Nagasasra dan Sabukinten

Lawaijo hatinya tersentuh melihat Widuri, ia tiba-tiba ingin mempunyai anak secerdas itu.

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

Cerita Bersambung 16 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
471

LAWA IJO yang ingin meyakinkan dirinya, bahwa ia mengharap untuk dibiarkan bertempur sendiri, kemudian berkata, ”Hai betina-betina dari Banyubiru... kenapa kalian tidak maju bersama-sama? Jangan berpura-pura bersikap jantan dengan membiarkan anak kecil ini menjadi korban kesombongan kalian.”

Dari jajaran para penonton itu terdengar Mantingan menjawab, ”Lawa Ijo, jangan pergunakan cara yang berpura-pura untuk menyelamatan diri. Jangan pula berbicara tentang kejantanan. Dan apakah salahnya kalau kami bersama-sama dan beramai-ramai menangkapmu? Bukankah kau telah dengan sembunyi-sembunyi memasuki perkemahan kami? Tetapi biarlah untuk sementara kami ingin melihat kau bertempur.”


Hati Lawa Ijo menjadi bertambah panas. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Meskipun orang-orang lain tidak ikut membantu Arya bertempur, namun senjata-senjata mereka yang telah siap itu pun sangat mempengaruhinya. Apalagi memang sebenarnyalah bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan anak muda ini, meskipun anak muda ini pun mempunyai harapan yang kecil saja untuk mengalahkannya.

Namun sebagai seorang tokoh yang namanya telah bersemayam di dalam hati rakyat di sekitar hutan Mentaok, maka ia pun menjadi malu atas dirinya sendiri.

Mula-mula Mantingan dan kawan-kawannya menjadi heran, apakah maksud Lawa Ijo dengan memperpanjang pertempuran itu. Sebab mereka sudah pasti dan Lawa Ijo sendiri juga sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan Arya Salaka. Tetapi kenapa ia tidak saja melarikan diri seperti kawan-kawannya?

Pertanyaan itu akhirnya memenuhi rongga dada Mantingan. Karena itu ia pun menjadi bertambah waspada. Apakah kawan-kawan Lawa Ijo pergi untuk memanggil kawan-kawannya. Kemudian dengan berbisik-bisik disampaikanlah kecurigaannya itu kepada Wirasaba, yang ternyata sependapat pula. Apalagi kemudian di kejauhan terdengarlah suatu suitan nyaring. Nyaring sekali seperti suara hantu kehilangan anaknya. Suara suitan itu kemudian disahut pula dengan suara lain yang lebih jauh tetapi dengan nada yang lebih tinggi.

Mantingan melihat sesuatu tidak pada tempatnya. Karena itu, ia tidak dapat membiarkan pertempuran itu lebih lama lagi. Dengan lantang terdengarlah ia memerintah, ”Tangkap iblis dari Mentaok ini.”


Rara Wilis, Widuri, Jaladri dan Wirasaba segera berloncatan mengepung Lawa Ijo yang tinggal bertempur seorang diri. Untuk beberapa saat Lawa Ijo meloncat surut dan berhenti bertempur. Dengan mata yang liar ia memandang berkeliling, seolah-olah ia sedang mencari kelemahan dari kepungan itu. Ketika matanya menyambar wajah Jaladri, ia berharap untuk dapat menembus di sisi itu.

Tetapi tiba-tiba Lawa Ijo melihat Wirasaba merapatkan dirinya. Kemudian matanya berkisar pada Widuri. Ah, anak ini bukan main. Wajahnya yang mungil itu tampak cerah, secerah bintang. Diam-diam Lawa Ijo mengaguminya. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk mengagumi kecantikan gadis kecil itu.

Dalam kegelisahan, tiba-tiba wajah Lawa Ijo menjadi terang kembali. Tampaklah kemudian sebuah senyuman menghias bibirnya.

Sebaliknya, orang-orang yang mengepungnya menjadi terkejut karenanya. Mereka sadar bahwa suara itu mempunyai arti yang penting sekali bagi Lawa Ijo dan bahkan bagi perkemahan anak-anak Banyubiru itu. Karena itu, tanpa bersepakat, mereka bersama-sama menyiagakan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang lebih berbahaya.

