Perkenalan saya dengan makanan yang namanya pempek
(empek-empek)Palembang sekitar tahun 1960-an ketika mengikuti orang
tua pindah dari pulau Jawa ke Palembang. Kami tinggal di asrama
Brimob Kertapati-Palembang yang belum lama dibangun diatas bekas kuburan Cina.
Tetangga sebelah kami menawarkan makanan yang terbuat dari tepung
kanji, dan katanya lazid jiddan alias "lemak nian"
"Awak belum jadi wong Palembang, kalu belum cubo pempek lemak
nian ini..." begitu bunyi promosinya. Artinya "anda belum
jadi orang Palembang kalau belum mencoba pempek yang lezat ini."
Melihat bentuknya yang putih, kami tertarik untuk mencobanya. Begitu
digigit ternyata penganan ini melakukan perlawanan alias alot, apalagi
dengan rasa amis ikan yang asing bagi lidah didikan tangsi Pathuk
dan tangsi Pingit Yogya yang terbiasa manis. Cuka kami
teguk, weleh kok barang kecuut dan pedes begini dibanggain.
Alhasil, untuk tidak menyinggung sipemberi, diam-diam cuka dan
pempek kami buang. Juga yang sudah terlanjur masuk mulut.
Ada beberapa bulan kami sekeluarga seperti heran melihat tetangga
bangun pagi kok terus nguyup (minum) cuko atau cuka. Saat itu memang
banyak gadis dan pemuda Palembang giginya ompong seperti yang penah
dilakukan penelitiannya oleh drg Safrida Hoesin dari Tabloid Nova,
tetapi bagi Wong Palembang, soal ompong itu masalah kecil lantaran
mereka bisa ganti dengan gigi perak atau emas, sehingga alih-alih
nestapa berubah menjadi extravagansa.
Lalu ada tetangga yang lain memberikan pempek yang mungkin mutunya
tinggi, kami diminta mencobanya. Lho kok uenak tenan, mungkin karena
perut sudah mulai terbiasa dengan jajanan seperti TekWan, Burgo,
Model, Lenggang maka sejak itu pempek dianggap salah satu
makanan kehormatan kami.
Sekarang, saya hanya kenal satu tukang pempek di Palembang yaitu
Pempek Pak Raden. Pernah di coba merek lain seperti Candi, Dempo dsb
tetapi namanya sudah RadenMania, ya tetap pak Raden yang paling
okay. Kadang dalam kesempatan ke Palembang saya mencoba di seberang
SMA Xaverius yang katanya lebih dahsyat, tapi lagi-lagi pak Raden
masih lebih Jozzz...
DIBEDAKI BIAR TAHAN LAMA
Adik-adik saya sudah tahu bahwa saya kakaknya cuma perlu sebesek
empek-empek pak Raden sebagai oleh-oleh. Supaya tahan lama, pempek
minta di bedaki dulu sebelum di bungkus. Jadi kalau mereka datang ke
Jakarta, cukup bawa satu besek pempek, kecuali minggu lalu gantian
saya yang membawakan nasi Padang rasa Istana.
Anak-anak bahkan isteri bisa terherman-herman, kalau jam lima pagi
saya bisa menyantap empek-empek dengan menyruput cuka tanpa sakit
perut, padahal minum coca cola seteguk saya sudah ngeluh
"sudhuken" alias perut kembung seperti ditusuk-tusuk. Pak
Raden dilawan....
Konon pak Raden ini miliknya adalah seorang Palembang tulen bernama
Ahmad Rivai Husein. Dengan bahan baku ikan "GABUS" yang
ternyata selain bikin empek-empek makin gurih, kandungan proteinnya
bisa menggantikan sel-sel tubuh yang luka. Orang kedokteran bilang ada
saripati Albumin dikandung oleh ikan gabus.
Pempek Palembang cabang Jakarta, misalnya dikabarkan setiap minggu
membutuhkan 150 kilogram ikan gabus giling. Belum lagi dengan
gerai-gerai pak Raden yang lainnya. Sayang cerita suksesnya bagaimana
saya kurang jelas, lantaran seperti serangan operasi Badai Gurun
gerai-gerai Pak Raden mulai bermunculan di Jambi, Lampung,
Bandung dan Jakarta. Bagi saya empek-empek boleh lain, tetapi
soal cuka, pak Raden biangnya.....
Di Jakarta, saya lihat ada satu yang di jalan Warung Buncit, satu
gerai di Margonda dan konon yang terbesar adalah di gerai Jalan
Fatmawati. Konon hidangan luar biasa dari pempek Fatmawati adalah Es
Kacang Merah (kacang tolo). Seperti belum sip bercerita kalau kaum
"dugem" belum disebut, Nico, Berliana, Cut Tari, H. Damsyik
adalah para fans pempek Fatmawati, itu kata koran lho.
Mimbar Bambang S
Jakarta 28 Maret 2003