|

Buy it at AllPosters.com
|
|

SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Senin, 16-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 101 |
"APA yang dapat kita lakukan
atas mereka?" bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.
"Mudah-mudahan mereka benar-benar hanya lewat," jawab
pemimpin peronda itu. "Tetapi jika tidak, dan mereka ingin
mengganggu ketenangan padukuhan kita, setidak-tidaknya kita dapat
membunyikan isyarat dengan kentongan."
Tapi rasa-rasanya memang ngeri berurusan dengan orang-orang itu.
Meskipun demikian, bagaimana pun juga ada secercah perasaan tanggung
jawab dihati anak-anak muda itu.
Dalam pada itu, di padukuhan-padukuhan sebelumnya, sembilan
orang itu benar-benar hanya lewat dan tidak membuat gaduh sama sekali.
Agak berbeda dengan padukuhan yang terakhir. Mereka ingin mengambil
seseorang dari padukuhan itu. Seorang gadis yang sangat cantik, yang
dikenal oleh setiap laki-laki dan bahkan tidak jarang anak-anak muda
yang memimpikannya. Sekadar bermimpi, karena untuk benar-benar
melamarnya, anak-anak muda itu merasa segan, karena Warsi adalah anak
seorang yang termasuk kaya di padukuhan itu.
Namun ada satu hal yang tidak diketahui oleh sembilan orang itu.
Sebenarnyalah bahwa ayah Warsi telah bersiaga menghadapi segala
kemungkinan, karena ia pun yakin, bahwa laki-laki yang melamar Warsi
itu tidak hanya sekadar bermain-main dan mengancam.
Karena itu, maka ia pun telah menempatkan dua orang pengamat di regol
padukuhan sebelah menyebelah. Pengamat yang tidak diketahui oleh para
peronda di regol.
Dalam pada itu, demikian para pengamat itu melihat sembilan orang
memasuki regol padukuhan, maka mereka pun segera menyadari bahwa yang
mereka tunggu selama itu telah datang.
Karena itu, maka kedua orang yang berada di regol yang menjadi pintu
masuk dari kesembilan orang itu segera berloncatan dari dinding ke
dinding halaman berikutnya, meminta jalan kembali ke rumah Warsi.
Ternyata mereka datang lebih dahulu dari sembilan orang berkuda.
Mereka sempat mengetuk pintu dan membangunkan Warsi dan ayahnya serta
para pengikutnya yang pernah menjadi pengiring pada saat Warsi pergi
ke Sembojan.
Dengan cepat maka mereka pun segera mengetrapkan
pembicaraan-pembicaraan yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Beberapa orang pengikut ayah Warsi itu pun tiba-tiba telah menghilang
dari halaman. Namun sebelumnya ayah Warsi berpesan, "Mereka tentu
mengambil jalan keluar yang lain dari saat mereka memasuki padukuhan.
Mereka tidak akan menempuh jalan kembali melalui gardu para peronda di
regol. Tetapi mereka akan mengambil jalan berikutnya."
Karena itu, maka para pengikut Warsi itu pun mengetahui kemana mereka
harus pergi.
Baru sesaat kemudian, maka sembilan orang berkuda telah memasuki regol
halaman rumah Warsi. Tidak ada seseorang pun yang menjaga rumah itu.
Halaman rumah itu nampaknya sepi saja. Tidak ada tanda-tanda kesiagaan
dari keluarga Warsi.
"Gila," geram ayah laki-laki yang menginginkan Warsi, "Ternyata
mereka tidak percaya. Ternyata mereka menganggap bahwa aku hanya
main-main saja dengan ancamanku. Dan itu sangat menyakitkan hati."
Pemimpin dari kelima orang gegedug itu tertawa, katanya, "Kalian
menyesal bahwa kalian telah bersedia membayar kami berlima tanpa
berbuat apa-apa."
"Persetan," geram laki-laki yang menginginkan Warsi.
"Apapun yang terjadi, tetapi upah kami tetap. Dua kali lipat jika
kita berhasil membawa Warsi utuh sampai ke rumah kalian," berkata
pemimpin gegedug yang lima orang itu.
Laki-laki yang menginginkan Warsi tidak menjawab. Tetapi ia pun
kemudian segera turun dari kudanya dan naik ke pendapa. Ayahnyalah
yang kemudian mengatur orang-orangnya untuk berjaga-jaga, karena
bagaimana pun juga mereka harus berhati-hati.
(Bersambung)-c
|
Rabu, 18-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 103 |
“BAGAIMANA dengan ayahku?”
bertanya Warsi.
“Aku tidak memerlukannya. Biarlah ayahmu menjadi urusan ayahku,”
berkata laki-laki itu.
Namun tiba-tiba Warsi memegang hulu pisaunya sambil berkata, “Aku
minta ayah pergi bersamaku. Jika tidak, aku menolak keinginanmu, aku
akan membunuh diri.”
Sejenak laki-laki itu termangu-mangu. Ketika kemudian ayahnya juga
memasuki bilik itu dan mendengar permintaan Warsi ia mengumpat,
“Buat apa aku membawa ayahmu Warsi.”
“Aku memerlukannya paman,” jawab Warsi. “Jika paman tidak mau
membawa ayah bersama kami, maka aku pun menolak untuk pergi. Jika
paman memaksa, maka aku akan membunuh diri sekarang dihadapan paman
dan ayah.”
“Tunggu,” berkata ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu.
Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata,
“Apaboleh buat.”
Dengan demikian maka orang-orang yang datang ke rumah Warsi itu pun
telah bersiap-siap untuk kembali. Pemimpin dari lima orang gegedug
yang menunggu di halaman tertawa sambil berkata, “Alangkah mudahnya
pekerjaannya hari ini. Sementara itu, aku akan mendapat upah dua kali
lipat.”
“Tutup mulutmu,” geram laki-laki yang membimbing Warsi.
Warsi mengikuti saja. Namun pisaunya masih terselip pada ikat
pinggangnya. Ketika laki-laki itu mencoba untuk mengambilnya, Warsi
sama sekali tidak memberikannya.
Dalam pada itu, dua orang pengiring laki-laki yang datang itu telah
menyiapkan dua ekor kuda dari kandang ayah Warsi sendiri. Kemudian
kedua ekor kuda itu diperuntukkan bagi Warsi dan ayahnya.
“Aku tidak dapat naik kuda,” berkata Warsi.
Laki-laki yang menginginkannya itu pun termangu-mangu sejenak. Namun
katanya kemudian, “Jika demikian, marilah. Berkuda saja bersama aku.
Aku akan dapat menjagamu.”
Warsi memandang laki-laki itu dengan tajamnya. Namun kemudian ia
berdesis, “Aku akan berkuda sendiri.”
“Bukankah kau tidak terbiasa?” berkata laki-laki yang mengambilnya
itu.
“Tetapi aku tidak mau berkuda berdua, kecuali dengan ayah,” jawab
Warsi.
“Baiklah. Cobalah berkuda sendiri. Kita tidak tergesa-gesa,” jawab
laki-laki yang mengambilnya itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian sebuah iring-iringan telah
meninggalkan halaman rumah Warsi. Laki-laki yang akan mengambilnya itu
berusaha menuntun kuda yang dipergunakan oleh Warsi sambil duduk di
punggung kudanya sendiri. Sementara itu, ayah Warsi berkuda di
belakang diiringi oleh dua orang bertubuh raksasa yang pernah datang
ke rumah Warsi sebelumnya. Sementara itu lima orang upahan yang
bersama mereka, berkuda berpencar. Kadang-kadang pimpinannya ada di
depan. Tetapi kadang-kadang ada di belakang.
Ketika iring-iringan itu keluar dari regol padukuhan diarah yang lain
dari saat mereka datang, sebagaimana diperhitungkan oleh ayah Warsi,
maka laki-laki yang menginginkan Warsi itu minta agar ayah Warsilah
yang menjawab jika para peronda nanti bertanya.
“Bagaimana jawabku?” bertanya ayah Warsi.
“Katakan, bahwa kau akan pergi ke tempat keluargamu yang sakit keras.
Katakan bahwa kami adalah orang-orang yang menjemputmu,” jawab
laki-laki itu.
“Sekian banyaknya,” bertanya ayah Warsi.
“Mereka tidak akan berpikir seperti itu. Tetapi seandainya mereka
bertanya juga, maka kau dapat menjawab, bahwa jalan yang akan kita
tempuh adalah jalan yang berbahaya,” jawab laki-laki yang mengambil
Warsi.
Ayah Warsi tidak menjawab. Tetapi satu dari perhitungannya, justru
landasannya, ternyata tepat. Iring-iringan itu tidak keluar padukuhan
dengan menempuh jalan kembali. Tetapi mereka mengambil jalan
seterusnya dan keluar di regol yang lain.
(Bersambung)-m
|

Kamis, 19-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 104 |
SEBAGAIMANA mereka duga, maka di
regol anak-anak muda yang sedang meronda pun telah bertanya. Seperti
yang dipesan, maka ayah Warsi pun menjawab bahwa iring-iringan itu
akan pergi ke tempat keluarganya yang sedang sakit.
"Mereka datang menjemput aku di tengah malam, karena
keadaan yang gawat," berkata ayah Warsi kepada anak muda yang
sudah dikenal dan mengenalnya.
Memang tidak ada yang bertanya, kenapa yang menjemputnya sebuah
iring-iringan yang besar. Sehingga karena itu, maka ayah Warsi pun
tidak perlu menjelaskannya.
Demikian mereka keluar dari regol padukuhan, maka orang-orang dalam
iring-iringan itu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya mereka telah
selesai dengan sebuah tugas yang besar. Namun sekali lagi pemimpin
dari lima orang yang diupah oleh laki-laki yang menginginkan Warsi itu
berdesis, "Aku merasa tugasku kali ini menyenangkan sekali dengan
upah yang cukup."
Sementara itu, raksasa yang berambut putih pun tersenyum pula. Katanya,
"Aku sudah menawarkan diri untuk melakukannya. Tetapi segala
sesuatunya harus meyakinkan bahwa tidak akan gagal."
Tidak ada yang menyahut lagi. Iring-iringan itu berjalan tidak terlalu
cepat, karena Warsi menurut pengakuannya belum terbiasa duduk di
punggung kuda. Apalagi Warsi harus duduk dengan kedua belah kakinya di
satu sisi, karena ia mengenakan kain panjang. Setiap kali Warsi harus
membetulkan letak duduknya karena setiap kali rasa-rasanya tubuhnya
akan meluncur turun.
"Cobalah letakkan kakimu pada sanggawedi," berkata laki-laki
yang menginginkan Warsi. "Kita harus berjalan lebih cepat sedikit.
Kita harus sampai ke rumahku sebelum dini hari. Sebelum orang-orang
bangun dan menyapu halaman atau bahkan pergi ke pasar."
"Aku tidak dapat," jawab Warsi
"Jika kau mengalami kesulitan, duduk saja bersamaku disini,"
ajak laki-laki itu.
"Tidak mau," Warsi tetap menolak.
Laki-laki itu tidak memintanya lagi. Tetapi ia berusaha untuk
mempercepat perjalanan mereka. Jika mereka sampai disebuah simpang
empat ditengah-tengah bulak, mereka harus berbelok dan melingkari
padukuhan tempat tinggal Warsi kembali ke jalan yang semula. Mereka
sama sekali tidak akan merasa cemas atas pertanyaan-pertanyaan dari
anak-anak muda yang berada di gardu-gardu. Mereka akan dapat menjawab
apa saja seandainya ada di antara mereka yang akan mempertanyakan
Warsi yang ikut dalam iring-iringan itu.
Untuk beberapa saat perjalanan itu sama sekali tidak terganggu.
Meskipun ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu sama sekali tidak
merasa senang, bahwa ayah Warsi bersama mereka, namun ia tidak dapat
berbuat lain. Jika ia memaksa orang itu tinggal dan apalagi
diperlakukan buruk, maka Warsi benar-benar akan dapat melakukan satu
tindakan yang tidak menguntungkan.
Dalam pada itu, mereka telah menjadi semakin dekat dengan simpang
empat ditengah-tengah bulak. Mereka pun telah bersiap-siap untuk
membelok dan kemudian menempuh perjalanan melingkar.
Namun tiba-tiba saja mereka melihat sesuatu yang mencurigakan di
simpang empat itu. Karena itu, maka ayah Warsi pun telah memerintahkan
kedua orang raksasa pengiringnya untuk berada di paling depan.
"Ya, kami melihat sesuatu meskipun tidak jelas," berkata
kedua orang pengiringnya. Lalu katanya kepada pemimpin dari lima orang
upahan itu. "Nah, mungkin baru disini kalian mendapat pekerjaan
yang berarti."
Orang itu tersenyum. Katanya, "Aku tidak pernah mendengar bahwa
di daerah ini terdapat penyamun atau perampok. Mungkin yang kita lihat
di simpang empat itu adalah para petani yang menunggu air yang
mengalir sedikit sekali di parit sebelah." (Bersambung)-m
|

Jumat, 20-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 105 |
KEDUA orang raksasa itu tidak
menjawab. Tetapi mereka berdua berkuda di paling depan. Bahkan raksasa
yang berkepala kecil itu telah meraba hulu pedangnya. Pedang yang
nggegirisi yang tajamnya jarang ada bandingnya. Setiap sentuhan pada
tubuh seseorang berarti koyak sampai ke tulang.
Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka mereka melihat semakin jelas.
Beberapa orang memang berdiri di pinggir jalan dekat dengan simpang
empat itu.
Karena itu, maka orang-orang di dalam iring-iringan itu pun
menjadi semakin berhati-hati. Kelima orang yang semula menganggap
bahwa tugas mereka terlalu ringan untuk upah yang dua kali lipat dari
kebiasaannya, mulai menjadi berdebar-debar. Bahkan salah seorang
berdesis, “Jika orang-orang itu ingin mengganggu perjalanan ini,
mereka adalah orang-orang gila yang jemu hidup, karena mereka sudah
mengganggu kenikmatan perjalanan kami yang sangat lancar ini.”
Namun dalam pada itu, laki-laki yang ingin mendapatkan Warsi itu pun
berkata lantang, “Jika mereka benar-benar ingin berbuat jahat, maka
tidak ada hukuman yang pantas bagi mereka, kecuali kebinasaan.”
Kedua orang pengiring ayah Warsi yang bertubuh kekar itu pun mulai
memperlambat kudanya. Ternyata orang-orang yang semula berdiri di
pinggir jalan itu justru telah bergeser ke tengah, sementara yang lain
justru meloncat parit di pinggir jalan.
Melihat sikap orang-orang itu, maka pemimpin dari kelima orang upahan
itu pun berkata, “Hati-hatilah. Mereka bukan orang kebanyakan. Tentu
juga bukan penyamun kecil atau orang-orang yang sering merampok
orang-orang yang pergi ke pasar.
Kelima orang gegedug itu pun mulai berpencar pula. Dua orang bertubuh
raksasa itu sudah menghentikan kudanya. Bahkan mereka pun kemudian
telah meloncat turun. Jika terjadi sesuatu, maka medannya tidak
menguntungkan apabila mereka harus bertempur di atas punggung kuda.
Dalam pada itu, maka seluruh iring-iringan itu pun berhenti. Beberapa
orang pun telah meloncat turun. Merreka menanggapi kehadiran
orang-orang di pinggir jalan itu dengan sangat berhati-hati.
Namun dalam pada itu, ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu mulai
curiga. Adalah mustahil bahwa ayah Warsi sama sekali tidak
bersiap-siap menghadapi ancaman yang pernah diucapkannya dengan
sungguh-sungguh. Karena itu, maka ia pun cepat menghubungkan
orang-orang yang berdiri di jalan itu dengan kesiagaan ayah Warsi.
Karena itu maka tiba-tiba saja dengan nada lantang ia berkata,
“Hati-hatilah. Mereka adalah orang-orang yang telah diminta ayah
Warsi dengan sengaja mencegat kita.”
Orang-orang yang bersamanya sejenak mencoba mengerti keterangan itu.
Namun yang sejenak itu telah mengubah segala-galanya. Warsi yang
semula disangka tidak terbiasa berkuda serta ayahnya yang gemetar itu
tiba-tiba saja meloncat keluar dari iring-iringan itu. Demikian
cepatnya sehingga tidak seorang pun mampu mencegahnya. (Bersambung)-m
|
Sabtu, 21-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 106
 |
"ANAK setan," geram laki-laki yang menginginkan Warsi,
sementara Warsi telah berdiri di seberang parit. Seorang laki-laki di
antara mereka yang mencegat iring-iringan itu telah meloncat pula
mendekatinya seakan-akan siap untuk melindunginya. Sedangkan ayah
Warsi justru telah berada di sebelah yang lain dari jalan bulak itu.
"Kalian memang licik," geram ayah dari laki-laki yang
menginginkan Warsi. "Tetapi cara apapun yang kalian tempuh tidak
ada gunanya."
"Maaf," sahut ayah Warsi. "Aku terpaksa melakukan cara
ini. Sebenarnya aku sama sekali tidak menginginkan perselisihan.
Apalagi dengan kadang sendiri. Tetapi kau memaksa aku untuk
mempertahankan diri. Kau benar-benar telah mengupah orang untuk
mengambil Warsi. Karena itu aku pun benar-benar harus
mempertahankannya demi kebahagiaan Warsi di hari kemudian."
"Caramu sangat licik dan pengecut," geram ayah laki-laki itu.
"Yang aku lakukan adalah sekadar cara. Sebenarnya bagiku lebih
mudah menghancurkan kalian di halaman. Tetapi aku tidak mau mengganggu
tetangga-tetanggaku, sehingga karena itu, maka aku telah berusaha
untuk bertempur ditengah bulak ini," jawab ayah Warsi.
"Tetapi aku masih ingin memperingatkan kalian sekali lagi,"
berkata laki-laki yang menginginkan Warsi. "Serahkan Warsi. Jika
tidak, maka kalian akan menyesal. Kami tidak segan-segan untuk
mengambil tindakan yang paling kasar sekalipun. Bahkan terakhir dari
tindakan kami jika perlu adalah membunuh Warsi sendiri."
"Lakukan apa yang ingin kalian lakukan," berkata Warsi yang
tiba-tiba saja telah melepaskan kain panjangnya, sehingga ia tinggal
mengenakan pakaian sebagaimana seorang laki-laki. Sambil membenahi
rambutnya ia berkata selanjutnya, "Kami sudah siap untuk
mempertahankan hidup kami. Tetapi ingat, setiap kali aku berhadapan
dengan seseorang yang benar-benar ingin membunuhku, maka aku pun ingin
membunuhnya."
Sikap Warsi memang mengejutkan. Dengan wajah yang tegang laki-laki
yang akan memperistrinya itu bertanya, "Apakah kau juga akan ikut
berkelahi?"
"Sebagaimana akan aku lakukan, aku pun mampu melakukannya. Dan
sebagaimana kalian kehendaki atas kami, kami pun menghendaki demikian
pula atas kalian. Karena itu, maka kami pun ingin memberikan satu
peringatan atas kalian. Tinggalkan tempat ini. Aku masih tetap
menyadari, bahwa kita adalah bersaudara," berkata Warsi.
"Kau jangan berbicara yang aneh-aneh Warsi," berkata
laki-laki yang menghendakinya. "Kau harus menyadari, bahwa kau
tidak mempunyai pilihan. Tetapi jika kau keras kepala, maka apaboleh
buat. Sudah aku katakan. Daripada aku melihat kau diperistri oleh
orang lain, maka aku lebih baik senang melihat kau di usung ke kubur."
"Aku memberi kesempatan kepada kalian sekali lagi," teriak
Warsi. Suaranya benar-benar membuat jantung orang yang mendengarnya
menjadi berdebar-debar. "Tinggalkan tempat ini. Sikap kalian akan
kami maafkan. Tetapi sekali kami membenturkan kekerasan, maka yang
akan terjadi kemudian adalah kematian. Kalian semuanya akan kami
tumpas di simpang empat ini. Tidak seorang pun akan tersisa."
"Cukup," teriak laki-laki yang menginginkan Warsi, "Gadis
secantik kau masih mampu membual pula."
"Waktu kalian telah habis," berkata Warsi tanpa menghiraukan
kata-kata laki-laki yang akan mengambilnya. "Sekarang kalian
tidak mempunyai jalan keluar dari simpang empat ini. Kalian
benar-benar akan mati."
Sebelum laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang menjadi sangat
marah itu sempat menjawab, maka ayah Warsi telah mendahului, "Maaf
kakang. Kakang sendiri yang membakar setumpuk jerami kering di dalam
lumbung. Jika kemudian api akan berkobar dan menelan semua yang kau
bawa, termasuk anak laki-lakimu dan kau sendiri, sama sekali bukan
tanggung jawabku. Kau sendirilah yang masuk ke dalam api seperti
sulung di malam hari."
(Bersambung)--m
|
Minggu, 22-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 107
 |
“Tutup mulutmu,” bentak ayah laki-laki yang menginginkan
Warsi itu. “Kalian benar-benar akan membunuh diri.”
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar pemimpin dari para
gegedug yang diupah oleh laki-laki yang menginginkan Warsi itu tertawa.
Katanya, “Aku menjadi muak mendengar orang bertengkar tanpa ujung
pangkal. Masing-masing mengancam untuk saling membunuh. Tetapi tidak
seorang pun yang mulai berbuat sesuatu.”
“Bagus,” sahut Warsi. “Marilah. Jika benar-benar kita harus
saling membunuh.”
“Itulah,” jawab pemimpin dari kelima orang itu. “Waktuku tidak
terlalu banyak,” lalu katanya kepada laki-laki yang menginginkan
Warsi. “Uruslah perempuan itu. Kami akan membersihkan jalan yang
akan kalian lewati.”
Orang di kedua belah pihak kemudian justru terdiam. Pemimpin dari
kelima orang upahan itu pun segera membagi orangnya. Ia sendiri
bersiap menghadapi laki-laki yang berdiri di sebelah Warsi, yang
ternyata adalah pengendangnya. Sementara itu, laki-laki yang
menginginkan Warsi itu pun telah siap untuk menangkap Warsi dan
membawanya. Ayah laki-laki itu telah bersiap pula menghadapi ayah
Warsi.
“Orang tua tidak tahu diuntung,” ia masih bergeremang sambil
melangkah maju. “Jika anak perempuanmu mati malam ini dalam umurnya
yang masih muda, maka kaulah yang bertanggung jawab.”
“Anakku dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mau atau tidak
mau tergantung kepada Warsi. Tidak kepadaku. Karena itu, tanggung
jawabnya pun ada pada anakku sendiri,” berkata ayah Warsi.
“Kau gila. Kau mau mencuci tangan he? Jika anakmu mati, kau
persalahkan anakmu itu sendiri,” geram ayah laki-laki itu.
“Segalanya memang terserah kepadanya,” jawab ayah Warsi.
Ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu pun tidak sabar lagi.
Tiba-tiba saja ia pun sudah meloncat menyerang sambil berteriak,
“Kaulah yang harus dibunuh lebih dahulu.”
Ayah Warsi meloncat mengelak sambil berkata, “Kau tahu kakang, bahwa
aku adalah seorang petualang. Karena itu, seharusnyalah kau menyadari,
bahwa dalam keadaan yang memaksa aku dapat menjadi keras dan kasar.
Sementara itu pengalamanpun cukup luas menghadapi keadaan yang lebih
buruk dari keadaan ini.”
Tetapi ayah Warsi terpaksa berhenti berbicara. Tiba-tiba saja senjata
lawannya berdesing hampir mengenai mulutnya.
Dalam pada itu, maka orang-orang yang berada di simpang empat itu pun
mulai bergerak. Lima orang gegedug itu pun berpencar, sementara dua
orang raksasa pengiring ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu pun
sudah mulai bergerak pula.
Sejenak kemudian pertempuran benar-benar telah membakar simpang empat
itu. Kedua belah pihak telah mendapatkan musuhnya masing-masing.
Namun agaknya para pengikut Warsi jumlahnya lebih banyak dari sembilan
orang yang datang ke rumahnya. Karena itu, maka raksasa yang berambut
putih itu harus bertempur melawan dua orang.
Ternyata orang yang bertubuh tegap kekar, meskipun rambutnya sudah
mulai memutih, demikian pula jambangnya, kumis dan janggutnya, namun
orang itu masih segarang harimau kelaparan.
Demikianlah sejenak kemudian pertempuran telah menjadi semakin garang.
Semua orang telah terlibat kedalamnya, kecuali Warsi dan laki-laki
yang ingin mengambilnya.
“Kenapa kau masih termangu-mangu?” bertanya Warsi.
“Kau jangan melakukan sesuatu yang dapat menyulitkan keadaanmu.
Bagaimanapun juga, aku masih berusaha untuk menyelamatkanmu. Meskipun
ayah sudah mengambil keputusan untuk membunuh semua orang tetapi aku
akan dapat menyelamatkan kau,” berkata laki-laki itu.
(Bersambung)-m
|
Senin, 23-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 108
 |
“SUDAH dikatakan oleh ayah dan sudah aku katakan pula, aku
tidak mau kau ambil dengan cara apapun juga. Apalagi dengan cara yang
kasar ini,” berkata Warsi.
“Jika demikian, maka menyesal sekali, bahwa aku akan memperlakukan
kau sebagaimana aku katakan,” berkata laki-laki itu.
Tetapi laki-laki itu menjadi heran. Warsi justru tertawa. Ia sama
sekali tidak menjadi cemas apalagi ketakutan. Bahkan katanya,
“Dengar. Aku sudah mengatakan. Aku akan memperlakukan kau
sebagaimana kau ingin memperlakukan aku. Jika kau ingin membunuh aku,
maka aku pun ingin membunuhmu. Dan agaknya aku sama sekali tidak akan
merasa kehilangan jika kau mati.”
“Anak iblis,” geram laki-laki itu.
Warsi masih saja tertawa. Bahkan ia masih sempat memperhatikan
pertempuran yang membakar simpang empat itu. Namun terasa jantungnya
berdegup keras, ketika ia melihat orang-orang yang disewa oleh
laki-laki yang menginginkannya itu. Mereka nampaknya benar-benar ingin
menyelesaikan pertempuran itu dengan cepat. Sekilas Warsi melihat
tombak bertangkai pendek dengan ujung ngeri pandan. Ia pun melihat
jenis-jenis senjata yang lain. Seseorang dengan kapak dan perisai
bertempur bagaikan mengamuk. Sedangkan yang lain mempergunakan sebuah
golok yang besar. Sementara itu, sebilah pedang telah menggetarkan
dada Warsi. Pedang yang lengkung, tetapi tajamnya tujuh kali pisau
penyukur. Dalam cahaya bintang daun yang lengkung itu nampak berkilat
seakan-akan melemparkan cahaya yang menyilaukan.
Namun Warsi tidak mempunyai banyak kesempatan untuk merenung.
Laki-laki yang akan mengambilnya itu benar-benar marah. Dengan
tangkasnya ia pun telah meloncat menyerang. Tetapi agaknya ia masih
berusaha untuk dapat menangkap Warsi dalam keadaan utuh, sehingga
karena itu ia sama sekali tidak mempergunakan senjata.
Tetapi laki-laki itu terkejut bukan kepalang. Sebagai seorang yang
tidak hidup dalam lingkungan olah kanuragan seutuhnya, maka ia sama
sekali tidak dapat berbuat sesuatu, ketika justru pada saat ia
menyerang, maka kaki Warsi telah mengenai dadanya.
Laki-laki itu terlempar beberapa langkah. Tubuhnya terbanting bagaikan
sebatang pohon pisang yang rebah.
Terdengar laki-laki itu menyeringai. Punggungnya rasa-rasanya akan
patah. Ia sama sekali tidak menduga bahwa hal seperti itu dapat
terjadi. Ia hanya mengira bahwa Warsi yang benar-benar tidak mau
mengikutinya itu berbuat lepas dari penalaran. Seolah-olah Warsi akan
mampu melawan dan membebaskan dirinya.
Tetapi yang terjadi ternyata bertentangan dengan dugaannya. Kaki Warsi
itu benar-benar menghantam dadanya sehingga ia terlempar jatuh ditanah.
Ia benar-benar mengalami kesakitan pada punggungnya dan dadanya
bagaikan terhimpit sehingga nafasnya terasa menjadi sesak.
Namun laki-laki itu kemudian masih juga berusaha bangkit. Ketika ia
melihat Warsi berdiri tegak dengan tangan bertolak pinggang, maka
rasa-rasanya ia melihat Warsi yang lain. Bukan Warsi yang cantik yang
berkulit semulus kulit mundu masak. Tetapi Warsi dimatanya telah
berubah menjadi iblis betina yang memang harus dibinasakan.
Warsi tidak berbuat sesuatu ketika laki-laki itu berusaha untuk tegak
berdiri. Dengan wajah yang membara laki-laki itu memandang Warsi yang
masih saja berdiri bertolak pinggang.
“Kau benar-benar tidak tahu diri,” geram laki-laki itu.
“Sudah aku katakan,” jawab Warsi. “Aku akan membunuhmu. Tetapi
aku masih mencoba sekali lagi memberimu kesempatan. Hal ini tidak
pernah aku lakukan sebelumnya. Pergilah. Pulanglah dan menangislah
jika kau kesakitan. Tetapi jika kau benar-benar tidak ingin
meninggalkan tempat ini, apalagi bermimpi untuk membawaku pulang, maka
aku benar-benar akan membunuhmu disini. Namun, masih ada kesempatan
yang terbuka. Justru karena kita masih mempunyai hubungan darah.”
(Bersambung)-o
|

Selasa, 24-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 109
 |
“Persetan,” geram laki-laki itu. “Kau benar-benar ingin
mati.”
Warsi mengerutkan keningnya ketika ia melihat laki-laki itu
benar-benar menarik senjatanya dari sarungnya. Sehelai pedang yang
berwarna kehitam-hitaman.
“Luwuk itu pernah aku lihat,” desis Warsi.
Sejenak ia mengingat-ingat. Namun tiba-tiba saja ia berkata lantang,
“He, luwuk itu ternyata telah kau curi dari rumah kakek ya?”
Laki-laki itu menggeram. Katanya, “Kakekmu mencuri luwuk ini dari
rumah kakekku. Bukankah kakekku lebih tua dari kakekmu dalam tataran
keturunan? Kakekkulah yang berhak atas luwuk ini. Tetapi kekekmu telah
mencurinya. Karena itu, aku telah mengambilnya kembali.”
“Luwuk itu hilang ketika aku masih terlalu kecil untuk mengerti
persoalannya. Tetapi aku pernah melihat luwuk itu di rumah kakek.
Beberapa saat kemudian kakek menjadi marah-marah karena luwuk itu
telah hilang. Ternyata kaulah yang mencurinya. Karena itu, kembalikan
luwuk itu. Jika kau keberatan, maka kau bersalah ganda terhadapku.
Hukumanmu adalah hukuman mati dua kali. Artinya kau akan mati
perlahan-lahan,” berkata Warsi.
Wajah Warsi benar-benar menjadi menyeramkan. Di luar sadarnya
bulu-bulu di tengkuk laki-laki itu meremang. Namun kemudian ia menjadi
tatag kembali. Sambil mengayunkan pedang berwarna hitam dan berhulu
ukiran kepala serigala, maka laki-laki itu melangkah mendekati Warsi.
“Aku benar-benar akan membunuhmu iblis betina,” geram laki-laki
itu.
Tetapi jawab Warsi mendebarkan, “Jika demikian aku sudah mengambil
keputusan. Membunuh tanpa peringatan lagi.”
Namun kata-kata Warsi terdiam. Laki-laki itu telah meloncat
menyerangnya dengan ayunan pedang mendatar. Pedang yang disebut oleh
Warsi luwuk itu.
Tetapi Warsi dengan tangkasnya meloncat mundur. Serangan itu sama
sekali tidak membuat jantungnya bergejolak.
Ternyata laki-laki itu menjadi makin marah. Seakan-akan Warsi dengan
sengaja telah menghinanya dengan sikapnya itu.
Dengan demikian maka laki-laki itu pun kemudian bertempur semakin
garang.
Selain kemarahan laki-laki itu yang menghentak-hentak dadanya,
ternyata luwuk itu memang bukan luwuk kebanyakan. Luwuk itu
seakan-akan mempunyai kemampuan untuk mendorong tangan yang
menggenggamnya bergerak lebih cepat.
Karena itu, maka sejenak kemudian, Warsi mulai berloncatan dengan
langkah-langkah panjang. Luwuk di tangan laki-laki itu bagaikan
mengejarnya. Bahkan seakan-akan laki-laki itulah yang terseret oleh
kekuatan luwuk di tangannya.
“Gila,” geram Warsi. “Betapa dungunya laki-laki ini, tetapi
dengan luwuk kakek ditangannya ia menjadi garang dan sangat berbahaya.”
Dalam pada itu, kemarahan laki-laki itu rasa-rasanya tidak dapat lagi
diendapkan. Ia tidak lagi melihat wajah seorang gadis yang cantik yang
berdiri di depannya sambil tersenyum manis, tetapi ia merasa
benar-benar berhadapan dengan iblis betina yang dengan
taring-taringnya yang tajam siap menghisap sampai kering.
Karena itu, dengan luwuk pusaka itu, ia memang benar-benar berniat
membinasakan Warsi.
Sikap laki-laki itu ternyata terasa oleh Warsi. Niat untuk membunuhnya
itu benar-benar telah memantapkan sikapnya. Ia pun harus membunuh pula.
Bahkan bukan saja laki-laki yang menghendakinya itu. Tetapi sekilas
terbersit pula kemantapan sikapnya untuk memaksakan keinginannya
dengan cara itu. Merampas Wiradana dengan kekerasan.
Sesaat kemudian Warsi pun benar-benar telah kehilangan kendali. Ia
tidak mengingat lagi bahwa laki-laki itu adalah masih kadang sendiri.
Apalagi laki-laki itu pun tidak pula mengingat hal yang demikian,
sedangkan laki-laki itu dapat disebut seorang laki-laki dari keturunan
baik-baik.
(Bersambung)-m
|
Rabu, 25-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 110
 |
KARENA itu, maka sesaat kemudian, ketika Warsi menjadi semakin
terdesak, ia pun telah mengurai rantainya dari balik bajunya. Rantai
yang merupakan senjata andalannya.
Sejenak kemudian rantai itu pun telah berputar di atas kepalanya.
Suaranya berdesing seperti seribu kumbang yang beterbangan di sekitar
sarangnya.
Dalam pada itu, pertempuran antara dua kekuatan itu pun menjadi
semakin lama semakin dahsyat. Orang berambut putih itu benar-benar
seorang yang memiliki ilmu yang mapan. Dua orang lawannya sekali-kali
justru merasa terdesak. Hanya karena kerja sama di antara mereka yang
cukup rapi, maka keduanya mampu bertahan melawan amukan kekuatan orang
berambut putih itu.
Sementara itu, pedang lengkung yang berada di dalam genggaman raksasa
berkepala kecil itu memang sangat mengerikan. Kilatan cahaya yang
terpantul oleh daun pedang yang melengkung itu bagaikan bunga api yang
berloncat-loncatan.
Dalam pada itu, lima orang upahan yang bertempur dipihak laki-laki
yang menginginkan Warsi itu benar-benar bertempur dengan cara mereka.
Mereka sama sekali tidak menghiraukan tata nilai apapun juga. Yang
mereka lakukan adalah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada pada
mereka. Dengan senjata mereka yang aneh dan nggegirisi.
Namun ternyata mereka telah membentur satu kekuatan yang merupakan
bagian dari kekuatan keluarga Kalamerta. Kekuatan yang memang hidup di
dalam lingkungan kekerasan.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, mereka telah sampai kepada
kebiasaan mereka masing-masing. Keras, kasar dan bahkan kemudian
menjadi buas dan liar. Kedua belah pihak telah saling menerkam dan
mendesak lawannya. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan mereka,
tanpa menghiraukan aturan apapun juga.
Dalam pada itu, ayah Warsi masih bertempur dengan sengitnya melawan
ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu. Namun ternyata bahwa ayah
Warsi memiliki pengalaman petualangan yang lebih luas. Bahkan sekali-kali
ayah Warsi yang mempunyai pengalaman lebih itu terlibat pula dalam
lingkungan petualangan Kalamerta.
Karena itu, maka sejenak kemudian, ayah Warsi telah berhasil mendesak
lawannya. Bahkan agaknya ayah Warsi pun sudah tidak lagi dapat
mengingat bahwa orang yang menjadi lawannya itu adalah masih saudara
kadang sendiri.
Dua orang raksasa yang biasanya menjadi pelindung ayah laki-laki yang
menginginkan Warsi itu menjadi gelisah. Tetapi ternyata mereka sedang
menghadapi lawan mereka masing-masing yang tidak dapat mereka
tinggalkan. Apalagi raksasa berambut putih itu harus menghadapi dua
orang sekaligus yang agaknya memiliki kemampuan yang bersama-sama
dapat mengimbangi kemampuannya.
(Bersambung)-m. |
Buy
1 Get 1 FREE!!!

Buy it at AllPosters.com
Langsung ke KR
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 26/IX/2002
Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....
KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|