NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
441
TERBAYANGLAH di dalam otak Penjawi, masa yang
mengerikan akan berlangsung di Banyubiru. Masa duka yang bersusun-susun. Beban
yang berat, serta usaha-usaha penyingkiran yang dilakukan oleh Lembu Sora atas
orang-orang yang setia kepada tanah tercinta, dengan berbagai macam cara. Bahkan
kalau perlu dengan mengadakan pembunuhan. Akan ditambah lagi dengan pameran
pembunuhan oleh pihak lain. Yang dapat dipastikan, orang-orang itu datang dari
golongan hitam.
Maka berkatalah Penjawi dengan lantangnya, ”Ki Sanak. Dengan semua
keteranganmu dan caramu menakut-nakuti kami, kami dapat memastikan bahwa kalian
datang dari daerah yang kelam. Dari dunia yang penuh dengan noda-noda dan
dosa-dosa. Kalian adalah orang-orang yang kami namakan golongan hitam. Sebab
hati kalian adalah hati yang berwarna hitam. Sekarang kalian mencoba
menakut-nakuti kami, dan rakyat kami. Tetapi kami sama sekali tidak takut. Sebab
kami berdiri diatas kebenaran. Meskipun demikian kami ingin menjelaskan kepadamu
sekali lagi, bahwa sebenarnyalah keris-keris itu tidak ada pada kami. Tidak ada
di Banyubiru. Karena itulah, baik kami maupun Lembu Sora tak akan dapat
mengatakan di mana keris itu disimpan.”
Kata-kata Penjawi terpotong oleh suara tertawa yang mengerikan. Orang yang
bermata serigala itu tiba-tiba menjadi buas. Matanya semakin lama semakin liar
dan berwarna merah. Dengan marahnya ia berteriak, ”Jangan mengigau. Aku tidak
peduli apakah kau menganggap aku orang-orang hitam, merah, hijau atau apa saja.
Tetapi kalau kau tetap berkeras kepala, kami akan melakukan rencana kami, dan
mayat kalian akan kami sebarkan ke segenap sudut Banyubiru.”
Juga Penjawi menjadi marah. Wajahnya menjadi tegang dan berwarna darah.
Bantaran dan Wanamerta kemudian segera mempersiapkan diri. Namun dalam
ketegangan itu masih terdengar suara Kanigara tenang, ”Ki Sanak. Apa yang
akan kalian lakukan kepada kami, adalah tanggungjawab kami dan kewajiban kami
untuk melindungi diri. Tetapi agaknya kalian sama sekali belum mengenal kami.
Orang-orang Banyubiru yang berjiwa jantan. Nyawa kami telah lama kami letakkan
di ujung pengabdian kami. Karena itu sebaiknya kalian mempertimbangkannya sekali
lagi.”
Kembali terdengar orang yang berkulit hitam dan bermata serigala itu tertawa
keras-keras seperti hampir gila. Dengan buasnya ia menjawab, ”Apakah arti
kejantanan orang Banyubiru bagi kami. Selama darah kalian masih merah, serta
kalian masih belum dapat melenyapkan diri dalam satu kerdipan mata, maka kalian
adalah korban-korban kami yang menyenangkan. Ketahuilah, bahwa kami datang dari
Nusa Kambangan mengemban tugas dengan kekuasaan penuh.”
Meskipun orang-orang Banyubiru itu sudah menduga sebelumnya, bahwa
gerombolan itu adalah gerombolan hitam, namun hati mereka tergetar pula. Bahkan
kemudian terdengar Mahesa Jenar menyahut, ”Apakah kalian anak buah Ular Laut?”
”Nah...” sahut orang itu. ”Kau pasti pernah mendengar kebesaran namanya.
Dengan tangannya ia akan dapat menyapu bersih segenap isi Banyubiru.
”Hem,” gumam Mahesa Jenar. ”Agaknya pengetahuanmu terlalu sempit. Kau
belum tahu betapa dahsyatnya tangan Ki Ageng Lembu Sora. Apakah artinya Jaka
Soka baginya. Barangkali kau juga belum mendengar tentang putranya yang bernama
Sawung Sariti.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menjawab dengan kasarnya,
”Omong kosong semuanya. Andaikata kau berkata benar, maka Kyai Nagapasa akan
dapat menyelesaikan dengan sangat mudahnya.”
”Kyai Nagapasa...?” ulang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara hampir bersamaan.
Orang itu tertawa kembali. Katanya, ”Kau menjadi pucat seperti mayat
mendengar nama itu.”
”Bagaimana aku menjadi pucat mendengar nama yang tidak berarti itu. Bahkan
mendengar pun aku belum pernah,” jawab Mahesa Jenar.
”Itu pertanda kepicikan pendengaranmu.” Orang itu menjelaskan dengan
bangga. ”Kyai Nagapasa adalah nama ilmu pamungkas perguruan Nusa Kambangan.
Dengan nama itu pula kami sebut orang yang memiliki dan mengembangkan. Ia adalah
guru Jaka Soka.”
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Agaknya benar-benar akan terjadi
peristiwa-peristiwa yang menggemparkan. Kini yang berhadapan bukan saja
tokoh-tokoh muda dari kalangan hitam, namun agaknya tokoh-tokoh tua, guru-guru
merekalah yang mengambil alih persoalan.
Dalam sepintas, membayanglah di dalam angan-angan Mahesa Jenar akan nama-nama
Pasingsingan, Umbaran, Sima Rodra dari Lodaya, Bugel Kaliki dari Lembah Gunung
Cerme, Sura Sarunggi yang telah kehilangan kedua muridnya dari Rawa Pening, dan
sekarang terdengar lagi sebuah nama Kyai Nagapasa. Namun disamping itu ia
menjadi puas karena pancingannya berhasil untuk mengetahui asal orang-orang itu.
Melihat Mahesa Jenar terdiam, orang itu mengangkat dadanya. Ia merasa bahwa
orang-orang Banyubiru itu menjadi ketakutan. Karena itu sekali lagi ia
menggertak, ”Nah, adakah kalian mau berkata tentang kedua keris itu, setelah
kalian mendengar nama-nama yang berdiri di belakang kami?”
Orang yang berwajah buas, bermata serigala itu menjadi terkejut sekali ketika ia
mendengar Mahesa Jenar menjawab, ”Sampaikan salamku kepada Jaka Soka, apabila
kau sempat pulang kembali.”
Dengan mata terbelalak orang itu memandang Mahesa Jenar seperti ingin menelannya
bulat-bulat. Sikapnya yang seolah-olah menganggap Jaka Soka tidak lebih dari
dirinya, menyebabkan orang bermata serigala itu marah bukan kepalang. Ia
menganggap Mahesa Jenar orang yang tak tahu diri. Dengan membentak-bentak ia
berkata, ”Ayo, mintalah maaf atas kelancangan mulutmu itu. Kalau tidak, kau
akan mati dengan menderita.”
”Penderitaan bagi laki-laki bukanlah hal yang sangat menakutkan,” jawab
Mahesa Jenar.
Cerita Bersambung 15 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
442
JAWABAN itu kembali sangat mengagetkan anak buah
Jaka Soka, sehingga dengan demikian ia sudah tidak merasa perlu untuk berbicara
lebih banyak. Dengan lantangnya ia berkata kepada anak buahnya, ”Kepung
kelinci-kelinci yang tak tahu diri ini.”
Agaknya orang-orang Nusa Kambangan itu telah benar-benar terlatih dan
berpengalaman. Sebab demikian mereka mendengar aba itu, dalam waktu sekejap
mereka telah bergerak dengan cepatnya membentuk sebuah gelang yangmelingkari
Mahesa Jenar beserta ketempat kawan-kawannya.
Bersamaan dengan itu, ternyata Wanamerta, Bantaran dan Penjawipun telah siap
pula dengan keris ditangan kanan dan kendali kuda ditangan kiri. Tetapi Mahesa
Jenar dan Kebo Kanigara tampak masih tenang-tenang saja. Untuk beberapa saat
mereka saling berpandangan seolah-olah mereka sedang mempertimbangan bersama
apakah yang akan mereka lakukan. Tiba-tiba tampaklah Mahesa Jenar tersenyum.
Dengan sangat tenangnya, seolah-olah tidak terjadi apapun pada saat itu ia
berkata kepada orang yang berkulit hitam dan bermata serigala itu. ”Ki Sanak,
apakah yang akan kalian lakukan?”
Melihat ketenangan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, orang itu menjadi heran.
Malahan kemudian ia merasakan betapa besarnya perbawa sanak kadangku. Betapa
tangguhnya kalian semuanya ini. Namun apabila seorang diantara para petani di
sawah atau anak-anak yang sedang bermain melihat perkelahian ini, maka dengan
memukul kentongan mereka akan mengerahkan segenap penduduk Banyubiru yang
berjumlah ribuan orang, untuk mengepung kalian, dan justru kalianlah yang akan
ditangkap oleh mereka. Meskipun demikian kalian tak usah cemas, bahwa kalian
akan mengalami siksaan, apalagi dicincang. Sebab kami, penduduk Banyubiru
mendasarkan watak kami kepada ketaatan. Kami mengagungkan nama Tuhan Yang Maha
Esa, yang akan kami ujudkan dalam pengalaman kami dalam hidup sehari-hari.”
Perkataan Mahesa Jenar itu ternyata berkesan di hati orang bermata serigala itu.
Tampaklah wajahnya yang buas itu menjadi tegang. Alisnya seolah-olah bertemu
satu sama lain di atas hidungnya yang besar. Dengan liarnya ia memandang
jauh-jauh ke sawah di sekitarnya, ke desa yang terdekat, dan ke segenap sudut
dan persimpangan jalan.
Pematang-pematang di sawah, pagar-pagar batu yang mengelilingi desa-desa
terdekat, gunduk-gunduk padas di tepi jalan, tiba-tiba di mata orang itu berubah
menjadi orang-orang yang dengan cermatnya mengawasi segala gerak-geriknya.
Apalagi ketika jauh-jauh dilihatnya beberapa orang, ya... orang yang sebenarnya
sedang menggarap sawahnya.
Hati orang itu tiba-tiba menjadi kecut. Apalagi kemudian Mahesa Jenar berkata,
”Ki Sanak... jangan ganggu kami di tanah sendiri. Kalian hanya dapat datang
kemari dalam saat-saat tertentu dan dalam jumlah tertentu. Tetapi kami berada di
tempat ini di segala waktu, dan jumlah kami tak akan terhitung olehmuu.”
Ternyata perkataan Mahesa Jenar itu merupakan sebuah pukulan terakhir yang
benar-benar tak terlawan oleh orang bermata serigala itu. Apalagi ketika ia
melihat kawan-kawannya menjadi gelisah. Gelisah oleh kata-kata Mahesa Jenar itu.
Maka tiba-tiba terdengarlah ia berteriak nyaring dan bersamaan dengan itu, ia
menarik kendali kudanya untuk kemudian lari secepat-cepatnya meninggalkan Mahesa
Jenar dan Kebo Kanigara beserta Wanamerta, Bantaran dan Penjawi yang menjadi
terheran-heran melihat peristiwa itu. Melihat orang berwajah serigala itu dengan
pucat berlari sejadi-jadinya diikuti oleh seluruh anak buahnya.
Meskipun demikian, untuk kepuasan perasaan mereka, orang-orang Nusa Kambangan
itu masih menggemakan ancaman, ”Awaslah kalian orang-orang Banyubiru. Aku
akan datang pada waktunya dengan seluruh orang-orang kami.” Gema ancaman itu
memukul lereng-lereng bukit kecil yang banyak berserakan di sekitar daerah itu
dan bergulung-gulung berulang beberapa kali. Namun Mahesa Jenar dan Kebo
Kanigara hanya tersenyum saja.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Wanamerta bergumam, ”Angger, kenapa
orang-orang itu dibiarkan saja pergi?”.
Mahesa Jenar menoleh. Dengan tenang ia menjawab, ”Kami berada di daerah yang
tak kami kenal. Kami tidak yakin bahwa apabila kami bertempur melawan
orang-orang itu, Lembu Sora akan membenarkan sikap kami. Kalau kejadian ini
dianggapnya akan dapat membahayakan ketenteraman Banyubiru, maka ia dapat
mempergunakan persoalan ini sebagai alasan untuk melakukan hal-hal yang tidak
kami inginkan. Karena itu sebaiknya kami menghindarkan diri dari segala
peristiwa yang dapat merugikan perjalanan kami, meskipun kami nyata-nyata tidak
memulainya.”
Wanamerta mengangguk-anggukkan kepala penuh pengertian. Demikian juga Bantaran
dan Penjawi. Perlahan-lahan mereka menyarungkan keris-keris mereka kembali.
Kemudian rombongan itu meneruskan perjalanannya perlahan-lahan. Tetapi dengan
demikian mereka jadi tertunda untuk beberapa waktu. Namun demikian sesuatu yang
penting telah mereka alami. Yaitu, mereka tidak lagi dapat mengabaikan
desas-desus tentang beradanya kedua pusaka Demak di Tanah Perdikan Banyubiru.
Semakin dekat dengan pusat kota, semakin rapatlah penduduk tanah perdikan itu.
Dan dengan demikian semakin banyak pulalah orang-orang yang melihat kedatangan
Mahesa Jenar, didampingi oleh seorang yang belum mereka kenal, dan di belakang
mereka berdua, tampaklah Bantaran, Penjawi dan tetua tanah perdikan itu,
Wanamerta.
Cerita Bersambung 16 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
443
BEBERAPA orang menjadi terharu karenanya. Dengan
dada sesak, mereka melambaikan tangan mereka. Namun diantara mereka ada pula
yang mengumpat di dalam hati, dan yang kemudian membenahi pakaian dan kekayaan
mereka sambil menggerutu, ”Kalau setan-setan itu lewat, akan celakalah daerah
kami ini. Kenapa perampok-perampok itu tidak mati disambar petir atau tertangkap
pada saat mereka merampok...?”
Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada seorangpun. Meskipun kepada anak
atau adiknya. Sebab ia tahu benar, bahwa pemuda-pemuda Banyubiru memiliki
kesetiaan yang tinggi terhadap tanah mereka, serta sedang berjuang memulihkan
hak tanah itu kepada tempat yang sewajarnya. Laki-laki maupun wanita.
Demikianlah ketika mereka muncul di alun-alun Banyubiru, tampaklah dari rumah
kepala daerah perdikan itu, beberapa orang berdiri berjajar di depan regol
halaman. Mahesa Jenar tersenyumn melihat sambutan itu. Agaknya seseorang telah
melaporkan kedatangannya, sehingga Ki Ageng Lembu Sora dapat menyiapkan diri,
menyambut kedatangan mereka, meskipun ujud sambutan itu sendiri masih belum
diketahuinya. Karena itulah, meskipun wajah-wajah mereka mengulum senyum segar,
namun mereka tidak meninggalkan kewaspadaan sepenuh-penuhnya.
Semakin dekat mereka dengan rumah kepala daerah itu, senyum Mahesa Jenar menjadi
semakin suram. Sebab ia menjadi semakin jelas bahwa di belakang orang-orang yang
berdiri di regol halaman, tampaklah ujung-ujung tombak yang berjajar-jajar rapat.
Dan ketika Mahesa Jenar melayangkan pandangannya ke sudut-sudut pagar halaman di
ujung alun-alun sebelah-menyebelah, tahulah ia bahwa halaman rumah kepala daerah
perdikan Banyubiru itu dijaga rapat sekali. Beberapa orang siap dengan senjata
di tangan mereka.
Mahesa Jenar menoleh kepada Kebo Kanigara. Agaknya orang itupun sedang
memperhatikan keadaan dengan seksama. Lebih seksama lagi daripada Mahesa Jenar.
Sebab kecuali ia melihat ujung-ujung senjata yang gemerlapan karena cahaya
matahari, juga karena ia sama sekali belum pernah datang ke tempat itu
sebelumnya. Karena itu sebagai seorang yang sudah cukup makan garam, maka untuk
menghadapi setiap kemungkinan, ia perlu mengetahui keadaan di mana ia sedang
berada.
Wanamerta, Bantaran dan Penjawi pun melihat suasana itu. Hati mereka menjadi
berdebar-debar. Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam catatan Lembu Sora
untuk dilenyapkan. Bahkan mereka adalah orang-orang yang pertama-tama.
Dalam pada itu, mereka menjadi ragu. Apakah kedatangan mereka itu tidak hanya
sekadar mengantarkan nyawa mereka. Dan bukankah mereka sudah mengusulkan kepada
Mahesa Jenar, bahwa cara yang demikian itu sangatlah berbahaya.
Tetapi mereka sudah berada di depan hidung Lembu Sora. Apapun yang akan terjadi
harus mereka hadapi sebagai seorang jantan. Apalagi ketika mereka melihat Mahesa
Jenar dan Kebo Kanigara yang masih tetap tenang, meskipun wajah-wajah mereka
menjadi bersungguh-sungguh pula.
Rombongan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Beberapa orang yang berdiri di
regol halaman itupun telah mulai bergerak maju untuk menyambutnya. Dan yang
paling depan dari mereka adalah Lembu Sora sendiri dan Sawung Sariti.
Ketika mereka sudah lebih dekat lagi, segera Mahesa Jenar menghentikan kudanya
dan langsung meloncat turun diikuti oleh kawan-kawannya. Beberapa orang anak
buah Lembu Sora segera berlari-larian menerima kuda-kuda mereka.
Berbeda dengan pada saat Mahesa Jenar berjumpa untuk pertama kalinya dengan
Lembu Sora, kali ini kepala daerah perdikan Pamingit itu menyambutnya dengan
tertawa-tawa, meskipun sikapnya yang sombong itu masih saja memancar dari
wajahnya yang tengadah.
”Marilah, Adi Mahesa Jenar...” sambutnya. ”Aku merasa bergembira
sekali mendapat kunjunganmu.”
Mahesa Jenar mengangguk hormat sambil menjawab, ”Sebagai seorang yang pernah
menerima kebaikan hati dari penduduk Banyubiru, sekali-kali aku ingin
menengoknya kembali.”
”Bagus-bagus...” sahut Lembu Sora. ”Marilah kami persilahkan kalian masuk
dan naik ke pendapa yang memang telah kami persiapkan untuk menyambut kedatangan
kalian.”
Maka berjalanlah mereka beriring-iring naik ke pendapa yang sudah direntangi
tikar pandan yang putih bersih. Pendapa yang lima tahun lalu pernah dikenal pula
oleh Mahesa Jenar sebagai tempat untuk duduk-duduk menghirup hawa sejuk yang
mengalir di sepanjang lereng-lereng pegunungan Telamaya. Sebagai tempat untuk
bermain-main Arya Salaka bersama-sama dengan ayahnya, Ki Ageng Gajah Sora. Juga
sebagai tempat untuk memulai memberikan dasar-dasar ilmu tata berkelahi dan
dasar-dasar tempaan jiwa oleh Gajah Sora kepada putra tunggalnya, Arya Salaka.
Sekarang ia kembali berada di pendapa itu sebagai tamu. Tamu yang membawa tugas
berat dari anak Ki Ageng Gajah Sora untuk menyampaikan permintaan yang amat
penting. Yaitu haknya kembali atas tanah perdikan ini.
Setelah mereka melingkar di atas tikar pandan itu, mulailah Lembu Sora
mengucapkan selamat atas kedatangan tamu-tamunya itu. ”Adi Mahesa Jenar, kami
keluarga Banyubiru dan Pamingit mengucapkan selamat datang kepada Adi
bersama-sama dengan rombongan, kepada kawan Adi yang belum aku kenal, dan kepada
Wanamerta, Bantaran dan Penjawi.”
Mahesa Jenar mengangguk. Jawabnya, ”Terimakasih Kakang. Mudah-mudahan segenap
keluarga Pamingit dan keluarga Banyubiru selamat dan sejahtera. Kecuali itu
perkenankanlah aku memperkenalkan kawanku ini. Ia adalah seorang Putut dari
Karang Tumaritis, bernama Karang Jati.”
Lembu Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah mendengar nama tempat itu.
Karang Tumaritis.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
444
SEBELUM Lembu Sora ingat nama Karang Tumaritis, tiba-tiba terdengar Sawung
Sariti menyela, ”Aku sudah pernah datang ke tempat itu. Karang Tumaritis
tempat tinggal Panembahan Ismaya. Orang yang mengaku dirinya waskita tetapi tak
sesuatupun yang diketahuinya.”
”Ya, kepada Panembahan itulah aku menghambakan diri,” sela Kebo Kanigara.
Sawung Sariti memandang Kebo Kanigara dengan sikapnya yang khusus. Seperti juga
ayahnya, ia mewarisi sikap sombong. Tetapi tiba-tiba sikapnya segera berubah. Ia
melihat Kebo Kanigara justru tidak di Karang Tumaritis, tetapi di Gedangan
ketika ia pada saat itu membawa laskarnya bersama-sama dengan Sima Rodra, Bugel
Kaliki dan laskar sepasang Uling dari Rawa Pening.
Tetapi untuk sementara ia tidak berkata apa-apa dan berusaha untuk menghilangkan
kesan perasaannya itu dari wajahnya. Sebab mau tidak mau, dan meskipun ia tidak
sempat menyaksikan Kebo Kanigara bertempur pada saat itu, karena ia sendiri
segera terlibat dalam perkelahian dengan Arya Salaka, namun bahwa Bugel Kaliki,
Sima Rodra tua, dan Jaka Soka dapat diusir dan malahan Janda Sima Rodra terbunuh
pula, maka mau tidak mau kekuatan orang itu harus diperhitungkan, disamping
kesaktian Mahesa Jenar yang mengagumkan. Disusul kemudian berita kematian
sepasang Uling dari Rawa Pening.
Kemudian, setelah mereka tenang sejenak, kembali terdengar Lembu Sora berkata
kepada Wanamerta, Bantaran dan Penjawi, ”Paman Wanamerta, Bantaran dan
Penjawi, sudah lama rakyat Banyubiru merindukan kalian. Kemanakah kalian?
Kemanakah kalian pergi selama ini? Dan apakah keperluan kalian? Sebenarnya
tenaga kalian sangat kami perlukan di sini untuk membantuku selama ini.”
Sambil mengangguk-angguk Wanamerta menjawab, ”Anakmas Lembu Sora, aku semakin
lama semakin menjadi tua. Dan apakah arti hidupku ini bagi Banyubiru, kalau
tidak dapat berbuat sesuatu untuknya. Karena itu aku mencoba untuk menemukan
putra Anakmas Gajah Sora, Arya Salaka.”
Warna merah membersit di wajah Ki Ageng Lembu Sora. Namun segera ia berusaha
untuk menenteramkan hatinya. Bahkan kemudian ia bertanya seolah-olah ia sendiri
mengharap kehadiran anak itu. ”Lalu, adakah usaha Paman Wanamerta berhasil...?”
”Pangestu Angger, aku berhasil,” jawabnya.
Lembu Sora menarik nafas panjang untuk meredakan debar jantungnya. Kemudian ia
berkata pula, ”Aku tidak dapat mengerti, bagaimana Paman Wanamerta dapat
bertemu dengan anak itu.”
”Mudah saja, Anakmas,” jawab Wanamerta, ”Aku pergi ke tempat-tempat yang
pernah dikunjungi oleh Cucu Sawung Sariti.”
Sawung Sariti menjadi gelisah. Namun ia adalah anak yang cerdik. Secerdik
ayahnya. Maka dengan berpura-pura terkejut ia menjawab, ”Adakah Eyang
Wanamerta pernah pergi ke tempat-tempat yang pernah aku kunjungi?”
”Benar Cucu Sawung Sariti,” jawab Wanamerta.
”Dan menemukan Kakang Arya Salaka...?”
Sambil mengangguk puas, Wanamerta menjawab, ”Benar Cucu.”
Tiba-tiba Sawung Sariti menjawab sambil tertawa keras-keras. Katanya di
sela-sela derai tawanya, ”Sayang, Eyang.... Seperti aku juga mula-mula
terjebak oleh suatu kecurangan yang hampir sempurna. Seorang anak muda yang
sebaya dengan aku mengaku bernama Arya Salaka.”
Darah Wanamerta tersirat mendengar jawaban itu. Juga Bantaran dan Penjawi.
Apalagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Wajah mereka segera berubah merah dan
jantung mereka berdentam seperti guruh yang menggelegak di dalam dada mereka.
Bagaimanapun mereka mencoba menahan diri, namun terasa juga tangan-tangan mereka
menjadi gemetar karenanya.
Tetapi sebelum mereka dapat mengatur perasaan mereka, terdengarlah suara Lembu
Sora, ”Adi Mahesa Jenar, aku memang pernah mendengar tentang seorang anak
muda menamakan dirinya Arya Salaka. Tetapi aku belum pernah melihatnya. Sebagai
seorang paman, aku pasti akan mengenalnya kembali meskipun sudah sejak kurang
lebih lima tahun yang lalu tak melihatnya. Aku sejak kanak-kanak tidak akan
melupakannya. Namun perlu Adi ketahui bahwa seorang anak muda yang bernama Arya
Salaka itu pernah diketemukan mati terbunuh. Ia kehilangan pusakanya Kyai Bancak
dan sebuah peniti yang barangkali dari emas, serta timangnya bertetes intan.”
Sekali lagi sebuah petir seolah-olah meledak di dalam pendapa itu. Bahkan jauh
lebih dahsyat dari cerita Sawung Sariti. Penjawi yang paling tidak dapat menahan
diri, dengan tergagap berteriak, ”Bohong, semuanya bohong...!”
Lalu suara Penjawi hilang tersumbat di kerongkongan. Seolah-olah
berjejal-jejal berebut dahulu, sehingga dengan demikian malah tak sekata pun
yang muncul seterusnya.
Mendengar kata-kata Penjawi yang terbata-bata itu, Lembu Sora tersenyum. Senyum
yang sangat menyakitkan hati. Tetapi kemudian ia berkata dengan ramahnya,
”Jangan berprasangka yang bukan-bukan, Penjawi. Aku sama sekali tak bermaksud
membohongi kalian. Tetapi sebaiknya kalian dapat mempertimbangkan
kejadian-kejadian yang pernah berlaku. Kalian jangan membabi buta atas kesetiaan
kalian kepada Arya Salaka, sebagai ungkapan kesetiaan atas tanah yang sama-sama
kita cintai.”
Cerita Bersambung 19 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
445
PENJAWI bukanlah orang yang dapat banyak bicara.
Karena itu semakin banyak yang akan diucapkan, semakin sulit kata-kata itu
keluar dari mulutnya. Demikian juga Bantaran yang hanya dapat mengingsar-ingsar
duduknya dan meraba-raba hulu kerisnya.
Wanamerta sendiri menjadi bingung. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan
mendapat jawaban yang demikian. Sedangkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara,
meskipun menjadi gelisah, mereka masih tetap pada kesadaran yang penuh. Karena
itu Mahesa Jenar masih dapat berkata las-lasan, ”Kakang Lembu Sora, apakah
yang Kakang katakan itu merupakan pendapat Kakang Lembu Sora?”
Lembu Sora mengernyitkan keningnya. Terhadap Mahesa Jenar ia harus
berhati-hati. Karena itu ia mempertimbangkan setiap kata-katanya dengan baik.
Maka setelah berfikir sejenak ia menjawab. ”Adi, aku tidak mengatakan
demikian. Tetapi aku wajib mempertimbangkan setiap keadaan, supaya aku tidak
meletakkan keputusan yang salah”.
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu katanya
meneruskan, ”Baik. Kalau demikian bagaimanakah kalau berita tentang kematian
yang Kakang dengar itu salah...?”
Lembu Sora berpikir sekali lagi. Baru ia menjawab, ”Mudah-mudahan berita
yang aku dengar itu salah. Tetapi bagaimana aku tahu kalau berita itu tidak
benar?”
”Kakang akan tahu bahwa berita itu tidak benar setelah Kakang nanti dapat
bertemu dengan Arya Salaka,” sahut Mahesa Jenar.
Lembu Sora tersenyum. Katanya, ”Bagaimanakah aku dapat percaya bahwa yang
datang kemudian itu Arya Salaka?”
”Ia harus membawa tanda kebesaran Banyubiru,” jawab Mahesa Jenar. ”Dan
bukankah Kakang akan dapat mengenal kembali kemenakan Kakang itu?”
”Permainan yang bagus,” potong Sawung Sariti. ”Aku pernah bertemu dengan
Paman Mahesa Jenar di Gedangan bersama-sama dengan anak muda yang menamakan diri
Arya Salaka, yang membawa tombak yang dinamainya Kyai Bancak.”
”Diam!” Tiba-tiba terdengar Bantaran membentak. Semua orang terkejut
mendengar bentakan itu. Bahkan Bantaran sendiri terkejut.
Sawung Sariti sama sekali tidak senang mendengar Bantaran membentaknya. Karena
itu ia menjawab tajam, ”Bantaran... kalau kau membentak aku sekali lagi, aku
sobek mulutmu.”
Tetapi kata-kata bentakan itu sudah terucapkan. Sebagai laki-laki, Bantaran
tidak mau dihinakan, meskipun ia tahu bahwa Sawung Sariti bukanlah lawannya.
Tetapi mati atas landasan kesetiaan kepada Banyubiru adalah pengabdian yang
didambanya selama ini. Dengan demikian tiba-tiba menengadahkan dadanya sambil
berkata, ”Aku akan berbuat sekali, dua kali, sepuluh kali lagi, sesuka hatiku.”
Hampir saja Sawung Sariti meloncat, kalau ia tidak ditahan Lembu Sora, yang
agaknya kepalanya masih cukup dingin. Namun kata-katanya sangat menyakitkan hati.
”Sawung Sariti, adakah cukup berharga bagimu untuk menyentuh tubuhnya?”
Sawung Sariti menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin memadamkan api
yang berkobar-kobar di dalam dadanya. Namun dari matanya terpancarlah bara
kemarahan yang tak terhingga.
Mahesa Jenar melihat keadaan berkembang ke arah yang tidak diharapkan, meskipun
ia tidak dapat menyalahkan Bantaran, Wanamerta maupun Penjawi. Ia sebenarnya
sama sekali tidak menduga bahwa sampai sedemikian jauh keingkaran Lembu Sora dan
Sawung Sariti terhadap kemenakannya serta sepupunya sendiri. Terhadap kadang
tuwa yang selalu bersikap baik kepada mereka, Gajah Sora.
Mahesa Jenar pernah mendengar cerita tentang hubungan mereka. Lembu Sura dengan
Gajah Sora sebagai kakak-beradik. Ia pernah mendengar bagaimana Gajah Sora
sebagai saudara tua selalu melindungi dan membimbing adiknya dalam berbagai soal,
dan banyak mengalah dalam berbagai hal. Namun akibatnya, kemanjaan Lembu Sora
itu menjadi berlebih-lebihan dan menelan Gajah Sora sendiri. Kalau sekali dua
kali, Gajah Sora pernah marah kepadanya, adalah wajar. Sebagai seorang kakak
yang ingin melihat adiknya tidak berbuat kesalahan-kesalahan.
Mahesa Jenar berusaha untuk tetap memelihara suasana pertemuan itu agar tidak
bertambah kusut, meskipun dadanya sendiri seperti hendak meledak. Maka
berkatalah ia dengan setenang-tenangnya, seolah-olah tidak terjadi ketegangan
sama sekali di dalam pertemuan itu. ”Kakang Lembu Sora, baiklah kita
berbicara mengenai beberapa soal yang penting. Biarlah kita singkirkan
masalah-masalah kecil yang tidak berarti.”
Lembu Sora menelan ludahnya serta menggigit bibirnya. Ia kagum juga kepada
Mahesa Jenar yang dapat menguasai perasaannya dengan baik. Tetapi ia sudah
bertekad untuk menganggap bahwa Arya Salaka sudah tidak ada lagi di muka bumi
ini. Karena itu Lembu Sora menjawab, ”Baiklah Adi, aku tidak pernah menolak
berbicara dengan siapa saja, selama pembicaraan itu akan berguna. Berguna bagi
Pamingit, bagi Banyubiru, dan berguna bagi kita semua.”
”Demikianlah harapan kami,” sahut Mahesa Jenar. ”Kedatangan kami ini pun
pada kepentingan Banyubiru. Bukan kepentingan kami sendiri.”
Lembu Sora tersenyum. Dengan penuh kesadaran akan kebesaran dirinya, ia
menjawab, ”Nah, katakanlah apa yang berguna bagi Banyubiru itu?”
”Aku membawa tugas dari Angger Arya Salaka, untuk menyampaikan baktinya kepada
Kakang Lembu Sora,” sahut Mahesa Jenar.
Lembu Sora menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan mengerutkan keningnya ia
menjawab, ”Adi Mahesa Jenar, jangan mengada-ada. Kau bagiku adalah seorang
yang pantas dihormati seperti Kakang Gajah Sora dahulu menghormatimu. Namun
demikian hormat kami pun mengenal batas. Sebagai kepala daerah perdikan yang
besar, yang terbentang dari Pamingit sampai Banyubiru, aku harus bersikap baik,
namun tegas dalam garis kepemimpinan. Karena itu aku minta kepada Adi untuk
tidak menyebut-nyebut nama Arya Salaka, seorang yang telah tidak ada lagi.”