|

Buy it at AllPosters.com
|
|

SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****

Rabu, 06-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 151 |
Warsi menarik nafas dalam-dalam.
Ia terpaksa melepaskan ilmunya. Namun nampaknya ia sudah puas dengan
pengamatannya yang sesaat dengan pendengarannya, karena ia memang
tidak mendengar apa-apa.
“Agaknya aku telah tergoda oleh desis
angin,” berkata Warsi di dalam hatinya.
Ia pun kemudian melangkah, keluar dari kegelapan. Namun begitu
ia melampaui pintu, cepat-cepat ia melangkah kembali sehingga Gandar
menjadi berdebar-debar. Namun ternyata Warsi masih menyempatkan diri
mengambil beberapa gula kelapa. Demikian cepatnya meskipun di dapur
itu tidak ada lampu sama sekali.
Demikinlah Warsi hilang dari balik pintu dapur, maka Gandar pun
menarik nafas dalam-dalam. Yang dilakukannya pertama-tama kemudian
menjauhi rumah itu. Bahkan Gandar telah meloncati dinding halaman
dan kemudian menyusuri lorong sempit ke jalan yang lebih besar.
Dengan hati-hati Gandar berjalan dengan langkah yang diberati oleh
tekanan perasaannya, keluar dari padukuhan itu.
Namun untuk beberapa saat, Gandar yang kemudian turun ke sungai
kecil yang menyilang jalan itu, duduk di atas sebongkah batu di
belakang semak-semak. Getar di dadanya bagaikan tidak dapat
diterangkan lagi. Rasa-rasanya ia sudah siap untuk mengoyak tubuh
Wiradana yang telah berkhianat terhadap Iswari.
Tetapi dengan susah payah Gandar berusaha untuk mempergunakan
nalarnya. Agaknya Iswari sama sekali tidak mengetahui apa yang telah
terjadi. Karena itu, seandainya ia melakukan satu langkah yang
mengarah kepada terbukanya rahasia itu, maka ia tidak akan sampai
hati melihat akibat yang akan terjadi atas Iswari, justru pada saat
Iswari sedang mengandung.
“Kejutan itu akan sangat berpengaruh atas kandungannya,” berkata
Gandar di dalam hatinya.
Namun demikian kebencian yang tidak terbatas telah mengguncang
perasaannya terhadap Wiradana.
“Apa yang harus aku lakukan?” Gandar menutup wajahnya dengan
kedua tangannya.
Betapa ia berusaha, tetapi ia tidak menemukan jalan terang yang
paling pantas untuk dilakukannya. Bahkan demikian ia berusaha
memikirkan persoalan itu, maka kepalanya pun telah menjadi sangat
pening karenanya.
Akhirnya Gandar itu pun berdiri. Ia masih sadar, bahwa ia harus
berada di gandok sebelum fajar. Sehingga karena itulah, maka dengan
langkah yang gontai ia berjalan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam dinginnya udara malam, ternyata Gandar menemukan satu jawaban,
“Aku akan menunggu sampai Iswari melahirkan. Anak itu adalah anak
Wiradana. Laki-laki atau perempuan, anak itu adalah anaknya yang
pertama. Jika ia laki-laki, ia akan langsung menjadi calon pengganti
ayahnya kelak. Jika ia perempuan, maka menantunyalah yang akan
menduduki jabatan itu.”
Tetapi satu pertanyaan timbul, “Bagaimana jika perempuan itu
mempunyai anak laki-laki?”
Gandar menggeram. Namun akhirnya ia bertekad untuk berbicara kelak
dengan Ki Gede. Tetapi sekali lagi ia berdesis, “Aku harus menahan
diri sampai anak itu lahir. Jika satu persoalan akan mempengaruhi
anak di dalam kandungan itu, maka hati Iswari akan menjadi semakin
hancur karenanya.”
Dengan demikian, maka rasa-rasanya hati Gandar menjadi lebih mapan
untuk menentukan langkah-langkahnya, meskipun masih belum pasti.
Segalanya akan dilakukan setelah anak Iswari lahir. Bahkan
seandainya ia harus berhadapan dengan perempuan cantik, istri
Wiradana yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi itu.
Namun Gandar pun berkesimpulan, agaknya Wiradana tidak menyadari
bahwa istrinya memiliki ilmu yang nggegirisi. Istrinya itu pun
agaknya dengan sengaja telah menyembunyikan kemampuannya.
“Ia memikat Wiradana tentu dengan kecantikannya,” berkata Gandar
di dalam hatinya.
(Bersambung)-.
|
Kamis, 07-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 152 |
DALAM pada itu, ketika fajar
menyingsing dan terdengar suara sapu lidi di halaman, Gandar memang
sudah berada di dalam biliknya di gandok rumah Ki Gede Sembojan.
Ketika ia membuka pintu, dilihatnya dalam keremangan dini hari,
seseorang sedang menyapu halaman.
Gandar pun melangkah turun ke halaman dan sejenak kemudian ia pun
telah pergi ke pakiwan. Maka senggot timba pun telah berderit. Seperti
yang dilakukannya sebelumnya, maka Gandar pun telah mengisi pakiwan.
Para pembantu di rumah Ki Gede telah mempersilakannya untuk langsung
mandi saja. Tetapi Gandar menjawab, “Aku sudah terbiasa bekerja apa
saja di padepokan.”
Karena itu, maka akhirnya Gandar itu pun dibiarkannya saja mengambil
air untuk mengisi pakiwan.
Jantung Gandar terasa berdesir ketika tiba-tiba saja melihat Wiradana
dengan tergesa-gesa pergi ke pakiwan. Ketika Wiradana itu melihat
Gandar, maka ia pun telah tertegun. Namun Gandar justru bagaikan
membeku. Ia sedang bergulat dengan perasaannya agar ia tidak berbuat
sesuatu yang dapat merusak suasana tenang di rumah itu. Suasana yang
dapat membentuk ketenangan hati Iswari dan bayi di dalam kandungannya.
Karena Gandar tidak menyapanya, maka Wiradanalah yang kemudian
bertanya, “Sepagi ini kau sudah menimba air Gandar?”
Gandar menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terloncat dari bibirnya,
namun akhirnya terdengar juga ia menjawab, “Sebagaimana selalu aku
lakukan di padepokan.”
Wiradana tidak bertanya lagi. Ia pun langsung pergi ke pakiwan.
Demikian ia selesai membersihkan diri, maka ia pun telah meninggalkan
pakiwan itu.
Tetapi Gandar ternyata sudah sempat ber-tanya, “Apakah kau baru
pulang?”
“Ya,” sebenarnyalah Wiradana benci sekali mendengarkan pertanyaan
itu. Tetapi ia harus menjawabnya. Lalu, “Aku langsung nganglang dan
melihat air di parit-parit.”
Gandar tidak bertanya lagi. Ia mencemaskan dirinya sendiri bahwa pada
satu saat ia tidak lagi mampu mengekang pertanyaannya.
Tanpa berpaling lagi, Wiradana pun telah hilang lewat pintu dapur
masuk ke ruang dalam.
Dalam pada itu, selagi Gandar masih belum selesai memenuhi jambangan
di pakiwan, jantungnya berdesir ketika ia melihat Iswari keluar pula
dari pintu dapur sambil membawa beberapa mangkuk kotor yang akan
dicuci didekat sumur. Sambil tersenyum cerah ia bertanya kepada Gandar,
“Kau sudah menurut kakang.”
Dada Gandar terasa berdegupan. Ia melihat senyum Iswari yang cerah.
Namun seakan-akan ia juga melihat Iswari yang sedang menangisi
nasibnya yang sangat malang, karena suaminya telah mengambil orang
lain untuk menjadi istrinya pula. Bahkan agaknya Wiradana lebih
mencintai yang kedua, karena hampir tiap malam, Wiradana memilih
berada di tempat istri-nya itu.
“Tetapi memang mungkin sekali terjadi, perempuan itu telah kawin
dengan Wiradana sebelum ia kawin dengan Iswari,” berkata Gandar di
dalam hatinya. Tetapi kemungkinan itu agaknya kecil sekali. Karena
sebelumnya, Wiradana seakan-akan tidak pernah meninggalkan rumahnya
sampai semalam-malaman. Bahkan ia lebih banyak berada di rumahnya atau
di gardu-gardu perondan di Tanah Perdikan Sembojan.
Iswari mengerutkan keningnya. Gandar tidak segera menjawab
pertanyaannya, bahkan seakan-akan Gandar itu sedang mengingat-ingat
sesuatu yang terlupakan.
“Ada sesuatu yang kau pikirkan kakang?” bertanya Iswari.
“O,” Gandar tiba-tiba saja berdesah. Namun dengan cepat ia
berusaha memperbaiki kesalahannya. Katanya, “Aku memang sedang
mengingat mimpiku semalam. Aku berniat mengatakan kepadamu. Tetapi
tiba-tiba aku telah lupa.”
(Bersambung)-c
|
Jumat, 08-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 153 |
“MIMPI tentang apa kakang? Apakah
mimpi itu begitu pentingnya sehingga kau berniat untuk mengatakan
kepadaku?” bertanya Iswari.
“Tidak begitu penting. Aku memang telah melupakan mimpi itu, tetapi
kesannya mimpi itu baik bagimu Iswari,” jawab Gandar.
Iswari tertawa. Tetapi rasa-rasanya suara tertawa itu tidak
ubahnya dengan suara tangis yang memilukan. Namun demikian, Gandar
masih tetap dikendalikan dengan nalarnya. Bukan sekadar perasaannya.
Iswari kemudian meletakkan mangkuk-mangkuknya di dekat jambangan kecil
yang sering dipergunakannya untuk mencuci alat-alat dapurnya kemudian
berjongkok sambil berkata, “Kakang, aku minta airnya.”
Dengan serta merta Gandar pun telah menimba air dan dituangkannya ke
dalam jambangan kecil itu. Ada semacam gejolak di dalam hatinya
mendengar permintaan Iswari meskipun hanya air se jambangan kecil.
Justru karena Gandar mengetahui keadaan yang sedang dialami oleh
Iswari.
Demikian, sejak hari itu, Gandar harus berusaha sekuat-kuatnya untuk
menahan gejolak di dalam hatinya Ia harus bersikap wajar dan
seakan-akan tidak mengetahui apapun juga.
Kadang-kadang memang ada perasaan menyesal di dalam dirinya, bahwa ia
sudah mengikuti dan kemudian mengetahui apa yang sebenarnya telah
dilakukan oleh Wiradana, sehingga dengan demikian, maka perasaannya
telah dibebani karenanya. Beban yang justru terasa sangat berat.
Dengan demikian, maka Gandar merasa bahwa ia tidak akan dapat terlalu
lama berada di rumah Ki Gede dengan beban tersebut. Sehingga dengan
demikian maka ia memutuskan untuk segera meninggalkannya dengan
pengertian, bahwa setelah anak yang ada di dalam kandungannya itu
lahir, maka ia akan membuat perhitungan dengan Wiradana.
“Aku akan melaporkannya kepada Ki Gede,” geram Gandar yang agaknya
tidak berkeberatan apabila karena itu akan timbul akibat yang
memaksanya berhadapan dengan perempuan cantik, yang memiliki ilmu yang
tinggi yang ternyata telah menguasai Wiradana itu.
“Apa boleh buat,” geram Gandar, “Dan agaknya ilmu perempuan itu
melampaui ilmu yang dimiliki oleh Wiradana.”
Ketika Gandar kemudian menyampaikan maksudnya untuk pulang ke
padepokannya, Ki Gede terkejut sekali. Menurut tangkapannya, maka
Gandar akan berada di rumahnya sampai upacara tujuh bulan kandungan
Iswari. Namun tiba-tiba saja ia telah minta diri.
“Aku merasa sangat gelisah untuk terlalu lama berada disini Ki Gede,”
berkata Gandar. “Rasa-rasanya aku sudah meninggalkan tugas-tugasku
terlalu lama. Sementara itu Kiai Badra akan menjadi kebingungan
menunggu kedatanganku. Mungkin Kiai Badra telah dicemaskan oleh
kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atasku diperjalanan.
Jika ternyata kelak Kiai Badra sendiri ingin hadir, maka alangkah
baiknya dan alangkah senangnya Iswari dalam upaya tujuh bulan
kandungannya itu.”
“Sudah aku katakan,” berkata Ki Gede. “Biarlah orangku pergi ke
padepokan. Kau berada disini dan Kiai Badra akan aku undang pula untuk
datang. Waktunya tinggal beberapa hari saja.”
“Biarlah aku sendiri saja kembali ke padepokan Ki Gede,” berkata
Gandar. “Rasa-rasanya ada sesuatu yang memanggil aku pulang,”
jawab Gandar.
Ki Gede termangu-mangu sejenak. Namun ia pun berkata, “Tetapi pada
hari upacara, kau dan Kiai Badra harus berada disini. Harus.”
Gandar berusaha untuk tersenyum. Katanya, “Baiklah Ki Gede. Aku akan
mengatakannya kepada Kiai Badra.”
Ternyata Iswari pun terkejut mendengar Gandar yang minta diri untuk
pulang. Tetapi Gandar kemudian berhasil meyakinkan bahwa ia akan
datang lagi bersama Kiai Badra secepatnya.
|

Sabtu, 09-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 154 |
“AKU akan menangis jika kau dan kakek
tidak ada disini pada upacara itu,” berkata Iswari.
Gandar menyadari, bahwa Iswari hanya se-kadar bergurau. Tetapi
hati Gandar justru merasa sakit, karena ia tahu, bahwa pada suatu saat
Iswari benar-benar akan menangis jika ia mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi atas dirinya.
Namun dengan susah payah Gandar memaksa dirinya untuk tersenyum sambil
berkata, “Aku tentu akan datang Iswari.”
Demikianlah, maka Gandar pun telah meninggalkan rumah Ki Gede Sembojan.
Tetapi rasa-rasanya hatinya telah terbelah. Yang dilihatnya di
Sembojan adalah satu peristiwa yang sangat pahit, bukan saja bagi
Iswari, tetapi juga bagi Kiai Badra dan dirinya sendiri.
Semakin jauh Gandar melangkah, hatinya terasa
menjadi semakin bergejolak. Kemarahan, kebencian dan bahkan dendam
telah membakar hatinya. Rasa-rasanya terlalu sakit jika ia harus
sekadar merendamnya di dalam dadanya.
Karena itu, demikian Gandar terlepas dari Tanah Perdikan Sembojan,
maka tiba-tiba saja ia sudah berlari mendaki sebuah bukit berbatu-batu.
Rasa-rasanya ia ingin melepaskan kepenatan hatinya di atas bukti yang
tidak dihuni oleh seorang pun juga.
Dengan mengerahkan tenaga dan kemampuannya,
Gandar pun berlari dan berlari. Kakinya semakin lama menjadi semakin
cepat bergerak. Bahkan kemudian kaki itu telah berloncatan dari batu
ke batu, mendaki dan kemudian bagaikan melayang-layang di puncak bukit
itu.
Ketika Gandar yakin bahwa ia telah berada
jauh dari sesamanya, maka tiba-tiba saja ia telah berdiri di atas
sebongkah batu. Sambil menengadahkan kepalanya, tiba-tiba saja ia
berteriak sekeras-kerasnya. Seakan-akan ia ingin melontarkan segala
persoalan yang telah menyumbat dadanya, dilambari dengan segenap
kekuatan ilmunya.
Akibatnya ternyata mendebarkan jantung. Suara
yang terlontar dari sela-sela bibir Gandar telah menggetarkan bukit
berbatu kapur itu. Batu-batu kecil yang terletak di bibir
lereng-lereng bukit itu telah berguguran. Sementara semak-semak
bagaikan digundang. Daun-daun yang kuning telah runtuh jatuh di atas
bebatuan.
Untuk beberapa saat Gandar mengguncang bukit
itu. Namun agaknya ia masih belum puas. Tiba-tiba saja ia telah
meloncat, berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya di dada dengan
telapak tangan terbuka. Dengan satu loncatan panjang, maka tangan itu
telah terayun dengan kerasnya menghantam lereng batu kapur di atas
bukit itu.
Sejenak kemudian terdengar suara gemuruh.
Tangan Gandar benar-benar telah memecahkan batu-batu kapur itu,
sehingga berguguran menghambur dibawah kakinya.
Sejenak Gandar masih berdiri mematung. Namun
kemudian ia telah menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya beban di
dalam dadanya telah berkurang, setelah dilontarkannya lewat suara dan
kekuatannya.
Seluruh tubuh Gandar telah menjadi basah oleh
keringatnya. Nafasnya menjadi berkejaran lewat lubang hidungnya.
Setelah menghentakkan segenap kekuatan ilmunya, maka rasa-rasanya
tubuh Gandar menjadi letih.
Gandar pun kemudian duduk di atas sebongkah batu kapur. Dipandanginya
lereng disekitarnya. Sepi.
Namun terasa kemudian angin yang semilir telah menerpa tubuhnya yang
menjadi semakin segar.
Untuk beberapa saat Gandar duduk merenung. Ia
masih berusaha menemukan sikap yang sebaiknya dilakukan. Ia memang
telah memutuskan untuk mempersoalkan hubungan Wiradana dengan Iswari
setelah anak Iswari lahir. Namun sementara itu, apakah yang se-baiknya
dilakukannya. Apakah ia akan menyampaikan persoalan itu kepada Kiai
Badra yang hatinya tentu akan menjadi hancur pula mengingat nasib
cucunya yang malang itu. Ayah ibu Iswari telah mengalami nasib yang
buruk. Dan sekarang Iswari pun mengalami nasib yang kurang baik pula
meskipun dalam ujud yang berbeda.
(Bersambung)-c.
|

Tetapi Gandar telah beringsut. Ia telah duduk
di atas sebongkah batu sambil merenung.
Minggu, 10-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 155 |
Rasa-rasanya Gandar telah berdiri
disimpang jalan. Ada keinginannya untuk kembali ke padepokannya dan
melupakan persoalan Iswari, ia selalu ingat pesan Iswari meskipun
sambil bergurau, jika ia dan Kiai Badra tidak datang pada upacara
tujuh bulan kandungan Iswari, maka Iswari akan menangis.
Gandar tidak sadar berapa lama ia merenung di atas bukit kapur itu.
Tetapi ketika ia menengadahkan wajahnya kelangit, dilihatnya matahari
telah turun. Tubuhnya rasa-rasanya menjadi semakin panas oleh cahaya
matahari yang membakar.
Tetapi Gandar telah beringsut. Ia telah duduk di atas sebongkah
batu sambil merenung.
Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Gandar masih saja berada
di tempatnya. Ketika ia bangkit dan melangkah turun untuk kembali ke
padepokannya, tiba-tiba saja ada semacam hambatan dari dalam dirinya.
Rasa-rasanya ia tidak sampai hati untuk meninggalkan Iswari sendiri
dalam keadaannya. Karena itu, maka ia telah duduk kembali ditempatnya.
“Lalu aku mau apa?” bertanya Gandar di dalam hatinya.
Bahkan ketika matahari menghilang dibalik bukit, Gandar masih tetap
duduk ditempatnya. Ia sama sekali tidak merasa lapar dan haus.
Kekalutan nalarnya membuatnya tidak menghiraukan lagi kepada dirinya
sendiri.
Gandar baru bangkit ketika terasa angin yang dingin mulai menembus
kulitnya. Langit nampak bersih. Bintang-bintang nampak bergayutan di
langit, menebar dari tepi sampai ketepi.
Gandar yang berdiri tegak di atas batu kapur itu kemudian telah
berniat untuk tidak segera kembali. Ia ingin mengamati lebih dekat,
apa yang akan terjadi atas Iswari. Kesan sikap Wiradana terhadapnya
membuatnya semakin curiga, karena Wiradana seakan-akan telah
mengusirnya.
“Mungkin Wiradana cemas bahwa pada suatu saat aku dapat mengetahui
rahasianya,” berkata Gandar di dalam hatinya. Tetapi semacam firasat
telah menahannya agar ia tidak tergesa-gesa meninggalkan Tanah
Perdikan Sembojan.
Gandar pun ternyata menuruti kata hatinya. Ia ingin tetap berada di
bukit kapur itu. Ia ingin tetap berada dibukit kapur itu. Ia mempunyai
sisa bekal uang serba sedikit, sehingga disiang hari ia dapat turun
dan membeli makanan apa saja justru diluar Tanah Perdikan, sementara
di malam hari, ia telah berkeliaran di Tanah Perdikan. Setiap malam ia
menunggu Wiradana lewat. Kemudian mengikutinya sampai ke rumah
perempuan cantik itu untuk mendengarkan pembicaraan mereka serba
sedikit.
Namun karena Gandar telah dapat menjajagi ilmu istri Wiradana tanpa
disengaja maka setiap kali ia telah mengetrapkan ilmu sebaik-baiknya,
agar kehadirannya tetap tidak diketahui oleh perempuan cantik yang
akan menjadi istri Wiradana itu. (Bersambung)-o. |
Senin, 11-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 156 |
Tetapi pada suatu saat,
rasa-rasanya telinga Gandar bagaikan disambar petir ketika ia
mendengar satu rencana yang sangat keji. Dari mulut Wiradana ia
mendengar bahwa telah disiapkan perangkap untuk membunuh Iswari
sebelum upacara tujuh bulan kandungannya.
Rasa-rasanya hati Gandar tidak terkendali lagi. Siapapun
perempuan itu, dan ilmu apa yang dimilikinya, namun Gandar tidak akan
gentar.
Tetapi ternyata bahwa Gandar masih dapat mengekang dirinya. Ia masih
mampu mempergunakan nalarnya, sehingga ilmunya tidak terlepas
daripadanya untuk tetap menyerap bunyi apapun yang timbul dari dalam
dirinya.
Bahkan kemudian Gandar pun berusaha untuk mendengar semakin banyak.
“Aku telah memanggil serigala betina itu,” berkata Wiradana.
“Apakah ia dapat dipercaya?” bertanya perempuan cantik itu.
“Serahkan semuanya kepadaku,” jawab Wiradana.
Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian perempuan itu
menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja titik-titik air telah menetes
dari pelupuk matanya.
“Kenapa kau Iswari?” bertanya Wiradana.
“Aku tidak sampai hati membiarkan perempuan itu diperlakukan seperti
itu,” isak Warsi.
“Tetapi bukankah kau sependapat, bahwa ia tidak ada jalan lain yang
dapat aku tempuh?” berkata Wiradana.
Perempuan itu mengangguk. Tetapi ia berkata, “Bagaimanapun juga aku
pun seorang perempuan.”
“Jangan kau renungkan terlalu dalam. Kita akan segera dapat
menyelesaikan persoalan ini untuk kemudian mencari jalan untuk
memecahkan persoalan berikutnya,” berkata Wiradana.
Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi terdengar ia terisak.
Namun justru isak itulah yang membuat Gandar menjadi muak. Ia sadar,
bahwa yang dilakukan oleh perempuan itu tentu satu sikap pura-pura.
Tetapi dalam pada itu, maka bagi Gandar, persoalannya bukan lagi
sekadar ingin tahu atau menunggu setelah bayi Iswari lahir. Nyawa
Iswari ternyata telah terancam. Karena itu, maka mau tidak mau ia
harus berbuat sesuatu.
Dari pembicaraan berikutnya Gandar mengetahui, bahwa dua hari lagi,
seseorang akan mengajak Iswari pergi ke tempat seseorang yang sedang
menyambut kedatangan anaknya. Mereka akan berangkat dari rumah diwaktu
senja. Tetapi saat mereka sampai di bulak, hari tentu sudah gelap.
Sejak saat itu, Iswari tidak akan sampai ke rumah untuk selamanya.
Dengan demikian, maka Gandar tidak lagi dapat ingkar dari kewajiban.
Masalahnya sudah terlalu jauh dari kewajaran. Karena itu maka apapun
yang akan terjadi, Gandar merasa wajib untuk berbuat sesuatu.
Meskipun Gandar telah mendengar, saat yang akan dipilih untuk membunuh
Iswari, namun malam sebelumnya ia tetap mengawasinya. Ia merasa cemas
bahwa Wiradana mengubah dan mempercepat rencananya.
Ternyata rencana Wiradana adalah benar-benar rencana yang sudah masak,
sehingga dengan demikian, maka sebagaimana dikatakan, rencana itu akan
dilakukan dihari yang sudah ditentukan.
Pada saat yang dikatakan oleh Wiradana, sebenarnyalah seorang
perempuan telah singgah di rumah Nyai Wiradana. Perempuan yang masih
belum dikenal oleh Iswari.
“Nyai,” berkata perempuan itu, “Ki Wiradana berpesan kepadaku.
Jika aku akan pergi mengunjungi Nyi Pasih, aku diminta untuk singgah
sebentar. Bukankah Nyai Wiradana akan pergi ke rumahnya?”
Nyi Wiradana mengangguk. Namun terasa sesuatu yang janggal pada orang
itu. Ia belum pernah mengenalnya. Jika perempuan itu perempuan Tanah
Perdikan, maka ia tentu sudah mengenalnya, karena setiap orang
perempuan bahkan laki-laki pun di Tanah Perdikan itu telah dikenalnya
dengan akrab. (Bersambung)-o. |
Selasa, 12-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 157 |
“O,” perempuan itu menyadari
bahwa Nyai Wiradana agak heran melihat kehadirannya, “Aku adalah
penghuni Kademangan sebelah. Mungkin Nyai memang belum mengenal aku.
Karena aku akan mengunjungi Nyai Pasih dan melewati jalan ini, maka
sekaligus aku singgah barang sejenak agar aku mempunyai kawan di jalan.
Nanti, pada saatnya pulang suamiku akan menunggu aku disini.”
Iswari mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya masih ada sesuatu yang
meragukannya. Sementara itu perempuan itu berkata, “Suamiku adalah
Jagabaya di Kademangan sebelah. Ia banyak berhubungan dengan Ki
Wiradana, karena suamiku banyak belajar tentang keamanan Tanah
Perdikan ini, sementara Ki Wiradana dengan tekun mempelajari
kerusuhsan yang sering timbul di Kademangan kami sebelum kerusuhan itu
menjalar ke Tanah Perdikan ini.”
Baru kemudian Iswari mengangguk-angguk ketika orang itu
memperkenalkan diri sebagai Nyai Jagabaya. Karena itu, maka Iswari pun
segera menjawab, “Maaf Nyai Jagabaya. Karena aku belum mengenal Nyai,
maka aku merasa agak canggung. Marilah, duduklah. Aku memang sudah
mengatakan kepada suamiku, bahwa aku akan pergi ke rumah Nyi Pasih
hari ini.”
“Nah, karena itulah atas pesan Ki Wiradana maka aku singgah,”
jawab Nyai Jagabaya.
Iswari pun kemudian mempersilakan perempuan itu masuk. Tetapi katanya,
“Sudahlah Nyai. Aku menunggu disini. Bukankah Nyai juga sudah siap
untuk berangkat.”
Sementara itu Wiradana pun telah keluar dari pringgitan. Ketika ia
melihat Iswari berbicara dengan seorang perempuan, maka ia pun
mendekat sambil berkata, “Inilah Nyai Jagabaya yang akan aku katakan
itu Iswari.”
“Tetapi kakang tidak mengatakan bahwa Nyai Jagabaya akan singgah,”
jawab Iswari. “Sehingga aku menjadi bingung, karena aku belum
mengenalnya.”
“Nyai Jagabaya,” berkata Wiradana. “Sebenarnya aku sendiri akan
mengantar Iswari ke padukuhan sebelah untuk menengok Nyai Pasih,
karena aku juga mempunyai kepentingan dengan padukuhan sebelah. Namun
ternyata aku harus pergi ke padukuhan lain. Karena aku tidak dapat
mengantar, maka biarlah kalian pergi berdua. Tetapi jangan terlalu
malam pulang. Meskipun di daerah ini sekarang termasuk daerah yang
aman, namun sebaiknya kalian juga berhati-hati.”
“Ah,” desis Nyai Jagabaya, “Suamiku tidak pernah sempat
mengantarku kemana saja. Karena itu, aku sudah terbiasa pergi sendiri.
Meskipun demikian suamiku sudah berjanji untuk menjemputku aku disini
nanti.”
“O, baiklah. Ia akan diterima disini dengan senang hati.
Mudah-mudahan persoalanku pun sudah selesai, sehingga aku akan dapat
menemuinya sendiri,” berkata Ki Wiradana.
Wiradana pun kemudian menyuruh istrinya untuk segera bersiap sebelum
hari menjadi gelap. “Biarlah aku mengawani Nyai Jagabaya ini.”
“Ah, aku akan menunggu disini saja Nyai,” berkata perempuan itu
selanjutnya.
Demikianlah, maka Nyai Wiradana yang semula akan pergi di antar oleh
suaminya ternyata urung. Tetapi baginya hal itu bukanlah satu
persoalan. Ia sudah terbiasa pula pergi sendiri. Apalagi mengunjungi
kelahiran. Adalah tidak biasa bagi seorang laki-laki. Hanya pada waktu
malam biasanya laki-laki disebelah menyebelah datang untuk
berjaga-jaga semalam suntuk sambil membaca kidung.
Sejenak kemudian maka Iswari pun telah siap. Sejenak kemudian ia pun
turun ke halaman. Sementara itu langit pun sudah menjadi kian suram.
Ketika kedua perempuan itu minta diri, maka Wiradana menjadi semakin
suram.
Demikianlah, maka kedua orang perempuan itu pun telah turun ke jalan
dan menyusuri jalan di padukuhan induk itu menuju ke regol padukuhan.
Ketika mereka keluar dari regol padukuhan induk itu, gelap benar-benar
telah turun.
(Bersambung)-b. |

Rabu, 13-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 158 |
TETAPI keduanya sama sekali tidak
menjadi cemas. Padukuhan yang akan mereka tuju adalah padukuhan
sebelah yang hanya di antarai oleh sebuah bulak pendek.
Nyai Wiradana sama sekali tidak merasa cemas untuk pulang di
malam hari. Jika ia merasa agak takut oleh sesuatu, mungkin seekor
binatang buas yang tersesat, atau oleh hal-hal lain yang tiba-tiba
saja timbul, ia dapat minta diantarkan oleh para peronda atau
orang-orang lain yang ada di rumah yang dikunjunginya.
Demikian mereka keluar dari padukuhan dan memasuki bulak, maka Iswari
pun bertanya, “Sudah berapa lama kau tinggal di Kademangan sebelah?”
“Sejak kecil Nyai,” jawab perempuan itu. “Agak berbeda dengan
Nyai. Bukankah Nyai tinggal di Tanah Perdikan ini sejak kawin dengan
Ki Wradana?”
Iswari mengangguk-angguk, sementara perempuan itu melanjutkan, “Aku
lahir dan di-besarkan di Kademangan itu. Orang tuaku pun lahir dan
dibesarkan di sana pula. Kedua-duanya. Mereka adalah kawan bermain
sejak kecil. Kemudian orang tua mereka telah menjodohkan mereka
menjadi suami istri.
Nyai Wiradana mengangguk-angguk. Kata-nya, “Jika demikian, maka kau
dapat melaku-kan tugasmu sebagai seorang istri Jagabaya sebaik-baiknya,
karena kau mengenal kampung halamanmu sebaik mengenal dirimu sendiri.”
Perempuan itu tertawa. Katanya, “Bukankah Nyai juga dapat melakukan
kewajiban Nyai sebaik-baiknya meskipun Nyai bukan seorang yang
dilahirkan dan dibesarkan di Tanah Per-dikan ini?”
“Aku, aku baru belajar melakukannya,” jawab Iswari.
Perempuan itu tidak menjawab lagi. Diamati-nya jalan yang akan
dilaluinya. Sementara hari benar-benar sudah menjadi gelap.
Ketika mereka sampai disimpang tiga, Iswari terkejut. Tiba-tiba saja
perempuan itu meng-gamitnya dan berkata, “Kita berbelok ke kanan
Nyai.”
Iswari tertegun. Katanya, “Bukankah rumah Ki Pasih ada di padukuhan
di hadapan kita?”
“Ya. Tetapi kita akan berbelok kekanan,” jawab perempuan itu tegas.
“Aku tidak mengerti,” jawab Iswari.
“Nanti kau akan mengerti,” jawab perempuan itu pula.
Iswari masih termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja tubuhnya menjadi
gemetar ketika tiba-tiba saja melihat perempuan itu menarik sesuatu
dari balik bajunya. Patrem.
Dengan suara bergetar Iswari bertanya, “Apa artinya ini Nyai?”
Orang yang menyebut dirinya Nyai Jagabaya itu mendesak maju sambil
berdesis, “Marilah. Jangan banyak persoalan jika kau ingin mengalami
nasib buruk.”
Iswari mundur selangkah. Namun perempuan itu kemudian membentak,
“Berbeloklah kekanan.”
Iswari tidak mempunyai pilihan. Ia pun kemudian harus memenuhi
perintah perempuan itu. Meskipun jantungnya serasa berhenti mengalir,
tetapi ia berusaha untuk dapat melangkah sebagaimana dikehendaki oleh
perempuan itu.
Bahkan beberapa langkah kemudian Iswari masih sempat bertanya,
“Siapakah kau sebenarnya?”
Perempuan itu tidak segera menjawab. Ia berjalan rapat disisi Iswari
dengan patrem di tangannya.
“Siapa kau dan apa maksudmu?” desak Warsi.
Perempuan itu memandang wajah Iswari sejenak. Kemudian katanya, “Aku
adalah perempuan yang dipanggil serigala betina di Kademangan sebelah.
Aku adalah seorang perempuan yang pernah ikut dalam gerombolan
berandal yang mempunyai nama yang ditakuti, meskipun tidak segarang
Kalamerta.”
“Jadi apakah kau ingin merampok aku?” bertanya Iswari.
(Bersambung)-c. |
Kamis, 14-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 159 |
“AKU tahu, bahwa kau tidak
membawa apapun yang berharga sekarang. Dan aku sudah lama tidak lagi
hidup dalam dunia itu lagi,” jawab perempuan itu.
“Jadi apa maksudmu?” bertanya Iswari berulang kali.
Perempuan itu tidak segera menjawab. Tetapi ia mendesak agar Iswari
berjalan semakin cepat.
Hari masih belum terlalu malam. Tetapi jalan-jalan bulak sudah menjadi
sepi. Padukuhan yang sudah terlalu dekat itu justru menjadi semakin
jauh, karena kedua perempuan itu telah berbelok dari jalan yang
seharusnya.
Ternyata bahwa perempuan itu telah membawa Iswari menuju ke luar Tanah
Perdikan. Bahkan kemudian mereka telah berbelok di sepanjang jalan
terjal.
“Kita akan kemana?” bertanya Iswari yang menjadi semakin ketakutan.
“Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakaimu,” geram perempuan
yang disebut serigala betina itu.
Iswari menjadi semakin ketakutan. Mereka kemudian berjalan menyusur
tebing sebatang sungai kecil tetapi curam.
“Aku letih sekali,” desis Iswari.
“Jangan berhenti,” bentak perempuan itu. “Kita masih akan
berjalan beberapa langkah lagi.
“Kakiku rasa-rasanya sudah tidak mau melangkah lagi. Sakit dan
perutku pun terasa sakit pula,” Iswari hampir menangis.
Perempuan itu tidak menjawab. Namun ia masih mendorong Iswari untuk
berjalan beberapa puluh langkah lagi, sehingga akhirnya mereka sampai
pada kelokan sungai itu. Di bawah tebing itu nampak air sungai
bagaikan tidak mengalir. Tetapi agaknya dikelokan sungai itu, air
menjadi sangat dalam.
“Nyai Wiradana,” berkata perempuan itu. “Kita sekarang berhenti
disini.”
Tubuh Iswari benar-benar terasa gemetar. Ketika ia berdiri berhadapan
dengan perempuan yang mengaku sebagai Nyai Jagabaya di Kademangan
sebelah itu, maka rasa-rasanya ia ber-diri berhadapan dengan iblis
betina yang sedang kehausan darah.
“Siapa sebenarnya kau yang disebut serigala betina itu?” bertanya
Iswari. “Dan maksudmu kau membawa aku kemari? Jika hal ini diketahui
oleh suamiku, maka kau tentu akan mendapat hukuman daripadanya.”
Tetapi yang disebut serigala betina itu tertawa. Katanya, “Nasibmu
memang buruk Nyai.”
“Katakan,” minta Nyai Wiradana. “Apa maksudmu?”
Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku
sedang mengemban satu tugas.”
“Tugas apa?” bertanya Iswari dengan jantung yang berdegupan.
“Jika suamimu mengerti apa yang aku lakukan sekarang, maka ia tidak
akan berbuat apa-apa. Yang aku lakukan ini justru karena perintah
suamimu,” jawab perempuan itu.
“Apa yang kau maksudkan?” desak Iswari.
“Baiknya aku berterus terang, karena kau tidak akan mempunyai
kesempatan untuk membuka rahasia ini,” berkata perempuan itu. “Aku
mendapat tugas dari suamimu untuk membunuhmu.”
“Membunuhku? Kau bohong. Suamiku tidak akan berbuat seperti itu,”
suara Nyai Wiradana hampir tidak dapat meloncat dari bibirnya.
“Jangan menyesali nasib,” berkata perempuan itu. “Aku adalah
perempuan yang paling kotor di antara kaumku. Aku telah membunuh
beberapa orang dalam kerjaku. Merampok, menyamun dan merampas milik
orang lain. Pada saat aku sudah melupakan darah yang tercecer pada
tubuhku, maka aku mendapat tugas yang mirip kerja itu. Membunuhmu.”
“Omong kosong,” teriak Iswari. “Tentu bukan suamiku.”
“Jangan berteriak Nyai,” desis perempuan itu. “Tidak ada gunanya.
Tempat ini tidak pernah dikunjungi orang.”
|
Jumat, 15-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 160 |
“WAJAH Iswari menjadi semakin
pucat. Selangkah ia bergeser surut. Tetapi nampaknya perempuan itu
memang terlalu garang.
Namun tiba-tiba saja suara perempuan itu berubah, “Nya. Aku memang
seorang pembunuh. Tetapi ketika aku menyadari, bahwa Nyai baru
mengandung rasa-rasanya hatiku tergetar karenanya. Jika aku membunuhmu,
berarti aku telah membunuh dua nyawa sekaligus. Dua nyawa yang sama
sekali tidak berdosa.”
Iswari justru menjadi termangu-mangu melihat sikap perempuan itu.
Namun ia menjadi bagaikan terbungkam karenanya.
Ketika perempuan itu selangkah maju, maka Iswari pun melangkah mundur.
Namun perempuan itu berdesis, “Jangan mundur lagi Nyai. Kau dapat
terjerumus ke dalam tebing. Jika kau terperosok masuk ke dalam kedung
itu, maka kau tidak akan pernah dapat keluar lagi. Bukankah kita
sama-sama mengetahui bahwa di dalam kedung itu bahkan disungai kecil
ini ka-dang-kadang terdapat buaya-buaya kerdil namun yang ternyata
sangat rakus itu.”
Kulit tubuh Iswari meremang. Di luar sadar-nya ia berpaling, memandang
ke arah kedung dibawahnya.
“O,” Iswari memekik kecil.
“Tenanglah Nyai,” berkata orang yang mengaku Nyai Jagabaya itu.
“Aku sudah berterus terang kepada Nyai, bahwa aku mendapat perintah
dari suamimu untuk membunuhmu karena aku menganggap bahwa kau tidak
akan pernah dapat membuka rahasia ini. Tetapi ternyata bahwa nuraniku
berkata lain. Betapapun kotornya tanganku oleh darah orang-orang yang
pernah aku bunuh, tetapi sebenarnyalah Nyai, aku tidak sampai hati
membunuhmu.”
Ternyata perempuan itu seakan-akan ingin membuktikan kata-katanya.
Sejenak kemudian maka ia pun telah menyarungkan patremnya sambil
berkata, “Nyai. Aku tidak akan membunuh Nyai. Tetapi dengan demikian
akan timbul persoalan. Jika Nyai kembali ke rumah Ki Gede, maka Ki
Wiradana akan mengetahui bahwa aku tidak melakukan kewajibanku dengan
baik.”
Iswari masih tetap terbungkam. Namun nampaknya perempuan itu berhasil
meyakinkan Iswari, katanya, “Karena itu Nyai. Marilah kita saling
menolong. Aku tidak akan membunuh Nyai, tetapi aku minta Nyai jangan
kembali ke rumah Ki Gede Sembojan. Terserah kepada Nyai, kemana Nyai
akan pergi. Bukankah Nyai berasal dari sebuah padepokan yang agak jauh,
sehingga Nyai dapat kembali ke padepokan itu dan minta kepada kakek
Nyai perlindungan? Tetapi aku pun minta perlindungan. Kakek Nyai
jangan membuka rahasia ini, karena dengan demikian justru nyawakulah
yang terancam.”
“O,” Iswari berdesah, “Kau berkata sebenar-nya?”
“Aku berkata sebenarnya Nyai. Aku akan mengatakan bahwa aku telah
membunuh Nyai dan melemparkannya kedalam kedung itu. Mereka tidak akan
ribut mencari mayat Nyai, karena mereka tentu menyangka bahwa mayat
Nyai telah dimakan oleh buaya-buaya kerdil di dalam kedung itu,”
berkata perempuan itu.
|
Buy
1 Get 1 FREE!!!

Buy it at AllPosters.com
Langsung ke KR
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 15/XI/2002
12 Oct. is Bali's mourn
Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....
KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|