Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Senin, 07-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 121 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  “Di simpang empat?” hampir bersamaan beberapa peronda telah bertanya. 
“Ya. Di simpang empat,” jawab ayah Warsi. 
Para peronda itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka berdesis, “Satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.” 
“Tetapi sekarang terjadi atasku,” sahut ayah Warsi. 
“Lalu apa yang terjadi kemudian?” bertanya salah seorang di antara para peronda.

 “Kami tidak menyerah begitu saja. Kami melawan. Terjadi pertempuran. Beberapa orang kawanku yang bersamaku lewat regol ini telah terbunuh. Yang lain melarikan diri mencari hidup sendiri-sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi atas mereka. Namun beberapa orang perampok pun telah terbunuh, sehingga aku kira, mereka telah saling melarikan diri bercerai berai. Dan aku telah membawa Warsi menyelamatkan diri pula. Semula kami berdua sempat bersembunyi. Tetapi aku terpaksa melindungi anakku dan bertempur dengan seorang di antara para perampok itu, sehingga saatnya aku sempat meninggalkan pertempuran, sambil membawa Warsi,” jawab ayah Warsi. 

Para peronda itu pun saling berpandangan. Kemudian seorang di antara mereka berkata, “Marilah kita melihat.” 

“Hati-hatilah,” berkata ayah Warsi. “Bawalah kawan secukupnya.” 

Para peronda itu pun kemudian mempersiapkan diri. Bersama beberapa orang kawan dan bersenjata lengkap, mereka telah pergi ke simpang empat di bulak panjang. 

Sementara itu Warsi dan ayah pun telah melanjutkan perjalanan mereka pulang ke rumah. 

Namun dalam pada itu, Warsi pun kemudian bertanya, “Bagaimana jika anak-anak muda itu menemukan mayat kawan-kawan kita ayah?” 

Ayah Warsi menjawab dengan pasti. “Mereka tidak mengenalnya. Siapapun yang menjadi mayat, anak-anak muda itu akan menganggap bahwa di antara mereka terdapat para perampok dan kawan-kawan kita.” 

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia percaya akan kata-kata ayahnya. 

Dalam pada itu, padukuhan itu pun menjadi gempar. Sesuatu yang belum pernah terjadi, telah terjadi. Perampokan di lingkungan padukuhan mereka, meskipun hal itu terjadi di bulak panjang. 

Anak-anak muda itu telah menemukan beberapa sosok mayat dalam keadaan yang mengerikan. Bahkan beberapa jenis senjata yang berserakan membuat jantung mereka berdegup semakin cepat. 

Ketika salah seorang dari anak-anak muda itu datang menemui ayah Warsi, agar ia menentukan yang manakah kawan-kawannya dan manakah perampok-perampok yang terbunuh, ayah Warsi menjawab, “Aku tidak berani melihat sosok-sosok mayat itu lagi.” 

“Tetapi bukankah hal itu penting untuk menentukan di manakah mereka akan dikubur?” bertanya anak-anak muda itu. 

“Kuburkanlah di satu tempat,” jawab ayah Warsi. “Aku adalah orang yang memang pernah belajar kanuragan. Aku pun ikut bertempur malam itu. Tetapi peristiwa itu terlalu mengerikan bagiku.” 

“Bagaimanapun juga, kami ingin membedakan antara keluarga Warsi dan para perampok,” berkata anak muda itu. 

Namun ayah Warsi masih saja menggeleng. Sejenak ia memandang ke sekitarnya sambil berdesis, “Bukankah Warsi tidak ada di sini?” 

“Kenapa dengan Warsi?” anak muda itu bertanya. 

Ayah Warsi itu pun kemudian berbisik, “Anak muda. Sebenarnyalah aku menjadi curiga, bahwa ada di antara sanak kadangku yang menjemputku itu justru terlibat. Mereka adalah kawan-kawan dari para perampok itu, sehingga aku tidak mau mempedulikannya lagi. Aku kira merekalah yang terbunuh dan sanak kadangku yang tidak tahu menahu telah menyingkir dari medan. Namun seandainya tidak, maka entahlah, apa sebenarnya yang terjadi. Biarlah mereka dikuburkan saja disatu tempat. Jika ada, maka aku akan menjawab sekenanya saja. Yang mana pun dari kuburan yang ada itu. Bukankah mereka tidak akan menggali untuk membuktikannya.” (Bersambung)-k.

 

Selasa, 08-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 122 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  Anak muda itu mengangguk-angguk. Keterangan itu memang masuk akal. Agaknya ada di antara sanak kadang yang justru menjadi alat dari pada perampok.

 Hal itu dihubungkan dengan beberapa keganjilan yang terjadi. Mereka menjemput Warsi dan ayahnya jauh malam, pada saat-saat yang tidak sewajarnya. 

“Memang mungkin ada kesengajaan untuk merampoknya, justru karena Warsi terlalu kaya,” berkata anak muda itu di dalam hatinya. 

Karena sikap ayah Warsi, maka anak muda itu tidak memaksa lagi. Menurut ayah Warsi, semuanya telah dinilai sama. Perampok itu dan beberapa orang kadangnya yang menjemputnya. 

