Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Kamis, 26-09-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 111 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

YANG bertempur tidak jauh dari Warsi adalah pemimpin dari lima gegedug itu. Tetapi ia pun mendapat lawan yang mengejutkan pula. Orang yang pernah menjadi tukang gendang disaat-saat Warsi ngamen ke Tanah Perdikan Sembojan itu ternyata mampu mengimbangi ilmu dari pemimpin gegedug yang garang itu. 
"Gila," geram pemimpin gegedug itu, "Ternyata ada juga orang yang mampu melawan aku lebih dari sepenginang."

"Jangan terlalu sombong," jawab pengendang itu. "Aku dapat menggilasmu lebih cepat. Tetapi aku masih ingin menunjukkan ilmuku. Mudah-mudahan kau dapat mengenali, bahwa aku adalah salah seorang pengikut Kalamerta yang setia." 

"Persetan dengan Kalamerta," geram pemimpin gegedug itu. "Kau kira aku takut mendengar nama itu. Nama seorang perampok kecil yang tidak berarti, yang mati terbunuh di petualangannya. He, bukankah Kalamerta sudah mati." 

Hampir diluar dugaan, bahwa pembicaraan itu didengar oleh Warsi sehingga ia menjawab, "Memang. Paman Kalamerta sudah meninggal. Tetapi kau masih dapat melihat ilmunya yang tertinggal padaku." 

Pemimpin gegedug itu mengumpat. Bahkan ia pun bergerak lebih cepat untuk mendesak lawannya. Namun dalam pada itu, laki-laki yang menginginkan Warsi itu menjadi berdebar-debar. Ia sudah pernah mendengar nama Kalamerta. Bahkan ia mengerti bahwa Kalamerta sebagaimana ayah Warsi, masih ada hubungan kadang. Namun yang paling mendebarkan ialah, bahwa laki-laki yang menginginkan Warsi itu mengetahui, bahwa Kalamerta adalah orang yang memiliki kemampuan yang sulit dicari bandingnya. 

Karena itu, ketika Warsi mengaku bahwa ia memiliki ilmu Kalamerta, maka hatinya pun tiba-tiba menjadi kecut. Apalagi ketika kemudian senjata Warsi itu berputar semakin cepat. 

Tetapi semuanya sudah terlambat. Warsi sudah menentukan akhir dari pertempuran itu. Sebagaimana laki-laki itu berniat untuk membunuh Warsi, maka Warsi pun telah bertekad untuk membunuh laki-laki itu. 

Dalam pada itu, kelima gegedug yang diupah oleh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu pun berusaha untuk dengan segera mengakhiri pertempuran. Ia melihat laki-laki yang mengupahnya ayah beranak itu terdesak. Jika mereka mengalami cidera, maka mungkin sekali akan ada perhitungan tentang upah mereka. 

Karena itu, maka para gegedug itu pun bertempur semakin cepat dan garang. 

Demikian pula kedua orang pengawal ayah dari laki-laki yang menginginkan Warsi itu. Keduanya bertempur semakin seru. Bahkan keras dan kasar. 

Para pengikut ayah Warsi yang bertempur dengan segenap kemampuan mereka, benar-benar membentur kekuatan yang sulit untuk ditundukkan. Bahkan raksasa berambut putih yang bertempur melawan dua orang itu pun masih belum terkalahkan. 

Bahkan sesaat kemudian, maka raksasa yang berpedang lengkung itu pun telah berhasil menyentuh kulit lawannya. Sentuhan yang kebetulan terjadi ketika ia berusaha menangkis pedang lengkung itu. Tetapi ujung pedang itu bergerak melingkar dan menyentuh kulitnya. 

Lawan raksasa berpedang lengkung itu mula-mula tidak merasakan sesuatu pada tubuhnya. Ia baru sadar, bahwa kulitnya tersentuh, ketika kemudian ia merasa bahwa darah mengalir dari lengannya. 

"Gila," orang itu menggeram sambil meloncat surut. Ketika dengan telapak tangannya ia meraba lengannya, alangkah terkejutnya. Luka itu ternyata merupakan luka yang dalam. 

Ternyata darah itu telah membuat orang itu bagaikan menjadi gila. Dengan garang ia berloncatan menyerang raksasa berkepala kecil dan bersenjata pedang lengkung itu. Namun raksasa itu memang memiliki ilmu yang luar biasa. 

 

 

Sabtu, 28-09-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 112 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

DALAM pada itu, di luar sadarnya, raksasa berkepala kecil itu melihat keadaan laki-laki yang menginginkan Warsi itu menjadi semakin sulit. Ia semakin terdesak dan sekali-kali rantai di tangan Warsi berdesing hampir menyentuhnya. Namun bagaimana pun juga binalnya Warsi, kadang-kadang ia masih juga disentuh satu kesadaran, bahwa laki-laki itu adalah masih kadangnya sendiri.

“Tetapi ia bersalah ganda,” Warsi menggeregetkan giginya untuk mengusir kelemahan hatinya. “Ia berniat membunuhku dan ia sudah mencuri luwuk kakekku.”
Dalam keragu-raguan itu, setiap kali laki-laki yang menginginkannya itu rasa-rasanya mendapat kesempatan untuk lolos dari bayangan maut.
Namun sementara itu telah terjadi sesuatu yang mempengaruhi keseimbangan dari pertempuran itu ketika raksasa berkepala kecil itu dengan garangnya memanfaatkan keadaan. Lawannya yang sudah terluka itu, yang menjadi bagaikan kehilangan akal oleh kemarahan yang menghentak-hentak, justru telah mendapat kesempatan. Darah yang semakin banyak mengalir memang sangat berpengaruh. Sementara itu pedang lengkung itu pun bergerak semakin cepat.
Ketika sekali lagi pedang itu berhasil menyentuh pundaknya, maka kulitnya benar-benar telah terkoyak sampai ketulang. Bahkan rasa-rasanya sebelah tangan orang itu tiba-tiba saja telah menjadi lumpuh.
Pada saat yang tegang raksasa berkepala kecil itu telah berhasil menggoreskan tajam pedangnya yang lengkung itu di dada lawannya. Karena itu, maka lawannya pun terdesak tertahan. Namun ia tidak mampu bertahan. Luka-lukanya benar-benar menjadi sangat parah, sehingga ia tidak mampu untuk berbuat apa-apa ketika pedang lengkung itu menghunjam langsung mengarah jantung.
Orang bertubuh raksasa dan berkepala kecil itu menarik pedangnya sambil menggeram, “Kematian adalah wajar bagi seorang laki-laki yang sombong dan dungu.”
Sebenarnyalah kematian itu membuat kedua belah pihak menjadi semakin terbakar oleh kemarahan. Sementara itu raksasa berkepala kecil yang melihat bahwa laki-laki yang menginginkan Warsi itu justru semakin mengalami kesulitan, maka ia pun telah melangkah mendekatinya.
“Bagus,” desis laki-laki yang menginginkan Warsi itu. “Kita bunuh saja perempuan iblis itu. Jika ia tetap hidup, maka ia adalah perempuan binal yang paling berbahaya. Aku tidak memerlukannya lagi.”
Kata-kata itu sangat mengejutkan Warsi. Baru ia menyadari kesalahannya, bahwa ia tidak segera membunuh laki-laki itu. Ia merasa bahwa ia telah membiarkan laki-laki itu terlalu lama sehingga ternyata kemudian seseorang akan sempat membantunya.
Tetapi Warsi adalah seorang yang mewarisi kemampuan Kalamerta. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia pun menggeram dengan suara yang bagaikan menggetarkan bumi.
Memang mengejutkan, bahwa seorang perempuan telah menggeram dengan suara yang menggetarkan jantung. Namun bagi laki-laki yang semula menginginkannya, Warsi memang sudah berubah menjadi iblis betina yang mengerikan.
Raksasa berkepala kecil dengan pedang lengkung itu pun menjadi semakin dekat. Wajahnya menjadi tegang ketika ia melihat cara Warsi menggerakkan rantainya.
Sementara itu Warsi pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia sadar bahwa raksasa berkepala kecil itu memiliki kemampuan yang tinggi.
Tetapi justru karena itu, maka kebinalan Warsi pun justru berkembang. Ia ingin menunjukkan kepada laki-laki yang menginginkannya itu, bahwa ia benar-benar memiliki kemampuan bertempur yang tidak hanya sekadar dapat mengalahkannya saja. (Bersambung)-m.

 

Sabtu, 28-09-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 113 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

KARENA itulah, maka Warsi telah menunggu. Jika dikehendaki, maka ia dapat mempergunakan saat-saat yang pendek itu untuk membunuh laki-laki yang menginginkannya itu untuk mengurangi bebannya pada pertempuran yang mendatang. Tetapi ia tidak memerlukannya. Bahkan ia menunggu raksasa berkepala kecil yang telah membunuh seorang di antara pengawalnya itu.

“Raksasa ini pun harus mendapat hukuman,” berkata Warsi di dalam hatinya. “Ia sudah membunuh satu dari orang-orangku yang setia.” 

Karena itu, demikian laki-laki berpedang lengkung itu mendekat, maka Warsi pun berkata, “Marilah. Aku memang menunggu. Aku tidak membunuh laki-laki cengeng itu sebelum ia yakin, bahwa aku memang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Bukan hanya atas dirinya sendiri, tetapi juga atasmu raksasa yang berkepala kecil. Apalagi kau sudah membunuh seorang di antara para pengikut ayahku.” 

Raksasa berkepala kecil itu menjadi marah, justru karena ia telah disinggung cacatnya. Karena itu, maka ia pun segera telah meloncat menyerang dengan garangnya. 

Warsi seakan-akan telah mendapatkan satu kegembiraan. Ia mendapat lawan yang terasa perlawanannya. Karena itu maka ia pun menjadi semakin lincah. Warsi mulai berloncatan seperti anak kijang. Namun sekali-kali menyambar lawannya bagaikan seekor burung sikatan. 

Dua orang laki-laki yang menjadi lawannya berusaha untuk bertempur berpasangan. Saling mengisi dan saling memecah perhatian Warsi. Tetapi ternyata Warsi adalah tetap seorang perempuan yang garang. 

Perhatian Warsi kemudian memang lebih banyak tertuju kepada raksasa yang berkepala kecil. Serangannya terasa mantap dan desing pedangnya memang mendebarkan jantung. Namun rantai di tangan Warsi pun berputar seperti baling-baling. Kadang-kadang rantai itu menebas mendatar. Namun tiba-tiba rantai itu mematuk dengan cepat bagaikan terjulur memanjang. 

Raksasa berpedang lengkung itu mulai merasakan. Warsi memang memiliki ilmu yang tinggi. Ia bukan sekadar seorang perempuan binal. Tetapi ia memang memiliki bekal dalam kebinalannya itu. 

Dalam pada itu pertempuran memang sudah diwarnai dengan darah. Selain seorang sudah terbunuh, maka seorang lagi pengikut Warsi sudah terluka. Tetapi luka segores di lengannya itu masih belum berarti melumpuhkannya. Ia masih memberikan perlawanan sebagaimana sebelumnya. 

Tetapi sementara itu, raksasa yang berambut putih, yang bertempur melawan dua orang pengikut Warsi mulai terdesak. Ketika seorang di antara kedua orang yang bertempur ber-pasangan itu mencoba membantu Warsi, maka Warsi berteriak, “Selesaikan kuda tua berambut putih itu. Raksasa berkepala kecil ini tidak berbahaya sama sekali.” 

“Gila,” raksasa berpedang lengkung itu marah sekali. Dengan serta merta ia menyerang dengan garangnya. Pedangnya yang tajamnya tujuh kali lipat tajamnya pisau cukur itu berdesing, hampir saja menyambar telinga Warsi. 

Warsi mengumpat kecil. Namun sementara itu, ia mulai mencemaskan keadaan para pengikutnya. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa seorang dari pengikutnya telah terluka pula setelah seorang terbunuh. 

Kemarahan itulah yang mendorong Warsi untuk menghentakkan ilmunya. Rantainya berputar semakin cepat. Sekali-kali rantai itu mematuk memanjang dan menyambar sendal pancing sebagaimana sebuah cambuk. 

Raksasa berkepala kecil itu mulai merasa, betapa sulitnya menjinakkan Warsi. Bahkan ketika ia berusaha menembus putaran rantai Warsi sambil menjulurkan pedangnya, maka terasa ujung rantai Warsi telah menyengat pundaknya. 

“Iblis betina,” teriak raksasa itu. Tetapi demikian mulutnya terkatup, demikian cepatnya seakan-akan mendahului penglihatannya, ujung rantai itu telah menyentuh lambung laki-laki yang menginginkan Warsi itu. 

 

Minggu, 29-09-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 114 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

Terdengar orang itu mengaduh. Darah mulai mengalir dari lambung laki-laki itu dan dari pundak raksasa berkepala kecil itu. 
Pertempuran selanjutnya menjadi semakin garang bagi kedua belah pihak. Tetapi laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang sudah terluka dilambung itu menjadi semakin lemah.

“Ayah,” desis laki-laki itu. 

Tetapi ayahnya tidak dapat menolongnya. Ia terlibat dalam pertempuran melawan ayah Warsi. Pertempuran yang menjadi semakin cepat. Namun yang mulai terasa, bahwa ayah Warsi telah mendesak lawannya semakin berat. 

Yang seimbang adalah bekas pengendang Warsi yang bertempur melawan pemimpin gegedug yang diupah oleh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu. Ternyata pemimpin gegedug itu benar-benar seorang yang sudah mapan di dalam dunianya. Ia sama sekali tidak ragu-ragu menyerang dan bahkan apabila mungkin menghancurkan lawannya sampai lumat. 

Tetapi lawannya pun seorang yang memiliki pengalaman yang luas di dalam olah kanuragan. Karena itu, maka pemimpin gegedug itu tidak segera dapat menguasai lawannya. Betapa ia berusaha mengerahkan ilmunya. 

Namun pemimpin gegedug itu melihat, seorang kawannya telah berhasil melukai lawannya. Jika ia dengan cepat dapat memenangkan pertempuran itu, maka semuanya akan segera selesai. Apalagi pengawal laki-laki yang mengupahnya itu sendiri telah mampu membunuh seorang lawan. 

“Jika kedua raksasa itu merupakan kunci kemenangannya, maka kami tidak akan dapat upah yang lebih banyak,” berkata pemimpin gegedug itu di dalam hatinya. 

Namun sebenarnyalah bahwa mereka tidak dapat mengingkari kenyataan. Warsi yang marah itu akhirnya benar-benar berhasil menguasai kedua lawannya. Raksasa yang berkepala kecil dan berpedang lengkung itu sudah dilukainya dan kehilangan kemampuan untuk bergerak secepat saat ia mulai dengan pertempuran itu. Bahkan rasa-rasanya serangan Warsi semakin lama semakin cepat. Rantainya menyambar-nyambar semakin dahsyat bagaikan ribuan lebah diseputar tubuhnya dan sekali-kali terasa ujungnya menyengat kulitnya. 

Raksasa itu mempercayakan ilmunya pada landasan kekuatannya yang sangat besar, sesuai dengan besar dadanya. Tetapi menghadapi senjata rantai, pedangnya menjadi tidak begitu banyak dapat menyalurkan kekuatannya. Benturan yang terjadi, bukannya kekuatan. Jika ia dengan sengaja menangkis serangan Warsi, maka yang terjadi justru kesulitan. Sekali-kali rantai itu membelit daun pedangnya. Ketika Warsi menariknya menghentak, hampir saja pedangnya itu terlepas dari tangannya. 

Laki-laki yang menginginkan Warsi dalam pertempuran yang semakin cepat dan keras, seakan-akan tidak berarti apa-apa lagi. Meskipun ia masih berusaha membantu raksasa yang berkepala kecil itu, namun gerak dan sikapnya tidak banyak mempengaruhi pertempuran yang semakin keras itu. 

Dalam pada itu, seorang dari para gegedug yang berhasil melukai lawannya itu semakin mendesak. Darah yang mengalir benar-benar berpengaruh bagi kemampuannya untuk tetap bertahan. 

Dengan harapan untuk segera mengakhiri pertempuran itu, maka gegedug itu berusaha semakin keras untuk dengan cepat mengalahkan lawannya yang sudah terluka. 

