Nagasasra dan Sabukinten

Gajahsora.Net

Mahesa Jenar merasakan betapa udara       panas melibat seluruh tubuhnya. Bagaimana kulitnya serasa terkelupas       karena sentuhan-sentuhan tubuh Pasingsingan

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

486
PASINGSINGAN tertawa sambil bertolak pinggang, dan dari sela-sela lubang topengnya terdengarlah ia bergumam, ”Hem... aku terpaksa melakukan apa yang telah aku katakan. Mematahkan tulangmu satu demi satu. Aku ingin melihat kau kesakitan dan ingin mendengar kau berteriak minta ampun.”

Mendengar ancaman itu, teganglah semua orang yang berdiri agak jauh dari lingkaran pertempuran itu. Tetapi pastilah bahwa mereka tidak akan tinggal diam. Karena mereka sama sekali tidak mampu untuk mendekati iblis itu, maka mereka menjadi agak bingung, bagaimana cara mereka untuk berjuang bersama-sama, dan kalau perlu mati bersama-sama dengan Mahesa Jenar.

Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba Pasingsingan dikejutkan oleh seleret sinar yang tebal menyambarnya. Karena itu mendadak suara tertawanya terhenti. Dengan lincahnya ia merendahkan dirinya sambil berputar setapak ke samping. Namun belum lagi ia berhenti bergerak, disusullah sinar tebal itu dengan sambaran sinar yang lain.

Sekali lagi Pasingsingan terpaksa menghindar. Ketika itu ia kemudian melihat bahwa kedua sambaran sinar itu tidak lain tombak pendek yang melontar dari tangan Arya Salaka, disusul oleh sebatang trisula dari tangan Mantingan, terdengarlah hantu itu menggeram marah. Sekali lagi terdengar ia bergumam, ”Tikus-tikus yang malang. Jangan banyak tingkah. Supaya kau nanti dapat mati dengan tenang.”

Dalam pada itu dada Rara Wilis pun terasa menjadi pepat. Sesaat ia memejamkan matanya. Ia tidak sampai hati melihat Mahesa Jenar terbanting. Tetapi ia tidak mau membiarkan laki-laki itu mengalami cidera. Tetapi tidak sesadarnya, ia berusaha untuk meloncat mendekati.

Namun langkah Wilis pun terhenti ketika tubuhnya serasa hangus terbakar. Tetapi hatinyalah yang lebih dahulu hangus daripada tubuhnya, sebab bagaimanapun juga Mahesa Jenar adalah tempat ia meyangkutkan harapan bagi masa depan.

Terdorong oleh perasaan yang tak disadarinya sendiri, yang jauh lebih tebal dari perasaan setiakawan, telah memaksa Rara Wilis untuk tidak mempedulikan diri sendiri. Meskipun tubuhnya serasa terbakar oleh panas yang melampaui panasnya api, ia mencoba juga berjalan setapak demi setapak ke arah Mahesa Jenar, sedang matanya sama sekali tidak mau melepaskan setiap gerak gerik hantu berjubah abu-abu itu. Kalau-kalau tiba-tiba ia meloncat dan menyerangnya.

Tetapi sebalum ia berhasil mencapai laki-laki yang dicemaskan itu, terasa seluruh kulit dagingnya menjadi luluh. Ketika ia maju setapak lagi, ia menjadi kehilangan segenap daya tahannya. Bagaimanapun ia berusaha, akhirnya ia terhuyung-huyung jatuh. Tetapi betapa terkejutnya ketika terasa sepasang tangan menyambarnya. Dan dengan suatu loncatan panjang ia telah dibebaskan dari daerah pengaruh yang berbahaya dari aji Alas Kobar itu.

Dengan cemas ia mencoba mengamat-amati, siapakah yang telah menolongnya itu. Sekali lagi ia terkejut kepadanya. Ternyata yang menyelamatkannya dari lingkaran yang berbahaya itu adalah Mahesa Jenar sendiri. Semula ia hampir tidak percaya pada dirinya. Bahkan ia mengira, apakah ia tidak bermimpi atau pingsan atau mati, dan bertemu dengan laki-laki itu di alam lain.

Tetapi perasaan itu segera lenyap ketika terdengar suara Pasingsingan menggeram, ”Setan. Ternyata nyawamu rangkap, Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar kemudian meletakkan Rara Wilis dari tangannya. Ternyata daya tahan gadis itu luar biasa pula, sehingga demikian ia menyentuh tanah, demikian ia telah dapat berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya segenap mata yang memandangnya memancarkan keheranan dan kekaguman. Bahkan seperti sorot mata yang bimbang akan kebenaran penglihatan mereka.


Tiba-tiba dari antara mereka Arya Salaka meloncat berlari ke arah gurunya, kemudian meraba-raba tubuh itu sambil berkata lirih, ”Adakah guru selamat...?”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana mereka tidak heran, kalau dirinya sendiripun hampir-hampir tidak mengerti atas peristiwa-peristiwa yang dialami. Namun pengenalannya pada getaran-getaran yang memancar dan pepat jantungnya telah memberinya sedikit keterangan, bahwa kekuatan Sasra Birawa-nya telah mengalir dan membendung segenap rangsangan yang menyentuh tubuhnya.

Memang mula-mula Mahesa Jenar merasakan betapa udara panas melibat seluruh tubuhnya. Bagaimana kulitnya serasa terkelupas karena sentuhan-sentuhan tubuh Pasingsingan. Namun sejak ia mulai mengatur diri, memusatkan tekad pada perlawanan atas serangan panas di segenap permukaan tubuhnya, pernafasan yang diaturnya baik-baik seperti apabila ia siap untuk melontarkan ilmunya Sasra Birawa, terasa betapa di dalam tubuhnya terjadi pergolakan-pergolakan yang cepat.

Terasa betapa getaran-getaran dari pusat jantungnya mulai bergerak. Tidak ke sisi telapak tangannya, namun menjalar ke segenap bagian tubuhnya. Dengan demikian, kekuatan di dalam dirinya telah langsung mengadakan perlawanan. Pada saat yang demikian itulah ia merasa sebuah dorongan yang kuat pada pundaknya, disertai suatu gigitan nyeri yang bukan main, sehingga ia terdorong dan terbanting jatuh.

Untuk sesaat memang seolah-olah ia kehilangan daya perlawanannya. Tetapi dalam pada itu, getaran-getaran di dalam tubuhnya itu menjadi semakin deras mengalir. Apalagi Mahesa Jenar membiarkan dirinya seperti sebuah batu yang menggelinding karena sebuah dorongan yang kuat tanpa daya perlawanan. Dengan demikian ia dapat tetap pada pemusatan pikiran, mempercepat aliran getaran-getaran dari pusat jantungnya itu, sehingga batu itu sendiri sama sekali tidak mengalami cidera sama sekali.

 

Serial Bersambung 02 Juli 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja No. 487

 

AKHIRNYA segenap perasaan sakit, nyeri, panas dan segala macam perasaan yang merangsang dari luar tubuhnya, perlahan-lahan menjadi berkurang, bahkan akhirnya menjadi punah sama sekali.

Meskipun ia masih berada dalam jarak capai aji Alas Kobar, namun ia tidak lagi merasakan betapa panasnya aji itu, yang semula dirasanya melampaui panasnya bara.

Mahesa Jenar tidak segera bangkit. Ia masih mencoba meyakin keadaannya. Karena itulah maka seolah-olah Mahesa Jenar setelah terbanting jatuh tidak mampu lagi untuk tegak kembali. Mahesa Jenar masih tetap berdiam diri, ketika ia melihat tombak muridnya menyambar Pasingsingan, disusul oleh sebuah trisula yang terbang secepat kilat. Namun kedua senjata itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Tetapi ia tidak dapat tetap berbaring di situ, ketika ia melihat Rara Wilis dengan tanpa menghiraukan keadaan diri sendiri, mencoba menerobos lingkaran aji Alas Kobar. Apalagi ketika ia melihat gadis itu menjadi sangat payah dan hampir-hampir saja terjatuh. Dengan sigapnya ia melenting berdiri dan meloncat ke arah Rara Wilis. Untunglah Mahesa Jenar berbuat cepat pada saatnya, sehingga dengan lemahnya Rara Wilis terkulai di tangannya. Meskipun dalam keadaan yang bagaimanapun juga, namun Rara Wilis yang dengan lemahnya, menyandarkan kepalanya pada dadanya itu, telah menggetarkan perasaannya.

Perasaan seorang laki-laki yang sedang mengenyam angan-angan tentang seorang gadis. Mau rasa-rasanya, untuk tidak melepaskan gadis itu dari tangannya untuk seumur hidupnya. Tetapi keadaan itu kemudian hancur terurai oleh geram Pasingsingan. Dan karena itulah maka Mahesa Jenar sadar, bahwa bahaya masih tetap melekat di hidungnya.

Maka perlahan-lahan Rara Wilis itu kemudian diletakkan di atas tanah. Mahesa Jenar menjadi terharu juga, ketika muridnya berlari-lari untuk meraba-raba tubuhnya, seolah-olah mencari-cari apakah ada yang hilang darinya. Dengan penuh perasaan sayang seorang ayah, Mahesa Jenar menepuk kepala anak muda itu sambil menjawab pertanyaan, “Aku tidak apa-apa, Arya. Bukankah anggota badanku masih utuh?

Tetapi mereka tidak bercakap-cakap lebih banyak. Pasingsingan yang melihat Mahesa Jenar itu bangkit kembali dan seolah-olah tidak pernah mengalami sesuatu, menjadi tidak kalah herannya. Tetapi justru dengan demikian hatinya menjadi semakin panas. Ia cemas pada kenyataan, bahwa Mahesa Jenar kini adalah seorang yang memiliki kesaktian yang tinggi.

Cemas pada kegagalannya untuk mendapatkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang akan dipergunakan sebagai pancatan, nggayuh kemukten, mencapai impiannya yang indah. Kekuasaan atas gerombolannya, untuk kemudian meningkat pada kekuasaan atas tanah ini. Atas kerajaan Demak.

Namun demikian, terdorong oleh nafsu yang bergelora di dalam dadanya, maka ia merasa, bahwa Mahesa Jenar harus dibinasakan. Ia tidak perlu berfikir lagi, apakah ia harus bersikap jantan atau tidak.

Namun tujuannya sudah pasti. Membunuh laki-laki yang menghalang-halangi niatnya. Selama orang yang bernama Mahesa Jenar dan bergelar Rangga Tohjaya itu masih hidup, selama itu pula niatnya akan selalu dirintanginya.

Karena itu, maka dengan menggeram penuh kemarahan, berkilat-kilatlah sebuah pisau belati panjang di tangan hantu berjubah abu-abu itu. Ia sudah bertekad untuk membunuh Mahesa Jenar dengan Alas Kobar bersama-sama dengan pusaka Pasingsingan, Kiai Suluh, yang bercahaya kekuning-kuningan.

Melihat Pusaka itu, Mahesa Jenar terkejut. Ia tahu benar betapa berbahayanya pisau belati itu. Pisau belati ciri khusus dari orang yang bernama Pasingsingan, yang diterima turun-temurun dari Pasingsingan tua, Raden Buntara, lewat Radite, yang kemudian karena keteguhan jiwa Radite dapat digoncangkan oleh paras yang cantik, akhirnya pusaka itu jatuh ke tangan iblis yang berbahaya ini. Demikianlah, maka kini Mahesa Jenar harus berjuang mati-matian.

Untunglah bahwa aji Alas Kobar itu sudah tidak berpengaruh atas tubuhnya, sehingga ia dapat memusatkan daya perlawanan terhadap pisau belati Pasingsingan itu. Ketika Pasingsingan sudah siap,

Mahesa Jenar segera melangkah maju. Dengan dada tengadah ia berjalan perlahan-lahan, namun dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri, penuh kepercayaan pada kekuasaan Tuhan, bahwa pengabdiannya akan mendapat limpahan perlindungan-Nya. Sebab iapun yakin bahwa setiap pengingkaran pada kebenaran, bagaimanapun juga dipertahankan dan diperjuangkan oleh kekuatan apapun, namun tak ada kekuatan yang mampu melawan hukum kebenaran dan keadilan yang digoreskan oleh tangan Yang Maha Adil.

Sekali lagi dada Pasingsingan bergetar melihat sikap Mahesa Jenar. Tenang, namun meyakinkan. Dalam saat yang sekejap itu melingkar-lingkarlah di dalam benak Pasingsingan, bayangan-bayangan dari masa lampaunya dan gambaran dari masa idamannya, yang bergumul pula dengan bayangan-bayangan Pasingsingan-Pasingsingan yang terdahulu, silih berganti.

Kemudian sampailah ia pada suatu umpatan yang kotor terhadap Radite dan Anggara. Kepadanyalah ia melimpahkan kesalahan, sebab Umbaran itu menyangka bahwa Mahesa Jenar menjadi masak karena tangan mereka, untuk dijadikan alat membalas sakit hatinya, sebab Radite sendiri terikat dengan suatu perjanjian yang tak akan dilanggarnya.

Apalagi ketika ia melihat Mahesa Jenar sama sekali tidak terpengaruh oleh aji andalannya, Alas Kobar.

Ketika ia sedang menimbang-nimbang, tiba-tiba bersama dengan desir angin malam yang mengusap daun-daun pepohonan, terdengarlah kembali telapak kaki kuda yang semakin lama semakin dekat.

Mahesa Jenar tersenyum mendengar telapak kaki kuda itu. Ia percaya bahwa tak seorangpun dapat menghalangi perjalanan Kebo Kanigara. Kalau orang itu cepat sebelum hantu itu pergi, maka ia mengharap akan dapat menangkap Umbaran itu hidup-hidup. Ia ingin menyerahkannya kepada Pasingsingan tua, untuk mendapat pengadilan.

Serial Bersambung 03 Juli 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja No. 488

PASINGSINGAN melihat perubahan wajah Mahesa Jenar itu. Karena itu ia curiga. Ia tidak tahu siapakah yang datang berkuda itu.

Dengan penuh perhatian ia mencoba mengetahui, kira-kira berapa orang yang akan datang pula ke tempat itu. Telinganya yang tajam segera dapat mengetahui bahwa derap kuda itu tidak akan lebih dari lima atau enam. Dengan demikian ia dapat mengira-ira kekuatan rombongan itu. Tetapi karena otak Pasingsingan sedang terganggu oleh bayangan-bayangan yang mencemaskan hatinya, bayangan bayangan Pasingsingan tua, Radite, dan Anggara, maka tiba-tiba menjalarlah dugaannya kepada salah seorang dari mereka.

Apakah didalam rombongan itu akan datang pula Radite atau Anggara? Atau malah kedua-duanya...? Seandainya bukan mereka sekalipun, semakin banyak orang yang harus dilawannya, semakin kecil pula kemungkinan yang dapat diperoleh untuk memenangkan pertempuran ini. Sebab ia yakin bahwa seandainya ia pun pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu disamping Mahesa Jenar sendiri, kehadiran orang lain di perkemahan itu akan dapat menambah kesulitan bagi Pasingsingan. Apalagi kalau ia mengetahui, bahwa yang datang itu adalah seekor burung rajawali yang perkasa, yang bahkan melampaui keperkasaan Mahesa Jenar, lawannya yang mencemaskan hatinya itu. Karena itulah maka akhirnya dengan kecewa Pasingsingan terpaksa melihat kenyataan-kenyataan itu.

Sebagai seekor serigala yang ganas, ia tidak mau mati di dalam kandang kelinci. Maka ketika didengarnya bahwa telapak kuda itu dengan lajunya mendekati perkemahan itu, tiba-tiba Pasingsingan menggeram keras sekali. Mahesa Jenar pun segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Matanya tidak bergeser dari ujung pisau belati Pasingsingan yang berwarna kuning kemilau. Tetapi adalah diluar dugaannya, bahwa tiba-tiba hantu berjubah abu-abu itu seperti terbang melontar mundur, dan dengan kecepatan luar biasa ia memutar tubuhnya dan meluncur seperti dihembus badai.

Mahesa Jenar untuk beberapa saat tertegun heran. Karena itulah ia kehilangan waktu untuk mengejarnya. Meskipun kemudian Mahesa Jenar dengan kecepatan yang tak kalah dari kecepatan Pasingsingan meloncat mengejarnya, namun hantu itu telah lenyap di dalam semak-semak, berselimut kehitaman malam. Sementara itu, derap kaki-kaki itu sudah semakin dekat. Dan tiba-tiba dari dalam gelap tersembullah beberapa orang penunggang kuda.

Yang paling depan adalah Kebo Kanigara yang masih melekatkan hampir seluruh tubuhnya pada punggung kudanya. Demikian kuda itu masuk ke halaman perkemahan itu, dengan sigap para penunggangnya segera menarik kekangnya, sehingga kuda-kuda itu meringkik dan berdiri pada kedua kaki belakang. Demikian kuda itu meletakkan kedua kaki mereka, sedemikian para penunggangnya berloncatan turun.

Ketika Endang Widuri melihat ayahnya datang, segera ia meloncat berlari ke arahnya sambil berteriak, ”Ayah, sayang ayah terlambat.

Melihat putrinya berlari-lari menyongsong, dada Kebo Kanigara serasa tersiram embun. Namun ia menjadi sedikit ragu mendengar kata-kata itu, sehingga terlontarlah pertanyaannya, ”Apa yang terlambat?

Widuri kemudian dengan manjanya memeluk lambung ayahnya sambil menjawab, ”Baru saja kami menonton pertunjukan yang luar biasa.”

”Pertunjukkan apa?” desak ayahnya tidak sabar.

Paman Mahesa Jenar bermain sulap melawan tukang sihir berjubah abu-abu,” jawab gadis itu.

Mendengar keterangan Endang Widuri, Kebo Kanigara menarik nafas. Terdengarlah ia berdesis perlahan, ”Pasingsingan...?

Tetapi ia sudah tidak terkejut lagi, sebab ia memang sudah menduga sebelumnya, bahwa guru Lawa Ijo itu berada di perkemahan.

Di mana pamanmu sekarang?” tanya Kebo Kanigara.

”Paman mengejar tukang sihir itu,” jawab Endang Widuri.

Sementara itu yang lainpun telah berdiri mengitarinya.

Dengan penuh hormat mereka membungkukkan kepala. ”Adakah kalian selamat?” tanya Kebo Kanigara kepada mereka.

”Atas pangestu Kakang, kami semua selamat. Karena Adi Mahesa Jenar tidak terlambat datang,” jawab Mantingan.

Kebo Kanigara masih melihat kesan-kesan yang mencemaskan pada wajah-wajah mereka. Apalagi pada wajah Rara Wilis yang hampir-hampir saja hangus oleh aji Alas Kobar, sedang Widuri itupun masih kelihatan pucat.

”Apa yang sudah dilakukan?” Kebo Kanigara bertanya pula. Tetapi sebelum Mantingan sempat menjawabnya, terdengarlah Endang Widuri berceritera dengan riuhnya, ”Setan itu bisa menjadikan dirinya panas seperti bara, dan dengan suara tertawa ia dapat merontokkan isi rongga dada. Ah sayang, ayah tidak melihat kami pada waktu itu. Lucu sekali. Pasingsingan itu sama sekali tidak berbuat apa-apa kecuali tertawa. Dan kami semuanya menggigil, bahkan seperti ayam disembelih. Bukankah itu aneh sekali? Untunglah bahwa Paman Mahesa Jenar dapat menghentikannya sebelum jantung kami patah karenanya.”

Mendengar ceritera anaknya, Kebo Kanigara mau tidak mau harus tersenyum. Tetapi kemudian senyumnya terpaksa ditahannya ketika anaknya itu meneruskan, ”Kenapa ayah tersenyum, sedang kami hampir mati karenanya?”

”Bukankah kau sendiri berkata bahwa hal itu adalah lucu sekali?” bantah ayahnya.

”Tetapi ayah jangan tersenyum. Sebaiknya ayah mengucapkan ikut berduka cita. Apalagi Bibi Wilis. Ketika bibi mencoba menolong Paman Mahesa Jenar yang tiba-tiba terbanting karena serangan Pasingsingan itu, agaknya Bibi Wilis nekad melawan udara panas yang memancar dari tubuh tukang sihir jahat itu,” sahut Widuri.

Serial Bersambung 04 Juli 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja No. 489

SEKALI lagi Kebo Kanigara tak dapat menahan senyumnya.

Tanpa disengaja ia memandang ke arah Rara Wilis yang menundukkan wajahnya. Ia menjadi malu mendengar ceritera gadis kecil itu. ”Aku berkata benar, Ayah...

Widuri meneruskan sambil merengut.

”Paman Mahesa Jenar itupun dapat dijatuhkannya, meskipun kemudian terpaksa bangun kembali.”

”Kenapa terpaksa?” tanya Kebo Kanigara.

”Sebab Rara Wilis hampir terjatuh pula. Kalau tidak, barangkali Paman Mahesa Jenar masih enak-enak berbaring, menikmati hangatnya udara yang memancar dari tubuh Pasingsingan dimalam yang begini dingin,” jawab Widuri.

”Sudahlah... jangan membual,” potong ayahnya.

”Siapa bilang aku membual...?” sahut gadis itu.

”Aku berkata sebenarnya.”

Kebo Kanigara masih saja tersenyum. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Melontarlah di dalam benaknya perkataan anaknya itu, ”Paman Mahesa Jenar itupun dapat dijatuhkannya.”

Kemudian kepada Mantingan ia bertanya, ”Apakah Mahesa Jenar selamat?”

”Bagi kami agak sulit untuk dapat mengetahui keadaan sebenarnya. Sebab pertempuran itu berada jauh dalam tingkatan yang tidak dapat kami capai. Meskipun ia masih tetap segar dan bahkan sekarang iblis itu sedang dikejarnya,” jawab Mantingan.

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia terkejut ketika tiba-tiba didengarnya kemersik daun didalam semak-semak. Kemudian muncullah dari dalam semak itu, seorang laki-laki yang berjalan perlahan-lahan ke arahnya.

”Mahesa Jenar...” sapa Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar mengangguk hormat sambil menjawab, ”Ya, Kakang.

”Bagaimana dengan Pasingsingan?” tanya Kebo Kanigara.

Sambil menggeleng Mahesa Jenar menjawab, ”Aku tak berhasil menangkapnya.

Kembali Kebo Kanigara mengangguk-angguk.

Kemudian katanya, ”Tak apalah, bukankah ia tidak berhasil menimbulkan bencana?”

”Pangestu Kakang,” jawab Mahesa Jenar.

”Baiklah...” kata Kebo Kanigara seterusnya, ”Sekarang cobalah, bangunkan orang-orang yang terkena sirep itu. Mungkin pengaruhnya sudah jauh berkurang. Apalagi sumbernya telah pergi pula.”

Jaladri, Bantaran dan Penjawi tidak menunggu perintah itu diulangi. Segera mereka pergi berpencaran untuk membangunkan orang-orang yang tertidur nyenyak karena syarafnya dipengaruhi sirep yang disebarkan oleh Lawa Ijo. Sementara itu malam telah sampai di ujungnya. Di kejauhan sudah terdengar ayam hutan berkokok bersahutan. Sedang langit telah diwarnai oleh cahaya perak pagi. Cahaya lintang-lintang telah mulai pudar. Satu-satu mulailah mereka menghilang dari wajah langit yang biru bersih. Angin pagi yang berhembus lemah, menggoncang-goncang daun-daun pepohonan rimba.

”Marilah kita beristirahat,” kata Kebo Kanigara, ”Bukankah kaliah lelah?”

”Semalam aku tidak tidur,” sahut Widuri, ”Karena itu aku akan tidur sehari penuh.”

”Aku tidak percaya,” jawab ayahnya.

”Kenapa?” tanya Widuri.

”Belum lagi matahari sepenggalah, kau pasti sudah bangun dan bertanya apakah sudah ada makan pagi,” jawab ayahnya.

Widuri tidak menjawab. Ia hanya mencibirkan bibirnya. Kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan ke pondok yang disediakan baginya. Yang lainpun kemudian berlalu pula ke tempat masing-masing.

Mantingan berjalan dengan langkah gontai, sedang Wirasaba seolah-olah tinggal mampu menjerat tubuhnya dengan lemah. Meskipun sebenarnya ia tidak sedemikian parah tenaganya, namun peristiwa yang baru saja dilihatnya merupakan suatu peristiwa yang membekas dalam sekali di dalam hatinya.

Rara Wilis yang masih sangat pucat pun berjalan menyusul Endang Widuri untuk beristirahat. Ternyata para anggota laskar Banyu Biru yang tertidur, sudah tidak lagi dipengaruhi oleh sirep Lawa Ijo.

Meskipun masih ada diantara mereka yang merasa betapa nikmat mimpi yang diperoleh, namun merekapun kemudian berloncatan bangun ketika tubuh mereka digoncang-goncang oleh pemimpin-pemimpin mereka. Beberapa orang malahan menjadi bingung, sedang beberapa orang lain menjadi cemas dan malu. Lebih-lebih para petugas yang pada malam itu sedang mendapat giliran jaga.

Ketika mereka meninggalkan gardu pimpinan, mereka mendapat pesan untuk berhati-hati. Sebab mereka mendapat tanda-tanda buruk pada siang harinya. Apalagi firasat para pemimpin laskar Banyubiru itupun telah memberi mereka peringatan. Tetapi tiba-tiba pemimpin mereka itu terpaksa membangunkan mereka di saat fajar hampir pecah. Meskipun demikian, tersangkut pula di dalam dada mereka sebuah pertanyaan yang tak dapat mereka jawab sendiri, ”Kenapa mereka telah melakukan suatu perbuatan yang belum pernah mereka lakukan, dan bahkan belum pernah terjadi didalam perkemahan itu, dimana seorang yang diserahi tanggungjawab melalaikan tanggungjawab...? Apalagi tidur di saat-saat penjagaan.”

 


Serial Bersambung 05 Juli 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja No. 490

MEREKA menjadi agak terhibur ketika mereka mendengar penjelasan dari pemimpin-pemimpin mereka, bahwa meskipun mereka tertidur dalam tugas mereka, namun itu bukanlah kesalahan mereka seluruhnya. Sebab memang pengaruh sirep Lawa Ijo itu sedemikian tajamnya, sehingga sulitlah untuk melepaskan darinya.

Ketika para pemimpin Banyu Biru itu kemudian menempatkan petugas-petugas baru pada titik-titik yang dianggap perlu untuk mendapat pengawasan, merekapun berpesan wanti-wanti kepada para petugas itu, bahwa mereka harus benar-benar waspada. Mereka diwajibkan segera memberikan tanda-tanda apabila ditemuinya sesuatu yang mencurigakan, apalagi membahayakan. Sesaat setelah mereka berangkat, di dalam gardu pimpinan itu duduklah beberapa orang yang bercakap-cakap dengan asyiknya. Diantara mereka adalah Jaladri, Bantaran, Penjawi dan Wanamerta. Dengan penuh semangat Jaladri berceritera tentang apa yang baru saja dilihatnya. Sesuatu yang belum pernah dibayangkan, meskipun hanya di dalam mimpi. Meskipun Jaladri sendiri pada saat itu harus bertempur, tetapi setiap kali ia sempat melirik ke arah lingkaran-lingkaran pertempuran yang lain. Ia melihat Rara Wilis itu bertempur seperti sikatan menyambar belalang. Sigap, cepat dan lincah. Endang Widuri benar-benar seperti burung camar yang bermain-main di atas gelombang. Meskipun lawannya adalah seorang yang gemuk dan bersenjata di keduabelah tangannya, namun gadis itu sama sekali tidak dapat digetarkan.

Yang menggemparkan dada Jaladri kemudian adalah Arya Salaka. Ketika ia telah kehilangan lawannya, melarikan diri, ia sempat untuk menyaksikan sepenuhnya pertempuran antara Arya Salaka melawan Lawa Ijo. Tak pernah ia membayangkan bahwa Arya Salaka mampu mengimbangi kekuatan Lawa Ijo dari Mentaok itu. Apalagi Lawa Ijo telah berhasil menyerang anak muda itu dengan udara panas, meskipun tidak sedahsyat Pasingsingan, namun seakan-akan tak terasa sama sekali oleh Arya Salaka. Bantaran dan Penjawi mendengarkan ceritera itu dengan seksama. Ia kecewa tidak dapat menyaksikan sendiri tingkat ilmu Arya Salaka. Sebab ia ingin membandingkan dengan tingkat ilmu Sawung Sariti, yang menurut pendengarannya telah meningkat sedemikian, bahkan ia telah memiliki ilmu sakti Lebur Seketi.

Di sebuah pondok yang lain, tampaklah Mahesa Jenar duduk, bersama Kebo Kanigara. Di sudut yang lain dari ruangan itu pula, Arya Salaka berbaring di atas sebuah bale-bale bambu. Ia pun ternyata lelah.

Meskipun demikian ia tidak tertidur. Lamat-lamat ia masih mendengar gurunya itu bercakap-cakap dengan Kebo Kanigara.

”Aku dengar dari Widuri, Pasingsingan itu berhasil mendorongmu jatuh...?” tanya Kebo Kanigara.

”Ya, Kakang,” jawab Mahesa Jenar.

”Semula aku tidak tahu bagaimana aku melawan udara panas yang dilontarkan berdasarkan ajinya Alas Kobar.”

”Tetapi bukankah kau akhirnya dapat mengatasi aji Alas Kobar itu?” tanya Kanigara pula.

”Ya, tanpa aku ketahui, bagaimana terjadinya. Tetapi pada saat aku membulatkan tekad untuk melawan panas yang melibat seluruh tubuhku itu, tiba-tiba terasalah dari dalam dadaku getaran-getaran yang aku kenal sebagai sumber kekuatan Sasra Birawa mengalir ke segenap tubuhku. Dan dengan demikian aku kemudian terbebas dari pengaruh udara panas itu. Pada saat aku mengerahkan getaran-getaran itulah aku dapat dikenai oleh Pasingsingan, di pundakku, sehingga aku terdorong jatuh. Karena aku memang tidak mengadakan perlawanan pada daya dorong itu, sebab aku tidak mau kehilangan kesempatan, sehingga getaran-getaran itu terganggu.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia merasa bangga pula, bahwa Mahesa Jenar, meskipun tanpa disadarinya sendiri telah meningkat pula pada penguasaan ilmunya lebih sempurna lagi dengan mengalirkan ilmu Sasra Birawa ke segenap tubuhnya dalam bentuk perlawanan dan pertahanan.

Kemudian ia bertanya pula, ”Tidakkah iblis itu kau lumpuhkan dengan Sasra Birawa itu pula? Aku kira ia mempunyai cukup daya tahan sehingga ia tidak akan mati karenanya. Dengan demikian kau akan dapat menangkapnya hidup-hidup.”

Mahesa Jenar ragu sebentar.

Kemudian ia menjawab, ”Kakang, semula akupun bermaksud demikian. Tetapi ketika aku sadar bahwa getaran-getaran ilmuku sedang mengalir ke segenap tubuhku, aku takut kalau-kalau dengan demikian getaran-getaran itu harus terhisap kembali untuk kemudian aku salurkan ke sisi telapak tanganku. Dengan demikian aku akan hangus oleh aji Alas Kobar itu.”

Kebo Kanigara kini tidak hanya tersenyum.Tetapi ia tertawa. Katanya, ”Itulah keistimewaanmu Mahesa Jenar. Kau berhasil menekuni ilmu perguruan Pengging sehingga hampir sempurna, tanpa tuntunan dari siapapun. Karena itu di dalam perkembangan yang terjadi pada dirimu, ada beberapa unsur yang tak kau kenal sendiri. Kau berhasil meragakan sukmamu pada saat kau capai kesempurnaan ilmu Sasra Birawa. Tetapi dalam penerapan yang pernah kau kenal sebelumnya. Sedangkan sebenarnya engkau dapat menerapkan dalam keperluan lain, karena kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhmu itu adalah kelengkapan darimu sendiri yang tunduk pada kehendakmu. Dengan demikian, Mahesa Jenar, aku yakin sekarang, bahwa kau benar-benar akan dapat mengalahkan iblis itu apabila pertempuran diteruskan. Sebab ilmu Sasra Birawa adalah seperti mata air yang agung yang tak akan kering meskipun airnya mengalir siang dan malam ke segenap penjuru.”

Mendengar uraian Kebo Kanigara itu, alangkah besarnya hati Mahesa Jenar. Ia merasa bahwa dadanya bergetar karena bangga. Ah, seandainya saja ia tahu sebelumnya, bahwa ilmu Sasra Birawa yang bersumber di pusat dadanya itu seperti mata air yang tak akan kering disegala musim.

Seandainya ia tahu bahwa ia dapat mempergunakan ilmu itu sekaligus untuk berbagai kemungkinan.