NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
NAGASASRA DAN SABUK INTEN ( 451 ).
Ki Ageng Sora Dipayana berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan, "Pada saat itu, aku baru saja datang kembali dari perjalananku mencari jejak kedua pusaka Demak yang hilang kembali, setelah diketemukan oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama. Aku datang kembali ke Banyubiru tanpa membawa kedua keris itu. Apalagi membawanya kembali, jejaknya pun tak dapat aku ketahui."
Setelah berhenti sejenak, Ki Ageng Sora Dipayana
meneruskan ceritanya. "Yang aku ketemukan di Banyubiru pada saat itu, adalah
pemerintahan tanah perdikan ini telah beralih ke tangan Lembu Sora. Dari dia aku
mendengar cerita tentang apa saja yang telah terjadi di tanah perdikan ini.
Dari Lembu Sora aku mendengar bahwa Gajah Sora dihukum mati oleh Sultan Demak
karena pengkhianatannya. Dan darinya pula aku mendengar bahwa Arya Salaka telah
diketemukan terbunuh dan kehilangan tombak pusakanya, Kyai Bancak."
"Tidak benar," potong Mahesa Jenar.
Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-angguk.
Katanya,"Aku tidak percaya cerita itu sejak aku mendengarnya. Tetapi apakah
yang aku hadapi seterusnya di sini ? Di tanah perdikan ini ? Lembu Sora adalah
anakku pula. Anak terkasih dari ibunya. Sedang kepada ibunya aku tidak dapat
melupakan duka derita yang disandangnya pada saat itu. Duka derita sebagai
ungkapan kesetiaan seorang istri yang baik, pada saat aku sedang bekerja
mati-matian membangun tanah perdikan ini, yang semula bernama Pangrantunan. Dan
pada saat itulah Lembu Sora dilahirkan.
Dengan Lembu Sora didalam embanan, ibunya membanting tulang untuk mencukupi
kebutuhan kami. Kadang-kadang Lembu Sora itu dibawanya menuai padi diterik panas
matahari, menumbuk dan kemudian menanaknya sekali. Sedang Gajah Sora pada saat
itu telah dapat berjalan mengikutinya kemana ia pergi, menggandengnya
disepanjang pematang dan di jalan-jalan yang sama sekali belum berujud jalan
seperti sekarang ini."
Sora Dipayana berhenti sesaat. Pandangan matanya terlempar jauh, seolah-olah menerawang kembali kepada masa-masa silam. Masa-masa pahit yang pernah dialami.
Setelah orang tua itu menelan ludahnya, maka mulailah ia meneruskan ceritanya, "Rupa-rupanya Tuhan berkenan kepada usahaku itu, sehingga beberapa tahun kemudian terwujudlah padepokan yang kemudian berkembang menjadi semakin ramai dan subur. Aku menjadi bangga ketika kemudian tanah ini dikuatkan dengan suatu piagam menjadi tanah perdikan. Tanah perdikan yang semakin lama menjadi semakin berkembang. Bersamaan dengan itu semakin berkembang pulalah perasaan iba dan kasih istriku kepada Lembu Sora. Ia selalu ingat kepada saat-saat bayi itu mengalami masa-masa pahit. Namun akibatnya adalah sifat-sifat manja pada anak itu. Bahkan kemudian sifat itu semakin menjadi-jadi.. Dan kesalahan itu barangkali yang telah menjerumuskannya kedalam keadaannya sekarang ini. Keadaan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan."
Sekali lagi Ki Ageng Sora Dipayana berhenti, seolah-olah ia menjadi sangat lelah. Beberapa kaliia menarik napas dalam-dalam. Kedua tangannya ditekankan ke lantai yang dilambari tikar pandan,seolah-olah dengan demikian ia ingin mencari kekuatan untuk menahan berat badannya yang tidakseberapa besar itu.
Beberapa saat kemudian ia mulai lagi dengan ceritanya, "Meskipun kemudian aku sadar bahwa akuharus berdiri diatas kebenaran dan keadilan, namun aku bermaksud untuk berlaku bijaksana. Aku ingin menyelesaikan masalahnya tanpa mengorbankan salah satu diantaranya. Karena itulah maka diam-diam aku pergi ke Demak untuk membuktikan ketidak benaran cerita Lembu Sora. Tetapi aku terbentur pada suatu kenyataan, bahwa Gajah Sora ternyata terlibat dalam suatu keadaan yang sulit. Ia dapat dilepaskan apabila kesalahannya nyata-nyata tidak terbukti, apabila Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten telah dapat diketemukan, dan ternyata benar-benar tidak disembunyikannya."
Kemudian dengan nada yang rendah dan sedih, Ki Ageng Sora Dipayana bergumam, "Lalu berapa tahunkah kedua keris itu dapat ditemukan ?"
Mata orang tua itu menjadi sayu. Dan nada kata-katanya menjadi sangat rendah. "Apalagi umurku menjadi semakin tua. Berapa tahun lagi aku masih diperkenankan oleh Yang Maha Esa untuk dapat menikmati segarnya angin pegunungan Telamaya ini ? Apakah yang terjadi seandainya aku harus meninggalkan tanah ini menghadap Tuhan Yang Maha Esa, sedang Gajah Sora masih belum kembali ? Sedang Arya Salaka kemudian lenyap tanpa bekas, seolah-olah ia telah benar-benar mati terbunuh ? Itulah sebabnya kenapa aku tidak mempunyai pilihan lain daripada untuk sementara mempergunakan tenaga yang ada untuk kepentingan tanah ini. Aku sadar bahwa dari berbagai penjuru dapat datang bahaya. Gerombolan kalangan hitam yang liar dari Gunung Tidar, Rawa Pening dan Alas Mentaok. Bahkan ternyata dari Nusa Kambangan pun bahaya itu dapat datang setiap saat."
Ki Ageng Sora Dipayana mengakhiri ceritanya dengan suatu tarikan napas kecewa. Ia melihat masa depan yang suram bagi tanah perdikannya yang dibangunnya dengan cucuran keringat.
Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran
dan Penjawi pun merasakan apa yang bergetar di dalam orang tua itu. Mereka ikut
serta dihadapkan pada persimpangan jalan yang tidak dikenalnya.
Jalan manakah yang harus dipilihnya.
Ki Ageng Sora Dipayana tidak dapat membiarkan tanah perdikannya ditelan oleh kekuatan hitam yang ada disekitarnya. Sedang yang ada padanya pada saat itu tidak ada lain, kecuali Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Maka orang tua itu tidak dapat berbuat lain daripada membentengi Pamingit dan Banyubiru dengan menempa Lembu Sora dan Sawung Sariti.
Untuk sesaat pendapa Banyubiru itu menjadi sepi. Masing-masing berdiam diri dan membiarkan angan angan mereka merayapi daerah yang tak mereka kenal.
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja
No. 452
KI AGENG Sora Dipayana masih saja memandangi
titik-titik di kejauhan.
Menembus alam kasatmata dan hinggap ke dalam alam yang hanya dapat dicitakan.
Banyubiru yang gemah ripah loh jinawi. Jauh dari sifat cecengilan dan fitnah.
Jauh dari keirihatian dan ketamakan.
”Adakah kita akan sampai ke sana...?” Tiba-tiba terdengar Sora Dipayana
bergumam.
Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan orang-orang lain yang mendengarnya menjadi
terkejut. Bahkan Sora Dipayana sendiri seolah-olah menjadi tersadar oleh
kata-katanya sendiri.
”Sampai ke mana Ki Ageng?” tanya Wanamerta.
Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas panjang. Lalu ia melipat tangannya di
dadanya. Tetapi ia harus menjawab pertanyaan Wanamerta itu. Maka katanya, ”Wanamerta...
kau adalah orang tertua yang pernah ikut serta membanting tulang, membina tanah
ini. Bahkan sejak tanah ini masih bernama Pangrantunan. Seperti aku, agaknya kau
mencita-citakan tanah ini menjadi tanah yang subur. Wadah dari masyarakat yang
sejahtera lahir dan batin. Tetapi kau agaknya lebih beruntung daripadaku. Pada
saat saat seperti sekarang ini kau berhasil menarik garis tegas.”
Wanamerta merasa, seolah-olah Ki Ageng Sora Dipayana sedang menyesali dirinya.
Menyesali keadaan yang menghadapkannya kepada persoalan yang serba salah. Maju
tatu, mundur ajur. Karena itu maka ia berusaha untuk memperingan beban orang tua
itu. Katanya. ”Ki Ageng, kalau dalam wawasan Ki Ageng aku dapat menarik garis
tegas pada keadaan seperti sekarang ini, adalah karena aku mempunyai kesempatan
yang lebih banyak. Aku dapat menilai Anakmas Gajah Sora dan Anakmas Lembu Sora
dalam keadaan yang wajar, karena aku tidak tersangkut pada persoalan-persoalan
yang
tali-temali seperti Kakang Sora Dipayana.”
”Kau benar Wanamerta,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana. ”Kau lebih beruntung
lagi, karena kau berhasil menemukan Arya Salaka.”
”Itu adalah karena doa dan pangestu Kakang,” sahut Wanamerta.
Kemudian Ki Ageng Sora Dipayana menoleh kepada Mahesa Jenar dan berkata
kepadanya, ”Mahesa Jenar, adakah Arya Salaka itu sehat-sehat saja?”
Mahesa Jenar mengangguk-angguk sambil menjawab, ”Baik Ki Ageng. Arya Salaka
sekarang dalam keadaan segar bugar. Ia menyampaikan baktinya kepada Ki Ageng
Sora Dipayana.”
”Hem...” Sora Dipayana bergumam. ”Ia pasti segagah ayahnya. Lima tahun
yang lalu ia telah jauh lebih gagah dari kawan-kawan sebayanya. Apalagi sekarang.”
”Ia mirip benar dengan ayahnya, Paman.” Mahesa Jenar menyambung.
Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum puas. Tetapi hanya sesaat, sebab kemudian ia
teringat kembali pada keadaan yang dihadapi kini. Di dalam rumah itu ada Sawung
Sariti yang mewarisi sifat-sifat ayahnya. Meskipun demikian ia tidak mau
membiarkan keadaan berkembang berlarut-larut kearah yang tak dikehendaki. Karena
itu ia harus berbuat sesuatu.
Menempatkan kembali segala sesuatunya pada tempat masing-masing. Karena itu ia
berkata, ”Mahesa Jenar, bawalah Arya Salaka kemari.”
Mendengar kata-kata Ki Ageng Sora Dipayana itu, Mahesa Jenar beserta segenap
kawan-kawannya menjadi bergembira. Wajah-wajah mereka menjadi cerah dan
bercahaya. Tetapi ketika mereka sadar bahwa kekuasaan Banyubiru pada saat itu
seolah-olah berada sepenuhnya di tangan Lembu Sora, mereka menjadi ragu. Dan
tanpa mereka sadari mereka segera memandang kearah pintu dimana Lembu Sora tadi
masuk.
Sora Dipayana ternyata menangkap perasaan mereka. Perasaan yang sebenarnya
berkecamuk juga di dalam rongga dadanya. Tetapi ia berpendapat bahwa keadaan di
Banyubiru harus segera mendapat bentuk yang tegas. Apabila keadaan dibiarkan
seperti saat itu maka kehidupan rakyatnya pun jadi mengambang tanpa pegangan.
Mereka menjadi ragu-ragu untuk berbuat banyak, sebab mereka selalu dibebani oleh
perasaan takut dan was-was. Mereka selalu dihadapkan pada keadaan yang tidak
tetap,
yang setiap waktu dapat berubah-ubah tanpa ketentuan.
Karena pendapat itulah maka kemudian Ki Ageng Sora Dipayana berkata, ”Mahesa
Jenar, aku kira kau sedang mempertimbangkan apakah yang akan terjadi apabila
Arya Salaka kau bawa kemari?”
Mahesa Jenar mengangguk sambil menjawab, ”Benar Paman. Memang aku menjadi
bimbang akan nasib anak itu kelak.”
”Sebenarnya aku pun bimbang. Tetapi aku menghendaki agar keadaan seperti
sekarang ini segera berakhir. Karena itu aku akan mencoba agar segala sesuatu
akan menjadi jelas dalam waktu yang dekat. Mudah-mudahan aku masih mempunyai
pengaruh yang cukup atas anakku sendiri.”
