|

|
|

SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Minggu, 27-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 141
BEBERAPA saat Gandar berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia melangkah meninggalkan geledeg itu tanpa menyentuh senjata peninggalan orang tuanya itu, namun yang penggunaannya telah disempurnakannya kemudian, setelah ia berada di padepokan itu.
Namun sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra, bahwa senjata bukan satu-satunya alat untuk menyelesaikan persoalan.
Meskipun demikian, ketika ia turun ke halaman di malam yang sepi menjelang keberangkatannya di keesokan harinya, di luar sadarnya Gandar telah melangkah menunju ke pintu sanggarnya. Sanggar padepokan kecil.
Perlahan-lahan ia mamasuki sanggar yang gelap, karena tidak ada sebuah lampu pun yang terpasang. Namun tiba-tiba saja Gandar mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya. Baru kemudian, ruang yang gelap itu dapat diamatinya dengan jelas, meskipun sebenarnyalah bahwa ruang itu masih tetap gelap.
Telah cukup lama Gandar tidak bermain-main di dalam sanggar itu. Diamatinya beberapa tonggak yang berdiri tegak dengan ukuran tinggi yang tidak sama. Kemudian seutas tali yang merentang. Seonggok pasir dan batu-batu kerikil.
Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia pergi bersama Kiai Badra ke Tanah Perdikan Sembojan, maka ia tidak lebih dari seorang yang dungu, yang hanya berbuat sesuatu untuk melayani Kiai Badra yang memiliki kemampuan pengobatan.
“Apakah aku masih akan tetap seperti itu pada perjalananku kali ini,” berkata Gandar di dalam hatinya.
Tetapi akhirnya Gandar itu merasa malu kepada dirinya sendiri. Yang sudah diletakkan itu seakan-akan akan diambilnya kembali karena tumbuh persoalan tentang Iswari.
“Aku akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana aku pergi beberapa saat yang lalu,” berkata Gandar di dalam hatinya.
Karena itu maka Gandar itu pun kemudian meninggalkan sanggar itu dan kembali ke dalam biliknya.
Pagi-pagi benar Gandar sudah siap. Setelah minum beberapa teguk minuman panas, maka ia pun segera minta diri kepada Kiai Badra untuk segera berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan. Satu perjalanan yang cukup jauh. Terlebih-lebih lagi, perjalanan itu rasa-rasanya merupakan perjalanan yang pada perasaan tertopang beban.
Namun perjalanan itu sendiri berlangsung tanpa hambatan apapun juga. Menjelang senja ia sudah memasuki padukuhan induk dan langsung menuju ke rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.
Tiba-tiba saja langkah Gandar itu terasa tersendat. Ia selalu teringat mimpi yang dikatakan oleh Kiai Badra. Mimpi yang menurut pengertiannya secara kasar, Iswari akan disaput oleh satu keadaan yang gelap. Keadaan yang tidak diketahui.
Karena itu, maka Gandar pun mulai mengatur perasaannya. Ia harus tetap dapat mempergunakan nalarnya sebaik-baiknya. Jika ia menjumpai satu persoalan, maka ia harus memecahkannya dengan nalar. Tidak semata-mata dengan perasaan.
Ketika Gandar melewati gardu-gardu peronda, agaknya masih belum terisi oleh anak-anak muda yang biasa berjaga-jaga. Namun di regol rumah Kepala Tanah Perdikan, obor sudah menyala dan beberapa orang peronda pun sudah siap.
Debar jantung Gandar pun terasa menjadi semakin cepat. Namun selangkah demi selangkah ia pun mendekati regol. Ia sadar, bahwa ia sudah banyak dikenal di padukuhan induk itu sehingga ia tidak akan mengalami kesulitan untuk datang ke rumah Kepala Tanah Perdikan itu untuk menemui Ki Gede dan Iswari serta suaminya.
Sebagaimana di duganya, maka kedatangannya justru mendapat sambutan yang ramah dari anak-anak muda Tanah Perdikan itu.
(Bersambung)-o.
Senin, 28-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 142
“MARILAH Gandar,” sambut salah seorang dari para peronda, “Sudah lama kau tidak datang menengok Nyai Wiradana.”
“Bukankah belum terlalu lama?” bertanya Gandar.
“He, bukankah sudah lebih dari setengah tahun?” sahut yang lain.
Gandar mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia menjawab, “Ya. Lebih setengah tahun. Tetapi bukankah sekarang aku sudah disini?”
“Marilah. Ki Gede ada di ruang dalam,” berkata seorang di antara anak-anak muda itu.
Dalam pada itu, salah seorang dari peronda itu telah menyampaikan kepada Ki Gede, bahwa ada seorang tamu yang ingin menemuinya.
“Siapa?” bertanya Ki Gede.
“Gandar,” jawab peronda itu.
“Gandar,” ulang Ki Gede, “Bawalah ia masuk.”
Sejenak kemudian, Gandar itu pun telah dibawa masuk langsung ke ruang dalam melintasi pendapa dan pringgitan. Demikian ia memasuki pintu, Ki Gede dengan tergopoh-gopoh telah ber-diri menyambutnya.
