Kisah Tentang Sayur Asem
---------------------------------
Sekali waktu saya mengadakan briefing khusus bagi Pengawas dan CFO "Madurejo
Swalayan". Setelah usaha ritel ini berjalan beberapa bulan, saya
menangkap sinyal agaknya kedua staf saya ini agak keteteran
mengikuti irama kerja CEO-nya. Sehingga terkadang menjadi kurang
fokus pada hal-hal yang semestinya diutamakan. Saya tidak maido (menyalahkan).
Barangkali langkah saya terlalu cepat atau terlalu jauh ke depan,
sehingga kedua staf saya tertinggal, masih tertambat pada visi toko
tradisional. Atau, jangan-jangan memang saya yang terlalu reseh
dengan gagasan-gagasan "aneh" yang nampaknya seperti "kok repot amat,
sih.....".
Bagaimana sinyalnya? Tampak dalam cara kerja penganut aliran "Just
Do It" (pokoknya lakukan saja dulu), kurang mengandalkan pola kerja
yang analitis-strategis, terlalu terfokus pada hal-hal yang tampak
di depan layar saja. Bisnis itu ya cari untung, maka yang penting
dagangan laku dan meraih keuntungan, demikian kira-kira prinsipnya.
Dalam jangka pendek, tidak ada yang salah dengan hal ini. Tapi dalam
jangka panjang, jika gagal melihat visi jauh ke depan, maka bisa
keteteran ketika muncul pesaing yang lebih canggih dalam hal
prasarana dan SDM-nya.
Kalau hanya sekedar jualan saja, siapapun bisa melakukannya kalau
mau. Apa sih susahnya kulakan, lalu ditambah sedikit keuntungan,
lalu dijual kembali. Kalau tujuannya adalah asal meraih keuntungan
cukup, maka asal sabar, telaten dan ulet, pasti keuntungan akan
dapat diraih. Lain ceritanya kalau targetnya adalah meraih
keuntungan banyak, cepat dan berkelanjutan terus meningkat, maka
harus jangan pernah berhenti berpikir, harus tahan banting dan mampu
survive di segala macam cuaca.
***
Paling enak jadi orang Sunda, kasih sambal lalu lepas di kebun,
sudah hidup dia. Itulah lelucon yang sempat ngetop bersama ngetopnya
kelompok Warkop di penghujung tahun 70-an. Sampai sekarang pun
guyonan itu masih suka kita dengar.
Yang disebut hidup dalam guyonan itu tentunya hidup seadanya, tanpa
memperdulikan yang dimakan pakai sambal itu enak apa enggak, banyak
atau sedikit, setelah dimakan pun tubuhnya jadi sehat ataukah
sakit-sakitan. Berbeda halnya kalau yang dikatakan hidup itu adalah
hidup harus dengan makan enak dan
banyak, bergizi tinggi dan tubuh pun jadi sehat dan kuat, maka tentu
tidak bisa untuk dilepas di sembarang kebun begitu saja. Harus ada
kondisi tertentu yang dipenuhi. Bisa jadi kebunnya harus diurus yang
benar dulu agar hasilnya layak untuk dimakan pakai sambal agar
selalu sehat dan lezat.
Saya gunakan cerita di atas untuk memberi ilustrasi tentang
angan-angan saya bagaimana seharusnya mengelola mracangan "Madurejo
Swalayan" ini. Kalau hanya membeli barang kemudian ditambah sedikit
keuntungan lalu barang dilepas di pasar, apa susahnya? Terserah
pasar mau membelinya atau tidak, kalau membeli sedikit ya
alhamdulillah, kalau membeli banyak ya puji Tuhan-walhamdulillah.
Biarkan pasar berperilaku sebagaimana adanya. Lalu bisnis pun
berjalan mengikuti irama pasar, terkadang klasik, sekali waktu cadas,
tiba-tiba ndang ndut, kali lain klenengan.
Kalau ternyata pasar kurang berminat dengan jenis barang itu, ya
lain kali jangan dikulak melainkan diganti dengan barang jenis lain.
Kalau ternyata kurang laku atau pasar sedang lesu, ya sedikit
bersabarlah asal tidak patah semangat. Kalau ternyata stok barang di
toko habis dan persediaan stok di pasar menghilang, ya sudah, tunggu
saja sampai ada pengiriman lagi. Pokoknya lakukan saja dengan sabar
dan telaten seperti biasanya. Sungguh, tidak ada yang salah dengan
semua ini.
Persoalan mulai timbul, ketika CEO "Madurejo Swalayan" ini kelewat
reseh. Jangan biarkan pasar mempengaruhi apalagi mengatur bisnis
kita. Pasarlah yang seharusnya mengikuti irama bisnis kita. Kalau
ternyata pasar kurang berminat dengan jenis barang yang kita jual,
cari penyebabnya dan jalan keluarnya. Kalau ternyata barang dagangan
kurang laku, cari terobosan apa yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan penjualan. Kalau ternyata pasar sedang lesu, cari
peluang bagaimana agar bergairah kembali.
Intinya, pasti ada sesuatu yang dapat dilakukan. Tidak selalu
berarti melawan arus pasar atau menentang hukum pasar. Melainkan
giringlah pasar agar mengikuti irama bisnis yang kita inginkan. Toh
ini bukan bisnis komoditas vital atau strategis seperti minyak atau
emas. Ini hanya bisnis komoditas urusan keseharian tentang sarapan
pagi, minum teh di sore hari, mencuci piring dan pakaian, mandi dan
gosok gigi, menyusui bayi atau balita, ngemil di malam hari,
mengobati kepala nyut-nyutan atau menghibur anak-anak agar tidak
nongas-nangis. Tidak terpengaruh oleh situasi politik internasional,
ekonomi global, atau urusan lintas benua yang serba sulit dipahami.
Sedang yang terakhir itupun masih ada pihak yang bisa mengobok-obok.
Artinya, dalam bisnis ritel ini perilaku pasar bukanlah harga mati
yang tidak bisa ditawar-tawar.
Kalau hanya sekedar bisa hidup, ya kasih barang dagangan lalu lepas
di pasar, maka hiduplah bisnis kita. Tapi kalau ingin keuntungan
lebih banyak, lebih cepat dan meningkat terus, ya pasarnya diurus
dulu dengan baik. Agar pasar tidak mengatur keuntungan kita, tapi
kitalah yang mengatur pasar agar memberi keuntungan yang kita maui.
***
Di rumah (ini sebenarnya rahasia keluarga, tapi biarlah saya
bocorkan sedikit), saya pernah pethenthengan dengan istri.
Gara-garanya sepele, hanya soal bikin sayur asem kegemaran saya.
Istri saya ini (belakangan saya KKN dengan mengangkatnya menjadi
Chief Financial Officer "Madurejo Swalayan") selalu bertahan dengan
visi tradisionalnya soal masak-memasak, kalau yang namanya sayur
asem itu harus selalu ada godong so (daun melinjo), kacang tanah,
kacang panjang, jipang (labu siam), asam dan bumbu-bumbu standar
lainnya. Jadi kalau kemudian tidak punya daun melinjo, kacang
panjang atau labu siam, ya tidak jadi bikin sayur asem. Rak yo asem
tenan to kuwi.....(sial benar jadinya).
Saya sarankan agar diganti saja campurannya dengan cabe besar hijau,
gori (nangka muda), jantung (bunga pisang), kluwih plus beton
bijihnya, atau rebung (pucuk bambu), tetap saja ogah-ogahan. Sekali
waktu saya minta dicoba memodifikasi bumbunya, cabe dan bawangnya
dibanyakin misalnya. Ya, tetap saja keukeuh malas melakukannya. Saya
yakinkan bahwa mencoba yang seperti itu sama sekali tidak mengandung
resiko yang fatal. Resiko paling jelek yang harus ditanggung adalah
rasanya jadi tidak enak dan diprotes anak-anak lalu tidak ada yang
mau makan. Kalau pun itu yang terjadi, ya cukup sekali itu saja dan
lain kali tidak usah diulangi. Mudah saja. Ini kan uji coba yang
resikonya sangat minimal tapi potensi keberhasilannya maksimal.
Tapi begitulah. Tidak pernah terpikir untuk mencoba yang berbeda,
takut mengambil resiko. Semua sudah terprogram secara tradisi dalam
kemasan kotak yang run-temurrun. Akibatnya jadi tidak pernah tahu
bahwa di luar kotak masih ada menu yang jauh lebih huuuenak dan
luuuezat.
Moral kisahnya adalah : Jangan biarkan diri kita terkungkung dalam
kotak, dalam stereotip perilaku business as usual. Masih banyak
ruang gerak untuk jungkir-balik atau pecicilan di luar kotak. Cari
dan temukan terobosan yang resikonya minimal tapi potensi hasilnya
maksimal.
Terus terang saja, saya sendiri belum tahu apakah saya bisa
melakukannya. Saya juga tidak tahu apakah kami akan berhasil dengan
hal-hal "aneh" semacam ini. Saya lebih tidak tahu lagi apakah
ke-reseh-an saya kepada anggota tim di "Madurejo Swalayan" ini akan
efektif dan efisien. Tapi saya tahu persis, bahwa hanya ada satu
cara untuk menyongsong era penuh kompetisi ini dan bahwa perlu punya
visi yang meloncat jauh ke depan, yaitu : "Go...! Go...! Out of the
box.....!".
Ayo, kita keluar dari kotak!
Madurejo, Sleman - 11 Pebruari 2006.
Yusuf Iskandar