Karya SH Mintarja
466
LAWA IJO yang ganas itu hampir tak sabar pula. Ia ingin melumpuhkan lawannya segera. Ia menjadi marah dan mengumpat tak habis-habisnya melihat kenyataan bahwa Mantingan sedemikian mahirnya mempermainkan trisulanya, sehingga selubang jarum pun tak berhasil ditemukan untuk menyusupkan pisau belatinya. Meskipun ia sadar bahwa Mantingan kini tinggal mampu mempertahankan diri.
Demikianlah Mantingan bertahan mati-matian untuk memperpanjang waktu. Kalau ia
kemudian binasa, ia mengharap Rara Wilis bersama-sama dengan Wirasaba dapat
mengganti kedudukannya.
Di bagian lain, Widuri bertempur seperti seekor kijang. Meloncat dengan
lincahnya kian kemari. Kadang-kadang ia berlari-lari berputar-putar seolah-olah
sudah tidak berani lagi menghadapi lawannya. Namun kemudian ketika Bagolan
mengejarnya dengan dada terkembang, tiba-tiba ia berhenti, Widuri menyerang
dengan dahsyatnya. Rantai peraknya berputar-putar seperti lesus yang seolah-olah
menghisap Bagolan untuk masuk ke dalam pusaran anginnya.
Dalam keadaan demikian maka seluruh bagian tubuh Bagolan dialiri keringat
dingin. Mati-matian ia harus menyelamatkan dirinya dari hisapan itu. Gumpalan
bayangan rantai Widuri yang gemerlapan itu membuatnya pening.
Segera Bagolan mengumpulkan tenaga lahir batin,
sambil menggerutu tak habis-habisnya. Untunglah bahwa ia memiliki tenaga raksasa
melampaui tenaga Widuri.
Sadar akan kelebihannya maka sekali-kali ia tidak menghindari serangan-serangan lawan kecilnya. dengan sepenuh tenaga ia mencoba untuk melawan setiap serangan dengan serangan. Widuri pun sadar akan keadaan ini. Untunglah bahwa ia bersenjata rantai yang lemas, yang tidak menggoncangkan tangannya dalam benturan-benturan yang terjadi. Namun ia selalu menjaga bahwa ia harus menghindarkan rantainya untuk tidak melilit senjata Bagolan, kecuali dalam kecepatan yang tinggi menurut perhitungan yang tepat. Dan memang ia sedang menunggu kesempatan itu. Kalau mungkin ia akan merampas bola-bola besi lawannya.
Tetapi Bagolan bukan anak-anak seperti dirinya yang senang pada permainan
aneh-aneh. Bagolan adalah salah seorang dari gerombolan Lawa Ijo yang menilai
jiwa seseorang tidak lebih dari jiwa seekor katak. Dengan uang beberapa keping
ia sudah bersedia memotong leher seseorang. Karena itu kali ini pun tidak ada
soal lain dalam benaknya kecuali melumatkan gadis kecil yang banyak tingkah ini.
Meskipun kadang timbul pula ingatan Bagolan bahwa seorang kawannya memerlukan
lawannya itu. Namun seandainya ia berhasil menangkap hidup pun ia pasti akan
membuat perhitungan dengan Jadipa. Gadis kecil harus ditukar sedikitnya
dengan sebuah timang bermata berlian tiga rantai seperti yang dirampoknya di
daerah Mangir beberapa bulan yang lalu.
Tetapi ketika Widuri itu bertempur semakin cepat,
ingatannya tentang timang bermata berlian tiga rangkai itu pun kabur. Yang ada
kemudian adalah ingatan tentang kepalanya sendiri yang setiap saat terancam akan
terlepas dari lehernya.
Wirasaba pun ternyata melihat kesulitan
Mantingan. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ia tidak dapat meninggalkan
lawannya yang pasti akan menyulitkan kawan-kawannya yang lain. Meskipun ia telah
berusaha secepat-cepatnya menyelesaikan pertempuran, tetapi kedua lawannya yang
bernama Cemara Aking dan Ketapang itu dapat memberikan perlawanan dengan gigih.
Ternyata kedua orang itu pun sekadar dapat memberikan perlawanan dan mengikat
Wirasaba dalam suatu pertempuran. Sebab mereka berdua pun yakin bahwa mereka
tidak akan dapat mengalahkan Wirasaba.
Demikianlah ketika malam bertambah malam,
pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Ketika tubuh mereka telah dibasahi
peluh yang mengalir dari setiap lubang kulit, tandang mereka pun menjadi semakin
keras. Masing-masing kemudian bermaksud untuk segera mengakhiri pertempuran dan
membinasakan lawan-lawan mereka. Demikian juga Lawa Ijo yang semakin keras
menekan Ki Dalang Mantingan ke dalam keadaan yang semakin berbahaya.
Mantingan pun kemudian harus bekerja lebih keras
lagi untuk mempertahankan dirinya. Tetapi perasaannya kini benar-benar telah
bulat, bahwa ia harus menegakkan kesetiakawanannya terhadap Mahesa Jenar, Arya
Salaka dan anak-anak Banyubiru. Apapun yang akan terjadi atas dirinya. Karena
itu ia sama sekali tidak gelisah, bingung dan berkecil hati ketika
tekanan-tekanan Lawa Ijo menjadi semakin sengit. Namun justru karena itulah maka
ia tetap tenang dan menguasai dirinya sehingga ia tidak kehilangan akal. Dengan
demikian maka setidak-tidaknya ia akan dapat memperpanjang waktu perlawanannya.
Sebab dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit sekalipun, otaknya masih cukup
cerah untuk mencari jalan keluar dari bahaya itu.
Lawa Ijo lah yang justru menjadi gelisah dan
marah. Ia ingin segera membunuh lawannya. Namun sampai beberapa lama usahanya
selalu tidak berhasil. Karena itu, dibakar oleh kemarahannya yang memuncak,
tiba-tiba ia berteriak nyaring. Kedua pisaunya disilangkan di atas kepalanya,
sedang dari matanya seolah-olah memancar api yang menyala-nyala.
Mantingan terkejut melihat sikap itu. Ia masih
belum tahu apa maksud dari gerakan-gerakan yang aneh itu. Namun ia yakin bahwa
Lawa Ijo sedang membuka ilmunya yang diandalkan. Dengan demikian Mantingan
semakin menyiagakan diri. Ia masih melihat Rara Wilis dan Wirasaba melayani
lawannya. Karena itu bagaimanapun ia harus berusaha untuk menyelamatkan mereka
itu sampai mereka berhasil membunuh lawan-lawan mereka, supaya mereka tidak
ditelan oleh Lawa Ijo.
Ketika Lawa Ijo sudah siap untuk meloncat dan
menyerangnya kembali, Mantingan membelai trisulanya sekali lagi, seolah-olah
untuk yang terakhir kalinya. Ilmu Pacar Wutah-nya sudah dikerahkan sejak lama
sebelum Lawa Ijo mempergunakan ilmu terakhirnya. Meskipun demikian ia tak dapat
mendesaknya. Apalagi sekarang, pada saat Lawa Ijo sudah sampai pada puncak
keganasannya.
Cerita Bersambung 11 Juni 2000
NAGASASRA
dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
467
WAKTU yang diperlukan Lawa Ijo untuk
memusatkan tenaganya tidaklah lama. Beberapa kejap kemudian ia sudah meloncat
kembali dan menyerang Mantingan dengan sangat dahsyat. Mantingan pun dengan
mati-matian menggerakkan trisulanya dalam puncak ilmu pacar wutah. Namun hanya
sesaat saja ia mampu bertahan, sebab kemudian terasa bahwa gerakan-gerakan Lawa
Ijo memancarkan udara yang amat panas. Mantingan sadar bahwa udara yang panas
itu adalah akibat dari ilmu Lawa Ijo yang dipancarkan oleh kekuatan batinnya
yang tinggi dan bersumber pada ilmu hitam.
Beberapa kali Mantingan terdesak. Bahkan kemudian
dengan garang Lawa Ijo meloncat memburu, didahului oleh udara yang sangat panas.
Kali ini Mantingan benar-benar tidak melihat kemungkinan untuk mengelakkan diri.
Udara panas yang membakar dirinya, seolah-olah membuat darahnya mendidih dan tak
berdaya. Kakinya tiba-tiba terasa lumpuh. Dalam keadaan demikian, ia hanya mampu
mengacungkan trisulanya lurus ke depan, ke arah Lawa ijo yang seperti akan
menerkamnya dengan dua pisau belati di tangan.
Namun dalam keadaan yang sangat berbahaya itu
tiba-tiba terdengarlah jerit ngeri. Yang kemudian disusul tubuh yang jatuh
terbanting. Lawa Ijo yang sudah yakin akan dapat menembus dada Mantingan menjadi
terkejut, sehingga langkahnya terhenti. Ketika ia menoleh, dan juga Mantingan
sempat pula menoleh, dilihatnya Tembini berguling-guling di tanah. Dari dadanya
memancar darah merah segar. Seleret pandang Rara Wilis menyambar wajah Mantingan
yang kosong. Sebenarnyalah bahwa Rara Wilis melihat keadaan Mantingan yang
berbahaya. Karena itu sengaja ia berusaha sekuat tenaga untuk mempengaruhi Lawa
Ijo.
Karena untuk melukai Wadas Gunung masih agak
sulit dan waktu yang terlalu sempit, akhirnya pedang Rara Wilis terpusat ke arah
dada Tembini. Untunglah bahwa ketangkasannya mampu mendahului gerak Lawa Ijo
yang hampir saja menentukan batas umur Mantingan dengan ilmu yang dinamai oleh
Pasingsingan, Alas Kobar, sehingga benar-benar jeritan Tembini dapat
menghentikan langkah terakhir Lawa Ijo.
Melihat Tembini terbanting dan berguling-guling di tanah, Lawa Ijo sama sekali tidak menaruh perhatian. Ia bahkan menjadi semakin marah karena geraknya terganggu. Karena itu dari mulutnya terdengar umpatan, Persetan kau Tembini. Matilah kau kelinci, dan kulitmu akan aku rentang di depan regol sarang kita sebagai peringatan dari salah seorang anggota Lawa Ijo yang memalukan.
Semua yang mendengar umpatan itu mau tak mau meremang bulu kuduknya. Terhadap
anggotanya sendiri, Lawa Ijo dapat berbuat demikian, apalagi kepada
lawan-lawannya. Dalam pada itu Bagolan pun menjadi ngeri. Ia tidak mau
diperlakukan seperti Tembini. Apalagi lawannya tidak lebih dari seorang gadis
kecil.
Tetapi bagaimanapun Bagolan mengerahkan
tenaganya, ternyata ia tidak dapat mengatasi keadaan. Sebab rantai perak itu
seperti selalu meraung-raung di telinganya, menyambar-nyambar seperti lalat yang
dapat saja hinggap di mana-mana di bagian tubuhnya dengan sesukanya.
Memang, beberapa kali Bagolan telah merasakan
ujung rantai itu menyengat tubuhnya. Sakit dan nyeri. Semakin lama semakin
sering. Dan ia tahu benar bahwa gadis kecil itu seperti sedang bermain-main
saja. Kalau akhirnya gadis itu bertempur sebenarnya, maka benar-benar seluruh
kulitnya akan terkelupas habis.
Dalam pada itu, kembali mata Lawa ijo yang
memancar merah menyambar wajah Mantingan. Dan kembali kemarahan yang membakar
dadanya terpancar dari mata itu seperti terpancarnya api. Kali ini Lawa Ijo
tidak mau melepaskan korbannya lagi. Apapun yang terjadi. Meskipun semua
anggotanya akan berteriak bersama-sama dan mati bersama-sama sekalipun. Ia akan
membunuh Mantingan untuk kemudian membunuh Wirasaba dan Arya Salaka.
Tetapi ketika ia sudah siap, tiba-tiba dilihatnya seorang anak muda muncul dari kegelapan malam berjalan seenaknya ke arahnya. Wajahnya yang cerah selalu dihiasi oleh senyumnya yang manis. Dengan ramah kemudian terdengar ia berkata, Paman Mantingan, sebaiknya Paman beristirahat untuk sementara. Meskipun aku harap Paman untuk selalu mengawasi aku di sini. Beberaoa tahun yang lampau aku mendengar guruku bertempur mati-matian melawan Lawa Ijo di tengah-tengah hutan Tambakbaya. Sekarang kurang lebih lima tahun kemudian, biarlah aku, muridnya, mencoba kesaktiannya. Apakah benar aku telah dapat memenuhi harapan guruku, mewarisi ilmunya untuk sedikitnya seperti ilmu guru lima tahun lalu.
Melihat kedatangan anak muda dan mendengar kata-katanya untuk mencoba
melawannya, Lawa Ijo seperti dihantam batu hitam sebesar kepalanya. Ia menjadi
marah sekali, sedemikian marahnya sehingga untuk beberapa saat ia terpaku
gemetar di tempatnya. Mantingan pun terheran-heran mendengar permintaan Arya
Salaka itu. Apakah benar-benar ia akan melakukannya?
Dalam pada itu Mantingan pun kemudian menengok ke
segenap arah untuk mencari di manakah orang-orang yang baru saja bertempur
melawan Arya Salaka. Tetapi yang tampak hanyalah kegelapan malam. Di sana-sini
tampak beberapa orang yang terikat dalam pertempuran berpasang-pasang. Jaladri
melawan Carang lampit, Rara Wilis melawan Wadas Gunung, Wirasaba melawan Cemara
Aking dan Ketapang, sedangkan Widuri melawan Bagolan.
Karena keheranannya maka tanpa sengaja Mantingan
bertanya, Di manakah lawan Angger tadi...?
Arya Salaka masih saja tersenyum. Aku terpaksa membunuh mereka, paman. Karena
ternyata sudah tidak mau mendengar peringatanku. Bahkan mereka dengan ganasnya
mencoba membunuh aku pula.
Kau bunuh mereka bertiga...? Tiba-tiba terdengar Lawa Ijo berteriak.
Maaf Lawa Ijo. Anak buahmu itu terlalu keras kepala, jawab Arya
Salaka.
Cerita Bersambung 12 Juni 2000
NAGASASRA
dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
468
SEKALI lagi dada Lawa Ijo terguncang.
Ketika ia memandang berkeliling ia masih melihat Wadas Gunung, Cemara Aking,
Ketapang, Bagolan, Carang Lampit dan Tembini yang terluka. Kalau demikian maka
orang-orang yang terbunuh itu adalah Bandotan, Jadipa dan seorang kebanggaannya
yang bernama Kyai Sada Gebang. Dengan hampir tidak percaya Lawa Ijo sekali lagi
berteriak, Benar kau lakukan pembunuhan itu?
Aku tidak bermaksud demikian Lawa Ijo. Aku sekadar membela diri. Dan aku tidak melihat cara lain daripada membinasakan mereka. Lebih-lebih orang setengah tua berjanggut panjang dan bersenjata sepasang nenggala. Ganasnya bukan main.
Tidak atas kehendaknya, Lawa Ijo berkata, Ialah Kyai Sada Gebang. Kau
bunuh juga orang itu?
Terpaksa, gumam Arya Salaka.
Mau tidak mau Lawa Ijo berpikir keras. Apakah ada orang lain yang membantu anak
muda itu sehingga ia berhasil membunuh ketiga orangnya yang sama sekali bukan
orang-orang kebanyakan, Dan sekarang anak itu datang menantangnya.
Tiba-tiba timbullah dendam di dalam hati Lawa
Ijo. Dendam itu semakin lama semakin membara dan menyala-nyala. Memang sejak
semula ia ingin membunuh anak muda itu untuk memadamkan semangat perlawanan
anak-anak Banyubiru. Sebab anak-anak Banyubiru yang menyingkir ke daerah Gedong
Sanga inilah sebenarnya yang berbahaya bagi jalan yang dirintisnya untuk
menguasai seluruh daerah perdikan bekas perdikan Pangrantun.
Dan, sekarang anak itu telah datang kepadanya
untuk menyerahkan dirinya. Maka adalah suatu kebetulan bahwa tanpa bersusah
payah ia akan dapat mencapai maksudnya. Karena itu dengan menggeram ia berkata, Arya
Salaka, kalau kau benar-benar dapat membunuh ketiga orang-orangku tanpa bantuan
orang lain, maka wajarlah kalau kau berani menantang aku. Tetapi kalau dalam
perkelahian ini kau akan terbunuh dengan sia-sia, maka jangan salahkan aku.
Bersama-sama dengan Mantingan, kepalamu akan aku penggal dan akan aku pasang
kelak di tengah-tengah alun-alun Banyubiru. Dengan demikian apakah kira-kira
rakyat Banyubiru itu akan tetap setia kepadamu?
Arya Salaka tidak menjadi marah mendengar
perkataan kasar itu. Ia tahu dari gurunya, bahwa orang-orang semacam Lawa Ijo
itu memang selalu berkata kasar. Maka dengan tenangnya ia menjawab, Jangan
kau menakut-nakuti aku Lawa Ijo. Kepalaku jangan sekali-kali kau penggal, sebab
alangkah sulitnya hidup tanpa kepala.
Gila! geramnya.
Mendengar ejekan-ejekan Mantingan, telinga Lawa Ijo telah terbakar hangus, apalagi sekarang anak yang baru dapat tegak berdiri itu telah berani menghinanya pula, menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan cara yang sama.
Karena itu Lawa Ijo sudah tidak mau berkata lagi. Sebagai seorang maharaja di
daerah alas Mentaok, yang dilindungi oleh gurunya yang maha sakti dan bernama
Pasingsingan, Lawa Ijo tidak biasa membiarkan dirinya dihina dan tidak biasa
pula mencoba menahan-nahan kemarahannya. Kalau ia ingin membunuh, membunuhlah
ia. Kalau ia ingin menyiksa, menyiksalah ia. Kalau ia hanya sekadar ingin
merampok, merampoklah ia.
Demikianlah kali ini, timbullah keinginannya
untuk membunuh dengan cara yang paling mengerikan. Ia menganggap bahwa
orang-orang itu sama sekali tidak menghargainya, tidak merasa ketakutan
kepadanya. Karena itu mereka harus mendapat hukuman.
Sambil menggeram dahsyat Lawa Ijo menerkam Arya
Salaka, sekaligus dengan ilmunya Alas Kobar. Udara yang panas seolah-olah
memancar dari tubuhnya, melingkar ke segenap penjuru di sekitarnya. Mantingan
yang tidak mengalami serangan Lawa Ijo itu pun merasakan betapa udara panas itu
telah membakar kulitnya. Bersama dengan itu, hatinya pun terguncang keras.
Apakah yang akan terjadi dengan Arya Salaka?
Mantingan sendiri mengalami kesulitan untuk
mempertahankan diri melawan Lawa Ijo. Tetapi hatinya terlonjak ketika ia melihat
Arya Salaka dengan tenangnya dapat menghindarkan dirinya dari terkaman pisau
Lawa Ijo. Dengan tangkasnya ia berkisar ke samping, dan dengan gerakan yang
cepat dan lincah ia meloncat memutar tombak pusakanya, langsung mengarah ke ulu
hati lawannya.
Lawa Ijo pun terkejut melihat serangan itu. Anak
ini benar-benar seperti anak setan. Serangannya yang dibarengi dengan ajinya
Alas Kobar, masih sempat dihindari oleh Arya Salaka.
Sebenarnyalah bahwa Arya Salaka pun mula-mula terkejut merasakan serangan udara panas itu.
Namun tanpa sesadarnya, udara yang panas itu
lambat laun menjadi sejuk dengan sendirinya. Setelah peluhnya mengalir dari
segenap lubang kulitnya, maka tubuhnya semakin merasa segar. Ia tidak lagi
terpengaruh oleh udara panas yang secara bergelombang melibat dirinya. Ia
sendiri tak menyadari bahwa berkat pertolongan orang berjubah abu-abulah, ia
dapat membebaskan diri dari serangan aji Alas Kobar yang ganas.
Kekuatan-kekuatan yang ada di dalam tubuh Arya
Salaka, yang semula merupakan tenaga cadangan untuk menembus urat-urat darahnya
di permukaan kulit untuk melawan rangsang dari luar, kini telah bebas.
Kekuatan-kekuatan itu dapat dipergunakan untuk keperluan-keperluan khusus.
Adalah suatu kurnia baginya, bahwa ia telah berhasil mengatur jalan
pernafasannya serta jalur-jalur urat-urat di tubuhnya dengan baik menurut
petunjuk Kebo Kanigara, yang disangkanya untuk mendasari ilmunya Sasra Birawa,
disusul dengan usaha orang berjubah abu-abu yang telah membuka segenap simpanan
kekuatan di dalam tubuhnya.
Demikianlah, maka Arya Salaka seolah-olah telah dapat membebaskan dirinya dari gangguan simpul-simpul perasa dari seluruh permukaan kulitnya. Meskipun ia tidak menjadi kebal dari serangan senjata, namun dalam saat-saat tertentu dengan sendirinya ia berhasil mengurangi segenap perasaan yang ditimbulkan oleh simpul-simpul perasa itu.
Cerita Bersambung 13 Juni 2000 NAGASASRA
dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
469
SEBENARNYALAH, bahwa seseorang dengan
mengatur pernafasannya dengan baik, pemusatan pikiran dan kehendak, percaya
kepada kebenaran atas tindakannya, dan pasrah setulus-tulusnya kepada Tuhan Yang
Maha Besar, dapatlah kiranya orang menyingkirkan diri dari kesadaran perasaan
yang ditimbulkan oleh wujud jasmaniahnya. Sehingga akhirnya orang dapat
menguasai ujud jasmaniahnya sendiri.
Dalam keadaan yang demikianlah Arya Salaka
bertempur dengan gigihnya melawan Lawa Ijo. Sebagai seorang pemuda yang sedang
berkembang, ia memiliki semangat yang luar biasa. Otot-ototnya yang mulai tampak
berjalur-jalur di bawah kulitnya telah membentuk tubuhnya menjadi bertambah
serasi dengan wajahnya yang keras penuh daya juang dan penuh harapan bagi masa
depan.
Mantingan melihat pertempuran itu seperti terpaku
di tempatnya. Mimpi pun tidak, bahwa ia akan berkesempatan menyaksikan Arya
Salaka bertempur melawan Lawa Ijo dalam keadaan sedemikian baiknya. Ia sama
sekali tidak menyangka bahwa Arya Salaka telah berhasil menempa dirinya menjadi
seorang anak muda perkasa. Yang mau tidak mau harus diakuinya bahwa anak itu
telah melampauinya, dan menempatkan dirinya sejajar dengan tokoh hitam yang
terkenal itu. Bahkan ternyata bahwa Arya Salaka sama sekali tidak mengalami
kesulitan dalam pertempuran itu, meskipun ia harus melawan ilmu Lawa Ijo yang
memancarkan panas, sepanas api.
Mantingan tersadar ketika beberapa kali udara
panas melanda dirinya. Karena itu segera ia melangkah surut menjauhi titik
pertempuran itu dengan pertanyaan di dalam dirinya. Apakah sebabnya maka Arya
Salaka seolah-olah sama sekali tidak merasakan sentuhan-sentuhan udara panas
itu.
Meskipun demikian Mantingan belum berani
meninggalkan Arya Salaka bertempur di luar pengawasannya. Kalau terjadi sesuatu
atas anak itu, maka Mantingan-lah yang bertanggungjawab sepenuhnya. Sedangkan
untuk ikut serta di dalam pertempuran itu, Mantingan tidak sampai hati. Ia tidak
melihat keharusan untuk bertempur berpasangan melawan Lawa ijo, meskipun ia
yakin bahwa seandainya ia ikut serta maka pasti ia berdua dengan Arya Salaka
akan segera dapat memenangkan pertempuran itu, meskipun barangkali tubuhnya akan
hangus oleh pancaran panas dari tubuh Lawa Ijo.
Karena itu Mantingan hanya dapat melihat saja
pertempuran itu dengan penuh minat, meskipun trisulanya tetap tergenggam erat di
tangan. Ia kemudian menjadi bangga ketika melihat Arya Salaka bertempur dengan
gagahnya, menyambar-nyambar seperti burung rajawali raksasa.
Tetapi Lawa Ijo pun lincah. Ia benar-benar dapat
bergerak seperti kelelawar di dalam gelap. Matanya menjadi bercahaya seperti
mata serigala. Dengan menggeram dahsyat sekali ia bertempur semakin ganas. Namun
demikian di dalam hatinya terseliplah pertanyaan yang membelit-belit dirinya.
Seperti juga Mantingan, Lawa Ijo menjadi heran, kenapa anak muda itu dapat
membebaskan dirinya dari pengaruh ilmu Alas Kobar.
Ketika Lawa Ijo tidak dapat menemukan jawab atas
pertanyaan itu, justru ia menjadi semakin marah. Geraknya menjadi semakin ganas.
Mirip seperti serigala kelaparan, ia merangsang lawannya dengan rakusnya. Kedua
pisau belatinya berkilat-kilat menyambar-nyambar seperti sepasang halilintar,
yang dipakai Dewa Pencabut Nyawa seperti dalam ceritera pewayangan.
Tetapi Arya Salaka pun tangguh bukan kepalang.
Tombaknya dapat melindungi tubuhnya rapat sekali. Sedang gumpalan bayangan
tombaknya itu bergulung-gulung seperti awan gelap yang siap menelan apa saja
yang menghalangi dirinya.
Demikianlah, pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya. Lawa Ijo, murid terkasih hantu bertopeng, melawan Arya Salaka. Dalam dunia pengembaraannya, Lawa Ijo telah banyak memiliki pengalaman yang dahsyat dan mengerikan. Telah beberapa puluh orang yang cukup terkenal dilawan dan dibunuhnya. Telah beberapa daerah perdikan yang didatanginya dan bertekuk lutut menyerahkan segala harta kekayaannya. Tetal beberapa kali ia berhasil meloloskan diri dari jaring-jaring yang dipasang oleh para pejabat keamanan dari Kerajaan Demak. Namun ia masih tetap pada pekerjaannya. Merampok. Membunuh.
Dan yang terakhir, terbersitlah kemauan Lawa Ijo untuk menundukkan perdikan
Banyubiru. Apalagi ketika tersiar berita untuk kedua kalinya, bahwa Kyai
Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten tersimpan di daerah itu. Ketika itu ia bersepakat
dengan kawan-kawan segolongannya untuk bersama-sama menghancurkan Banyubiru.
Meskipun mereka yakin, bahwa setelah itu akan terjadi saling mendesak dan saling
membunuh diantara golongan hitam itu sendiri.
Namun tiba-tiba rintisan usahanya itu terbentur hanya karena Arya Salaka datang kembali ke tanah perdikannya. Apakah sebenarnya arti dari anak ini? Tetapi ia sekarang menghadapi suatu kenyataan bahwa Arya Salaka yang masih muda itu memiliki kekuatan yang harus diperhitungkan. Dengan demikian maka dada Lawa Ijo menjadi semakin bergolak. Dengan darah yang mendidih ia mengerahkan segenap kekuatannya dengan dilambari oleh ilmunya Alas Kobar untuk membinasakan anak itu.
Cerita Bersambung 14 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
470
ARYA SALAKA bukanlah seekor cacing yang hanya
mampu melingkarkan diri. Lebih dari lima tahun ia telah membajakan dirinya,
dipadu dengan tubuhnya yang sedang mekar dalam umurnya yang muda itu. Maka ia
adalah seorang anak muda yang luar biasa. Ia memiliki ketangkasan, ketangguhan
dan kelincahan yang dapat menyamai Lawa Ijo. Bahkan apapun yang dapat dilakukan
oleh Lawa Ijo, dapat disejajari oleh lawannya yang muda itu.
Dengan demikian Lawa Ijo menjadi bertambah marah,
bahkan akhirnya ia kehilangan kesabaran dan perhitungan. Apalagi ketika
sekali-kali ia sempat melihat lingkaran-lingkaran pertempuran yang lain.
Tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa anak buahnya dapat mengatasi keadaan.
Wadas Gunung, adik seperguruannya ternyata semakin sulit keadaannya. Ia hanya
dapat berkisar mundur dan mundur. Tanpa Tembini, bagi Wilis, Wadas Gunung sama
sekali tidak berarti, meskipun untuk membunuhnya tidak pula terlalu mudah.
Sedang Wirasaba masih bertempur pula dengan
garangnya. Kapaknya terayun-ayun menakutkan.
Di kejauhan tampak Widuri berdiri tegak dengan rantai berputar di tangan
kanannya. Bagolan yang berdiri beberapa langkah di mukanya hanya berkisar-kisar
saja. Dengan tertawa-tawa Widuri membiarkan Bagolan menyerangnya. Tetapi untuk
beberapa lama Bagolan sama sekali tak berani mendekati gadis kecil dengan rantai
berputar itu. Seperti seekor ayam jantan yang takut menghadapi lawannya, ia
berkisar berputar-putar. Namun kemana ia pergi, Widuri selalu menghadapinya.
Akhirnya Bagolan menjadi marah juga. Marah, malu
dan segala macam perasaan bercampur baur. Kedua bola besi bertangkai ditangannya
telah basah karena peluhnya. Dengan gemetar ia menggigit bibirnya. Sekali-sekali
ia ingin meloncat dan memukul hancur gadis itu. Tetapi setelah sekian lama ia
bertempur, ia mengetahui benar bahwa gadis kecil itu telah memiliki kesempurnaan
dalam bermain-main dengan rantainya. Sehingga yang dapat diperbuatnya hanyalah
mengumpat-umpat di dalam hati tak habis-habisnya. Kalau saja Widuri
menyerangnya, Bagolan akan mendapat kesempatan pada perubahan-perubahan gerak
gadis itu. Tetapi ternyata Widuri masih berdiri saja di tempatnya.
Tetapi justru karena itu Bagolan merasa malam itu tegang sekali. Keningnya
berkerut-kerut dan nafasnya terdengar berkejaran. Ia ingin berbuat sesuatu,
tetapi tidak dapat. Karena itulah maka ia menjadi seperti cacing kepanasan.
Lawa Ijo sendiri akhirnya merasa, bahwa Arya
Salaka ternyata jauh meleset dari anggapannya. Anak muda itu bertempur dengan
tangkasnya. Apa yang dilakukan oleh anak muda itu benar-benar seperti apa yang
dilakukan oleh Mahesa Jenar beberapa tahun yang lalu di hutan Tambak Baya.
Ketangkasan, ketangguhan dan ketrampilan. Bahkan
sekarang, ketika ia telah dapat melengkapi ilmunya dengan ilmu pamungkasnya Alas
Kobar, anak itu sama sekali tidak menemui kesulitan apa-apa, sehingga menurut
penilaian Lawa Ijo, Arya Salaka sekarang telah lebih jauh maju dari Mahesa Jenar
lima tahun yang lalu.
Disamping perasaan marah, timbul pula sepercik
pertanyaan di dalam dada hantu Mentaok itu. Kalau muridnya telah berhasil
menguasai ilmu sedemikian tingginya, lalu bagaimana dengan Mahesa Jenar sendiri.
Sementara itu Arya Salaka bertempur terus dengan
cepatnya. Karena ia pernah mendengar, bahwa Lawa Ijo memiliki ilmu yang tinggi,
maka ia tidak berani berjuang dengan separoh hati. Dan sekarang ternyata apa
yang pernah didengarnya itu adalah benar. Ia pernah bertempur dan bahkan
membunuh sepasang Uling dari Rawa Pening.
Namun ternyata Lawa Ijo mempunyai kelebihan dari
mereka. Tetapi Arya Salaka tidak tahu bahwa ilmu Alas Kobar-lah yang agak
mengganggu dirinya, karena sebagian kekuatan cadangannya tersalur untuk melawan
kekuatan pancaran panas sehingga kulitnya tidak hangus karenanya, disamping tata
pernafasannya yang sempurna serta kebulatan pikiran dan tekadnya, serta pasrah
diri setulus-tulusnya kepada Yang Maha Besar. Maka hal yang demikian itulah yang
telah mengurangi gangguan-gangguan perasaan pada bentuk jasmaniahnya.
Lawa Ijo semakin lama menjadi semakin ganas. Ia
sama sekali tidak peduli ketika didengarnya sekali lagi sebuah teriakan nyaring
dari mulut orang yang bernama Ketapang, karena goresan kapak Wirasaba. Bahkan ia
kemudian tidak sadar ketika di sekeliling titik pertempuran itu telah berdiri
berjajar-jajar Wirasaba, Rara Wilis dan Endang Widuri disamping Mantingan.
Mereka telah kehilangan lawan-lawan mereka,
karena melarikan diri. Tetapi sebenarnya Lawa Ijo sendirilah yang telah
mengeluarkan perintah itu. Perintah untuk meninggalkan gelanggang, sebab ia
yakin kalau anak buahnya bertempur semakin lama, mereka pasti akan binasa.
Dengan sebuah suitan yang tak dimengerti oleh orang lain, Lawa Ijo membenarkan
anak buahnya untuk menyingkir.
Tetapi ia sendiri sama sekali belum bermaksud meninggalkan pertempuran itu. Ia
benar-benar ingin membunuh Arya Salaka. Ia mengenal sifat-sifat kesatria dari
lawan-lawannya itu. Karena sifat-sifat itu maka mereka pasti tidak akan
menyerangnya bersama-sama. Perhitungan-perhitungan yang licik ini pun bagi Lawa
Ijo tidak ada halangan apapun. Ia dapat berbuat apa saja untuk mencapai
maksudnya. Dan ternyata perhitungannya kali ini pun benar.
Rara Wilis, Widuri, Mantingan dan Wirasaba bahkan
kemudian juga Jaladri, hanya berdiri dengan tegang mengamati pertempuran itu
dengan seksama, meskipun di tangan mereka tetap tergenggam senjata
masing-masing. Bahkan ujung pedang Rara Wilis itupun meskipun menunduk ke tanah,
namun tetap bergetaran, siap untuk menembus dada hantu dari Mentaok itu.
Namun mereka seakan-akan terpesona melihat pertempuran itu. Meskipun mereka tidak merasa curang, apabila mereka bersama-sama menangkap Lawa Ijo itu, namun tiba-tiba di dalam hati mereka timbullah keinginan mereka untuk membiarkan Arya Salaka bertempur sendiri.