|

Buy it at AllPosters.com
|
|

SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Kamis, 17-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 131
|
WARSI memang bertindak hati-hati.
Ia selalu mengingat pesan pengendangnya yang disebutnya sebagai
ayahnya. Ia harus merupakan seorang perempuan yang halus dan luruh.
Sehingga dengan demikian, maka hidupnya sehari-hari tidak
mengesankannya sebagai seorang penari yang menari disepanjang jalan
dan menyusuri halaman dari rumah ke rumah.
Tetapi tanpa cara yang demikian, maka sulitlah agaknya bagi
Warsi untuk menarik perhatian Wiradana. Karena sikap bagi perannya
sebagai penari, maka Warsi sempat memikat hati Wiradana dengan
kecantikannya, karena di dalam penampilannya, Warsi tentu merias diri.
Justru sebaik-baiknya.
Ternyata pertemuan itu adalah permulaan dari pertemuan-pertemuan
selanjutnya yang kemudian berlangsung. Warsi yang dengan sengaja
memikat hati Wiradana telah berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya.
Sementara pengendangnya, yang diakunya sebagai ayahnya selama mereka
berada di Sembojan telah memberikan petunjuk-petunjuk yang berarti.
Namun dalam pada itu, segala sesuatunya ma-sih tetap tersembunyi bagi
Iswari. Wiradana sen-diri setiap kali tersentuh hatinya melihat Iswari.
Ia selau bersikap baik sebagai seorang istri. Bahkan ia memiliki
ketrampilan dan ter-nyata ia mampu menempatkan dirinya sebagai istri
seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang hampir tiba saatnya untuk
memegang kendali pemerintahan.
Apalagi ketika kemudian kakeknya, Kiai Badra dan Gandar telah
meninggalkan rumah Ki Gede Sembojan. Maka sikap Iswari menjadi semakin
baik.
Sementara itu, Ki Gede Sembojan sendiri, ternyata sangat mengagumi
menantunya. Ia memang menganggap bahwa Iswari memiliki kele-bihan.
Jika ia ingin mengambilnya sebagai me-nantu bukan saja karena ia
merasa berhutang budi kepada Kiai Badra. Tetapi menurut penda-pat Ki
Gede, Iswari memang seorang perempuan yang cerdik dan trampil.
Dalam pada waktu yang singkat, Iswari berhasil menempatkan diri di
antara perempuan-perempuan Tanah Perdikan. Karena Ki Gede tidak lagi
banyak dapat berbuat bagi Tanah Perdikannya, maka segala sesuatunya
telah dilakukan oleh Wiradana didampingi oleh istrinya, Iswari.
Ketika Ki Gede mengetahui, bahwa Iswari te-lah mengandung, maka
alangkah senang hati orang tua itu. Bahkan ketika ia makan bersama
Wiradana dan istrinya, terucap dari bibir Ki Gede, “Wiradana.
Satu-satunya keinginanku sekarang adalah menimang seorang cucu. Aku
tidak peduli, apakah cucuku laki-laki atau perempuan. Bagiku sama saja.
Jika laki-laki, maka ia adalah pewaris Tanah Perdikan ini. Sedangkan
jika ia perempuan, maka kita akan menunggu saat lahirnya seorang
laki-laki. Jika anak laki-laki itu tidak lahir juga, maka akhirnya
yang perempuan itu pun akan mempunyai seorang suami yang akan dapat
melakukan tugas seorang Ke-pala Tanah Perdikan sepeninggalanmu.”
Jantung Wiradana berdegup semakin keras. Di luar sadarnya terkilas
wajah penari yang cantik itu, yang lambat laun telah berhasil
menghujamkan tajamnya duri menusuk ke pusat perasaannya.
Namun Wiradana ternyata mampu menyembunyikan perasaannya. Bahkan ia
masih sempat tersenyum sambil menjawab, “Kita akan merayakan hari
kelahiran anak itu dengan meriah, ayah.”
“Tidak saja pada hari kelahiran. Tetapi pada upacara tujuh bulan,
seluruh Tanah Perdikan akan menyambutnya. Upacara yang harus terasa
sampai ke setiap pintu rumah.”
“Ah,” desis Iswari. “Itu berlebih-lebihan Ki Gede. Sebaiknya
semua upacara dilakukan dengan sederhana. Tetapi memberikan
kekhidmatan. Karena pada hakikatnya, upacara tujuh bulan adalah satu
permohonan. Selain keselamatan bagi bayi akan lahir kemudian, juga
permohonan agar kepada bayi yang lahir dikurniakan ujud kewadagan dan
sifat kejiwaan yang baik.”
(Bersambung)-c. |
Jumat, 18-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 132 |
KI Gede mengerutkan keningnya.
Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. “Kau benar Iswari. Agaknya
memang demikian.”
“Karena itu, yang penting adalah permohonan itu sendiri. Ungkapan
lahiriahnya dapat saja dilakukan dengan sederhana tanpa mengurangi
kesungguhan permohonan itu,” berkata Iswari kemudian.
Ki Gede masih mengangguk-angguk. Baginya Iswari memang seorang
perempuan yang memiliki banyak kelebihan dari perempuan-perempuan yang
lain. Jika semula ia agak meragukan, karena Iswari adalah gadis sebuah
padepokan kecil, ternyata kemudian bahwa gadis itu jauh lebih baik
dari yang diduganya.
Namun dalam pada itu, bagi Wiradana sendiri, segalanya justru menjadi
kabur. Jika sebelumnya ia mulai melihat kelebihan itu pada istrinya,
namun sejak kehadiran Warsi untuk yang kedua kalinya, maka yang nampak
pada Wiradana hanya sekadar kesederhanaannya. Memang Iswari masih
tetap sederhana. Ia jarang sekali merias diri, apalagi
berlebih-lebihan sebagai seorang tledek yang sudah siap untuk menari.
Dalam pada itu, kegelapan yang menyelubungi hati Wiradana semakin lama
memang menjadi semakin tebal. Bahkan akhirnya dunianya telah
benar-benar menjadi kelam, ketika pada suatu saat, ia tidak dapat lagi
mengekang dirinya untuk mengucapkan satu keinginan kepada Warsi,
“Warsi, sebenarnyalah aku ingin memperistrimu.”
Satu kalimat yang menentukan bagi Warsi. Sejenak ia menunduk sambil
bermain-main dengan jarinya. Seolah-olah ia tidak kuasa untuk
mendengarkan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Wiradana.
Sehingga dengan demikian maka Wiradana pun mengulanginya, “Kau
dengar Warsi. Kau terlalu cantik bagi seorang penari yang setiap hari
berjalan menyusuri lorong-lorong di padukuhan-padukuhan. Sebenarnyalah
sudah sepantasnya jika kau menjadi seorang istri yang baik. Karena itu,
maka aku ingin memintamu untuk menjadi istriku.”
Wajah Warsi masih menunduk. Namun kemudian dari sela-sela bibirnya
yang tipis kemerahan ia berkata lambat sekali, hampir hanya dapat
didengar sendiri, “Apakah kau bergurau?”
“Tidak Warsi,” jawab Wiradana dengan serta merta, “Aku tidak
bergurau. Sejak aku melihat kau untuk yang pertama kali, maka
rasa-rasanya ada sesuatu yang menyentuh perasaanku, dan seakan-akan
terdengar suara yang berbisik di telingaku, bahwa kau adalah seorang
perempuan yang pantas menjadi jodohku.”
Wajah Warsi menjadi semakin menunduk. Tetapi semakin lirih ia berkata,
“Sebenarnyalah demikian pula telah terbersit dihatiku. Ketika aku
melihat kau datang mengunjungi rombongan kecilku yang hina ini, maka
perasaanku telah menjadi bergolak. Tetapi aku tidak dapat ingkar akan
kenyataanku, bahwa aku adalah seorang pengamen yang tidak berharga.”
“Ah,” sahut Wiradana, “Pekerjaan bagi kita tidak ubahnya seperti
selembar baju. Jika itu sudah kita tinggalkan, maka kita akan dapat
memakai baju yang lain. Demikian jika saatnya kau melepaskan
pekerjaanmu sebagai penari yang menyusuri jalan-jalan, maka kau akan
dapat mengenakan baju yang lain.”
Tetapi sambil menunduk Warsi menggeleng lemah, “Tidak. Sebaiknya kau
tidak melakukannya. Kau akan menyesal di kemudian hari. Apalagi,
bukankah kau sudah beristri?”
Wajah Wiradana menjadi merah. Tiba-tiba saja dirinya bagaikan
dilemparkan pada satu kenyataan, bahwa ia memang sudah beristri.
Tetapi ternyata bahwa kegelapan benar-benar telah menyelubungi hatinya.
Dengan sendat ia berkata, “Benar Warsi. Aku memang sudah beristri,
tetapi apa artinya seorang istri yang kehadirannya seakan-akan
dilontarkan begitu saja kedalam dunia oleh kekuasaan seseorang yang
tidak dapat aku sanggah. Ayahkulah yang memaksaku untuk mengawini
perempuan padepokan yang bodoh itu.”
(Bersambung)-c. |
Sabtu, 19-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 133 |
SAMBIL masih menundukkan kepalanya
Warsi berdesis, "Tetapi bukankah istrimu sudah mengandung?
Seorang istri yang mengandung merupakan satu pertanda, bahwa hidup
keluarga yang dibinanya telah menemukan satu keserasian yang manis.
Tentu keduanya saling mencintai sehingga cinta itu kemudian telah
menumbuhkan tunas bagi masa depan."
"Kau salah sangka Warsi," jawab Wiradana. "Sebagaimana
aku menerima Iswari menjadi istriku, maka yang aku lakukan kemudian
adalah sekadar melakukan kewajiban."
"Bukankah itu satu dosa?" bertanya Warsi.
"Yang berdosa adalah yang memaksa aku untuk mengawini seorang
perempuan yang tidak aku cintai," jawab Wiradana.
Namun Warsi juga menjawab, "Biarlah aku sekadar bermimpi menjadi
istri seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang tampan dan yang menurut
pengakuannya juga mencintaiku. Tetapi jika kemudian, maka yang tinggal
adalah perasaan pedih oleh luka dihati."
"Tidak. Tidak Warsi," berkata Wiradana. "Kita akan
kawin. Apapun yang akan terjadi."
"Aku tidak ingin menemukan kebahagiaan di atas penderitaan orang
lain. Jika kau kawin dengan aku, maka istrimu akan mengalami kepahitan
hidup yang mungkin tidak akan tertanggungkan lagi," jawab Warsi.
"Aku dapat mengatur segala-galanya," berkata Wiradana.
"Biarlah ia merasa tetap menjadi seorang istri dari anak Kepala
Tanah Perdikan Sembojan. Biarlah ia tetap dapat keadaannya. Tatapi ia
akan dapat memiliki jiwaku, karena aku akan menyerahkan kepadamu
sebulat-bulatnya."
"Lalu, siapakah aku kemudian dihadapanmu?" tiba-tiba saja
Warsi bertanya.
"Kau akan menjadi istriku pula. Kita dapat tinggal ditempat yang
tidak akan diketahui oleh siapapun juga. Kita akan dapat membangun
satu keluarga yang berbahagia, karena kita saling mencintai,"
berkata Wiradana.
Tetapi Warsi menggeleng, katanya, "Jangan berpikir begitu. Kau
kira kita akan dapat menemukan satu kehidupan yang sewajarnya dengan
cara yang kau lakukan itu."
"Kenapa tidak?" jawab Wiradana. "Bukankah yang kita
perlukan dalam hidup keluarga yang saling mencintai adalah seorang
laki-laki dan seorang perempuan. Kau dan aku? Kita tidak memerlukan
orang lain, suasana yang lain dan apa pun juga diluar kita berdua."
Warsi tidak menjawab. Tetapi kepalanya yang tunduk menjadi semakin
tunduk.
Karena Warsi tidak segera menjawab, maka Wiradana telah mendesaknya,
"Katakan, apakah kau bersedia melakukannya?"
Warsi mengusap matanya. Sebenarnyalah dari matanya menitik butir-butir
air mata. Dengan suara yang sendat ia berkata, "Wiradana. Biarlah
cinta kita biarkan suci tanpa dinodai oleh apapun juga. Tanpa
menyakiti hati orang lain, dalam hal ini istrimu dan ayahmu. Biarlah
kita saling mengenang masa-masa yang penuh dengan mimpi-mimpi yang
nikmat ini. Meskipun aku tahu, bahwa hidupku akan menjadi kering.
Berbeda dengan hidupmu yang dikelilingi oleh suasana yang dapat
membantu dirimu untuk menemukan satu ujud kepribadian yang baru
setelah kau berhasil mengatasi gejolak di dalam hatimu."
Tetapi Wiradana menggeleng. Katanya, "Kita dapat mencoba Warsi.
Ada banyak jalan yang dapat kita tempuh."
Warsi tidak menjawab lagi. Sementara itu, Wiradana pun kemudian
berkata, "Pikirkanlah baik-baik. Kau jangan meninggalkan Tanah
Perdikan ini lebih dahulu. Kita dapat berbicara di kesempatan
lain."
Demikian sejenak kemudian Wiradana itu pun telah meninggalkan Warsi di
banjar tempat ia menginap. Demikian Wiradana pergi, maka pengendangnya
pun telah menemui Warsi yang menunggunya sambil tersenyum cerah.
Sambil mengusap matanya ia berkata, "Aku terpaksa menangis."
(Bersambung)-m. |
Minggu, 20-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 134 |
“Kenapa kau harus menangis?” bertanya
pengendangnya.
Warsi pun kemudian menceriterakan pembicaraannya dengan Wiradana.
Sebenarnya jalan telah mulai terbuka. Tetapi Warsi memang harus
berhati-hati.
“Kau memang pandai Warsi. Kau memang tidak boleh tergesa-gesa
memasuki pintu yang sudah terbuka itu. Kau dapat meniru anak-anak yang
menaikkan layang-layang. Kau ulur benangnya, namun sekali-kali kau
tahan. Wiradana akan menjadi semakin gila. Pada saat-saatnya ia akan
berjongkok dibawah kakimu,” berkata pengendangnya.
Sementara itu, memang ada perubahan sikap Wiradana di rumahnya. Tetapi
dengan sungguh-sungguh Wiradana berusaha untuk menyembunyikannya.
Bahkan pada saat-saat tertentu, rasa-rasanya ia menjadi semakin sayang
kepada istrinya yang sedang mengandung itu. Tetapi pada saat-saat
tertentu Wiradana itu nampak merenung diri.
Namun dalam pada itu, Iswari sama sekali tidak menyangka, bahwa di
dalam hidup kekeluargaannya, telah terselip duri yang menusuk semakin
dalam. Namun agaknya Wiradana memiliki kemampuan berpura-pura
sebagaimana Warsi.
Tetapi saat-saat yang mengkhawatirkan itu pun menjadi semakin dekat.
Wiradana semakin dalam terbenam ke dalam jebakan Warsi. Namun Warsi
yang cerdik itu tidak ingin merenggut Wiradana sekaligus. Apalagi
istrinya sedang mengandung.
Karena itulah, maka diambilnya Wiradana perlahan-lahan. Meskipun
nampaknya Warsi dengan terpaksa sekali menerima desakan Wiradana untuk
tinggal disatu tempat yang tersembunyi, namun Warsi memang sudah mulai
dengan langkahnya untuk mengikat Wiradana.
Sebenarnyalah, atas persetujuan tukang gendang yang diaku sebagai ayah
Warsi, maka Wiradana telah membuat rumah tersendiri bagi Warsi. Tidak
di Tanah Perdikan Sembojan tapi diluarnya. Di daerah yang tidak banyak
mengenalnya, ia mempunyai kebebasan untuk lebih banyak berbuat.
Dengan demikian, maka Wiradana mulai memasuki satu kehidupan dalam dua
wajah. Ia harus dapat berbuat sesuatu yang mungkin bertentangan dengan
nuraninya. Bahkan ia harus menunjukkan satu sikap yang berbeda dengan
gejolak di dalam jiwanya. Di rumah Wiradana tetap merupakan seorang
suami yang baik, yang nampaknya mengasihi istrinya dan bersikap sangat
hormat kepada ayahnya. Bahkan melampaui masa-masa sebelumnya. Sehingga
dengan demikian ayahnya menduga, bahwa menjelang kelahiran anaknya,
maka Wiradana ingin menunjukkan satu sikap yang akan dapat berpengaruh
atas bayi yang masih ada di dalam kandungan, agar bayi itu pun kelak
bersikap baik seperti yang dilakukannya.
Namun di balik sikapnya itu, Wiradana menyimpan satu rahasia yang
rumit. Setiap saat Wiradana harus berpura-pura, dan bahkan berbohong
kepada istri dan ayahnya.
Di hari-hari terakhir, Wiradana menjadi lebih banyak melakukan
kewajibannya di luar padukuhan induk. Setiap kali ia membawa kudanya
untuk berkeliling Tanah Perdikan. Kepada ayah dan istrinya Wiradana
mengatakan, bahwa ada tanda-tanda keadaan telah memburuk pada saat
terakhir.
“Dendam Kalamerta itu masih belum terhapuskan sama sekali ayah,”
berkata Wiradana.
Ki Gede Sembojan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia
berkata, “Berhati-hatilah menghadapi keluarga Kalamerta. Ia bukan
saja memiliki beberapa orang yang berilmu tinggi, tetapi segala cara
yang licik dan pengecut. Namun mereka tidak segan-segan melakukan apa
saja. Kau pernah mengalami sendiri, betapa berbahayanya para pengikut
Kalamerta. Mereka berilmu tinggi, tetapi otak mereka tumpul dan tidak
terhormati peradaban.”
Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan selalu berhati-hati
ayah.”
“Jika kau nganglang Tanah Perdikan, jangan pergi seorang diri,”
berkata ayahnya lebih lanjut. “Kau dapat dijebak oleh kelicikan
mereka.”
(Bersambung)-c. |
Senin, 21-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnja Bayang-Bayang 135 |
WIRADANA mengangguk-angguk pula. Sekali
lagi ia menjawab, “Aku akan berusaha untuk menjaga diri.”
Dengan demikian, maka penilaian ayah dan istrinya terhadap Wiradana
justru berbeda dengan keadaannya yang sesungguhnya. Ayah dan istrinya
menganggap bahwa Wiradana telah bekerja keras menjelang kelahiran
bayinya. Namun ter-nyata bahwa sebagian besar waktunya telah
dipergunakan untuk berada di rumah yang dibuatnya bagi Warsi. Meskipun
rumah itu kecil, tetapi ternyata bahwa rumah itu cukup baik bagi
kehidupan kedua orang yang berada di dalam dunia bayang-bayang yang
suram.
Dalam pada itu, setelah Warsi tinggal di sebuah rumah kecil bersama
Wiradana, maka para pengiringnya telah minta diri untuk
meninggalkannya. Bahkan pengendangnya yang disebut ayahnya pun telah
meninggalkannya pula. Sebenarnyalah bahwa pengendang itu cukup percaya
kepada Warsi untuk menyelesaikan masalahnya. Masalah yang akan
menyangkut satu kehidupan yang panjang. Bahkan untuk selama-lamanya,
karena Warsi telah memilih cara untuk membalas dendam yang lain dari
yang pernah dilakukannya. Warsi tidak membunuh keluarga Kepala
Perdikan Sembojan yang telah membunuh pamannya, tetapi ia justru
berusaha untuk memilikinya dengan menguasainya. Bukan saja anak Kepala
Tanah Perdikan Sembojan itu, tetapi dengan Tanah Perdikan itu pula,
karena Warsi ingin mempunyai keturunan yang akan dapat mewarisi Tanah
Perdikan itu lewat Wiradana.
Pada saat-saat permulaan dari kehidupan mereka sebagai suami istri,
Warsi masih tetap merupakan seorang istri yang lembut dan luruh. Namun
ia tidak meninggalkan kebiasaannya menghias diri, agar di mata
Wiradana ia tetap merupakan seorang perempuan yang cantik.
Namun kehidupan mereka pun berkembang sejalan dengan perkembangan
kandungan Iswari. Menjelang tujuh bulan dari masa kandungan itu, Ki
Gede Sembojan benar-benar sudah bersiap-siap untuk merayakan upacara
itu meskipun tidak sebesar yang direncanakan semula karena Iswari
berkeberatan.
Pada saat-saat yang demikian, wajah Warsi mulai nampak muram. Sekali-kali
Warsi mulai menunjukkan sikap yang lain. Kadang-kadang nampak sedih
dan merenung. Namun jika Wiradana bertanya tentang sikapnya itu, maka
Warsi pun kemudian menjadi cerah dan berusaha untuk tersenyum.
“Aku tidak apa-apa kakang,” jawab Warsi.
“Tetapi aku lihat kau merenung,” berkata Wiradana.
“Tidak. Aku tidak merenung,” Warsi mencoba untuk tertawa.
“Jangan menyembunyikan sesuatu Warsi,” berkata Wiradana. “Di
rumah ini aku menemukan satu kehidupan yang lebih baik dari di rumahku
sendiri. Kau mempunyai perbedaan dengan Iswari. Kau benar-benar
merupakan seorang istri yang mengerti tentang suami. Tetapi Iswari
lebih banyak mengerti perasaan ayah dari pada perasaanku. Ia selalu
berusaha untuk menyenangkan hati ayah karena memang ayahlah yang
melemparkannya memasuki duniaku yang sebenarnya bukan maksudnya.”
(Bersambung)-c. |
Selasa, 22-10-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 136
 |
Pada hari-hari pertama Warsi tetap
tidak mau mengatakan persoalan yang ditumbuhkannya di dalam lingkungan
keluarga kecil itu. Dengan sempurna ia tetap berpura-pura ganda. Ia
berpura-pura berduka, namun kemudian ia menyaput dukanya dengan
kepura-puraannya pula. Seolah-olah ia sama sekali tidak sedang dalam
keadaan pedih.
Namun setelah didesak oleh Wiradana, akhirnya ia berkata juga
sebagaimana telah direncanakan, “Kakang, sebenarnya aku tidak ingin
mengatakan sesuatu yang akan dapat menambah rumitnya persoalan di
dalam hatimu.”
“Tetapi tanpa mengatakan sesuatu, maka aku selalu merasakan satu
gejolak yang tidak dapat aku endapkan. Tanpa mengatakan sesuatu,
bagiku justru merupakan persoalan tersendiri. Aku tahu Warsi, bahwa
kau ingin menanggung beban itu sendiri, karena kau terlalu menjaga
ketenanganku. Tetapi akibatnya justru sebaliknya,” berkata Wiradana.
Warsi menundukkan kepala. Bahkan tiba-tiba saja ia telah menitikkan
air mata. Katanya, “Kakang, aku memang sudah menduga, bahwa akhirnya
hidupku akan menjadi seperti ini.”
“Seperti apa Warsi?” bertanya Wiradana. “Bukankah hal ini memang
sudah kita kehendaki?”
“Kakang, rasa-rasanya memang demikian. Aku memang tidak akan dapat
menentang nasib hidupku. Agaknya derajatku memang seperti ini,”
berkata Warsi.
“Aku tidak tahu maksdumu Warsi,” jawab Wiradana.
“Kakang. Pada masa kanak-kanak aku memang sering mendengar ceritera
tentang kehidupan yang pahit dari seorang anak tiri. Ceritera tentang
ibu tiri, seakan-akan telah menjadi ceritera yang wajar, bahwa ibu
tiri tentu seorang yang kejam dan bahkan sampai hati mencelakai anak
tirinya yang tidak bersalah,” berkata Warsi.
Lalu, “Tetapi di samping ceritera tentang ibu tiri, aku juga
mengenal ceritera yang lain, ceritera tentang kehidupan yang sunyi dan
tidak wajar. Sembunyi-sembunyi dan berusaha menyelubungi diri.”
“Ceritera tentang apa?” bertanya Wiradana.
“Ceritera tentang istri muda. Ceritera tentang seorang perempuan
yang dimadu,” jawab Warsi.
Wajah Wiradana tiba-tiba menjadi merah. Namun ia pun segera memaklumi
perasaan istrinya yang cantik itu. Ia pun kemudian berkata di dalam
hatinya, “Tidak berlebih-lebihan. Pada umumnya seorang perempuan
memang tidak akan bersedia dimadu.”
Namun dalam pada itu, Wiradana tidak akan dapat berbuat sesuatu atas
istrinya yang tua, karena istrinya yang tua itu sangat disayangi oleh
ayahnya, Ki Gede Sembojan.
Tetapi selesai Wiradana merenungi keadaan itu, tiba-tiba saja Warsi
berkata dengan nada rendah, “Tetapi kakang. Aku mohon maaf. Bukan
maksudku untuk menuntut perbaikan keadaanku yang sekarang. Aku sudah
mengakui, bahwa keadaan yag demikian ini sudah aku ketahui sejak
sebelum aku menerimamu menjadi suamiku. Karena itu, aku mohon jangan
hiraukan aku. Aku akan berusaha untuk mengatasi kepahitan ini demi
cintaku kepadamu.”
Wiradana menundukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja ia menghentakkan
diri sambil berdiri, “Tidak. Kau tidak boleh terlalu lama menderita.”
“Kakang,” desis Warsi. “Lalu apa yang dapat kakang lakukan?
Sudahlah. Biarlah aku bawa beban perasaan ini. Adalah salahku sendiri,
bahwa aku menerima beban yang sebenarnya sudah aku ketahui sejak
semula.”
“Tidak Warsi,” berkata Wiradana. “Kau tidak boleh terlalu lama
menderita. Aku akan berbuat sesuatu sehingga kau akan benar-benar
menjadi istri seorang Kepala Tanah Perdikan kelak. Satu-satunya.
Tetapi aku minta waktu. Aku harus memikirkan cara untuk menyingkirkan
Iswari. Mungkin setelah ia melahirkan.
Mungkin pada saat-saat lain yang akan aku tentukan kemudian. Untuk
menceraikannya, aku lakukan harus berhadapan dengan ayahku. Hampir
mustahil hal itu dapat aku lakukan.”
(Bersambung)-c. |

Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayagn 137
 |
“JANGAN kakang. Jangan,” minta
Warsi dengan serta merta, “Jangan kau korbankan istrimu yang
sekarang sedang mengandung itu. Bukankah dari istrimu itu kau akan
mendapatkan seorang anak yang kelak akan dapat menyambung pemerintahan
di Tanah Perdikan ini? Bukankah anak yang dikandung itu akan menjadi
pewaris yang sah atas Tanah Perdikan Sembojan.”
“Sekali lagi aku katakan Warsi,” jawab Wiradana. “Bukan akulah
yang menghendaki Iswari berada di rumah itu. Tetapi ayahku. Sekarang
ayahku sudah tidak banyak berdaya. Meskipun ia sudah mampu
mempergunakan tangan dan kakinya, tetapi tidak lebih dari sekadar
berjalan dan mengambil sesuatu. Memegang benda-benda kecil yang tidak
berarti. Pada saat-saat tertentu ayah sudah akan kehilangan segala
kemungkinan untuk dapat berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini,
sehingga pada saat ia akan tunduk kepadaku”
“O,” tiba-tiba saja Warsi telah menutup wajahnya dengan kedua
belah telapak tangannya. Dengan sedu sedan ia berdesis, “Dosa apakah
yang akan aku sandang jika ternyata aku telah membawa malapetaka bagi
keluargamu kakang. Sekali lagi aku mohon maaf, biarlah aku seorang
diri yang memikul beban ini, beban yang memang sudah aku sengaja, aku
letakkan dipundakku sendiri.”
“Itu tidak adil Warsi,” berkata Wiradana. “Dengan demikian kau
akan menderita seumur hidupmu. Padahal perkawinan tentu bukan begitu
maksudnya.”
Ada bedanya antara aku dan istrimu yang tua,” berkata Warsi. “Ia
datang dengan wajar, siapapun yang membawanya. Ia tidak membuat orang
lain mengalami kesulitan, apalagi mengalami perla-kuan yang dapat
mengancam jiwanya. Tetapi kedatanganku telah membuat istrimu yang tua
itu mengalami kesulitan. Bahkan ancaman bagi keselamatannya jika ia
harus disingkirkan. Padahal kau tidak mungkin dapat menceraikannya ka-kang,
jika kau tidak ingin berhadapan dengan ayahmu sendiri. Meskipun ayahmu
sekarang cacad, tetapi ia tetap ayahmu. Kau tidak dapat menolaknya.”
“Tetapi aku sekarang sudah dewasa penuh, Warsi. Aku sudah kawin dan
menentukan langkah-langkah yang aku anggap baik bagiku dan bagi masa
depanku. Ayah tidak akan dapat selamanya memaksakan kehendaknya atasku,”
berkata Wiradana.
Warsi masih tetap menangis. Di sela-sela isak-nya ia berkata,
“Tetapi aku mohon kakang mempertimbangkan segala langkah-langkah
yang akan kakang ambil sebaik-baiknya.”
“Aku akan bertanggung jawab atas segala tingkah lakuku, Warsi. Aku
tidak akan dapat membiarkan kau menderita seumur hidupku karena
cintamu kepadaku. Dengan demikian, maka kau harus berkorban untukku,
sementara aku tidak berbuat apa-apa bagi kebahagiaanmu. Karena aku
tahu, bahwa kebahagiaan bukan berarti aku telah mencukupi segala
kebutuhan lahiriah. Makan, pakaian dan perhiasan. Tetapi kau juga
harus mengalami kebahagiaan batin sebagaimana seharusnya orang hidup
berkeluarga, berkata Wiradana.
Warsi tidak menjawab. Namun dalam pada itu, Wiradanalah yang berkata
sambil mengusap rambut perempuan yang menangis itu. “Sudahlah. Aku
tahu, bahwa kau adalah seorang perempuan yang berbudi luhur. Kau ingin
melihat aku bahagia tanpa mengorbankan siapapun juga, meskipun dengan
demikian kau sendirilah yang harus menjadi korban. Ternyata kau tidak
memikirkan kesenangan dirimu sendiri. Bahkan kau masih juga ingin
melihat perempuan yang menjadi madumu itu hidup tenang. Karena itu
Warsi, dengan penilaian itu, maka aku tahu, apa yang harus aku lakukan.
Perasaan yang demikian, sebagaimana kau lakukan, tidak akan aku
dapatkan dari Iswari. Ia tentu lebih mementingkan dirinya sen-diri
sebagaimana aku lihat pada sifatnya sehari-hari.”
Warsi masih tetap berdiam diri. Tetapi agaknya ia berusaha untuk
menguasai tangisnya sehingga justru isaknya rasa-rasanya telah
menyesakkan dadanya. (Bersambung)-k. |

Kamis, 24-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 138
DENGAN susah payah Wiradana berusaha menenangkan istrinya yang cantik itu, sehingga akhirnya isak tangis Warsi pun mereda. Meskipun demikian titik-titik air mata masih nampak di pelupuk perempuan itu.
Ketika kemudian Wiradana meninggalkan Warsi dan kembali ke padukuhan induk Tanah Perdikan, maka di dalam benaknya telah mulai berkembang rencana untuk menyingkirkan Iswari. Agaknya iblis benar-benar telah menguasai hatinya sehingga yang kemudian mengalir dari nalar budinya adalah kegelapan semata-mata.
Warsi, sepeninggalan Wiradana masih mengusap matanya yang basah. Namun ia tersenyum di dalam hati. Jalannya sudah menjadi semakin lapang. Bahkan ia yakin, bahwa ia akan segera berhasil merebut Wiradana.
Namun yang kemudian menjadi masalah baginya adalah Iswari yang sedang mengandung itu. Sebenarnya terlintas juga satu kilatan cahaya terang dihatinya dengan satu niat untuk membiarkan bayi di dalam kandungan itu lahir. Namun yang kemudian dipikirkannya adalah masa depannya. Pengendangnya memang pernah berkata kepadanya, bahwa pewarisan itu akan terjadi jika anak itu akan dapat bertahan hidup sampai dewasa.
“Itu berarti bahwa anak itu harus mati sebelum ia pantas mewarisi kedudukan ayahnya,” berkata Warsi di dalam hatinya. Namun kemudian, “Tetap dengan demikian kerja itu harus dilakukan dua kali. Menyingkirkan ibunya, kemudian menyingkirkan anaknya.”
Di hari berikutnya Warsi masih tetap merenungi persoalan itu. Namun akhirnya ia menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri. “Apa boleh buat. Orang-orang yang disebut baik-baik pun melakukan usaha pembunuhan pula untuk mencapai maksudnya. Apalagi aku. Kematian yang dua nyawa sekaligus itu adalah satu kebetulan saja karena dua nyawa itu masih terselubung dalam satu wadag.”
Sehingga akhirnya, maka Warsi pun mengambil keputusan, jika mungkin justru sebaiknya istri Wiradana itu disingkirkan sebelum bayi itu lahir.
“Dengan demikian, maka aku tidak akan membiarkan seekor harimau akan sempat menjadi besar dan buas,” berkata Warsi di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka usahanya kemudian harus ditunjukkan kepada mempercepat kepu-tusan Wiradana untuk menyingkirkan istrinya.
“Tidak ada jalan lain. Perempuan itu tentu akan dibunuhnya, karena ia tidak akan berani menceraikannya, justru karena perempuan itu sangat disayangi oleh ayahnya.”
Di hari-hari berikutnya, maka sikap Wiradana pun menjadi semakin pasti. Dengan licik Warsi selalu berhasil menghasutnya, bahkan selalu dengan kesan, seakan-akan Warsi adalah seorang yang berhati sebening mata air di lereng perbuktian. Namun yang sebenarnya mengandung racun yang melampaui tajamnya racun ular bandotan.
Akhirnya hari itu, Wiradana pun menjadi gelap. Hidupnya benar-benar sudah berada dibawah bayangan sebuah mimpi yang suram. Anak Kepala Perdikan Sembojan itu telah kehilangan kiblat hidupnya dan kehilangan pribadinya. Sehingga dengan demikian maka ia tidak lagi dapat mengenali buruk dan baik.
Namun justru pada saat yang demikian, di sebuah pedepokan kecil yang hanya dihuni oleh beberapa orang saja, seorang tua duduk dihadap oleh seorang cantriknya yang sangat dekat dengan dirinya, karena cantrik itu masih termasuk kadangnya sendiri.
“Gandar,” berkata orang tua itu. “Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu.”
Gandar termangu-mangu. Namun ia bergeser semakin dekat sambil bertanya, “Nampaknya Kiai bersungguh-sungguh.”
“Ya Gandar. Aku memang bersungguh-sungguh,” berkata Kiai Badra.
“Apa yang akan Kiai katakan?” bertanya Gandar.
“Aku bermimpi Gandar,” desis Kiai Badra.
(Bersambung)-c
Ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas korban tragedi peledakan
bom di jalan Legian , Kuta, Bali pada 12 Oktober 2002.
Jumat, 25-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 139
Gandar mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. “Kenapa dengan mimpi itu? Bukankah hampir setiap saat kita tidur, kita selalu bermimpi?”
“Aku bersungguh-sungguh Gandar,” berkata Kiai Badra.
Gandar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut. Dibiarkannya saja Kiai Badra mengatakan tentang mimpinya.
“Gandar,” berkata Kiai Badra kemudian. “Sudah berapa lama Iswari berada di Tanah Perdikan Sembojan?”
“Sudah hampir setahun bukan Kiai,” jawab Gandar. Tiba-tiba saja suaranya merendah.
“Ah, tentu belum. Tetapi sudah lebih dari delapan atau sembilan bulan,” jawab Kiai Badra.
“Selisih itu tidak terlalu banyak,” jawab Gandar. Lalu, “Kira-kira memang sekian bulan.”
“Gandar,” suara Kiai Badra seakan-akan menjadi semakin dalam, “Aku bermimpi bahwa Iswari telah menyalakan obor dimuka rumah Ki Gede Sembojan. Tetapi tiba-tiba saja angin bertiup kencang sekali. Bahkan kemudian obor itu mati dan Iswari telah tersaput oleh pedut yang sangat tebal.”
Gandar mendengarkan kata-kata itu dengan seksama. Tiba-tiba saja ceritera tentang mimpi itu telah menarik sekali baginya. Meskipun demikian, Gandar tidak bertanya sesuatu.
Dalam pada itu, Kiai Badra pun telah melanjutkannya. “Gandar, rasa-rasanya ada sesuatu yang mendorong aku untuk menengoknya. Tetapi rasa-rasanya segan juga aku melakukannya. Baru saja kita meninggalkan Tanah Perdikan. Jika aku datang lagi ke Tanah Perdikan itu tentu akan dapat menimbulkan kesan yang lain pada Ki Gede.”
Gandar mengangguk-angguk. Ia segera mengerti maksud Kiai Badra. Karena itu, maka katanya, “Bukankah Kiai akan memerintahkan aku untuk menengoknya?”
“Ya Gandar,” jawab Ki Gede, “Tepat. Aku ingin kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan untuk menengok adikmu. Mudah-mudahan ia selalu dalam keadaan sehat.”
Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah menolak segala perintah yang diberikan oleh Kiai Badra. Bahkan seandainya Kiai Badra itu ingin mengambil hidup matinya sekalipun. Namun perintah untuk menengok Warsi membuatnya menjadi berdebar-debar.
Sejak ia meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan, rasa-rasanya ia sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak bertemu lagi dengan Iswari. Cucu Kiai Badra yang dalam hubungan kadang, ia mempunyai kedudukan lebih tua.
Namun tiba-tiba datang perintah itu perintah yang sangat dibencinya.
Tetapi sebenarnyalah Gandar memang tidak dapat menolak. Ia hanya dapat menerima dan menjalankan tugas itu. Apalagi bagi tugas yang sangat ringan. Seakan-akan Kiai Badra memberikan tugas kepadanya untuk pergi bertamasya ke Tanah Perdikan Sembojan.
Namun tugas yang ringan itu ternyata akan terasa sangat berat bagi Gandar. Tetapi ia sama sekali tidak dapat mengatakan, kenapa tugas ke Tanah Perdikan Sembojan itu akan merupakan tugas yang sangat berat.
Meskipun demikian, Gandar hanya dapat mengiyakan. yang ditanya kemudian adalah, “Kapan aku harus berangkat?”
“Semakin cepat semakin baik Gandar. Ada semacam kekhawatiran atas adikmu, seolah-olah aku meninggalkan seorang bayi yang baru pandai merangkak di pinggir jurang yang terjal,” jawab Ki Badra.
Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Besok aku akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Mungkin aku terpaksa bermalam satu malam. Baru di hari berikutnya aku kembali.”
Tetapi Kiai Badra justru berkata, “Jangan hanya satu malam Gandar. Kau harus berada di Tanah Perdikan itu barang satu pekan. Mungkin memang tidak ada perlunya, tetapi mungkin ada manfaatnya.”
(Bersambung)-c.

Sabtu, 26-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 140
GANDAR memang tidak pernah dapat membantah. Karena itu, betapapun berat perasaannya, maka ia pun menjawab, “Baiklah Kiai. Aku akan berada di Tanah Perdikan barang satu pekan.”
“Mungkin mimpiku adalah mimpi yang tidak punya arti apa-apa Gandar. Tetapi mungkin Yang Maha Agung memberikan satu isyarat bagiku. Tetapi karena kepicikan pengetahuanku, mungkin aku salah menangkap arti isyarat itu,” berkata Kiai Badra. Lalu, “Karena itu, tengoklah. Lihatlah apa yang terjadi atas Iswari. Mudah-mudahan tidak ada sesuatu.”
Gandar mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra berkata, “Berkemaslah. Besok kau akan berangkat.”
Gandar pun kemudian pergi ke biliknya. Dengan wajah yang murung ia duduk merenungi pintu biliknya yang tertutup. Hampir di luar sadarnya, tiba-tiba terbayang wajah seorang perempuan yang pernah tinggal di padepokan itu pula. Iswari yang masih mempunyai hubungan darah dengan dirinya. Baginya Iswari adalah seorang perempuan yang memiliki unsur-unsur yang lengkap.
Tetapi Gandar yang selalu merasa bahwa dirinya tidak berharga berwajah buruk dan bodoh itu sama sekali tidak pernah menyatakan perasaannya kepada siapapun juga.
Karena itu, ketika Iswari kemudian kawin dengan Wiradana, Gandar benar-benar berusaha menguasai perasaannya dengan nalarnya. Bahkan ia mencoba untuk merasa dirinya terbebas dari belenggu perasaan dan ketidakpastian, karena ia tidak akan mungkin lagi merenungi Iswari yang baginya merupakan seorang perempuan yang utuh.
Namun keinginannya untuk tidak melihat dan bertemu lagi dengan Iswari ternyata tidak dapat terpenuhi. Ia masih harus pergi ke Tanah Perdikan Sembojan memenuhi perintah Kiai Badra.
Demikianlah, maka Gandar berusaha untuk mengatur perasaannya sebaik-baiknya. Ia da-tang di Tanah Perdikan dengan sikap yang seharusnya wajar dan tidak dibuat-buat.
Ketika Gandar kemudian perlahan-lahan berdiri, di luar sadarnya ia berpaling ke arah geledeg bambunya, yang dipergunakannya untuk menyimpan barang-barangnya yang tidak seberapa. Namun di dalam geledeg itu pula ia menyimpan sesuatu yang baginya sangat berarti. Sebilah cundrik yang terikat pada seutas rantai baja putih. Sejenis senjata peninggalan orang tuanya.
Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah meletakkan senjata itu di dalam geledeg itu untuk beberapa lama. Sejak ia merasa bahwa ia lebih senang tidak diganggu oleh perasaan yang harus dipecahkan dengan senjata.
Namun tiba-tiba mimpi Kiai Badra itu mengingatkannya kepada senjata itu. Justru karena di dalam mimpi itu, Iswari, seorang perempuan yang menjadi kiblat penilaiannya terhadap seorang perempuan, telah mengalami peristiwa yang dapat dibaca sebagai suatu isyarat yang kurang menyenangkan. (Bersambung)-c.
Buy
1 Get 1 FREE!!!

Buy it at AllPosters.com
Langsung ke KR
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 28/X/2002
12 Oct. is Bali's mourn
Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....
KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|