Cerita Bersambung 05 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
461
WIDURI sudah tidak berbaring lagi. Ia duduk di belakang Rara Wilis sambil
memeluk kedua lututnya. Ia menjadi jemu mendengar suara tertawa yang memuakkan
itu. Wilis dan Arya Salaka masih duduk di tempatnya semula tanpa berkisar.
Mereka pun menjadi gelisah karena ketidaksabaran mereka.
Ketika mereka mendengar derap kaki beberapa orang mendekati pondok itu, serentak
mereka mengangkat kepala untuk mengetahui dari manakah suara langkah itu datang.
Dada mereka kemudian menjadi berdebar-debar, dan tanpa sengaja menggenggam
senjata mereka semakin berat.
Suara langkah itu segera berhenti beberapa depa dari perkemahan itu. Di luar,
terdengarlah suara, Inikah pondok itu, Carang Lampit?
Ya, Ki Lurah, jawab yang lain, Itulah mereka, para penjaga yang
jatuh tertidur.
Terdengarlah kemudian suara tertawa pendek. Bagus.
Mungkin di dalam pondok inilah mereka tinggal. Sekarang masuklah dan tangkaplah
mereka hidup-hidup. Barangkali mereka kita perlukan. Bukankah gadis yang bernama
Rara Wilis itulah yang dahulu digilai oleh Jaka Soka? Nah, barangkali gadis itu
dapat kita pergunakan sebagai alat untuk menundukkan hati Ular Laut yang gila
itu.
Mendengar percakapan itu hati Rara Wilis berdesir.
Ia menyesal bahwa Ular Laut itu pernah melihat wajahnya, sehingga sampai
sekarang masih saja persoalan itu terbawa-bawa. Meskipun ia sama sekali sudah
tidak perlu lagi setakut dahulu, namun ia lebih ngeri merasakan kegilaan Jaka
Soka itu daripada harus bertempur melawannya.
Tetapi ia tidak sempat terlalu banyak mengenang pertemuannya yang tidak
menyenangkan dengan Jaka Soka itu, karena di luar kembali terdengar suara. Carang
Lampit, bawalah Bagolan, Tembini dan beberapa orang lagi. Ingat, tangkap mereka
hidup-hidup, dan ikat mereka itu. Kecuali kalau Arya Salaka melawan, ia dapat
mengatasi pengaruh sirepku, kalau ia ada di dalam pondok itu pula.
Baik Ki Lurah, jawab suara yang lain.
Bersamaan dengan itu bersiaplah semua orang yang
berada di dalam pondok itu untuk menghadapi segala kemungkinan. Menilik langkah
mereka, dan suara-suara yang bergumam, mereka pasti terdiri beberapa orang yang
lebih banyak dari jumlah mereka yang ada di dalam.
Tetapi sebelum mereka membuka pintu, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa agak
jauh dari pondok itu.
Suara tertawa itu tidak begitu keras dan sama sekali tidak mengerikan.
Orang-orang yang berada di dalam pondok itu terkejut. Apalagi yang berada di
luarnya dengan suara lantang terdengarlah salah seorang di luar pondok itu
berkata, Hai Carang Lampit, siapakah itu?
Entahlah Ki Lurah, jawab yang lain.
Gila, dengus suara yang pertama, yang ternyata adalah suara Lawa Ijo
sendiri. Masih ada orang yang dapat membebaskan diri dari pengaruh sirepku
ini.
Kemudian terdengarlah suara di kejauhan, Lawa Ijo, sebagai penghuni
perkemahan ini aku mengucapkan selamat datang.
Siapakah kau...? teriak Lawa ijo.
Bagi mereka yang sudi menyebut namaku, akulah yang bernama Mantingan,
jawab suara itu.
Hemm, jadi kaukah yang terkenal dengan nama Dalang Mantingan yang sakti?
Tak ada orang yang menambah dengan kata sakti itu, Lawa Ijo, jawab
Mantingan. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku seorang dalang.
Bagus... jawab Lawa Ijo. Bahwa kau dapat membebaskan dirimu dari
pengaruh sirepku itu sudah merupakan pertanda bahwa kau memiliki kesaktian yang
cukup. Tetapi kau terlalu berani menampakkan dirimu di hadapanku dan
kawan-kawanku. Apakah kau sudah bosan hidup?