Jelas terasa dalam nada kata-katanya. Ki Ageng Sora Dipayana benar-benar sedang
dihadapkan pada suatu persoalan yang sulit.
Mahesa Jenar akhirnya merasa bahwa pertemuan itu
sudah cukup baginya. Ia sudah mendapat gambaran yang cukup jelas tentang keadaan
di Banyubiru, yang sudah cukup pula dipergunakannya sebagai bekal untuk
menentukan langkah-langkah seterusnya. Karena itu segera ia mohon diri untuk
kembali ke daerah Candi Gedong Sanga.
Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana menahannya untuk beberapa saat karena ia masih
ingin menjamu tamu-tamunya dengan sekadar minuman dan makanan. ”Sebentar lagi
hari akan malam, Paman, sebaiknya kami berangkat sekarang.” Mahesa Jenar
mencoba untuk memaksa kembali.
Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana menjawab, ”Apakah bedanya siang dan malam
bagimu Anakmas Mahesa Jenar? Apalagi kau berjalan bersama dengan Angger Kebo
Kanigara, selain masih ada Wanamerta, Bantaran dan Penjawi. Tak ada sesuatu yang
akan dapat menghalangi perjalananmu.”
Cerita Bersambung 27 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
453
MAHESA JENAR tersenyum mendengar pujian itu.
Sambil mengangguk ia menjawab, ”Itu terlalu berlebihan, Paman. Kecuali
apabila Paman Sora Dipayana mengantarkan kami.”
”Tetapi kemudian kau harus mengantar aku kembali Mahesa Jenar,” sahut Sora
Dipayana, ”Dengan demikian semalam suntuk kita akan saling mengantar”.
Mahesa Jenar dan Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum
mendengar kelakar itu, bahkan juga orang-orang lain yang mendengarnya, meskipun
di dalam dada mereka masih tersimpan beberapa soal yang sukar dipecahkan.
Demikianlah, akhirnya mereka terpaksa menunggu
sampai hidangan disajikan. Minum dan makan. Meskipun mereka duduk bersama
menikmati hidangan itu dengan Lembu Sora dan Sawung Sariti, namun tidak banyak
yang mereka percakapkan. Mereka menjadi kaku dan tegang, sehingga tidak banyak
makanan yang dapat mereka makan, serta minuman yang dapat mereka minum.
Setelah selesai mereka menikmati jamuan itu,
serta setelah mereka beristirahat sejenak, maka sekali lagi Mahesa Jenar memohon
diri untuk kembali ke perkemahan anak-anak Banyubiru. Kali ini Ki Ageng Sora
Dipayana tidak menahannya lagi. Dilepaskannya Mahesa Jenar beserta rombongannya
sampai ke halaman untuk seterusnya meninggalkan rumah kepala daerah perdikan
Banyubiru itu.
Ketika rombongan kecil itu telah lenyap dibalik
regol, serta derap langkah kudanya tidak terdengar lagi, berkatalah Lembu Sora
menyesali ayahnya, ”Ayah, kenapa ayah menyuruh orang itu membawa anak yang
menamakan diri Arya Salaka itu kemari?”
”Apakah keberatanmu Lembu Sora?” tanya ayahnya pula.
”Apakah ayah dapat menerimanya sebagai Arya Salaka yang sebenarnya? Dan
apakah ayah masih mau memberi kepercayaan kepada orang yang bernama Mahesa Jenar
itu?” desak Lembu Sora beruntun.
”Lembu Sora,” jawab ayahnya. ”Biarlah kita
buktikan bersama. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui dan membuktikan
bahwa orang yang bernama Mahesa Jenar ini memiliki sifat-sifat pengecut dan
jahat, apabila anak muda yang dinamakan Arya Salaka itu benar-benar bukan cucuku.
Tetapi sebaliknya, apabila anak muda itu benar-benar Arya Salaka, maka orang
yang mengabarkan kepadamu bahwa Arya Salaka telah terbunuh, ternyata ia keliru,
atau orang itu memang belum mengenal cucuku dengan baik.”
Mendengar kata-kata ayahnya, yang kedengarannya tegak di tengah-tengah itu,
Lembu Sora mengatupkan giginya. Ia sama sekali tidak senang mendengar keputusan
ayahnya mengundang Arya Salaka datang ke Banyubiru. Karena itu, ia harus
berusaha untuk mencegahnya. Tetapi ia tidak berani mengemukakan keberatannya itu
kepada ayahnya.
Ketika Lembu Sora kemudian pergi meninggalkan ayahnya, dan menengok ke alun-alun
di hadapan rumah itu, ia masih melihat debu berserakan yang dilemparkan oleh
kaki-kaki kuda Mahesa Jenar beserta rombongannya. Tetapi kuda-kuda itu sendiri
sudah tidak begitu jelas kelihatan.
Dari kejauhan, bayangan yang kelam seolah-olah
datang menerkam daerah perdikan itu dengan perlahan-lahan. Sedang di ufuk barat,
matahari yang kelelahan telah membenamkan dirinya dibalik punggung-punggung
bukit. Sinarnya yang lamat-lamat untuk sesaat masih tersangkut di awan-awan yang
mengalir lambat-lambat menyapu wajah langit yang berwarna biru tua.
Tiba-tiba sesaat kemudian bermunculanlah
bintang-bintang yang gemerlapan menggantung di awang-awang.
Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah
langit. Bintang-bintang yang semakin padat sangat mengagumkannya. Ia kagum
kepada kebesaran alam, kepada benda-benda yang bertebaran di angkasa, kepada
tata alam yang sempurna. Tetapi kekagumannya kepada alam, kepada benda-benda
yang berkilat-kilat di angkasa itu akhirnya terdampar pada sumbernya. Yaitu
kekagumannya kepada Yang Maha Sempurna, yang telah menjadikan semuanya ini.
Tuhan Yang Maha Esa.
Demikianlah setiap kali hatinya tergetar oleh
kekagumannya itu, setiap kali pula ia merasa semakin dekat pada-Nya. Dan setiap
kali ia merasa bahwa ia harus meningkatkan kebaktian kepada-Nya, serta
pengabdian kepada titah terkasihnya, yaitu manusia. Pengabdian yang bukan
sekadar damba kasih dalam kidung-kidung atau kakawin-kakawin, tetapi pengabdian
yang benar-benar diamalkan, dicerminkan dalam tindak-tanduk dan cara hidup
sehari-hari.
Demikianlah di dalam perjalanan itu hampir tak terdengar mereka bercakap-cakap.
Masing-masing berdiam diri, kecuali memperhatikan jalan-jalan di hadapan mereka,
agaknya mereka masih juga sibuk menilai peristiwa yang baru saja terjadi dan
yang kira-kira akan terjadi.
Seperti juga ketika mereka datang di Banyubiru, pada saat itu yang berjalan di
depan adalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, sedang di belakangnya Wanamerta dan
seterusnya Bantaran dan Penjawi.
Dalam keheningan malam yang menjadi semakin dalam, hanya derak-derak batu-batu
padas yang tersentuh kaki-kaki kuda itu sajalah yang terdengar disamping
suara-suara belalang di kejauhan.
Di langit, kelelawar menari-nari dengan lincahnya, seolah-olah tak ada mahluk
lain yang berani mengganggunya, sebab malam hari itu adalah milik mereka.
Ketika Mahesa Jenar beserta rombongannya sedang menempuh perjalanan itu di
perkemahan anak-anak Banyubiru, di sekitar Candi Gedong Sanga tampaklah
persiapan-persiapan dan penjagaan-penjagaan yang lebih ketat daripada biasanya.
Apa yang diceriterakan Endang Widuri merupakan pertanda bahaya yang mengancam.
Meskipun mereka belum yakin dari manakah bahaya itu datang.
Mantingan, Wirasaba dan Jaladri sama sekali tidak berani meninggalkan gardu
pimpinan. Sebab mereka menduga bahwa setiap saat mereka akan dikejutkan oleh
peristiwa yang tak mereka kehendaki.
Cerita Bersambung 28 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
454
KETIKA itu Arya Salaka pun merasa tidak tenang
berbaring di dalam pondoknya. Perasaannya selalu saja mengganggu. Karena itu
kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan keluar. Di luar, ia berpapasan dengan
beberapa orang penjaga yang menyapanya dengan hormat. ”Angger, kemanakah
Angger akan pergi?”
”Aku hanya ingin berjalan-jalan saja, Paman.
Udara terlalu panas, dan aku masih belum berhasrat untuk tidur,”
jawab Arya.
”Tetapi hati-hatilah Angger.” Orang itu melanjutkan, ”Jangan
meninggalkan lingkaran perkemahan ini.”
”Baik Paman,” jawab Arya Salaka.
Setelah orang itu menjauhinya, terdengar ia bergumam, ”Agaknya
orang itupun mendapat firasat yang kurang baik.”
Sejalan dengan itu, tiba-tiba ia teringat kepada Widuri yang tinggal bersama
Rara Wilis dan Nyi Penjawi. Mula-mula ia menjadi cemas bahwa orang yang
dikalahkan oleh gadis itu mendendamnya dan berusaha untuk membalasnya. Namun
kemudian hatinya menjadi tenteram ketika ia sadar bahwa Widuri bukan anak-anak
yang masih perlu mendapat perlindungan khusus. Tingkat ilmunya adalah jauh lebih
tinggi dari setiap orang yang berada di luar pondok yang mencoba melindunginya.
Apalagi dalam pondok itu berada pula Rara Wilis.
Meskipun demikian Arya Salaka berhenti sejenak
untuk mengawasi pondok itu. Pondok dimana tinggal di dalamnya Endang Widuri.
Tetapi pondok itu nampaknya sepi saja, seolah-olah ikut tertidur dengan para
penghuninya. Sedang di sekitar pondok itu ia melihat tiga orang berjaga-jaga. Ia
menjadi lega.
Kemudian Arya melangkah kembali menikmati udara malam yang sejuk. Sekali dua
kali ia memandang ke arah langit. Bintang-bintang yang semakin padat sangat
mengagumkannya. Ia, seperti juga gurunya, pada saat yang bersamaan itu, kagum
kepada kebesaran alam, kepada benda-benda yang bertebaran di angkasa, kepada
tata alam yang sempurna. Juga seperti gurunya yang sedang menuju ke perkemahan
itu, kekagumannya kepada alam, kepada benda-benda yang berkilat-kilat di angkasa
itu akhirnya terdampar kepada sumbernya, yaitu kekagumannya kepada Yang Maha
Sempurna, yang telah menjadikan semuanya ini.
Dalam keadaan yang demikian, seolah-olah terngiang kembali segala nasehat dan petuah-petuah dari gurunya. Seakan-akan mendengung di dalam rongga telinganya kata-kata Mahesa Jenar. ”Arya, yang penting dari setiap usahamu, adalah usaha-usaha dan perbuatan-perbuatan yang dapat banyak berarti bagi rakyatmu kelak, untuk mendatangkan kebahagiaan lahir dan batin. Tetapi yang lebih penting lagi adalah pertanggungjawabanmu sebagai seorang pemimpin yang akan dituntut kelak, apabila kau menghadap kembali kepada Yang Maha Esa. Karena itulah maka perbuatan-perbuatanmu sekarang harus dapat dinilai dari dua segi. Pengabdianmu pada sesama dan kebaktianmu kepada Tuhan.”
Sambil berangan-angan, tanpa disadari Arya Salaka telah berjalan sampai ke batas
perkemahan. Ia masih melihat seorang penjaga berdiri tegak di tengah jalan,
sedang di pinggir jalan itu duduk tiga orang yang lain. Tiba-tiba timbullah
keinginannya untuk ikut serta duduk bersama mereka. Karenaitu perlahan-lahan ia
mendatanginya.
Ketiga orang-orang itu melihat seseorang
menghampirinya, hampir serentak mereka menyapa lirih, ”Siapa?”
”Arya,” jawab Arya Salaka.
”O...” terdengar salah seorang dari mereka itu. ”Akan kemanakah Angger?”
”Aku ingin duduk bersama-sama dengan Paman di sini,” jawab Arya.
”Ah,” sahut orang itu. ”Di sini banyak nyamuk. Tidakkah Angger perlu
beristirahat?”
”Aku belum ingin tidur, Paman,” jawab Arya pula, dan yang kemudian duduk di
samping ketiga orang itu.
Ketika orang itu mengingsar duduknya, sedang orang yang tegak di tengah jalan
itu menoleh pula kepadanya.
”Tidakkah Angger lebih enak duduk di gardu pimpinan bersama-sama Adi
Mantingan?” tanya yang berdiri itu.
”Nanti aku akan ke sana juga,” jawab Arya.
Orang-orang itu tidak bertanya lagi. Tetapi mereka merasa bertambah beban.
Karena mereka belum kenal kepada anak itu setelah beberapa tahun terpisah.
Mereka merasa bahwa Arya Salaka itu masih saja seperti dahulu. Masih harus
mendapat perlindungan dan perawatan. Karena itu maka seorang dari ketiga orang
yang duduk itu kemudian tegak pula dan berjalan-jalan hilir-mudik. Sedang kedua
orang yang lain, meskipun tidak berkata apa-apa, tetapi mereka mengingsar
duduknya, sehingga seorang di sebelah kiri dan seorang lagi di sebelah kanan
Arya.
Arya tersenyum di dalam hati, tetapi ia juga bangga atas anak buahnya yang
sangat hati-hati itu. Disamping itu, ia merasa bahwa agaknya Mantingan
menganggap bahwa keadaan perkemahan itu benar-benar dalam bahaya.
Ketika Arya telah duduk diantara kedua orang itu, mulailah ia bertanya-tanya
tentang beberapa hal.
Tentang Banyubiru sepeninggalnya. Tentang pamannya Lembu Sora. Bahkan tentang
pohon jambu di halaman yang dahulu ditanamnya.
”Pohon jambu itu luar biasa lebatnya,” jawab orang yang duduk di sebelah
kirinya.
Cerita Bersambung 29 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
455
ARYA SALAKA kemudian mencoba membayangkan pohon itu. Alangkah rindangnya duduk
di bawahnya apabila matahari yang terik sedang membakar seluruh halaman rumanya.
Tetapi yang terakhir terbayang di dalam otaknya adalah orang yang paling
dikasihinya. Orang yang telah melahirkannya dan mengasuhnya dengan penuh cinta
kasih. Orang itu adalah ibunya. Nyai Ageng Gajah Sora.
Terbayanglah wajah ibunya yang sayu pucat berdiri di regol halaman rumahnya.
Dengan penuh harapan ia menanti kedatangan ayahnya. Gajah Sora dari Demak. Dan
dengan penuh harapan pula ia menanti kedatangannya, satu-satunya anak yang
dimilikinya.
Tetapi kemudian dibayangkannya, bahwa ibunya akan menjadi putus asa kalau yang
ditunggunya sekian lama tidak kunjung tiba. Maka yang dapat dilakukannya
hanyalah menangis di ruang tidurnya dengan membenamkan wajahnya di bawah
bantalnya yang telah basah oleh air mata.
Arya menarik nafas dalam-dalam. Sekali-kali ia memejamkan matanya sambil
menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayang-bayang yang mengganggu otaknya.
Tetapi bayangan-bayangan itu menjadi semakin jelas dan seolah-olah ibunya itu
melambai-lambai kepadanya dengan wajah sedih dan berkata, ”Arya, aku sudah
sedemikian rindunya kepadamu.”
Arya terkejut ketika terasa tetesan cairan yang hangat di pipinya. Cepat ia
mengusapnya dengan lengan bajunya. Tetapi mau tidak mau, dadanya menjadi sesak
oleh sesuatu yang seakan-akan menyumbat kerongkongannya.
”Hem....” Beberapa kali Arya menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali,
untuk mengurangi himpitan perasaan yang menekan dadanya.
Semula ia ingin menanyakan kepada orang-orang Banyubiru itu tentang keadaan
ibunya. Tetapi kemudian ia menjadi ketakutan. Ketakutan pada jawaban yang akan
didengarnya. Jangan-jangan jawaban mereka atas pertanyaan itu akan dapat
menambah sedih hatinya. Karena itu, maksudnya untuk bertanya tentang ibunya
dibatalkan.
Sementara itu malam menjadi semakin jauh. Bintang-bintang telah berkisar dari
tempatnya semula ke arah barat. Di ujung selatan, bintang Gubug Penceng telah
melampaui garis tegak lurus.
Dalam pada itu tiba-tiba terasa sesuatu yang aneh. Angin yang silir bertiup
perlahan-lahan. Begitu nyamannya sehingga tiba-tiba pula perasaan kantuk
seolah-olah menyengat perasaannya.
Dua orang yang berada di kedua sisinya itu telah beberapa kali menguap. Sedang
orang yang berjalan hilir mudik itu pun merasakan pula serangan kantuk yang
dalam. Demikian pula orang yang tegak berjaga-jaga di tengah jalan. Dengan tanpa
mereka sadari, mereka jatuh terduduk.
Arya Salaka pun merasakan juga serangan kantuk itu. Tetapi karena pengalamannya
selama ini, telah mempertajam nalurinya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak
pada tempatnya. Tiba-tiba ia teringat ceritera gurunya tentang semacam ilmu yang
dapat mempengaruhi kesadaran seseorang. Yaitu ilmu sirep.
Dengan ilmu itu orang dapat memperlemah kesadaran orang lain yang tampaknya
menjadi kantuk dan tertidur. Karena itu, pada saat itupun Arya segera memperkuat
ketahanan diri. Dikerahkannya segala kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh
sirep yang dalam itu.
Arya Salaka, meskipun masih sangat muda, tetapi karena masa-masa pembajaan diri
yang selama ini dialami, maka iapun telah menjadi anak muda yang perkasa lahir
dan batin.
Karena itulah maka ia berhasil menyelamatkan dirinya dari pengaruh sirep yang
tajam itu.
Beberapa kali ia mencoba membangunkan orang-orang jaga yang kemudian jatuh
tertidur. Tetapi demikian mereka terbangun, menguap dan kembali jatuh tertidur.
Arya Salaka menjadi heran. Demikian kuatnya pengaruh sirep terhadap kesadaran
seseorang. Namun meskipun demikian, ia yakin, apabila ada sesuatu yang mengejut
dan cukup kuat memberi mereka rangsang, maka orang-orang yang kena pengaruh
sirep itupun akan dapat terlepas dengan sendirinya. Sebab apabila ia memukul
paha salah seorang dari penjaga yang tertidur, orang itupun menjadi terkejut
pula dan terbangun untuk kemudian jatuh tertidur kembali.
Bagi Arya Salaka, pengaruh sirep itu merupakan tanda bahaya. Ia tidak tahu
siapakah yang menyebarkannya. Tetapi ia menjadi cemas, kalau kemudian sepasukan
laskar akan diam-diam menyerbu perkemahan yang seolah-olah menjadi tertidur
seluruhnya. Ia tidak tahu apakah semua orang mengalami nasib seperti kelima
penjaga itu. Apakah orang yang berjaga-jaga di sekitar pondok Endang Widuri pun
menjadi tertidur. Dan apakah Ki Dalang Mantingan, Wirasaba dan Jaladri tidak
dapat membebaskan diri dari pengaruhnya.
Arya Salaka menjadi kebingungan. Ia tidak sampai hati meninggalkan para penjaga
yang tertidur itu. Kalau penyebar sirep ini menghendaki, maka dengan mudahnya
mereka membunuh penjaga-penjaga itu.
Tetapi belum lagi ia mendapat keputusan, telinganya yang tajam mendengar
kemersik daun tersentuh kaki. Cepat Arya Salaka menyiagakan diri untuk
menghadapi segala kemungkinan. Tetapi suara itu tidak berhenti ketika sudah
menjadi semakin dekat dari tempat duduknya. Bahkan kemudian terdengar suara
berbisik lirih, ”Siapa yang bertugas di sini?”
Arya sudah mengenal suara itu. Suara Wirasaba. Karena itu ia menjadi gembira
karena setidak-tidaknya, ia sendiri dan Wirasaba dapat membebaskan diri dari
pengaruh sirep ini. Maka dengan perlahan-lahan pula ia menjawab, ”Aku, Paman,
Arya.”
”Arya Salaka?” ulang Wirasaba agak terkejut.
”Ya,” jawab Arya pula.
|
[Previous] |
[] |
[Next] |