Nagasasra dan Sabukinten

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


Cerita Bersambung 20 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
446

MAHESA JENAR mengangkat dadanya seolah-olah ada sesuatu yang menyilang di dalamnya. Dengan sudut matanya ia melihat betapa wajah Wanamerta, Bantaran dan Penjawi sudah menjadi merah padam. Meskipun demikian Mahesa Jenar masih berkata, ”Bukankah Kakang Lembu Sora tidak melihat sendiri, seorang anak muda yang disebut bernama Arya Salaka itu terbujur di tanah tak bernafas lagi?”

Perasaan tidak senang yang tajam terpercik di wajah Lembu Sora. Kemudian terdengarlah ia menjawab, ”Aku tidak sempat untuk mengurusi masalah-masalah tetek bengek yang tidak berarti. Bukankah aku mempunyai petugas-petugas untuk keperluan itu...?”

”Kalau benar Kakang berbuat demikian, maka agaknya Kakang Lembu Sora telah berbuat suatu kesalahan. Persoalan Arya Salaka bukanlah persoalan tetek bengek yang tak berarti. Arya Salaka adalah putra kepala daerah perdikan Banyubiru, yang berhak untuk menggantikan kedudukan itu apabila ayahnya berhalangan melakukan tugasnya,”
sahut Mahesa Jenar yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.

”Hemmm...” dengus Lembu Sora. Wajahnya pun telah mulai semburat merah. ”Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan kepada Adi, bahwa aku tidak dapat mempercayaimu sejak perjumpaan kita yang pertama-tama. Sejak hilangnya pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru.”

Dada Mahesa Jenar benar-benar seperti dihantam linggis, mendengar kata-kata itu. Sehingga tidak sesadarnya ia menggeretakkan giginya. Namun bagaimanapun juga dengan susah payah ia masih menahan diri, dan berkata, ”Kakang, aku tidak keberatan terhadap sikapmu kepadaku. Tetapi bagaimanakah seandainya anak muda yang aku namakan Arya Salaka itu mendapat kesaksian dari segenap penduduk daerah perdikan ini, dan mereka menerimanya sebagai Arya Salaka yang sebenarnya?”

Pertanyaan ini sekali lagi menggelisahkan Lembu Sora. Sawung Sariti pun tidak tahan lagi untuk membiarkan pembicaraan yang tak disukainya itu berlarut-larut. Maka ia pun kemudian menyela, ”Ayah, apakah gunanya pembicaraan ini kita layani? Sebaiknya biarlah tamu-tamu kita ini kita persilakan berdiam diri. Dengan rendah hati atau kalau perlu kita terpaksa memaksa mereka dengan cara kita.”

Mahesa Jenar memandang Sawung Sariti dengan sudut matanya. Sekali lagi ia merasa muak melihat wajah itu. Wajah yang tampan dan bersih namun di belakang wajah itu tersirat kelicikan hatinya. Tiba-tiba ia teringat kepada Jaka Soka dari Nusa Kambangan.

”Angger...” kata Mahesa Jenar kemudian, ”Biarlah kami berbicara secara orang tua. Sebaiknya Angger bermain-main saja di halaman, daripada mencampuri urusan ini.”

Bara yang mula-mula berkobar di dada Sawung Sariti masih belum padam, ditambah dengan kata-kata Mahesa Jenar yang cukup tajam itu. Maka semakin menyalalah hatinya. Tetapi sebelum ia menjawab, Lembu Sora telah mendahuluinya, ”Adi Mahesa Jenar, aku tidak mau membicarakannya lagi. Aku sudah memutuskan untuk menganggap Arya Salaka telah mati, dan Kakang Gajah Sora pun telah dihukum mati di Demak, sebagai akibat dari pengkhianatannya, meskipun aku telah berusaha untuk mencegahnya.”

”Maaf Kakang,” potong Mahesa Jenar, ”Aku datang untuk membicarakannya. Bukan untuk sekadar menghadap yang dipertuan di Banyubiru sekarang.”

”Cukup...!” potong Lembu Sora, ”Tidak ada yang aku bicarakan.”

