|

Buy it at AllPosters.com
|
|

SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Jumat, 06-09-2002
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayagn 091 |
“BUKAN begitu,” jawab
pengendang itu. “Sebenarnya adalah sangat wajar jika seorang
perempuan pada suatu saat tertarik kepada seorang laki-laki.”
“O, jadi kau menganggap hal itu wajar? Apakah agaknya kau justru
yang telah mencegah Warsi membunuh laki-laki itu? Kau yang telah
mencari keuntungan dari kehinaan ini,” bentak ayah Warsi.
“Cobalah aku memberikan sedikit pendapatku tentang hal ini,”
berkata orang itu.
“Apa yang dapat kau katakan tentang anakku? Selama ini kau tidak
mampu berbuat sesuatu bagi dirimu sendiri,” jawab ayah Warsi.
“Agaknya memang demikian,” desis orang itu. “Namun kali ini aku
ingin mencoba berbicara serba sedikit tentang Warsi. Mungkin yang aku
katakan ini tidak ada gunanya sama sekali. Tetapi mungkin akan dapat
memberikan sedikit kemungkinan untuk menyelesaikan persoalan.”
Ayah Warsi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Katakan.
Tetapi jika ternyata justru kau yang telah menyebabkan anakku
berpikiran sesat, maka kaulah yang akan mengalami nasib yang paling
buruk.”
Orang yang selama mengiringi Warsi ke Sembojan menjadi pengendang itu
pun kemudian berkata, “Ada hal yang harus dipertimbangkan. Warsi
adalah seorang gadis dan Wiradana adalah seorang laki-laki muda.
Mereka bertemu dalam keadaan yang sangat khusus. Dan sebagai orang tua
aku dapat mengatakan, bahwa keduanya menjadi saling tertarik. Bukankah
itu wajar?”
“Tidak. Sama sekali tidak wajar. Wiradana sudah kawin dan ia adalah
orang yang harus dibunuh karena ia menjadi sasaran dendam keluarga
Kalamerta,” jawab ayah Warsi.
“Tetapi bukankah pikiran kita mampu berkembang,” berkata bekas
pengendangnya itu. “Membalas dendam bukanlah sekadar membunuh.
Tetapi bukankah ada cara lain yang lebih baik dari membunuh? Bukankah
sekaligus untuk satu tujuan yang jauh lebih besar dari sekadar
kematian.”
“Aku tidak tahu, apa yang kau katakan,” geram ayah Warsi.
“Sudah sejak diperjalanan aku pikirkan. Aku sadar, bahwa akan
terjadi hal seperti itu. Dan aku pun sadar, bahwa kekakuan watak Warsi
akan membuatnya terdiam seperti patung. Tetapi bukan berarti bahwa ia
akan melangkah surut,” berkata orang itu.
“Cepat, katakan,” bentak ayah Warsi yang menjadi tidak sabar.
“Baiklah,” berkata pengendangnya. “Sasaran sebenarnya dari balas
dendam ini adalah Ki Gede Sembojan. Wiradana sebenarnya bukan apa-apa.
Bahkan Warsi telah bertempur melawannya, dan Wiradana sama sekali
tidak mampu menyelamatkan dirinya seandainya Warsi membunuhnya.”
“Tetapi hal itu tidak dilakukannya.” teriak ayah Warsi.
“Tunggu,” jawab pengendang itu. “Ada jalan yang ingin ditempuh
oleh Warsi. Ada satu alasan yang dapat dikatakannya. Tetapi kau sudah
menutup pembicaraan dengan menolak segala macam alasan apapun juga.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Nah, bagimu manakah yang
lebih baik, membunuh Wiradana atau membunuh Ki Gede Sembojan yang
telah membunuh Kalamerta dengan tangannya.
“Kau mengigau,” geram ayah Warsi, “Bagaimana mungkin dapat
membunuh Ki Gede Sembojan?”
“Warsi akan dapat melakukannya jika kau setuju dengan rencananya,”
jawab pengendang itu.
Ayah Warsi itu pun menjadi termangu-mangu. Sementara Warsi sendiri
menjadi heran atas kata-kata bekas pengendangnya itu. Mana mungkin ia
dapat membunuh Ki Gede Sembojan. Apalagi agaknya Ki Gede sudah sembuh
dan mampu berbuat sebagaimana dilakukan sebelum ia terluka parah.
Dalam pada itu bekas pengendang itu pun berkata, “Kita tidak tahu
persis, apakah Ki Gede dapat pulih dalam keadaan sebelum ia mengalami
luka parah dalam pertempuran melawan Kalamerta. Namun dalam keadaan
bagaimana pun juga Warsi akan dapat membunuhnya jika ia sudah berada
di dalam lingkungan keluarga Ki Gede Sembojan. Katakan bahwa Warsi
telah jatuh cinta kepada Wiradana. Namun yang pasti Warsi tidak akan
jatuh cinta kepada Ki Gede Sembojan.”
(Bersambung)-m
|
Sabtu, 07-09-2002
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 092 |
“OMONG KOSONG,” geram ayah
Warsi. “Jika demikian kau bermaksud membiarkan Warsi kawin dengan
Wiradana yang sudah beristeri itu? Kau biarkan anakku menjadi istri
muda dan tentu dengan cara yang hina, karena istri muda itu diangkat
dari lingkungan pengamen jalanan.”
“Dengarlah,” berkata tukang gendang itu. “Aku yakin
Wiradana pun telah jatuh cinta kepada Warsi. Apa salahnya jika
keduanya kemudian kawin? Tentu saja Warsi akan dapat mengajukan syarat,
bahwa istri tua itu harus disingkirkan. Ini adalah salah satu cara
pula untuk membalas dendam. Kematian akan ditebus dengan dua jiwa.
Jiwa Ki Gede Sembojan dan jiwa istri Wiradana. Bukankah hal itu sudah
memadai. Sementara itu, jika kelak Warsi mendapat keturunan, maka
keturunannya akan menjadi kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah itu
salah satu cara membalas dendam yang paling menarik, sekaligus
mendapat keuntungan? Sebagaimana kami mengamen. Semula kami hanya
ingin mempergunakan cara ini untuk menyusup ke dalam lingkungan Tanah
Perdikan Sembojan, namun ternyata dalam perjalanan itu, kami juga
mendapat banyak rejeki. “
Ayah Warsi mulai merenungi kata-kata bekas pengendang itu. Sementara
Warsi sendiri pun mengangguk-angguk. Semula ia tidak berpikir sejauh
itu. Ia memang ingin merenggut Wiradana dari tangan istrinya. Tetapi
ia belum m-emikirkan caranya. Namun dalam pada itu pengendang itu
telah mengatakannya, kematian Kalamerta dapat ditebus dengan dua jiwa.
Istri Wiradana dan sekaligus ayahnya.
Ada semacam perlawanan di dalam hati Warsi sebagai seorang perempuan
sebagaimana istri Wiradana itu. Tetapi kemudian ia pun menggeretakkan
giginya. Jalan itu adlaah jalan yang sangat baik. Memenuhi keinginan
sendiri dan sekaligus membalas dendam atas kematian pamannya,
Kalamerta.
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian terdengar suaranya
lembut, “Bagiku, daripada membunuh Wiradana, lebih baik aku
merampasnya dari tangan istrinya.”
“Dan membunuh istrinya itu?” bertanya ayahnya pula.
“Jika Wiradana tidak mau menceraikannya, apaboleh buat,” jawab
Warsi hampir tidak dapat didengar.
Tetapi ayah Warsi sama sekali tidak terkejut. Ia mengenal watak
anaknya. Dan ia pun sama sekali tidak berkeberatan jika hal yang
demikian itu memang akan terjadi.
Ternyata pendapat bekas pengendang Warsi itu dapat memberikan
pemecahan. Ia dapat mengatasi ketegangan yang terjadi antara Warsi dan
ayahnya. Karena keduanya menerima pendapat yang dikatakannya, meskipun
dengan demikian pelaksanaan dendam itu akan tertunda untuk waktu yang
tidak diketahui.
Sejenak kemudian, ayah Warsi itu pun menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Penyelesaian yang diusulkan orang ini akan aku pikirkan
baik-baik. Aku masih akan berbicara dengan beberapa pihak. Terutama
Warsi sendiri. Karena seperti sudah kita ketahui, bahwa Warsi telah
mendapat lamaran dari seseorang. Seorang yang kaya dan keturunan orang
baik-baik.”
“Baik-baik bagimana maksud ayah?” bertanya Warsi.
“Ia masih mempunyai hubungan kadang dengan kita. Dan orang itu hidup
dalam suasana yang wajar,” jawab ayahnya.
“Apakah kita tidak hidup dalam suasana yang wajar?” bertanya Warsi.
“Jika kita sekarang harus melakukan satu langkah yang tidak wajar,
adalah karena pokal paman Kalamerta.”
“Warsi, maksudku tata kehidupan dan nilai-nilai kehidupan yang kita
anut memang berbeda dengan tata nilai dari orang itu,” berkata
ayahnya.
“Jika demikian, maka hidup kami kelak tentu tidak akan menemukan
satu kebahagiaan,” jawab Warsi.
(Bersambung)-m
|
Minggu, 08-09-2002
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 093 |
“Aku mengerti. Tetapi maksudku
semula, aku ingin mengajarimu hidup sebagaimana orang kebanyakan. Kau
dapat menjadi seorang perempuan sebagaimana perempuan-perempuan
lain,” berkata ayahnya.
“Itu tidak mungkin,” jawab Wasi.. “Ayah sudah membentuk
aku menjadi begini. Aku tidak dapat berubah lagi. Laki-laki yang ayah
katakan melamar aku itu tidak lebih dari seorang laki-laki cengeng
yang tidak pantas kawin dengan seorang perempuan. Justru hati orang
itu melampaui lemahnya hati seorang perempuan.”
“Ya, aku mengerti. Tetapi ia benar-benar sudah melamar karena ia
tidak tahu siapakah kau sebenarnya. Laki-laki itu memang pernah
mengenalmu sebagaimana kau mengenalnya. Tetapi hanya ujud lahiriahnya
saja,” berkata ayahnya.
“Lupakan saja orang itu ayah,” berkata Warsi. “Jika aku terpaksa
kawin dengan orang itu, maka pada suatu ketika aku akan mencekiknya.”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Warsi mungkin hanya ingin
mengungkapkan ketidak inginannya untuk memilih orang itu daripada
Wiradana. Tetapi ungkapan itu akan benar-benar dapat dilakukan jika ia
dipaksa untuk melakukan perkawinan itu.
Karena itu ayahnya kemudian berkata, “Ternyata kemudian aku condong
untuk mengijinkan kau kawin dengan Wiradana, tetapi dengan syarat
bahwa kau tidak akan dimadu. Aku akan memberi tahukan kepada laki-laki
yang melamarmu itu, bahwa kau ternyata keberatan. Tetapi biarlah hal
ini kita bicarakan lebih mendalam. Sekarang, beristirahatlah. Kalian
tentu merasa lelah.”
“Aku kelelahan lahir dan batin,” desis Warsi perlahan-lahan hampir
ditujukan kepada diri sendiri.
Demikianlah, maka Warsi dan para pengiringnya pun kemudian
membersihkan dirinya di pakiwan. Sementara seseorang sempat
menyediakan minuman panas bagi mereka. Baru kemudian mereka pergi ke
bilik mereka masing-masing. Warsi ke biliknya sendiri, sedang yang
lain pergi ke gandok.
Di hari-hari berikutnya, maka dengan sungguh-sungguh ayah Warsi telah
membicarakan tentang hari depan anaknya. Rencana Warsi untuk kembali
ke Tanah Perdikan Sembojan dan merebut Wiradana dari sisi istrinya
telah disetujuinya. Dengan demikian, apabila Warsi berhasil, maka ia
akan mendapat banyak kesempatan untuk membalas dendam kematian
Kalamerta, sekaligus berharap bahwa keturunannya kelak akan menjadi
Kepala Perdikan Sembojan.
“Kepala Tanah Perdikan adalah kedudukan yang jauh lebih baik
daripada sekadar istri seorang yang kaya dan keturunan baik-baik,”
berkata ayah Warsi itu didalam hatinya.
Sehingga dengan demikian, maka ayahnya pun sependapat bahwa Warsi
mulai bersiap-siap untuk pergi ke Sembojan sekali lagi dalam ujudnya
sebagai seorang penari.
“Apakah kau tidak dapat datang dengan cara yang lebih baik dari
seorang pengamen?” bertanya ayahnya.
“Ia tertarik Warsi dalam keadaan yang demikian,” sahut laki-laki
yang menjadi pengendangnya pada petualangan yang terdahulu, namun yang
akan dilakukannya pula. Apalagi pengendang itu telah mengaku bahwa ia
adalah ayah Warsi.
“Kita tidak usah menunggu terlalu lama,” berkata pengendang itu.
“Kita harus memperhitungkan perasaan Wiradana. Jika karena kebiasaan
ia kemudian benar-benar mencintai istrinya dan sanggup melawan
perasaan yang tertuju kepada Warsi maka kesempatan yang demikian akan
hilang.”
“Jika demikian, aku benar-benar akan membunuhnya. Lebih baik aku
melihat Wiradana mati daripada aku kehilangan kesempatan untuk
mengambilnya dan sekaligus menurunkan seorang Kepala Perdikan,”
berkata Warsi.
(Bersambung)-m
|

Senin, 09-09-2002
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 094 |
“TETAPI kalian juga harus
memperhitungkan setiap kemungkinan. Sebagai anak seorang Kepala
Perdikan maka Wiradana akan menjadi kiblat kehidupan anak-anak muda.
Karena itu, ia tentu tidak akan tergesa-gesa menceraikannya. Bahkan
seandainya istrinya itu meninggal dengan alasan apapun juga, ia tentu
tidak akan tergesa-gesa kawin,” berkata ayah Warsi. Lalu, “Karena
itu, jika kalian ingin berhasil, maka kalian tidak boleh tergesa-gesa.
Aku setuju bahwa kalian tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pergi
ke Sembojan. Tetapi setelah itu, maka langkah-langkah yang akan kalian
ambil harus berdasarkan kepada perhitungan yang mapan dan tidak
tergesa-gesa.”
Pengendang Warsi itu pun mengangguk-angguk. Rencana yang akan
mereka lakukan memang rencana yang rumit. Bukan sekadar memancing
Wiradana keluar dari padukuhan dan membunuhnya. Tetapi rencana ini
berkaitan dengan tata nilai dari anak laki-laki seorang Kepala Tanah
Perdikan yang akan segera menggantikan kedudukan ayahnya dalam segala
segi kehidupan.
Karena itu, maka seperti yang dikatakan oleh ayah Warsi, segalanya
tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa sebagaimana saat Warsi akan
membunuhnya.
Tetapi Warsi pun kemudian menyadari, bahwa keinginannya untuk merebut
Wiradana tidak akan dapat dilakukannya dalam satu dua bulan. Mungkin
ia harus menunggu satu dua tahun. Tetapi sebelum waktu yang panjang
itu ia akan dapat memancing kepastian sikap sikap Wiradana. Dan
agaknya bagi Warsi, hal itulah yang lebih penting dari pelaksanaan
rencana itu sendiri. Meskipun ia harus menunggu satu dua tahun, namun
apabila pada saat-saat sebelum itu ia sudah mendapat keyakinan bahwa
rencananya akan berlaku, maka ia tidak akan segan melakukannya.
Apalagi sebagai manusia biasa, maka ia akan dapat saja berhubungan
dengan Wiradana kapan saja ia kehendaki diluar batas pelaksanaan
rencananya untuk secara resmi menjadi istrinya.
Adalah kelebihan Warsi dari perempuan lain, juga dalam persoalan
Wiradana, Warsi dapat mengambil cara apapun untuk mencapai maksudnya.
Ia pun merasa tidak terikat pada tata nilai kehidupannya, pergaulan
antara sesama dan juga dalam hubungan perkawinan.
“Jika aku menyukainya dan laki-laki itu menyukai aku, apa peduliku
terhadap orang lain,” berkata Warsi dalam hatinya.
Dengan bekal sikap itulah, maka ia pun menyusun rencana bersama dengan
ayahnya dan pengendangnya untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.
Namun dalam pada itu, sebagaimana dikatakan oleh ayahnya, seorang
laki-laki memang telah melamar Warsi. Justru masih ada hubungan darah
dengan keluarga Warsi. Laki-laki yang kaya dan memiliki tanah yang
luas serta keturunan orang baik-baik. Namun sayang bahwa laki-laki itu
terlalu tua buat Warsi.
“Ayah dapat menolaknya,” berkata Warsi. “Jangan menunggu lebih
lama lagi. Dengan demikian persoalannya akan cepat selesai.”
“Ada keseganan untuk menolaknya dengan serta merta,” berkata
ayahnya. “Bukanlah keluarganya sudah kita kenal dengan baik?”
“Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak dapat menolaknya. Ayah
dapat mempergunakan sikapku sebagai alasan. Aku tidak mau,” geram
Warsi.
Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ia memang harus
menolak jika ia tidak ingin Warsi benar-benar mencekik laki-laki itu.
Tetapi ayah Warsi itu pun sudah memperhitungkan, bahwa akibat dari
penolakannya itu akan dapat menimbulkan persoalan tersendiri.
Namun ayah Warsi bukan orang yang segera menjadi ketakutan menghadapi
masalah-masalah. Yang sebenarnya ada didalam dirinya bukanlah
ketakutan. Tetapi justru kesegaran.
(Bersambung)-c
|

Selasa, 10-09-2002
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 095 |
Demikianlah, maka ketika keluarga
laki-laki itu datang pada saat yang sudah dijanjikan, maka
sebenarnyalah telah terjadi ketegangan itu.
“Jadi kau menolak?” bertanya tamunya.
“Maaf kakang,” jawab ayah Warsi. “Bukan maksudku menolak. Tetapi
Warsi merasa keberatan utuk kawin dengan seorang laki-laki yang
dianggapnya sudah terlalu tua. Anak kakang memang sudah terlalu tua
buat Warsi.”
“Kau jangan menghina. Sepekan yang lalu kau tentu sudah tahu
bahwa anakku memang sudah tua. Tetapi nampaknya kau menerima lamaran
itu. Bahkan sejak dua bulan yang lalu, aku sudah menyebut-nyebut
meskipun belum secara terbuka. Dan kau tidak pernah menyatakan
keberatanmu. Warsi pun belum pernah menunjukkan sikap sebagaimana kau
katakan,” berkata tamunya yang marah. “Atau barangkali ada orang
lain yang melamar anakmu dengan mas kawin yang lebih tinggi dari yang
mungkin dapat aku berikan? Katakan berapa mas kawin yang kau minta?”
“Jangan begitu kakang,” jawab ayah Warsi. “Aku bersikap wajar
sekali. Warsi ternyata telah menolak. Jika sejak sebulan yang lalu,
bahkan lebih lama lagi, aku tidak pernah menyatakan keberatanku dan
Warsi pun tidak pernah menunjukkan sikap yang bertentangan dengan
maksud itu. Semata-mata adalah karena kakang adalah saudara yang lebih
tua meskipun sudah tatanan ketiga. Tetapi kami masih mempunyai
hubungan darah. Apalagi sikap kakang waktu itu belum tegas. Baru sejak
sebulan yang lalu, dan dengan resmi kakang datang sepekan yang lalu
pada saat Warsi tidak ada di rumah. Demikian Warsi pulang, maka aku
pun mendapat keputusannya bahwa Warsi menolak maksud kakang. Tetapi
Warsi masih tetap menganggap keluarga kakang sebagaimana keluarga
sendiri. Warsi memang ingin tetap dalam hubungan kadang saja dan tidak
terikat dalam hubungan perkawinan.”
“Kau memang pandai menyusun alasan-alasan,” berkata orang yang
datang melamar itu. “Tetapi kau harus sadar, bahwa yang kau lakukan
adalah satu penghinaan. Kau harus belajar dari pengalaman hidup, bahwa
orang yang terhina akan dapat melakukan sesuatu yang kadang-kadang
tidak pada tempatnya.”
“Jangan berkata begitu kakang,” jawab ayah Warsi.
“Kakang pun tentunya tahu, jika perkawinan yang tidak dikehendaki
oleh salah satu pihak itu dipaksakan, maka akibatnya juga akan kurang
baik. Mungkin perkawinan itu tidak akan berlangsung lama. Jika hal
yang demikian terjadi, padahal keduanya sudah dikaruniai satu atau dua
orang anak, maka akibatnya akan lebih parah lagi.”
“Anak-anak itu akan menjadi perekat perkawinan,” berkata tamunya.
“Tetapi tidak jarang terjadi, bahwa hidup seorang istri justru
menderita selama itu. Ia hanya bertahan untuk dapat disebut seorang
perempuan yang setia. Namun batinnya telah tersiksa. Karena itu
sebaiknya, perkawinan itu benar-benar dapat diterima oleh kedua belah
pihak,” jawab ayah Warsi. (Bersambung)-z
|
Rabu, 11-09-2002
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 096 |
“Segalanya tergantung kepadamu. Anakmu adalah seorang
perempuan. Ia akan dapat kau paksa menurut perintahmu,” berkata
orang yang melamar itu.
“Sudah aku katakan, perkawinan yang demikian tidak akan dapat
mendatangkan kebahagiaan,” jawab ayah Warsi.
“Aku sudah datang kerumah ini beberapa kali. Sekarang kau berani
menghina aku seperti itu,” geram orang yang datang melamar Warsi,
“Apakah kau menyadari apa artinya?”
“Apa maksudmu mengancam kakang?” bertanya ayah Warsi.
“Apa saja namanya, tetapi penghinaan ini akan dapat berakibat buruk
bagimu,” jawab orang itu.
“Kakang,” berkata ayah Warsi. “Ketika aku menanyakan sikap Warsi,
aku berkata kepadanya, bahwa bakal suaminya adalah seorang laki-laki
yang kaya dan keturunan orang baik-baik. Aku menjelaskan kepadanya
pengertian baik-baik sebagaimana aku maksudkan. Tetapi sikap kakang
yang mengancam itu bukannya sikap seorang yang baik-baik menurut
pengertian yang aku katakan kepada Warsi.”
“Sebut saja aku memang bukan orang baik-baik,” jawab orang itu.
“Tetapi aku memang kaya. Aku dapat membeli seisi padukuhan ini.
Mungkin di padukuhan ini kau dianggap orang yang paling kaya. Perabot
rumahmu termasuk perabot yang baik. Rumahmu pun termasuk rumah yang
besar dengan halaman yang luas. Tetapi kau sudah tahu, bahwa aku dapat
membeli rumah yang besarnya lipat dua dari rumah ini buat Warsi.”
“Sudahlah kakang,” jawab ayah Warsi. “Aku benar-benar mohon maaf.
Tetapi kakang jangan mengancam begitu. Akibatnya memang akan kurang
baik. Bukankah kita mempunyai aliran darah yang bersumber dari orang
yang sama, meskipun dalam tataran yang sudah terpisah beberapa
keturunan.
“Aku tidak peduli,” jawab orang itu. “Jika kau mengakui bahwa
aliran darah itu lebih tua, maka kau jangan menghina keluargaku.
Jangan menghina anakku yang kau katakan terlalu tua buat Warsi. Atau
katakanlah bahwa anak-anakku telah pernah kawin sampai dua kali tetapi
gagal.”
Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang yang akan melamar
Warsi untuk anak laki-lakinya itu sama sekali sudah tidak dapat diajak
bicara. Meskipun demikian, maka ayah Warsi itu masih berkata, “Maaf
kakang. Tetapi aku sama sekali tidak bermaksud menghina. Aku hanya
ingin anak-anak kita kelak mendapatkan kebahagiaannya. Itu saja. Dan
karena itu maka dengan menyesal kembali, aku tidak dapat menerima
lamaran kakang. Meskipun demikian, aku mohon agar kakang bagiku tetap
terkesan sebagai orang baik-baik. Sehingga dengan demikian aku tidak
menjadi kecewa kepada kakang.”
“Sudah aku katakan. Aku bukan orang baik-baik,” jawab orang itu.
“Karena itu, aku dapat berbuat sesuatu yang sangat buruk.
“Kakang,” ayah Warsi dengan sudah payah telah mengekang dirinya.
Sebenarnya ia bukan orang yang sabar, yang dapat berbuat dan mengambil
sikap berdasarkan atas keseimbangan nalar dan perasaannya. Katanya
kemudian, “Sekali lagi aku minta kakang tetaplah menjadi orang baik
dimataku. Jika kakang benar-benar mengancam dan akan mengambil
langkah-langkah yang kasar, maka kepercayaanku kepada orang lain
benar-benar akan larut sama sekali. Untuk seterusnya tidak akan
percaya bahwa sebenarnya ada orang yang baik itu.”
“O,” geram tamunya. “Jangan merajuk begitu. Kau sudah menghina
aku. Kemudian merajuk seperti kanak-kanak. Jika kau sudah berani
menghina aku, maka bersikaplah seperti laki-laki.”
“Kakang berkata sebenarnya,” jantung ayah Warsi bagaikan akan
pecah oleh ketegangan yang ditahannya.
“Ya,” jawab tamunya.
(Bersambung)-m
|
Kamis, 12-09-2002
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 097 |
Akhirnya bendungan itu pun pecah
juga. Jika sebelumnya ayah Warsi berusaha untuk bersikap baik
dihadapan orang yang dianggapnya orang baik-baik, namun ternyata
kepercayaannya bahwa masih ada juga orang yang baik itu pun telah
larut. Karena itu, maka jawabnya, “Jadi kakang mau apa?”
Wajah tamunya menjadi merah padam. Katanya, “Daripada aku melihat
Warsi menjadi menantu orang lain, maka lebih baik bagiku bahwa aku
tidak akan melihat Warsi dan kau untuk selama-lamanya.”
“Jadi kakang benar-benar menjadi gila oleh penolakan itu?
Sebenarnya aku telah berusaha menyesuaikan diri menghadapi kakang. Aku
berusaha menolak dengan cara yang paling baik yang dapat aku lakukan.
Aku lebih baik mempergunakan sifat asliku menghadapi orang yang aku
anggap terhormat seperti kakang ini,” jawab ayah Warsi.
“Apa maksudmu?” bertanya tamunya.
“Pergilah kakang, sebelum segalanya berubah,” berkata ayah Warsi.
Wajah tamunya itu menjadi bagaikan menyala. Sementara itu ayah Warsi
berkata, “Mungkin dalam beberapa kejap ini aku masih mampu bertahan
dengan sikap yang aku persiapkan sejak lama menghadapi kakang yang aku
anggap mempunyai tata nilai kehidupan yang jauh lebih baik dari aku.”
“Persetan,” geram orang itu. “Aku adalah orang yang kaya. Aku
akan dapat berbuat apa saja dengan uangku. Aku tahu sejak mudamu, kau
adalah seorang petualang. Tetapi dengan uangku aku akan dapat membeli
orang berapapun aku kehendaki untuk melakukan niatku. Aku akan
mengambil sikap yang keras dan kasar. Mungkin aku akan menculik Warsi,
tetapi mungkin melenyapkannya sama sekali. Termasuk kau.”
“Cukup,” potong ayah Warsi. Tangannya sudah mulai gemetar. Rasanya
ia sudah ingin menerkam tamunya yang ternyata hatinya tidak sebersih
yang diduganya.
Orang yang melamar Warsi bagi anak laki-lakinya itu pun menggeretakkan
giginya. Ia pun kemudian bangkit dan tanpa berkata apapun juga ia
melangkah keluar pintu. Di luar dua orang pengiringnya sudah menunggu.
Dua orang yang bertubuh tinggi tegap. Seorang di antara mereka
rambutnya sudah mulai memutih. Jambangnya, kumisnya yang panjang dan
janggutnya yang telah memutih pula. Namun tubuhnya masih tetap tegap
bagaikan dilapisi baja. Dengan demikian orang itu justru nampak
menyeramkan.
Ayah Warsi yang kemudian melangkah keluar pula melihat dua orang
pengiring itu. Karena itu, maka kepercayaannya kepada orang yang
dianggapnya menganut satu kehidupan yang mempunyai tata nilai yang
baik itu pun telah lenyap sama sekali.
“Orang yang disebut baik-baik itu pun pada satu saat adalah serigala
yang kelaparan,” berkata ayah Warsi di dalam hatinya. “Ternyata
bahwa watak dan sifatnya tidak ada bedanya dengan kami, orang-orang
yang dianggap tidak berkesadaran dalam peradaban sesama. Bedanya, kami
melakukan sendiri dengan tangan-tangan kami, tetapi orang yang
baik-baik itu mengupah orang untuk melakukan hal seperti kami.”
Tetapi ancaman itu bagi ayah Warsi sama sekali tidak membuatnya
ketakutan. Bahkan demikian orang-orang yang bertamu ke rumahnya itu
pergi, Warsi muncul dari balik dinding penyekat di ruang dalam. Dengan
wajah yang merah ia bergumam, “Ayah, apakah aku diperbolehkan
menyusul paman itu?”
“Untuk apa?” bertanya ayahnya.
“Aku ingin menunjukkan kepada paman, bahwa apa yang akan dilakukan
itu sia-sia. Aku akan membunuh dua orang pengiringnya dihadapan paman,”
jawab Warsi.
“Gila,” geram ayahnya. “Kau jangan mengigau tentang pembunuhan.
Aku sudah mengatakan kepadamu lebih dari seribu kali. Jangan mudah
membunuh jika tidak terpaksa.”
(Bersambung)-m
|
Jumat, 13-09-2002
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 098 |
"AYAH mengajari aku, bahwa
cara itu adalah cara yang paling baik untuk menyelesaikan
masalah-masalah yang pelik di dalam kehidupan ini," jawab Warsi.
Lalu, "Dan ternyata sulit bagiku untuk mengetahui batas
keterpaksaan itu."
"Tetapi kau salah menerapkan artinya," sahut ayahnya.
Warsi mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, "Tetapi paman juga
mengancam akan membunuh aku. Apakah ayah sangka bahwa hal itu tidak
akan benar-benar dilakukannya?"
Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Mungkin saja itu
dilakukannya. Karena itu, kau harus berhati-hati. Agaknya pamanmu
benar-benar sakit hati."
"Jika paman benar-benar akan membunuh, maka wajar jugalah jika
aku pada suatu saat membunuh istri Wiradana," desis Warsi.
Ayahnya terkejut. Ia tidak menyangka bahwa jalan pikiran Warsi
bergeser ke arah yang berbeda. Tetapi kemudian ia pun
mengangguk-angguk sambil berkata, "Jika perlu. Tetapi jika
Wiradana mau menceraikannya, maka kau tidak perlu melakukannya."
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa lebih mantap untuk
melakukan rencananya. Orang yang dianggap mempunyai landasan tata
nilai yang baik itu pun akan melakukan kekerasan. Apalagi orang-orang
yang memang sudah meletakkan dirinya dalam satu tataran kehidupan yang
lain seperti keluarga Warsi dan keluarga Kalamerta.
Dalam pada itu, sebenarnyalah orang yang melamar Warsi untuk anak
laki-lakinya itu benar-benar menjadi sakit hati. Ketika ia sampai di
rumahnya, maka ia pun segera menyampaikan hal itu kepada anak
laki-lakinya.
"Gila," geram anak laki-lakinya. "Jadi paman berani
menolak lamaran kita? Apakah ia sudah jemu hidup?"
"Aku sudah mengatakannya, bahwa penolakan itu akan berarti
kesulitan bagi keluarga Warsi. Tetapi ia keras kepala. Agaknya mereka
menganggap aku sekadar menakut-nakuti saja," jawab ayahnya.
"Kita akan melakukannya. Sungguh-sungguh melakukannya,"
berkata anaknya. "Aku dapat berbuat lebih garang dari para
penyamun di bulak-bulak panjang. Aku dapat lebih kejam dari bajak laut
di lautan. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang yang
mengambil Warsi dengan kasar dan membawanya kemari. Aku dapat berbuat
apa saja. Tetapi jika keadaan memaksa, aku lebih baik melihat
perempuan itu menjadi mayat."
"Aku sudah mengatakan. Tepat seperti apa yang kau katakan,"
sahut ayahnya.
"Jika demikian, kita tidak hanya sekadar mengancam dan
menakut-nakuti. Kita akan melakukannya," berkata anak
laki-lakinya.
Dengan demikian, maka ia pun kemudian berbicara dengan dua orang
pengiringnya. Orang-orang bertubuh raksasa. Seorang di antaranya telah
berambut putih.
"Kita akan membawa lima orang kawan," berkata laki-laki yang
ingin memperistri Warsi itu. "Aku akan membayar lipat, jika kita
dapat membawa Warsi pulang dan menyimpannya di dalam rumah ini."
Kedua orang pengiringnya itu tersenyum. Orang yang berambut putih itu
berkata, "Kau hanya membuang-buang uang saja. Berikan uang itu
kepadaku. Aku akan mengambilnya dan membawanya kepadamu."
"Omong kosong," jawab laki-laki yang ingin memperistri Warsi
itu, "Jangan dikira kalau keluarga Warsi itu tidak dapat mencari
perlindungan. Ia juga termasuk orang yang kaya. Sementara itu, menurut
pendengaranku, ayah Warsi adalah seorang yang suka bertualang."
"Apakah yang menarik, bahwa kau nampaknya tergila-gila kepada
gadis itu? Jika ayahnya seorang petualang, apakah gadis itu gadis
baik-baik?" bertanya orang bertubuh raksasa dan berambut putih
itu.
(Bersambung)-m
|

Sabtu, 14-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 099 |
"AKU tidak peduli, apakah ia gadis baik-baik atau bukan.
Warsi adalah gadis yang sangat cantik. Tubuhnya merupakan idaman bagi
setiap laki-laki. Itu saja. Mungkin aku memerlukannya untuk waktu yang
lebih lama dari kedua perempuan yang sudah aku singkirkan itu,"
berkata laki-laki yang menginginkan Warsi itu.
Orang berambut putih itu tidak menjawab. Ia sudah terbiasa dengan
sifat laki-laki itu. Setiap kali ia ingin pekerjaannya selesai dengan
tuntas. Ia tidak ingin mengalami kegagalan. Karena itu, maka ia tidak
tanggung-tanggung untuk mengambil keputusan sebagaimana ayahnya.
Dalam pada itu, seperti yang dikatakan, maka laki-laki itu atas
persetujuan ayahnya telah memanggil lima orang gegedug yang dapat
dipercaya untuk bersama-sama mengambil Warsi. Bersama mereka adalah
dua orang pengawal laki-laki yang menginginkan Warsi, laki-laki itu
sendiri dan ayahnya.
"Sembilan orang adalah satu pasukan segelar sepapan. Seakan-akan
kita akan maju berperang merebut Pajang atau bahkan Jipang dan Demak
sekaligus," berkata pemimpin sekelompok orang yang terdiri dari
lima orang itu.
"Jangan besar kepala," bentak laki-laki yang ingin mengambil
Warsi itu. "Kita tidak boleh gagal."
"Kapan kita berangkat?" bertanya ayah laki-laki itu.
"Kita akan mengambilnya malam hari," jawab anak laki-lakinya.
Seperti yang direncanakan, maka ketika malam mulai membayang, mereka
pun segera bersiap-siap. Sembilan orang di atas punggung kuda dan
senjata di tangan. Ada di antara mereka yang menyelipkan golok di
pinggangnya. Tetapi ada yang membawa tombak pendek dengan mata
ngeripandan. Ada yang membawa kapak bertangkai pendek dirangkapi
dengan sebuah perisai yang tidak begitu besar. Sedangkan raksasa
berambut putih itu menggantungkan bindinya di pelana kudanya,
sementara sebuah pedang pendek tetapi besar terselip di pinggangnya.
Kawannya, juga seorang yang bertubuh raksasa tetapi berkepala kecil,
bersenjata pedang lengkung yang didapatnya dari seorang kawannya yang
pernah mengembara keseberang lautan. Pedang yang tajamnya melampaui
tajamnya welat pring wulung itu merupakan senjata yang sangat disegani
lawan-lawannya.
Namun dalam pada itu, orang-orang yang agaknya menunggu malam
mendekati puncaknya. Mereka akan berkuda langsung menuju ke rumah
Warsi. Mereka tidak akan terhalang oleh para peronda yang akan dengan
mudah mereka takut-takuti. Apalagi mereka berjumlah sembilan orang.
"Ingat," berkata laki-laki yang menginginkan Warsi, "Gadis
itu jangan sampai terluka kulitnya. Ia harus kita dapatkan utuh
sebagaimana selalu kau lihat sebelumnya."
"Jika ia melawan?" bertanya pemimpin dari kelima orang yang
diupah untuk pergi bersama ke rumah Warsi itu.
"Apa artinya tenaga seorang perempuan. Tetapi biarlah aku sendiri
yang akan menangkapnya. Aku tidak mau kulit kalian yang kasar itu
menggores kulit Warsi," jawab laki-laki yang tergila-gila kepada
Warsi itu.
Orang-orang yang mendengar jawaban itu tertawa berkepanjangan. Bahkan
akhirnya orang itu sendiri pun tertawa pula sambil berkata, "Nah,
hanya aku yang boleh menyentuhnya. Mengerti?"
Tidak ada jawaban. Tetapi suara tertawa itu masih terdengar.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa perjalanan mereka sama sekali
tidak terganggu. Jika mereka melewati regol yang dijaga, maka
laki-laki yang bersenjata tombak pendek dengan mata ngeripandan itu
berkata kepada anak-anak muda di regol itu, "Beri kami jalan.
Kami sedang mengejar segerombolan perampok."
"Mereka tidak lewat jalan ini," pada umumnya para penjaga
itu menjawab demikian.
"Kami mengambil jalan memintas. Mereka merampok di rumah Ki
Demang Watumulih," jawab orang bertombak itu pula. (Bersambung)-m
|
Minggu, 15-09-2002 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 100 |
Tidak seorang pun yang mencegah mereka lewat. Selain mereka
percaya akan keterangannya, maka tidak akan ada kekuatan di padukuhan
itu untuk menahan agar kesembilan orang itu tidak meninggalkan gardu
mereka.
Dengan demikian, maka sedikit lewat tengah malam, maka orang-orang itu
sudah mendekati padukuhan tempat Warsi tinggal.
Pemimpin dari kelima orang itu pun kemudian berdesis, “Kita tidak
boleh memberikan kesan yang dapat memaksa para peronda memukul tanda
bahaya jika mereka mencurigai kita.”
“Kita akan memberikan jawaban seperti yang sudah kami lakukan,”
jawab raksasa berkepala kecil itu.
Pemimpin dari lima orang gegedug itu mengangguk. Tetapi katanya,
“Ada beberapa perbedaan. Padukuhan ini adalah padukuhan tempat
tinggal Warsi. Jika ayahnya menjadi cemas atas ancaman yang pernah
diucapkan, maka ia tentu telah memberitahukan kepada para peronda
kemungkinan seperti ini. Karena itu, kita harus berhati-hati.
“Aku sependapat,” sahut ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu,
“Aku memang pernah mengancamnya. Mungkin ayah Warsi itu memang sudah
bersiaga.”
Pemimpin dari kelima orang gegedug itu pun menyahut, “Sebenarnya
kita tidak perlu takut, seandainya dibunyikan isyarat titir sekalpun.
Jika kita berusaha, untuk mencegah hal itu, karena kita ingin
menghindari terjadi pembantaian yang berlebih-lebihan. Aku sebenarnya
tidak ingin membunuh terlalu banyak, karena upah yang akan aku terima
tidak terlalu banyak pula.”
“Tutup mulutmu,” bentak laki-laki yang menginginkan Warsi, “Aku
memberi kalian upah lipat dari kebiasaan.”
Tetapi pemimpin para gegedug itu tertawa, “Memang, upah itu dua kali
lipat. Tetapi tentu tidak bernilai seperti jika aku membunuh duapuluh
lima orang malam ini karena seisi kampung berusaha menangkap aku.
Karena itu kita harus berhati-hati, agar tidak terlalu banyak membunuh
malam ini.”
Laki-laki yang menginginkan Warsi itu mengumpat. Tetapi ia tidak
berkata apa-apa lagi.
Demikianlah, maka iring-iringan itu pun telah sampai ke regol
padukuhan. Seperti yang mereka duga, di regol itu pun terdapat
beberapa orang anak muda yang sedang meronda. Mereka pun bertanya
sebagaimana pernah ditanyakan di perondan sebelumnya. Dan orang
bertombak pendek itu pun menjawab sebagaimana pernah diucapkan.
Ternyata anak-anak di regol itu pun tidak banyak membuat persoalan.
Seperti anak-anak muda di padukuhan-padukuhan lain, mereka memang agak
ketakutan melihat sembilan orang bersenjata.
Ketika orang-orang itu lewat, maka pemimpin perondan itu pun berkata,
“Bagaimana pun juga kita harus bersiaga.” (Bersambung)-m
|
Buy
1 Get 1 FREE!!!

Buy it at AllPosters.com
Langsung ke KR
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 15/IX/2002
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|