Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....

KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

 

Gajahsora.Net  
 

 


Lukisan ini disumbang oleh Estu Brataningsih 
puteri pelukis Kentardjo alm

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 001
Kamis, 06-06-2002

 KETIKA hujan reda di ujung malam, maka bulan pun mulai nampak di balik bayangan mega yang kelabu. Jalan-jalan yang sunyi menjadi licin dan berlumpur. Sementara pintu-pintu sudah tertutup rapat.

Namun dalam pada itu, dalam keheningan yang semakin mencengkam, seseorang duduk di atas sebuah amben bambu sambil mengusap hulu pedangnya. Sebuah mangkuk berisi air panas masih terletak di hadapannya.

Sesekali orang itu meneguk minuman panas itu. Namun kemudian pelahan-lahan ia bangkit sambil bergumam, “Waktunya telah tiba.”

Orang itu berdiri tegak sambil memandangi ruangan itu dari sudut sampai ke sudut. Setiap benda yang ada di ruang itu diperhatikan dengan seksama. Namun kemudian ia pun telah menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah ke pintu, orang itu memanggil, “Wiradana....”

Seorang anak muda yang mendengar panggilan itu pun bangkit dari pembaringannya. Udara yang dingin telah mendorongnya untuk berbaring sambil merenungi dirinya sendiri.

Ketika Wiradana memasuki ruang tengah, dilihatnya ayahnya berdiri dengan pedang di lambung.

“Ayah...” desis anak muda itu.

“Ayah akan pergi. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali atau tidak. Tetapi kau sudah cukup dewasa. Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” desis orang berpedang itu.

“Ayah akan kemana?” tanya Wiradana.

“Baiklah. Aku akan berkata terus terang. Justru karena aku mengharap bahwa kau akan dapat menanggapi keadaan dengan sebaik-baiknya.” Ayahnya terdiam sejenak, lalu, “Wiradana, Tanah Perdikan ini mulai berkembang. Kau harus dapat berbuat sebagaimana ayah berbuat selama ini atas Tanah Perdikan ini. Seandainya ayah tidak kembali, maka aku yakin bahwa Tanah Perdikan ini tidak akan menjadi kuncup. Tetapi akan mekar dan menjadi sejahtera.”

“Apa sebenarnya yang akan ayah lakukan?” tanya Wiradana.

“Hari ini adalah hari yang sudah aku janjikan untuk bertemu dengan Gonggang Wirit,” jawab ayahnya.

“Siapakah Gonggang Wirit itu, ayah?” tanya Wiradana.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak banyak orang yang mengenal namanya. Bahkan aku kira orang itu telah mati pula. Namun tiba-tiba ia datang ke Tanah perdikan Sembojan ini.”

“Apa hubungannya dengan ayah dan untuk apa ia datang kemari?” desak Wiradana.

“Persoalan itu sebenarnya telah terjadi sejak kau belum dilahirkan.” Wajah orang tua itu menjadi keruh. “Persoalannya berkisar pada persoalan ibumu. Aku telah bertengkar dengan seseorang sehingga aku tidak dapat berbuat lain daripada membunuhnya. Laki-laki yang mati itu adalah adik orang yang bernama Gonggang Wirit. Untunglah bahwa ibumu sekarang sudah tidak ada lagi, sehingga ia tidak melihat, bahwa pertentangan yang terjadi lebih dari duapuluh tahun yang lalu itu masih saja berkelanjutan.”

“Apakah Gonggang Wirit datang memang untuk mempersoalkan peristiwa yang terjadi lebih dari duapuluh tahun yang lalu itu?” tanya Wiradana.

“Agaknya tidak, Wiradana,” jawab ayahnya. “Ternyata sekarang Gonggang Wirit telah menjadi seorang gegedhug yang membuat negeri ini menjadi keruh. Mungkin Tanah perdikan ini dianggapnya terlalu jauh dari pusat pemerintahan di Demak, sehingga Gonggang Wirit telah memilih daerah yang sedang tumbuh ini menjadi sasarannya.”

“Ayah, apakah Gonggang Wirit mempunyai hubungan dengan gerombolan Kalamerta yang membuat rusuh di Tanah perdikan Sembojan ini?” tanya Wiradana.

“Ternyata Kalamerta itu adalah Gonggang Wirit,” jawab ayahnya. “Ia memang menggantikan namanya dan melakukan pekerjaan yang nista dengan kemampuannya yang tinggi dalam olah kanuragan. Agaknya Tanah Perdikan ini akan banyak mengalami kesulitan jika kita harus berhadapan langsung dengan gerombolan itu.” 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 002
Jumat, 07-06-2002
 “Tetapi kenapa ayah akan menemuinya sekarang? Sebab menurut tanggapanku, ayah akan menemuinya dalam perang tanding,” sahut Wiradana dengan cemas.

“Ya. Aku memang mengharap dapat bertemu dengan Gonggang Wirit dalam perang tanding. Aku tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan Tanah Perdikan ini. Jika aku berhasil memancingnya, maka aku kira para pengikutnya akan kehilangan pegangan, sehingga para pengawal Tanah Perdikan ini akan dapat menghadapi mereka,” jawab ayahnya.