Mahesa Jenar benar-benar tersinggung karenanya, ditambah dengan perasaan muaknya sejak bertemu dengan orang itu untuk pertama kalinya. Karena itu ia menjawab lantang, ”Kalau kau tidak mau berbicara, aku akan berbicara dengan rakyat Banyubiru, dan membuktikan kepada mereka bahwa Arya Salaka akan berada di tengah-tengah mereka.”

Mendengar ancaman Mahesa Jenar itu, Lembu Sora terperanjat. Tetapi kemudian ia pun menjadi marah dan menjawab, ”Adi Mahesa Jenar, akulah kepala daerah perdikan ini. Akulah yang berwenang atas rakyat dan daerah ini. Tak seorang pun aku perkenankan melanggar wewenangku. Apalagi kau. Ayah Sora Dipayana pun tidak.”

Wanamerta mendengar kata-kata itu dengan dada yang berdentam-dentam. Telinganya serasa tersentuh api. Maka katanya lantang, meskipun ia langsung berhadapan dengan bahaya yang dapat saja merenggut jiwanya, ”Anakmas Lembu Sora, akulah yang mula-mula minta kepada Anakmas untuk mengawasi daerah perdikan ini sepeninggal Anakmas Gajah Sora. Tetapi cerita tentang Anakmas Lembu Sora tak dapat ditutup-tutupi lagi. Cerita tentang hilangnya Anakmas Arya Salaka, yang untung dapat diselamatkan oleh Anakmas Mahesa Jenar. Cerita tentang laskar yang Anakmas namakan Laskar Pamingit dan Banyubiru yang ingin membebaskan Anakmas Gajah Sora dengan menyerang pasukan dari Demak. Seterusnya cerita tentang hilangnya Pandan Kuning dan Sawung Rana.”

”Cukup!”
teriak Lembu Sora. ”Ternyata rambutmu yang telah memutih itu sama sekali tidak mencerminkan hatimu yang putih. Kau ingin melihat darah mengalir di Banyubiru. Kalau dengan demikian kau akan dapat mengambil keuntungan, maka kaulah orang yang pertama-tama aku lenyapkan sekarang ini.”

”Tak seorang pun yang dapat melenyapkan kenyataan yang telah terjadi. Betapapun orang berusaha menutupi kebenaran dan menghapuskan. Namun kebenaran itu tak akan lenyap,”
sanggah Wanamerta dengan berani.

”Jangan menggurui aku,” bentak Lembu Sora. ”Aku tahu, kau sudah berusia lanjut. Tetapi jangan berlagak lebih pandai daripada orang-orang muda. Bagiku tidak ada tempat bagi kalian di Banyubiru.”

Mahesa Jenar sekali lagi mencoba untuk yang terakhir kalinya menempuh cara yang sebaik-baiknya bagi penyelesaian Banyubiru. Katanya, ”Ki Ageng Lembu Sora, mumpung segala sesuatu belum telanjur, marilah kita tenangkan hati kita. Berilah aku kesempatan untuk menunjukkan kemauan kami yang sebenarnya. Bahwa tak ada artinya pertentangan antara kita sama kita. Biarlah kita cari jalan yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah kita.”



Cerita Bersambung 21 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
447

LEMBU SORA mendengus. Matanya benar-benar telah memancar merah bara. ”Agaknya kaulah sumber dari keributan ini. Kau telah membuat seorang anak muda menggantikan kesempatan Arya Salaka untuk kepentinganmu. Kau cari seorang anak muda yang mirip dengan anak itu. Kau ajari dia menyebut aku paman dan menyebut nama ayahnya Gajah Sora. Kau ajari dia menuntut hak atas Banyubiru.”

”Ki Ageng Lembu Sora...”
potong Mahesa jenar, ”Demi kehormatan kita masing-masing, jangan katakan yang bukan-bukan.”

”Nah...”
jawab Lembu Sora berapi-api, ”Bukankah kau takut melihat kenyataan itu? Kenyataan bahwa permainan kotormu telah aku ketahui.”

”Kau telah benar-benar tersesat. Kalau tanggapanmu itu jujur, maka kau benar-benar telah berdiri di atas alas yang gelap, yang sama sekali tak dipancari oleh kebijaksanaan.”

”Cukup!”
teriak Lembu Sora dengan gemetar. ”Jangan membuat aku kehilangan kesabaran.”

