Dulu sewaktu saya masih menjadi orang gajian,
sesekali saya suka iseng tanya-tanya orang, kira-kira peluang bisnis
apa ya yang bisa dikerjakan di Yogya (atau di mana sajalah).
Biasanya orang yang saya tanya akan menjawab : “Wah, buuuanyak
sekali…….”. Sangking banyaknya sehingga untuk menyebut satu saja
susah.
Kini sewaktu saya tidak lagi jadi orang gajian (entah sementara,
entah seterusnya…..), gantian saya ditanya oleh banyak teman,
peluang bisnis apa ya yang bisa dikerjakan? Saya pun menjawab :
“Wow…, buuuanyak sekaleee…….”. Saking buanyaknya sehingga memang
susah untuk diperinci satu per satu. Sekarang saya baru tahu, memang
nyatanya demikian. Peluang bisnis ada di mana-mana, tapi susah untuk
menyebut mana yang paling baik. Tinggal pilih mau yang model dan
gaya apa.
Rasanya tidak salah kalau saya kelewat percaya diri, bahwa yang
namanya peluang (opportunity) itu tidak akan pernah habis digali dan
tidak akan pernah selesai digarap. Pating tlecek ning
ngendhi-ngendhi….., berserakan di mana-mana. Boleh percaya boleh
tidak. Tapi biasanya baru akan percaya setelah benar-benar mulai
memasuki “alam peluang” itu tadi. Karena tahapan yang paling sulit
adalah : memulainya ituuu.…….
Omong-omong soal peluang bisnis, saya sebenarnya agak sungkan untuk
cerita banyak-banyak (Agak tahu dirilah…. Wong pengalaman bisnisnya
baru sak uprit kok sudah ngomong aneh-aneh. Maka ya yang
sedikit itu saja yang ingin saya bagikan kepada yang mau.…..). Dan
satu-satunya pengalaman agak banyak yang saya miliki dalam hal ini
adalah pengalaman berpikir. Maka yang sebaiknya saya omong-omongkan
berikut ini ya hanya sekedar pemikiran tentang peluang bisnis saja.
Selebihnya kita tinggal tidur saja sambil memikirkannya
ramai-ramai seperti potong padi di sawah.
Wong namanya baru pemikiran, maka untuk lebih mendalamnya mari
dipikirkan secara berjamaah. Kalau hanya dipikir satu orang namanya
pembebekan. Satu orang pegang tongkat lalu diacung-acungkan ke kanan,
maka bebek-bebeknya rame-rame ke kiri. Ada juga bebek-bebek yang
bandel dan larinya kencang hingga membuat kalang kabut
teman-temannya. Begitu sebaliknya. (Seperti angkot atau bis kota,
lampu sign kedip-kedip ke kiri, eh enggak tahunya nyosor ke kanan.
Malah terkadang tiba-tiba mak jegagik berhenti, baru lampu sign
menyusul dikedip-kedipkan. Makanya hati-hati kalau berkendaraan di
belakang angkot atau bis kota. Membebek memang lebih enak…..).
Kalau ternyata pemikiran yang akan saya paparkan ini ngoyoworo (membuang-buang
waktu dan enerji saja), jangan rikuh untuk segera beranjak pergi ke
toko buku membeli buku-buku tebal yang mahal-mahal karya orang-orang
pinter, yang terkadang susah dipahami dan akhirnya malah menghiasi
lemari ruang tamu. Hingga akhirnya satu-satunya peluang yang
tertinggal adalah peluang menjadi konsumen yang baik. Bukan salah
juga.
***
Menurut pemikiran saya, sebaiknya tidak perlu gusar atau bingung
bertanya-tanya tentang peluang bisnis apa yang bisa dikerjakan.
Karena sesungguhnya jutaan peluang itu ada bertebaran tepat di depan
mata kita.
Bagi orang yang sudah mataun-taun (bertahun-tahun) jadi orang gajian,
memang terkadang sulit untuk melihat peluang-peluang yang sebenarnya
sudah di depan mata itu. Saya merasakannya. Tapi cobalah untuk
keluar garis atau keluar kotak, atau duduknya agak digeser, atau
kaca matanya agak dimiringkan….. sedikiiiit saja.
Kita akan surprise!. Lho, ternyata di sini ada peluang, di sana ada
peluang, di mana-mana ada peluang!
Menghadiri seminar, mengikuti kursus, atau bercengkerama dengan
kenalan, adalah salah satu cara yang dapat diharapkan menjadi
lantaran untuk menunjukkan adanya sebuah peluang. Tidak salah juga
kalau mau ikut kursus menjahit, membuat hong kwe, bikin petasan,
atau hadir di seminar cara mengatasi kepala mau pecah atau cara
mengatasi jumbleng mampet.
Bukan karena kita ingin punya sertipikat untuk buka usaha penjahitan,
tukang kue, jual petasan, dukun pijat sakit kepala atau ahli
jumbleng, melainkan hanya mencari pemicu, eee… siapa tahu di sana
ditemukan petunjuk arah menuju peluang bisnis. Itu sebabnya
berinvestasi untuk hadir di seminar atau ikut kursus atau mbayari
kenalan makan siang, bukanlah pemborosan selama bukan karena
ketimbang nganggur…..
Setelah peluang-peluang itu terlihat, terjadilah kebingungan tahap
kedua. Mana yang cocok buat saya?.
Semua nampak bagus prospeknya. Dalam membuat keputusan untuk
mengambil sebuah peluang bisnis, saya tidak mau mengandalkan saran
orang lain sebagai satu-satunya referensi (inilah kecenderungan
jalan pintas kita, merasa belum punya pengalaman lalu menganggap
saran atau pandangan orang lain adalah pilihan terbaik). Saran atau
pandangan orang lain, porsinya hanya sebagai pembanding dan untuk
membuka wawasan saja.
Kalaupun akhirnya keputusan kita sama dengan yang disarankan oleh
orang lain, maka itu murni karena keyakinan atas pilihan kita.
Saya yakin Anda pasti pernah mengalami hal-hal seperti ini : Suatu
kali seorang teman Anda datang lalu dia bercerita tentang bisnis
jual sembako atau mracangan kebutuhan sehari-hari. Katanya ini
bisnis sangat bagus karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Lain
waktu ada lagi teman lain bercerita tentang usaha bengkel atau jasa
cuci kendaraan. Katanya sekarang ini jumlah kendaraan bermotor
semakin banyak setiap tahunnya, dan pasti butuh bengkel dan tempat
mencuci. Tidak lupa angka-angka statistik pun dipaparkan. Ada lagi
teman lain mengusulkan tentang bisnis apotek atau toko obat. Katanya
siapa yang tidak butuh obat, setiap orang kaya atau miskin pasti
membutuhkannya (ini kata lain dari : setiap orang pasti bergiliran
sakit).
Ada lagi yang menyarankan usaha toko besi atau material bangunan.
Digambarkannya tentang pesatnya pertumbuhan kota yang pasti butuh
sarana rumah, kantor, pabrik dan sebagainya yang kesemuanya perlu
suplai material bangunan. Belum lagi peluang di bisnis propertinya.
Datang lagi teman lain, dengan sangat bersemangatnya bercerita bahwa
usaha warung makan atau restoran itu luar biasa prospeknya,
lebih-lebih di kawasan dekat kampus atau perkantoran. Margin
keuntungannya pun cukup tinggi. Dan masih banyak cerita, usul,
saran, datang dari mana-mana tentang bisnis yang semuanya
menggambarkan prospek yang bagus.
Apakah itu salah? Sama sekali tidak. Semua itu benar adanya. Hanya
saja kita perlu jeli, apakah peluang bisnis itu akan cocok dengan
karakter kita? Termasuk karakter di bawah bantal kita, juga karakter
kita dalam mengelola resiko. Mana yang paling pas?
Karena itu ojo gumunan, jangan mudah terpesona. Kalau ada orang
bikin pabrik garuk punggung lalu sukses jadi jutawan, maka Anda pun
ingin menirunya karena mengira bahwa punya usaha garuk punggung
adalah peluang bisnis yang bagus bagi Anda. Atau, ada orang yang
dulu jual perkedel kacang tholo kelilingan yang sekarang punya dua
truk, lalu Anda pun berkesimpulan bahwa bisnis jual perkedel kacang
tholo adalah peluang bisnis yang baik bagi Anda. Atau, ada pengusaha
sukses yang sekarang punya waralaba memandikan kucing, lalu Anda pun
menyangka bahwa bisnis memandikan kucing adalah peluang bisnis yang
menjanjikan.
Meniru kok jadi tradisi - Tanya kenapa? Untuk ini sebaiknya Anda
percaya, bahwa apa yang baik dan cocok bagi orang lain belum tentu
baik dan cocok bagi kita.
Meniru sendiri bukan hal yang salah, bukan juga langkah bodoh.
Melainkan ada beda antara meniru secara “Just Do It” dan meniru
secara “Just Plan It”. Entoch, akhirnya harus meniru juga, go
ahead…….!
Lebih baik, buka mata, buka telinga, buka hati, lalu cup….., tangkap
sebuah peluang yang dirasa paling cocok. Apapun peluang itu. Sekali
lagi, apapun peluang itu, lalu garaplah!. Betapapun kecilnya,
betapapun terlihat biasa-biasa saja, betapapun ndeso-nya. Menangkap
peluang tidak serta-merta berarti harus dijalani, karena setiap
peluang kemudian perlu ditimbang matang-matang sebelum mulai
dieksekusi. Bisa jadi, peluang pertama yang ditangkap adalah bukan
peluang yang “sebenarnya”, tapi mulailah merencanakan dan
melakukannya dengan kesungguhan.
Kenapa peluang pertama barangkali bukan peluang yang “sebenarnya”?
Karena peluang pertama ini siapa tahu hanya sebagai pintu masuk saja.
Pintu masuk yang akan mengantarkan menuju ke peluang-peluang baru
yang lebih potensial, prospektif dan lebih cocok ditekuni, yang
merupakan hasil pancingan dari peluang yang pertama itu. Kelak
seiring perkembangan usaha tinggal memutuskan akan melanjutkan untuk
mengembangkan peluang pertama yang sudah dimulai, atau
berkonsentrasi pada peluang turunan yang diyakini lebih cocok, atau
malah menjadi konglomerat yang mengerjakan semua peluang yang ada.
***
Nah, kini biar saya tebak apa yang muncul di pikiran Anda. Sampeyan
pasti sedang ngrasani saya : ini pengelola “Madurejo Swalayan” kayak
yak-yak-o saja.
Apa sudah mengalaminya? Saya pun harus menjawabnya dengan jujur :
“Sudah, pengalaman saya kira-kira sudah tujuh-bulan jalan…….”.
Tinggal sekarang Anda yang memilih, di antara : Kisah sukses orang
yang sudah malang-melintang di dunia bisnis selama lebih 20 tahun
yang akhirnya membuat Anda terkagum-kagum dan terlena karena setelah
itu Anda tetap tidak tahu apa yang mestinya dilakukan?.
Atau, kisah belum sukses orang yang malang (belum melintang) yang
baru nujuh-bulanan belajar bisnis (itupun kalau lagi mikir suka
ditinggal tidur) tapi bisa membuat Anda seperti dibangunkan dari
tidur? It’s your call. Bagi saya, apa yang saya pikirkan sepanjang
hayat dikandung badan adalah juga sebuah pengalaman.
Kalau saya, kalau saya ini lho….., lebih baik terlena tapi ada yang
membangunkannya. Daripada teruuuussss terlena dan terkagum-kagum dan
manggut-manggut dan larut dalam pujian kesana-kemari, eee…..tahu-tahu
terserang bludrek ketika tiba-tiba anak perempuannya minta
dinikahkan dan perlu biaya ngudubilah banyaknya (Anda pun masygul :
rasanya baru kemarin lho dik, mas, mbak, pak de, bu de, setiap pagi
saya mengantar dia ke sekolah………..
Dari jauh terdengar sayup-sayup siaran radio swasta niaga
mengalunkan lagu berjudul “Terlambat Sudah”………).
Madurejo, Sleman – 22 Pebruari 2006.
Yusuf Iskandar
http://gajahsora.com