Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....
KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo
| Gajahsora.Net |
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG Kamis, 06-06-2002
KETIKA hujan reda di ujung malam,
maka bulan pun mulai nampak di balik bayangan mega yang kelabu.
Jalan-jalan yang sunyi menjadi licin dan berlumpur. Sementara
pintu-pintu sudah tertutup rapat. Jumat, 07-06-2002 “Tetapi kenapa ayah akan menemuinya sekarang? Sebab menurut tanggapanku, ayah akan menemuinya dalam perang tanding,” sahut Wiradana dengan cemas. “Ya. Aku memang mengharap dapat bertemu dengan Gonggang Wirit dalam perang tanding. Aku tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan Tanah Perdikan ini. Jika aku berhasil memancingnya, maka aku kira para pengikutnya akan kehilangan pegangan, sehingga para pengawal Tanah Perdikan ini akan dapat menghadapi mereka,” jawab ayahnya. “Ayah yakin akan dapat membunuhnya?” tanya Wiradana. “Aku akan mencobanya. Tetapi jika aku tidak berhasil, dan aku justru terbunuh, maka jangan kau sesali. Mungkin aku memang harus menebus tingkah lakuku lebih dari duapuluh tahun yang lalu. Tetapi jika terjadi demikian, kau harus dengan cepat memberikan laporan, tidak usah ke pusat pemerintahan di Demak. Kau dapat menugaskan dua-tiga orang untuk melaporkan ke Kadipaten Pajang yang jauh lebih dekat. Mudah-mudahan Pajang menaruh perhatian atas tingkah laku segerombolan berandal di Tanah Perdikan Sembojan ini,” jawab ayahnya. Wiradana termanggu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ayah, sebaiknya ayah tidak pergi seorang diri. Apakah ayah yakin, bahwa orang itu akan menghadapi ayah dengan jujur?” “Aku sudah berhasil memancing persoalan. Aku berhasil mengungkat persoalan lama sehingga aku berhasil membatasi persoalan itu antara aku dengan Gonggong Wirit, kakak dari seorang yang pernah aku bunuh lebih dari dua puluh tahun yang lalu,” jawab ayahnya pula. “Jadi ayah memang sudah pernah bertemu dengan orang itu?” bertanya Wiradana pula. “Aku bertemu dengan seseorang yang pernah aku kenal justru dari sudut pasar, di pande besi ketika aku ingin memesan sepuluh kejen bajak utuk padukuhan Gambir,” jawab ayahnya pula. “Agaknya Gongong Wirit tidak lupa kepadaku sebagaimana aku tidak lupa kepadanya meskipun kit sudah berpisah. Ternyata sorot matanya masih tetap memancarkan dendam atas kematian adiknya meskipun itu sudah terjadi lama sekali. Ketika orang itu tahu, bahwa aku adalah kepala Tanah Perdikan ini, maka ia mengancam akan menghancurkan Tanah Perdikan itu. Satu-satunya jalan adalah memancing kebenciannya kepadaku dan membatasi persoalannya sebagai persoalan pribadi. Akhirnya, aku berhasil menjebaknya dalam satu perang tanding.” “Bagaimana jika orang itu curang ayah?” bertanya Wiradana pula. “Tidak. Ia sudah mengatakan, bahwa dalam persoalan pribadi ini, akan berdiri di atas harga dirinya demi menuntut balas atas kematian adiknya itu,” jawab ayah Wiradana. Wiradana menarik nafas. Tetapi kecemasan tetap membayang diwajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Ayah, aku akan ikut bersama ayah.” Tetapi ayahnya menggeleng. Katanya, “Kau tinggal di rumah. Jika aku harus terbunuh untuk menembus ketamakanku dua puluh tahun yang lalu, biarlah itu terjadi. Tetapi aku akan dapat berbuat seusatu atas Tanah Perdikan ini. Tetapi jika kau juga menjadi korban, maka akibatnya akan sangat parah bagi Semboyan.” Wiradana menjadi semakin tegang. Namun ia tidak akan dapat mencagah ayahnya. Ia tahu benar sifat ayahnya. Jika ia sudah mengambil satu keputusan, maka sulitlah baginya untuk mengubahnya. Namun Wiradana sadar, bahwa yang dilakukan ayahnya itu bukannya karena persoalan pribadinya semata-mata. Tetapi cenderung untuk menyelamatkan Tanah Perdikannya, meskipun mungkin ia harus mengorbankan dirinya. Demikianlah, akhirnya Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang juga disebut Ki Gede Sembojan itu kemudian meninggalkan rumahnya. Ketika ia turun tanggap pendapa, sekali lagi ia berpaling kepada anaknya sambil berkata, “Hati-hatilah. Banyak kemungkinan dapat terjadi.” SURAMNYA BAYANG-BAYANG 003 Minggu, 09-06-2002 Sebenarnya suara itu semakin lama semakin keras. Getarannya telah mengguncang bukan hanya dedaunan, tetapi rasa-rasanya isi dada Ki Gedepun telah terguncang pula. Namun Ki Gede adalah seorang yang telah mapan dalam olah kanuragan. Karena itu, maka iapun mampu mengungkapkan daya tahannya untuk melawan suara tertawa itu. Bahkan dengan memusatkan nalar budinya, maka Ki Gede pun segera mengetahui, dimana lawannya itu telah menunggu. Tetapi Ki Gede masih tetap berdiri tegak. Ia sama sekali tidak berusaha melawan suara tertawa itu, kecuali bertahan agar isi dadanya tidak terguncang-guncang. Dalam pada itu, akhirnya suara tertawa itu menurun dengan sendirinya. Agaknya orang yang melontarkan suara itu menyadari bahwa suara tertawanya tidak banyak berpengaruh atas orang yang baru datang itu. Bahkan karena sikap diamnya, maka rasa-rasanya orang yang berdiri di antara dua batang pohon itu merasa terlalu yakin akan dirinya. “Turunlah,” tiba-tiba saja terdengar suara Ki Gede. “Persetan,” geram orang yang duduk di atas sebatang dahan pada pohon kelapa itu. “Jangan menunggu aku mengguncang pohon ini dengan tanganku,” berkata Ki Gede selanjutnya. Tetapi orangyang di atas dahan itu telah tertawa lagi. Tetapi tertawa dengan suara wajar. Katanya, “Kau sangka aku percya bahwa kau mampu mengguncang pohon raksasa ini?” “Cobalah berpegangan dengan erat, agar kau tidak terjatuh dari dahan itu,” jawab Ki Gede. “Jangan membual,” jawab orang itu, yang justru kemudian telah meloncat turun beberapa langkah saja dihadapan Ki Gede. “Gonggang Wirit,” berkata Ki Gede, “Agaknya ilmumu memang sudah menjadi semakin matang.” “Jangan berkata begitu Ki Gede,” jawab Gonggang Wirit, “Meskipun nampaknya kau memuji, tetapi itu merupakan suatu penghinaan. Dua puluh tahun telah lalu. Kau sangka dalam waktu itu ilmu seseorang seharusnya tidak berubah, sehingga apabila ada yang mampu meningkatkan ilmunya masih harus mendapat pujian?” “Bukan maksudku Gonggang Wirit. Tetapi aku benar-benar kagum melihat kemampuanmu mengguncangkan dedaunan dengan suara tertawamu. Meskipun ilmu Gelap Ngampar mu itu masih baru dalam tingkat permulaan. Gonggang Wirit mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa pula. Katanya, “Jangan menutupi kecemasanmu dengan penilaian yang tidak berarti apa-apa itu. Apapun yang kau katakan, tetapi aku mampu mengguncang pepohonan dengan suaraku. Aku akan mampu juga menghancurkan isi dadamu seandainya aku mengerahkan segenap tenaga ilmuku.” Ki Gede Sembojan tersenyum. Katanya, “Sebuah mimpi yang manis. Tetapi kalau akan segera terbangun dan melihat kenyataan yang sangat pahit dari akhir mimpimu.” “Kita agaknya sama-sama ingin membual. Tetapi baiklah, kau sudah datang memenuhi janjimu. Aku pun datang sebagaimana seorang laki-laki karena persoalan yang kita hadapi sekarang adalah persoalan dendam pribadi,” berkata Gonggang Wirit. Lalu, “Tetapi seandainya kau berurusan dengan Kalamarta, maka aku tidak akan bersusah payah bersikap jangan. Mungkin aku akan membantumu beramai-ramai disini bersama para pengikutku.” “Terima kasih,” jawab Ki Gede, “Persoalan kita memang persoalan antara kau dan aku. Bukan persoalan segerombolan orang yang dipimpin oleh Kalamarta, yang akan merampok di daerah Tanah Perdikan Sembojan.” SURAMNYA BAYANG-BAYANG 005 Selasa, 11-06-2002 “Kau benar,” Gonggang Wirit mengangguk-angguk, “Kita sekarang sudah menjadi tua. Umur kita sudah menjadi setengah abad. Karena itu kita akan menyelesaikan persoalan ini dengan sikap orang tua. Siapa yang lemah di antara kita, akan mendahului kembali ke kelanggengan.” “Aku sudah siap,” desis Ki Gede. Gonggang Wirit pun segera mempersiapkan diri pula. Mereka bergeser beberapa puluh langkah dari pohon raksasa itu dan berdiri di atas tanah berbatu padas. Ki Gede termangu-mangu sejenak ketika ia melihat lawannya menarik sebilah keris yang sangat besar dari punggungnya. Katanya, “Keris ini dibuat khusus oleh kakekku untuk ayahku yang kemudian diberikannya kepadaku. Dengan keris ini, aku akan menyelesaikan dendamku disini, sehingga tidak akan menjadi beban selama hidupku. Sebelum aku dapat membunuhmu, maka aku tidak akan pernah merasa tenang karena seakan-akan aku telah mengabdikan jerit adikku pada saat kau tikam jantungnya dengan pedang.” Ki Gede Sembojan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas mengawang kenangan yang tidak begitu jernih melintas di angan-angannya. Hatinya memang telah ternoda hitam. Tetapi saat itu ia memang tidak dapat menghindarinya. Dua puluh tahun lebih sudah berlalu. Ternyata segalanya telah berubah. Ia telah menjadi Kepala Perdikan, sementara saudara tua dari seorang anak muda yang ditikamnya sampai mati, justru menjadi seorang Kepala berandal yang ditakuti, yang telah datang untuk mengganggu ketenangan di Tanah Perdikannya. Namun Ki Gede berusaha untuk mengusir kenangannya itu. Ia tidak ingin terganggu oleh perasaan bersalah dalam menghadapi orang yang benar-benar akan membunuhnya. “Aku harus berbuat sebaik-baiknya di atas alas keadaanku sekarang. Aku berbuat untuk Tanah Perdikan. Sama sekali bukan karena persoalan pribadi, meskipun aku telah menggunakannya sebagai alasan,” berkata Ki Gede di dalam hatinya. Dengan demikian, maka Ki Gede pun menjadi mantap. Ia tidak merasa lagi bertempur karena ketamakannya. Tetapi ia berdiri sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan yang berhadapan dengan seorang pemimpin dari sekelompok perampok yang ganas yang akan membuat Sembojan menjadi miskin. Sejenak kemudian, karena lawannya telah menarik kerisnya yang besar yang digantungkannya dipunggungnya, maka Ki Gede pun telah menarik pedangnya. Pedang yang dinamainya Sabet Kiai Tatit. Sejenak kemudian kedua orang yang sudah menggenggam senjata di tangan masing-masing itu pun mulai bergerak. Sambil menjulurkan kerisnya Gonggang Wirit berkata, “Aku ingin persoalan ini cepat selesai. Karena itu, maka aku segera mempergunakan pusakaku.” “Aku tidak berkeberatan,” jawab Ki Gede Sembojan, “Aku pun ingin segera melihat nyawamu terkapar disini, sebelum aku memanggil para pengawal untuk menguburmu.” Gonggang Wirit menggeram, namun ia tidak menjawab lagi. Tetapi kerisnyalah yang mulai bergerak. Sejenak kemudian, maka Gonggang Wiritlah yang mulai menyerang lawannya. Pedangnya berputaran, namun kemudian mematuk lurus ke arah jantung. Tetapi Ki Gede memang sudah siap menghadapinya. Karena itu, serangan yang pertama itu sama sekali tidak berarti. Dengan gerak yang sederhana ia memiringkan tubuhnya, sehingga keris itu sama sekali tidak menyentuhnya. Gonggang Wirit tersenyum. Tetapi ia menggerakkan pergelangan tangannya sehingga pedang itu pun berubah arah. Serangannya menjadi mendatar setinggi dada SH
Mintardja - : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 007 Kamis, 13-06-2002 “Agaknya bagiku lebih bermanfaat mengunyah ketela rebus ini daripada membual ke sana kemari tidak ada ujung pangkalnya,” jawab anak muda yang kekurus-kurusan itu. “Kau memang tidak pernah berhenti makan. Tetapi kau tetap kurus saja,” gumam kawannya itu. Anak muda yang kekurus-kurusan itu tidak menjawab. Tetapi mulutnya masih saja mengunyah makanan tanpa henti-hentinya. Sementara itu, dua orang yang berada di ujung Kali Pideksa, disebelah pohon raksasa yang berdiri tegak dalam kelamnya malam, masih saja bertempur dengan dahsyatnya. Ternyata keduanya adalah orang yang berilmu tinggi. Setelah lebih dari duapuluh tahun mereka berpisah, agaknya ilmu mereka telah meningkat dengan pesatnya. Gonggang Wirit dan Ki Gede Sembojan agaknya tanpa saling mengetahui keadaan masing-masing telah menimpa diri dalam jalannya yang ternyata pada satu saat telah bersilang. Pertempuran yang terjadi itu, semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga keduanya bagaikan berubah menjadi bayang-bayang yang berputaran. Senjata mereka yang terayun-ayun telah menimbulkan angin yang berputaran menggerakkan daun-daun dari pohon raksasa itu. Benturan yang terjadi itu telah menggeretakkan jantung masing-masing. Bahkan tangan-tangan merekapun terasa menjadi pedih. Ternyata senjata ditangan masing-masing adalah senjata pilihan yang sulit dicari bandingnya. Keris yang besar ditangan Gonggang Wirit memiliki kemampuan yang sebanding dengan sabet Kiai Tatit, di tangan Ki Gede Sembojan. Namun betapapun juga mereka memiliki kemampuan gerak yang cepat, namun setelah bermain-main dengan senjata untuk beberapa lamanya, maka ujung-ujung senjata itu telah mulai menjilat tubuh lawannya. Pedang Ki Gede Sembojan telah tergores ditubuh Gonggang Wirit, menyilang di dada. Namun kemudian ujung keris Gonggang Wirit pun telah tergores di lengan Ki Gede pula. “Gila,” geram Ki Gede. Sementara itu terdengar Gonggang Wirit tertawa. Katanya, “Kau akan mati. Warangan pada kerisku itu tidak akan terlawan oleh obat yang manapun juga.” Ki Gede Sembojan menggeram. Tetapi ia menyadari, apa yang dapat terjadi atas dirinya. Karena itu, maka sambil bersiaga menghadapi kemungkinan berikutnya, ia telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggangnya. Ia sengaja membawa obat itu, karena ia menyadari, bahwa keris lawannya itu tentu mengandung bisa yang kuat. Ketika Ki Gede bertemu dengan orang itu di tempat seorang pande besi, Ki Gede sudah melihat bahwa orang itu adalah pemimpin gerombolan Kalamerta, jika orang yang dikenalnya bernama Gonggang Wirit itu tidak mengatakannya sendiri tentang dirinya. Tetapi ketika ia menelan obat itu, Gonggang Wirit tertawa semakin keras. Katanya, “Tidak ada gunanya. Obat apapun juga, tidak akan menolongmu.” “Gila,” geram Ki Gede. Kemarahan yang memuncak telah menghentak di dada Ki Gede. Tiba-tiba saja diluar dugaan lawannya, pada saat lawannya tertawa berkepanjangan, Ki Gede telah meloncat menyerang. Demikian cepatnya sehingga lawannya itu tidak sempat berbuat layak. Untuk melindungi dirinya, maka Gonggang Wirit telah menangkis serangan itu. Tetapi serangan yang datang terlalu cepat itu tidak seluruhnya dapat dihindarkannya. Meskipun ujung pedang Ki Gede tidak menghujam ke dadanya, namun pedang itu telah mengoyak pundaknya. Gonggang Wirit menyeringai menahan pedih. Ketika terasa darah meleleh dari luka itu, maka ia pun menjadi sangat marah pula. SURAMNYA BAYANG-BAYANG 009 Jumat, 14-06-2002 Karena itulah, maka pertempuran itupun menjadi semakin meningkat pula. Ki Gede yang telah terkena racun itupun mulai merasakan pengaruhnya. Tubuhnya terasa menjadi semakin lemah. Obat yang telah ditelannya hanya mampu menghambat peredaran bisa yang telah menusuk ke dalam urat dadanya. Tetapi Gonggang Wirit yang telah menitikkan darah semakin banyak itu pun kekuatannya telah menjadi susut pula. Meskipun luka di dadanya tidak begitu dalam, tetapi darah telah menitik pula, sementara dari pundaknya yang terkoyak, darahpun mengalir bagaikan terperas. Dengan demikian, maka kedua orang yang berilmu tinggi itu semakin lama ternyata menjadi semakin lemah pula. Dalam kemarahan yang memuncak, Ki Gede masih sempat menghentakkan sisa tenaganya sehingga ujung pedangnya sempat menyusup sekali lagi ke sela-sela putaran keris lawannya, sehingga pedang itu telah menghujam ke lambung Gonggang Wirit. Tetapi pada saat yang hampir bersamaan pula keris Gonggang Wirit yang berbisa itu telah menyobek kulit Ki Gede pada pergelangan tangannya. Gonggang Wirit yang lambungnya sobek itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Dipandanginya lawannya yang membuatnya mendendam selama lebih dari duapuluh tahun. Kebencian yang sangat memancar dari kedua belah matanya yang merah, sementara darahnya masih saja mengalir tidak henti-hentinya. Sesaat kemudian pandangan mata Gonggang Wirit itu pun menjadi buram. Tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara darahnya mengalir tanpa dapat dibendung lagi. Namun dalam keadaan yang demikian ia masih tertawa sambil berkata, “Ki Gede, kau memang berhasil melukai aku. Mungkin aku akan mati. Tetapi kaupun akan mati pula malam ini. Obat apapun juga tidak akan dapat menolongmu. Racunku akan bekerja dengan pasti, menghancurkan jaringan di dalam tubuhmu, mencengkam otakmu dan kemudian membekukannya sehingga kau akan mati.” Ki Gede tidak menjawab. Tetapi tubuhnya mulai terasa menjadi lain. Sendi-sendinya seakan-akan tidak lagi dapat dikuasainya. Dagingnya bagaikan menjadi kejang-kejang dan darahnya serasa mulai semakin sendat. Ketika Gonggang Wirit kemudian terjatuh ditanah, maka Ki Gede berusaha untuk mengambil sebutir obat penangkal racunnya. Dengan susah payah ia mencoba menelannya. Tetapi obat tertelan, kaki Ki Gede tidak lagi kuat menyangga tubuhnya, sehingga Ki Gede itu pun kemudian jatuh terduduk. Obatnya memang benar-benar tidak dapat menolak atas racun yang menghujam semakin dalam ditubuhnya. Seperti dikatakan oleh Gonggang Wirit bahwa racun itu akan merusak seluruh jaringan tubuhnya, mencengkam otaknya dan kemudian membekunya. Sementara itu, obat yang ditelannya, hanya mampu memperlambat kepastian yang tidak akan dapat terhindar dari dirinya. Tubuh Ki Gede semakin lama menjadi semakin lemah. Bahkan akhirnya malam serasa menjadi semakin gelap. Bintang-bintang yang mulai mengintip dari balik sisa awan dilangit, menjadi pudar dan akhirnya lenyap sama sekali. Namun dalam pada itu, pada saat terakhir kesadarannya, Ki Gede masih sempat berkata kepada dirinya, “Jika saat ini memang harus datang kepadaku, maka tugasku memang sudah selesai. Lebih dari itu, agaknya aku memang harus menebus noda-noda yang terpercik dihatiku dua puluh tahun yang lalu.” Malam pun menjadi semakin sepi. Dua sosok tubuh terbaring diam tidak jauh dari dua batang pohon raksasa yang tumbuh terpisah dari hutan yang tidak terlalu lebat oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas. Yang terdengar kemudian hanyalah suara burung kedasih mencium bau darah yang dibawa angin malam yang berdesah di dedaunan, sehingga gonggongannya menjadi semakin keras, bersahut-sahutan. (Bersambung)-m SURAMNYA BAYANG-BAYANG 010
Di rumah Ki Gede Sembojan,
kegelisahan Wiradana rasa-rasanya tidak dapat ditahankannya lagi.
Dengan keringat yang membasah di punggungnya, Wiradana itupun
melangkah keluar. Sejenak ia berdiri di pendapa. Namun kemudian ia pun
turun ke halaman dan hampir diluar sadarnya ia pun mendekati para
pengawal yang meronda. “Hampir fajar,” desis Wiradana. Mimbar Seputro Started 6/VI/2002 Last updated 12/OKT/2002 Bom di Bali sungguh-sungguh membuat keterpurukan makin parah lagi.
TOKO material "GAJAHSORA" Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol Sedia anak Gurami, Indukan Gurami Jakarta Barat- Indonesia (021) 5671778 +62 811806549 Please leave messages or SMS +62 812 802 51 02 (erni mimbar)
|
||||