“Marilah, marilah,” Ki Gede mempersilakan dengan ramah.
Gandar pun kemudian duduk di ruang dalam, ditemui langsung oleh Ki Gede. Dengan wajah yang cerah Ki Gede pun kemudian menanyakan keselamatan Gandar dan Kiai Badra yang tidak datang bersamanya.
“Kami semua dalam keadaan selamat Ki Gede,” jawab Gandar.
“Syukurlah. Kami sudah merasa terlalu lama tidak mendapat kunjungan Kiai Badra dan kau, Ki Sanak,” berkata Ki Gede kemudian.
Gandar tersenyum. Rasa-rasanya perasaannya pun menjadi sejuk melihat sikap Ki Gede, meskipun ia masih belum bertemu langsung dengan Iswari. Jika benar terjadi sesuatu dengan Iswari, maka sikap Ki Gede dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan tentu berbeda.
Dengan demikian, maka perlahan-lahan ketegangan di hati Gandar pun telah memudar. Ia pun kemudian sebagaimana Ki Gede nampak menjadi semakin cerah dan lancar.
Namun dalam pada itu, maka tiba-tiba saja Ki Gede berkata, “Kau tentu ingin bertemu dengan adikmu. Biarlah seseorang memanggilkannya.”
“Ya Ki Gede. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Iswari,” jawab Gandar.
“Tentu, selama kau tidak bertemu dengan aku,” sahut Ki Gede sambil tertawa.
Dalam pada itu, maka Ki Gede pun kemudian menjenguk ke ruang belakang. Disuruhnya seorang pelayan untuk memanggil Iswari yang agaknya masih berada di dapur menyiapkan makan malam Ki Gede Sembojan.
Namun dalam pada itu, ketika Ki Gede sudah duduk lagi menemui Gandar, seorang pelayan datang sambil berkata, “Ki Gede, Nyai Wiradana sedang berada di pakiwan. Agaknya ia sedang muntah-muntah.”
“Muntah-muntah,” Gandarlah yang menyahut dengan serta merta, “Apakah Iswari sedang sakit?”
Gandar menjadi heran, justru Ki Gede menanggapinya sambil tertawa saja. Jawabnya, “Jangan cemas. Adikmu tidak apa-apa. Meskipun setiap kali ia selalu muntah-muntah, tetapi kau boleh ikut bergembira karenanya.”
“Kenapa?” wajah Gandar menjadi tegang.
“Adikmu sedang mengandung,” jawab Ki Gede.
Wajah Gandar justru menegang. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hati, Gandar mengucap syukur kepada Yang Maha Agung, bahwa Iswari justru telah mendapat satu karunia bagi kelangsungan keturunannya kelak. Dengan melupakan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya, maka Gandar merasakan kegembiraan sebagaimana dirasakan oleh Ki Gede yang menunggu hadirnya seorang cucu.
“Gandar,” berkata Ki Gede kemudian. “Sebentar lagi kita akan merayakan dengan menyelenggarakan upacara tujuh bulan kandungan Iswari. Karena itu, aku minta kau jangan meninggalkan Tanah Perdikan ini sebelum upacara itu kami selenggarakan. Adakah kebetulan sekali bahwa kau datang justru pada saat kami akan mengirim seseorang untuk memberitahukan hal ini kepada kakek Iswari, Kiai Badra.”
(Bersambung)-c.
Selasa, 29-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 143
 |
“Tetapi Ki Gede,” berkata
Gandar kemudian. “Sebaiknya aku kembali untuk memberitahukan hal ini
kepada Kiai. Kiai tentu ingin sekali menghadiri upacara cucunya itu.”
“Ah, bukankah aku dapat mengirimkan orang lain? Beberapa orang
disini sudah pernah melihat padepokan kecil ini, sehingga kau tidak
perlu meninggalkan Tanah Perdikan ini. Biarlah aku menyuruh dua tiga
orang untuk menjemput Kiai Badra.”
Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak membantah. Untuk sementara
ia memang belum memikirkan, siapakah yang akan memberitahukan hal ini
kepada Kiai Badra, karena pada saat itu muncul Iswari yang pucat dan
berkeringat.
“Kakang,” desis Iswari dengan wajah yang cerah, “Kau datang
sendiri saja?”
Terasi denyut nadi Gandar semakin cepat. Namun ia pun dapat menguasai
perasaannya. Karena itu, ia pun segera menjawab, “Ya Iswari. Aku
datang sendiri.”
“Kenapa tidak bersama kakek?” bertanya Iswari pula.
“Kakek sedang sibuk di padepokan,” jawab Gandar.
“Sibuk? Apa saja yang dikerjakan kakek di padepokan? Bukankah ada
beberapa orang cantrik yang membantunya?” desak Iswari pula.
Gandar mencoba untuk tertawa. Katanya, “Sekarang Kiai Badra berusaha
untuk beternak. Itulah sebabnya, maka ia tidak dapat setiap saat
meninggalkan padepokan. Para cantrik masih belum terbiasa dengan
kesibukan baru itu, sehingga Kiai Badra masih harus selalu menuntunnya.”
Tetapi Iswari justru tertawa. Meskipun demikian ia tidak membantah.
Bahkan kemudian katanya, “Ternyata kau memang mempunyai banyak
rejeki kakang. Kau datang tepat pada saat Ki Gede akan makan malam.”
“Bagus,” sahut Ki Gede. “Kita akan makan bersama.”
Sejenak kemudian, maka mereka pun sudah duduk mengelilingi hidangan
makan malam. Nasi hangat dengan sayur yang hangat pula. Sambal terasi
dan lalapan. Beberapa potong ikan gurameh yang diambilnya dari kolam
sore tadi.
“Marilah,” Ki Gede mempersilakan.
Namun rasa-rasanya masih ada yang kurang bagi Gandar. Sejenak ia
menunggu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Dimanakah suami Iswari?”
“O,” Ki Gede tersenyum. “Ia sekarang banyak bertugas keluar
padukuhan induk. Menurut keterangannya, keadaan menjadi agak kurang
meyakinkan. Sekali-kali para peronda melihat orang-orang yang
mencurigakan. Menurut dugaan Wiradana, mereka mungkin para pengikut
telik sandi yang dikirim oleh Kalamerta atau para pengikutnya yang
masih mendendam.”
Gandar mengangguk-angguk. Namun terasa aneh, bahwa saat di gardu-gardu
masih belum ada seorang peronda pun, Wiradana telah meninggalkan
rumahnya tanpa menunggu makan malam.
Nampaknya Iswari dapat menangkap perasaan Gandar. Karena itu, maka
katanya, “Kakang Wiradana selalu setia kepada tugas-tugasnya. Tetapi
bukankah itu sudah wajar?”
“Apakah hal seperti ini dilakukannya setiap hari?” bertanya Gandar.
“Ya. Kebanyakan demikian,” sahut Iswari.
“Sebelum makan?” bertanya Gandar pula.
Iswari merenung sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil
menjawab, “Ya kakang. Hampir setiap hari kakang Wiradana tidak
sempat makan malam.”
Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata,
“Iswari. Kau adalah seorang istri. Adalah kewajibanmu untuk
memberinya peringatan, bahwa bekerja terlalu berat dan dalam pada itu
melupakan makan dan minum, akan berakibat kurang baik bagi kesehatan
wadagnya. Bukankah kau cucu seorang yang mumpuni di bidang pengobatan,
sehingga kau akan dapat mengatakan kepada suamimu tentang hal itu.”
|

Rabu, 30-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 144
 |
Iswari tiba-tiba menundukkan
kepalanya. Namun dalam pada itu Ki Gede lah yang menyahut,
“Sebenarnya tidak kurang Iswari memperingatkan suaminya seperti yang
kau kehendaki itu Ki Sanak. Tetapi Wiradana sejak kecil memang
merupakan seorang yang keras kepala. Jika ia sudah mempunyai rencana,
maka sulit untuk dapat dicegah. Bahkan aku pun sudah pula
memper-ingatkan. Bukan saja tentang makan dan minum tetapi juga
tentang keselamatan dirinya. Tetapi agaknya ia benar-benar merasa
bertanggung jawab atas keselamatan Tanah Perdikan ini.”
Gandar mengangguk-angguk. Ia mencoba untuk mengerti, betapa tnggi
perhatiannya terhadap Tanah Perdikannya.
“Mungkin ia ingin menunjukkan kepada ayahnya, bahwa ia sudah siap
untuk menggantikan kedudukannya, menjadi Kepala Tanah Perdikan.
Mungkin bahkan sebelum bayinya lahir,” pikir Gandar.
Demikianlah, maka Gandar pun kemudian makan malam bersama Ki Gede
dilayani oleh Iswari tanpa Wiradana. Dari Iswari, Gandar mendengar
bahwa biasanya Wiradana kembali menjelang dini hari. Bahkan
kadang-kadang justru sampai pagi.
Perangai Wiradana itu ternyata menarik perhatian Gandar. Ketika
kemudian di malam itu, Gandar dipersilakan untuk beristirahat di
Gandok, maka ia mulai merenungi tingkah laku Wiradana. Bagi Gandar
tingkah laku Wiradana memang agak berlebihan.
“Tetapi aku belum mengetahui keadaan Tanah Perdikan ini di saat-saat
terakhir,” berkata Gandar didalam hatinya. “Mungkin keadaannya
memang menuntut sikap Wiradana yang demikian.”
Namun karena itu udara malam yang panas, maka rasa-rasanya Gandar
tidak tahan untuk berada di dalam biliknya. Sementara itu, ia pun
memang belum mengantuk. Karena itu, maka ia pun kemudian keluar dari
biliknya dan melangkah menuju ke gerbang menemui anak-anak muda yang
sedang meronda.
“Marilah Gandar,” anak-anak muda itu mempersilakan.
Gandar tersenyum. Lalu katanya, “Nampaknya penjagaan terlalu ketat
malam ini.”
“Tidak,” jawab seorang anak muda, lalu, “Penja-gaan malam ini
tidak lebih dari malam-malam sebelumnya.”
“Apakah demikian pula di gardu-gardu di mulut-mulut lorong? Ketika
aku memasuki padukuhan induk ini menjelang senja, gardu-gardu masih
nampak kosong,” berkata Gandar.
“Meskipun kami tidak boleh kehilangan kewaspadaan, namun adalah satu
kenyataan, bahwa akhir-akhir ini keadaan menjadi semakin baik. Rasa-rasanya
tidak pernah ada gangguan yang berarti di dalam Tanah Perdikan ini,”
jawab salah seorang di antara anak-anak muda itu.
“Di seluruh Tanah Perdikan?” bertanya Gandar.
“Ya,” jawab anak muda itu.
“Tetapi Wiradana nampaknya terlalu sibuk di saat-saat terakhir.
Malam ini aku tidak menjumpainya di rumah,” berkata Gandar.
Anak muda itu terdiam sejanak. Namun seorang kawannya menjawab,
“Memang keamanan agak terganggu sekarang Gandar. Tetapi tidak di
dalam Tanah Perdikan ini. Justru di luarnya. Agaknya Wiradana memang
selalu mengadakan hubungan dengan anak-anak muda di luar Tanah
Perdikan ini. Menurut keterangannya, gerombolan Kalamerta masih saja
berkeliaran meskipun mereka tidak berani memasuki Tanah Perdikan ini.”
Gandar mengangguk-angguk. Ada beberapa hal yang menarik. Tetapi ia
mengambil satu kesimpul-an, bahwa Wiradana selalu pergi seorang diri.
Tetapi Gandar tidak berani mengambil kesimpulan lebih lanjut. Yang
kemudian terngiang kembali di telinganya adalah mimpi Kiai Badra.
Mimpi yang dalam banyak hal tidak lebih dari bunga-bunga orang yang
sedang tidur. Namun dalam satu masalah tertentu, mimpi kadang-kadang
dapat memberikan isyarat yang berarti.
Namun dengan demikian, maka Gandar pun telah bertekad untuk tetap
berada di Tanah Perdikan sebagaimana disarankan oleh Kiai Badra.
Adalah kebetulan bahwa Ki Gede akan menyelenggarakan satu upacara,
sehingga ia mempunyai alasan yang tidak segera dicurigai orang lain
jika ia berada agak lama di Tanah Perdikan Sembojan. (Bersambung)-m. |
Kamis, 31-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 145
 |
DALAM pada itu, untuk beberapa lama
Gandar berada di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Namun
kemudian ia pun minta diri untuk kembali ke dalam biliknya.
"Aku sudah mengantuk," berkata Gandar.
"Kau tentu lelah," berkata salah seorang anak muda. "Bukankah
kau baru sore menjelang senja tadi kau datang?"
"Ya," Gandar mengangguk-angguk. "Sekarang, rasa-rasanya
aku sudah ingin tidur. Besok dan malam-malam berikutnya aku akan dapat
berada di gardu ini sampai fajar."
"Besok bukan aku yang meronda," jawab anak muda itu.
"O," Gandar mengangguk-angguk. "Tetapi sama saja bagiku.
Siapapun yang meronda."
Sejenak kemudian maka Gandar pun telah meninggalkan gardu peronda itu,
kembali ke dalam biliknya. Beberapa saat ia masih berangan-angan.
Namun kemudian ia pun telah tertidur nyenyak.
Di dini hari, Gandar telah terbangun sebagaimana kebiasaannya. Ia pun
segera pergi ke pakiwan dan menimba air, seperti yang selalu
dikerjakan selagi ia berada di Tanah Perdikan dahulu. Ketika pakiwan
telah penuh, maka ia pun lalu mandi, selagi pakiwan itu masih belum
dipakai. Jika saatnya orang mandi, maka pakiwan itu akan dipakai
bergantian terus menerus.
Demikian ia selesai mandi, maka ia pun me-langkah kembali ke gandok
untuk membenahi diri. Namun Gandar terkejut bukan buatan. Tiba-tiba
saja, Wiradana telah muncul dari sudut kandang di sebelah longkangan.
"Wiradana," desis Gandar.
Wiradana mengangguk-angguk. Di bibirnya nampak sebuah senyum. Dengan
nada yang ramah ia bertanya, "Kapan kau datang Gandar?"
"Kemarin sore. Kau tidak ada di rumah. Menu-rut Ki Gede kau
sedang nganglang," jawab Gan-dar.
"Ya. Aku memang sedang mempunyai banyak tugas," jawab
Wiradana. Lalu, "Tetapi apakah kedatanganmu itu sekadar karena
niatmu sendiri, atau kau membawa pesan dari kakek?"
Sejenak Gandar termangu-mangu. Namun kemudian ia pun menjawab, "Tidak
ada pesan apa-apa Wiradana. Aku hanya merasa kangen kepada adikku.
Sudah kira-kira setengah tahun aku tidak menengoknya. Bahkan mungkin
lebih."
Wiradana mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Syukurlah,
jika kau hanya seka-dar menengoknya. Berapa hari kau akan berada
disini?"
Pertanyaan itu terdengar agak aneh. Tetapi Gandar tidak mau
berprasangka. Maka jawabnya, "Ki Gede minta aku tinggal disini
sampai upacara tujuh bulan yang akan segera dilaksanakan."
Wajah Wiradana menegang. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, "Dan
kau juga menyanggupinya."
"Ya," jawab Gandar.
Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun tidak bertanya
lagi. Sambil melangkah pergi ia bergumam," Aku perlu istirahat."
Tetapi tiba-tiba saja Gandar bertanya, "Apakah kau baru pulang
Wiradana?" |
Jumat, 01-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 146
“YA,” jawab Wiradana. “Aku bertanggung jawab atas pengamanan Tanah Pedikan ini.”
“Apakah kau pergi seorang diri?” bertanya Gandar pula.
Wiradana mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak selalu. Kadang-kadang aku membawa satu dua orang pengawal.”
Gandar tidak bertanya lagi. Wiradana pun kemudian masuk ke ruang dalam lewat pintu butulan.
Gandar menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian melangkah kembali menuju ke gandok.
“Aku tidak boleh berprasangka,” berkata Gandar di dalam hatinya. “Sementara Ki Gede dan Iswari tidak menaruh kecurigaan apa-apa.”
Di hari itu, Gandar tidak banyak bertemu dengan Wiradana. Seolah-olah Wiradana lebih banyak berada di dalam biliknya. Sementara itu Iswari selalu sibuk bekerja di dapur.
Namun menjelang tengah hari, Iswari telah siap berbenah diri. Ketika ia akan pergi, ia singgah sejenak di gandok untuk minta diri kepada Gandar, “Kakang, aku akan pergi ke rumah sebelah.”
“O,” Gandar yang duduk di dalam gandok pun melangkah keluar, “Untuk apa?”
“Tetangga di sebelah melahirkan tiga hari yang lalu. Aku menungguinya di saat bayi itu lahir. Agak sulit. Sejak itu aku belum mene-ngoknya lagi,” jawab Iswari.
Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Pergilah.”
Tetapi ketika Iswari melangkah turun dari tangga gandok, Gandar bertanya, “Kau tidak pergi bersama suamimu?”
“Ah. Tidak,” jawab Iswari. “Selain bukan kebiasaan laki-laki mengunjungi kelahiran, kakang Wiradana sedang beristirahat. Semalam suntuk ia nganglang.”
“Lalu di siang hari suamimu tidak banyak berbuat apa-apa?” bertanya Gandar.
“Ah, tentu saja ia melakukan tugasnya pula. Tetapi karena kewajibannya di malam hari lebih banyak menuntut waktunya, maka ia berusaha untuk mengurangi tugas-tugas di siang hari. Kakang Wiradana telah membagi tugas yang kurang penting dan dapat dikerja-kan oleh orang lain di siang hari.”
Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Ketika Iswari kemudian meninggalkannya, maka Gandar itu pun telah duduk di serambi gandok. Dipandanginya kesibukan di rumah Kepala Tanah Perdikan itu. Meskipun Ki Gede sudah menjadi cacat kaki dan tangannya, tetapi ia masih tetap berada di pendapa untuk mene-rima beberapa orang bebahu yang datang me-nemuinya.
Gandar mengerutkan keningnya, ketika ia melihat Wiradana pun kemudian duduk pula bersama ayahnya. Agaknya memang ada bebe-rapa masalah yang sedang dibicarakan oleh para berbahu.
“Namun agaknya bukan persoalan yang gawat,” berkata Gandar di dalam hatinya. Karena menilik sikap para bebahu, agaknya mereka justru sedang membicarakan sesuatu yang menarik.
Ketika kemudian sekilas Gandar memandang Wiradana yang sedang sibuk berbicara dengan tamu-tamu ayahnya itu, terasa sesuatu bergetar di dahi Gandar. Sambil menarik nafas da-lam-dalam ia berkata kepada diri sendiri, “Aku terlalu dipengaruhi oleh mimpi Kiai Badra, sehingga semua pandanganku kepada orang-orang di sekitar Iswari telah dialasi dengan kecurigaan. Agaknya aku memang tidak pantas mencurigai orang-orang yang justru sedang bekerja keras untuk kepentingan Tanah Per-dikan ini.”
Namun sebenarnyalah, alas dari sikap Gandar bukan saja karena mimpi Kiai Badra. Tetapi ia seakan-akan di dorong oleh satu keinginan untuk berbuat sesuatu bagi keselamatan Iswari. Ia merasa tidak rela melihat seandainya Iswari digigit nyamuk sekalipun. Sejak mereka bersama-sama tinggal di padepokan, maka hampir semua tingkah laku Gandar semata-mata ditujukan untuk kesenangan Iswari.
(Bersambung)-m.

Sabtu, 02-11-2002 ,
Suramnya Bayang-Bayang 147
DAN kini, mimpi Kiai Badra membuatnya sangat cemas tentang perempuan yang sedang mengandung itu.
Dalam beberapa kesempatan di hari itu, Gandar dapat berbicara pula dengan Wiradana yang datang menemuinya di gandok. Namun nada pembicaraan Wiradana agak berbeda dengan Ki Gede Sembojan. Ketika mereka membicarakan rencana upacara tujuh bulan kandungan Iswari, maka Wiradana itu pun berkata, “Sebenarnya tidak akan ada apa-apa, Gandar. Agak-nya ayah hanya mengatakan menurut basa-basi saja. Semuanya akan dilangsungkan dengan sederhana. Karena itu, bukan satu hal yang seharusnya kau lakukan untuk menunggu hari itu seandainya kau memang mempunyai kepentingan yang lain. Kecuali jika kau memang ingin menunggui adikmu. Sementara itu, agaknya Kiai Badra pun tidak perlu diberi tahu. Besok saja, jika bayi itu lahir, maka biarlah satu dua orang datang kepada kakek untuk mengabarinya.”
Gandar mengerutkan keningnya. Semula ia sudah berusaha untuk menyingkirkan segala macam prasangka. Tetapi sikap Wiradana itu justru telah menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru.
Sementara itu Wiradana pun berkata selanjutnya, “Yang sekarang lebih menarik perhatianku sebenarnya adalah justru pengamanan daerah ini. Ada beberapa laporan tentang hadirnya beberapa orang yang pantas dicurigai. Beberapa kejahatan kecil telah terjadi dipadukuhan-padukuhan justru di luar Tanah Perdikan ini. Karena itu, aku harus mendapat keterangan sebanyak-banyaknya tentang hal itu, agar dengan demiki-an aku dapat mengatur Tanah Perdikan ini sebaik-baiknya. Aku masih selalu memikirkan kemungkinan Kalamerta kembali membawa dendam di Tanah Perdikan ini.”
Gandar mengangguk-angguk. Ia tidak memberikan banyak tanggapan. Namun ia lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri. Rasa-rasa ada semacam kecemasan bahwa dengan demikian Iswari akan merasa kesepian. Bagaimanapun juga, tidaklah sewajarnya jika seorang istri terlalu sering ditinggalkan di rumah sendiri semalam-malaman.
Lebih dari itu, ada perasaan tidak rela di dalam dada Gandar melihat perlakuan Wira-dana atas Iswari apapun alasannya. Karena betapapun besarnya tanggung jawab Wiradana atas Tanah Perdikan Sembojan, namun ia pun harus bertanggung jawab pula atas kesejahteraan istrinya, lahir dan batin. Karena itu, adalah tidak wajar jika setiap malam Iswari dibiarkannya merenungi dirinya sendiri di pembaringannya justru pada saat harapannya untuk mendapatkan seorang anak sedang melambung.
Sesaat kemudian, Wiradana masih melanjutkan, “Karena itu Gandar, jangan terikat oleh keinginan ayah untuk tinggal disini sampai upa-cara tujuh bulan kandungan Iswari. Tidak akan ada apa-apa. Jika kau segan mengatakannya kepada ayah, biarlah aku saja yang mengata-kannya.”
Tetapi justru karena itu, keinginan Gandar tetap berada di Tanah Perdikan itu menjadi semakin besar. Namun ia tidak mengatakannya, bahkan tiba-tiba saja telah tumbuh rencana di dalam dirinya.
Karena itu, maka Gandar pun kemudian menjawab, “Wiradana, sebenarnyalah bahwa aku mempunyai kewajiban yang tidak dapat aku tinggalkan terlalu lama. Jika demikian halnya, maka biarlah aku berterus terang kepada Ki Gede bahwa aku tidak perlu menunggu sampai upacara itu.”
“Bagus,” desis Wiradana hampir di luar sadarnya. Sementara itu terkilas di dalam hatinya, bahwa kehadiran Gandar hanya akan mengganggu rencananya yang sudah disiapkannya bersama Warsi. Menyingkirkan Iswari. Jika perlu justru pada saat bayinya belum lahir. Bagi Warsi hal itu akan merupakan kerja yang sekaligus tanpa bersusah payah melakukan lagi untuk melenyapkan anak Iswari yang akan berhak mewarisi Tanah Perdikan ini.
(Bersambung)-m.
Minggu, 03-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung)
Suramnya Bayang Bayang 148
Karena itu, maka Wiradana itu pun berkata, “Tetapi segalanya terserah kepadamu. Jika kau ingin tinggal di Tanah Perdikan ini, kami pun akan menerimanya dengan senang hati. Namun seandainya kau harus kembali karena tugas-tugasmu di padepokanmu, maka aku kira ayah pun tidak akan berkeberatan.”
“Ki Wiradana,” berkata Gandar kemudian, “Aku akan mengambil jalan tengah-tengah. Aku akan berada beberapa hari lagi di Tanah Perdikan ini, tetapi tidak sampai upacara tujuh bulan kandungan Iswari. Dengan demikian, maka rasa-rasanya aku dapat memenuhi semua keinginannya.”
“Terserah kepadamu,” berkata Wiradana. Sebenarnya ia masih kecewa juga. Tetapi itu akan lebih baik daripada Gandar menunggu sampai hari upacara itu.
“Aku harus melenyapkan Iswari sebelum upacara,” berkata Wiradana yang hatinya sudah disusupi iblis itu.
Demikianlah, maka Gandar masih akan berada di Tanah Perdikan itu untuk beberapa hari. Namun ia akan memanfaatkan saat-saat itu sebaik-baiknya. Saat yang hanya beberapa hari itu.
Ternyata bahwa Gandar tidak dapat bertahan pada sikapnya sebagai sekadar orang yang dungu dan tidak mampu berbuat apa-apa. Meskipun ia tetap mempertahankan anggapan orang lain atasnya, tetapi ternyata bahwa ia telah berbuat sesuatu.
Ketika malam turun, maka ia tidak berada di dalam gandok tanpa diketahui oleh siapapun. Ia sempat melihat Wiradana turun di saat Tanah Perdikan Sembojan mulai diselubungi oleh kegelapan. Ternyata bahwa Gandar mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu. Di dorong oleh gejolak perasaannya, maka telah timbul di dalam hatinya keinginan untuk mengetahui, apa yang dilakukan oleh Wiradana di malam hari.
Karena itu, maka Gandar pun telah mengikutinya. Ia sadar, bahwa Wiradana anak Ki Gede Sembojan sekaligus muridnya, adalah seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ki Gede sendiri telah berhasil membunuh orang yang bernama Kalamerta. Nama yang sangat disegani bukan saja di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi nama itu rasa-rasanya telah menghantui seluruh Kadipaten Pajang.
Dengan demikian maka Gandar pun telah melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia tidak boleh gagal, sehingga Wiradana mengetahui apa yang dilakukannya. Jika demikian, maka persoalannya benar-benar akan menjadi sangat menyulitkan Iswari. Seandainya sebelumnya tidak ada persoalan apapun juga, maka yang dilakukannya itu justru akan menghancurkan hidup Iswari dan hari depannya.
Namun ternyata bahwa Gandar yang dianggap dungu itu mampu melakukannya. Ia mampu mengikuti perjalanan Wiradana yang tergesa-gesa, keluar dari Tanah Perdikan.
“Apakah setiap malam Wiradana menempuh perjalanan yang cukup panjang ini?” bertanya Gandar di dalam hatinya.
Semakin lama Gandar rasa-rasanya menjadi semakin ingin tahu, kemana Wiradana itu akan pergi. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin rapat mengikutinya, agar ia tidak kehilangan jejak, namun juga tidak diketahui bahwa ia telah mengikutinya.
Ketika kemudian Wiradana memasuki sebuah padukuhan, jantung Gandar berdebar semakin cepat. Nampaknya daerah tetangga Perdikan Sembojan itu bukannya satu Tanah perdikan. Tetapi satu Kademangan yang tidak begitu besar. Kegiatan anak-anak mudanya pun tidak sebagaimana dilakukan oleh anak-anak muda Sembojan, apalagi setelah Ki Gede Sembojan membunuh orang yang bernama Kalamerta.
Karena itu, maka rasa-rasanya padukuhan itu sangat lengang. Tidak ada orang sama sekali di gardu di mulut padukuhan. Ketika Wiradana memasuki padukuhan itu, tidak seorang pun yang menyapanya. Setiap pintu rumah sudah tertutup rapat. Bahkan regol-regol halaman pun telah tertutup pula. (Bersambung)-m.

Senin, 04-11-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 149
tidak ada kesan sama sekali bahwa padukuhan itu telah di jamah oleh kerusuhan sebagaimana dikatakan oleh Wiradana.
Kecurigaan Gandar menjadi semakin meningkat, ketika kemudian Wiradana memasuki sebuah regol halaman rumah yang tidak terlalu besar.
Jantung Gandar menjadi semakin cepat berdenyut. Namun ia masih berusaha untuk dapat berbuat sebaik-baiknya. Baginya Wiradana adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi karena ia adalah anak dan murid Ki Gede Sembojan.
Untuk beberapa saat lamanya, Gandar tidak segera mendekati rumah itu. Ia berusaha untuk menenangkan hatinya, agar ia mampu memusatkan kemampuannya, menahan pernafasannya sehingga desahnya tidak mudah didengar oleh orang lain. Apalagi orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Baru setelah ia berhasil menenangkan dirinya maka dengan sangat berhati-hati Gandar telah mendekati rumah kecil itu. Dengan berlandaskan kemampuannya, maka ia berusaha untuk menyerap segala macam bunyi yang mungkin timbul dari dirinya. Pernafasannya, langkahnya, mungkin jika tubuhnya menyentuh dinding, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang dapat terjadi.
Dalam keadaan yang demikian itulah, Gandar kemudian mendekati dinding rumah itu.
Namun langkahnya tiba-tiba berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Ada semacam hambatan di dalam dirinya untuk meneruskan niatnya.
“Bagaimanakah jika aku melihat sesuatu yang dapat menyakiti hati Iswari,” berkata Gandar di dalam hatinya.
Sejenak Gandar termangu-mangu. Namun dorongan ingin tahunya kemudian telah memaksanya untuk bergeser semakin dekat dengan dinding rumah kecil itu.
Dengan ketajaman pendengarannya, maka dari balik dinding Gandar mendengar percakapan di dalam. Perlahan-lahan sekali. Tetapi jelas bagi Gandar.
Terasa jantung Gandar bagaikan akan terlepas dari tangkainya. Dalam beberapa saat kemudian, ia tahu pasti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Apa yang dilakukan oleh Wiradana jika ia pergi meninggalkan rumahnya, meninggalkan Iswari dan meninggalkan Tanah Perdikannya di malam hari. Hatinya yang sudah mulai tenang itu telah bergejolak kembali. Rasa-rasanya ia ingin meloncat dan mencekik Wiradana yang curang itu.
Namun untunglah, bahwa Gandar masih dapat menahan diri. Rasa-rasanya masih ada satu keinginan untuk membuktikannya dengan penglihatannya. Apa yang telah dilakukan oleh Wiradana di rumah itu. Seakan-akan bukan oleh kehendaknya sendiri, Gandar telah bergeser melekat dinding. Ketika ia menemukan sebuah lubang di antara anyaman bambu dan tiang kayu, maka ia telah mengintip ke dalam.
“O,” Gandar mengeluh. Ia melihat Wiradana duduk bersama seorang perempuan yang sangat cantik. Seorang perempuan yang menyambutnya dengan manja dan agaknya telah menyediakan makanan dan minuman yang hangat baginya.
Namun dalam pembicaraan mereka, Gandar mengetahuinya bahwa keduanya telah menjadi suami istri sebagaimana Wiradana dengan Iswari.
Tubuh Gandar menjadi gemetar. Tetapi justru dengan demikian, maka ia telah kehilangan pemusatan nalar budinya untuk menyerap bunyi yang timbul dari dirinya. Karena itu, maka penyerapannya pun menjadi berkurang pula.
Gandar baru sadar, baha ia telah melakukan sesuatu kesalahan ketika tiba-tiba saja ia melihat perempuan yang duduk di samping Wiradana itu mengangkat wajahnya, justru pada saat Wiradana baru menghirup minuman hangatnya, sehingga Wiradana tidak memperhatikannya.
(Bersambung)-o.
Buy
1 Get 1 FREE!!!

Buy it at AllPosters.com
Selasa, 05-11-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 150 |
“Kakang,” tiba-tiba saja
terdengar suara perempuan cantik itu, “Ada sesuatu yang terlupa. Aku
akan mengambil gula kelapa di dapur sejenak.”
“Minuman ini sudah cukup manis,” berkata Wiradana.
Perempuan itu tersenyum. Sambil berdiri ia menepuk bahu Wiradana
sambil berdesis, “Hanya untuk sekejap. Nanti kita makan bersama-sama.”
Perempuan cantik itu pun kemudian berdiri dan melangkah ke dapur.
Gandar menyadari kelengahannya. Ia pun kemudian telah kembali
memusatkan ilmu serapnya, sehingga tidak ada lagi bunyi apapun yang
timbul daripadanya. Bahkan seandainya ia menyentuh dinding sekalipun.
Namun sebenarnyalah Gandar ingin tahu, apa yang akan dilakukan
perempuan cantik itu di dapur.
Dengan hati-hati Gandar bergeser dari tempatnya. Melihat arah
perempuan itu, Gandar dapat menduga, di manakah letak dapur di rumah
itu.
Karena itu, maka ia pun telah melingkari sudut rumah itu dan berusaha
untuk dapat mengintip pula ke dalam dapur.
Ternyata Gandar menemukan lubang kecil di sela-sela anyaman dinding.
Dari sela-sela itu ia melihat ke dalam dapur yang gelap. Namun dengan
mengerahkan kemampuannya, maka pandangan matanya pun menjadi semakin
tajam sehingga dapat mengatasi kegelapan dapur yang lampunya sudah
tidak dinyalakan lagi itu.
Namun tiba-tiba jantungnya berdegup lebih cepat lagi. Bahwa ia
menghadapi satu kenyataan tentang Wiradana yang mempunyai istri yang
lain kecuali Iswari dan telah membuat darahnya menjadi panas.
Namun kemudian ia telah melihat satu kenyataan lain yang membuat
darahnya semakin mendidih.
Ternyata Gandar melihat perempuan cantik itu berdiri tegak sambil
menengadah kepalanya. Tangannya ditekuk pada sikunya sejajar di
sebelah menyebelah tubuhnya dengan jari-jari yang mengepal.
“Gila,” desis Gandar di dalam hatinya. Ia mengenal sikap itu.
Sikap pemusatan kekuatan lahir dan batin dari satu aliran ilmu yang
mendebarkan. Satu garis keturunan dengan ilmu yang dimiliki oleh
Kalamerta.
“Siapakah sebenarnya perempuan ini?” bertanya Gandar kepada
dirinya sendiri.
Namun ia tetap sadar akan dirinya. Ia pun telah mengerahkan segenap
kemampuannya untuk mempertinggi daya serapnya, karena itu ia tahu
bahwa agaknya perempuan itu telah mendengar sesuatu, sehingga ia pun
telah berusaha mendengar lagi dengan memusatkan ilmunya untuk
mempertajam pendengarannya.
Sebenarnyalah memang telah terjadi satu benturan ilmu. Ilmu yang
melandasi Gandar atas ilmu serap bunyi, dan ilmu Warsi yang mampu
mempertajam daya tangkap pendengarannya.
Namun pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Sejenak kemudian
terdengar suara Wiradana memanggil, “Warsi.”
(Bersambung)-k. |
Langsung ke KR
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 5/XI/2002
12 Oct. is Bali's mourn
6 of Nov is Ramadhan Day.
Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....
KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|