| |
Pemasok, Antara Kawan dan Lawan
Menjelang hari “H”, hari pertama buka toko
yang direncanakan, para pemasok (suppliers) berduyun-duyun
berdatangan menawarkan produk-produknya. Mereka berdatangan, baik karena
diberitahu oleh toko lain
yang sebelumnya saya titipi kartu nama, diberitahu oleh sesama pemasok,
sengaja kami hubungi untuk
memberikan penawaran barang, ataupun secara kebetulan melihat papan nama
toko baru saat mereka lewat di Jl.
Prambanan – Piyungan, Yogyakarta.
Pemasok, dalam menunaikan tugasnya di lapangan biasanya diujungtombaki oleh
orang-orang yang disebut
salesman. Dalam komunikasi salah kaprah sehari-hari suka disebut dengan
sales saja. Para pemasok ini bisa
puluhan jumlahnya, baik yang resmi berbadan hukum yang mewakili perusahaan
distributor produk tertentu maupun
sales lepas (freelance) atau disebut juga sebagai grosir keliling.
Jangan heran dan terpesona kalau kemudian bertaburan kalimat-kalimat rayuan
(seduction) dan bujukan
meyakinkan (persuasion) dari para sales ini agar kita tertarik melakukan
transaksi pembelian. Mulai dari
menawarkan keunggulan produknya yang sudah dikenal masyarakat, yang katanya
sudah ada iklannya di
televisi. Sampai perlu menyebut referensi, misalnya di toko “Anu” (disebutnya
nama toko yang berlokasi di
kawasan yang sama dengan toko kita) seminggu bisa laku sekian biji. Tidak
lupa mereka pun akan menunjukkan
salinan order pembelian dari toko itu guna meyakinkan kita.
Dalam upayanya mendesak kita dalam soal “timing”, mereka akan mengatakan
bahwa mereka akan kembali
melewati lokasi toko kita setiap dua atau tiga minggu, terkadang sebulan
sekali. Ketika dekat-dekat Lebaran,
maka mereka akan berbaik hati mengingatkan bahwa jenis barang tertentu
biasanya permintaan pasar meningkat
sementara persediaan terbatas, sedang mereka akan libur selama beberapa
waktu. Situasi seperti ini tentu
akan membingungkan hitungan matematis di kepala kita, padahal keputusan
harus dibuat saat itu juga,
sedangkan sebagai pemain baru kita belum punya pengalaman.
Belum lagi soal iming-iming. Jika membeli sejumlah sekian akan menerima
diskon sekian persen, jika
membeli produk ini sekian akan ada bonus itu, jika pembayarannya tunai akan
ada tambahan diskon sekian
persen, untuk “grand-opening” toko baru ada tambahan diskon sekian persen
lagi, dan banyak macam
iming-iming lainnya yang seringkali membuat kita terlena.
“Retour policy” juga menjadi senjata sales. Mereka akan mengatakan nanti
kalau barangnya tidak laku atau
rusak bisa ditukar dengan produk lain. Jadi tidak perlu khawatir. Kita
sering lupa, bagaimanapun juga
hal itu tetap berarti mengalir-keluarnya uang tunai dari kas kita. Masih ada
lagi sales lepas yang
mengatasnamakan lembaga sosial tertentu, sehingga kalau kita membeli barang
mereka berarti kita turut
berbuat amal. Hati siapa yang tidak tersentuh mendengarnya.
Kalau sudah mentok karena terus kita tolak misalnya, akhirnya mereka akan
mengatakan bahwa produknya perlu
ada agar toko lebih lengkap, jangan sampai nanti ada pembeli yang
membutuhkan ternyata barangnya tidak
tersedia. Pembeli bisa kecewa. Sampai di titik ini kita sering terpengaruh.
“Iya, ya…, benar juga. Sayang
kalau sampai ada pembeli yang kecewa karena barang yang dicari tidak ada”,
demikian biasanya setan gundul
entah datang dari mana akan berbisik di telinga kita. Sebagai toko yang baru
memulai usahanya, wajar kalau
diam-diam muncul ketakutan, jangan-jangan kita dijauhi calon pelanggan
setelah tahu tokonya tidak lengkap.
***
Tidak dapat dipungkiri, pemasok (supplier) adalah salah satu bagian penting
dalam mata rantai bisnis
ritel. Keberadaannya sangat diperlukan dalam menunjang kelancaran usaha toko.
Daripada repot-repot pergi
kulakan, mencari barang, membelinya, lalu mengangkutnya sendiri, lebih
menghemat banyak waktu
apabila kita membelinya dari pemasok yang datang sendiri ke toko, harganya
pun bersaing. Pendeknya,
hubungan antara pengelola toko dan pemasok adalah hubungan kerjasama bisnis
yang saling membutuhkan dan
saling menguntungkan. Simbiose mutualisme. Pengelola toko butuh kulakan
dengan cepat dan harga bersaing,
sedangkan pemasok butuh barang dagangannya dibeli oleh pengelola toko.
Meskipun demikian, tidak semua sales layak untuk diajak bekerjasama. Ada
juga oknum sales yang nakal,
mau untung sendiri, ingin meraup untung besar sesaat, tidak berniat membina
hubungan kerjasama yang
langgeng. Oknum sales jenis ini terkadang hanya mementingkan asal
dagangannya dibeli, tidak perduli
bakal cepat laku atau tidak. Biasanya oknum sales ini minta pembayaran tunai.
Jika barang dagangannya sudah
banyak dibeli, sementara kita tidak tahu itu jenis barang yang cepat laku
(fast moving) atau bukan, kita
juga tidak tahu harga yang ditawarkan wajar atau terlalu tinggi, maka oknum
sales nakal ini biasanya
hanya sekali mampir lalu tidak kembali lagi.
Disinilah susahnya bagi pengelola toko yang belum berpengalaman, yang baru
pertama kali berurusan dengan
sales, yaitu bagaimana mengenali oknum sales-sales nakal. Pengalaman
menjengkelkan itu juga yang terpaksa
dialami oleh pengelola “Madurejo Swalayan”.
Harus disadari bahwa hal menjengkelkan itu sebenarnya adalah bagian dari
resiko bisnis. Resiko yang mestinya
harus sudah diperhitungkan sebelum mulai membuka toko.
Bagaimanapun juga, sales adalah juga penjual yang ingin barang dagangannya
laris manis. Sales juga
membekali diri dengan pengetahuan, ketrampilan dan belajar bagaimana teknik
menjual yang sukses.
Bagaimana mempengaruhi calon pembeli agar jadi bertransaksi. Bagaimana
meyakinkan calon pembeli bahwa
produknya layak dibeli, dalam jumlah banyak kalau bisa. Dan, calon pembeli
itu adalah kita, orang yang
baru belajar bisnis ritel, orang yang suka bingung dan sulit mengambil
keputusan ketika rayuan maut para
sales menyerang tiba-tiba.
***
Lha, kalau sudah tahu tentang berbagai perilaku sales seperti itu, mestinya
bisa dong menghindari oknum
sales nakal….? Well……., mestinya iya. Tapi menurut “ngelmu” psikologi
penjualan yang “dipelajari” oleh
para sales itu mengajarkan bahwa selalu ada celah untuk meninabobokkan
pemain baru seperti saya sehingga
terpengaruh untuk membeli produk mereka.
Memang tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat rayuan, bujukan ataupun
iming-iming yang ditawarkan
para sales itu, tidak juga selamanya bertujuan negatif atau menyesatkan.
Sebaliknya adakalanya justru menjadi
nilai positif. Hanya saja, kita perlu berpikir jernih dan logis sebelum saat
itu memutuskan untuk melakukan
pembelian, atau menunda atau menolak.
Susahnya, sebagai pemain baru seringkali kita tidak punya cukup bekal
referensi dan pengalaman, “feeling”
pun belum terasah. Maka seringkali hanya mengandalkan iktikad baik dan
percaya kepada pemasok semata sebagai
landasan membuat keputusan. Situasi atau posisi lemah semacam ini jelas
sangat dipahami oleh para pemasok
beserta sales-salesnya. Maka muncullah oknum sales nakal, meskipun jumlah
mereka tidak banyak.
Begitulah….. ! Pemasok adalah kawan kita. Pemasok professional sangat
memahami bahwa hubungan simbiose
mutualisme ini perlu dilanggengkan. Namun bagi sebagian kecil oknum pemasok
lainnya, mereka adalah
lawan kita. Mereka hanya mau untung sendiri tanpa mau memikirkan
kelanggengan kerjasama yang saling
menguntungkan. Masalahnya adalah, kita baru tahu mana kawan dan mana lawan
justru setelah usaha kita
berjalan sekian waktu, bukan sebelum memulainya.
Madurejo, Sleman – 19 Januari 2006.
Yusuf Iskanda
Mimbar Bambang Seputro
Updated 08/07/2000
|