Belum, Lawa Ijo, jawab Mantingan selanjutnya, Aku sama sekali masih
belum bosan hidup.
Kenapa kau mengganggu kami? bentak Lawa Ijo.
Aku sama sekali tidak mengganggu kau. Bukankah aku sekadar mengucapkan
selamat datang? sahut Mantingan.
Diam! teriak Lawa Ijo marah. Kemarilah dan katakan cara apa yang
kau senangi untuk membunuh orang yang telah menghina aku.
Aku tidak akan membunuh orang itu, jawab Mantingan.
Pengecut...! teriak Lawa ijo semakin keras. Kalau begitu, pilihlah
cara yang kau katakan bahwa aku senangi untuk membunuhmu.
Kembali terdengar suara Mantingan tertawa. Segar
dan renyah. Katanya kemudian, Sudah aku katakan bahwa aku masih senang
menunggu terbitnya matahari esok pagi, Eh, apakah keperluanmu datang kemari
tanpa memberitahukan lebih dulu?
Setan! umpat Lawa Ijo. Kalau begitu,
aku akan memaksamu, menyeret kemari dan membunuhmu dengan cara yang aku senangi.
Jangan marah Lawa Ijo. Tak ada orang yang
akan mengucapkan terimakasih kepadamu, apabila demikian itu caramu
memperkenalkan diri, jawab Mantingan.
Lawa Ijo rupanya sudah tidak sabar lagi. Dengan
marahnya ia berteriak kepada Wadas Gunung, Wadas Gunung, tangkap orang itu.
Bawa dia kemari. Aku ingin mengetahui betapa keras tulang kepalanya.
Mendengar perintah itu, dada Wirasaba berdentang
keras. Ia tidak dapat membiarkan Mantingan bertempur sendiri. Tetapi rupanya
Jaladri sudah tidak sabar lagi menunggu saja sambil tiduran. Maka kemudian
terdengar juga suaranya, Ki Dalang Mantingan, bolehkah aku turut dalam
permainan ini?
Jaladri tidak menunggu jawaban Mantingan.
Demikian ia selesai berkata, demikian ia meloncat ke pintu.
Mendengar suara seorang lagi yang ternyata dapat membebaskan diri dari pengaruh
sirepnya, Lawa Ijo semakin terkejut. Wadas Gunung yang sudah melangkahkan
kakinya ke arah Mantingan, jadi tersentak. Dengan garangnya ia berkata, Carang
Lampit, ternyata masih ada orang-orang yang terbebas dari pengaruh sirep ini.
Cerita Bersambung 06 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
462
CARANG LAMPIT tidak menjawab, tetapi terdengar
giginya gemeretak karena marah. Bahkan kemudian ia meloncat maju dan seterusnya
ia berlari ke arah Mantingan dengan senjatanya di tangan, yaitu carang ori di
tangan kanan dan sebuah pisau belati panjang di tangan kiri.
Tetapi sebelum ia mencapai Dalang Mantingan, yang
berdiri di bawah pohon, dimana ia mula-mula memanjatnya, Jaladri telah berlari
pula mencegatnya. Carang Lampit menjadi semakin marah. Tanpa mengucapkan sepatah
katapun langsung ia menyerang Jaladri dengan senjatanya. Ternyata Jaladri pun
cukup tangkas menghadapinya. Segera ia meloncat kesamping, dan kemudian
berputarlah canggah bermata dua di tangannya, untuk kemudian dengan garangnya
menyerang Carang Lampit. Carang Lampit menggeram dengan penuh kemarahan. Matanya
yang bengis menjadi semakin buas. Tandangnya pun menjadi semakin buas pula.
Kedua senjatanya menyambar-nyambar mengerikan.
Mantingan melihat pertarungan itu dengan seksama.
Mula-mula ia menjadi cemas, apakah Jaladri dapat mengimbangi kekuatan Carang
Lampit. Tetapi ketika selangkah dua langkah pertempuran itu berlangsung,
Mantingan segera mengetahui bahwa Jaladri pun cukup memiliki kemampuan untuk
melawan salah seorang anak buah Gerombolan Alas Mentaok yang terkenal itu.
Di seberang yang lain, Lawa Idjo, Wadas Gunung
dan kawan-kawannyapun mengikuti pertempuran itu dengan tanpa berkedip. Mereka
menjadi tidak senang ketika mereka melihat ketangkasan Jaladri. Dengan penuh
kemarahan, Lawa Ijo bertanya, Siapakah orang itu?.
Orang itulah yang bernama Jaladri, jawab salah seorang anak buahnya.
Awasi dia, katanya kepada Wadas Gunung. Aku ingin menyelesaikan
orang sombong yang bernama Mantingan itu.
Baik Ki Lurah, jawab Wadas Gunung.
Yang lain jangan menunggu seperti orang nonton adu jago. Masukilah
perkemahan ini. Tangkap Wilis dan Widuri hidup-hidup. Bunuh saja Arya Salaka
kalau ia berada di sana. Kalau tidak, cari sampai bertemu, supaya bukan kepalamu
yang aku ceraikan dari tubuhmu, sambung Lawa Ijo dengan marahnya.
Baik Ki Lurah, jawab anak buahnya pula.
Sementara itu Lawa Ijo telah melangkah, setapak
demi setapak, ke arah Mantingan yang masih saja berdiri di bawah pohon sambil
menyaksikan Jaladri bertempur. Tetapi ketika ia melihat Lawa Ijo mendekatinya,
segera ia pun mempersiapkan diri. Sebab melawan pemimpin gerombolan alas Mentaok
ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Maka segera ia pun melangkah dua langkah
maju, menyongsong kedatangan Lawa Ijo.
Lawa Ijo yang terlalu percaya kepada kesaktiannya,
menganggap pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang berat. Ia seolah-olah demikian
yakin bahwa untuk membunuh Mantingan, tidak akan banyak membuang tenaga.
Mantingan masih tetap berdiri di tempatnya.
Sepintas ia melihat orang-orang Lawa Ijo yang lain telah siap untuk memasuki
pondok Rara Wilis. Karena itu ia menjadi berdebar-debar. Tetapi Lawa Ijo telah
meninggalkan pintu pondok itu dan memerlukan untuk melawannya, ia menjadi
sedikit berlega hati. Ia mengharap bahwa orang-orang lain dari gerombolan Lawa
Ijo itu tidak terlalu berbahaya.
Karena Mantingan tidak segera menjawab
perkataannya, Lawa Ijo merasa sekali lagi dihinakan. Maka dengan membentak keras
ia mengulangi, Mantingan. Tidakkah kau dengar kata-kataku? Menyerahlah dan
jangan mencoba melawan. Sebab dengan demikian kau akan menyesal bahwa kau akan
mengalami penderitaan pada saat akhirmu.
Mantingan tertawa pendek. Tetapi matanya masih saja menatap pintu pondok Rara Wilis. Sebuah tangan yang kasar dengan tiba-tiba merenggut pintu itu. Tetapi demikian pintu terbuka, sebuah kapak yang berat dengan ganasnya melayang ke arah kepala orang itu. Untunglah bahwa orang itu cukup tangkas. Dengan cepat ia meloncat mundur. Tetapi agaknya Wirasaba tidak memberinya kesempatan.
Dengan cepat pula ia meloncat keluar dan kapaknya
yang besar itu terayun-ayun mengerikan sekali.
Orang-orang yang berdiri di muka pintu itu segera meloncat berpencaran. Cemara
Aking, Bagolan, Tembini, Jadipa dan yang lain-lain. Mereka terkejut bukan
kepalang, sebab mereka sama sekali tidak mengira bahwa di dalam pondok itu
bersembunyi Wirasaba yang pernah mereka kenal beberapa tahun yang lampau di
Pliridan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang sudah cukup terlatih menghadapi
setiap kemungkinan. Karena itu dalam waktu yang pendek mereka telah siap dengan
senjata-senjata mereka untuk melawan Wirasaba.
Namun yang sama sekali diluar perhitungan mereka
adalah, tiba-tiba saja dimuka pintu itupun telah berdiri berjajar Rara Wilis
dengan pedang tipisnya, Arya Salaka dengan tombak pusakanya, dan yang seorang
lagi adalah gadis dengan wajah berseri-seri bermain-main dengan sebuah rantai
perak sebesar ibu jari.
Untuk beberapa saat mereka menjadi heran bahwa
orang-orang itupun dapat membebaskan dirinya dari pengaruh sirep Lawa Ijo, dan
mereka menjadi heran pula bahwa mereka itu agaknya akan ikut serta dalam
pertempuran. Tetapi mereka tidak mempunyai banyak kesempatan untuk menimbang,
sebab tiba-tiba saja mereka bertiga itu dengan lincahnya berloncatan, bahkan
mirip dengan api yang memercik ke segenap penjuru.
Demikianlah kemudian mau tidak mau, gerombolan
Lawa Ijo itu dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa Rara Wilis dan Endang Widuri
itupun bukanlah gadis yang hanya dapat menangis dan beriba-iba. Tetapi mereka
bahkan memiliki ketangkasan dan ketangguhan yang mengagumkan. Apalagi anak muda
yang harus mereka bunuh, dan bernama Arya Salaka itu. Seperti seekor burung
rajawali, ia menyambar nyambar dengan dahsyatnya.
Lawa Ijo, yang mendengar hiruk-pikuk itupun
kemudian menghentikan langkahnya. Ketika ia menoleh, ia hampir-hampir tidak
percaya pada penglihatannya. Samar-samar dalam kegelapan malam ia melihat
perkelahian yang dahsyat itu.
Cerita Bersambung 07 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
463
PERKELAHIAN antara anak buahnya dengan beberapa
orang yang muncul dari dalam pondok yang telah hampir saja dimasukinya. Apalagi
kemudian ketajaman matanya dapat menangkap bahwa yang bertempur itu adalah dua
orang gadis, seorang anak muda disamping orang yang gagah dan bersenjatakan
kapak. Bahkan kemudian tanpa disengaja ia bergumam, Siapakah mereka itu?
Dan tanpa disengaja pula Mantingan menjawab, Mereka
itulah yang telah kau sebut-sebut namanya.
Lawa Ijo tidak berkata-kata lagi. Tetapi ia menjadi semakin terpaku pada
pertempuran itu. Ternyata Rara Wilis, Endang Widuri, Arya Salaka berempat dengan
Wirasaba dapat melawan delapan orang anggota gerombolan terkenal dari Alas
Mentaok dengan baiknya. Pedang Rara Wilis bergetaran dengan cepatnya,
menyambar-nyambar dengan lincahnya. Sinarnya yang gemerlapan merupakan
gumpalan-gumpalan sinar maut yang bergulung-gulung menyerang lawannya.
Disamping itu masih ada lagi cahaya yang
berkilat-kilat dari rantai perak Endang Widuri. Ia jarang-jarang sekali
mempergunakan senjata itu, sebagaimana pesan ayahnya. Bahkan ia lebih senang
memakainya sebagai perhiasan di lehernya. Kalau pada saat itu ia terpaksa
mempergunakannya, maka sudah tentu bahwa ia menganggap pertempuran kali ini
cukup berbahaya baginya. Rantai itu di tangan Endang Widuri yang kecil dapat
mematuk-matuk dengan ganasnya, yang kadang-kadang dengan kecepatan luar biasa
menyambar lawannya untuk kemudian membelitnya.
Meskipun demikian, meskipun Endang Widuri sendiri
telah dapat bertempur dengan lincahnya, namun sekali-kali Rara Wilis selalu
berkisar mendekatinya. Bagaimanapun anak nakal itu kadang-kadang perlu
diperingatkan, bahwa pertempuran kali ini bukanlah permainan anak-anak.
Di sebelah lain, Arya Salaka dengan tangkasnya
memainkan tombak pusakanya. Tombak itu berputar seperti baling-baling, namun
kemudian meluncur seperti petir menyambar lawannya. Demikian membingungkan,
sehingga tak seorang pun berani mendekatinya. Lawan-lawannya bertempur dalam
jarak yang cukup dan mencoba menyerangnya dari arah yang berlawanan.
Adapun Wirasaba yang mula-mula merasa
berkewajiban melindungi kedua gadis beserta Arya Salaka, tidak kalah herannya
dari Lawa Ijo. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Rara Wilis adalah seorang
gadis yang perkasa, sedang Endang Widuri dengan kelincahannya merupakan seorang
yang cukup berbahaya bagi lawan-lawannya. Apalagi anak muda yang bernama Arya
Salaka itu. Bahkan akhirnya ia merasa bahwa ketiganya yang semula harus
dilindungi itu memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.
Disamping perasaan malu, Wirasaba kemudian merasa
bersyukur. Sebab ternyata lawan mereka adalah anggota gerombolan Lawa Ijo yang
menggemparkan. Kalau kedua gadis dan Arya Salaka benar-benar memerlukan
perlindungannya, maka sudah pasti bahwa ia tidak akan mampu melakukan
kewajibannya. Sebab ia sadar bahwa Jaladri telah terikat dalam perkelahian yang
seimbang. Ki Dalang Mantingan masih harus membayangi Lawa Ijo. Karena itu ketika
ia merasa bahwa pekerjaannya telah bertambah ringan, maka ia pun dapat bertempur
dengan tenang.
Lawa Ijo masih saja berdiri seperti patung.
Dengan dada yang bergelora ia mengikuti pertempuran itu. Ia menjadi marah sekali
ketika ia melihat Wadas Gunung sama sekali tidak berdaya menghadapi Rara Wilis,
sehingga Tembini masih harus membantunya. Jadipa yang terlanjur ketakutan
berhadapan dengan Widuri, mencoba mencari lawan lain. Bersama dengan dua orang
lain, ia bertempur melawan Arya Salaka. Ternyata Arya Salaka memiliki
ketangkasan luar biasa, sehingga untuk melawannya bertiga, sama sekali tidak
menyulitkan anak muda itu.
Sedang Bagolan dengan kedua bola besinya
bertempur melawan Endang Widuri. Mula-mula Bagolan agak merasa segan dan malu.
Ia merasa bahwa gadis kecil itu sama sekali bukanlah pekerjaan yang sesuai
dengan dirinya. Tetapi ketika sekali dua kali hampir saja kelit kepalanya
terkelupas oleh sambaran rantai Widuri, barulah ia sadar bahwa gadis itu
benar-benar luar biasa. Karena itu ia tidak dapat lagi menganggap bahwa ia hanya
sekadar melayani saja. Akhirnya keringat dingin membasahi hampir seluruh
permukaan tubuh Bagolan, ketika ternyata perlahan-lahan namun pasti Endang
Widuri berhasil menguasainya.
Wirasaba sendiri masih harus melayani dua orang
yang mengeroyoknya. Tetapi beberapa tahun yang lampau bersama dengan Mahesa
Jenar, ia pernah mengalami pengeroyokan anak buah Lawa Ijo itu. Bahkan hampir
duapuluh orang. Apalagi sekarang kakinya telah benar-benar sembuh dan pulih
kembali sehingga untuk melawan kedua orang itu, Wirasaba tidak harus bekerja
terlalu keras.
Ketika Lawa Ijo tidak sabar lagi melihat
pertempuran itu, dengan garangnya ia berteriak, Hei Wadas Gunung, Tembini
dan Bagolan... tidak malukah kamu...? Lihatlah lawanmu itu baik-baik. Ia tidak
lebih dari seorang perempuan. Apalagi gadis kecil yang banyak tingkah itu.
Kemudian kepada Rara Wilis dan Widuri, Lawa Ijo
berkata, Jangan melawan. Kalian tidak akan dibunuh.
Terdengarlah Endang Widuri tertawa dengan suara
kekanak-kanakan. Kemudian terdengarlah jawabannya, Kalau kami tidak akan
dibunuh, akan kalian apakan kami...?
Pertanyaan itu sungguh tidak terduga. Meskipun
Lawa Ijo sedang dipenuhi oleh kemarahan, namun ia berpikir juga untuk mencari
jawabnya. Kalian akan kami bawa ke rumah kami.
Sekali lagi Endang Widuri tertawa. Tetapi matanya tidak terlepas dari lawannya. Bahkan masih saja berhasil mendesak maju. Mendengar jawaban Lawa Ijo, Widuri meneruskan, Kami akan merepotkan kalian nanti. Karena itu kami kira usulmu tidak dapat kami terima. Adapun pendapat kami, barangkali baik juga seandainya kalian tidak bermaksud membunuh kami, sebaiknya kami saja yang membunuh kalian.
Cerita Bersambung 08 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
464
KATA-KATA Endang Widuri itu sama sekali juga
tidak terduga. Tetapi kali ini Lawa Ijo menjadi bertambah marah. Selama ini
agaknya ia merasa bahwa Wadas Gunung, Tembini dan Bagolan masih berpegang pada
perintahnya untuk menangkap hidup-hidup kedua gadis itu, sehingga mereka
bertempur dengan sangat hati-hati supaya tidak melukai mereka.
Karena kemarahan Lawa Ijo sudah memuncak, ia
berteriak keras-keras, He, Wadas Gunung, Tembini dan Bagolan... jangan
ragu-ragu lagi. Terserahlah gadis-gadis itu menurut kehendak kalian. Apakah
mereka akan kalian bunuh ataukah akan kalian hidupi untuk kepentingan kalian.
Mendengar kata-kata Lawa Ijo itu, Rara Wilis
benar-benar tersinggung. Berbeda dengan Widuri yang menganggap setiap perkataan
Lawa Ijo itu tidak lebih dari perkataan yang mengungkapkan kemarahannya. Tetapi
bagi Rara Wilis yang telah meningkat dewasa, bahkan telah melampaui dunia
keremajaan, sangat sakit hati atas anggapan seolah-olah dirinya tidak lebih dari
barang taruhan. Karena itu tiba-tiba dadanya terguncang dahsyat. Dari matanya
memancarlah perasaan sakit hati serta kemarahannya. Sejalan dengan itu pedangnya
pun menjadi bertambah garang dan berputar-putra mengerikan.
Dalam pada itu Wadas Gunung pun menjadi sangat
malu mendengar teguran kakak seperguruannya. Sebagai seorang murid Pasingsingan,
Wadas Gunung memiliki ilmu yang cukup tinggi. Tetapi karena perhatian
Pasingsingan sebagian besar dicurahkan kepada Lawa Ijo, maka agak kuranglah
waktunya yang diberikan kepada murid mudanya itu.
Meskipun demikian karena pembawaan tubuhnya yang
kokoh kuat, Wadas Gunung adalah orang yang cukup berbahaya. Karena itu kemudian
terdengarlah ia menggeram keras. Dan dengan sepenuh tenaga ia menyerang lawannya,
meskipun di dalam hati kecilnya terselip juga perasaan sayang apabila kembang
yang indah itu rontok karena tersentuh tangannya.
Apalagi kali ini ia bertempur bersama dengan
Tembini, seorang yang memiliki ketangkasan cukup. Sayang bahwa kelincahan
Tembini tidak mendapat saluran yang cukup baik, sehingga seolah-olah ia
bertempur tanpa pegangan selain dari apa yang selalu diperbuatnya selama ia
berada di dalam gerombolan itu dengan sedikit bimbingan dari Lawa Ijo dan Wadas
Gunung.
Tetapi lawan mereka kali ini adalah murid Ki
Ageng Pandan Alas, dan sekaligus cucunya pula. Selama beberapa tahun terakhir
Pandan Alas tidak mempunyai pekerjaan lain selain menanam jagung, kecuali
mendidik cucunya ini untuk dapat merebut ayahnya kembali dari tangan anak Sima
Rodra dari Lodaya.
Hampir setiap saat Rara Wilis yang kemudian dinamainya Pudak Wangi itu
benar-benar selalu bermain-main dengan pedang tipisnya. Apalagi kemudian karena
kedatangan kakak seperguruannya dari Gunungkidul yang bernama Sarayuda,
kesempatan Pudak Wangi itu untuk membajakan diri menjadi semakin padat.
Karena itulah kemudian Pudak Wangi dapat menyusul
tokoh-tokoh yang sudah terkenal jauh sebelum dirinya sendiri mengenal tangkai
senjata. Demikianlah ketekunan kakeknya itu, sama sekali tidak sia-sia. Karena
ternyata ia pun berhasil menemukan ayahnya kembali, meskipun beberapa saat
sebelum tarikan nafasnya yang terakhir, yang kemudian disusul dengan pertempuran
yang terjadi di Gedangan, yang memberinya kesempatan untuk membuat perhitungan
dengan janda ayahnya itu.
Dengan demikian, meskipun kali ini ia harus
bertempur melawan Wadas Gunung dan Tembini bersama-sama, namun ia sama sekali
tidak berkecil hati. Apalagi perasaan kegadisannya telah tersinggung. Karena
itulah ia pun segera mengerahkan tenaganya untuk menekan lawannya.
Ternyata usahanya berhasil. Lambat laun Wadas
Gunung dan Tembini merasa bahwa dirinyalah yang akan ditentukan nasibnya. Bukan
sebaliknya. Meskipun demikian sebagai orang yang telah bertahun-tahun di dalam
lingkungan yang penuh dengan pertempuran, perkelahian dan pembunuhan, mereka
sama sekali tidak putus asa.
Lawa Ijo kemudian menyadari kesulitan Wadas
Gunung. Ia tahu benar bahwa Rara Wilis ternyata telah mewarisi sebagian ilmu
kakeknya. Karena itu tanpa setahunya sendiri ia melangkah mendekati lingkaran
pertempuran.
Sedangkan Mantingan menjadi seolah-olah terbius
melihat Rara Wilis, Endang Widuri dan Arya Salaka yang sedang bertempur. Ketika
Lawa Ijo melangkah maju, ia pun mengikuti di belakangnya. Dengan penuh keheranan
ia melihat mereka itu seperti melihat Dewa Yama yang sedang menarikan tarian
maut dengan penuh gairah. Apalagi ketika ia melihat bahwa anak-anak Lawa Ijo itu
semakin lama menjadi semakin terdesak.
Sebaliknya, Lawa Ijo menjadi semakin marah.
Akhirnya ia menjadi sedemikian marahnya sehingga hampir saja ia melompat
menyerbu. Tetapi demikian ia mulai bergerak, segera Mantingan pun tersadar dari
kekaguman yang telah mencekam dirinya. Karena itu segera ia berkata, Lawa
Ijo, apa yang akan kau lakukan?
Lawa Ijo pun seperti terbangun dari mimpinya yang
buruk, menjadi terkejut. Namun demikian ia menjawab, Aku akan membunuh
mereka itu satu demi satu.
Siapakah yang pertama-tama...? tanya Ki Dalang Mantingan.
Cerita Bersambung 09 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
465
LAWA IJO yang hatinya sedang menyala-nyala itu menjadi seperti disiram minyak
mendengar pertanyaan Mantingan itu. Karena itu ia menjawab sambil berteriak, Kau...!
Bersamaan dengan kata-kata yang meluncur dari mulutnya itu, Lawa Ijo tidak
menunggu lebih lama lagi. Segera ia memutar tubuhnya, meloncat menyerang
Mantingan dengan dua pisau belati panjang di kedua belah tangannya, sambil
menggeram, Aku bunuh kau secepatnya supaya tidak selalu membuat telingaku
merah. Setelah itu, baru yang lain.
Tetapi Mantingan sudah bersiaga sepenuhnya. Karena itu ketika Lawa Ijo
meloncatinya, Mantingan tidak gugup. Dengan cepat ia mengelakkan diri dan
sekaligus trisulanya bergerak memukul pisau lawannya. Namun Lawa Ijo pun cukup
tangkas. Ketika serangannya gagal, cepat-cepat ia menarik senjatanya, kemudian
menyerang kembali dengan ganasnya.
Maka segera terjadi pula satu lingkaran pertempuran yang tidak kalah serunya.
Lawa Ijo dengan dua pisau belati panjang, menyerang dengan garangnya seperti
badai melanda-landa tak henti-hentinya. Namun Mantingan dapat menyesuaikan
dirinya dengan baiknya, mirip seperti sepucuk cemara yang berputar-putar ke arah
badai bertiup.
Dengan demikian Mantingan selalu dapat membebaskan dirinya sendiri serangan
lawannya. Tetapi yang sewaktu-waktu dengan penuh kelincahannya ia menyusup
diantara serangan-serangan Lawa Ijo, mempermainkan trisulanya dengan cepatnya
mematuk-matuk seperti serangan dari beribu-ribu mata tombak yang datang dari
segenap penjuru. Itulah daya keasktian ilmu Ki Dalang Mantingan, yakni Pacar
Wutah, sehingga sasarannya seolah-olah sama sekali tidak mendapat tempat untuk
mengelak.
Tetapi lawan Mantingan kali ini adalah Lawa Ijo, murid Pasingsingan terkasih.
Hantu berjubah abu-abu dan bertopeng menakutkan itu benar-benar telah membekali
muridnya dengan berbagai macam ilmu. Ilmu lahiriah dan ilmu-ilmu batin, meskipun
berlandaskan pada kekuatan hitam. Namun dalam bentuk penerapannya sungguh
mengagumkan. Lawa Ijo mempunyai ketangguhan, ketangkasan dan kecepatan bergerak
yang luar biasa.
Ilmu Pacar Wutah yang diwarisi oleh Ki Dalang Mantingan dari gurunya, Ki Ageng
Supit, ternyata tidak berhasil mengurung Lawa Ijo. Bahkan kemudian semakin lama
terasalah bahwa ilmu warisan Pasingsingan lebih ganas daripada ilmu yang
diwarisi oleh Mantingan dari gurunya.
Oleh karena itu Mantingan harus berjuang sekuat tenaga. Beberapa tahun yang lalu,
dalam pertempuran bersama-sama di dekat Rawa Pening, ia telah dapat
menyejajarkan diri dengan tokoh-tokoh golongan hitam itu. Namun dalam
perkembangan selanjutnya, agaknya Lawa Ijo telah bekerja lebih tekun lagi.
Apalagi Lawa Ijo telah bertempur dengan cara yang buas sekali. Baginya tidak ada
pantangan apapun untuk mencapai tujuannya. Kekejaman, kekasaran dan kelicikan,
semuanya adalah cara yang dapat saja dipakainya. Sedangkan Mantingan bertempur
dengan penuh kejantanan dan kejujuran. Meskipun sekali dua kali ia mengalami
tekanan-tekanan yang kasar dan gila, namun tak terpikir olehnya untuk ikut serta
melayani Lawa Ijo dengan cara-cara yang kasar dan curang.
Dalam pada itu, semakin lama semakin jelas bahwa Mantingan tidak berhasil
menempatkan dirinya pada keadaan yang menguntungkan. Beberapa kali ia terdesak
mundur. Untunglah bahwa ia pun memiliki pengalaman yang luar biasa. Sebagai
seorang dalang yang selalu mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain untuk
menyebarkan kisah-kisah kepahlawanan yang tertera dalam kitab-kitab Mahabarata
dan Ramayana, dan sekaligus menyelenggarakan hiburan untuk rakyat, Mantingan
pernah menjumpai seribu satu macam peristiwa dan gangguan-gangguan lahir batin.
Berdasarkan pada segenap pengalaman itulah Mantingan menempa dirinya di
perguruan Wanakerta.
Namun kali ini ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa ilmu Lawa Ijo berada
segaris di atasnya. karena itu ia harus berjuang dengan penuh kebulatan tekad.
Kalau saja otaknya tidak ikut serta bertempur saat itu, mungkin ia sudah
tergilas hancur. Tetapi karena kecerdasannya, ia dapat mempergunakan setiap saat
dan keadaan untuk membantu dirinya.
Meskipun demikian hati Mantingan mengeluh juga. Luar biasa, Lawa Ijo ini,
pikirnya. Tetapi aku harus bertahan sedikit-dikitnya untuk waktu yang sama
dengan waktu yang diperlukan oleh Wadas Gunung dan Carang Lampit.
Sekali-kali Mantingan sempat melirik ke arah lingkaran pertempuran Rara Wilis.
Melihat hasil itu, ia menjadi berbesar hati. Seandainya ia harus binasa melawan
Lawa Ijo, namun Rara Wilis harus sudah berhasil menyelesaikan pertempurannya.
Dengan demikian ia mengharap gadis itu dapat membebaskan dirinya dari serangan
bersama yang dibarengi oleh kekuatan Lawa Ijo yang dahsyat.
Untuk melawan Lawa Ijo sendiri, Mantingan masih belum dapat menilai apakah Rara
Wilis akan mampu. Tetapi ia masih mempunyai harapan lain. Sebab Wirasaba pun
dapat mendesak musuhnya. Dalam kesibukan berpikir, Mantingan sempat merasakan
kegelian juga melihat Endang Widuri. Kalau saja ia tidak sibuk mempermainkan
trisulanya, mau ia menggaruk-garuk kepalanya. Gadis itu bertempur sama sekali
seenaknya saja, meskipun ia berhadapan dengan Bagolan. Seorang yang bertubuh
pendek gemuk seperti babi hutan dengan dua bola besi bertangkai di kedua
tangannya.
Tetapi Mantingan tidak mempunyai waktu banyak karena terus-menerus terdesak dan
harus bertahan. Akhirnya kesempatan untuk menyerang menjadi semakin tipis.
Bahkan kemudian trisulanya benar-benar harus diputar seperti baling-baling untuk
melindungi seluruh bagian tubuhnya dari patukan pisau-pisau belati panjang Lawa
Ijo.