Tetapi yang kemudian terdengar mengaduh adalah raksasa berkepala kecil dan bersenjata pedang lengkung itu. Rantai Warsi yang berputar benar-benar mengacaukan pertahanannya. Tiba-tiba saja rantai yang berputar itu bagaikan terurai. Ujungnya terjulur memanjang dan mematuk kearah dada. 

Raksasa itu sempat mengelak. Tetapi tiba-tiba saja rantai itu terayum mendatar. 

Demikian cepatnya, sehingga rantai Itu telah mengoyak lambung raksasa berkepala kecil dan bersenjatakan pedang lengkung itu. 

(Bersambung)-m.
Senin, 30-09-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 115 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

Sejenak raksasa itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Namun Warsi tidak membuang kesempatan itu. Ia sadar, bahwa salah seorang pengikutnya telah terbunuh dan seorang lagi telah terluka. Jika ia tidak dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu, maka akibatnya akan dapat menjadi parah bagi orang-orangnya.

Karena itu, maka Warsi pun telah meloncat memburu. Dengan garangnya dan tanpa ampun Warsi mengayunkan rantainya dan sekali lagi menyambar lawannya. Akibatnya benar-benar menentukan justru karena rantai itu menyambar leher lawannya. 

Dengan demikian, maka sejenak kemudian raksasa bersenjata pedang lengkung itu sudah terkapar di tanah. Diam. Sementara nafasnya pun telah terputus pula. 

Dalam pada itu, laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang telah terluka itu pun telah berusaha untuk mencegah hal itu terjadi. Dengan cepat ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya mengarah ke arah leher Warsi. 

Namun ternyata Warsi dengan tangkasnya telah merendah. Demikian pedang itu menjulur di atas kepalanya, maka sambil berjongkok Warsi pun telah mengayunkan rantainya mendatar. Dengan derasnya rantai itu telah menyambar sekali lagi lambung laki-laki itu. Bahkan ujungnya telah melingkar, bagaikan memeluk tubuhnya. Ketika Warsi menarik rantai itu, maka laki-laki itu telah terputar. Namun yang terdengar adalah jerit melengking. Tubuhnya yang telah dipeluk oleh rantai itu ternyata telah terkoyak pula. 

Laki-laki itu pun kemudian jatuh pula terguling. Masih terdengar ia mengaduh. 

Sementara itu, jeritnya telah memanggil orang-orang yang sedang bertempur itu untuk berpaling. Ketika ayahnya melihat laki-laki itu terputar dan kemudian jatuh terguling, ia meloncat jauh-jauh dari lawannya, ayah Warsi. 

“Anakku,” terdengar suaranya patah oleh kemarahan yang menyesak di kerongkongan. Kemarahannya benar-benar telah membakar jantungnya yang membuat darahnya mendidih. Karena itu, maka dengan serta merta ia pun telah meloncat menyerang lawannya membabi buta. 

“Kau menjadi gila,” geram ayah Warsi, yang bagaimanapun juga merasa bahwa laki-laki yang kehilangan anaknya itu adalah masih kadangnya sendiri. 

Tetapi laki-laki itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja menyerang dengan garangnya tanpa sempat berpikir sama sekali. 

Dalam pada itu, Warsi kemudian berdiri tegak di antara kedua sosok tubuh yang terbaring diam. Ketika terlihat olehnya luwuk yang sudah terlepas dari genggaman tangan laki-laki yang menginginkannya itu, maka luwuk itu pun segera diambilnya. 

“Luwuk ini milik kakek,” desis Warsi sambil mengamati luwuk itu. 

(Bersambung)-z.

 

 

 

 

 Banner 10000004

 

Selasa, 01-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 116 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

Sejenak kemudian ia pun telah berjongkok di samping laki-laki yang menginginkannya itu. Di amatinya laki-laki itu. Ternyata bahwa laki-laki itu benar-benar tidak bernafas. Satu kematian yang pahit, karena laki-laki itu telah terbunuh oleh perempuan yang akan diambilnya menjadi istrinya.


Perlahan-lahan Warsi telah menarik wrangka luwuk itu dari lambung laki-laki itu. Terasa cairan yang hangat telah membasahi wrangka luwuk itu. Darah yang mengalir dari lambung yang koyak oleh rantai Warsi itu sendiri. 

Dalam pada itu, ayah Warsi itu pun kemudian berkata, “Kakang, cobalah menyadari keadaanmu selagi semuanya belum terlanjur. Kau masih sempat menarik diri dari arena ini, karena kau adalah masih kadangku sendiri.” 

“Persetan,” geram laki-laki yang kehilangan anaknya itu. “Anak perempuanmu memang iblis betina. Ia membunuh anakku.” 

“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya,” berkata ayah Warsi. “Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkannya sendiri.” 

“Kaulah yang bertanggung jawab. Kau ajari anakmu menjadi pembunuh, he?” teriak ayah laki-laki yang terbunuh itu. 

“Lalu kau ajari apa anak laki-lakimu itu? Kawin berulang kali dan merampas perempuan dengan paksa? Jika hal seperti ini tidak atas Warsi, maka perempuan yang malang itu harus melayani sebagai budak kegilaannya. Tetapi karena anakmu membentur perempuan yang kebetulan adalah Warsi dengan sifat-sifatnya, maka ia harus menebus kelakuannya dengan sangat mahal,” jawab ayah Warsi. 

“Persetan dengan kata-katamu. Kau dan perempuan iblis itu harus mati,” geram laki-laki yang kehilangan anaknya itu. 

Ayah Warsi tidak menjawab lagi. Ia sudah cukup memberi peringatan kepada lawannya yang masih kadangnya sendiri itu. Tetapi peringatan itu sama sekali tidak dihiraukannya, sehingga ia justru berusaha menyerang ayah Warsi semakin keras. 

Dalam pada itu, Warsi masih berjongkok disamping tubuh laki-laki yang akan mengambilnya menjadi istrinya itu. Namun tiba-tiba ia terkejut. Seorang pengikutnya berusaha berloncatan menjauhi lawannya. Bahkan dengan susah payah menghindari serangan-serangan yang memburunya. 

Warsi mengangkat wajahnya. Seorang pengikutnya yang terluka itu benar-benar mengalami kesulitan. Karena itu, maka Warsi pun kemudian meloncat berdiri dan dengan tiba-tiba saja ia sudah berdiri disamping pengikutnya yang terluka dan sudah kehilangan harapan untuk tetap bertahan. 

“Minggirlah,” desis Warsi. 

Lawan pengikutnya itu tertegun sejenak. Orang itu mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Warsi. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi gentar. Ia memang ingin berbuat sesuatu yang dapat menentukan, sehingga kehadirannya tidak dapat dianggap sebagai sekadar pelengkap. Raksasa berkepala kecil dan bersenjata pedang lengkung itu sudah terbunuh, sehingga peranannya tidak dapat dianggap menentukan. 

Kehadiran Warsi memberikan harapan kepadanya, bahwa ia akan mengalahkannya, sehingga ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu akan sangat berterima kasih kepadanya. 

“Aku harus cepat menyelesaikan perempuan iblis itu agar kemudian aku dapat menolong orang yang harus mengupahku. Jika orang itu mati juga seperti anaknya, maka sia-sialah semua kerja yang mempertaruhkan nyawa ini,” berkata gegedug itu di dalam hatinya. 

Karena itu, maka ketika Warsi benar-benar mengambil alih perlawanan salah seorang pengikutnya, maka gegedug itupun telah bergeser semakin dekat. Senjatanya terayun-ayun mengerikan. Sebatang tombak pendek. 

Tetapi ternyata Warsi memang memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan. Ia mampu berloncatan di sela-sela putaran tombak lawannya. Bahkan ujung rantainya seakan-akan dapat menyusup mematuk tubuh lawannya. 

(Bersambung)-m.

 

 

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

 
Rabu, 02-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 117 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

SEPERTI lawannya, Warsi pun mulai jemu dengan pertempuran itu. Sementara itu, ia pun mulai memikirkan malam yang semakin mendekati akhirnya.

Dengan puncak kemampuannya, ternyata bahwa Warsilah yang kemudian berhasil mendesak lawannya. Orang bertombak pendek itu tidak banyak mempunyai kesempatan. Kemampuan perempuan itu benar-benar diluar dugaannya. 

Jika ia semula bersyukur bahwa ia dapat berhadapan dengan Warsi, maka ia pun mulai mencemaskan dirinya sendiri. Apalagi ketika kemudian ujung rantai Warsi mulai menyentuhnya. Maka terasa bahwa kemampuannya memang berada dibawah kemampuan perempuan binal itu. 

“Ilmu perempuan ini memang ilmu iblis,” desis lawannya. 

Namun dalam pada itu, pemimpin gegedug yang bertempur dengan bekas tukang gendang Warsi itu pun berkata pula di dalam hatinya, “Pantas jika ia berani menyebut dirinya mewarisi ilmu Kalamerta yang terbunuh itu. 

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu pun mulai kelihatan. Pengawal berambut putih yang memiliki tubuh dan kekuatan raksasa itu semakin terdesak oleh kedua lawannya. Sementara Warsi sejenak kemudian benar-benar telah menguasai gegedug yang salah hitung. Bahkan justru pada saat lawannya itu menjulurkan tombaknya, Warsi yang bergeser selangkah, telah menyerang lawannya sambil memutar tubuhnya bersama rantai ditangannya. 

Rantai yang berputar mendatar itu telah menyambar tubuh gegedug yang salah menilai kemampuan perempuan itu sebelumnya. Rantai yang menyambar mendatar setinggi dada itu telah benar-benar mengoyak dadanya. Meskipun orang itu sudah berusaha meloncat surut, tetapi ujung rantai itu bagaikan telah mengejarnya. 

Dengan demikian, maka segores luka telah menganga didada laki-laki itu. Luka yang panjang dan dalam. 

Terdengar laki-laki Itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa luka itu telah melenyapkan segala harapannya untuk memenangkan pertempuran itu. 

Ternyata Warsi pun tidak tanggung-tanggung lagi menghadapi lawannya. Selagi lawannya itu kesakitan dan berusaha untuk mengerti keadaan dirinya, Warsi sudah memburunya. Sekali lagi rantainya menyambar. Dan sebuah luka telah menganga di lehernya. 

Laki-laki itu sudah tidak mungkin untuk dapat ditolong lagi. Tubuhnya terlempar beberapa langkah surut dan jatuh terguling. Namun kemudian tubuh itu tidak lagi dapat bergerak. 

Seorang dari lima orang gegedug itu sudah terbunuh. 

Pemimpin gegedug itu menjadi sangat marah ketika ia melihat kawannya telah berkurang. Namun ketika ia meningkatkan kemampuannya sampai ke puncak, lawannya pun telah berbuat serupa. Dengan demikian, maka pemimpin gegedug itu tidak mampu dengan segera mengatasi lawannya, bekas tukang gendang Warsi. Bahkan rasa-rasanya tukang gendang itu semakin lama menjadi semakin garang dan kasar. 

Dalam pada itu, Warsi berdiri tegak disamping lawannya yang telah menjadi mayat. Sejenak ia menebarkan pandangan matanya keseluruh arena. Dua orang pengikutnya yang setia benar-benar telah menguasai raksasa yang berambut putih. Sementara pengikutnya yang lain bertempur melawan seorang yang bersenjata sebuah perisai kecil dan kapak. Agaknya pengikutnya mengalami kesulitan menghadapi jenis senjata itu. Senjata yang berpasangan. Dengan perisainya lawannya mampu menangkis segala serangannya, sementara kapaknya setiap kali ternyata menyambar langsung ke arah kepala. 

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ketika sekilas ia melihat ayahnya bertempur, maka ia tidak mencemaskannya. Bahkan ia merasa bahwa ayahnya seharusnya tidak lagi memperhatikan bahwa lawannya itu adalah kadang sendiri.
(Bersambung)-m.

 

 

 

 VirusAlert_468x60

 

 


Kamis, 03-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 11
9 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

“Sebaiknya ayah cepat saja mengakhirinya,” berkata Warsi di dalam hati. “Jika ayah masih juga memperpanjang pertempuran, satu kemungkinan yang pahit dapat saja terjadi sebagaimana satu kecelakaan.” 

Tetapi untuk sementara Warsi tidak mencampurinya. Ia ingin mendekati salah seorang lawan yang bersenjata perisai dan kapak itu. Rasa-rasanya sikap orang itu sangat menjengkelkan. Setiap kali ia bersembunyi dibelakang perisainya yang tidak begitu besar namum mampu melindungi dirinya dari ujung pedang lawannya. Namun tiba-tiba saja kapaknya terayun dengan derasnya mengarah ke ubun-ubun.

“Jika orang itu lengah sekejab saja, maka kepalanya akan terbelah,” desis Warsi. Karena itu, tiba-tiba saja ia telah meloncat mendekat sambil berkata kepada pengawalnya, “Minggirlah. Atau bantu kawanmu yang lain. Aku menjadi jengkel melihat sepasang senjata yang terdiri dari perisai dan kapak ini.” 

Gegedug yang mempergunakan senjata perisai dan kapak itu menggeram. Namun sebenarnyalah lawannya berusaha untuk meloncat menjauh sementara Warsi telah memasuki gelanggang melawan orang yang bersenjata perisai dan kapak itu. 

Senjata itu memang sangat menjengkelkan. Dengan perisainya orang itu berhasil menangkis serangan pedang lawannya. Sementara kapaknya menyambar dengan dahsyatnya. 

Tetapi agaknya berbeda dengan watak senjata yang dipergunakan oleh Warsi. Perisainya tidak dapat dipergunakan sebagaimana ia melawan pedang. 

Ketika rantai Warsi menyerang dengan derasnya, secara naluriah orang itu telah menangkis dengan perisainya. Tetapi justru karena itu, maka ujung rantainya telah menggapai tangannya yang menggenggam perisai itu. 

Orang itu meloncat surut. Ia masih tetap mempertahankan perisainya. Namun kemudian terasa tangannya itu sangat pedih. Ujung rantai perempuan iblis itu telah melukai tangannya, sehingga rasa-rasanya tangannya itu tidak lagi mampu dipergunakannya lagi. Darah yang segar mengalir dari luka itu yang nampaknya telah menganga sampai ketulang. 

“Gila,” geram orang itu. Sambil menghentakkan kapaknya, orang itu terpaksa melepaskan perisainya yang sudah tidak mungkin digenggamnya lagi dengan tangannya yang terluka. 

“Kau memang harus mati,” geram laki-laki bersenjata kapak itu. 

Warsi tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian terlibat dalam pertempuran yang semakin cepat. 

Adalah diluar kehendaknya, bahwa Warsi semakin lama menjadi semakin mendekati arena pertempuran ayahnya. Dengan demikian Warsi menjadi semakin jelas, bahwa masih ada juga sepercik keraguan dihati ayahnya untuk mengakhiri pertempuran itu. 

Namun Warsi tidak akan memaksa ayahnya untuk lebih cepat membunuh laki-laki yang masih kadangnya sendiri itu. Warsi akan membunuh semua orang yang berpihak kepada laki-laki yang telah kehilangan anaknya itu. Kemudian terserah kepada ayahnya, apa yang akan dilakukannya. 

Dalam pada itu, pengawal Warsi yang kehilangan lawannya yang bersenjata kapak itu, telah mendekati arena pertempuran yang lain. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian berkata kepada seorang kawannya, “Apakah aku boleh ikut? Lawanku telah diambil oleh Warsi.” 

“Marilah, selagi fajar belum menyingsing,” jawab kawannya. 

“Tetapi sebentar lagi langit akan menjadi merah,” gumam orang yang kehilangan lawannya itu. 

“Persetan,” geram gegedug yang kemudian harus menghadapi dua orang lawan, “Jangankan hanya dua, tujuh orang sekaligus aku tidak akan bergeser surut. Aku akan membantai kalian dengan tanpa ragu-ragu.” 

 

 

 affinity468x60_7

SH Mintardja (Cerbung) Sabtu, 05-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 118 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

TETAPI ternyata bahwa ia tidak dapat melakukannya. Ketika lawannya menjadi dua, maka ia pun segera mengalami kesulitan, karena para pengikut Warsi itu pun memiliki kemampuan bertempur sebagaimana dimiliki oleh gegedug itu. Kasar, keras dan kadang-kadang tidak menghiraukan tatanan apapun juga.

Sementara itu, Warsi yang melihat bahwa langit sudah menjadi semburat, mereka telah bertempur semakin cepat. Lawannya sama sekali tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang. Bahkan sejenak kemudian ujung rantai Warsi telah menyentuh paha lawannya itu. 

Sekali lagi lawannya mengumpat. Namun serangan Warsi justru menjadi semakin lama semakin cepat. Sehingga sekali lagi ujung rantai Warsi menyentuh lambung lawannya. 

Kemarahan gegedug itu bagaikan memecahkan dadanya. Ia adalah gegedug yang merasa dirinya memiliki kemampuan tidak berlawan. Namun menghadapi para pengikut Kalamerta ini, mereka harus mengakui, bahwa untuk mengalahkannya mereka harus membawa kawan lebih banyak lagi. 

Dalam keputusan-keputusan karena luka-lukanya, serta tanpa melihat kemungkinan untuk menyerang, maka lawan Warsi yang terluka dibeberapa tempat itu telah mengambil satu keputusan yang menentukan. Ketika Warsi berusaha untuk sekali lagi menyerangnya dengan ujung rantainya yang berputaran maka lawannya yang bersenjata kapak itu dengan serta merta telah mengambil ancang-ancang. Demikian cepatnya sehingga sulit untuk diikuti dengan mata wadag. Tiba-tiba saja kapaknya telah meluncur seperti tatit menyambar diudara mengarah ke dada Warsi. 

Warsi terkejut melihat serangan itu. Namun ternyata Warsi masih sempat mengelak. Dengan loncatan kesamping maka kapak itu terbang sejengkal dari dadanya. 

Namun ternyata kapak itu mengarah ke arah pertempuran antara ayah Warsi dan ayah laki-laki yang menginginkannya. Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, Warsi berteriak, “Ayah, hati-hati.” 

Ayah Warsi mendengar teriakan anaknya. Namun sebenarnya bahwa tidak seorang pun yang dapat menentukan takdir merenggut jiwa seseorang. Kapak itu sama sekali tidak menyambar ayah Warsi, tetapi justru telah terhujam kedalam tubuh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang telah kehilangan anak laki-lakinya itu. Tepat pada punggungnya, justru pada saat orang itu sedang mengerahkan kemampuannya melawan ayah Warsi. 

Terdengar orang itu mengumpat keras-keras, Licik, pengecut,” Namun sejenak kemudian ia pun telah terhuyung-huyung. Kapak itu benar-benar telah merampas segala kemungkinan untuk dapat keluar dari pertempuran itu. Bahkan akhirnya laki-laki itu telah jatuh pada lututnya. 

“Kau licik,” ia masih menggeram. 

Ayah Warsi berdiri termangu-mangu. Dengan suara datar ia menjawab, “Bukan kawan-kawanku. Justru kawanmu sendiri.” 

Mata laki-laki itu terbelalak. Tetapi hanya untuk sesaat. Karena sesaat kemudian ia pun telah terjatuh menelungkup. Bahkan akhirnya nafasnya pun telah terputus pula. 

Kematian demi kematian pun kemudian datang beruntun. Raksasa yang berambut putih itu pun tidak mampu lagi mempertahankan diri lebih lama menghadapi dua orang lawannya. Karena itu, maka akhirnya senjata-senjata lawannya telah mulai menghujam di tubuhnya. 

Demikianlah, maka pemimpin gegedug yang bertempur melawan bekas penggendang Warsi itu pun melihat, bahwa laki-laki yang mengupahnya, ayah beranak, telah mati terbunuh. Tidak ada lagi harapan untuk menerima upah yang tinggi. Apalagi kawannya telah ada pula yang terbunuh. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya daripada menghindar, karena agaknya tidak ada gunanya lagi ia bertempur berlama-lama. Bahkan kemungkinan yang paling buruk pun akan dapat terjadi atas dirinya.

(Bersambung)-o.

 

SH Mintardja (Cerbung) Sabtu, 05-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 118 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

TETAPI ternyata bahwa ia tidak dapat melakukannya. Ketika lawannya menjadi dua, maka ia pun segera mengalami kesulitan, karena para pengikut Warsi itu pun memiliki kemampuan bertempur sebagaimana dimiliki oleh gegedug itu. Kasar, keras dan kadang-kadang tidak menghiraukan tatanan apapun juga.

Sementara itu, Warsi yang melihat bahwa langit sudah menjadi semburat, mereka telah bertempur semakin cepat. Lawannya sama sekali tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang. Bahkan sejenak kemudian ujung rantai Warsi telah menyentuh paha lawannya itu. 

Sekali lagi lawannya mengumpat. Namun serangan Warsi justru menjadi semakin lama semakin cepat. Sehingga sekali lagi ujung rantai Warsi menyentuh lambung lawannya. 

Kemarahan gegedug itu bagaikan memecahkan dadanya. Ia adalah gegedug yang merasa dirinya memiliki kemampuan tidak berlawan. Namun menghadapi para pengikut Kalamerta ini, mereka harus mengakui, bahwa untuk mengalahkannya mereka harus membawa kawan lebih banyak lagi. 

Dalam keputusan-keputusan karena luka-lukanya, serta tanpa melihat kemungkinan untuk menyerang, maka lawan Warsi yang terluka dibeberapa tempat itu telah mengambil satu keputusan yang menentukan. Ketika Warsi berusaha untuk sekali lagi menyerangnya dengan ujung rantainya yang berputaran maka lawannya yang bersenjata kapak itu dengan serta merta telah mengambil ancang-ancang. Demikian cepatnya sehingga sulit untuk diikuti dengan mata wadag. Tiba-tiba saja kapaknya telah meluncur seperti tatit menyambar diudara mengarah ke dada Warsi. 

Warsi terkejut melihat serangan itu. Namun ternyata Warsi masih sempat mengelak. Dengan loncatan kesamping maka kapak itu terbang sejengkal dari dadanya. 

Namun ternyata kapak itu mengarah ke arah pertempuran antara ayah Warsi dan ayah laki-laki yang menginginkannya. Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, Warsi berteriak, “Ayah, hati-hati.” 

Ayah Warsi mendengar teriakan anaknya. Namun sebenarnya bahwa tidak seorang pun yang dapat menentukan takdir merenggut jiwa seseorang. Kapak itu sama sekali tidak menyambar ayah Warsi, tetapi justru telah terhujam kedalam tubuh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang telah kehilangan anak laki-lakinya itu. Tepat pada punggungnya, justru pada saat orang itu sedang mengerahkan kemampuannya melawan ayah Warsi. 

Terdengar orang itu mengumpat keras-keras, Licik, pengecut,” Namun sejenak kemudian ia pun telah terhuyung-huyung. Kapak itu benar-benar telah merampas segala kemungkinan untuk dapat keluar dari pertempuran itu. Bahkan akhirnya laki-laki itu telah jatuh pada lututnya. 

“Kau licik,” ia masih menggeram. 

Ayah Warsi berdiri termangu-mangu. Dengan suara datar ia menjawab, “Bukan kawan-kawanku. Justru kawanmu sendiri.” 

Mata laki-laki itu terbelalak. Tetapi hanya untuk sesaat. Karena sesaat kemudian ia pun telah terjatuh menelungkup. Bahkan akhirnya nafasnya pun telah terputus pula. 

Kematian demi kematian pun kemudian datang beruntun. Raksasa yang berambut putih itu pun tidak mampu lagi mempertahankan diri lebih lama menghadapi dua orang lawannya. Karena itu, maka akhirnya senjata-senjata lawannya telah mulai menghujam di tubuhnya. 

Demikianlah, maka pemimpin gegedug yang bertempur melawan bekas penggendang Warsi itu pun melihat, bahwa laki-laki yang mengupahnya, ayah beranak, telah mati terbunuh. Tidak ada lagi harapan untuk menerima upah yang tinggi. Apalagi kawannya telah ada pula yang terbunuh. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya daripada menghindar, karena agaknya tidak ada gunanya lagi ia bertempur berlama-lama. Bahkan kemungkinan yang paling buruk pun akan dapat terjadi atas dirinya.

(Bersambung)-o.
SH Mintardja (Cerbung) Minggu, 06-10-2002 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 120 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

Karena itu, adalah diluar dugaan bekas pemukul gendang itu, bahwa pada satu kenyataan, dengan tiba-tiba saja lawannya telah bergeser surut dengan satu loncatan panjang berlari meninggalkannya. 
“He, pengecut, tunggu,” teriak pemukul gendang itu.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya lagi. Bahkan sisa kawannya yang masih ada pun dengan tergesa-gesa telah melakukan hal yang serupa. Dengan tiba-tiba, tanpa ancang-ancang telah berloncatan meninggalkan arena. 

Para pengikut ayah Warsi tidak mengejar mereka. Namun dalam pada itu, terasa luka di hati Warsi pun menjadi semakin pedih. Ia melihat kawan-kawannya yang terbunuh dan terluka parah. Meskipun ada juga beberapa orang lawan yang terbunuh, namun kematian pengikutnya yang setia itu membuat Warsi menjadi sangat geram. 

“Seandainya langit belum berwarna merah, aku akan memburu mereka sampai orang yang terakhir,” suara Warsi gemeretak oleh kemarahannya. 

Tetapi ayahnya berusaha untuk menenangkannya, “Kita sudah tidak mempunyai waktu lagi. Kita harus segera kembali.” 

Warsi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Lalu apa yang akan kita katakan kepada para peronda tentang mayat-mayat ini?” 

“Biarlah orang-orang lain memasuki padukuhan dengan diam-diam,” berkata ayah Warsi. “Kita akan memasuki regol. Kau akan duduk bersamaku di atas seekor kuda. Aku akan mengatakan, bahwa kita telah dirampok di simpang empat ini. Sebagian kawan-kawan kita terbunuh dan yang lain melarikan diri. Sementara itu, beberapa orang perampok telah terbunuh oleh kawan-kawan kita.” 

Warsi berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Terserah sajalah kepada ayah.” 

“Marilah, mumpung fajar belum menjadi terang,” berkata ayah Warsi yang kemudian memerintahkan kepada orang-orangnya untuk kembali dengan diam-diam. Kawan-kawannya yang terluka harus dibawa. Tetapi yang sudah meninggal biarlah orang-orang padukuhan itu nanti akan mengurusnya bersama dengan orang-orang yang datang untuk mengambil Warsi, tetapi gagal. 

Dalam pada itu, Warsi pun telah mencari kain panjangnya dan kemudian mengenakannya kembali. Bersama dengan ayahnya ia berkuda menuju ke regol padukuhan. 

Kedatangan mereka memang mengejutkan. Pada wajah Warsi nampak kesan yang memelas. Ketakutan dan kebingungan. Sementara ayahnya masih nampak gemetar. 

“Apa yang telah terjadi?” bertanya para peronda. 

Ayah Warsi tidak turun dari kudanya. Dengan suara yang bergetar ia menjawab, “Kami telah dirampok.” 

“Dirampok?” bertanya para peronda sambil berloncatan mendekat, “Dimana?” 

“Di simpang empat,” jawab Warsi. 

(Bersambung)-m.

 

 

 

 

 

 spiral_laptop

 



 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 8/X/2002


Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....



KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant