi, aku masih akan tetap mengenali wajahnya. Wajahnya memang nampak keras. Tetapi waktu itu ia adalah seorang perempuan yang ramah. 

“Baiklah Iswari,” berkata Kiai Badra. “Semua peristiwa yang kita alami kita kembalikan kepada Yang Maha Agung. Kita pasrahkan hidup kita kepada yang memberikan hidup itu, sehingga dengan demikian kita akan merasa bahwa hidup mati kita bukanlah kita sendiri yang memilikinya.” 

Iswari mengangguk-angguk kecil. Ia pun berusaha untuk mengembalikan persoalannya kepada Yang Maha Agung sehingga dengan demikian maka Iswari pun akhirnya dapat menerima keadaan itu dengan hati yang lebih tenang. 

Namun demikian, bagaimanapun juga sebenarnya di dalam dada Kiai Badra telah timbul pergolakan yang dahsyat. Untuk beberapa saat Kiai Badra mengalami kebingungan. Tetapi akhirnya dengan susah payah ia berhasil mengekang dirinya sambil berdesis, “Jangan bodoh. Serahkan semuanya kepada kuasa Tuhan yang Maha Kasih.” 

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan juga telah terjadi kegemparan. Pada saat Iswari pergi dari rumahnya, suaminya masih berada di rumah. Malam itu juga, Wiradana pulang setelah ia memastikan kematian istrinya. 

Tetapi sementara itu, di rumah Ki Gede telah terjadi kegelisahan karena Nyai Wiradana belum kembali. 

Wiradana yang sudah memastikan bahwa istrinya dibunuh oleh orang yang dipercayanya, kemudian ikut pula kebingungan meskipun hanya berpura-pura. Wiradana telah memerintahkan orang-orangnya untuk mencari istrinya di seluruh sudut Tanah Perdikan Sembojan. 

“Ia pergi ke rumah Pasih,” bertanya Wiradana. 

Tetapi ketika seseorang menanyakannya ke rumah Pasih ternyata bahwa malam itu Nyai Wiradana tidak pergi ke rumah itu. 

Dengan demikian maka seisi Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi gempar. Istri Ki Wiradana ternyata telah hilang. 

Dalam pada itu, semua orang telah terlibat dalam pencarian. Bahkan anak-anak yang mengembala pun telah mendapat pesan untuk mencari Nyai Wiradana di ladang, disemak-semak dan di antara batu-batu padas di bukit. Tetapi ternyata Nyai Wiradana tidak pernah diketemukan. 

Dalam pada itu, Wiradana sendiri, dalam sepekan masih juga berdebar-debar. Jika seseorang menemukan sesosok mayat di kedung atau barangkali kerangkanya atau tanda-tanda lain, maka orang-orang Sembojan tentu akan menghubungkannya dengan hilangnya Nyai Wiradana. 

 

 

 VirusAlert_468x60

 Sabtu, 23-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 168   

 “SEANDAINYA diketemukan di kedung itu, orang-orang Sembojan tidak akan tahu, apa yang sebenarnya terjadi,” berkata Wiradana di dalam hatinya.

 Namun sebenarnya tidak seorang pun yang menemukan sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai pancadan untuk mencari jejak hilangnya Nyai Wiradana. 

Sementara itu, Ki Gede Sembojan sendiri menjadi sangat berprihatin atas hilangnya menantunya. Ki Gede sebenarnya sangat mengasihi menantunya itu, yang pada saat-saat tertentu dapat diajaknya berbincang tentang isi kidung yang dibacanya. Bahkan Iswari yang mempunyai suara yang jernih itu kadang-kadang membaca kidung itu dalam tembang beberapa bait. Baru kemudian mereka membicarakan isinya. Pembicaraan yang tidak dapat dilakukan dengan orang lain, bahkan dengan Wiradana sekalipun karena Wiradana sama sekali tidak tertarik pada kesusastraan. 

Selain itu, Iswari adalah seorang perempuan yang dengan cepat berusaha menyesuaikan diri. Meskipun ia seorang gadis padepokan yang lugu, namun setelah ia menjadi istri Wiradana maka ia pun segera dikenal dengan baik oleh semua perempuan di Tanah Perdikan itu sebagai seorang perempuan muda yang ramah, terampil dan rendah hati. 

Namun tiba-tiba saja perempuan yang bernama Iswari itu telah hilang. 

Ketika orang-orang Sembojan sudah yakin bahwa mereka tidak akan dapat menemukan Nyai Wiradana, maka Ki Gede telah memanggil Wiradana dan beberapa orang bebahu, untuk membicarakan tentang hilangnya Iswari dari Tanah Perdikan Sembojan. 

Ketika semua orang sudah berkumpul, maka Ki Gede pun langsung berkata kepada mereka, “Saudara-saudaraku, agaknya kita menghadapi suatu masalah yang sangat rumit. Aku tidak dapat mengambil kesimpulan lain daripada menuduh keluarga Kalamertalah yang telah mengambil Iswari. Dendamnya kepadaku ternyata telah ditumpahkannya kepada orang yang tidak ber-salah sama sekali, apalagi Iswari sedang mengandung. Sayang, kaki dan tanganku terlalu lemah untuk berbuat sesuatu. Tetapi jika aku masih memiliki kemampuanku seutuhnya, maka aku sendiri akan mencarinya. Sementara itu, aku juga tidak sampai hati memerintahkan kepada Wiradana untuk mencarinya dengan akibat menghadapi gerombolan Kalamerta, karena ia sendiri pernah mengalami satu keadaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Karena itu, maka aku perintahkan Tanah Perdikan Sembojan harus menyusun satu kekuat-an. Dengan kekuatan itu kita harus menemu-kan Iswari atau jika tidak, maka keluarga Kala-merta harus kita musnahkan. Aku tidak yakin bahwa Tanah Perdikan Sembojan akan mampu melakukannya. Sementara itu, kita harus memerintahkan dua orang untuk pergi ke padepokan Kiai Badra. Hilangnya Iswari harus kita beritahukan kepada kakeknya, apapun akibatnya. Aku tidak akan mengingkari tanggung jawab jika kakeknya itu marah dan menuntut dikembalikannya cucunya. Kita, seluruh isi Tanah Perdikan ini harus berusaha.” 

Keringat dingin mulai membasahi punggung Wiradana. Meskipun ia tahu, bahwa ayahnya sangat mengasihi Iswari, tetapi ternyata bahwa sikap ayahnya akan melampaui dugaannya atas hilangnya Iswari. 

Dalam pada itu, maka Ki Gede itu pun berkata kepada Wiradana, “Kau siapkan sepasukan yang kuat. Aku sendiri akan menempa pasukan itu sebagai pasukan khusus untuk menghadapi keluarga Kalamerta.” 

“Bagaimana ayah akan melakukannya?” bertanya Wiradana. 

“Hanya tangan dan kakiku yang menjadi lemah. Tetapi otakku tidak. Mata dan telingaku pun tidak,” jawab Ki Gede Sembojan, “Karena itu, lakukanlah secepatnya. Aku memerlukan duapuluh lima orang terpilih.” 

Wiradana tidak menjawab. Namun ia mulai membayangkan kesulitan-kesulitan baru didalam hidupnya. Apakah ia akan dapat meyakinkan ayahnya bahwa sepantasnya ia kawin lagi dengan perempuan cantik yang sebenarnya telah menjadi istrinya itu? Apa kata ayahnya jika ayahnya mengetahui, bahwa perempuan itu adalah seorang tledek yang mencari nafkahnya dengan menari dari satu tempat ke tempat yang lain.
(Bersambung)-c.
 

 


 

 

 affinity468x60_7

 

Minggu, 24-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
SURAMNYA BAYANG - BAYANG 169   

 Dengan demikian maka Ki Gede pun kemudian telah memanggil dua orang penghubung yang harus pergi berkuda secepatnya ke padepokan Ki Badra. 
“Bukankah kau pernah mengunjungi padepokan itu?” bertanya Ki Gede kepada kedua orang itu.
“Sudah Ki Gede,” jawab salah seorang dari keduanya. 
“Nah, pergilah ke padepokan itu dengan segera. Kalian harus menyampaikan satu berita yang akan dapat mengejutkan Kiai Badra,” berkata Ki Gede. 
Kedua orang itu mengerti, bahwa keduanya harus memberitahukan kepada Kiai Badra bahwa cucunya yang menjadi menantu Ki Gede di Sembojan telah hilang.

 Setelah Ki Gede memberikan beberapa pesan, maka kedua orang itu pun segera berangkat berkuda menuju ke padepokan Kiai Badra. 

Dalam pada itu, di padepokan Kiai Badra, keadaan Iswari secara wadag sudah berangsur baik. Ia tidak merasa lagi kelelahan dan perutnya sudah tidak terasa sakit lagi setelah perjalanan sekian jauhnya. Kakeknya telah memberinya berbagai macam obat yang berguna sekali bagi kepulihan tenaganya setelah berjalan jauh dan bagi kebaikan kandungannya. 

Namun demikian batinnya masih saja terasa betapa pedihnya. Ia tidak menduga sama sekali, bahwa ia akan dilemparkan kedalam satu keadaan yang sangat pahit. Meskipun ia terbebas dari pembunuhan, tetapi rasa-rasanya hidup memang sudah tidak menarik lagi. 

Meskipun demikian, kakeknya dan Gandar selalu berusaha untuk menenangkannya. Setiap kali Kiai Badra berusaha untuk mendekatkan cucunya kepada sikap pasrah kepada Yang Maha Agung, dengan tidak terlepas dari doa yang tulus. 

Tetapi Kiai Badra pun mengerti, betapa sakitnya hati cucunya yang mengalaminya. Sementara sebelumnya ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda yang dapat mengarahkannya kepada persiapan jiwani menghadapi persoalan yang demikian. 

Namun dalam pada itu, Kiai Badra pun kemudian berkata kepada cucunya, “Iswari. Mungkin hatimu merasa sangat pedih atas peristiwa yang telah terjadi. Tetapi kau harus tetap tabah menghadapinya, karena sebentar lagi kau akan melahirkan anakmu. Bahkan seperti yang sudah dilakukan, dan untuk seterusnya kau harus tetap merasa berterima kasih, bahwa kau sudah terlepas dari maut. Namun kita tidak boleh berhenti sampai disini. Pada saatnya suamimu atau Ki Gede tentu akan mengirimkan orang kemari, memberitahukan bahwa kau telah hilang. Karena itu, maka jika utusan itu melihat kau ada disini, maka nasib perempuan yang telah mengurungkan kewajibannya membunuhmu itu akan menjadi sangat buruk. Sebagaimana ia membebaskan kau dari kematian, maka kau pun harus berusaha untuk menyelamatkannya.” 

“Apa yang harus aku lakukan kakek?” bertanya Iswari. 

“Sebaiknya untuk sementara kau tidak berada di padepokan ini,” berkata Kiai Badra. 

“Aku harus tinggal dimana?” bertanya Iswari. 

“Kau sebaiknya untuk sementara berada di tempat nenekmu, maksudku adikku yang berada di padepokan kecil yang dinamainya padepokan Tlaga Kembang,” jawab Kiai Badra. “Bukankah kau pernah pergi ke sana?” 

Iswari mengangguk kecil. Ia memang pernah pergi ke padepokan adik kakeknya itu. Padepokan yang disebut padepokan Tlaga Kembang. Padepokan kecil yang terletak di tepi sebuah telaga yang tidak begitu besar, tetapi di dalam telaga itu terdapat banyak ikan dari berbagai jenis yang dapat dijadikan sumber pencaharian dari penghuni padepokan kecil itu, di samping tanah pertanian dan peternakan. 

“Nah, bagaimana pendapatmu Iswari?” bertanya kakeknya. 

Rasa-rasanya Iswari tidak lagi mempunyai keinginan apapun. Karena itu, maka kemanapun ia akan di singkirkan, ia tidak akan berkeberatan. Apalagi di padepokan kecil yang sejuk itu. 

Karena itu, maka jawabnya, “Aku menurut saja perintah kakek. Jika hal itu akan dapat menyelamatkan perempuan yang tidak membunuhku itu, maka aku akan merasa senang sekali.” 

“Baiklah,” berkata Kiai Badra, “Besok kau akan berangkat dengan sebuah pedati. Biarlah kau di antar kakangmu Gandar. Tetapi jika kau sudah sampai di padepokan kecil itu, maka biarlah Gandar segera kembali. Aku akan menunggui padepokan dan barangkali jika benar ada tamu dari Tanah Perdikan Sembojan.”
(Bersambung)-o

 


 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

Senin, 25-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 170   

 ISWARI hanya mengangguk saja. Ia memang tidak lagi mempunyai keinginan apapun juga bagi dirinya sendiri. 
Di hari berikutnya Iswari benar-benar berangkat ke padepokan Tlaga Kembang. Namun belum lagi perjalanannya mencapai dua tiga Kabuyutan, maka utusan dari Tanah Perdikan Sembojan itu benar-benar telah datang.

 Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam ketika ia mengetahui bahwa dua orang berkuda yang datang itu adalah orang-orang Sembojan. Untunglah bahwa Iswari sudah tidak ada di pade-pokan itu lagi. 

Kiai Badra yang berpura-pura tidak mengeta-hui persoalan dibawa oleh kedua orang itu mempersilakan mereka dengan ramah. Bahkan ia sama sekali tidak menyinggung mengenai cucunya itu. 

Kedua orang yang datang itu pun menjadi bimbang untuk mulai dengan persoalan mereka yang sebenarnya. Nampaknya Kiai Badra menyambut mereka dengan gembira. Jika mereka mengata-kan sebagaimana pesan Ki Gede, maka kegembiraan Kiai Badra itu tentu akan larut seketika. 

Tetapi keduanya tidak dapat berbuat lain. Dengan sangat berhati-hati, maka keduanya berganti-ganti telah menyampaikan pesan Ki Gede di Sembojan, bahwa cucu Kiai badra telah hilang. 

“Hilang?” wajah Kiai Badra tiba-tiba menjadi tegang, “Jangan bergurau ngger. Gandar baru saja datang dari Tanah Perdikan itu barang tiga empat hari yang lalu. Ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang adik perempuannya. Bahkan ia mengatakan, sebentar lagi akan dilakukan upacara tujuh bulan kandungan cucuku itu.” 

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang di antara mereka berkata, “Ya Kiai. Gandar memang baru saja mengunjungi Tanah Perdikan. Ketika Gandar kembali, memang tidak terjadi sesuatu dengan Nyai Wiradana. Tetapi beberapa hari setelah Gandar pergi, tiba-tiba saja Nyai Wiradana itu hilang. Ia minta ijin kepada suaminya untuk mengunjungi seorang tetangga padukuhan yang baru melahirkan. Tetapi Nyai Wiradana tidak pernah mencapai rumah itu dan untuk seterusnya juga tidak kembali ke rumahnya.” 

“Ah,” suara Kiai Badra menjadi bergetar, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?” 

“Itulah yang membingungkan kami Kiai,” ja-wab utusan itu. 

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra kemudian, “Jika benar yang kalian katakan tentang cucuku, maka aku kembalikan segalanya kepada Ki Wiradana dan Ki Gede Sembojan. Aku telah menyerahkan cucuku untuk menjadi istri Ki Wiradana dan menjadi menantu Ki Gede di Sembojan. Maka tanggung jawab atas cucuku itu sudah beralih dari tanganku kepada Ki Wiradana terutama, karena ia adalah suaminya. Aku minta agar cucuku segera diketemukan. Jika tidak, maka aku akan minta pertanggungan jawab Ki Wiradana.” 

Jawaban Kiai Badra itu memang sudah diduga. Karena itu, maka salah seorang dari kedua orang itu segera menjawab “Ki Gede sudah mengatakan Kiai bahwa ia bertanggung jawab atas hilangnya Nyai Wiradana. Bahkan Ki Gede sudah memerintahkan, menyusun satu pasukan khusus yang terdiri dari dua puluh lima orang dibawah pimpinan Ki Gede akan berusaha untuk menemukan Nyai Wiradana dan menghancurkan sisa keluarga Kalamerta, karena menurut dugaan Ki Gede, tidak ada pihak lain yang melakukannya selain sisa keluarga Kalamerta yang mendendamnya.” 

(Bersambung)-c.

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 26/XI/2002
12 Oct. is Bali's mourn


Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....



KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant