Cerita Bersambung 30 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
456
WIRASABA beringsut mendekati Arya Salaka.
Kenapa Angger berada di sini? tanya Wirasaba.
Aku hanya berjalan-jalan saja ketika aku tidak dapat tidur. Tetapi para
penjaga inilah yang kemudian jatuh tertidur, sahut Arya.
Mereka terkena pengaruh sirep, jelas Wirasaba. Untunglah Angger
terbebas dari pengaruhnya.
Akupun merasakan pengaruhnya, Paman. Lalu bagaimanakah dengan yang lain-lain?
tanya Arya Salaka.
Adi Mantingan sedang mengamati mereka, jawab Wirasaba.
Hati Arya Salaka menjadi bertambah besar ketika ternyata Mantingan pun terbebas
dari pengaruh sirep itu. Bahkan kemudian ia bertanya, Siapa pulakah yang
dapat menyelamatkan diri?
Adi Mantingan baru menyelidiki mereka. Tetapi
Jaladri juga terbebas dari pengaruh sirep ini atas bantuan Adi Mantingan,
jawab Wirasaba.
Kemudian Arya Salaka tidak cemas lagi. Ada empat orang yang pasti terbebas dari
pengaruh sirep itu. Namun ia bertanya pula, Jadi dapatkah Paman Mantingan
menolong orang lain membebaskan diri dari pengaruh sirep ini?
Demikianlah, jawab Wirasaba. Tetapi tidak kepada semua orang. Ia hanya
dapat membantu seperlunya apabila orang itu sendiri cukup mempunyai daya tahan.
Syukurlah, gumam Arya.
Ia adalah seorang dalang. Sebagai seorang dalang ia perlu memiliki berbagai
macam ilmu. Sebab kadang-kadang ia memang berhadapan dengan gangguan-gangguan
dari para penontonnya yang jahil. Wirasaba menegaskan.
Tetapi kemudian Arya Salaka kembali membayangkan bagaimanakah kalau sepasukan
laskar menyerbu perkemahan ini. Sedang sebagian besar dari laskar Banyubiru itu
jatuh tertidur. Karena itu ia bertanya kembali, Paman
Wirasaba, bagaimanakah seandainya malam ini perkemahan kita ini diserbu oleh
sepasukan laskar?
Meskipun Arya Salaka mempunyai daya tahan lahir batin yang cukup kuat, namun
ternyata pengetahuannya belumlah seluas Wirasaba, yang menjawab pertanyaannya
itu. Tidak Angger, pasukan penyerbu itupun akan terkena pengaruh sirep ini
pula. Sebab daya kekuatan sirep ini tidak dapat ditujukan kepada seorang atau
serombongan orang. Tetapi dayanya seolah-olah memenuhi udara di sekitar
penyebarnya. Sehingga apabila pada malam ini ada orang yang ingin memasuki
perkembahan ini, pasti merekapun jumlahnya terbatas. Terbatas pada mereka yang
atas kemampuan sendiri, atau atas bantuan orang lain membebaskan diri dari
pengaruh sirep ini.
Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sama sekali tidak perlu
khawatir. Di dalam perkemahan itu ia cukup mempunyai kawan yang mempunyai ilmu
cukup tinggi. Meskipun demikian ia masih ingin mengetahui bagaimanakah keadaan
Endang Widuri dan Rara Wilis. Sebab tanpa setahunya, ia merasa bahwa nasib gadis
kecil itu adalah sama dengan nasibnya sendiri. Maka kemudian setelah Wirasaba
berada di tempat itu, ia tidak keberatan lagi meninggalkan para penjaga itu.
Kepada Wirasaba ia berkata, Paman, apabila Paman bersedia untuk tinggal di
sini, aku minta ijin untuk menengok pondok Bibi Wilis dan Widuri.
Jangan Angger, cegah Wirasaba. Jangan pergi sendiri. Marilah aku antar
Angger ke sana.
Lalu bagaimana dengan para penjaga ini? tanya Arya Salaka.
Biarlah mereka kita sisihkan. Aku kira orang-orang yang menyebar sirep itu
tidak akan berkesempatan mengurusi para penjaga itu. Mereka pasti berhasrat
untuk langsung menemukan kekuatan-kekuatan pokok dari perkemahan ini.
Arya Salaka dapat mengerti keterangan Wirasaba itu. Karena itu iapun segera
membantunya, mengangkat para penjaga yang tertidur itu ke tepi, ke atas
rerumputan yang sudah mulai basah karena embun malam yang perlahan-lahan turun
ke bumi.
Dingin malam musim bediding rasa-rasanya sampai menggigit tulang. Namun oleh
ketegangan yang mengetuk-ngetuk dada, rasa itu sama sekali tak mempengaruhi
mereka yang sedang berusaha menyelamatkan perkemahan itu.
Dengan mengendap-endap penuh kewaspadaan, Arya Salaka diantar oleh Wirasaba yang
menggenggam sebuah kapak yang besar sekali menuju ke barak kecil tempat Rara
Wilis dan Endang Widuri beristirahat selama mereka berada di perkemahan itu.
Meskipun sebenarnya Arya Salaka sama sekali tidak merasa perlu pengawalan, namun
ia tidak mau menyakitkan hati orang lain. Karena itu ia tidak menolak. Ketika
mereka lewat dekat gardu pimpinan, mereka melihat bahwa gardu itu kosong. Tetapi
mata Arya Salaka yang tajam dapat melihat sebuah bayangan yang berdiri di
belakang gardu itu. Agaknya Jaladri merasa perlu sekadar melindungkan dirinya
untuk dapat mengadakan pengawasan di sekitar tempat itu dengan lebih seksama. Di
tangannya tergenggam sebuat canggah, tombak bermata dua.
Arya dan Wirasaba berjalan terus. Dengan gerak tangan Wirasaba memberi isyarat
kepada Jaladri, yang membalas dengan isyarat tangan pula. Beberapa langkah
kemudian mereka sudah melihat pondok tempat tinggal Rara Wilis dan Endang Widuri.
Ternyata para penjaga pondok itupun telah tertidur pula. Karena itu Arya Salaka
menjadi cemas, jangan-jangan telah terjadi sesuatu atas penghuninya.
Perlahan-lahan ia menyusuri tempat-tempat yang gelap mendekati pondok itu.
Marilah, jawab Wirasaba.
Dengan sangat hati-hati mereka mendekati pintu pondok yang memang tidak pernah
terkancing. Perlahan-lahan Arya menyingkapkan pintu itu. Meskipun demikian
terdengar suatu gerit perlahan. Hanya perlahan. Tiba-tiba ketika pintu itu
terbuka, terjulurlah ujung sehelai pedang yang tipis mengarah ke dada Arya
Salaka.
Cerita Bersambung 31 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
457
ARYA SALAKA terkejut. Untunglah ia memiliki ketangkasan yang cukup. Meskipun
pedang itu tidak membawa serangan maut, namun agaknya perlu juga ia menjaga
dirinya dan menghindari. Melihat senjata itu Wirasaba pun terkejut. Ia segera
meloncat maju untuk menangkis serangan itu. Tetapi ujung pedang itu sangat
lincahnya di dalam kegelapan malam, bahkan dengan sekali putar hampir saja
lengan Wirasaba tergores.
Karena itu Wirasaba terkejut sekali dan meloncat mundur. Ketika ia kemudian
mengangkat kapaknya untuk menyerang kembali terdengarlah Arya Salaka berdesis. Paman,
itu adalah pedang Bibi Wilis.
Wirasaba terhenti. Dan bersamaan dengan itu, tampaklah sebuah bayangan meloncat
keluar dengan lincahnya, bahkan seperti terbang. Demikian bayangan itu menginjak
tanah, demikian ia telah siap menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi juga
bayangan itu terkejut ketika ia melihat Wirasaba dan Arya Salaka berdiri di
dalam gelap. Karena itu terlontarlah dari mulutnya.
Kau, Arya...?
Ya, Bibi... jawab Arya. Kami minta maaf kalau kami mengejutkan Bibi.
Rara Wilis menarik nafas. Katanya, Suasana malam ini memaksa aku untuk
sangat berhati-hati.
Aku sebenarnya ingin melihat keadaan Bibi dan Widuri tanpa mengganggu,
sambung Arya.
Tak apalah, jawab Rara Wilis. Dan syukurlah kalau kalian juga
berhasil membebaskan diri dari pengaruh sirep yang tajam ini.
Wirasaba berdiri tegak dan bersandar pada tangkai kapaknya. Meskipun ia telah
menduga bahwa Rara Wilis tidaklah sama dengan kebanyakan wanita, namun ia sama
sekali tidak menduga bahwa sampai sekian gadis itu telah mencapai ilmunya.
Sementara itu tiba-tiba terdengar suara dari clundak pintu. Untunglah dadamu
tidak terlubang Kakang Arya.
Arya menoleh. Dilihatnya Endang Widuri duduk dengan enaknya di atas clundak
pintu itu.
Arya Salaka dan Wirasaba lebih terkejut melihat Endang Widuri duduk di situ
daripada mendengar suaranya. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa gadis itupun
berhasil membebaskan diri dari pengaruh sirep. Karena itu terdengar Arya
bertanya perlahan, Kau tidak tertidur...?
Aku belum ngantuk. jawab Widuri seenaknya.
Aneh, tiba-tiba terdengar Wirasaba bergumam.
Rara Wilis mendengar gumam itu. Dengan tersenyum ia menjawab, Anak itu
memang luar biasa.
Akupun harus berjuang untuk melawan pengaruh sirep ini sekuat tenaga. Tetapi
Widuri memang seakan-akan sama sekali tidak disentuh oleh kekuatan sirep ini.
Widuri merasa bahwa dirinyalah yang sedang dipercakapkan itu. Maka iapun segera
menyahut, Apakah kalian heran karena aku belum ngantuk? Bukankah ini masih
belum terlampau malam?.
Tak seorangpun menjawab. Mereka tahu sifat gadis itu. Nakal dan kadang-kadang
suka menuruti perasaan sendiri.
Dalam pada itu, tiba-tiba di kejauhan terdengar suara siulan nyaring. Suara itu
menggetar di seluruh perkemahan anak-anak Banyubiru itu, seolah-olah
melingkar-lingkar menyusup ke setiap pondok.
Rara Wilis dan kawan-kawannya terkejut mendengar suara itu. Suara yang belum
pernah mereka dengar. Apalagi kemudian suara itu disusul dengan bunyi yang sama
di arah yang berlawanan.
Tidak itu saja, suara siulan itu masih terdengar berturut-turut dari dua arah
yang berbeda. Dengan demikian maka dapat diketahui bahwa orang yang bersiul, dan
yang pasti, mereka pulalah yang menyebarkan sirep ini, berada di empat arah mata
angin. Karena itulah, Rara Wilis dan kawan-kawannya itu mengetahui bahwa
orang-orang itu telah berusaha mengepung perkembahan ini.
Dengan demikian mereka harusmenjadi lebih berhati-hati lagi.
Sementara itu mereka melihat Ki Dalang Mantingan dan Jaladri datang pula ke
pondok itu. Dengan nafas yang terengah-engah ia berkata perlahan, Aku cari
Angger Arya Salaka setengah mati. Ketika aku menengok ke pondok Angger, aku
menjadi gugup, karena Angger tidak ada di tempat. Aku coba mencari berkeliling,
tetapi juga tidak aku jumpai. Akhirnya dari Jaladri aku mendengar bahwa Angger
pergi kemari bersama-sama Kakang Wirasaba.
Angger Arya Salaka berada di mulut perkemahan ini, Adi, jawab Wirasaba.
Syukurlah kalau tidak terjadi sesuatu. Dan bukankah di sini juga tidak
terjadi sesuatu? tanya Mantingan pula.
Tidak Kakang, jawab Rara Wilis singkat.
Kakang Wirasaba, menilik suara yang mereka perdengarkan, mereka berada di
empat arah mata angin di sekeliling perkemahan ini. Juga menilik tanda-tanda
suara yang mereka berikan, mereka pasti mengira bahwa perkemahan ini telah
terbenam seluruhnya dalam pengaruh sirepnya. Karena itu mereka pasti akan
memasuki perkemahan ini dengan seenaknya.
Mantingan mulai memberi penjelasan.
Karena itu, maka adalah menjadi kewajiban kami untuk menyelamatkan
perkemahan ini. Waktu kita agaknya tinggal sedikit. Sebab apabila mereka merasa
bahwa jarak waktu yang mereka berikan untuk meresapkan sirepnya telah mereka
anggap cukup, mereka pasti akan segera bertindak, lanjut Mantingan.
Wirasaba sependapat dengan keterangan Mantingan. Maka ia pun membenarkannya, Lalu
apakah yang harus kita lakukan Adi? tanya Wirasaba.
Mantingan berpikir sejenak. Kemudian ia menjawab, Kita yang telah berhasil
membebaskan diri dari pengaruh jahat ini, harus memberikan
perlindungan-perlindungan terhadap anak-anak Banyubiru yang lain. Aku kira
mereka akan mencari orang-orang yang mereka anggap penting. Aku tidak tahu
apakah mereka telah mengetahui keadaan perkemahan ini dengan baik. Tetapi
disamping itu... Mantingan berhenti sejenak. Matanya berkisar kepada Rara
Wilis, Endang Widuri dan Arya Salaka.
Cerita Bersambung 02 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
458
RARA WILIS segera menangkap perasaan Ki Dalang Mantingan. Karena itu ia menjawab,
Kakang, biarlah kami coba untuk melindungi diri kami masing-masing. Adalah
sudah menjadi kewajiban Kakang Mantingan, Kakang Wirasaba dan Jaladri untuk
mencoba melindungi anak-anak Banyubiru yang merupakan tenaga-tenaga inti dari
laskar ini.
Mantingan menjadi agak malu karena perasaannya
dapat ditebak dengan tepat. Tetapi ia tidak akan sampai hati untuk membiarkan
gadis-gadis itu dan anak semuda Arya Salaka untuk menjaga diri mereka sendiri
terhadap penyerang-penyerang yang bersembunyi seperti ini. Apalagi jelas bahwa
para penyerang itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Terbukti dengan sirepnya
yang cukup tajam ini. Sedangkan Arya Salaka bagi laskar Banyubiru ternyata telah
menjadi penguat tekad perjuangan mereka. Sehingga daripada yang lain-lain, Arya
Salaka-lah yang pertama-tama wajib diselamatkan.
Maaf Adi Wilis... kata Mantingan pula, Aku wajib untuk berusaha
menyelamatkan kalian. Karena itu, aku harap Kakang Wirasaba tetap berada di
tempat ini, aku akan berada di pondok sebelah untuk mencoba melindungi anak-anak
yang tertidur dengan nyenyaknya.
Baiklah Adi, jawab Wirasaba.
Kau ikut dengan aku Jaladri, sambung Mantingan. Kita kosongkan
gardu pimpinan.
Seterusnya kepada Rara Wilis ia berkata, Keadaan menjadi semakin gawat. Kami
silahkan kalian masuk. Sebaiknya Kakang Wirasaba pun berada di dalam pula. Kami
masing-masing akan memberi tanda apabila keadaan kami sulit. Pukullah kentongan
atau berteriaklah memanggil. Jarak kami tidak terlalu jauh.
Selesai dengan kata-katanya, Mantingan pun segera bergerak meninggalkan tempat itu. Ia terpaksa membagi kekuatan mereka. Wirasaba untuk melindungi pondok Wilis, sedang ia sendiri dan Jaladri berusaha untuk melindungi kekuatan-kekuatan pokok laskar Banyubiru. Tetapi meskipun demikian, namun otaknya diganggu juga oleh teka-teki, bagaimana mungkin Arya Salaka dan Rara Wilis dapat membebaskan diri dari pengaruh sirep yang tajam ini. Apalagi ia sama sekali tidak tidak tampak kantuk. Sedangkan orang seperti Jaladri itupun masih memerlukan bantuannya untuk membebaskan diri dari pengaruh sirep ini. Meskipun ia telah menduga bahwa kedua gadis itu pasti memiliki kelebihan dari gadis-gadis lain, tetapi ia sama sekali belum dapat membayangkan sampai di mana ketinggian ilmu mereka itu.
Dalam pada itu Rara Wilis seperti juga Arya Salaka, tidak mau mengecewakan
Dalang Mantingan. Karena itu ia menerima Wirasaba untuk menjadi pelindung pondok
itu, meskipun ia sadar bahwa sebenarnya tenaganya sangat diperlukan.
Sesaat kemudian, setelah mereka masuk kembali ke
dalam pondok masing-masing, suasana perkemahan itu diliputi oleh kesunyian yang
tegang.
Wirasaba duduk dengan gelisah di dalam pondok
Rara Wilis. Sedang Rara Wilis sendiri selalu siap untuk setiap saat bertindak.
Pedangnya yang tipis tersandang di pinggangnya. Ia duduk di bale-bale bambu
menghadap pintu. Disampingnya duduk Arya Salaka. Kyai Banyak sudah tidak lagi
bertangkai sependek tangkai belati. Tetapi ia telah memberinya tangkai hampir
sedepa. Sedangkan Widuri dengan enaknya berbaring di bale-bale itu, seolah-olah
tidak menghiraukan sama sekali kegelisahan orang-orang di sekitarnya.
Namun demikian ternyata gadis tanggung itupun
telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Ternyata bahwa ia tidak
mengenakan kain panjangnya, tetapi ia berpakaian seperti seorang laki-laki.
Pakaian yang selalu dipakainya apabila ia sedang berlatih tata bela diri maupun
latihan-latihan untuk ketahanan diri.
Pertanda yang lain dari kesiap-siagaannya adalah
sebuah karset perak berbentuk rantai sebesar itu jari yang melingkar di leher
Widuri, yang ujungnya terjuntai tersangkut di ikat pinggangnya. Rantai perak itu
tidak saja merupakan senjata yang berbahaya, tetapi di leher gadis itu, rantai
itu dapat menjadi perhiasan yang menambah kecerahan wajahnya.
Di pondok sebelah, Jaladri menunggu setiap
kemungkinan dengan cemas pula. Ia tidak duduk atau berdiri bersiaga, tetapi ia
berpura-pura tidur dalam jajaran para laskar Banyubiru yang benar-benar sedang
tertidur dengan nyenyaknya. Seperti Arya Salaka, ia mencoba-coba untuk
membangunkan beberapa orang. Namun demikian ia menggeliat, demikian ia kembali
kehilangan kesadaran. Bahkan sesaat kemudian terdengarlah dengkurnya mengusik
sepi malam. Tetapi meskipun ia berbaring, disampignya terletak senjata
andalannya. Sebuah canggah bermata dua, yang tidak terlepas dari tangannya.
Mantingan, yang merasa bertanggungjawab atas keseluruhannya, tidak ikut serta masuk ke dalam pondok-pondok itu. Ketika semuanya telah menjadi sepi kembali, karena Wirasaba dan Jaladri telah lenyap di balik pintu-pintu pondok. Mantingan segera meloncat ke sebuah batang pohon yang daunnya cukup memberinya perlindungan. Di lambungnya terselip sebilah keris, sedang tangannya menggenggam senjatanya erat-erat. Trisula yang bertangkai kayu berlian, sebagai lambang kekuatannya yang dilambari ilmu gerak yang luar biasa lincahnya, Pacar Wutah.
Cerita Bersambung 03 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
459
MALAM yang semakin larut itu benar-benar
merupakan malam yang tegang dan gelisah. Ketika di kejauhan terdengar salak
anjing-anjing liar, maka kembali terdengar siulan yang melengking merobek suara
angin yang berdesir lembut. Seperti semula, suara itu pun kemudian disusul
dengan siulan dari tiga penjuru yang lain berturut-turut. Namun suara ini
terdengar jauh lebih dekat daripada suara yang pertama. Agaknya orang-orang yang
menyebar sirep itu sudah berjalan maju beberapa puluh langkah.
Sesaat kemudian telinga Mantingan menangkap suara langkah perlahan mendekati
gardu pimpinan yang masih benderang disinari lampu minyak jarak. Samar-samar ia
melihat tiga orang kemudian muncul dengan hati-hati. Seorang diantaranya
mengendap-endap mendekati pintu yang masih ternganga lebar. Hati-hati sekali ia
mengintip ke dalam.
Tetapi ketika dilihatnya gardu pimpinan itu
kosong, ia memberi isyarat dengan tangannya. Kedua orang yang lain pun kemudian
mendekati pintu itu. Kemudian terdengarlah suara mereka tertawa. Sebentar
kemudian terdengar pula salah seorang dari ketiga orang itu bersiul pula. Dan
bermunculan pula dari berbagai arah beberapa orang mendekati gardu pimpinan itu.
Ketika semuanya sudah berkumpul, menurut hitungan Mantingan, berjumlah sepuluh
orang.
Mantingan menarik nafas. Jari-jarinya semakin
erat melekat pada tangkai trisulanya. Sampai sedemikian jauh ia masih belum tahu
siapa-siapakah yang mendekati perkemahan itu. Baru kemudian ketika salah seorang
dari mereka dengan sombong mempermainkan pisau belati panjang, dada Mantingan
berdesir.
Rombongan Lawa Ijo, desis Mantingan. Ia pernah melihat jenis pisau
belati panjang semacam itu. Bahkan ia hampir saja terlubang dadanya oleh pisau
semacam itu. Mau tidak mau Mantingan harus berpikir keras memperhitungkan
kekuatannya sendiri. Kekuatan perkemahan itu dibandingkan dengan sepuluh anggota
gerombolan Lawa Ijo yang terkenal sejak beberapa puluh tahun yang lalu.
Dalam cahaya lampu minyak jarak yang menusuk lewat pintu gardu pimpinan,
Mantingan dapat melihat salah seorang dari mereka bertubuh kekar kuat. Sepasang
kumis yang tebal melintang di bawah hidungnya. Mantingan pernah melihat orang
itu beberapa tahun yang lalu di Pucangan, dan pernah bertempur bersama-sama
dengan Mahesa Jenar, Wiraraga, Paningron, dan Gajah Alit. Melawan orang-orang
itu bersama rombongannya. Sekarang, agaknya orang itu pula yang memimpin
rombongannya mendatangi perkemahan anak-anak Banyubiru. Orang itu tidak lain
adalah Lawa Ijo itu sendiri.
Sekali lagi dada Mantingan berdesir. Meskipun ia sendiri sama sekali tidak takut
melawan Lawa Ijo, apalagi setelah ilmu geraknya yang lincah, Pacar Wutah,
ditekuni semakin dalam, namun ia merasa harus memperhitungkan orang-orang itu.
Orang-orang lain dalam rombongan itu adalah
seorang yang bertubuh gagah tegap. Ketika seleret sinar menyambar wajah orang
itu, Mantingan seolah-olah hampir tidak percaya pada penglihatannya. Ia pernah
melihat sendiri bagaimana orang yang bernama Watu Gunung itu terbunuh oleh
Mahesa Jenar.
Sekarang, tiba-tiba orang itu muncul lagi di hadapannya. Tetapi dalam keheranan
itu tiba-tiba ia teringat pada masa kanak-kanaknya. Meskipun lamat-lamat ia
teringat bahwa yang kemudian Watu Gunung mempunyai saudara kembar, Wadas Gunung.
Orang itulah pasti saudara kembar itu. Sedang orang-orang yang lain, Mantingan
belum pernah melihatnya. Seorang yang tinggi kekurus-kurusan, seorang yang
pendek bulat yang juga berkumis lebat, dan orang-orang lain yang gagah dan
garang.
Mereka itulah anak buah Lawa Ijo yang terpilih untuk mengikutinya menyerbu ke
perkemahan anak-anak Banyubiru. Mereka itulah Carang Lampit, Bagolan, Seco Ireng,
Cemara Aking, Tembini dan sebagainya, yang berada langsung di bawah pimpinan
Lawa Ijo sendiri.
Beberapa saat kemudian terdengarlah Lawa Ijo
berkata perlahan-lahan namun jelas. Kata demi kata terdengar oleh Mantingan yang
bertengger di atas cabang pohon tidak jauh dari gardu itu.
Dengarlah baik-baik... agaknya sirep kita benar-benar dapat membius perkemahan ini. Tidak seorang pun yang masih terbangun. Dan gardu ini pun telah kosong. Aku kira gardu ini adalah gardu pimpinan. Sekarang, untuk meyakinkan kita sendiri, lihatlah berkeliling. Apakah masih ada seorang yang bangun. Kalau ada, aku beri wewenang kepada kalian untuk menyelesaikannya. Kemudian kalian harus berkumpul kembali di sini. Dan bersama-sama memasuki setiap perkemahan. Jangan sampai seorang pemimpin pun yang dapat membebaskan dirinya.
Sesaat kemudian berpencarlah mereka ke segenap penjuru. Lawa Ijo dan Bagolan-lah
yang masih tetap berada di gardu pimpinan itu. Dalam pada itu Mantingan menjadi
semakin gelisah. Tetapi menilik perintah Lawa Ijo, orang-orangnya masih belum
akan bertindak. Mereka hanya diperbolehkan menyelesaikan para penjaga yang
ternyata tidak tertidur karena pengaruh sirepnya.
Ternyata Lawa Ijo tidak perlu menunggu terlalu
lama. Beberapa saat kemudian anak buahnya telah berkumpul kembali dan memberikan
laporan kepadanya. Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu berkata, Ki
Lurah, tak seorang penjaga pun yang masih terbangun. Semuanya tertidur di tempat
mereka bertugas.
Bagus... dengus Lawa Ijo, Lalu apa lagi yang kalian lihat?
Semua perkemahan telah sepi. Agaknya kita akan aman melakukan pekerjaan kita,
sambung orang yang tinggi kekurus-kurusan, yang bernama Carang Lampit.
Lawa Ijo tertawa pendek. Aku kira Mahesa Jenar tidak akan kembali ke
perkemahan ini. Lembu Sora bukan orang yang dapat diajaknya berunding. Alangkah
bodohnya orang itu. Dengan keempat kawannya, mereka mengantarkan nyawa.
Seandainya ia berhasil melarikan diri, nasibnya akan kita tentukan di sini,
apabila ia kembali. Kata-kata itu diakhiri dengan bunyi tertawanya yang
khusus, yang menggelegar memenuhi rimba. Mengerikan.
Cerita Bersambung 04 Juni 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
460
SETELAH suara tertawa itu mereda, dan kemudian
terhenti, Carang Lampit meneruskan laporannya, Ki Lurah, menurut penilikan
kami, diantara kemah-kemah yang ada ternyata ada satu kemah yang mendapat
penjagaan kuat. Aku kira ada sesuatu yang penting di dalamnya. Atau barangkali
di dalam pondok itulah berada gadis kecil yang dikatakan Jadipa siang tadi.
Kalau begitu kewajibankulah untuk memasuki pondok itu, dengus orang
bertubuh sedang tetapi berkaki pendek. Terlalu pendek dibandingkan dengan
keseluruhan tubuhnya. Orang itulah yang bernama Jadipa, yang siang tadi dapat
dikalahkan oleh Endang Widuri.
Mendengar Jadipa menyela kata-katanya, Carang Lampit tertawa. Aku ingin
melihat kau sekali lagi berlari menghindarinya apabila perutmu dikenai kaki
gadis kecil itu.
Ia bukan gadis kecil, jawab Jadipa. Di desaku dahulu gadis-gadis
sebayanya telah dikawinkan oleh orang tuanya. Dan memang sudah sepantasnyalah
kalau gadis itu segera kawin. Mempelai laki-lakinya telah siap menjemputnya
malam ini.
Tunjukkan kepada kami, siapakah mempelai laki-laki itu, jawab Bagolan.
Akulah orangnya, jawab Jadipa.
Hampir serentak mereka tertawa. Terdengarlah salah seorang dari mereka yang
bertubuh kekar kuat dan berwajah gelap berkata, Kalau kau berselisih dengan
istrimu kelak, kau harus lari kepada Ki Lurah untuk minta tolong melerainya.
Jadipa diam saja. Memang ia kalah ketika berkelahi melawan gadis itu. Meskipun
demikian, kemudian ia membela diri, Aku sebenarnya tidak kalah. Tetapi aku
tidak mau menyakitinya. Karena itu aku biarkan ia sampai malam ini.
Kembali kawan-kawannya tertawa sampai terdengar Lawa Ijo berkata, Carang
Lampit... apakah sebabnya kau dapat mengatakan bahwa kemah itu adalah kemah yang
kau anggap terpenting?
Di luar kemah itu terdapat beberapa orang penjaga yang sudah tertidur. Sedang
di kemah-kemah lain tidak ada penjaga-penjaga itu. Bahkan di gardu pimpinan ini
pun tidak ada seorang penjagapun, jawab Carang Lampit.
Lawa Ijo mengangguk-angguk. Katanya kemudian, Menurut
laporan yang aku terima, Mahesa Jenar pergi ke Banyubiru bersama seorang yang
belum dikenal, Wanamerta, Bantaran, dan Penjawi. Jadi, pemimpin-pemimpin
Banyubiru yang tinggal di perkemahan ini adalah Jaladri, Sanepa, Sanjaya,
Jagakerti, kakak-beradik Sendangpapat dan Sendangparapat, dan dua orang yang
menurut pendengaranku bernama Mantingan dan Wirasaba. Ditambah dengan gadis
kecil yang disebut-sebut oleh Jadipa bernama Widuri. Tetapi disamping itu masih
ada lagi, menurut Jadipa, bibinya yang cantik, bernama Wilis dan Arya Salaka
sendiri.
Benar Ki Lurah, sahut Jadipa, Gadis itu berkata demikian.
Kemudian Lawa Ijo meneruskan, Kalau demikian pekerjaan kita adalah membunuh
segenap pimpinan Banyubiru itu. Kecuali menangkap hidup Wilis, Widuri dan yang
terpenting Arya Salaka. Ketahuilah bahwa laskar Banyubiru yang berada di
perkemahan ini jauh lebih berbahaya daripada laskar Banyubiru yang masih tetap
berada di Banyubiru, dan laskar Pamingit. Laskar yang berada di tempat ini,
dengan penuh keyakinan berusaha untuk mempertahankan Banyubiru. Mereka rela mati
untuk keyakinannya itu. Sedangkan laskar yang lain terdiri orang-orang yang
bekerja untuk hidup mereka dan kekayaan mereka tanpa memperhitungkan apa yang
terjadi di tanah mereka. Deengan demikian maka apabila laskar Banyubiru yang
lain, apalagi laskar Pamingit. Dengan demikian maka kalangan hitam akan merajai
Banyubiru dan Pamingit. Mengaduk isinya dan menemukan keris Kyai Nagasasra dan
Kyai Sabuk Inten.
Sekali lagi Lawa Ijo tertawa menggelegar memenuhi rimba itu. Ia menjadi
bergembira sekali, seolah - olah Banyubiru telah jatuh ke tangannya, dan
demikian pula Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Mendengar semua kata-kata Lawa Ijo itu, tubuh Mantingan bergetaran. Berbagai
perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Ia mula-mula heran juga, kenapa Lawa ijo
mempunyai banyak sekali pengetahuan tentang perkemahan itu. Tentang nama-nama
para pemimpin laskar Banyubiru, bahkan tentang dirinya dan Wirasaba. Bahkan
kemudian tentang Mahesa Jenar dan kawan-kawannya. Tetapi kemudian ia dapat
mengerti bahwa hal yang demikian itu sangat mungkin. Orang-orang Lawa Ijo dapat
mendengar nama-nama itu dari orang-orang Banyubiru yang acuh tak acuh pada
keadaan kampung halamannya. Sedang tentang Mahesa Jenar, Widuri sendirilah yang
telah bercerita.
Dalam pada itu kembali terdengar suara Lawa Ijo, Nah, sekarang marilah kita
mulai. Yang terpenting adalah para pemimpin itu. Sebab tanpa pimpinan, laskar
Banyubiru akan kehilangan garis perjuangannya. Manakah menurut pertimbanganmu
yang pertama-tama kita masuki Carang Lampit...?
Perkemahan yang aku katakan tadi Ki Lurah, jawab Carang Lampit. Bersamaan
dengan bunyi jawaban itu, berdesirlah hati Mantingan. Dengan demikian rombongan
Lawa Ijo itu pertama-tama akan memasuki pondok Rara Wilis.
Gerombolan itu pun segera bergerak lewat beberapa langkah dari batang pohon
tempat Mantingan bersembunyi. Sekali lagi Mantingan menghitung urut-urutan itu.
Sepuluh, ya sepuluh. Tanpa disengaja, ia mengamat-amati trisulanya, seakan-akan
bertanya kepada senjatanya itu, apakah yang harus dilakukan segera. Ia menjadi
sedikit lega ketika diingatnya bahwa Wirasaba ada di dalam kemah itu.
Sementara itu, di dalam pondok kecil itu Wirasaba semakin lama menjadi semakin
tidak sabar. Waktu yang hanya beberapa saat itu seolah-olah telah berjalan
bermalam-malam. Ketika mereka mendengar suara Lawa Ijo tertawa menggelegar,
Wirasaba tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir beberapa kali.
Tetapi sesaat kemudian ia sudah terbanting duduk kembali. Demikian pula ketika
untuk kedua kalinya Lawa Ijo tertawa gemuruh. Dengan gigi gemeretak, Wirasaba
semakin marah. Kalau saat itu tidak sedang melindungi pondok kecil itu, baginya
lebih baik meloncat keluar dan segera menyerang mereka. Tetapi ia tidak dapat
meninggalkan pondok kecil itu.
|
[Previous] |
[Next] |