Mahesa jenar adalah seorang jantan. Seorang perwira yang tak mengenal surut. Ketika ia mendengar teriakan-teriakan dan bentakan-bentakan itu, bagaimanapun sabarnya ia menjadi marah pula. Karena itu ia pun kemudian menjawab lantang, ”Kakang Lembu Sora, kalau kau berbicara atas hak maka akulah yang memegang hak sekarang ini atas Banyubiru. Aku telah menerima wewenang langsung dari Kakang Gajah Sora sejak Kakang Gajah Sora meninggalkan daerah ini. Akulah yang mendapat tugas darinya untuk mengamankan Banyubiru dan putranya, Arya Salaka. Akulah sekarang yang mempunyai kewajiban untuk mengatur Banyubiru berdasarkan dan bersumberkan wewenang yang diberikan oleh Kakang Gajah Sora. Karena itu jangan mencoba membatasi usahaku memulihkan pemerintahan di Banyubiru.”

Lembu Sora telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Tiba-tiba ia berkisar maju dekat-dekat di muka Mahesa Jenar. Sambil menuding wajahnya, Lembu Sora berkata, ”Kau adalah orang yang paling berbahaya bagi Banyubiru. Kau adalah sumber bencana sejak hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Aku telah menasihatkan kepada kakang Gajah Sora untuk menangkapmu. Tetapi ia tidak mau. Dan sekarang ketika kau hadir kembali ke daerah ini, tersebarlah desas-desus bahwa keris itu berada di Banyubiru. Bukankah itu jelas? Jelas bahwa kau yang telah mencuri kedua pusaka itu.”

Mahesa Jenar tiba-tiba juga kehilangan pengamatan diri. Ketika tangan Lembu Sora masih berada di depan wajahnya, tiba-tiba dengan kerasnya ia memukulnya ke samping. Dan kemudian dengan cepatnya, secepat getaran cahaya, ia meloncat turun dari pendapa, dan berkata kepada Lembu Sora dengan marahnya, ”Lembu Sora... aku adalah laki-laki seperti kau.”

Lembu Sora pun kemudian meloncat tak kalah cepatnya. Dengan wajah yang bengis ia berdiri berhadapan dengan Mahesa Jenar. Sementara itu Wanamerta, Bantaran dan Penjawi pun segera berloncatan, dan tiba-tiba mereka sudah bersiap untuk bertempur.

Dalam pada itu, setiap laskar Banyubiru dan Pamingit yang berada di halaman itu segera mendesak maju. Dan dalam waktu yang singkat mereka telah mengepung pendapa itu. Apalagi ketika kemudian Lembu Sora berkata lantang kepada mereka, ”Hai laskar Banyubiru.... Selamatkan daerahmu dari orang-orang yang ingin merampas milikmu. Sebab mereka masih belum melupakan, beberapa tahun yang lalu, mereka hampir mencincang kau ketika mereka menyadari bahwa kau telah mencuri pusaka-pusaka yang dengan susah payah diusahakan oleh kakang Gajah Sora. Tetapi Kakang Gajah Sora terlalu baik hati kepadamu.”

Laskar Banyubiru dan Pamingit itu pun kemudian semakin mendesak maju. Dan tiba-tiba terdengar diantara mereka suatu teriakan, ”Bunuh...!”

Mahesa Jenar memutar tubuhnya seperempat lingkaran. Dengan kaki renggang ia menghadapi setiap kemungkinan. Ketika dilihatnya laskar di sekitarnya semakin mendesak maju, ia pun berteriak kepada Lembu Sora, ”Aku adalah orang terakhir yang mendapat kepercayaan Kakang Gajah Sora.”

Lembu Sora menyahut keras, ”Omong kosong!”

Tetapi Mahesa Jenar tidak memperhatikannya sama sekali. Dengan lantang ia meneruskan kata-katanya, ”Kalau ada diantara kalian laskar Banyubiru benar-benar laskar Banyubiru, dengarkanlah kata-kataku. Kalau kalian menyerang aku, adalah sama saja kalian menyerang Gajah Sora yang memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengasuh dan mengamankan putranya, Arya Salaka. Dengan demikian kalian telah melupakan diri kalian sendiri sebagai pengawal-pengawal setia Banyubiru. Siapakah yang telah bekerja sepenuh hati untuk Banyubiru...? Siapakah yang telah membangun tempat-tempat ibadah yang tersebar di empat penjuru Banyubiru...? Siapakah yang telah menggali parit-parit untuk sawah-sawah kalian...? Dan siapakah yang paling bersedih hati pada saat Banyubiru dilanda oleh arus kejahatan dari gerombolan hitam dan menelan banyak korban, beberapa tahun yang lalu? Dan siapakah yang telah mempertaruhkan dirinya bagi ketenteraman rakyat Banyubiru ketika pasukan dari demak datang ke tempat ini karena desas-desus dan fitnah atas kebersihan hati rakyat Banyubiru, disamping kesetiaannya kepada panji-panji Gula Kelapa yang pernah dibelanya mati-matian. Siapa...? Dan siapakah diantara kalian yang pada saat itu ikut serta dengan Gajah Sora, dan hampir saja terjadi perlawanan tergadap Demak? Siapa? Dan apakah yang kalian lakukan sekarang? Kalian telah mengingkari diri kalian dan kesetiaan kalian atas tanah ini.”

Lembu Sora tidak mau mendengar Mahesa Jenar berkata terus. Dengan penuh kemarahan ia berteriak, ”Jangan dengarkan orang ini mengigau di tengah hari. Dan jangan dibiarkan ia mengelabuhi mata rakyat Banyubiru. Nah, karena orang itu tidak mau menutup mulutnya, adalah tugas kalian untuk menyumbatnya.”

Beberapa orang Pamingit semakin merapatkan kepungan mereka. Tetapi beberapa laskar Banyubiru menjadi ragu-ragu. Tiba-tiba mereka ingat jelas, seperti baru kemarin saja terjadi, Ki Ageng Gajah Sora segelar sepapan dengan gelar perang Gajah Meta menyongsong kedatangan pasukan Demak dalam gelar Cakra Byuha.


Cerita Bersambung 22 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
448

JELAS tergambar kembali dalam ingatan laskar Banyubiru, ketika pasukan Demak mengubah gelarnya menjadi gelar Garudha Nglayang. Diingat pula oleh mereka, bagaimana Gajah Sora menjadi gemetar ketika dilihatnya panji-panji yang berwarna gula kelapa melambai-lambai di atas ujung pasukan Demak. Pada saat itulah mereka melihat Gajah Sora menyerahkan putranya, Arya salaka, kepada orang itu. Orang yang bernama Mahesa Jenar, yang sekarang berdiri di hadapan mereka.


Karena itulah, ketika orang-orang Pamingit bergerak maju, mereka tetap berdiri di tempat, seolah-olah terpaku di atasnya. Dengan demikian, tanpa dibuat terjadilah dua lingkaran pasukan di halaman itu. Pasukan Pamingit yang semakin mendesak maju, dan di luar lingkaran itu berdirilah dengan bimbang pasukan lembu Sora yang semula berasal dari laskar banyubiru, yang tidak banyak mengerti tentang mereka sendiri, dan tentang tanah mereka.

Sedangkan orang-orang Pamingit yang menjadi semakin rapat itu pun kemudian ragu, ketika mereka melihat Mahesa Jenar siap dalam siaga tempur. Di sampingnya, berseberangan di tiga penjuru, terlihat Wanamerta yang tua, Bantaran yang kokoh kuat, dan penjawi dengan wajah yang tegang namun penuh keikhlasan. Mereka memegang keris masing-masing, siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Tetapi kemudian mereka menjadi sadar akan tugas mereka, ketika mereka melihat Lembu Sora dengan wajah berapi-api berdiri bertolak pinggang di dalam lingkaran itu. Apalagi ketika kemudian Lembu Sora tidak sabar lagi, tiba-tiba dengan suara berdesing menakutkan mencabut pedangnya. Pedang yang tidak berukuran lumrah.

Melihat pedang itu, hati Mahesa Jenar benar-benar melonjak didesak oleh kemarahannya. Agaknya Lembu Sora telah benar-benar ingin membunuhnya. Karena itu tiba-tiba ia bersiap dalam sikap terakhir. Apabila pedang itu ternyata benar-benar terayun ke arahnya, maka ia harus dalam waktu sesingkat-singkatnya memukul kembali. Pukulan yang menentukan. Sebab kemudian ia harus bertempur melawan jumlah yang besar.

Dan, apa yang ditunggunya benar-benar terjadi. Dengan suara berdesing panjang, pedang itu terayun deras sekali menyambar lehernya. Tetapi Mahesa Jenar telah benar-benar siap. Siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu dengan lincahnya ia merendahkan diri dan meloncat ke samping. Dalam pada itu Wanamerta, Bantaran dan Penjawi segera berloncatan merenggang untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Sedang ujung-ujung tombak yang rapat berjajar di sekitar mereka telah menunduk mengarah ke dada mereka.

Mahesa Jenar pada saat itu telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Ia merasa bahwa tidaklah mungkin baginya bersama-sama dengan kawan-kawannya yang hanya berjumlah lima orang itu bertempur melawan segenap laskar yang berada di halaman itu, yang diantaranya ada orang-orang seperti Lembu Sora, Sawung Sariti, bahkan mungkin akan ikut campur pula Ki Ageng Sora Dipayana.

Karena itu ketika pedang Lembu Sora dengan derasnya menyambar di atas kepala mahesa Jenar, segera ia tegak di atas satu kakinya, dan hampir saja ia menyalurkan segenap kekuatannya pada sisi telapak tangan kanannya dalam ujud ilmunya yang luar biasa, Sasra Birawa.

Beberapa orang berloncatan mundur, sedangkan Lembu Sora sendiri menjadi cemas. Ia tidak bisa berbuat lain daripada segera mempersiapkan dirinya atas lambaran ilmu saktinya, Lebur Sakethi.

Tetapi tiba-tiba melontarlah sesosok tubuh memasuki lingkaran itu. Dan dengan tenang berdiri di depan mahesa Jenar, menepuk kedua pundaknya dan berkata lirih, ”Tenangkan hatimu, Mahesa Jenar. Ilmumu sekarang adalah jauh lebih dahsyat daripada lima tahun yang lalu.”

Kata-kata itu bagi Mahesa Jenar seolah-olah setetes embun di atas relung-relung hatinya yang membara. Apalagi ketika ia melihat wajah orang itu, yang dengan senyum kecil memandangnya seperti seorang kakak dengan penuh kasih sayang. Maka tiba-tiba pandangan Mahesa Jenar jatuh di tanah di depannya.

Mahesa Jenar menjadi malu kepada diri sendiri, dan kepada Kebo Kanigara. Orang yang telah membawanya kembali ke alam kesadaran. Apalagi ketika Kebo Kanigara berbisik, ”Bukan demikian maksud kedatanganmu kali ini, Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar yang masih tertunduk itu berdesis perlahan-lahan, ”Maaf Kakang. Aku kehilangan kesadaranku ketika Lembu Sora menyerangku.”

”Angkatlah wajahmu...” Kebo Kanigara meneruskan, ”Dan lihatlah siapa yang berdiri di depan Lembu Sora itu.”

Ketika Mahesa Jenar mengangkat wajahnya, dan memandang ke arah Lembu Sora, ia menjadi terkejut. Di depan orang itu telah berdiri seorang tua, yang sudah berambut putih dan berjenggot putih, memandangnya dengan mata sayu suram.

Tanpa disengaja Mahesa Jenar segera membungkuk hormat, sambil berkata dengan takzimnya. ”Baktiku untuk Paman Sora Dipayana.”

Orang tua itu mengangguk pula. Jawabnya, "Salamku untukmu, Mahesa Jenar, dan untuk kalian yang datang bersamanya.”

Kebo Kanigara masih belum memutar tubuhnya. Ia masih menghadap kepada Mahesa Jenar. Dengan berbisik ia bertanya, ”Nah, bukankah kau sudah mengenalnya? Apakah orang itu ayah Lembu Sora?”
”Ya,”
jawab Mahesa Jenar perlahan.

”Aku mengaguminya. Ia pasti seorang yang sakti, menilik geraknya yang luar biasa,” gumam Kebo Kanigara sambil membalikkan diri, dan kemudian membungkuk hormat pula.

Dengan wajah yang masih sesuram semula, Sora Dipayana berkata, ”Aku menyesal bahwa sesuatu yang sama-sama tak kita kehendaki telah terjadi.”

Dengan suara yang dalam, Kebo Kanigara menjawab, ”Demikian pula kami. Mudah-mudahan hal-hal yang tak dikehendaki itu tidak terulang kembali.”


Cerita Bersambung 23 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
449

SORA Dipayana mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian pandangan matanya berkisar kepada Penjawi, Bantaran, dan kemudian Wanamerta. ”Adi Wanamerta... apakah kau sehat-sehat saja selama ini...?”
Wanamerta menjadi terharu mendengar sapaan Sora Dipayana itu. Sora Dipayana baginya adalah seorang pemimpin yang pada masa-masa menjalankan tugas menjadi kebanggaannya. Kebanggaan seluruh daerah perdikan yang dulu disebut Pangrantunan. Karena itu dengan hormat ia menjawab, ”Kakang, sebagaimana Kakang, agaknya akupun selamat. Demikian juga anak-anak Banyubiru yang pergi bersamaku.”

Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat berkeliling, matanya menjadi bertambah suram. Ia melihat dua lingkaran di halaman itu. Laskar Pamingit di lingkaran pertama, dan laskar Banyubiru di lingkaran kedua. Masing-masing masih erat memegang senjata mereka. Bagi Sora Dipayana, yang hampir seluruh hidupnya diserahkan kepada tanah perdikan itu, melihat peristiwa itu dengan sedih. Apa yang dilihatnya di halaman itu adalah lambang perpecahan yang terjadi saat itu. Perpecahan antara Pamingit dan Banyubiru. Dua daerah yang seharusnya dapat saling mengisi dan saling memperkuat ketahanan diri dalam segala bidang.


Kemudian kepada lembu Sora ia berkata, ”Lembu Sora, bukankah lebih baik kalau kau persilakan tamumu ini duduk kembali? Dan bukankah lebih akrab kalau kau jamu tamu-tamumu ini dengan sekadar pelepas haus, daripada kau suguhkan kepada mereka pameran kekuatan yang tak berarti?”


Lembu Sora tidak begitu senang mendengar kata-kata ayahnya. Tetapi ia tidak berani membantah. Karena itu ia hanya dapat menggigit bibir, sehingga sekali lagi Sora Dipayana berkata, ”Lembu Sora, persilakan tamumu duduk kembali.”

”Baik ayah,” jawabnya singkat. Tetapi Lembu Sora masih belum mempersilakan tamu-tamunya. Malah kemudian ada sesuatu yang dicarinya. ”Sariti... Sariti....” panggilnya.
”Ya, ayah...” jawab Sawung Sariti, masih duduk di tangga pendapa.
”Kemarilah.”
Sawung Sariti tidak menjawab. Tetapi bibirnya masih menyeringai kesakitan. Sehingga ketika Lembu Sora melihatnya, ia menjadi terkejut. ”Kenapa kau?”
Sawung Sariti tidak menjawab. Hanya matanya saja yang membentur wajah kakeknya. Lembu Sora kemudian tergopoh-gopoh datang kepadanya, dan sekali lagi ia bertanya, ”Kenapa kau...?”
”Kakek...”
jawab Sariti singkat.
Lembu Sora menoleh kepada ayahnya. Kemudian ia bertanya, ”Kenapa dengan Sariti, ayah...?”
”Ah,”
jawab Sora Dipayana sambil mengerutkan keningnya. ”
Aku hanya mencegahnya bermain-main dengan tombak.”


Semua mata segera tertuju kepada Sawung Sariti. Ia menjadi tidak senang, ketika seolah-olah dirinya menjadi tontonan. Tetapi ia tidak segera dapat berdiri dan pergi dari tempatnya. Kakinya terasa sakit bukan main, bahkan seolah-olah tidak dapat digerakkan sama sekali. Sedang tangannya menjadi semutan dan gemetar.

”Ayah...” kata lembu Sora dengan nada menyesal, ”Apakah Ayah akan membiarkannya demikian?”
Sora Dipayana perlahan-lahan berjalan mendekati cucunya. dengan sareh ia berkata, ”
Sariti, lain kali janganlah kau berbuat hal-hal yang berbahaya.”


Sawung Sariti hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala, meskipun hatinya mengumpat tidak habis-habisnya. Ia hanya dapat menyeringai dan berdesis-desis ketika kemudian Ki Ageng Sora Dipayana mengurut punggungnya.

”Nah, masuklah,” perintahnya kemudian. ”Jangan campuri perkara orang tua-tua.”

Sawung Sariti kemudian berdiri dan terhuyung-huyung berjalan masuk ke dalam pringgitan. Di depan pintu, sekali lagi ia menoleh dan memandang Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi, dengan penuh dendam.

Ketika anak itu sudah lenyap di balik pintu, terdengar Sora Dipayana berkata, ”Lembu Sora, apakah kau masih memerlukan laskar sebanyak itu untuk menyambut tamumu?”

”Ayah...” jawab Lembu Sora, ”Aku tidak menyiapkan laskar ini untuk menyambut kedatangan Adi Mahesa Jenar. Tetapi semula aku menyiapkan laskarku karena Banyubiru baru saja didatangi oleh orang-orang dari Nusa Kambangan untuk mencari kedua pusaka Demak yang hilang, yang katanya berada di Banyubiru ini.”


Sora Dipayana mengerutkan keningnya kembali. Jawabnya, ”Baiklah, kalau demikian kau dapat membubarkannya.”

”Baiklah, Ayah,” jawab Lembu Sora singkat, dan kemudian dengan tangannya ia memberi isyarat kepada pemimpin laskar yang berada di halaman itu. Kemudian segera membubarkan laskar Pamingit dan Banyubiru. Sebentar kemudian halaman itu menjadi kosong, kecuali beberapa orang yang khusus bertugas sebagai pengawal-pengawal pribadi Lembu Sora.


Cerita Bersambung 24 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
450

SEKALI lagi Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi dipersilahkan naik ke pendapa. Tetapi kali ini Lembu Sora sudah tidak tenang lagi duduk bersama. Karena itu ia berkata, ”Ayah, biarlah untuk sementara ayah menemani tamu-tamu kita. Aku ingin menyelesaikan persoalan kecil dibelakang sebentar.”

Ki Ageng Sora Dipayana menganggukkan kepalanya, jawabnya, ”Baiklah Lembu Sora, tetapi sesudah pekerjaanmu itu selesai datanglah dan duduklah di sini bersama-sama.”

Lembu Sora tidak menjawab. Dengan langkah gontai ia berjalan meninggalkan tamu-tamunya yang duduk bersama dengan Ki Ageng Sora Dipayana.

Sepeninggal Lembu Sora, berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, ”Angger berdua. Sebenarnyalah kedatangan kalian sangat mengejutkan kami dan rakyat Banyubiru. Sudah sejak bertahun-tahun mereka melupakan nama Mahesa Jenar bersama dengan lenyapnya nama Gajah Sora dan Arya Salaka.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia menyahut, ”Adakah nama itu lenyap pula dari hati Tuan? Bukan Mahesa Jenar, tetapi Gajah Sora dan Arya Salaka.”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Dan ketika Mahesa Jenar memandang wajahnya yang suram, ia menjadi terkejut. Membayanglah di dalam sepasang matanya yang sayu, seolah-olah mendung menyelimuti langit. Dengan tertahan-tahan ia menjawab, ”Gajah Sora adalah harapan bagi masa kini, sedang Arya Salaka adalah harapan masa depan. Bagaimana aku dapat melupakan mereka?”

”Tetapi masa kini telah hilang dari tangannya,”
sahut Mahesa Jenar meneruskan. Perlahan-lahan namun jelas.

Sora Dipayana memandangi mata Mahesa Jenar dengan cermat. Ia melihat pertanyaan yang bergulat di dalamnya. Karena itu ia berkata, ”Anakmas Mahesa Jenar, aku tidak pernah menolak kalau ada orang meletakkan tanggungjawab di dalam tanganku. Aku tidak pernah mengelakkan tuduhan bahwa aku seolah-olah membiarkan keadaan berkembang seperti apa yang terjadi kini. Tetapi aku ingin juga mengatakan, alasan-alasan apakah yang telah menyudutkan aku ke dalam keadaan ini.”

Ki Ageng Sora Dipayana berhenti sejenak. Dengan seksama ia mengawasi Kebo Kanigara. Dan tiba-tiba saja terlontar dari mulutnya, ”Siapakah Angger ini?”

”Aku adalah seorang Putut, Tuan. Yang menghambakan diri pada Panembahan yang tinggal di bukit Karang Tumaritis dan bernama Panembahan Ismaya,” jawab Kebo Kanigara.

”Sebagai seorang Putut, aku bernama Putut Karang Jati,” lanjut Kanigara.

Sora Dipayana mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia bertanya pula, ”Adakah Anakmas bergelar lain selain nama Angger sebagai seorang Putut?”

Kebo Kanigara ragu sejenak. Ketika ia menoleh kepada Mahesa Jenar, Mahesa Jenar pun agaknya bimbang hati.

Akhirnya kepada orang tua itu Kebo Kanigara tidak merasa perlu untuk menyembunyikan diri.

Karena itu ia menjawab, ”Tuan, aku memang memiliki nama lain. Nama yang diberikan oleh ayah bunda pada saat aku dilahirkan nama itu adalah Kebo Kanigara.”

Mendengar nama itu Ki Ageng Sora Dipayana menegakkan kepalanya. Ia lupa-lupa ingat akan nama itu. Namun bagaimanapun juga orang yang bernama Kebo Kanigara itu sangat menganggumkannya. Ia melihat ketika orang yang bernama Kebo Kanigara itu menepuk pundak Mahesa Jenar untuk menenangkannya. Ia melihat betapa Mahesa Jenar tidak berani memandang wajah orang itu. Karena itu, orang yang bernama Kebo Kanigara itu pasti mempunyai pengaruh yang kuat atas Mahesa Jenar. Apalagi menilik sikapnya yang tenang penuh kepercayaan kepada diri sendiri, telah menyatakan betapa ia memiliki ilmu yang kuat dan meyakinkan pula.

Kalau Kebo Kanigara itu seorang Putut yang bernama Karang Jati, dan memiliki ilmu yang cukup meyakinkan, bagaimanakah agaknya Panembahan yang bernama Ismaya itu? Dan apakah hubungannya dengan Mahesa Jenar, sehingga ia datang bersamanya? Tetapi Sora Dipayana merasa kurang pada tempatnya untuk menanyakannya.

Sementara itu Kebo Kanigara pun sedang memperhatikan Ki Ageng Sora Dipayana dengan seksama. Ia pernah mendengar nama itu dari ayahnya, Ki Ageng Pengging Sepuh. Dan ia pernah mendengar pula bahwa Ki Ageng Sora Dipayana itu adalah sahabat ayahnya dan memiliki ilmu yang setingkat.

Agaknya apa yang dikatakan oleh ayahnya itu tidak berlebih-lebihan. Ia melihat dengan mata kepala sendiri apa yang baru saja terjadi. Ketika Sawung Sariti dengan diam-diam bersiap untuk melontarkan tombak ke punggung Mahesa Jenar, Kebo Kanigara telah bersiap untuk mencegahnya.

Tetapi tiba-tiba ia melihat Sora Dipayana itu seperti melayang terbang ke arah anak muda itu. Dengan satu sentuhan di punggungnya, Sawung Sariti tiba-tiba gemetar dan jatuh terduduk di tangga tanpa dapat berdiri lagi.

Kemudian seperti berjanji, mereka masing-masing meloncat masuk kedalam lingkaran laskar Pamingit untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Kebo Kanigara berusaha untuk menenangkan Mahesa Jenar, sedang Sora Dipayana mencegah Lembu Sora untuk berbuat lebih banyak lagi.

Setelah mereka berdiam diri sejenak, mulailah Sora Dipayana melanjutkan kata-katanya, ”Angger berdua, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi. Anggaplah bahwa sebuah dongeng yang akan saya utarakan nanti sebagai suatu usaha untuk meringankan perasaanku dari himpitan tanggungjawab yang hampir tak dapat aku laksanakan. Atau barangkali dapat kalian artikan sebagai suatu usaha untuk meringankan kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan.”