“Ayah yakin akan dapat membunuhnya?” tanya Wiradana.

“Aku akan mencobanya. Tetapi jika aku tidak berhasil, dan aku justru terbunuh, maka jangan kau sesali. Mungkin aku memang harus menebus tingkah lakuku lebih dari duapuluh tahun yang lalu. Tetapi jika terjadi demikian, kau harus dengan cepat memberikan laporan, tidak usah ke pusat pemerintahan di Demak. Kau dapat menugaskan dua-tiga orang untuk melaporkan ke Kadipaten Pajang yang jauh lebih dekat. Mudah-mudahan Pajang menaruh perhatian atas tingkah laku segerombolan berandal di Tanah Perdikan Sembojan ini,” jawab ayahnya.

Wiradana termanggu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ayah, sebaiknya ayah tidak pergi seorang diri. Apakah ayah yakin, bahwa orang itu akan menghadapi ayah dengan jujur?” 

“Aku sudah berhasil memancing persoalan. Aku berhasil mengungkat persoalan lama sehingga aku berhasil membatasi persoalan itu antara aku dengan Gonggong Wirit, kakak dari seorang yang pernah aku bunuh lebih dari dua puluh tahun yang lalu,” jawab ayahnya pula. 

“Jadi ayah memang sudah pernah bertemu dengan orang itu?” bertanya Wiradana pula. 

“Aku bertemu dengan seseorang yang pernah aku kenal justru dari sudut pasar, di pande besi ketika aku ingin memesan sepuluh kejen bajak utuk padukuhan Gambir,” jawab ayahnya pula. “Agaknya Gongong Wirit tidak lupa kepadaku sebagaimana aku tidak lupa kepadanya meskipun kit sudah berpisah. Ternyata sorot matanya masih tetap memancarkan dendam atas kematian adiknya meskipun itu sudah terjadi lama sekali. Ketika orang itu tahu, bahwa aku adalah kepala Tanah Perdikan ini, maka ia mengancam akan menghancurkan Tanah Perdikan itu. Satu-satunya jalan adalah memancing kebenciannya kepadaku dan membatasi persoalannya sebagai persoalan pribadi. Akhirnya, aku berhasil menjebaknya dalam satu perang tanding.” 

“Bagaimana jika orang itu curang ayah?” bertanya Wiradana pula. 

“Tidak. Ia sudah mengatakan, bahwa dalam persoalan pribadi ini, akan berdiri di atas harga dirinya demi menuntut balas atas kematian adiknya itu,” jawab ayah Wiradana. 

Wiradana menarik nafas. Tetapi kecemasan tetap membayang diwajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Ayah, aku akan ikut bersama ayah.” 

Tetapi ayahnya menggeleng. Katanya, “Kau tinggal di rumah. Jika aku harus terbunuh untuk menembus ketamakanku dua puluh tahun yang lalu, biarlah itu terjadi. Tetapi aku akan dapat berbuat seusatu atas Tanah Perdikan ini. Tetapi jika kau juga menjadi korban, maka akibatnya akan sangat parah bagi Semboyan.” 

Wiradana menjadi semakin tegang. Namun ia tidak akan dapat mencagah ayahnya. Ia tahu benar sifat ayahnya. Jika ia sudah mengambil satu keputusan, maka sulitlah baginya untuk mengubahnya. 

Namun Wiradana sadar, bahwa yang dilakukan ayahnya itu bukannya karena persoalan pribadinya semata-mata. Tetapi cenderung untuk menyelamatkan Tanah Perdikannya, meskipun mungkin ia harus mengorbankan dirinya. 

Demikianlah, akhirnya Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang juga disebut Ki Gede Sembojan itu kemudian meninggalkan rumahnya. Ketika ia turun tanggap pendapa, sekali lagi ia berpaling kepada anaknya sambil berkata, “Hati-hatilah. Banyak kemungkinan dapat terjadi.” 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 003
Sabtu, 08-06-2002
 Wiradana mengangguk kecil. Dengan suara sendat ia berkata, "Aku akan berusaha berbuat sebaik-baiknya ayah.". Ki Gede Sembojan tersenyum. Namun kemudian ia pun melangkah melintasi halaman.

Di gardu, di depan regol Ki Gede Sembojan terhenti sejenak. Kepada para peronda yang berada di gardu sambil kedinginan Ki Gede berkata, "Berhati-hatilah. Meskipun jalan licin dan berlumpur, jangan segan untuk turun dan mengelilingi daerah pengamatan kalian." 

"Baik Ki Gede," jawab anak-anak muda yang berada di gardu itu. Namun dalam pada itu, salah seorang dari mereka bertanya, "Ki Gede akan pergi kemana?" 

"Aku akan melihat-lihat saja," jawab Ki Gede, "Mudah-mudahan gardu-gardu tidak menjadi kosong, justru dalam keadaan yang terlalu sepi ini." 

Demikianlah maka Ki Gede pun telah menyusup dan hilang di kegelapan. 

Wiradana berdiri termangu-mangu. Ia tidak bertanya dimana perang tanding itu akan diadakan. Karena ia tahu pasti bahwa ayahnya tidak akan menunjukkannya. 

Dalam pada itu, Ki Gede Sembojan pun telah menyusuri jalan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Sekali-kali Ki Gede harus menyisih karena air yang tergenang. Namun Ki Gede harus selalu berhati-hati karena jalan yang licin dan berlumpur. 

Sejenak kemudian Ki Gede terhenti. Dihadapannya nampak lampu obor menyala di gardu di ujung jalan. Agaknya, beberapa orang anak muda berada di gardu itu. Meskipun tidak seramai hari-hari yang lain, pada saat jalan tidak menjadi basah dan licin, namun ternyata bahwa gardu itu tidak menjadi kosong meskipun hujan turun sejak sore. 

Tetapi agaknya Ki Gede tidak mau disapa lagi oleh orang-orang Sembojan. Justru karena itu, maka ia pun telah menyusup ke sebuah halaman. Kemudian Ki Gede telah keluar dari Pedukuhan Induk itu dengan meloncati dinding disebelah pintu gerbang sehingga tidak seorang perondapun yang mengetahuinya. 

Setelah berada di bulak persawahan yang panjang, maka langkah Ki Gede pun menjadi semakin cepat dan panjang. Ia ingin segera bertemu dengan orang yang bernama Gonggang Wirit dan yang ternyata telah mengganti namanya dengan Kalamerta, yang pada saat-saat terakhir telah mengganggu ketenangan hidup di Tanah Perdikan Sembojan. 

Dengan langkah pasti Ki Gede pergi ke tempat yang jarang dikunjungi oleh seseorang. Ketika ia sampai ke sebuah sungai yang kecil, maka ia pun segera menelusurinya. Ia telah berjanji bertemu dengan Gonggang Wirit di ujung Kali Pideksa. Sebuah sungai kecil yang menyusuri lereng perbukitan, namun yang kemudian saling bergabung dengan sungai-sungai kecil yang lain sehingga akhirnya menjadi sebuah bengawan yang besar dan panjang menyusuri ngarai membelah tanah di daerah Timur. 

Ki Gede memperlambat langkahnya ketika ia berada di ujung hutan yang tidak terlalu lebat. Sejenak ia berdiri termangu-mangu di atas tebing. Terdengar suara air yang gemerecik agak lebih besar dari hari-hari sebelumnya oleh curah air hujan yang tidak henti-hentinya. 

Ki Gede kemudian berhenti di antara dua batang pohon yang besar yang tumbuh tidak terlalu jauh dan agak terpisah dengan pepohonan yang lain oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas. 

Selagi Ki Gede termangu-mangu, maka tiba-tiba saja terdengar suara tertawa berkepanjangan. 

"Gila," geram Ki Gede di dalam hatinya, "Ia melihat aku datang, tetapi aku tidak melihatnya." 

Ki Gede berdiri tegak di antara kedua batang pohon yang besar itu. Ia sadar, bahwa orang yang tertawa itu ingin menunjukkan kepadanya, bahwa ia memiliki kemampuan untuk menggetarkan isi dada seseorang hanya dengan suaranya saja. (Bersambung)

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 004
Minggu, 09-06-2002
 Sebenarnya suara itu semakin lama semakin keras. Getarannya telah mengguncang bukan hanya dedaunan, tetapi rasa-rasanya isi dada Ki Gedepun telah terguncang pula.

Namun Ki Gede adalah seorang yang telah mapan dalam olah kanuragan. Karena itu, maka iapun mampu mengungkapkan daya tahannya untuk melawan suara tertawa itu. Bahkan dengan memusatkan nalar budinya, maka Ki Gede pun segera mengetahui, dimana lawannya itu telah menunggu. 

Tetapi Ki Gede masih tetap berdiri tegak. Ia sama sekali tidak berusaha melawan suara tertawa itu, kecuali bertahan agar isi dadanya tidak terguncang-guncang. 

Dalam pada itu, akhirnya suara tertawa itu menurun dengan sendirinya. Agaknya orang yang melontarkan suara itu menyadari bahwa suara tertawanya tidak banyak berpengaruh atas orang yang baru datang itu. Bahkan karena sikap diamnya, maka rasa-rasanya orang yang berdiri di antara dua batang pohon itu merasa terlalu yakin akan dirinya. 

“Turunlah,” tiba-tiba saja terdengar suara Ki Gede. 

“Persetan,” geram orang yang duduk di atas sebatang dahan pada pohon kelapa itu. 

“Jangan menunggu aku mengguncang pohon ini dengan tanganku,” berkata Ki Gede selanjutnya. 

Tetapi orangyang di atas dahan itu telah tertawa lagi. Tetapi tertawa dengan suara wajar. Katanya, “Kau sangka aku percya bahwa kau mampu mengguncang pohon raksasa ini?” 

“Cobalah berpegangan dengan erat, agar kau tidak terjatuh dari dahan itu,” jawab Ki Gede. 

“Jangan membual,” jawab orang itu, yang justru kemudian telah meloncat turun beberapa langkah saja dihadapan Ki Gede. 

“Gonggang Wirit,” berkata Ki Gede, “Agaknya ilmumu memang sudah menjadi semakin matang.” 

“Jangan berkata begitu Ki Gede,” jawab Gonggang Wirit, “Meskipun nampaknya kau memuji, tetapi itu merupakan suatu penghinaan. Dua puluh tahun telah lalu. Kau sangka dalam waktu itu ilmu seseorang seharusnya tidak berubah, sehingga apabila ada yang mampu meningkatkan ilmunya masih harus mendapat pujian?” 

“Bukan maksudku Gonggang Wirit. Tetapi aku benar-benar kagum melihat kemampuanmu mengguncangkan dedaunan dengan suara tertawamu. Meskipun ilmu Gelap Ngampar mu itu masih baru dalam tingkat permulaan. 

Gonggang Wirit mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa pula. Katanya, “Jangan menutupi kecemasanmu dengan penilaian yang tidak berarti apa-apa itu. Apapun yang kau katakan, tetapi aku mampu mengguncang pepohonan dengan suaraku. Aku akan mampu juga menghancurkan isi dadamu seandainya aku mengerahkan segenap tenaga ilmuku.”

Ki Gede Sembojan tersenyum. Katanya, “Sebuah mimpi yang manis. Tetapi kalau akan segera terbangun dan melihat kenyataan yang sangat pahit dari akhir mimpimu.” 

“Kita agaknya sama-sama ingin membual. Tetapi baiklah, kau sudah datang memenuhi janjimu. Aku pun datang sebagaimana seorang laki-laki karena persoalan yang kita hadapi sekarang adalah persoalan dendam pribadi,” berkata Gonggang Wirit. Lalu, “Tetapi seandainya kau berurusan dengan Kalamarta, maka aku tidak akan bersusah payah bersikap jangan. Mungkin aku akan membantumu beramai-ramai disini bersama para pengikutku.” 

“Terima kasih,” jawab Ki Gede, “Persoalan kita memang persoalan antara kau dan aku. Bukan persoalan segerombolan orang yang dipimpin oleh Kalamarta, yang akan merampok di daerah Tanah Perdikan Sembojan.” 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 005
Senin, 10-06-2002
 “Karena itu, maka kita akan mempergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Kematian adikku dua puluh tahun yang lalu, tidak akan pernah dapat aku lupakan. Adikku itu adalah saudaraku satu-satunya, sehingga sejak aku kehilangan anak itu, maka hidupku menjadi sepi. Bahkan seandainya aku tidak kehilangan adikku, mungkin jalan hidupku akan berlainan dengan jalan yang aku tempuh sekarang. Mungkin aku tidak perlu berperisai nama Kalamerta. Mungkin aku justru menjadi seorang saudagar yang kaya atau mungkin seorang kepala Tanah Perdikan seperti yang kau jabat sekarang,” berkata Gonggang Wirit.

“Aku sama sekali tidak sengaja merusak jalan hidupmu. Persoalannya adalah antara aku dan adikku. Jika kau kemudian terlibat, bahkan kemudian menjadi persoalan di antara kita, sama sekali bukan yang aku kehendaki. Tetapi karena agaknya dendammu tidak dapat kau susut, maka aku telah berjanji untuk datang malam ini,” sahut Ki Gede Sembojan. 

“Ketamakanmu membuat jantungku meledak. Agaknya setelah dua puluh tahun lebih, aku baru mendapat kesempatan untuk membalas sakit hati itu. Tetapi jika aku berhasil membunuhmu, biarlah perempuan itu melihat mayatmu dibawah telapak kakiku. Tetapi mungkin perempuan itu justru akan bersyukur, karena ia telah merasa tersiksa selama ia berada di tanganmu. Karena dengan jujur harus kau akui, bahwa sebenarnya perempuan itu memilih adikku daripada kau,” geram Gonggang Wirit. 

“Perempuan itu telah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu,” desis Ki Gede Sembojan. 

“Ia tentu akan sakit-sakitan selama ia menjadi isterimu. Satu-satunya hiburan baginya adalah bahwa kau telah mewarisi derajat pamanmu, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang tentu akan kau miliki dengan cara yang licik pula. Mungkin kau bunuh pamanmu dengan racun, sekaligus anak-anaknya. Mungkin kau tipu pamanmu dengan cara apapun juga, sehingga akhirnya Tanah Perdikan ini jatuh ketanganmu.” 

“Tidak,” jawab Ki Gede Sembojan, “Aku warisi Tanah Perdikan ini sebagaimana seharusnya. Paman tidak mempunyai seorang anakpun, sehingga aku mendapat kesempatan untuk menggantikannya dan menerima semua warisannya.” 

“Kau dapat saja ingkar. Tetapi orang seperti kau tentu tidak dapat dipercaya. Aku tidak akan dapat melupakan bagaimana kau licik merebut perempuan itu, dan kemudian kau peristrikan setelah kau bunuh adikku,” jawab Gonggang Wirit menjadi marah. 

“Yang telah terjadi dua puluh tahun yang lalu itu tidak akan dapat diulang kembali. Jika sekarang kau ingin menuntut balas, lakukanlah. Yang terjadi itu adalah akibat panasnya darah kami yang sama-sama masih muda,” berkata Ki Gede Sembojan. 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 006

Selasa, 11-06-2002
 “Kau benar,” Gonggang Wirit mengangguk-angguk, “Kita sekarang sudah menjadi tua. Umur kita sudah menjadi setengah abad. Karena itu kita akan menyelesaikan persoalan ini dengan sikap orang tua. Siapa yang lemah di antara kita, akan mendahului kembali ke kelanggengan.”

“Aku sudah siap,” desis Ki Gede. 

Gonggang Wirit pun segera mempersiapkan diri pula. Mereka bergeser beberapa puluh langkah dari pohon raksasa itu dan berdiri di atas tanah berbatu padas. 

Ki Gede termangu-mangu sejenak ketika ia melihat lawannya menarik sebilah keris yang sangat besar dari punggungnya. Katanya, “Keris ini dibuat khusus oleh kakekku untuk ayahku yang kemudian diberikannya kepadaku. Dengan keris ini, aku akan menyelesaikan dendamku disini, sehingga tidak akan menjadi beban selama hidupku. Sebelum aku dapat membunuhmu, maka aku tidak akan pernah merasa tenang karena seakan-akan aku telah mengabdikan jerit adikku pada saat kau tikam jantungnya dengan pedang.” 

Ki Gede Sembojan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas mengawang kenangan yang tidak begitu jernih melintas di angan-angannya. Hatinya memang telah ternoda hitam. Tetapi saat itu ia memang tidak dapat menghindarinya. 

Dua puluh tahun lebih sudah berlalu. Ternyata segalanya telah berubah. Ia telah menjadi Kepala Perdikan, sementara saudara tua dari seorang anak muda yang ditikamnya sampai mati, justru menjadi seorang Kepala berandal yang ditakuti, yang telah datang untuk mengganggu ketenangan di Tanah Perdikannya. 

Namun Ki Gede berusaha untuk mengusir kenangannya itu. Ia tidak ingin terganggu oleh perasaan bersalah dalam menghadapi orang yang benar-benar akan membunuhnya. 

“Aku harus berbuat sebaik-baiknya di atas alas keadaanku sekarang. Aku berbuat untuk Tanah Perdikan. Sama sekali bukan karena persoalan pribadi, meskipun aku telah menggunakannya sebagai alasan,” berkata Ki Gede di dalam hatinya. 

Dengan demikian, maka Ki Gede pun menjadi mantap. Ia tidak merasa lagi bertempur karena ketamakannya. Tetapi ia berdiri sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan yang berhadapan dengan seorang pemimpin dari sekelompok perampok yang ganas yang akan membuat Sembojan menjadi miskin. 

Sejenak kemudian, karena lawannya telah menarik kerisnya yang besar yang digantungkannya dipunggungnya, maka Ki Gede pun telah menarik pedangnya. Pedang yang dinamainya Sabet Kiai Tatit. 

Sejenak kemudian kedua orang yang sudah menggenggam senjata di tangan masing-masing itu pun mulai bergerak. Sambil menjulurkan kerisnya Gonggang Wirit berkata, “Aku ingin persoalan ini cepat selesai. Karena itu, maka aku segera mempergunakan pusakaku.” 

“Aku tidak berkeberatan,” jawab Ki Gede Sembojan, “Aku pun ingin segera melihat nyawamu terkapar disini, sebelum aku memanggil para pengawal untuk menguburmu.” 

Gonggang Wirit menggeram, namun ia tidak menjawab lagi. Tetapi kerisnyalah yang mulai bergerak. 

Sejenak kemudian, maka Gonggang Wiritlah yang mulai menyerang lawannya. Pedangnya berputaran, namun kemudian mematuk lurus ke arah jantung. 

Tetapi Ki Gede memang sudah siap menghadapinya. Karena itu, serangan yang pertama itu sama sekali tidak berarti. Dengan gerak yang sederhana ia memiringkan tubuhnya, sehingga keris itu sama sekali tidak menyentuhnya. 

Gonggang Wirit tersenyum. Tetapi ia menggerakkan pergelangan tangannya sehingga pedang itu pun berubah arah. Serangannya menjadi mendatar setinggi dada

SH Mintardja - : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 007

Rabu, 12-06-2002
 Ki Gede melihat perubahan itu. Karena itu, maka ia terpaksa bergeser lagi selangkah surut. Gonggang Wirit tidak menyerangnya lagi. Ia menarik senjatanya. Namun selangkah ia bergeser sambil memutar kerisnya yang besar itu.

“Kau masih mampu bergerak cepat, Ki Gede, desis Gonggang Wirit. 

Ki Gede Sembojan tidak menjawab sama sekali. Tetapi ia pun telah bersiap menghadapi serangan-serangan berikutnya. 

Dalam pada itu, Gonggang Wirit pun telah mulai dengan sungguh-sungguh. Selangkah ia meloncat maju, kerisnya menyambar dengan cepat, sementara Ki Gede pun telah meloncat pula menghindar secepatnya datangnya serangan. Namun Gonggang Wirit telah melibasnya dalam permainan senjata yang cepat dan berbahaya. 

Tetapi serangan-serangan Gonggang Wirit masih belum membuat Ki Gede menjadi bingung. Ki Gede masih tetap melihat keris lawannya dengan jernih, meskipun ia menyadari, bahwa menilik ujudnya, keris itu tentu keris yang mempunyai tuah yang tinggi. Bahkan menurut ujung dan warnanya, keris itu tentu merupakan senjata yang paling berarti bagi Gonggang Wirit. 

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit. Keduanya bergerak semakin cepat, sementara senjata mereka pun menyambar-nyambar dengan garangnya. 

Ketika kemudian terjadi benturan-benturan antara keris Gonggang Wirit yang besar dengan sabet Ki Gede yang dinamainya Kiai Tatit, maka bunga apipun telah memercik keudara, mengoyak kelamnya malam. 

Ternyata bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Keduanya mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sementara kekuatan mereka pun sulit untuk dijajagi menurut ukuran kekuatan wadag orang kebanyakan. Sambaran senjata mereka telah menimbulkan desing angin yang mengguncang udara malam yang gelap. 

Hanya orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui ketajaman mata biasa sajalah yang mampu melihat gerak ujung senjata lawan yang bagaikan seekor lalat mengitari sasarannya. 

Dalam pada itu, selagi kedua orang yang berilmu tinggi itu bertempur di sebelah pohon-pohon rakasa di ujung Kali Pidesa maka di rumahnya Wiradana menunggunya dengan sangat gelisah. Sekali-kali timbul niatnya untuk mencari ayahnya. Tetapi jika hal itu diketahui oleh ayahnya, maka ayahnya justru akan menjadi marah kepadanya. Bahkan barangkali kedatangannya di arena perang tanding itu akan dapat mempengaruhi kemampuan ayahnya menghadapi lawannya yang dikenal dengan Kalamerta, namun yang oleh ayahnya disebut Gonggang Wirit. 

Namun kadang-kadang dalam kegelisahan Wiradana berniat untuk berbicara dengan para peronda, agar merekalah yang mencari ayahnya. 

Tetapi niat itupun telah diurungkannya pula. Sehingga akhirnya dalam kegelisahannya Wiradana itu mondar-mandir saja di dalam biliknya. Kadang-kadang ia justru keluar ke ruang dalam dan dengan jantung yang berdebaran memandangi pintu bilik ayahnya yang tidak tertutup rapat. 

Di gardu, anak-anak muda yang meronda berusaha untuk melawan kantuknya dengan saling berceritera. Bahkan ada yang sempat bergurau dan tartawa berkepanjangan. Seorang anak muda yang kekurus-kurusan duduk di sudut gardu tanpa menghiraukan kawan-kawannya. Ia tidak ikut tertawa dalam gurau yang kadang-kadang kasar. Ia pun tidak ikut berceritera tentang lelembut yang beterbangan di dalam gelapnya malam. Tetapi tiba-tiba saja seorang kawannya menegornya, “He, apa yang kau lakukan? Itukah agaknya yang membuatmu diam saja, tetapi mulutmu tidak berhenti mengunyah.” 
(Bersambung)-m

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 008
Kamis, 13-06-2002
 “Agaknya bagiku lebih bermanfaat mengunyah ketela rebus ini daripada membual ke sana kemari tidak ada ujung pangkalnya,” jawab anak muda yang kekurus-kurusan itu. 
“Kau memang tidak pernah berhenti makan. Tetapi kau tetap kurus saja,” gumam kawannya itu.

Anak muda yang kekurus-kurusan itu tidak menjawab. Tetapi mulutnya masih saja mengunyah makanan tanpa henti-hentinya. 

Sementara itu, dua orang yang berada di ujung Kali Pideksa, disebelah pohon raksasa yang berdiri tegak dalam kelamnya malam, masih saja bertempur dengan dahsyatnya. Ternyata keduanya adalah orang yang berilmu tinggi. Setelah lebih dari duapuluh tahun mereka berpisah, agaknya ilmu mereka telah meningkat dengan pesatnya. 

Gonggang Wirit dan Ki Gede Sembojan agaknya tanpa saling mengetahui keadaan masing-masing telah menimpa diri dalam jalannya yang ternyata pada satu saat telah bersilang. 

Pertempuran yang terjadi itu, semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga keduanya bagaikan berubah menjadi bayang-bayang yang berputaran. Senjata mereka yang terayun-ayun telah menimbulkan angin yang berputaran menggerakkan daun-daun dari pohon raksasa itu. Benturan yang terjadi itu telah menggeretakkan jantung masing-masing. Bahkan tangan-tangan merekapun terasa menjadi pedih. 

Ternyata senjata ditangan masing-masing adalah senjata pilihan yang sulit dicari bandingnya. Keris yang besar ditangan Gonggang Wirit memiliki kemampuan yang sebanding dengan sabet Kiai Tatit, di tangan Ki Gede Sembojan. 

Namun betapapun juga mereka memiliki kemampuan gerak yang cepat, namun setelah bermain-main dengan senjata untuk beberapa lamanya, maka ujung-ujung senjata itu telah mulai menjilat tubuh lawannya. Pedang Ki Gede Sembojan telah tergores ditubuh Gonggang Wirit, menyilang di dada. Namun kemudian ujung keris Gonggang Wirit pun telah tergores di lengan Ki Gede pula. “Gila,” geram Ki Gede. 

Sementara itu terdengar Gonggang Wirit tertawa. Katanya, “Kau akan mati. Warangan pada kerisku itu tidak akan terlawan oleh obat yang manapun juga.”

Ki Gede Sembojan menggeram. Tetapi ia menyadari, apa yang dapat terjadi atas dirinya. Karena itu, maka sambil bersiaga menghadapi kemungkinan berikutnya, ia telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggangnya. Ia sengaja membawa obat itu, karena ia menyadari, bahwa keris lawannya itu tentu mengandung bisa yang kuat. Ketika Ki Gede bertemu dengan orang itu di tempat seorang pande besi, Ki Gede sudah melihat bahwa orang itu adalah pemimpin gerombolan Kalamerta, jika orang yang dikenalnya bernama Gonggang Wirit itu tidak mengatakannya sendiri tentang dirinya. 

Tetapi ketika ia menelan obat itu, Gonggang Wirit tertawa semakin keras. Katanya, “Tidak ada gunanya. Obat apapun juga, tidak akan menolongmu.” 

“Gila,” geram Ki Gede. 

Kemarahan yang memuncak telah menghentak di dada Ki Gede. Tiba-tiba saja diluar dugaan lawannya, pada saat lawannya tertawa berkepanjangan, Ki Gede telah meloncat menyerang. Demikian cepatnya sehingga lawannya itu tidak sempat berbuat layak. 

Untuk melindungi dirinya, maka Gonggang Wirit telah menangkis serangan itu. Tetapi serangan yang datang terlalu cepat itu tidak seluruhnya dapat dihindarkannya. Meskipun ujung pedang Ki Gede tidak menghujam ke dadanya, namun pedang itu telah mengoyak pundaknya. 

Gonggang Wirit menyeringai menahan pedih. Ketika terasa darah meleleh dari luka itu, maka ia pun menjadi sangat marah pula. 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 009

Jumat, 14-06-2002
 Karena itulah, maka pertempuran itupun menjadi semakin meningkat pula. Ki Gede yang telah terkena racun itupun mulai merasakan pengaruhnya. Tubuhnya terasa menjadi semakin lemah. Obat yang telah ditelannya hanya mampu menghambat peredaran bisa yang telah menusuk ke dalam urat dadanya.

Tetapi Gonggang Wirit yang telah menitikkan darah semakin banyak itu pun kekuatannya telah menjadi susut pula. Meskipun luka di dadanya tidak begitu dalam, tetapi darah telah menitik pula, sementara dari pundaknya yang terkoyak, darahpun mengalir bagaikan terperas. 

Dengan demikian, maka kedua orang yang berilmu tinggi itu semakin lama ternyata menjadi semakin lemah pula. Dalam kemarahan yang memuncak, Ki Gede masih sempat menghentakkan sisa tenaganya sehingga ujung pedangnya sempat menyusup sekali lagi ke sela-sela putaran keris lawannya, sehingga pedang itu telah menghujam ke lambung Gonggang Wirit. Tetapi pada saat yang hampir bersamaan pula keris Gonggang Wirit yang berbisa itu telah menyobek kulit Ki Gede pada pergelangan tangannya. 

Gonggang Wirit yang lambungnya sobek itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Dipandanginya lawannya yang membuatnya mendendam selama lebih dari duapuluh tahun. Kebencian yang sangat memancar dari kedua belah matanya yang merah, sementara darahnya masih saja mengalir tidak henti-hentinya. 

Sesaat kemudian pandangan mata Gonggang Wirit itu pun menjadi buram. Tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara darahnya mengalir tanpa dapat dibendung lagi. 

Namun dalam keadaan yang demikian ia masih tertawa sambil berkata, “Ki Gede, kau memang berhasil melukai aku. Mungkin aku akan mati. Tetapi kaupun akan mati pula malam ini. Obat apapun juga tidak akan dapat menolongmu. Racunku akan bekerja dengan pasti, menghancurkan jaringan di dalam tubuhmu, mencengkam otakmu dan kemudian membekukannya sehingga kau akan mati.” 

Ki Gede tidak menjawab. Tetapi tubuhnya mulai terasa menjadi lain. Sendi-sendinya seakan-akan tidak lagi dapat dikuasainya. Dagingnya bagaikan menjadi kejang-kejang dan darahnya serasa mulai semakin sendat. 

Ketika Gonggang Wirit kemudian terjatuh ditanah, maka Ki Gede berusaha untuk mengambil sebutir obat penangkal racunnya. Dengan susah payah ia mencoba menelannya. Tetapi obat tertelan, kaki Ki Gede tidak lagi kuat menyangga tubuhnya, sehingga Ki Gede itu pun kemudian jatuh terduduk. 

Obatnya memang benar-benar tidak dapat menolak atas racun yang menghujam semakin dalam ditubuhnya. Seperti dikatakan oleh Gonggang Wirit bahwa racun itu akan merusak seluruh jaringan tubuhnya, mencengkam otaknya dan kemudian membekunya. Sementara itu, obat yang ditelannya, hanya mampu memperlambat kepastian yang tidak akan dapat terhindar dari dirinya. 

Tubuh Ki Gede semakin lama menjadi semakin lemah. Bahkan akhirnya malam serasa menjadi semakin gelap. Bintang-bintang yang mulai mengintip dari balik sisa awan dilangit, menjadi pudar dan akhirnya lenyap sama sekali. 

Namun dalam pada itu, pada saat terakhir kesadarannya, Ki Gede masih sempat berkata kepada dirinya, “Jika saat ini memang harus datang kepadaku, maka tugasku memang sudah selesai. Lebih dari itu, agaknya aku memang harus menebus noda-noda yang terpercik dihatiku dua puluh tahun yang lalu.” 

Malam pun menjadi semakin sepi. Dua sosok tubuh terbaring diam tidak jauh dari dua batang pohon raksasa yang tumbuh terpisah dari hutan yang tidak terlalu lebat oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas. 

Yang terdengar kemudian hanyalah suara burung kedasih mencium bau darah yang dibawa angin malam yang berdesah di dedaunan, sehingga gonggongannya menjadi semakin keras, bersahut-sahutan. (Bersambung)-m

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 010
Sabtu, 15-06-2002

 Di rumah Ki Gede Sembojan, kegelisahan Wiradana rasa-rasanya tidak dapat ditahankannya lagi. Dengan keringat yang membasah di punggungnya, Wiradana itupun melangkah keluar. Sejenak ia berdiri di pendapa. Namun kemudian ia pun turun ke halaman dan hampir diluar sadarnya ia pun mendekati para pengawal yang meronda. “Hampir fajar,” desis Wiradana.

“Ya,” jawab salah seorang pengawal, “Tetapi kau akan kemana?” 

Wiradana tidak segera menjawab. Tetapi ia sadar, bahwa pedangnya ternyata telah menarik perhatian, sehingga pengawal itu telah bertanya kepadanya. 

Beberapa saat Wiradana masih tetap terdiam. Tetapi kemudian katanya, “Ayah masih belum kembali.” 

Para pengawal yang berada di gardu itu baru teringat, bahwa Ki Gede telah meninggalkan halaman rumahnya dan pergi tanpa memberitahukan arahnya. 

Ki Gede Sembojan memang sering pergi seorang diri tanpa orang lain yang mengawalnya. Bukan saja di siang hari, tetapi juga di malam hari. Tetapi kebiasaannya, jika pergi di malam hari Ki Gede tidak pernah pergi sampai matahari terbit jika tidak ada sesuatu yang sangat penting. Itulah kebiasaan Ki Gede untuk melakukan kewajibannya menjelang pagi. 

Tetapi pada malam itu, pada saat langit menjadi merah, Ki Gede ternyata masih belum kembali. 

Karena itu, anak-anak muda yang berada di gardu itu pun telah menunda untuk tidak segera pulang. Mereka menunggu beberapa saat lamanya, mungkin ada sesuatu yang penting yang harus mereka lakukan. 

Dengan demikian, maka rumah Ki Gede Sembojan itu telah diliputi oleh kegelisahan. Bukan saja Wiradana, tetapi anak-anak muda yang berjaga-jaga di gardupun menjadi gelisah. Apalagi ketika matahari kemudian mulai memanjat langit di sebelah Timur. 

“Apa yang terjadi?” bertanya anak-anak itu kepada Wiradana. 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ada semacam keragu-raguan untuk mengatakan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya. 

Tetapi oleh kegelisahannya sendiri, maka Wiradana pun telah terdorong berkata, “Semalam ayah telah melakukan perang tanding.” 

“He,” anak-anak muda itu terkejut, sehingga mereka pun bergeser mendekat, “Perang tanding?” hampir bersamaan mereka mengulang. 

Wiradana mengangguk. 

“Wiradana,” berkata salah seorang di antara mereka, “Jadi kau sudah mengetahui bahwa Ki Gede telah memasuki perang tanding?” 

“Ya,” jawab Wiradana singkat. 

“Dan kau tidak berbuat apa-apa?” bertanya yang lain. 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Bukankah kalian juga mengenal ayahku? Jika ia ingin pergi seorang diri, maka ia harus pergi seorang diri.” 

(Bersambung)-m

Langsung ke KR

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 12/OKT/2002
Bom di Bali sungguh-sungguh membuat keterpurukan makin parah lagi.

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant