| PUNTADEWA | |
|
Adalah Puntadewa, sulung Pandawa yang kalah taruhan dengan pihak Kurawa. Mereka harus merelakan negerinya diinvasi pihak asing dan dibuang ke hutan Kamiyaka. Ditemani oleh Drupadi yang hampir di lecehkan oleh Dursasana, maka berjalanlah kelima Pandawa keluar masuk hutan sampai akhirnya kelelahan, lapar dan dahaga. Karena tak sanggup lagi berjalan, maka Puntadewa alias Samiaji memerintahkan Sadewa adik terbontot untuk mencari air. Sadewa menyanggupinya dan berjalanlah ia mencari sumber air sampai bertemu dengan sebuah telaga dengan air yang jernih dan ikan berenang ke tepian. Namun tatkala air hendak diminum, ada suara memperingatkan, “kamu boleh minum asalkan menjawab pertanyaanku.” Orang sudah haus begini ada yang “reseh” bikin quiz segala, pasti yang tanya adalah kode "44", yang dalam kamus kepolisian adalah orang sakit jiwa. "Go to hell with your Quiz, pas didorong haus yang berlebihan maka Sadewa lempeng saja meminum air telaga. Ternyata air jernih segar lebih dahsyat dari "agen orange", itu senjata kimia yang dipakai Amerika melegitimasikan penghancuran total dalam perang Vietnam. Begitu air mengalir melalui kerongkongannya, ia jekang dan tewas mengenaskan. Karena si Bungsu belum juga kembali padahal waktu semakin mendesak, Puntadewa jadi cemas, diutusnya Nakula mencari Sadewa. Nakula berjalan mengikuti jalan yang dirintis adiknya plus berupa patahan ranting dan kode-kode yang dipelajarinya waktu Pramuka dulu. Belum sempat bertemu dengan adiknya ia keburu melihat telaga dengan air yang menggoda. Seperti biasa ada suara yang mengajak quiz. Sekalipun persyaratannya sudah diturunkan, menjawab quiz tanpa "password." Presenter hutan tadi diacuhkan saja oleh Nakula apalagi hadiahnya 25% ditanggung pemenang, ia lebih suka meminum air telaga dan tewas. Selanjutnya Permadi alias Arjuna didaulat untuk menyusul adiknya, di suatu telaga ketika ia menemui suara tanpa rupa ia sudah curiga, pasti ada orang jahat sekitarnya. Gondewa dan anak panahnya disiapkan. Maka ketika orang iseng tadi mengajak kuiz, tanpa menoleh Permadi melepaskan anak panahnya secara beruntun ke arah suara tersebut. Suit ... siut... Meleset... “Terang saja meleset, aku sudah letih kelaparan dan kehausan. mungkin kalau aku minum barang seteguk air, kekuatanku akan pulih dan sumber suara akan kupanah dengan tepat. Namun baru menelan seteguk, Permadi juga menyusul adik-adiknya ke alam baka. Puntadewa semakin cemas, maka diutuslah BimaSena yang rada temperamental ini, semua persoalan sepertinya harus diselesaikan dengan marah dan kekuatan okol. Mungkin masih dalam siklus reinkarnasi dengan A-Miauw dari Jakarta. Tanpa basa basi ditantangnya "Suara tanpa rupa atau organisasi tanpa bentuk" tadi. Pokoknya kalau tidak mau melucuti kata-katanya, akan saya gempur dengan rudal RujakPolo, ancam Bima. Namun suara ini menghilang. Karena tidak ada jawaban, pikir Bima, lawan sudah ngacir lalu air telaga di minum dan Bima tewas. Tinggallah Puntadewa dan Drupadi. Sekarang Puntadewa pergi ke telaga pembantaian dan melihat adiknya tewas. Lalu mendengar suara ajakan quiz dan Puntadewa yang kebingungan melayani pertanyaan tersebut. “apa yang lebih cepat dari cahaya?” “Oh mudah Organisasi Tanpa Bentuk, itu adalah kecepatan pikiran.” jawab Puntadewa sekenanya. “Okey quiz pertama lulus, anda sudah masuk di level aman pertama, pertanyaannya apa yang kalau kehilangan malahan menjadi kaya.” “Oh itu adalah keinginan, keinginan atau nafsu membuat kita selalu merasa kurang. Karena itu orang bijak menyarankan kita menundukkannya.” “Anda lulus pada level aman ke dua, sekarang bagaimana dengan kematian yang ada didepanmu…” “Orang melihat kematian seperti kematian orang lain, jarang orang melihat kematian sebagai kematian sendiri. Maksudku orang tidak belajar mengapa ada kematian. Orang hanya marah, sedih dengan kematian, tepai seperti aku katakan, tidak belajar dari kematian itu sendiri….” “Baik Puntadewa, kau sudah lulus Quiz ini silahkan minum seakan telaga ini milikmu.” Setelah minum, sambil melihat jasad adiknya Puntadewa membujuk suara tanpa bentuk yang ternyata adalah sosok raksaas. “Sa, nyawa manusia lebih berharga daripada seteguk air, mengapa nyawa adikku melayang hanya tidak menghiraukan peringatanmu..” “Dengar Puntadewa, aku tidak membunuh adik-adikmu, tetapi mereka membunuh dirinya sendiri. Ketika orang tidak menghormati hak sesamanya, dia sudah tidak menghormati dirinya sendiri. Orang itu sudah mati” “Tapi kan ada skala prioritas, mengapa nyawa kau letakkan dalam skala terakhir?” “Prioritas?, mana lebih prioritas kepada orang yang tidak mengindahkan nyawanya keselamatan demi air. Tapi bicara prioritas kalau aku mampu menghidupkan mereka, siapa yang pantas hidup pertama kali?” “Sadewa, adikku paling bungsu…” “Kenapa ?, saya dengar dia tidak punya kesaktian sama sekali, lagian kabar dari Cek dan Ricek dia sama sekali bukan adik kandungmu. Kok repot.” “Sadewa dan Nakula adalah anak Ibu Madrim yang
meninggal setelah melahirkan mereka. Sedangkan aku dan kandungku dari
Ibu Kunthi. Ibu Kunthi masih memiliki aku tetapi tidak dengan Sadewa ia
tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Untuk itu aku pilih Sadewa
sekalipun ia tidak memiliki "daya linuwih" dalam perang
Bharatayuda kelak.” Mendengar jawaban Puntadewa seketika Yaksa berubah menjadi Sang Hyang Yama. Dipeluknya Puntadewa seraya berseru "Puntadewa anakku." Bukan cuma Sadewa yang dihidupkan melainkan kesemuanya. Hidup memang penuh paradox, kata Bo Wero. Satu saat kita bertemu dengan pilihan yang sepintas lalu seperti pengorbanan, seperti menguras isi. Tetapi dengan pilihan itu, kita nyatanya justru "charge batere". Puntadewa sepertinya membuang waktu menjawab quiz, tetapi itulah yang menyelamatkan nyawanya dan adik-adiknya. Sementara adik-adiknya lebih menyerupai kita, maunya serba instan. Ibarat tabur benih sekarang, mengharapkan panen esok. |
|
|
Hari ini aku belagak jadi sufi :-) |
|