Kumpulan ARTIKEL
Dikumpulkan dari korespondensi dengan teman-teman
Satu tulisan saya di muat di Majalah Intisari terbitan APRIL
2001 halaman 29. masih berupa STOPPER, yaitu artikel ringan yang
menjembatani perubahan dari satu Artikel Utama ke Artikel utama
lainnya.
Majalah Intisari sendiri sudah minta saya menulis lebih banyak
lagi.Tokoh yang ditulis ini memang bener-bener ada. Mbak SUTO
KARAK adalah pembuat kerupuk Karak dari desa WEDI Mbayat, Klaten
yang ternyata Kakeknya Erni, istri saya. Nano kasus adalah Driver
Perusahaan. Pak Suratman ya nama bapak saya sendiri beliau di
usia 70 lebih masih nampak gagah sehingga kadang saya sering
dikira adiknya.
Majalah Intisari April 2001
PAK DEPAN
Nama alias sering dipakai orang memanggil rekan akrabnya.
Misalnya Suto Karak untuk pak Suto yang sampai usia lanjut masih
menekuni usahapembuatan kerupuk "karak" dari beras
ketan. Atau Paidi Grameh, lantaran pekerjaan sehari-harinya memelihara ikan
Gurami.
Atau pula Nano Kasus, yang ternyata sering mengawali pembicaraan
dengan ucapan, "Wah, ada kasus." Bahkan saat ditilang
polisipun ia akan mengatakan, "Saya ada kasus dengan polisi."
Tapi, lain lagi dengan Pak Suratman (70), ayah saya, yang
populer dengan nama Pak Depan. Setelah diusut-usut, semua bermula
dari kegemaran Pak Suratman, yakni berolahraga.
Pak Suratman sering mengalami kesulitan dalam mengenakan pakaian
olahraga. Ia bingung menentukan mana bagian depan pakaian yang
umumnya terbuat dari kaus itu. Kesulitan makin menjadi bila ia
harus mengenakan celana panjang Training yang tidak berkantung
belakang dan tanpa label.
Untuk menyiasatinya, maka bagian depan pakaiannya diberi tulisan
"DEPAN". Beliaupun lega bisa menjalani hobinya dengan
mudah.
Satu masalah hilang, tapi timbul masalah baru. Di tempat berlatih
olah raga, yakni disepanjang Trotoar di Teluk Betung, Bandar
Lampung, kenalan barunya banyak mengira "DEPAN" adalah
namanya. Mereka tidak salah.
Bukankah pada umumnya orang selalu membubuhkan inisial ataupun
namanya pada barang miliknya?
[Mimbar Seputro]
|