Sabar Menanti
Kalau benar bahwa usaha toko swalayan atau bisnis ritel atau
mini-market atau mracangan, itu menguntungkan : Berapa lama waktu
diperlukan untuk balik modal?. Atau : Kapan balik modalnya? .
Itulah pertanyaan yang pernah ditanyakan oleh beberapa rekan, dan
memang seharusnya ditanyakan. Sehingga sebelum kita benar-benar
terjun ke kancah dunia persilatan peritelan, kita sudah punya
gambaran yang meyakinkan bahwa bisnis ini layak atau tidak layak
untuk ditekuni..
Kalau jenis pertanyaan itu yang menggangu pikiran kita sebagai calon
pemain baru di bisnis ritel, maka ada dua pilihan yang dapat
dilakukan. Bertanya kepada penganut aliran Just Do It, atau
kepada penganut aliran Just Plan It. Jawaban dari kelompok
yang pertama akan mengatakan : Sudahlah, pokoknya mulai lakukan saja,
keburu para pesaing mendahuluinya . Maka, kita pun lalu panik bin
gedandapan (bergerak tergesa-gesa). Iya, ya. Kalau keduluan orang
lain bisa tewas kita, demikian hati kecil kita akan terprovokasi.
Sedangkan kalau pertanyaan itu ditujukan kepada kelompok yang kedua,
ijinkanlah pengelola Madurejo Swalayan yang mewakilinya (meskipun
Madurejo Swalayan juga pemain baru, tapi setidak-tidaknya
sudah mendahului start . .). Jangan kemana-mana, ikuti yang berikut
ini
(Mohon maaf seribu kali maaf, saya merasa perlu untuk berulang-ulang
mengatakan bahwa pilihan ini bukan soal salah atau benar, baik atau
buruk, melainkan hanya soal selera. Sama seperti Anda lebih suka
naik sepeda onthel atau sepeda jengki, makan nasi goreng atau nasi
rebus, masing-masing ada konsekuensinya, ada plus-minusnya).
***
Mari kita tengok lagi lembar business plan Madurejo Swalayan.
Data-data awal sudah diketahui : Modal tetap untuk beli tanah dan
mbangun toko sebesar Rp 220 juta,- (kecil-besarnya angka ini tentu
tergantung pada harga beli lahannya dan ongkos pembangunannya).
Modal untuk menyediakan prasarana toko Rp 50 juta,-. Modal kerja
untuk kulakan isi toko Rp 108 juta,-. Modal kerja operasional yang
harus disediakan selama periode belum meraih keuntungan (saya
cadangkan selama 5 bulan dengan rata-rata per bulan memerlukan
sekitar Rp 4 juta,-), sehingga totalnya menjadi Rp 20 juta,-.
Maka total modal yang diperlukan adalah Rp 398 juta,-(Rp 378 juta,-
dana yang pasti dikeluarkan di tahap awal dan Rp 20 juta,- dana
cadangan yang pengeluarannya di-icrit-icrit setiap bulan). Saya
anggap rencana pembiayaan modal ini sebagai opsi pertama. Untuk
keperluan hitung-hitungan ekonomi, saya mempertimbangkan perlunya
ada opsi kedua sebagai pembanding.
Opsi kedua adalah dengan tidak memasukkan modal tetap properti (lahan
dan bangunan) dalam menghitung jumlah modal awal, sehingga total
modal awalnya menjadi hanya Rp 158 juta,-. Alasan yang mendasari
adanya opsi kedua adalah karena ada atau tidak ada “Madurejo
Swalayan, lahan dan bangunan tetap akan ada dan dibangun di sana
sampai waktu yang tidak saya ketahui, mungkin 15 tahun, 25 tahun
atau bahkan selamanya.
Nilainya pun akan semakin naik, seakan-akan menjadi investasi
tersendiri sebagai properti. Opsi kedua ini tidak akan saya ambil
seandainya lahan yang ditempati Madurejo Swalayan merupakan lokasi
sewaan, dimana umurnya terbatas sepanjang umur toko yang
diproyeksikan dalam business plan.
Setelah sejenak semlengeren (diam termangu-mangu) melihat angka Rp
378 juta,- duit kabeh .,
kemudian kembali ke pertanyaan semula. Kalau semua uang itu saya
investasikan untuk mbukak toko swalayan modern di pinggiran kota,
apakah kira-kira uang itu akan kembali, dan kapan? Untuk melihat hal
itu saya membuat dua versi skenario usaha berdasarkan perkiraan
tingkat kemajuan penjualannya, yaitu : skenario pesimistik (kemungkinan
terjelek) dan skenario optimistik (kemungkinan terbaik) tingkat
kemajuan omset penjualan yang diperkirakan akan terjadi.
Perkiraan tingkat penjualan rata-rata per hari yang saya patok
pada bulan pertama (Oktober 2005) adalah Rp 750.000,- Angka ini saya
jadikan target awal untuk kedua skenario pesimistik maupun
optimistik. Dari mana angka itu saya peroleh? Awalnya ya cari di
sawah, kemudian saya banding-bandingkan dengan pengalaman toko
sejenis milik seorang saudara dan teman yang berlokasi di kawasan
lain. Kemudian dipertimbangkan dengan potensi pasar di sekitar desa
Madurejo dan peluang-peluang promosi yang dapat digarap di tahap
awal ini. Maka ketemulah angka itu.
Pada skenario pesimistik, saya perkirakan sejak bulan pertama hingga
selama 15 bulan pertama (sampai akhir tahun 2006) akan mencapai
rata-rata kenaikan 8%, diikuti dengan asumsi peningkatan sebesar 10%
per tahun mulai tahun ketiga hingga tahun ke-15. Pada skenario
optimistik, penjualan selama 15 bulan
pertamanya akan mencapai rata-rata peningkatan 10%, dengan asumsi
peningkatan tahunannya juga sama 10%. Angka pertumbuhan yang 10% ini
(untuk sementara ini) saya anggap sebagai cukup realistis, seiring
dengan asumsi tingkat inflasi dan ekskalasi.
Pada skenario optimistik ini saya melihat potensi dan peluang yang
sekiranya akan mampu mendongkrak omset, antara lain menggarap secara
lebih baik adanya peluang-peluang khusus seperti bulan puasa,
lebaran, musim awal sekolah, bulan haji, dsb. (Untuk diketahui bulan
haji atau bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah adalah bulan
dimana masyarakat Jawa sering punya gawe, hajatan perkawinan).
Dari proyeksi hasil penjualan harian dan peningkatannya, maka akan
dapat dihitung proyeksi keuntungan kotor yang dapat dikumpulkan per
bulan dan per tahun dengan asumsi persentase margin keuntungan
rata-ratanya 10%. Setelah dikurangi dengan biaya operasi bulanan,
maka diperolehlah keuntungan bersihnya. Biaya operasi bulanan akan
merangkak dari Rp 3,5 juta,- hingga Rp 5 juta,- pada tahun pertama,
selanjutnya akan ada peningkatan (asumsikan saja) 10% per tahun.
Dari angka-angka itu, maka saya dapat membuat prediksi laporan
laba-rugi (income statement) per bulan. Pada skenario pesimistik,
keuntungan (profit) akan mulai dapat dicapai pada bulan keenam.
Sedangkan pada skenario optimistik, keuntungan (profit) dicapai
lebih cepat yaitu mulai bulan ketiga. Timbunan angka-angka itu
beserta rencana pengalokasian modal tetap (asset) dan modal kerja
(working capital), kesemuanya menumpuk dalam business plan Madurejo
Swalayan.
Dengan hitung-hitungan sederhana menggunakan pipolondo, akan dapat
dibuat proyeksi aliran uang tunai (cashflow) tahunannya. Tampaklah
kini, kapan modal saya akan kembali (break-even). Merujuk pada
skenario optimistik, modal saya akan kembali seluruhnya dalam tujuh
setengah tahun menurut opsi pertama dan dalam empat tahun menurut
opsi kedua. Wah, kok suwe yo (lama juga ya). Apakah saya cukup sabar?
Nampaknya memang saya mesti sabar menanti kembalinya sang modal..
(Saya coba melamun ngangen-angen.., membayang-bayangkan, tujuh
setengah tahun kelihatannya kok bukan waktu yang lama. Rasanya baru
kemarin saya tiba di Tembagapura jadi orang gajian ketika anak kedua
saya masih rambatan. E ., tiba-tiba saya sudah berhasil jadi
penganggur terselubung di Yogya dan anak kedua saya yang kini kelas
6 SD itu sudah pecicilan minta diajari naik sepeda motor.
Barangkali waktu tujuh setengah tahun ke depan cukup bagi saya untuk
mempersiapkan anak-anak saya menjadi calon CEO Madurejo Swalayan,
kalau mereka mau. Kalau ternyata kelak memilih untuk ngurusi bisnis
nyambi jualan faktur pajak dan menjadi pengekspor fiktif, atau
memilih untuk mencalonkan diri jadi presiden, itu sepenuhnya akan
jadi pilihannya. Tugas saya adalah mempersiapkan mereka menjadi
orang yang berguna bagi nusa dan bangsanya, saleh secara individu
dan saleh secara sosial. Insya Allah
Madurejo, Sleman 6 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar