Sabar Menanti
Jamu Keladi Tikus -pengerat kanker, hubungi iboe Erni di HP 0812 802 5102 atau (021) 5601215

 

Sabar Menanti

 

Kalau benar bahwa usaha toko swalayan atau bisnis ritel atau mini-market atau mracangan, itu menguntungkan : Berapa lama waktu diperlukan untuk balik modal?. Atau : Kapan balik modalnya? .
Itulah pertanyaan yang pernah ditanyakan oleh beberapa rekan, dan memang seharusnya ditanyakan. Sehingga sebelum kita benar-benar terjun ke kancah dunia persilatan peritelan, kita sudah punya gambaran yang meyakinkan bahwa bisnis ini layak atau tidak layak untuk ditekuni..

Kalau jenis pertanyaan itu yang menggangu pikiran kita sebagai calon pemain baru di bisnis ritel, maka ada dua pilihan yang dapat dilakukan. Bertanya kepada penganut aliran Just Do It, atau kepada penganut aliran Just Plan It. Jawaban dari kelompok yang pertama akan mengatakan : Sudahlah, pokoknya mulai lakukan saja, keburu para pesaing mendahuluinya . Maka, kita pun lalu panik bin gedandapan (bergerak tergesa-gesa). Iya, ya. Kalau keduluan orang lain bisa tewas kita, demikian hati kecil kita akan terprovokasi.

Sedangkan kalau pertanyaan itu ditujukan kepada kelompok yang kedua, ijinkanlah pengelola Madurejo Swalayan yang mewakilinya (meskipun Madurejo Swalayan  juga pemain baru, tapi setidak-tidaknya sudah mendahului start . .). Jangan kemana-mana, ikuti yang berikut ini

(Mohon maaf seribu kali maaf, saya merasa perlu untuk berulang-ulang mengatakan bahwa pilihan ini bukan soal salah atau benar, baik atau buruk, melainkan hanya soal selera. Sama seperti Anda lebih suka naik sepeda onthel atau sepeda jengki, makan nasi goreng atau nasi rebus, masing-masing ada konsekuensinya, ada plus-minusnya).

***

Mari kita tengok lagi lembar business plan Madurejo Swalayan. Data-data awal sudah diketahui : Modal tetap untuk beli tanah dan mbangun toko sebesar Rp 220 juta,- (kecil-besarnya angka ini tentu tergantung pada harga beli lahannya dan ongkos pembangunannya). Modal untuk menyediakan prasarana toko Rp 50 juta,-. Modal kerja untuk kulakan isi toko Rp 108 juta,-. Modal kerja operasional yang harus disediakan selama periode belum meraih keuntungan (saya cadangkan selama 5 bulan dengan rata-rata per bulan memerlukan sekitar Rp 4 juta,-), sehingga totalnya menjadi Rp 20 juta,-.

Maka total modal yang diperlukan adalah Rp 398 juta,-(Rp 378 juta,- dana yang pasti dikeluarkan di tahap awal dan Rp 20 juta,- dana cadangan yang pengeluarannya di-icrit-icrit setiap bulan). Saya anggap rencana pembiayaan modal ini sebagai opsi pertama. Untuk keperluan hitung-hitungan ekonomi, saya mempertimbangkan perlunya ada opsi kedua sebagai pembanding.

Opsi kedua adalah dengan tidak memasukkan modal tetap properti (lahan dan bangunan) dalam menghitung jumlah modal awal, sehingga total modal awalnya menjadi hanya Rp 158 juta,-. Alasan yang mendasari adanya opsi kedua adalah karena ada atau tidak ada “Madurejo Swalayan, lahan dan bangunan tetap akan ada dan dibangun di sana sampai waktu yang tidak saya ketahui, mungkin 15 tahun, 25 tahun atau bahkan selamanya.
Nilainya pun akan semakin naik, seakan-akan menjadi investasi tersendiri sebagai properti. Opsi kedua ini tidak akan saya ambil seandainya lahan yang ditempati Madurejo Swalayan merupakan lokasi sewaan, dimana umurnya terbatas sepanjang umur toko yang diproyeksikan dalam business plan.

Setelah sejenak semlengeren (diam termangu-mangu) melihat angka Rp 378 juta,- duit kabeh .,
kemudian kembali ke pertanyaan semula. Kalau semua uang itu saya investasikan untuk mbukak toko swalayan modern di pinggiran kota, apakah kira-kira uang itu akan kembali, dan kapan? Untuk melihat hal itu saya membuat dua versi skenario usaha berdasarkan perkiraan tingkat kemajuan penjualannya, yaitu : skenario pesimistik (kemungkinan terjelek) dan skenario optimistik (kemungkinan terbaik) tingkat kemajuan omset penjualan yang diperkirakan akan terjadi.
 

Perkiraan tingkat penjualan rata-rata per hari yang saya patok pada bulan pertama (Oktober 2005) adalah Rp 750.000,- Angka ini saya jadikan target awal untuk kedua skenario pesimistik maupun optimistik. Dari mana angka itu saya peroleh? Awalnya ya cari di sawah, kemudian saya banding-bandingkan dengan pengalaman toko sejenis milik seorang saudara dan teman yang berlokasi di kawasan lain. Kemudian dipertimbangkan dengan potensi pasar di sekitar desa Madurejo dan peluang-peluang promosi yang dapat digarap di tahap awal ini. Maka ketemulah angka itu.

Pada skenario pesimistik, saya perkirakan sejak bulan pertama hingga selama 15 bulan pertama (sampai akhir tahun 2006) akan mencapai rata-rata kenaikan 8%, diikuti dengan asumsi peningkatan sebesar 10% per tahun mulai tahun ketiga hingga tahun ke-15. Pada skenario optimistik, penjualan selama 15 bulan
pertamanya akan mencapai rata-rata peningkatan 10%, dengan asumsi peningkatan tahunannya juga sama 10%. Angka pertumbuhan yang 10% ini (untuk sementara ini) saya anggap sebagai cukup realistis, seiring dengan asumsi tingkat inflasi dan ekskalasi.

Pada skenario optimistik ini saya melihat potensi dan peluang yang sekiranya akan mampu mendongkrak omset, antara lain menggarap secara lebih baik adanya peluang-peluang khusus seperti bulan puasa, lebaran, musim awal sekolah, bulan haji, dsb. (Untuk diketahui bulan haji atau bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah adalah bulan dimana masyarakat Jawa sering punya gawe, hajatan perkawinan).

Dari proyeksi hasil penjualan harian dan peningkatannya, maka akan dapat dihitung proyeksi keuntungan kotor yang dapat dikumpulkan per bulan dan per tahun dengan asumsi persentase margin keuntungan rata-ratanya 10%. Setelah dikurangi dengan biaya operasi bulanan, maka diperolehlah keuntungan bersihnya. Biaya operasi bulanan akan merangkak dari Rp 3,5 juta,- hingga Rp 5 juta,- pada tahun pertama, selanjutnya akan ada peningkatan (asumsikan saja) 10% per tahun.

Dari angka-angka itu, maka saya dapat membuat prediksi laporan laba-rugi (income statement) per bulan. Pada skenario pesimistik, keuntungan (profit) akan mulai dapat dicapai pada bulan keenam. Sedangkan pada skenario optimistik, keuntungan (profit) dicapai lebih cepat yaitu mulai bulan ketiga. Timbunan angka-angka itu beserta rencana pengalokasian modal tetap (asset) dan modal kerja (working capital), kesemuanya menumpuk dalam business plan Madurejo Swalayan.

Dengan hitung-hitungan sederhana menggunakan pipolondo, akan dapat dibuat proyeksi aliran uang tunai (cashflow) tahunannya. Tampaklah kini, kapan modal saya akan kembali (break-even). Merujuk pada skenario optimistik, modal saya akan kembali seluruhnya dalam tujuh setengah tahun menurut opsi pertama dan dalam empat tahun menurut opsi kedua. Wah, kok suwe yo (lama juga ya). Apakah saya cukup sabar? Nampaknya memang saya mesti sabar menanti kembalinya sang modal..

(Saya coba melamun ngangen-angen.., membayang-bayangkan, tujuh setengah tahun kelihatannya kok bukan waktu yang lama. Rasanya baru kemarin saya tiba di Tembagapura jadi orang gajian ketika anak kedua saya masih rambatan. E ., tiba-tiba saya  sudah berhasil jadi penganggur terselubung di Yogya dan anak kedua saya yang kini kelas 6 SD itu sudah pecicilan minta diajari naik sepeda motor.

Barangkali waktu tujuh setengah tahun ke depan cukup bagi saya untuk mempersiapkan anak-anak saya menjadi calon CEO Madurejo Swalayan, kalau mereka mau. Kalau ternyata kelak memilih untuk ngurusi bisnis nyambi jualan faktur pajak dan menjadi pengekspor fiktif, atau memilih untuk mencalonkan diri jadi presiden, itu sepenuhnya akan jadi pilihannya. Tugas saya adalah mempersiapkan mereka menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsanya, saleh secara individu dan saleh secara sosial. Insya Allah


Madurejo, Sleman 6 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar

 

http://gajahsora.com