Dan apa yang mereka cemaskan itu terjadi. Dalam keremangan cahaya bintang yang lemah, tampaklah sebuah bayangan seperti bayangan hantu yang melayang-layang memasuki gelanggang dan kemudian berdiri tegak disamping Lawa Ijo. Bayangan dari seorang yang berjubah abu-abu serta menyembunyikan wajahnya dibalik sebuah topeng yang kasar dan jelek.

”Pasingsingan...!” Hampir setiap mulut berdesis mengucapkan nama yang mengerikan itu.

Terdengar Pasingsingan tertawa pendek. Kemudian seperti bergulung-gulung di dalam perutnya ia berkata, ”Apakah yang telah kalian lakukan terhadap Lawa Ijo?”


Pertanyaan itu sederhana sekali, namun di dalamnya terkandung suatu tuntutan yang dalam. Dalam kalimat yang sederhana itu Pasingsingan telah menyatakan maksud kedatangannya. Menuntut bela terhadap murid serta anak buahnya. Apalagi kemudian terdengar ia bergumam, ”Kalian telah melakukan beberapa kesalahan.”

Setiap dada menjadi terguncang karenanya. Mereka semua telah mengenal, setidak-tidaknya mendengar nama Pasingsingan. Karena itu, mau tidak mau meremanglah tengkuk mereka melihat orang yang bernama Pasingsingan itu berdiri di hadapan mereka dengan sebuah tuntutan yang mengerikan.

Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat lain daripada mengangkat dada mereka sebagai jantan sejati. Sebab mereka yakin bahwa mereka berbuat diatas kebenaran, diatas suatu pengabdian yang tulus.

Karena itu kemudian terdengar Mantingan menjawab, ”Tidak ada sesuatu yang kami lakukan terhadap murid Tuan, selain mengucapkan selamat datang di perkemahan kami, dengan cara yang disenangi oleh murid Tuan sendiri.”


”Hem...” terdengar Pasingsingan mendengus. ”Kau tahu dengan siapakah kau sekarang berhadapan...?”

”Bukankah Tuan yang bergelar Pasingsingan?” jawab Mantingan.


”Bagus!” sahut Pasingsingan dengan suara yang dalam. "Kalau demikian kalian harus bersikap baik. Jawab semua pertanyaanku dengan baik pula.”


Mantingan mengangguk.

”Nah,” dengus Pasingsingan dari belakang topengnya. ”Kenapa kalian melakukan pembunuhan terhadap anak buah Lawa Ijo?”


Serial Bersambung 17 Juni 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta

NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja
No. 472

MANTINGAN menarik nafas panjang. Ia tahu bahwa Pasingsingan sedang mencari sebab untuk melakukan pembalasan. Namun demikian ia menjawab. "Kami sama sekali tidak melakukan pembunuhan tuan. Yang kami lakukan adalah suatu cara untuk menyelamatkan diri kami."

"Omong kosong" bentak Pasingsingan. "Apapun alasanmu tetapi beberapa orang anak buah Lawa Ijo itu terbunuh."
"Lalu apakah yang sebaiknya tuan lakukan seandainya seseorang ingin membunuh tuan?"
sahut Mantingan.

Untuk beberapa lama Pasingsingan tidak berkata sesuatu. Namun nampaklah dadanya bergelombang oleh nafasnya yang memburu.

Kemudian dengan lantang ia berkata. "Kaukah yang bernama Mantingan, dalang Mantingan."

"Ya" jawab Mantingan pendek.

"Mulutmu terlalu tajam. Karena itu mulutmu itulah yang pertama-tama akan aku hancurkan" berkata Pasingsingan perlahan-lahan tetapi mengandung suatu tekanan yang dahsyat.

Mantingan menarik nafas sekali lagi. "Apaboleh buat" pikirnya. Tetapi dalam pada itu, yang lainpun tidak tinggal diam.

Meskipun Rara Wilis adalah seorang gadis, namun darah Pandan Alas yang mengalir ditubuhnya telah menjadikannya seorang gadis yang tabah dan berani. Meskipun ia menyadari, betapa tinggi ilmu Pasingsingan itu, namun tidaklah sepantasnya bahwa tetesan darah Gunung Kidul itu akan bertekuk lutut untuk dipenggal lehernya. Karena itu ujung pedangnya nampak semakin bergetar sejalan dengan debar jantungnya yang bertambah cepat.

Bahkan kemudian terdengar suaranya gemetar. "Tuan, adakah tuan ingin ikut dalam permainan anak-anak ini?.

Juga pertanyaan Rara Wilis itu sederhana, sama sederhananya dengan pertanyaan Pasingsingan yang pertama. Tetapi juga didalam kata-kata itu terkandung suatu tantangan yang dalam. Tantangan bagi kejantanan Lawa Ijo dan Pasingsingan sendiri. Tetapi ternyata Lawa Ijo bukan seorang jantan. Ia adalah seorang yang licik, yang dapat menganggap suatu cara apapun dapat dibenarkan untuk mencapai maksudnya.

Karena itu ialah yang menjawab pertanyaan Rara Wilis. "Adakah pertanyaan itu sebagai suatu permintaan ampun dari guru, Rara Wilis?" Dada Rara Wilis tergoncang. Ia merasa tersinggung oleh jawaban itu. Namun Wirasaba yang tinggi hati telah mendahuluinya menjawab.

"Dibelakang sayap indukmu kau masih mampu tertawa Lawa Ijo. Tetapi kami sama sekali tidak seperti orang yang terkenal dengan sebutan iblis alas Mentaok, yang ternyata tidak lebih dari seekor anak ayam yang ketakutan melihat bilalang terbang."

"Diam" bentak Lawa Ijo marah. Tetapi suaranya tiba-tiba tenggelam dalam derai tawa Endang Widuri. Semua yang mendengar suara tertawa itu terkejut. Bahkan Pasingsingan tertarik sekali pada suara itu. Baginya adalah aneh sekali, kalau dalam keadaan yang demikian, masih ada orang yang berani memperdengarkan tertawanya.

"Aneh" kata Widuri dalam nada kekanak-kanakan. "Seorang yang bertubuh gagah kekar, berkumis sebesar lenganku ini, tiba-tiba tanpa malu-malu bersembunyi dibelakang punggung gurunya. Bukankah itu suatu tontonan yang lucu."

Dada Lawa Ijo yang sudah mendidih sejak semula itu terasa seperti diaduk. Tetapi ketika dipandangnya wajah gadis kecil yang cerah itu, terasa sesuatu yang aneh meraba-raba dadanya. Tiba-tiba saja seperti bintang yang jatuh dari langit, terbesitlah jauh disudut relung hatinya, yang selama ini seolah-olah tak pernah tampak olehnya, suatu perasaan yang menyenangkan, apabila iamempunyai anak seperti Widuri itu. Seorang anak yang manis, berani dan tangkas. Tetapi berbedalah tanggapan Pasingsingan. Ia merasa seolah-olah gadis kecil yang menghinanya pula.

Dengan menggeram ia berkata. "Siapakah kau?"

"Seorang yang bergelar Pasingsingan pasti sudah tahu, siapakah yang sedang berdiri dihadapannya" jawab Widuri tanpa takut-takut.

Sekali lagi Pasingsingan menggeram karena kemarahan yang sudah hampir memuncak.
Mendengar Pasingsingan menggeram sedemikian dahsyatnya, tegaklah bulu roma mereka yang mendengarnya kecuali Widuri. Ia masih saja tersenyum seperti tidak terjadi sesuatu. Meskipun sebenarnya didalam hatinya memercik juga kecemasannya atas sikap Pasingsingan itu, namun sebenarnyalah ia memiliki sikap tenang seperti ayahnya. Karena sikap Widuri itulah maka Pasingsingan menjadi bertambah marah lagi. Ia merasa terhina oleh seorang anak kecil yang sengaja merendahkannya. Karena itu ia tidak bersabar lagi.

Sebagai seorang penjahat yang telah berpuluh bahkan ratusan kali membunuh, maka ia sama sekali tidak lagi punya hati terhadap calon korbannya. Demikian juga terhadap Widuri. Meskipun ia melihat betapa gadis itu masih sedang tumbuh, namun ia telah dibakar oleh kemarahannya.

Maka dengan suara yang bergetar ia berkata. "Gadis kecil yang tak tahu diri. Apakah kau telah mempunyai nyawa yang rangkap, sehingga berani menghina Pasingsingan? Karena itu kaulah yang pertama-tama akan menerima hukuman".

Sehabis kalimat itu, mulailah Pasingsingan bergerak kearah Endang Widuri. Kembali semua orang yang menyaksikan, hatinya berdesir. Tetapi mereka tidak mau membiarkan peristiwa yang mengerikan itu terjadi.

Serentak tanpa berjanji lebih dahulu, berloncatanlah semua orang menghadang dihadapan Endang Widuri. Mantingan dengan trisulanya yang sudah mengarah kedada Pasingsingan, Rara Wilis dengan pedang tipisnya yang dipegangnya lurus-lurus kedepan.

Disampingnya berdiri Arya Salaka dengan wajah yang tegang dan dengan tangan yang gemetar menggenggam Kiai Bancak. Disebelahnya Wirasaba dengan kapak raksasanya yang sudah tersandang dipundaknya siap untuk diayunkan sedang diujung berdiri Jaladri erat-erat memegang canggah andalannya.

 


Serial Bersambung 18 Juni 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta

NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja
No. 473

MELIHAT sikap orang-orang itu, Pasingsingan berhenti. Tetapi sebagai seorang yang berilmu tinggi, ia sama sekali tidak takut menghadapi barisan kelinci-kelinci itu. Bahkan terdengarlah suara tertawanya bergumam di belakang topengnya.

Kemudian terdengar Pasingsingan berkata, "Bagus.... Aku puji kesetiakawanan kalian. Tetapi kalian tidak akan dapat menghalangi aku untuk membunuh gadis gila itu."

Ternyata Pasingsingan siap untuk melakukan kata-katanya. Tetapi terjadilah sesuatu diluar dugaan.

Dalam ketegangan itu terdengar Lawa Ijo berkata, "Guru... ampunilah gadis kecil itu."

Pasingsingan terkejut mendengar kata-kata muridnya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Lawa Ijo rapat berdiri di belakangnya. Bahkan tidak saja Pasingsingan, tetapi semua orang terkejut dan heran mendengar kata-kata itu.

Sehingga terdengarlah Pasingsingan bertanya, "Apa yang kau katakan itu Lawa Ijo?"
"Ampunilah gadis kecil itu," ulang Lawa Ijo.
"Apa kepentinganmu?" tanya Pasingsingan pula.

Lawa Ijo diam. Tetapi ia menundukkan wajahnya. Wajahnya yang buas dan liar itu. Namun anehlah bahwa matanya yang menyala-nyala seperti mata serigala itu tiba-tiba menjadi suram. Beberapa kali ia memandang wajah Widuri, hanya untuk seleret pandang. Tetapi ia tidak berani memandang wajah gurunya.

Pasingsingan menjadi semakin heran. Selama hidupnya, sejak istri dan anaknya meninggal, Lawa Ijo tidak pernah menaruh perhatian kepada perempuan. Tiba-tiba sekarang ia merasa sayang kepada gadis kecil itu. Suasana kemudian dicekam oleh keheningan. Namun setiap dada dipenuhi oleh ketegangan yang memuncak. Di kejauhan terdengar gonggongan anjing-anjing liar, berebut makan, disusul oleh teriakan serigala lapar.

Beberapa kali terdengar pula gema raung harimau memecah malam. Angin pegunungan mengusap tubuh mereka, meresapkan udara dingin.

Kata-kata Lawa Ijo itu ternyata menyebabkan Pasingsingan ragu-ragu untuk bertindak. Ia masih berdiri saja seperti patung. Patung iblis yang menakutkan.

Dalam keheningan itu terdengarlah suara Lawa Ijo memecah sepi. "Tetapi kalau guru akan bertindak terhadap yang lain, aku tidak berkeberatan."

Terdengar nafas berat berdesis lewat hidung Pasingsingan. Sekali lagi ia menoleh kepada muridnya.

Dan sekali lagi ia bertanya, "Apa kepentinganmu atas gadis itu?"

Lawa Ijo menggeleng. "Tak ada," jawabnya.

Sekali lagi jawaban Lawa Ijo itu mengherankan mereka yang mendengarnya.

Bahkan Widuri sendiri menjadi heran. Sementara itu, keragu-raguan Pasingsingan itu telah mengubah segala keadaan. Kalau semula semua penghuni perkemahan itu sudah tidak mempunyai harapan untuk membebaskan diri dari tangan hantu itu, tiba-tiba terperciklah setitik cahaya terang di dalam dada mereka.

Lamat-lamat di kejauhan, dibawa desir angin malam, terdengarlah derap beberapa ekor kuda. Mereka berharap, mudah-mudahan mereka itulah Mahesa Jenar bersama Kebo Kanigara dan kawan-kawannya. Dengan orang-orang itu, mereka tidak lagi merupakan umpan-umpan yang sama sekali tak berarti bagi Pasingsingan. Ditambah dengan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan beberapa orang lagi, mereka mengharap untuk setidak-tidaknya dapat mengimbangi hantu bertopeng itu.

Pasingsingan pun mendengar derap kuda itu. Namun ia tahu pula, bahwa suara itu masih jauh sekali. Dalam malam yang sepi, suara yang lambat dan jauh pun akan dapat dikumandangkan oleh tebing-tebing jurang dan kemudian dapat mencapai daerah-daerah ketinggian seperti daerah di sekitar candi Gedong Sanga ini.

Dengan telinganya yang tajam, Pasingsingan memperhatikan suara itu dengan seksama. Wajahnya yang terangkat, seolah-olah dapat membuat perhitungan yang tepat, kira-kira sejauh berapa tonggak sumber suara telapak kuda itu.

Ketika ia kemudian yakin akan pendengarannya, berkatalah ia, "Masih jauh. Waktu masih cukup banyak untuk memusnahkan kalian. Nah, bersiaplah untuk menghadapi saat terakhir. Melawan atau tidak melawan, akan sama saja akibatnya bagi kalian."

Kemudian kepada Lawa Ijo ia berkata, "Usahakan supaya orang-orang berkuda itu agak lambat datang. Pergilah dengan orang-orangmu yang masih ada."

"Baik guru," jawab Lawa Ijo. Tetapi sekali lagi matanya menatap wajah Endang Widuri.

"Aku sisakan gadis kecil itu. Atau akan kau bawa dia?" Tanya Pasingsingan.

Lawa Ijo menggeleng. "Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Aku hanya ingin Guru mengampuninya."

"Pergilah," dengus Pasingsingan.

Dalam sekejap meloncatlah Lawa Ijo hilang ditelan tabir hitamnya malam.

Yang tinggal kemudian hanyalah orang berjubah abu-abu dan bertopeng seperti iblis itu.
Harapan yang semula timbul di dalam dada mereka untuk dapat bertempur bersama-sama dengan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan yang lain-lain, kini telah pudar kembali.

Meskipun mereka masih belum dapat menjajagi, sampai di mana tingkat ilmu Mahesa Jenar kini, namun semakin banyak jumlah mereka, semakin kuat pula perlawanan yang dapat mereka berikan.

Sementara itu suara kuda di kejauhan masih saja melingkar-lingkar di dalam lembah, seolah-olah tidak menjadi bertambah dekat. Kemudian mereka pun sadar bahwa jalan yang harus ditempuh oleh orang-orang berkuda itu pun melingkar-lingkar seperti ular. Karena itu akhirnya mereka kembali kepada kepercayaan diri. Kepada senjata-senjata mereka yang tergenggam di tangan mereka. Lebih daripada itu, mereka percaya kepada kekuasaan Yang Maha Tinggi.

Demikianlah mereka dengan dada yang berdebar-debar melihat Pasingsingan itu bergerak perlahan-lahan.

 


Serial Bersambung 19 Juni 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta

NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja
No. 474

TANGAN Pasingsingan mulai dikembangkan seperti hendak menerkam. Kemudian dengan cepat sekali ia meloncat ke samping, untuk kemudian menyerang dengan cepatnya ke arah Dalang Mantingan. Tetapi orang-orang itupun bukanlah orang-orang yang tak berdaya sama sekali. Segera mereka berloncatan untuk memencar diri dan menyerang bersama-sama dari segenap penjuru. Terhadap mereka itupun ternyata Pasingsingan tidak dapat menganggap remeh. Ia menggeram sekali lagi dengan kerasnya.

Seperti kilat ia dengan sangat lincah menghindari setiap senjata yang tertuju kepadanya. Untuk kemudian menggeliat dengan cepatnya dan melenting seperti terlempar dari tempatnya berdiri untuk mencapai daerah diluar lingkaran kepungan lawan-lawannya.

Mantingan dan kawan-kawan berdesir melihat cara Pasingsingan bergerak.


Benar-benar seperti singgat, namun kadang-kadang seperti ular, dan sekali-sekali seperti asap yang dapat melayang-layang di udara. Mereka diam-diam mengeluh di dalam hati. Dan terasalah di dalam hati kecil mereka bahwa mereka tak akan mampu untuk memberi perlawanan yang cukup lama sampai Mahesa Jenar tiba. Apalagi mereka tahu bahwa Lawa Ijo dan kawan-kawannya telah ditugaskan oleh gurunya untuk menghadang dan memperlambat perjalanan rombongan berkuda itu.

Tetapi bagaimanapun juga, mereka akan memberikan perlawanan sekuat tenaga mereka sampai orang yang terakhir. Sebab lebih baik mati dengan tangan terentang, daripada mati dengan tangan bersilang di dada. Karena itu seperti angin pusaran mereka menyerang Pasingsingan berputar. Meskipun mereka tidak pernah mengadakan persiapan untuk melakukan pertempuran bersama, namun karena pengalaman mereka masing-masing, segera mereka dapat menyesuaikan diri. Ternyata gerak mereka dapat
sedikit menolong memperpanjang waktu.

Mula-mula Pasingsingan pun agak sulit untuk dapat mengadakan serangan terhadap rombongan yang berputar sambil menyerang berganti-ganti dari segenap arah itu. Namun akhirnya Pasingsingan dapat pula menyesuaikan diri. Ia pun kemudian ikut berputar pula mengikuti putaran lawan-lawannya dan menyerang pada tempat yang tepat. Dalang Mantingan.

Untunglah bahwa Rara Wilis yang berdiri di belakang Dalang Mantingan itu, sehingga pedangnya dapat membantu melawan iblis yang mengerikan itu, disamping serangan-serangan yang lincah dilancarkan Arya Salaka dari arah yang lain.

Dalam pada itu sekali lagi Pasingsingan melenting sambil menyerang Jaladri. Dengan cepat Jaladri menjatuhkan dirinya untuk menghindari sambaran tangan Pasingsingan sambil mengacungkan senjatanya.

Tetapi dengan demikian pertahanannya terbuka, sehingga sekali lagi Pasingsingan berhasil meloloskan diri dari kepungan, meskipun Wirasaba telah mencoba menyerangnya ketika Pasingsingan sedang terapung di udara. Tetapi kapak raksasanya itu terayun menebas angin. Dengan menggeliat Pasingsingan berhasil menghindari sambaran kapak itu.

Namun sayang bahwa demikian kakinya menjejak tanah, terasalah angin menyentuh kulitnya. Belum lagi ia berhasil menghindar, terasalah sebuah benda menyambarnya. Cepat ia berusaha memutar tubuhnya di atas satu kakinya. Sehingga sambaran senjata itu hanya menyentuh jubahnya. Ketika ia sudah siap untuk menyerang kembali, dilihatnya rantai perak berputar seperti baling-baling. Rantai itu pulalah yang telah menyentuh jubahnya. Sekali lagi Pasingsingan berdesis marah.

Tetapi demikian ia siap untuk menyerang dari bawah ke arah tubuh Endang Widuri, teringatlah ia akan pesan muridnya, sehingga maksudnya terpaksa diurungkan. Namun ia menjadi semakin marah. Terasa sesuatu menyumbat dadanya, sehingga terdengarlah giginya gemeretak. Dengan demikian ia mencari saluran untuk memuntahkan kemarahannya itu. Ia merasa tersinggung sekali, bahwa rombongan kelinci itu berhasil mengenainya, meskipun hanya jubahnya.

Dalam kemarahan yang memuncak itu, tiba-tiba dengan cepatnya tangan Pasingsingan bergerak seperti orang menabur benih. Dan bersamaan dengan itu memancarlah cahaya kekuning-kuningan ke segenap penjuru. Ternyata di tangan iblis itu tergenggam sebuah pisau belati panjang yang berwarna kuning keemasan. Itulah pusaka Pasingsingan yang bernama Kyai Suluh.

Dengan senjata itu di tangan, terdengarlah Pasingsingan bergumam, "Aku masih berbaik hati kepada kalian. Kalau aku ingin membunuh kalian, dengan senjata ini. Aku dapat membakar tubuh kalian seperti membakar jangkrik dengan ilmu Alas Kobar."

Mau tidak mau hati mereka tergetar melihat cahaya gemerlapan yang memancar dari senjata Pasingsingan itu. Meskipun di malam yang gelap, namun pantulan cahaya bintang-bintang di langit telah mampu untuk menyilaukan mata. Tetapi meskipun demikian, sekali lagi, mereka bertekad untuk bertempur sampai tenaga terakhir, sampai tetes darah terakhir pula. Pasingsingan kini tidak mau memperpanjang waktu lagi. Ia sudah tidak mendengar derap kuda yang melingkar-lingkar di lembah. Pasti orang-orang berkuda itu telah terlibat dalam pertempuran melawan Lawa Ijo.

 


Cerita Bersambung 20 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
475

PASINGSINGAN mengharap Lawa Ijo dan kawan-kawannya dapat memberinya waktu. Karena itu, waktu yang sempit ini harus dipergunakan sebaik-baiknya. Demikianlah akhirnya terdengar dari mulut Pasingsingan itu suitan nyaring, dan bersamaan dengan itu melontarlah tubuhnya seperti bayangan hantu di malam yang kelam menyerang dengan dahsyatnya.


Tak seorang pun yang mengharap dapat keluar dari pertempuran itu. Karena itu, malahan mereka menjadi tenang dan bertempur mati-matian. Kalau mungkin mereka akan membawa iblis itu hancur bersama dengan mereka. Tetapi ketika senjata-senjata mereka sekali saja bersentuhan dengan pusaka Pasingsingan, terasa tangan mereka bergetaran keras, dan perasaan sakit menjalar kesegenap tubuh mereka.

Tetapi ketika saat yang memuncak itu hampir sampai pada titik tertinggi, mereka mendengar derap orang berlari. Disusul dengan sebuah sapa yang tergesa-gesa, ”Selamat malam Pasingsingan muda, yang pernah bergelar Umbaran.”


Pasingsingan terkejut mendengar sapa itu. Apalagi ketika ia mendengar orang itu menyebut nama Umbaran. Karena itu, sedemikian terkejutnya hantu berjubah abu-abu itu terloncat mundur beberapa langkah dan dengan sikap yang menakutkan ia memutar tubuhnya ke arah suara sapa yang telah mengganggunya itu.

Kemudian tampaklah dalam kegelapan malam, seseorang tersembul dengan cepat dari balik pepohonan. Dengan langkah yang tergesa-gesa pula ia berjalan mendekat lingkaran pertempuran itu. Bersamaan dengan itu hampir setiap mulut menyebut nama orang itu dengan penuh harapan dan kegembiraan yang membersit di dalam dada mereka. Bahkan terdengar Pasingsingan bergumam di belakang topeng jeleknya, ”Mahesa Jenar.”


”Ya,”
jawab orang itu. ”Hampir aku terlambat datang.”

Pasingsingan memandang Mahesa Jenar dengan seksama. Ia heran bahwa Mahesa Jenar berhasil muncul dalam waktu jauh lebih cepat dari perhitungannya. Ia mengharap Lawa Ijo setidak-tidaknya dapat menahannya, untuk waktu yang cukup baginya membunuh orang-orang yang telah menyakitkan hatinya itu. Namun agaknya Pasingsingan salah hitung.


Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bukanlah anak-anak yang dapat diberinya sekadar permainan untuk melupakan ibunya yang sedang pergi. Demikianlah, dalam perjalanan pulang, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan kawannya seolah-olah telah mendapat suatu firasat yang kurang baik. Dengan kencangnya mereka memacu kuda mereka seperti anak panah. Mereka menjadi tidak tenang, serasa meninggalkan anak-anak bermain di tepi sungai. Karena itu maka yang tergores di dalam angan-angan mereka, adalah secepatnya sampai ke Candi Gedong Sanga.


Apalagi ketika mereka sampai ke lembah di hadapan daerah perkemahan mereka. Kebo Kanigara ternyata mempunyai perasaan yang tajam sekali. Ketika angin yang aneh menyentuh kulitnya, berkatalah ia bergumam seperti kepada diri sendiri, ”Alangkah sejuknya malam.”


Mahesa Jenar masih belum merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya, karena itu ia menjawab, ”Sejuk, bahkan terlalu sejuk. Aku kira malam musim kemarau ini dinginnya benar-benar sampai menggigit tulang.”


Kebo Kanigara menoleh kepada Mahesa Jenar. Dari wajah kawan seperjalanannya itu Kebo Kanigara dapat mengetahuinya bahwa Mahesa Jenar belum merasakan sesuatu. Namun waktu itu tidak terlalu lama. Sebab kemudian tampaklah alis Mahesa Jenar berkerut. Dan tiba-tiba dengan nanar ia memandang ke arah perkemahan anak-anak Banyubiru, meskipun yang tampak hanyalah kehitaman melulu. Namun seolah-olah ia ingin menembus hitamnya malam, dan langsung ingin mengetahui apa yang telah terjadi dibalik tabir malam yang kelam itu.

Tiba-tiba terdengar Mahesa Jenar berkata, ”Ya, alangkah sejuknya malam.”

Kebo Kanigara tersenyum. Tetapi kendali kudanya dipegangnya semakin erat. Tumitnya beberapa kali menyentuh perut kudanya, untuk mempercepat perjalanan. Mahesa Jenar pun berbuat serupa, diikuti oleh Wanamerta, Bantaran dan Penjawi yang telah menggigil kedinginan.


Bahkan terdengar Wanamerta yang tua berdesis, ”Alangkah anehnya alam. Kalau siang panasnya seperti memecahkan kepala. Kalau malam dinginnya sampai membekukan darah. Tetapi agaknya Anakmas berdua di muka itu tidak merasakan betapa tubuhku hampir membeku. Bahkan mereka mempercepat lari kuda mereka.”


”Bukankah lebih cepat lebih baik Paman?
” jawab Bantaran. ”Dengan demikian kita lebih cepat sampai untuk kemudian menyalakan api sebesar-besarnya. Membakar jagung dan ketela. Alangkah nikmatnya. Meskipun aku tadi sudah mendapat suguhan makan, namun laparnya bukan main.”


Terdengar Penjawi tertawa saja. Kemudian terdengar di sela-sela suara tertawanya. ”Kakang Bantaran. Untunglah bahwa tempat nasimu tadi tidak dilubangi oleh orang-orang Pamingit, sehingga kau masih akan dapat menikmati perasaan kenyang.”

Terdengar mereka bertiga tertawa. Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar menoleh sambil tersenyum pula. Tetapi mereka sudah tidak mampunyai minat untuk turut serta berkelakar. Sebab sudah terasa oleh mereka itu, bahwa di Gedong Sanga telah terjadi sesuatu. Bahkan kemudian terdengar Mahesa Jenar berbisik, untuk tidak menggelisahkan pengikutnya. ”Apakah yang telah mempengaruhi udara malam ini Kakang?”
”Aku takut bahwa Bantaran dan Penjawi akan tertidur di atas kudanya,
” jawab Kebo Kanigara.
Sirep,” desis Mahesa Jenar.
Ya,” jawab Kanigara singkat.


Kemudian untuk sesaat mereka terdiam. Tetapi kuda mereka berpacu lebih cepat lagi. Semakin dekat, semakin terasa pengaruh yang aneh mengalir menurut angin lembah menyentuh-nyentuh tubuh mereka. Kemudian terdengarlah sekali lagi Penjawi menguap sambil menggerutu, ”Ah, ada-ada saja. Dalam berpacu begini dapat juga aku menjadi ngantuk.”

Kami terlalu letih,” jawab Bantaran yang mulai ngantuk pula.