Nagasasra dan Sabukinten

Serial Bersambung 26 Juni 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja No. 481

SEMUA orang yang mendengar suara tertawa itu terkejut. Segera mereka berloncatan mundur, untuk mengurangi tekanan udara yang seperti akan membelah dada mereka. Dengan penuh tenaga dan pemusatan kekuatan batin segera mereka berjuang melawan ilmu Gelap Ngampar itu.

Demikian dahsyatnya ilmu itu, sehingga mereka yang mendengarnya menjadi mengigil seluruh tubuhnya.

Perlahan-lahan terasa darahnya seolah-olah membeku, dan segenap tulang-tulangnya terlepas dari sendi-sendinya. Yang mula-mula sekali tidak kuat melawan pengaruh tertawa itu adalah Jaladri. Seperti orang kehilangan segenap tenaganya ia jatuh tertunduk. Canggahnya terlepas dari tangannya, yang kemudian dengan sekuat-kuat sisa tenaganya ditekankannya tangan itu ke dadanya, seolah-olah untuk menjaga agar isi dadanya itu tidak rontok.

Wirasaba pun telah menggigil dengan kerasnya. Ia masih mencoba bertahan pada tangkai kapaknya.

Demikian pula yang lain, semakin lama menjadi semakin kehilangan tenaga.

Mahesa Jenar pun merasakan akibat dari Gelap Ngampar itu. Ia pernah mengalami serangan serupa, beberapa tahun lalu di alun-alun Banyubiru. Untunglah bahwa pada saat itu hadir Ki Ageng Pandan Alas yang dapat melawan Gelap Ngampar itu dengan suara tembangnya, yang sebenarnya berlandaskan pada ilmu yang dinamai Sapu Angin.

Tetapi bagi Mahesa Jenar, akibat dari serangan Gelap Ngampar itu kini terasa berbeda sekali dengan serangan yang dialaminya lima tahun yang lampau. Suara tertawa itu kini tidak demikian berpengaruh pada dirinya, seolah-olah dadanya sudah berlapis baja, akibat dari perjuangannya, menguasai diri, bahkan ia telah berhasil meragakan sukma di dalam gua di Karang Tumaritis.

Akibat daripadanya ternyata dahsyat sekali. Kecuali ia telah berhasil menemukan inti dari ilmu perguruan Pengging, lahir-batinnya juga sudah tertempa kuat sekali. Bahkan Mahesa Jenar telah menemukan kekuatan-kekuatan yang tak pernah dikenalnya di dalam tubuhnya. Kekuatan yang melampaui kekuatan manusia biasa. Yang tak dapat diketemukan dalam pengamatan wajar dari seorang ahli sekalipun, karena kekuatan kekuatan itu langsung diterima dari sumbernya.

Inilah ciri adanya kekuasaan yang tak kasatmata. Kekuasaan dari Yang Mahasa Kuasa. Sehingga karena itu pulalah maka peristiwa-peristiwa di dunia ini betapapun dirancang oleh manusia dengan cermatnya, sebagaimana kewajiban manusia adalah berusaha, namun akhirnya penentuannya adalah di tangan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, maka Mahesa Jenar sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh ilmu Gelap Ngampar itu.

Tetapi ketika ia menoleh kepada kawan-kawannya ia menjadi terkejut sekail. Dadanya berguncang cepat. Sebab ia melihat hampir tak seorangpun dapat bertahan. Mereka telah hampir kehilangan kekuatan masing-masing sebagai akibat dari tekanan ilmu Gelap Ngampar yang langsung mempengaruhi urat syaraf mereka.

Karena itu Mahesa Jenar menjadi bingung. Ia tidak memiliki ilmu seperti yang dimiliki oleh Pandan Alas.

Meskipun daya tahannya sendiri barangkali tidak kalah dengan daya tahan Pandan Alas, namun untuk membantu orang lain, melenyapkan pengaruh Gelap Ngampar itu adalah sulit baginya. Dalam pada itu teringat pula olehnya, pengasuh yang serupa di Pulau Hantu di Laut Kuning. Menurut pendengaran Mahesa Jenar, di Pulau Hantu itu sering juga terdengar suara yang tertawa demikian mengerikan sehingga kadang-kadang para pelaut yang membawa kapalnya lewat di dekat pulau itu dapat menjadi gila. Kehilangan tenaga dan akal. Ada yang bahkan menjadi lemas dan mati.

Yang lebih mengerikan lagi ada diantara mereka menjadi saling berkelahi dan saling membunuh. Untuk sementara Mahesa Jenar tidak tahu bagaimana dapat menolong kawan-kawannya dari serangan yang aneh itu. Tetapi kemudian ia menemukan suatu cara yang mungkin dapat dilakukan. Kalau sumber suara tertawa itu dapat dihentikan, ia mengharap pengaruhnya pun akan lenyap sebelum sampai ke puncaknya.

Dengan demikian maka segera ia berdiri, dan dengan sigapnya ia melontarkan dirinya langsung menerjang dada Pasingsingan yang terbuka. Pasingsingan terkejut melihat serangan itu. Sejak semula ia sudah heran melihat Mahesa Jenar dapat mempertahankan dirinya dari serangan Gelap Ngampar, meskipun ia telah memperketat serangan itu. Bahkan kemudian Mahesa Jenar dengan derasnya menyerang dadanya. Meskipun demikian, serangan Mahesa Jenar itu bagi Pasingsingan hanya dapat menambah kemerahannya saja. Ia menganggap bahwa perbuatan itu adalah perbuatan bunuh diri.

Karena itu dengan tetap melancarkan serangan Gelap Ngampar, Pasingsingan menyilangkan tangannya di muka dadanya untuk menangkis serangan Mehasa Jenar. Tetapi ketika kemudian terjadi benturan antara serangan Mahesa Jenar dengan pertahanan Pasingsingan, terbukalah mata hantu berjubah abu-abu itu, bahwa lawannya bukanlah termasuk dalam gerombolan kelinci yang tidak tahu diri. Kerena Pasingsingan tidak mempergunakan segenap kekuatannya, maka dalam benturan itu ia telah terdorong surut beberapa langkah. Sedang Mahesa Jenar sendiri, terpental selangkah mundur.

Peristiwa yang tak terduga-duga itu telah menggoncangkan dada Pasingsingan. Heran, marah, dendam, bercampur baur melingkar-lingkar di dalam dadanya. Dalam pada itu, karena benturan yang tak terduga-duga itu, terputuslah suara tertawanya. Ia terpaksa mengerahkan segenap tenaganya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir-hampir saja terdorong jatuh. Tetapi kemudian dengan sigapnya Pasingsingan pun telah berhasil menguasai keseimbangannya kembali. Seperti sebatang pohon raksasa ia kemudian berdiri tegak. Giginya gemeretak, dadanya mengombak seperti akan meledak.

Sekali lagi matanya yang tersembunyi di belakang lubang topengnya itu memandang Mahesa Jenar dengan tajamnya. Kekuatan apakah yang telah membantunya, sehingga ia mampu melawan aji Gelap Ngampar dan sekaligus memberinya tenaga yang luar biasa besarnya..? 


Serial Bersambung 27 Juni 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 482

HANYA dalam waktu kira-kira lima tahun saja, sejak pertemuan mereka di Rawa Pening, kemampuan Mahesa Jenar telah sedemikian jauh menanjak. Pada saat itu, Mahesa Jenar berlima, melawan Pasingsingan dan Sima Rodra tua berdua, seolah-olah merupakan lima ekor tikus sakit-sakitan melawan dua ekor kuncing yang garang. Sekarang tiba-tiba salah seekor tikus itu telah berubah menjadi serigala, yang sedang menerkam salah seekor kucing yang garang itu.

Tetapi Pasingsingan adalah seorang yang telah kenyang makan garam sehingga segera dapat mengendalikan dirinya. Kini ia benar-benar menghadapi keadaan yang cukup berbahaya. Dengan benturan yang terjadi, Pasingsingan segera dapat mengetahui, bahwa Mahesa Jenar benar-benar memiliki bekal yang cukup untuk merasa dapat melawannya. Tetapi yang masih perlu diuji, apakah Mahesa Jenar dapat mempergunakan kekuatannya itu untuk melawan ketangkasan, ketangguhan dan kelincahan hantu bertopeng itu.

Karena itu, setelah beberapa lama Pasingsingan berdiri tegak mengawasi Mahesa Jenar, terdengarlah suaranya menggeram, "Mahesa Jenar, agaknya kau telah mendapat tenaga dari hantu penjaga Rawa Pening itu. Dan karena itulah kau merasa mampu untuk bertempur seorang lawan seorang dengan Pasingsingan. Setelah kau membual dengan ceritera tentang Pasingsingan yang berbelit-belit itu, sekarang kau benar-benar ingin mengadu tenaga. Mengadu liatnya kulit, kerasnya tulang. Tetapi kau jangan merasa gembira, karena kau berhasil mendorong aku mundur beberapa langkah. Tetapi kini aku akan maju lagi, dan tak seorangpun dapat mencegahnya.”

Mahesa Jenar kini melihat, bahwa Pasingsingan telah memutuskan untuk bertempur dengan sepenuh tenaganya. Karena itu iapun segera bersiap. Dengan penuh kewaspadaan Mahesa Jenar mengikuti setiap gerakan Pasingsingan, meskipun sepintas lalu ia masih sempat untuk mengerling kepada kawan-kawannya. Ternyata, ketika serangan Gelap Ngampar itu terputus sebelum sampai ke puncaknya, pengaruhnyapun terputus pula. Dengan demikian, meskipun perlahan-lahan, namun mereka yang dikenai oleh aji itupun terbebas pula. Mantingan, Wilis, Arya, Widuri, Wirasaba dan bahkan Jaladri, perlahan-lahan dapat menemukan kesadaran serta kekuatan mereka kembali. Mereka kini sudah tidak menggigil lagi, meskipun terasa dada mereka masih bergetar dan jantung mereka masih berdegupan.

Mantingan, Wilis Arya, Widuri dan Wirasaba telah mulai dapat melihat apa yang telah terjadi di hadapan mereka. Mereka mulai bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi seterusnya. Yang paling cemas diantara mereka adalah Mantingan. Meskipun tangannya masih gemetar, namun ia telah mencoba menggenggam trisulanya erat-erat.

Sementara itu Pasingsinganpun telah bersiap sepenuhnya. Dengan menggeram ia melompat menyerang Mahesa Jenar. Tidak dengan sikap acuh tak acuh, tetapi kini ia benar-benar bertempur untuk segera dapat membinasakan lawannya. Namun Mahesa Jenar pun telah bersiap. Ia telah mengalami, meskipun mulanya tidak bersungguh-sungguh, namun akhirnya ia harus berjuang sekuat-kuatnya, pada saat ia harus bertempur melawan Anggara. Meskipun perkembangan ilmunya kemudian berbeda, namun Anggara dan Umbaran telah menghisap ilmunya dari sumber yang sama. Sehingga dengan demikian, masih nampak juga persamaannya, apabila salah seorang dari mereka itu tidak sengaja untuk menyembunyikan diri dalam gerak-gerak lain yang diciptakannya kemudian.

Demikianlah maka sesaat kemudian berkobarlah perang tanding yang maha dahsyat. Pasingsingan yang telah menggemparkan tlatah Demak dengan perbuatan-perbuatannya yang mengerikan, baik yang dilakukannya sendiri maupun yang dilakukan oleh muridnya, melawan seorang yang telah berhasil menekuni ilmunya sampai ke intinya. Meskipun Pasingsingan jauh lebih dahulu dari Mahesa Jenar, namun ternyata dengan satu loncatan, Mahesa Jenar telah berhasil menjusulnya. Serangan-serangan Mahesa Jenar ternyata sama sekali tidak kalah berbahayanya dari serangan-serangan hantu berjubah itu. Sekali-kali terjadilah benturan-benturan yang keras. Dan dalam keadaan yang demikian itulah, Mahesa Jenar menjadi semakin yakin pada dirinya, bahwa Pasingsingan bukanlah hantu yang menakutkan dan tak dapat dikalahkan. Pasingsingan semakin lama menjadi semakin terbakar hatinya.

Kalau semula ia baru dapat mengukur kekuatan Mahesa Jenar, namun kemudian ia terpaksa melihat kenyataan, bahwa Mahesa Jenar tidak saja bertambah kuat lahir dan batin, namun iapun mampu pula mempergunakan kekuatannya itu sebaik-baiknya.

Sebagai seorang murid Pasingsingan tua, Pasingsingan itu telah mendengar dan mendapat petunjuk-petunjuk tentang bermacam-macam perguruan. Juga perguruan Pengging yang terkenal. Kini ia harus mengalami betapa salah seorang murid dari Pengging itu telah mampu melawannya. Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Pasingsingan menjadi semakin heran melihat keterampilan lawannya. Tetapi karena itu pula ia merasa seakan-akan dirinya dihadapkan pada suatu ujian, apakah ia masih berhak memakai gelar Pasingsingan untuk seterusnya. Disamping kenyataan itu, di dalam dadanya bergolak pula berbagai pertanyaan tentang Mahesa Jenar. Dari manakah ia pernah mendengar cerita tentang Pasingsingan tua, tentang Radite, Anggara dan Umbaran...? Darimana pula ia mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya kini adalah Pasingsingan yang sebenarnya tidak berhak memakai tanda-tanda kekhususannya...?

Pasingsingan itupun kemudian menjadi cemas bahwa sebenarnya rahasia tentang dirinya telah terbuka. Bahkan kemudian ia menduga bahwa Radite atau Anggara-lah yang sengaja mengabarkan tentang rahasia itu. Tetapi apakah Mahesa Jenar pernah bertemu dengan mereka berdua?

Tiba-tiba kemarahan Pasingsingan menjadi semakin berkobar-kobar di dalam dadanya. Orang yang dapat berceritera tentang Pasingsingan ini harus dimusnahkan, supaya rahasia itu dibawanya mati.


Serial Bersambung 28 Juni 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja No. 483

PASINGSINGAN bertempur semakin dahsyat. Jubahnya berkibar-kibar di belakang punggungnya seperti sayap. Di dalam kelam, tampaklah Pasingsingan seperti kelelawar raksasa yang terbang menyambar-nyambar dengan jarinya yang berkembang mengerikan.

Tetapi lawannya adalah seekor banteng yang tangguh. Semakin banyak peluh mengalir dari tubuh Mahesa Jenar, semakin segarlah tubuhnya. Bahkan kemudian ia pun bertempur semakin tangguh.

Ketika Pasingsingan menyerangnya semakin dahsyat, Mahesa Jenar pun bertempur benar-benar seperti banteng ketaton. Dalam keadaan yang berbahaya sedemikian itu, Pasingsingan tidak sempat untuk meneliti gerakannya sendiri satu demi satu, seperti pada saat Anggara bertempur melawannya. Karena itu semakin lama, gerak-gerak mereka berdua, Umbaran yang berjubah Pasingsingan dan Anggara, menjadi semakin rapat persamaannya. Dengan demikian Mahesa Jenar dapat mengenal gerak-gerak itu kembali, yang khusus dapat dilihatnya dalam gerakan-gerakan pertahanan yang rapat, meskipun apa yang dilakukan oleh Pasingsingan ini tampak lebih kasar. Bahkan sekali-kali Mahesa Jenar ingin mempengaruhi pikiran lawannya. Meskipun tidak sempurna, namun dalam saat-saat yang sedemikian bersahaja, Mahesa Jenar mencoba-coba menirukan gerak-gerak itu. Bahkan gerak-gerak yang belum dilakukan oleh Pasingsingan.

Melihat gerak-gerak khusus Pasingsingan itu dapat pula dilakukan oleh Mahesa Jenar, meskipun tidak sempurna, Pasingsingan menjadi semakin heran dan gelisah. Karena itu Pasingsingan memastikan bahwa Mahesa Jenar pernah bertemu dengan Radite atau Anggara. Dengan demikian ia yakin pula bahwa rahasianya benar-benar telah diketahui oleh lawannya itu. Dalam pada itu, Pasingsingan mengumpat pula di dalam hati. Bahwa dengan demikian Radite tidak memegang janjinya. Orang itu telah berjanji pada saat tukar-menukar antara tanda kekhususan serta pusaka-pusaka Pasingsingan dengan gadis yang memintanya, terjadi beberapa puluh tahun yang lalu.

Tetapi apapun yang dilakukan, Pasingsingan tidak berhasil untuk menguasai lawannya. Jangankan membunuhnya, menyentuhnya pun semakin lama menjadi semakin sulit. Dalam tingkatan ilmu yang seimbang, Mahesa Jenar masih memiliki kelebihan. Umurnya yang jauh lebih muda, sehingga pembawaan kodrat alamiah telah menolongnya. Kalau semula Mahesa Jenar sama sekali tidak berdaya melawan orang-orang tua adalah karena tingkat ilmu jaya kawijayan guna kasantikan orang-orang tua itu jauh lebih melampaui ilmunya. Tetapi sekarang apa yang telah dicapainya tidak kurang dari apa yang dimiliki oleh Umbaran. Dengan demikian, pada umurnya itu, ia memiliki kemenangan-kemenangan. Hal ini pun dirasakan oleh Pasingsingan. Nafas Mahesa Jenar yang dapat diaturnya dengan baik itu semakin lama tampak semakin mapan dan teratur. Ketenangannya mengamati setiap persoalan dan kesulitan, kecerahan otaknya dalam mengurai setiap masalah, telah menuntunnya sedikit demi sedikit pada keadaan yang lebih baik dari lawannya.

Sekali lagi Pasingsingan mengumpat di dalam hati. Ia pun merasakan betapa Mahesa Jenar berhasil mendesaknya perlahan-lahan. Sebagai seorang yang merasa dirinya tak terlawan, hatinya menjadi panas bukan main. Apalagi mengingat gelar yang harus dipertahankan mati-matian. Pusaka-pusaka serta ciri-ciri kekhususan Pasingsingan. Kalau oleh Mahesa Jenar ia sudah dapat dikalahkan, lalu apakah haknya untuk tetap menjadi orang yang ditakuti...? Lebih-lebih lagi apabila orang-orang seperti Pandan Alas, Sora Dipajana, Titis Anganten sampai mengenalnya, bahwa bukan dirinyalah Pasingsingan yang pernah bersahabat dengan mereka itu. Maka ia akan semakin banyak menemui kesulitan dalam usahanya untuk menguasai Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten. Sebab dengan nama Pasingsingan, orang tua itu merasa segan-segan pula bertindak terhadapnya, yang disangkanya Pasingsingan sahabat mereka puluhan tahun yang lampau. Seperti apa yang dilakukan oleh Pandan Alas di alun-alun Banyubiru, yang masih memperlakukannya sebagai sahabatnya. Tetapi tiba-tiba ia teringat, apa yang pernah dialaminya di Rawa Pening.

Ketika ia sudah siap membunuh Mahesa Jenar dengan keempat kawannya, muncullah dua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar dan memberinya pertolongan. Beberapa bulan ia mencoba memecahkan teka teki itu. Namun akhirnya, ketika orang-orang itu sudah tidak pernah dijumpainya lagi, ia menjadi lupa kepada mereka. Tetapi sekarang tiba-tiba bayangan kedua orang itu muncul kembali.

Kalau demikian, kedua orang itu pasti telah menemui Mahesa Jenar dan berceritera tentang dirinya. Ya. Ia pasti sekarang. Orang yang dapat mengalahkannya dengan begitu mudah, orang dapat membebaskan diri dari pengaruh ilmunya Alas Kobar. Orang itu tidak dapat lain daripada Radite dan Anggara.

”Gila!” teriak Pasingsingan tiba-tiba. Mahesa Jenar terkejut mendengar teriakan itu. Tetapi ia bertempur terus. Serangan-serangannya semakin lama semakin deras seperti hujan yang tercurah dari langit disertai prahara yang bergulung-gulung mengerikan. Pasingsingan akhirnya tidak mau lagi membiarkan dirinya digilas oleh anak-anak yang baru tumbuh. Tiba-tiba ia tidak ragu lagi mengendalikan kemarahannya sehingga ia tidak segan-segan untuk membakar lawannya dengan ilmunya yang dahsyat, Alas Kobar. Sementara itu, Mantingan, Rara Wilis, Arya Salaka, Endang Widuri, Wirasaba dan Jaladri telah hampir sembuh kembali dari akibat serangan Gelap Ngampar, meskipun dada mereka seakan-akan masih terasa berderak-derak. Namun mereka telah dapat berdiri tegak dan dengan penuh kesadaran telah dapat mengikuti pertempuran yang terjadi antara Pasingsingan melawan Mahesa Jenar.

 


Cerita Bersambung 29 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
484

MANTINGAN yang sama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar telah dapat mencapai tingkatan yang sedemikian tinggi dalam waktu singkat, mula-mula tidak percaya pada penglihatannya, tetapi ketika kemudian ia melihat betapa orang berjubah abu-abu itu telah berjuang sedemikian lama dan sungguh-sungguh, tahulah ia bahwa Mahesa Jenar benar-benar tidak sedang bunuh diri. Karena itulah ia menjadi berbangga hati.

Kalau semula pada saat Mantingan melihat Rara Wilis, Arya Salaka dan Endang Widuri turut serta melawan anak buah Lawa Ijo, ia telah berbangga hati, lebih-lebih ketika ia terpaku pada suatu kenyataan bahwa Arya Salaka mampu melawan Lawa Ijo dan membebaskan dirinya dari pengaruh serangan panas yang luar biasa dari kelelawar Alas Mentaok itu, kini ia tidak tahu lagi perasaan apa yang berkobar didalam dadanya. Sebagai seorang sahabat yang sejak semula telah mengagumi Mahesa Jenar, ia kini benar-benar bersyukur bahwa sahabatnya itu telah berhasil menempa dirinya menjadi orang yang luar biasa.

Mantingan bersyukur bahwa Mahesa Jenar telah berhasil dalam pembajaan diri itu. Sebab ia tahu pasti, bahwa hasil dari pembajaan diri itu ia akan dilimpahkan di dalam suatu pengalaman kemanusiaan, pengalaman pada tumpah darah. Ia tahu pasti bahwa Yang Maha Kuasa telah merestui sahabatnya itu dalam perjuangannya menegakkan kebenaran dan keadilan.

Sedang Wirasaba seperti orang yang terpesona. Ia berdiri dengan mulut ternganga. Beberapa tahun yang lalu, hatinya telah digemparkan oleh suatu kenyataan, bahwa Mahesa Jenar mempu menghancurkan sebuah batu hitam dengan tangannya, sedang kapak raksasanya hanya mampu melukai batu itu tidak lebih dari sejengkal. Sekarang ia melihat Mahesa Jenar itu bertempur, yang menurut penglihatannya sangat ruwet.

Wirasaba tidak tahu bagaimana orang dapat bertempur sampai sedemikian. Gerak mereka kadang-kadang seperti singgat. Melenting berloncatan. Kadang-kadang seperti dua ekor burung yang menggelepar dengan kerasnya untuk kemudian seperti seekor harimau menerkam. Tetapi kemudian Pasingsingan itu terlontar kembali karena yang diterkamnya benar-benar mirip seekor banteng jarig melemparkan lawannya dengan tanduk-tanduknya yang kokoh kuat.

Arya Salaka pun terpaku di tempatnya. Sekarang ia benar-benar yakin bahwa gurunya benar-benar orang luar biasa. Namun dalam pada itu menjalar pula hatinya hasrat yang semakin kuat untuk menghisap ilmu sekuat-kuat tenaganya. Ia tahu benar bahwa gurunya itu telah bekerja keras untuknya, melampaui yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru. Gurunya itu telah mengasihinya seperti anak sendiri. Bahkan bersedia mati pula untuknya.

Karena itu Arya Salaka berjanji di dalam dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan mengecewakan orang itu, dan sekaligus ia akan dapat berbangga diri kepada ayahnya kelak. Berbangga tentang dirinya sendiri, dan berbangga tentang gurunya. Sebab ia tahu bahwa ayahnya telah menyerahkan kedalam asuhan Mahesa Jenar.

Dalam pada itu Endang Widuri sudah mulai tertawa-tawa pula setelah pengaruh Gelap Ngampar lenyap dari dadanya, meskipun ia masih agak pucat. Ia melihat Mahesa Jenar itu seperti melihat ayahnya. Ia menjadi heran, kenapa Mahesa Jenar itu dalam hampir setiap geraknya mirip benar seperti ayahnya. Kalau ayahnya dapat bertempur seperti batu karang yang tak bergerak oleh badai yang bagaimanapun dahsyat, Mahesa Jenar pun kadang-kadang berlaku demikian.

Tetapi kadang-kadang melihat lawannya seperti banjir bandang tanpa dapat dihalangi oleh kekuatan apapun. Pada saat yang lain seperti juga ayahnya Mahesa Jenar mengurung lawannya seperti angin prahara. Meskipun ia hanya melihat ayahnya bertempur dalam latihan-latihan dengan dirinya, dengan Putut Karang Tunggal yang sebenarnya bernama Karebet, namun ia melihat betapa Mahesa Jenar itu memiliki kemampuan yang mirip benar dalam setiap gerak-geriknya.

Tetapi gadis kecil ini tidak tahu bahwa Mahesa Jenar dan ayahnya, Kebo Kanigara, meneguk air dari sumber yang sama. Dan bahwa kedua-duanya telah menguasai ilmunya dengan sempurna, meskipun Kebo Kanigara sedikit lebih mengendap daripada Mahesa Jenar.

Orang yang sama sekali tidak tahu bagaimana menilai pertempuran itu adalah Jaladri. Bahkan ia menjadi pening, dan karena itu ia lebih senang menenangkan dirinya daripada bersusah payah mengikuti perang tanding yang tak kenal ujung pangkalnya itu.


Berbeda dengan perasaan mereka adalah Rara Wilis. Ia mempunyai kesan tersendiri dari pertempuran itu. Ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, iapun menjadi semakin cemas. Meskipun kemudian ia merasa, bahwa Mahesa Jenar memiliki kemampuan yang cukup untuk mengimbangi kekuatan iblis berjubah abu-abu itu, namun setiap serangan Pasingsingan dirasanya seperti serangan pada dirinya sendiri. Setiap sentuhan yang mengenai tubuh Mahesa Jenar, seolah-olah kulitnyalah yang terluka.


Serial Bersambung 30 Juni 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja No. 485

 

RARA WILIS tiba-tiba menjadi cemas, jauh lebih cemas daripada ia sendiri yang bertempur. Ia sama sekali tidak rela kalau laki-laki itu sampai dapat disinggung oleh lawannya. Ia tidak rela kalau laki-laki itu sampai terluka.

Ketika Wilis sadar akan perasaannya itu, tiba-tiba warna merah membersit ke pipinya. Ia merasa malu sendiri, meskipun ia yakin bahwa tak seorangpun yang memperhatikannya. Tetapi seolah-olah setiap ujung daun-daun pepohonan di sekitarnya itu tersenyum melihat warna hatinya. Seolah-olah desir angin yang lewat di belakangnya berbisik di telinganya, ”Jangan cemas Rara Wilis, kau tidak akan kehilangan laki-laki itu.”

Tiba-tiba Rara Wilis menundukkan wajahnya dengan tersipu-sipu. Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba arena itu dikejutkan oleh sebuah teriakan nyaring yang terlontar dari belakang topeng kasar Pasingsingan.

Bersamaan dengan itu memancarlah udara panas ke segenap penjuru. Ke arah mereka yang sedang terpesona menyaksikan pertempuran itu, sehingga tanpa mereka sengaja, segera mereka berloncatan mundur beberapa langkah. Bahkan Jaladri segera berlindung ke balik sebuah pohon untuk menghindarkan diri dari serangan panas yang luar biasa.

Itulah pengaruh dari ilmu Alas Kobar yang dahsyat, yang tidak saja dilontarkan oleh Lawa Ijo, tetapi kini oleh gurunya, Pasingsingan. Alangkah dahsyatnya ilmu itu. Tetapi yang paling dahsyat mengalami serangan itu adalah orang yang dituju. Dalam penerapan ilmu itu tubuh Pasingsingan sendiri seolah-olah telah berubah menjadi bara baja yang panasnya tak terhingga. Mahesa Jenar terkejut mengalami serangan panas itu. Setiap sentuhan dengan tubuh Pasingsingan, terasa panas yang luar biasa menyengat kulitnya, disamping libatan udara panas di seluruh tubuhnya.

Dalam keadaan yang demikian, sadarlah Mahesa Jenar bahwa lawannya telah matek aji yang pernah didengarnya bernama Alas Kobar. Untuk sementara Mahesa Jenar terpaksa terdesak mundur. Ia mencoba menghindari setiap sentuhan tubuh Pasingsingan. Tetapi dalam keadaan yang demikian, Mahesa Jenar sama sekali tak berniat melarikan diri. Sebagai seorang laki-laki, ia akan menghadapi setiap kemungkinan. Ia merasa menjadi pelindung dari seluruh perkemahan itu. Kalau ia terpaksa melarikan diri, maka ia tak ada artinya sama sekali. Apa saja yang pernah dilakukan dan apa saja yang pernah dipercayakan orang kepadanya. Dalam perjuangan melawan kejahatan tak ada niatnya untuk sekadar menyelamatkan dirinya sendiri, dan membiarkan orang lain binasa karenanya. Karena itulah maka Mahesa Jenar membulatkan tekadnya. Mengumpulkan segenap kekuatan lahir batinnya, dengan tekad bulat untuk melawan Pasingsingan, betapapun pengaruh panas itu menyengatnya di segenap bagian tubuhnya.

Anehnya, bahwa yang terjadi kemudian adalah di luar dugaan. Di luar dugaan Mahesa Jenar sendiri. Ketika ia telah membulatkan tekad, memusatkan segenap kekuatan yang ada padanya, lahir batin, serta pasrah diri setulus-tulusnya kepada Yang Maha Kuasa, maka tiba-tiba terasa, bersama-sama dengan nafasnya yang semakin teratur, sejalan dengan peredaran darahnya, mengalirlah udara segar di dalam tubuhnya. Mahesa Jenar telah mengenal perasaan itu. Ia merasakan seperti aliran kekuatan yang luar biasa, yang dalam keadaan khusus, seperti yang pernah dilakukan apabila ia sedang menerapkan ilmunya Sastra Birawa, merambat dari pusat jantungnya mengalir ke sisi telapak tangannya. Tetapi kini, dalam pemusatan tekad, untuk melawan libatan udara panas yang mematuk-matuk seluruh permukaan tubuhnya itu, terasa kekuatan dari pusat jantungnya itu mengalir menurut peredaran darah ke segenap bagian, menurut jalur-jalur darah yang paling kecil sekalipun.

Terasalah untuk beberapa saat darahnya seperti mendidih. Terjadilah seolah-olah benturan yang sengit di seluruh permukaan kulitnya. Dalam keadaan yang demikian, terganggulah gerak tempur Mahesa Jenar, karena perasaannya dipengaruhi oleh pemusatan kehendak untuk melawan udara panas itu.

Maka tanpa setahunya, tiba-tiba serangan Pasingsingan yang dahsyat telah berhasil menyusup diantara jaring-jaring pertahanan Mahesa Jenar, langsung mengenai pundaknya. Serangan itu bukanlah sekadar serangan Alas Kobar, tetapi benar-benar tangan Pasingsingan mengenai pundak itu. Mahesa Jenar yang sedang berjuang melawan Aji Alas Kobar itu terdorong beberapa langkah surut. Tetapi ia adalah seorang yang masak dalam pemusatan kehendak. Meskipun ia terdorong dan bahkan kemudian ia terjatuh, namun ia sama sekali tidak melepaskan diri dari usahanya, membulatkan diri, dalam perlawanannya. Dalam saat yang demikian itulah, sebenarnya Mahesa Jenar telah menerapkan ilmunya Sasra Birawa pula. Namun dalam bentuk yang berbeda. Tanpa setahunya sendiri sebelumnya, bahwa sebenarnya ilmunya Sasra Birawa dalam bentuk perlawanan dan pertahanan dapat disalurkan ke segenap bagian tubuhnya. Ke segenap bagian-bagian yang terkecil sekalipun untuk kemudian melawan rangsangan yang betapapun dahsyatnya, yang mencoba mempengaruhi tubuh itu.

Tetapi meskipun demikian, ilmu itu tidak dapat menahan dorongan kekuatan yang luar biasa, yang dilontarkan Pasingsingan dengan penuh kemarahan, sehingga Mahesa Jenar jatuh terbanting di tanah setelah terdorong beberapa langkah surut. Mereka yang menyaksikan peristiwa itu, dadanya serasa akan pecah, Mahesa Jenar bagi mereka adalah satu-satunya orang yang dapat diharapkan untuk menyelamatkan perkemahan ini. Ketika mereka melihat betapa Pasingsingan semakin lama semakin terdesak yakinlah mereka bahwa Mahesa Jenar akan dapat melakukan tugasnya dengan baik. Namun tiba-tiba, dalam kabut ilmu Alas Kobar, Mahesa Jenar ternyata dapat dikuasai oleh lawannya, bahkan kemudian dengan suatu serangan jasmaniah, Mahesa Jenar dapat didorongnya jatuh.