“Dibulak itu sebelumnya juga tidak pernah ada perampokan seperti itu,” berkata anak muda itu di dalam hatinya. 

Tetapi ia tidak mau berteka-teki lagi. Ia tidak lagi mencari jawab, bahwa tentu ada di antara keluarga Warsi yang melindunginya sehingga telah terjadi pertempuran. 

“Bagaimana jika yang terbunuh itu justru mereka yang bersikap baik?” bertanya anak muda itu di dalam hatinya. 

“Entahlah,” anak muda itu menggeleng, “Terserah saja kepada ayah Warsi.” 

Dengan demikian, maka mayat-mayat yang terdapat di simpang empat itu pun segera dikuburkan tanpa dipilih di antara mereka. Mayat-mayat itu dikubur di kuburan yang sama tanpa ciri-ciri khusus. 

Dalam pada itu, malam itu merupakan malam yang sangat berkesan di hati Warsi. Di hari-hari berikutnya ia menjadi lebih banyak merenung. Ia telah kehilangan beberapa orang kawannya yang setia. Namun peristiwa itu justru mengukuhkan niatnya untuk merebut Wiradana. 

“Bukankah orang yang disebut orang baik-baik itu pun telah berusaha memaksakan kehendaknya dengan kekerasan?” pertanyaan itu berulang kali melonjak di dalam dadanya. 

Karena peristiwa itu, maka tekad Warsi pun menjadi semakin mantap. Ia akan mengambil Wiradana dengan caranya. Jika Wiradana tidak mau menceraikan istrinya, maka ia akan mengambil cara sebagaimana dilakukan oleh orang baik-baik. Membunuh. 

Sikap Warsi itu tidak terlepas dari pengamatan ayahnya. Karena itu, maka pada satu malam ayahnya telah memanggilnya untuk berbicara tentang persoalan di dalam hati anak gadisnya itu. 

“Jadi kau sudah memutuskan untuk segera berhubungan dengan laki-laki itu?” bertanya ayahnya. 

“Rasa-rasanya aku tidak akan dapat melupakan lagi ayah. Aku sebenarnya masih berusaha untuk mempergunakan nalarku. Tetapi justru nalarku memperkuat sikapku. Aku akan mengambilnya dengan cara apapun juga, sebagaimana laki-laki yang ingin memperistri aku itu telah berusaha mengambil aku dengan cara apapun juga,” jawab Warsi. 

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Warsi adalah kemanakan Kalamerta. Karena itu, maka sifat-sifat Kalamerta itu nampak juga pada Warsi, bukan hanya sekadar ilmunya saja. 

Karena itu, maka ayahnya pun berkata, “Terserahlah kepadamu. Kau sudah cukup dewasa. Dewasa umurmu dan dewasa sikapmu. Juga ilmu yang kau warisi dari Kalamerta nampaknya benar-benar sudah lengkap, meskipun untuk mencapai tataran Kalamerta, kau masih harus mengembangkannya. Tetapi bahannya sudah cukup ada padamu.” 

Warsi tidak segera menjawab. Namun ayahnya melihat satu gejolak di dalam hati Warsi. Meskipun demikian ayahnya tidak memberikan tanggapan apapun tentang keadaan itu. Bahkan ayahnya pun kemudian berkata, “Renungkan baik-baik. Kau masih mempunyai waktu, sehingga apa yang sudah kau lakukan, tidak akan kau sesali di kemudian hari.”

Warsi masih belum menyahut. Ia hanya memandang saja langkah ayahnya yang meninggalkannya. (Bersambung)-m.
Rabu, 09-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 123 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  NAMUN demikian ayahnya hilang di balik pintu, maka ia pun menggeram. “Aku sudah memutuskan untuk mengambil laki-laki itu dengan cara apapun juga.”

 Keputusan itu telah membawa Warsi ke dalam satu angan-angan untuk menyusun kembali kelompok tarinya. Kelompok yang akan ngamen disepanjang jalan di Tanah Perdikan Sembojan, sehingga pada suatu saat ia akan dapat bertemu dengan Wiradana. 

“Aku yakin bahwa aku akan dapat merebutnya,” berkata Warsi, “Tetapi aku tidak mau dimadu.” 

Baru di hari kemudian, Warsi menyampaikan niatnya itu kepada ayahnya. Bahwa ia akan menyusun kembali kelompoknya. Dalam waktu dekat ia akan segera kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. 

“Aku tidak mau terlalu banyak kehilangan waktu,” berkata Warsi. “Beberapa bulan telah terlalui. Jika Wiradana benar-benar merasa terikat kepada istrinya, maka pekerjaanku akan menjadi semakin berat.” 

“Hati-hatilah,” pesan ayahnya. 

Warsi pun mengangguk kecil. Katanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Aku akan ber-hasil.” 

Demikianlah, maka Warsi telah menyusun kelompoknya kembali. Namun ia selalu menghindari orang-orang disekitarnya. Tidak seorang pun dari tetangga-tetangganya mengetahui apa yang dilakukan oleh Warsi itu. Bahkan tetangga-tetangganya, termasuk anak-anak muda padukuhan itu tidak mengetahui bahwa sebenarnyalah Warsi mempunyai beberapa orang pengikut, yang setiap saat dapat dipanggil untuk datang ke rumahnya. Bahkan beberapa orang memang berada di rumah itu. 

Ketika kelompok Warsi itu sudah siap, dengan pengendangnya yang dahulu juga, maka Warsi pun menyampaikan niatnya kepada ayahnya, bahwa ia akan berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan. 

“Pada satu saat, ayah akan mendengar kabar, bahwa aku sudah kawin dengan Wiradana,” berkata Warsi. “Sebentar kemudian, Wiradana akan diangkat menjadi Kepala Tanah Perdikan karena Ki Gede Sembojan yang tua, akan meninggal. Dengan demikian maka pembalasan atas kematian Kalamerta sudah terjadi.” 

Ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku percaya kepadamu Warsi. Meskipun demikian, aku berpesan, bahwa kau harus menguasai laki-laki yang bernama Wiradana itu. Bukan kau yang akan dikuasainya dan tunduk kepada segala perintahnya. Kaupun harus tetap pada sikapmu untuk membalas dendam kematian pamanmu, Kalamerta. Orang yang memiiki nama besar dan pengaruh yang luas.” 

“Ayah jangan mencemaskan aku,” jawab Warsi. “Aku mengerti, apakah yang sebaiknya aku lakukan.” 

Demikianlah, setelah semuanya bersiap, maka Warsi pun telah meninggalkan rumahnya dengan cara yang sama seperti yang pernah dilakukannya. 

Tetapi seperti yang terdahulu, maka Warsi pun menghindarkan diri dari kemungkinan penglihatan tetangga-tetangganya. Karena itu, kecuali ia sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seorang penari yang berangkat ngamen, maka tidak sepotong gamelan pun yang pernah dilihat oleh tetangga-tetangganya. 

Warsi meninggalkan kampung halamannya di larut malam. Dengan hati-hati ia mencari jalan yang sepi, yang jauh dari satu kemungkinan bertemu dengan seseorang. 

Namun rombongan Warsi saat itu menjadi agak lebih besar dari rombongannya yang pertama. Ia telah mengganti orangnya yang terbunuh dengan orang lain. Namun Warsi memang sudah menyiapkan bahwa apabila diperlukan, maka rombongannya itu sudah merupakan satu kekuatan yang dapat diandalkan. 

Di siang hari di hari pertama, rombongan itu seakan-akan masih bersembunyi di padang perdu. Jarak yang mereka tempuh masih belum begitu

 

 Banner 10000004

Kamis, 10-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 124 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  Baru di hari berikutnya lagi, Warsi mulai mengenakan pakaian penarinya. Ketika matahari mulai tenggelam, Warsi dan kelompoknya telah kebar di sudut sebuah padukuhan. Padukuhan yang dahulu belum pernah dilaluinya. 
Seperti beberapa bulan yang lewat, rombongan penari itu memang menarik perhatian. Dengan penari yang muda dan cantik, maka laki-laki pun segera berkerumun. Bahkan dengan serta merta, beberapa orang pun telah menye-diakan uang untuk menyelenggarakan janggrung.

 Seperti yang terdahulu, maka sebelum mereka memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka pengendangnya telah diakunya sebagai suaminya. Karena itu dalam banyak hal, maka Warsi selalu dekat dengan pengendangnya itu. 

Kepada laki-laki yang terlalu kasar, maka Warsi telah memperingatkan sambil tersenyum, bahwa ia bersama suaminya yang mengiringi tariannya dengan gendangnya itu. 

Seorang laki-laki muda bergumam, “Suamimu sudah setua itu?” 

“Kenapa?” bertanya Warsi. 

“Kau dapat mencari suami yang lebih muda,” jawab laki-laki itu. 

“Yang dapat memukul gendang dan mengiringi aku menari,” bertanya Warsi pula. 

Laki-laki muda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kenapa suamimu harus dapat memukul gendang?” 

“Karena aku adalah seorang penari,” jawab Warsi. 

“Kau dapat berhenti menari. Kau dapat menjadi istriku. Aku mempunyai sawah yang luas dan rumah yang besar,” berkata laki-laki itu. 

“Apakah kau tidak mempunyai seorang istri?” bertanya Warsi pula. 

“Istri?” ulang orang itu. “Ya, aku memang mempunyainya. Tetapi aku dapat mengusirnya.” 

Warsi tersenyum sambil mencubit orang itu. “Jangan kau perlakukan istrimu seperti itu. Jika kelak aku menjadi istrimu, dan datang orang yang lebih cantik lagi, maka aku pun akan kau usir.” 

“Tidak. Aku tidak akan melakukannya atasmu,” berkata laki-laki muda itu. 

Warsi tertawa kecil. Namun katanya, “Besok malam aku masih berada di padukuhan ini. Jika diperkenankan oleh bebahu padukuhan ini, aku akan bermalam disini.” 

Ternyata malam ini Warsi dan rombongannya mohon diijinkan untuk bermalam di padukuhan itu. Besok malam mereka masih akan berkeliling dan kebar di beberapa tempat di padukuhan itu, sebelum dihari kemudian mereka akan meninggalkan tempat itu. 

Di malam hari, ketika para penabuh gamelan sudah berbaring di serambi banjar, Warsi telah menemui pengendangnya. Dengan nada yang ragu ia berkata, “Seorang laki-laki akan mengambil aku menjadi istrinya.” 

“Jangan hiraukan,” jawab pengendangnya. 

“Aku memang tidak ingin menjadi istrinya yang sesungguhnya,” jawab Warsi. “Tetapi laki-laki ini dapat aku pergunakan sebagai latihan menghadapi Wiradana. Laki-laki ini juga sudah beristri.” 

“Ah,” pengendangnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Kau juga akan minta laki-laki itu membunuh istrinya?” 

“Jika ia bersedia menceraikannya seperti yang dikatakan, aku tidak keberatan. Dalam dua tiga pekan, kita akan meninggalkannya,” jawab Warsi. 

“Warsi,” berkata pengendangnya yang diakuinya sebagai suaminya. “Kenapa kau bersikap seperti itu. Sebaiknya kau berpikir jernih. Bukankah istri laki-laki itu akan menderita tanpa sebab. Memang agak berbeda dengan suami Wiradana. Jika ia terpaksa tersingkir, maka kau memang benar-benar menghendaki laki-laki itu berlandaskan dendam yang harus kau lepaskan kepada keluarga Ki Gede Sembojan, meskipun cara ini adalah cara yang aneh. Tetapi jika kau berhasil membunuh Ki Gede Sembojan, maka tugasmu sudah kau tunaikan, sementara kau akan menjadi seorang istri kepala Tanah Perdikan.” 


blue695fpcgi1_468x60.gif

 

Jumat, 11-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 125 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  “AKU tidak akan bersungguh-sungguh,” berkata Warsi. “Aku hanya ingin mencoba saja.” 
“Aku tidak akan sependapat Warsi,” berkata pengendangnya. “Meskipun kita adalah orang-orang yang tidak terikat lagi oleh paugeran hidup dan tidak mengakui nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku bagi kebanyakan orang, tetapi sebaiknya kita juga menimbang segala tingkah laku dengan sungguh-sungguh, agar kita tidak terlalu banyak menimbulkan petaka kepada orang lain. Lebih-lebih orang lain yang tidak bersalah sama sekali. Karena itu, jangan lakukan rencanamu. Mungkin kau sekadar mencoba atau mengalami perasaan sebagaimana akan kau alami jika kau merebut Wiradana dari istrinya. Tetapi bagi orang lain hal itu akan dapat merupakan bencana seumur hidupnya, bahkan mungkin akan mengancam jiwanya.

 Sejenak Warsi termangu-mangu. Namun akhirnya ia berdesis, “Baiklah. Aku tidak akan melakukannya.” 

Pengendangnya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah. Aku senang mendengar keputusan itu.” 

Demikianlah rombongan penari itu telah bermalam di banjar padukuhan. Malam berikutnya mereka masih mengadakan pertunjukan di beberapa tempat dan bermalam pula di banjar. Baru pagi harinya rombongan itu minta diri. 

Laki-laki muda yang tergila-gila kepada Warsi itu telah menemuinya dan berkata, “Bagaimana dengan kau? Katakan, apa yang kau minta asal kau bersedia menjadi istriku. Aku bukan orang miskin dan bukan pula orang kebanyakan. Aku termasuk orang terhormat di padukuhan ini.” 

Warsi tersenyum. Katanya, “Jika kau orang terhormat, maka biarkan saja aku meneruskan perjalananku dan perjalanan hidupku dengan cara ini. Kembalilah kepada istrimu yang selalu menunggumu dengan setia.” 

“Istriku tidak secantik kau. Aku kawin karena kehendak orang tuaku. Sekarang aku dapat menentukan hidupku sendiri,” berkata laki-laki muda itu. 

“Aku akan mengambilmu. Jika perlu akan membunuhnya,” berkata laki-laki muda itu. 

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya sambil tersenyum pula. “Kau tidak akan dapat membunuhnya. Jika kau mulai dengan persoalan, maka kaulah yang akan dibunuhnya. Ia adalah seorang laki-laki yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia dapat membunuh beberapa orang sekaligus dengan gendangnya itu.” 

Laki-laki itu termangu-mangu. Namun ternyata kata-kata itu berpengaruh juga atas laki-laki muda itu, sehingga ia pun telah mengurungkan niatnya. 

Namun dalam pada itu, Warsi telah mendengar, seorang lagi di antara orang yang dikenalnya akan membunuh untuk mendapatkan seseorang yang diinginkannya. 

Dengan demikian, maka sikap Warsi pun menjadi semakin mantap. Namun ia tidak langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Ia dan rombongannya mendekati Tanah Perdikan itu dengan wajar, sebagaimana serombongan pengamen yang mencari nafkah. Bahkan seperti beberapa waktu yang lampau, Warsi dan rombongannya benar-benar telah mendapatkan uang yang cukup banyak. (Bersambung)-m

 

Ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas korban tragedi peledakan bom di jalan Legian , Kuta, Bali pada 12 Oktober 2002.

 

Sabtu, 12-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 126 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  TETAPI perjalanan rombongan itu bukannya tidak pernah mengalami kekerasan. Kadang-kadang ada juga laki-laki kasar yang membuat Warsi menjadi muak, sehingga ia telah minta perlindungan pengendang yang diakunya sebagai suaminya itu. Bahkan sekali rombongan itu telah diusir dari sebuah padukuhan karena tingkah laku seorang laki-laki yang berpengaruh di padukuhan itu. Karena Warsi menolak dibawanya pulang, maka laki-laki itu telah mengambil langkah yang kasar. Tetapi ternyata bahwa pengendang yang diakuinya sebagai suaminya itu telah bertindak.


Namun demikian, karena laki-laki itu mempunyai pengaruh yang besar di padukuhannya, maka bebahu padukuhan itu telah mengambil keputusan, untuk saat itu juga mengusir rombongan itu dari padukuhan mereka. 

"Satu pengalaman baru," berkata pengendangnya kepada Warsi. 

"Aku ingin membunuh laki-laki itu," geram Warsi. 

"Jangan Warsi," jawab pengendangnya. "Pengalaman ini termasuk pengalaman yang berharga. Kita harus dapat mencari keseimbangan antara peristiwa-peristiwa yang kita alami selama perjalanan. Mungkin akan berharga bagimu kelak jika kau menjadi istri seorang Kepala Tanah Perdikan, karena bukankah kau benar-benar ingin hidup sebagai istri seorang Kepala Tanah Perdikan, bukan hanya untuk satu dua hari saja?" 

Warsi mengangguk kecil. 

"Baiklah. Kau dapat merenunginya sepanjang perjalanan," berkata pengendangnya itu. 

Demikianlah rombongan pengamen itu telah berjalan dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Pada umumnya mereka lewat melalui daerah baru yang sebelumnya belum pernah dilaluinya. Tetapi satu dua padukuhan ternyata adalah padukuhan yang pernah dilewatinya dahulu. Tetapi karena rombongan itu tidak membuat persoalan yang sungguh-sungguh di daerah itu, maka rombongan itu masih tetap diterima dengan baik oleh penduduknya. Bahkan jika Warsi dan rombongannya kebar di sudut padukuhan, maka sudut padukuhan itu menjadi penuh oleh penonton yang ingin mendapatkan hiburan yang jarang sekali mereka dapatkan. 

Dengan demikian, maka semakin lama rombongan itu memang menjadi semakin dekat dengan Tanah Perdikan Sembojan. Namun rasa-rasanya Warsi menjadi berdebar-debar 

Ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Rasa-rasanya ia memasuki satu daerah yang lain dari daerah-daerah yang dilewatinya. 

"Aku merasa aneh," desis Warsi. 

"Tentu," jawab pengendangnya. "Daerah ini merupakan daerah yang khusus bagimu. Ada jalur yang menghubungkan daerah ini dengan alas perasaanmu. Karena kau sudah menempatkan dirimu pada satu keadaan yang baru akan kau alami kemudian." 

"Tidak," tiba-tiba saja Warsi membentak. 

Tetapi pengendangnya itu berdesis, "Ingat. Disini aku adalah ayahmu Warsi." 

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba merenungi kata-kata pengendangnya itu. Namun ternyata kemudian ia memang menemukannya. 

Katanya, "Kau benar. Aku memang sudah menempatkan diriku dalam satu khayalan tentang masa depan. Aku memang menginginkan laki-laki itu untuk menjadikannya seorang suami. Apapun yang harus aku lakukan," Warsi berhenti sejenak, lalu, "Tetapi aku agak menyesal, kelak aku datang sebagai seorang pengamen. Seandainya kelak aku benar-benar menjadi istri Wiradana, apakah kata orang di Tanah Perdikan ini. Aku tidak lebih dari bekas seorang tledek yang ngamen disepanjang jalan. Menari dan melayani keinginan laki-laki yang ingin menari janggrung. Bahkan tentu ada dugaan yang lebih buruk dari itu." 

"Kau kelak harus membuktikan bahwa kau pantas menjadi seorang istri Kepala Perdikan," jawab pengendangnya. 

(Bersambung)-m.

 

 VirusAlert_468x60

Minggu, 13-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnhya Bayang-Bayang 127 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  “Sebenarnya aku agak menyesal,” desis Warsi. “Tetapi aku akan mencobanya untuk berbuat sebaik-baiknya.” 
“Masih banyak terdapat kemungkinan-kemungkinan,” berkata pengendangnya.

 Demikianlah, rombongan itu kembali telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Demikian rombongan itu mulai kebar di sebuah padukuhan, maka orang-orang di padukuhan itu segera mengenalnya kembali, bahwa rombongan itu pernah datang beberapa bulan yang lalu di Tanah Perdikan itu. 

Karena rombongan itu dimasa yang lewat tidak menimbulkan banyak persoalan, selain perasaan cemburu pada beberapa orang istri, maka kedatangannya pun tidak mendapat banyak tantangan. Bahkan rasa-rasanya beberapa orang telah menyambut kedatangan rombongan itu dengan senang hati karena mereka akan dapat menonton sejenis hiburan yang jarang mereka lihat. 

Dalam pada itu, Warsi menjadi lebih berhati-hati lagi dari masa yang lewat. Ia tidak sekadar ingin mendapat jalan, mengenal anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan dibunuhnya, tetapi ia justru ingin mengambilnya dan menguasainya sebagai suaminya. 

Karena itu, Warsi bersikap lebih sopan dari masa yang terdahulu. Ia menolak permainan janggrung bersama laki-laki kasar dengan tari yang kasar pula. 

Tetapi Warsi tidak menolak untuk menyelenggarakan tayub di rumah tertentu dengan suasana yang lebih halus dan tertib. Meskipun dalam acara janggrung yang kasar, Warsi akan mendapat uang yang lebih banyak, karena kadang-kadang laki-laki yang ingin menari bersamanya justru memberi saling melebihi yang lain jika mereka ingin mendapat kesempatan lebih dahulu. Tetapi di acara tayub Warsi hanya mendapatkan uang dari seseorang yang memanggilnya untuk menari di rumahnya, sementara para tamu orang itu menari bergantian dengan teratur dan tidak saling berebut dahulu. Namun demikian, kadang-kadang ada juga satu dua orang tamu yang memberikan uang kepada penari yang cantik itu tetapi justru setelah ia selesai menari. 

Berita kedatangan rombongan penari itu cepat menjalar dari padukuhan ke padukuhan. Bahkan jika Warsi mendapat panggilan untuk menari dan tayub di rumah seseorang, orang-orang dari padukuhan lain telah datang pula untuk melihat pertunjukan itu. 

Dengan demikian, maka seperti yang diharapkan oleh Warsi, maka berita kedatangannya telah didengar pula oleh Wiradana, anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan. 

Berita itu telah menimbulkan keinginan Wiradana untuk melihat, bahkan bertemu dengan penari yang cantik dan muda itu. Namun ia masih berusaha untuk mengekang dirinya. Ia tidak mau tergesa-gesa bertemu dengan penari itu, seolah-olah ia sudah merindukan sedemikian lama. 

“Biarlah rombongan itu mendekat pada padukuhan di sebelah padukuhan induk,” berkata Wiradana di dalam hatinya. 

Namun dalam pada itu, pada saat-saat senggang, baik Warsi maupun para penabuhnya sempat berbicara dengan orang-orang Sembojan. Jika di malam hari rombongan itu mendapat kesempatan tidur di serambi banjar, maka pagi harinya orang-orang yang merawat banjar itu sempat berbincang-bincang dengan rombongan itu. 

Beberapa persoalan telah mereka bicarakan. Orang-orang Sembojan sering bertanya tentang perjalanan yang pernah mereka tempuh sebagai serombongan pengamen. Namun ada yang sempat bertanya tentang keluarga yang mereka tinggalkan di rumah. 

“Apakah kalian tidak takut, bahwa suatu ketika kalian akan bertemu dengan sekelompok perampok yang dapat merampas uang yang sedikit demi sedikit kalian kumpulkan, bahkan pakaian tari dan gamelan? Apalagi jika mereka merampok penari muda yang cantik itu?” bertanya seseorang. (Bersambung)-m.

 

 affinity468x60_7

  Senin, 14-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 128 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  “KAMI telah memperhitungkannya,” jawab pengendangnya. “Karena itu, pada umumnya kami berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain di siang hari. Di malam hari kami menari di padukuhan-padukuhan yang biasanya ramai dikerumuni penonton.”


Orang-orang yang bertanya itu mengangguk-angguk. Memang penari yang cantik itu pernah juga menari di siang hari, tetapi pada umumnya Warsi menari di malam hari, apalagi selama di Sembojan. 

Namun dalam pada itu, ada satu berita yang telah mengejutkan Warsi. Dalam pembicaraan yang berkepanjangan, hilir mudik tidak menentu, maka Warsi telah mendengar bahwa istri Wiradana, anak Kepala Perdikan yang sudah disiapkan untuk menggantikan kedudukan ayahnya di Sembojan itu, telah mengandung. 

Berita itu benar-benar telah menggelisahkan Warsi, sehingga ia seolah-olah memerlukan mendapat keterangan atas kebenaran berita itu. 

Ternyata bahwa beberapa orang yang sempat terpancing untuk mengatakan bahwa istri Wiradana telah mengandung. 

“Gila geram Warsi di dalam bilik banjar padukuhan yang diijinkan untuknya tinggal satu dua malam, “Kita telah terlambat.” 

“Kenapa?” bertanya pengendangnya. “Tidak ada keterlambatan. Meskipun perempuan itu telah mengandung, maka kemungkinan sebagaimana kau harapkan masih dapat terjadi.” 

“Aku sendiri akan membunuh perempuan itu,” geram Warsi. 

Tetapi pengendangnya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jangan kotori tanganmu. Biarlah Wiradana melakukan sendiri. Mungkin ia akan dapat menceraikannya.” 

“Tetapi anak yang akan lahir itu? Jika ia laki-laki maka ia berhak atas Tanah Perdikan ini kelak,” jawab Warsi. 

“Soalnya, apakah anak itu akan hidup terus sampai masa dewasa,” jawab pengendangnya. 

Warsi merenungi kata-kata itu. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Memang kemungkinan yang demikian itu dapat saja terjadi. Tetapi kau harus memperhitungkan kemungkinan, bahwa kehamilan istri Wiradana itu adalah pertanda bahwa mereka telah memasuki satu kehidupan yang manis. Dengan demikian, maka Wiradana tidak akan berpaling lagi dari istrinya.” 

“Kita akan mencoba,” berkata pengendangnya. “Menilik sikapnya, maka aku yakin bahwa Wiradana akan tertarik kepadamu jika kau berhasil memikatnya dengan modal yang ada padamu. Kau harus bersikap sebagai seorang perempuan. Bukan seekor harimau betina yang garang.” 

“Diam,” bentak Warsi. “Aku dapat merontokkan gigi-gigimu seluruhnya.” 

“Ingat. Aku adalah ayahmu. Jika kau berani melawan ayahmu, maka dimata Wiradana kau bukan seorang perempuan yang baik,” jawab pengendangnya. 

“Anak setan,” geram Warsi. 

“Kau memang harus bersikap sebagai seorang perempuan. Aku berkata sebenarnya untuk kebaikanmu. Dan kau pun harus bersikap lain terhadapku sekarang ini. Bukan maksudku memanfaatkan keadaan ini untuk keuntunganku. Percayalah, bahwa kau sudah aku anggap benar-benar seperti anakku sendiri. Aku ingin kau berhasil dengan baik sebagaimana kau kehendaki. Kali ini aku sama sekali tidak berusaha menjilat agar aku mendapat pujian, atau keningku tidak kau tampar. Tetapi hubungan kita menjadi lain.” 

Warsi mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia memang merasakan sikap yang berbeda dari pengendangnya itu. Ia benar-benar bersikap kebapakan yang ingin melihat anak gadisnya berbahagia. 

Ternyata Warsi berusaha untuk menyesuaikan diri. Ia berusaha untuk berubah sikapnya, agar ia tidak nampak sebagai seorang perempuan yang kadang-kadang menjadi kasar. Bahkan pengendangnya itu menasihatinya. 

(Bersambung)-o.

 

Selasa, 15-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 129 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  “Kau datang sebagai seorang penari, Warsi. Penari yang ngamen dari pintu ke pintu yang lain. Jika pada saat-saat tertentu kau menjadi kasar, maka lengkaplah alasan orang-orang Sembojan untuk mencelamu apabila kau berhasil menjadi istri Wiradana.

 Warsi mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mencoba. Namun aku tidak dapat melupakan pesan ayah, bahwa aku harus menguasai Wiradana, bukan akulah yang harus dikuasai.” 

“Menguasai seseorang mempunyai banyak pengertian. Bukan berarti bahwa kau harus menguasai secara wadag karena mungkin kau dapat mengalahkan jika kalian kelak bertengkar dan bahkan berkelahi. Menguasai dalam pengetian jiwani akan lebih penting artinya meskipun tidak nampak pada kewadagan,” berkata pengendangnya. 

Warsi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Tetapi apa yang harus aku lakukan sekarang?” 

“Seperti yang kita rencanakan. Ngamen di daerah Tanah Perdikan Sembojan. Aku yakin, bahwa Wiradana masih akan menemuimu dan jika kau dapat memanfaatkan bekal yang ada pada dirimu, maka kau tentu akan dapat memikatnya, meskipun istri Wiradana sudah mengandung,” jawab pengendangnya itu. 

Warsi mengangguk-angguk pula, sementara pengendangnya itu berkata lebih lanjut, “Seterusnya kita harus menilai setiap keadaan. Kita akan melangkah setapak demi setapak.” 

“Aku akan menurut semua petunjukmu, dan aku akan mencoba untuk bersikap sebagaimana sikap seorang anak perempuan terhadap ayahnya,” desis Warsi kemudian. 

“Bagus, mudah-mudahan kita berhasil,” jawab pengendangnya itu. 

Demikianlah maka Warsi pun telah meneruskan pekerjaan yang telah dilakukannya itu. Ia mulai bergerak dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya. Jika ia terlalu lama berada di satu padukuhan, maka penghuni padukuhan itu akan menjadi jenuh dan tidak berminat lagi untuk menonton tari-tariannya. Meskipun ada juga beberapa orang laki-laki yang tidak dapat ingkar dari perasaannya, bahwa rasa-rasanya setiap saat ingin melihat wajah Warsi. 

Dengan demikian, maka akhirnya Warsi pun telah berada di sebuah padukuhan terdekat dengan padukuhan induk. Beberapa orang di padukuhan induk telah pergi menyaksikan pertunjukan Warsi dimalam itu. Dan mereka pun mulai mempercakapkannya sebagaimana mereka mempercakapkannya dahulu. 

“Perempuan itu memang cantik,” berkata seorang laki-laki yang masih muda. “Bahkan rasa-rasanya ia menjadi bertambah cantik.” 

“Sayang,” jawab kawannya. “Kenapa ia tidak mencari pekerjaan yang lebih baik dari menjadi seorang penari keliling yang ngamen dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Beberapa bulan yang lalu ia sudah datang ke padukuhan ini. Sebelum kami melupakannya ia sudah datang untuk kedua kalinya.” 

“Mungkin Tanah Pardikan ini dapat memberi nafkah yang agak baik bagi rombongan itu, sehingga mereka mencoba untuk mengulangi keuntungan yang pernah didapatkannya itu,” jawab yang lain pula. 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat, bahwa agaknya Tanah Perdikan itu merupakan daerah yang subur bagi pengamen yang cantik itu. 

Dalam pada itu, ketika Warsi sedang menari di padukuhan sebelah pada satu malam, maka beberapa orang dari padukuhan induk pun telah datang untuk menonton pula. Bahkan di antara mereka dengan diam-diam Wiradana pun telah menyaksikan pertunjukan itu pula. Meskipun ia tidak datang sebagai seorang anak Kepala Perdikan, tetapi justru dengan diam-diam dan berada di antara orang-orang yang berkerumun sambil berselimut kain panjang dan berusaha untuk tidak dikenali oleh orang-orang disebelah menyebelah karena pakaian yang dikenakannya bukan pakaian yang biasa dipakainya, namun Wiradana sempat menyaksikan pertunjukan itu cukup lama. 

(Bersambung)-c.
  Rabu, 16-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 130 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

  TERNYATA dimata Wiradana Warsi tetap cantik sebagaimana dilihatnya beberapa bulan yang lalu. Senyumnya masih tetap cerah dan bahkan perempuan itu nampak lebih lembut dan luruh.


“Kasihan,” guman Wiradana yang kemudian mendahului orang-orang lain meninggalkan tempat pertunjukan itu, “Perempuan secantik itu harus menjalani kehidupan yang memelas. Bahkan menilik sikapnya ia adalah perempuan yang baik. Berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang mencari nafkahnya sebagai penari yang ngamen dari rumah ke rumah. Mereka nampaknya agak rongeh sehingga memberikan kesan sifat-sifat mereka yang lebih bebas. Meskipun tidak selalu bahwa yang rongeh dan bebas itu menjurus kepada hal-hal yang tidak baik.” 

Bagaimana pun juga Warsi tetap menarik perhatian Wiradana, meskipun sebenarnyalah sebagaimana disebut oleh beberapa orang, bahwa istri Wiradana memang sudah mengandung. 

Ketika Wiradana kemudian sampai ke rumahnya, maka ia pun mulai merenungi dirinya sendiri. Ketika dilihatnya istrinya yang tertidur nyenyak, terasa hatinya telah tersentuh pula. 

Tetapi yang terbersit dihati Wiradana adalah sekadar perasaan kasihan. Istrinya yang mengandung itu seakan-akan merupakan seorang perempuan yang bersih dari segala macam kesalahan. Seakan-akan perempuan itu hatinya putih seperti kapas. 

Di dalam tidurnya perempuan itu seolah-olah tersenyum. Ia sedang menunggu kehadiran seorang bayi yang tumbuh karena perkawinannya dengan anak Kepala Perdikan Sembojan itu. 

Namun dalam pada itu, ketika Wiradana sempat memandang wajah Iswari, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada istrinya, “Kenapa Iswari tidak secantik penari itu.” 

Ketika Wiradana berbaring disamping istrinya, maka ia pun berusaha untuk melupakan penari yang dimatanya adalah seorang perempuan yang sangat cantik. 

Meskipun untuk beberapa lamanya Wiradana tidak dapat memejamkan matanya, namun akhirnya Wiradana pun tertidur pula. 

Namun di hari-hari kemudian, hati Wiradana pun mulai menjadi gelisah. Meskipun sikapnya kepada Iswari tidak berubah, tetapi ada sesuatu yang mulai bergetar dihatinya. Wiradana tidak dapat melupakan penari yang disepanjang jalan-jalan di Tanah Perdikan Sembojan. 

Bahkan akhirnya, Wiradana tidak lagi dapat bertahan untuk tidak menemui Warsi. Meskipun ia masih juga berselubung dengan melakukan tugasnya, namun akhirnya Wiradana telah berada di banjar padukuhan disebelah padukuhan induk untuk mengunjungi serombongan pengamen. 

Pertemuan itu adalah saat yang sangat dinanti-nantikan oleh Warsi dan seluruh rombongannya. Perkembangan keadaan selanjutnya tergantung kepada Warsi. Apakah ia akan dapat berhasil memikat hati Wiradana atau tidak. 

(Bersambung)-c.


 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 16/X/2002
12 Oct. is Bali's mourn


Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....



KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant