Nagasasra dan Sabukinten

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

No. 436

MAHESA JENAR masih menyangsikan apakah keselamatan Arya Salaka tidak terancam bila ia dibawanya serta bersama-sama dengan rombongan itu. Sebab ia masih belum dapat menggambarkan bagaimanakah tanggapan Lembu Sora, terutama Ki Ageng Sora Dipayana atas kehadiran Arya Salaka.

Demikianlah rombongan utusan itu dilepas dengan debaran hati segenap laskar Banyubiru yang terpaksa menyingkir ke daerah Candi Gedong Sanga. Meskipun ada diantara mereka yang meragukan keberhasilan pembicaraan mereka, namun cara itu merupakan cara yang terhormat sebelum cara-cara yang lain harus ditempuh.

Arya Salaka sendiri sangat kecewa ketika Mahesa Jenar memintanya untuk tinggal di Candi Gedong Sanga. Sebenarnya ia ingin sekali untuk segera dapat melihat Banyubiru. Tanah tempat ia dilahirkan, tempat ia menerima kasih sayang ayah bunda.

Ketika rombongan Mahesa Jenar lenyap di balik batang-batang liar di daerah hutan itu, tiba-tiba terasalah hatinya seperti tergores oleh sembilu. Tiba-tiba ia teringat kepada ayah dan bundanya. Kepada ayahnya yang terpaksa terpisah darinya karena pokal pamannya. Demikian juga ibunya. Terbayanglah di dalam otaknya, apakah yang kira-kira terjadi atas ibunya selama ini.

Selama ia tidak pernah mencium pipinya seperti pada masa kanak-kanaknya.
Karena itulah tiba-tiba hatinya meronta. Kenapa ia tidak berlari menyusul rombongan itu.

Tetapi dalam pada itu terasalah tangan halus menyentuh pundaknya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Rara Wilis berdiri di belakangnya. Arya Salaka mengetahui hubungan apakah yang terjalin antara gadis itu dengan gurunya. Karena itu ia menghormati Rara Wilis seperti ia menghormati gurunya. Dengan demikian ia tidak membantah ketika Rara Wilis mengajaknya dengan penuh pengertian untuk kembali ke dalam pondoknya.

Sebagai seorang gadis, hati Rara Wilis mulai tersentuh. Demikian juga ketika ia melihat betapa kecewa hati Arya Salaka, karena ia tidak diperkenankan ikut serta bersama gurunya. Hatinya menjadi iba.

"Jangan berduka, Arya..." nasihat Rara Wilis, "Besok atau lusa kau akan pergi juga ke sana. Kalau saat ini pamanmu tidak membawamu adalah semata-mata karena pertimbangan keselamatanmu."

Arya menundukkan mukanya. Ia tahu benar alasan itu, tetapi perasaannya amatlah susah dikendalikan. Karena Rara Wilis bagi Arya tidak ubahnya dengan gurunya, dan orang tuanya sendiri.

Maka kepadanya Arya Salaka pun berkata terus terang, "Bibi, aku dapat mengerti sepenuhnya kenapa Paman tidak membawa aku serta. Tetapi tiba-tiba saja perasaan rinduku kepada tanah kelahiran itu tak dapat aku kendalikan lagi. Lebih dari itu, betapa rinduku kepada Bunda, yang sejak lima tahun lalu tak pernah aku dengar khabar beritanya."

Dalam pada itu, betapa Arya Salaka berusaha sekeras-kerasnya, namun di kedua belah matanya mengembanglah air matanya yang bening, sebening hatinya.

Mendengar pernyataan Arya Salaka, Rara Wilis terdiam. Bahkan tiba-tiba iapun teringat kepada ibunya. Ibunya yang sudah tidak akan dapat dijumpainya lagi. Maka iapun menjadi berduka pula. Namun demikian ia masih mencoba untuk menghibur hati Arya.

"Arya... meskipun tertunda beberapa waktu namun kau akhirnya akan dapat bertemu dengan bunda tersayang. Tetapi tidaklah demikian dengan aku, Arya. Kau masih harus mengucapkan terimakasih, bahwa kau masih menyimpan harapan di dalam dadamu. Sedang aku, sama sekali harapan itu telah padam sejak lama. Aku tidak akan bertemu lagi, sekarang, besok, lusa atau kapanpun dengan ayah bundaku."

Kemudian keduanya terdiam. Masing-masing hanyut ke dalam dunia angan-angan. Kepada kerinduan yang menyentuh-nyentuh perasaan masing-masing. Sehingga ruangan itu kemudian menjadi hening sepi.

Tetapi keheningan itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara Endang Widuri yang berlari-lari masuk.

Katanya berderai dengan penuh kegembiraan. "Bibi... alangkah banyaknya bunga anggrek di hutan ini."

Wilis tersadar dari angan-angannya. Dengan tersenyum kecil yang dipaksakan ia menjawab, "Adakah kau mendapatkannya, Widuri...?"

"Inilah, Bibi..." sahut Widuri sambil menyerahkan setangkai bunga anggrek yang berbentuk seekor kala.

"Dari manakah kau dapatkan bunga ini?" tanya Wilis.

"Di lembah sebelah itu, Bibi..." jawab Widuri.

Rara Wilis menarik nafas. Lembah di sebelah adalah lembah yang terjal dan berbahaya. Agaknya Widuri memang anak yang benar-benar nakal.

Katanya kemudian, "Jangan bermain-main di tempat yang berbahaya, Widuri. Di sana banyak ular-ular berbisa. Mungkin juga ada harimau yang buas."

"Tidak Bibi," sahut Widuri dengan nakalnya. "Tidak ada ular dan tidak ada harimau yang mengganggu. Tetapi tadi memang ada orang yang mencoba menangkap aku."

Rara Wilis dan Arya Salaka terkejut seperti disengat kala.
Dengan penuh perhatian Rara Wilis bertanya, "Ada orang yang akan menangkap kau...?"

Widuri mengangguk seenaknya, seolah-olah peristiwa itu sama sekali tidak penting baginya.

"Tahukah kau sebabnya...?" tanya Rara Wilis.

"Entah," jawab Widuri. "Mungkin orang itulah yang menanam anggrek ini."

"Mustahil," sahut Arya Salaka. "Anggrek yang tumbuh di lembah itu tak seorangpun yang menanamnya."

Widuri kemudian menjadi heran. Katanya, "Lalu kenapa ia akan menangkap aku?"

"Itulah yang ingin kami ketahui," sela Rara Wilis. "Apakah katanya padamu mula-mula...?"

Widuri mengingat-ingat sebentar, lalu jawabnya, "Ia bertanya, kenapa aku berada di lembah itu."

"Bagaimana kau menjawab?" selidik Arya.


Naga 437

ENDANG WIDURI menjadi jengkel pada pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi ia menjawab pula, ”Aku katakan kepadanya, bahwa aku ingin bunga anggrek ini.”

”Tidakkah ia bertanya tentang kau...?” tanya Wilis pula. Karena pertanyaan-pertanyaan itu agaknya masih panjang, Widuri kemudian menjatuhkan dirinya di samping Rara Wilis. Dan dengan malasnya ia menjawab panjang, sebab ia tahu bahwa kemudian pertanyaan-pertanyaan masih akan mengalir seperti banjir. Katanya, ”Ya, ia bertanya tentang aku. Ia bertanya siapakah namaku dan dari manakah aku datang. Aku datang bersama siapa dan untuk apa.”

Ketika Arya akan mengajukan pertanyaan lagi, Widuri sudah mendahului, ”Aku jawab semuanya. Aku bernama Endang Widuri. Aku datang dari Karang Tumaritis. Aku datang bersama sahabatku yang bernama Arya Salaka putra kepala daerah perdikan Banyubiru, yang datang untuk mengambil haknya kembali dari tangan pamannya yang jahat.”
”Kau katakan itu semua?”
sela Wilis dengan cemas.
”Ya, aku katakan semua itu. Aku katakan bahwa bersama-sama dengan kami datang pula ayah, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar yang perkasa bersama Bibi Rara Wilis yang cantik.”
”Ssst...”
potong Rara Wilis. ”Jangan nakal,” bisiknya.

Mau tidak mau ia harus tersenyum. Namun berita itu bagi Arya Salaka dan Rara Wilis merupakan berita yang cukup penting. Karena itu ia ingin kelanjutan cerita Widuri, meskipun ia tidak sabar mendengar cara Widuri berkisah.

”Lalu, apakah yang dilakukannya?” tanya Arya Salaka.

”Orang itu tiba-tiba menjadi sangat menakutkan. Matanya terbelalak dan dengan marah ia memaksa aku untuk ikut serta bersamanya,” jawab Widuri.

Wilis menarik nafas sekali lagi. Pasti ada hal-hal yang sama sekali tidak pada tempatnya.

”Apakah orang itu bukan orang diantara kita di sini?” tanya Wilis.

Mendengar pertanyaan Rara Wilis, Endang Widuri tertawa, lalu jawabnya, ”Pasti bukan, Bibi. Kalau orang itu salah seorang diantara kita pasti ia tidak akan bertanya tentang aku.”

Sekali lagi Rara Wilis terpaksa tersenyum. Katanya, ”Maksudku adalah untuk menguatkan dugaanku bahwa orang itu pasti mempunyai kepentingan yang rahasia terhadap kita di sini. Terhadap seluruh kekuatan anak-anak Banyubiru.”

Endang Widuri mengerutkan keningnya. Agaknya baru sekarang ia sadar bahwa apa yang dilakukan oleh orang itu adalah jauh lebih berbahaya daripada seorang pemilik anggrek yang kehilangan bunganya. Karena itu tiba-tiba ia bercerita dengan penuh minat.

”Bibi, memang agaknya orang itu sangat aneh. Ketika ia marah kepadaku, aku minta maaf bahwa aku memetik bunganya sebelum aku minta izin kepadanya. tetapi agaknya ia sama sekali tidak memperhatikan.”

Endang Widuri berhenti sejenak untuk mengingat apa yang baru saja terjadi. Kemudian ia meneruskan, ”Bahkan kemudian ia berusaha untuk menangkap aku. Tentu saja aku tidak mau. Maka ketika ia memaksa, aku terpaksa melawannya.”

Kemudian tiba-tiba Endang Widuri tegak berdiri. Sambil menirukan beberapa gerak yang lincah, ia bercerita tentang perkelahiannya. Widuri sebenarnya seorang gadis yang memiliki ilmu tata beladiri jauh lebih dewasa dari sifat-sifatnya yang kekanak-kanakan. Dalam persoalan tata beladiri, Widuri telah dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh yang cukup mempunyai nama cemerlang. Tetapi karena ia tidak pernah meninggalkan padepokan, maka hampir tak seorang pun yang mengenalnya. Ditambah lagi dengan sifatnya sebagai gadis tanggung yang selalu dimanja oleh ayahnya. Dengan demikian perkelahian yang baru saja terjadi itu pun baginya seolah-olah hanya permainan yang tidak menyenangkan.

”Tetapi ternyata orang itu hanya besar kepala saja. Tenaganya tidak lebih dari seekor kelinci. Meskipun demikian, karena aku tidak bersedia untuk berkelahi, maka aku mengenakan kain panjang ini. Dan ketika aku lupa, dan menyerangnya dengan kaki, kainku jadi sobek karenanya,” kata Endang Widuri mengakhiri ceritanya. Lalu dengan bersungut-sungut ia menunjukkan kain panjangnya yang sobek lebih dari dua cengkang di bagian belakang.
Endang Widuri kemudian duduk kembali di samping Rara Wilis. sedang Arya Salaka dan Rara Wilis terpaksa menggelengkan kepala. Kemudian bertanyalah Arya Salaka, ”Kau apakan kemudian orang itu...?”

”Ia kemudian melarikan diri, dan lenyap di dalam gerumbul-gerumbul liar di lembah itu,”
jawab Endang Widuri.

Berita itu bagi Rara Wilis dan Arya Salaka sangat penting artinya. Karena itu kemudian Arya minta diri untuk menemui Mantingan, Wirasaba dan Jaladri, yang selama Mahesa Jenar bersama-sama beberapa orang pergi ke Banyubiru, merekalah yang diserahi pimpinan atas anak-anak Banyubiru.

”Berita itu sangat penting, Angger,” kata Mantingan setelah dengan seksama mendengarkan cerita Arya Salaka tentang Endang Widuri.

”Bagaimana mungkin penjagaan kita yang kuat dapat diterobos, kalau bukan oleh orang yang cukup tangguh. Meskipun demikian aku heran juga, bahwa Endang Widuri dapat mengalahkannya,” lanjut Mantingan.

Tiba-tiba Arya Salaka menjadi bangga atas pujian itu. Pujian untuk Endang Widuri. Karena itu tanpa dikehendakinya sendiri ia telah ikut serta memuji gadis tanggung itu.

Mantingan mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Pantaslah kalau ia putri Kakang Kebo Kanigara. Apalagi selama ini Endang Widuri berada dalam lingkungan yang menguntungkan. Bersama-sama dengan Angger, gadis itu merupakan pasangan berlatih yang mengagumkan,” gumamnya kepada Arya Salaka.

Terasa wajah Arya Salaka menjadi panas. Maka berusahalah ia menjawab, ”Apakah Paman pernah melihat aku atau Widuri berlatih?”



438
MANTINGAN tertawa lirih. Umurnya yang telah menjangkau lebih dari setengah abad itu telah menjadikannya orang yang cukup mengenal perasaan seseorang. Apalagi berhubungan dengan pekerjaannya sebagai seorang dalang. Karena itu ia tidak melanjutkan gurauannya. Apalagi persoalan yang dihadapinya cukup penting. Sehingga segera ia kembali pada persoalan berita yang dibawa oleh Endang Widuri.

”Apakah yang sebaiknya kami lakukan?” Mantingan mencoba untuk mendapat pertimbangan dari Wirasaba, Arya Salaka dan Jaladri. Sesudah berpikir sejenak, berkatalah Wirasaba, ”Satu hal yang patut menjadi pertimbangan adalah, orang itu telah mengetahui bahwa di sini ada Adi Mahesa Jenar, Kakang Kebo Kanigara, Angger Arya Salaka, dan yang dikenalnya langsung adalah Angger Widuri sendiri. Orang itu pasti akan mengatakan bahwa di sini ada seorang gadis kecil yang sangat berbahaya. Kalau gadis itu telah dapat mengalahkannya, apalagi orang-orang yang bernama Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Arya Salaka.”

Mantingan mengangguk membenarkan. Padahal Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan beberapa orang lain sedang berada di perjalanan ke Banyubiru.

Kalau demikian...” sambung Jaladri, ”Tempat kita ini berada dalam bahaya. Kalau mereka mengetahui bahwa orang-orang yang bernama Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar sedang berada di perjalanan, mungkin sekali mereka akan mempergunakan kesempatan itu. Mencegat mereka atau menyerang tempat ini.”

Baiklah adi Jaladri,” sahut Mantingan. ”Apakah jeleknya kalau kita berhati-hati. Siapkan orang-orangmu dan perkuatlah penjagaan di sekitar tempat ini. Mungkin ada sesuatu yang tidak kita harapkan bisa terjadi.”

Jaladri segera melaksanakan tugas itu. Dipanggilnya beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru dan diberinya mereka petunjuk-petunjuk. Mereka sejak saat itu harus sudah siaga tempur. Setiap saat bahaya dapat datang.

Maka sibuklah daerah perkemahan itu dengan berbagai persiapan. Beberapa orang menyiapkan perlengkapan-perlengkapan, beberapa orang lagi mengasah senjata-senjata mereka. Dengan demikian maka perkemahan itu diliputi oleh suasana yang tegang.

Ketika kemudian malam turun perlahan-lahan, seolah-olah tersembul dari hutan di sekitar perkemahan itu, anak-anak Banyubiru menjadi semakin siaga. Penjagaan mereka menjadi semakin rapat. Apalagi penjagaan atas pondok Rara Wilis dan Widuri. Sebab mereka mengira bahwa kedua gadis itu sangat memerlukan penjagaan. Kecuali Mantingan, Wirasaba dan Jaladri, yang kecuali sudah mendengar berita perkelahian antara Widuri dan orang yang mengandung rahasia itu, sebenarnya dari gerak-gerik kedua gadis itu mereka sudah menduga bahwa mereka bukanlah gadis seperti kebanyakan gadis-gadis yang lain.


Sementara itu orang-orang Banyubiru telah dikejutkan oleh kedatangan sebuah rombongan kecil orang-orang berkuda. Dua orang yang di depan mempunyai perawakan yang sedang, tegap dan kuat. Seorang memakai baju hijau gadung, kain lurik hijau gadung pula. Di atas kuping kanannya terselip sekuntum bunga melati hutan. Sedang di sebelahnya, yang seorang lagi berbaju lurik bergaris-garis tebal berwarna coklat dan berkain lurik merah soga berikat kepala biru gelap.


Dengan wajah tengadah mereka memegangi kendali kuda-kuda mereka, yang dengan tegap berjalan ke arah pusat kota. Beberapa orang yang menyaksikan mereka berdua terpaksa menarik nafas dalam-dalam. Meskipun mereka belum pernah mengenalnya, namun mereka seolah-olah melihat dua ekor burung rajawali yang dengan megahnya terbang di udara. Sedang bagi mereka yang pernah mengenalnya lima tahun yang lalu, segera bergumam di dalam mulutnya, dengan mata terbelalak penuh keheranan. ”Bukankah yang menyelipkan bunga di telinga kanannya itu pernah tinggal di Banyubiru beberapa tahun yang lalu, dan bernama Mahesa Jenar...?”

Tetapi segera mereka menjadi semakin heran, ketika mereka kemudian memandang tiga orang berkuda di belakang sepasang rajawali itu. Dan mereka segera meneruskan gumam mereka, ”Dan bukankah mereka itu Ki Wanamerta, Penjawi dan Bantaran...?”

Mula-mula orang-orang Banyubiru itu hanya saling memandang diantara mereka. Tetapi ketika seorang diantara mereka tanpa disengaja menyebut nama Mahesa Jenar agak keras, terdengarlah mereka menjawab bersahutan, ”Ya, orang itulah Mahesa Jenar.”

”Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia datang bersama Bantaran dan Penjawi, bahkan dengan Ki Wanamerta?”
terdengar suara yang lain.

Tak seorangpun yang menyahut. Malahan mereka tiba-tiba menjadi bingung. Sebab Bantaran dan Penjawi bagi penduduk Banyubiru yang tetap tinggal di kampung halaman mereka serta tidak terlalu banyak mengerti tentang seluk-beluk tanah mereka sendiri, merupakan tokoh-tokoh yang membingungkan. Kadang-kadang penduduk Banyubiru itu mengharap-harap kedatangan mereka, namun kadang-kadang mereka tiba-tiba membencinya sebagai orang-orang yang selalu membawa bencana.

Daerah-daerah, desa-desa dan pedukuhan-pedukuhan yang disinggahi oleh Bantaran dan Penjawi dalam saat-saat terakhir ini, merupakan tanda tidak baik bagi penduduknya. Sebab sesaat kemudian akan datanglah pasukan-pasukan dari Pamingit dan Banyubiru sendiri untuk mengadu dan menangkapi beberapa orang untuk diperiksa.

Sekarang penduduk Banyubiru itu melihat Bantaran dan Penjawi datang bersama-sama dengan Mahesa Jenar. Seorang yang dapat disejajarkan dengan pepunden mereka, Ki Ageng Gajah Sora. Malahan bagi orang-orang Banyubiru itu tampaklah Mahesa Jenar seperti Ki Ageng Gajah Sora itu sendiri, yang datang kembali ke kampung halamannya.

Tetapi sedemikian jauh, mereka hanya dapat saling berbisik diantara mereka sendiri. Tak seorangpun diantara mereka yang berani maju ke depan dan bertanya tentang teka-teki yang berputar-putar didalam benaknya.


Cerita Bersambung 12 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
439

ROMBONGAN Mahesa Jenar itu pun merasakan, bahwa setiap orang yang melihat kedatangan mereka menjadi heran dan bertanya-tanya diantara mereka. Tetapi rombongan itu pun tetap berdiam diri seperti sama sekali tak ada orang yang melihat mereka.

Demikianlah rombongan itu dengan tenangnya terus berjalan, lewat jalan-jalan sempit diantara daerah-daerah persawahan, menembus jalan-jalan desa dan melintasi jembatan-jembatan bambu di atas parit-parit yang mengalirkan airnya yang jernih.

”Kakang Kanigara...” tiba-tiba terdengar Mahesa Jenar berbisik. ”Adakah Kakang melihat sesuatu yang tidak sewajarnya?”
”Ya”
jawab Kanigara. ”Tetapi itu sudah agak jauh lewat.


Mahesa Jenar mengangguk. Katanya, ”Kalau demikian apa yang Kakang lihat, aku lihat pula.”

Kemudian kembali mereka berdiam diri. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih sibuk menduga-duga orang aneh yang dijumpainya sesaat sebelum mereka memasuki tlatah Banyubiru. Seorang berkuda, yang seolah-olah membayangi perjalanan mereka dari punggung-punggung perbukitan. Tetapi ketika rombongan itu memasuki daerah Banyubiru, segera orang itu lenyap di seberang bukit.


Tiba-tiba Mahesa Jenar, Kebo Kanigara beserta segenap orang dalam rombongan itu terkejut, ketika mereka mendengar derap beberapa ekor kuda yang berlari kencang ke arah mereka. Dan belum lagi mereka mengucapkan kata-kata, dari balik tikungan di depan mereka muncullah sebuah rombongan orang berkuda pula. Lebih dari limabelas orang.

Mahesa Jenar mengendorkan lari kudanya, diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka masih belum mengetahui, apakah tujuan orang-orang berkuda itu. Maka ketika rombongan itu menjadi semakin dekat, dan tidak mengurangi kecepatan mereka, Mahesa Jenar beserta keempat kawannya segera menepi. Agaknya orang-orang berkuda itu tergesa-gesa. Demikianlah rombongan itu dengan cepatnya berlari melintas. Beberapa orang menoleh kepada Mahesa Jear, tetapi beberapa orang yang lain agaknya tidak peduli. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara segera menutup hidung mereka, supaya tidak dimasuki debu yang berhambur-hamburan dibelakang rombongan itu. Tetapi ketika rombongan itu telah melampauinya, tiba-tiba terdengarlah sebuah aba-aba dari antara mereka. Dan dengan tiba-tiba pula rombongan itu berhenti bersama-sama, sehingga kuda-kuda mereka meringkik dan berputar-putar.

Kemudian beberapa orang diantara mereka tiba-tiba memutar kuda mereka, dan berlari ke arah rombongan Mahesa Jenar.

Ketika Mahesa Jenar memandang Kanigara, Kanigara pun sedang memandangnya. Dengan kedipan mata, Kanigara memberi isyarat kepada Mahesa Jenar dan ketiga kawannya yang lain. Sebab bagaimanapun juga, sesuatu yang tak diharapkan dapat terjadi karena orang-orang itu masih belum mereka kenal sama sekali.

Wanamerta, Bantaran dan Penjawi segera mempersiapkan diri. Sebagi utusan yang bermaksud menempuh penyelesaian yang baik, mereka tak bersenjata, kecuali di punggung mereka terselip sebilah keris sebagai suatu kelengkapan yang lazim. Karena itu, ketika mereka melihat keadaan yang tidak menentu, segera mereka memutar keris mereka di lambung kiri.

Beberapa orang itu menjadi semakin dekat, dan ternyata yang lainpun mengikuti mereka pula. Dan semakin dekat mereka itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi semakin bersiap pula untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Seorang yang bertubuh besar berkulit hitam mengkilap dan bermata tajam seperti mata serigala mengendarai kudanya paling depan dan langsung mengarah kepada Kebo Kanigara.

Melihat orang itu datang kepadanya, Kanigara pun segera menyambutnya. Mula-mula orang itu menghentikan kudanya beberapa langkah dari Kebo Kanigara, kemudian memandangnya dengan tajam. Baru beberapa saat kemudian ia bertanya, ”Ki Sanak, siapakah kalian ini, dan apakah keperluan kalian?”

Kanigara tidak segera menjawab. Tetapi dengan matanya ia minta pertimbangan kepada Mahesa Jenar yang sedikit banyak sudah mengenal daerah Banyubiru. Ketika Mahesa Jenar menggeleng kecil, tahulah Kebo kanigara, bahwa orang-orang itu bukanlah orang-orang Banyubiru. Karena itu segera ia menjawab, ”Apakah Ki Sanak bukan orang Banyubiru?”


Orang itu mengerenyitkan keningnya. Ia tidak senang pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan pula. Karena itu dengan kasar ia mengulangi pertanyaannya, ”Aku bertanya kepadamu, siapakah kalian ini?”


Kebo Kanigara tidak ingin bertengkar. Karena itu ia menjawab, ”
Kalau kalian belum mengenal kami, pastilah kalian bukan orang Banyubiru, sebab kami adalah penduduk daerah ini.”


Orang itu memandang Kebo Kanigara dengan penuh kecurigaan. Kemudian dipandanginya Mahesa Jenar, Wanamerta, Bantaran dan Penjawi berganti-ganti. ”Benarkah kalian penduduk Banyubiru...?” desaknya.



Cerita Bersambung 13 Mei 2000
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
440

WANAMERTA mendesak maju. Kemudian ia menyahut, ”Sejak lahir aku tinggal di daerah ini. Kau curiga...?”
Tiba-tiba orang itu tertawa. Jawabnya, ”Tidak kakek tua. Aku percaya kalau kau orang Banyubiru. Sebab bentuk kalian mengingatkan aku kepada bentuk-bentuk batu padas yang berbongkah-bongkah keras dan kasar.”
Wanamerta tersinggung oleh jawaban itu. Tetapi ia didahului oleh Kebo Kanigara yang mengenal gelagat. Katanya, ”Sesudah kalian tahu bahwa kami adalah orang-orang Banyubiru, maka kamipun ingin mengetahui, siapakah kalian dan dari manakah kalian?”
Sekali lagi orang itu tertawa. Jawabnya, ”Aku baru saja menemui kepala daerah perdikan kalian. Tetapi orang itu ternyata keras kepala.”
Kau benar,” sahut Mahesa Jenar. ”Orang itu memang keras kepala. Tetapi apakah keperluan kalian?”


Tiba-tiba orang itu terdiam. Lalu ia mendorong kudanya beberapa tapak maju mendekati Kebo Kanigara. Dengan perlahan-lahan hampir berbisik ia bertanya, ”Ki Sanak, aku lihat kalian bukanlah orang kebanyakan. Karena itu kalian pasti sudah tahu bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten berada di Banyubiru. Nah katakan kepadaku, siapakah yang menyimpan kedua keris itu.”

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara beserta ketiga kawannya terkejut mendengar pertanyaan itu. Untunglah bahwa mereka segera dapat menguasai diri, sehingga perasaan itu tidak terlalu membekas di wajah mereka. Tetapi pertanyaan itu merupakan penegasan dari berita-berita yang mengatakan bahwa di Banyubiru tersebar desas-desus, yang menyatakan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten berada di tempat itu.

Karena itu tiba-tiba Kanigara ingin mengetahui dengan pasti, siapakah orang-orang itu. Demikian juga agaknya Mahesa Jenar dan bahkan ketiga kawan-kawannya. Maka bertanyalah kemudian Kebo Kanigara, ”Dari manakah kalian mendengar berita tentang kedua keris itu?”

Orang berkulit hitam dan bermata serigala itu tertawa. ”Apakah untungmu mengetahui dari mana aku mendengarnya?”
Kanigara menyahut, ”
Sayang, kau mimpi di siang hari. Tak ada keris di tanah perdikan Banyubiru, kecuali kerisku sendiri serta keris kawan-kawanku ini.”


Jangan begitu, Ki Sanak,” potong orang itu. ”Kalau kau mau menunjukkan kepadaku, kau akan menerima hadiah cukup.”
”Apakah hadiah itu?”
sela Mahesa Jenar.
Apa saja yang kau kehendaki. Uang? Emas atau permata?” jawab orang itu.
Sayang kami tidak mengetahuinya,” desis Mahesa Jenar. Pandangan orang bermata serigala itu menjadi semakin tajam. Sekali dua kali ia menengok kepada kawan-kawannya yang berada di belakangnya, seolah-olah ia ingin mengetahui kesiapsiagaan mereka.


Memang orang-orang Banyubiru keras kepala,” gumam orang itu. ”
Seperti kepala daerah perdikannya.”


Ki Sanak...” kata Kebo Kanigara kemudian, ”Yang paling mengetahui segala sesuatu di Banyubiru ini adalah Ki Ageng Lembu Sora. Kalau kau tadi telah menemuinya, maka kenapa tidak kau tanyakan kepadanya? Atau barangkali kalau kau sudah menanyakannya dan dijawabnya kedua keris itu tidak berada di Banyubiru, maka jawaban itu pastilah benar.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya semakin menunjukkan ketidakpuasannya. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk menyabarkan diri dan berkata ditahan-tahan. ”Kalian tinggal memilih. Menunjukkan di mana keris itu berada dan menerima hadiah atau tidak mau menjawab, tetapi kalian binasa.

Kanigara masih tetap berkata dengan sabarnya, ”Ki Sanak. Apakah yang akan kami katakan tentang kedua keris itu, kalau kami benar-benar tidak mengetahuinya?”


Orang berkulit hitam itu sekali lagi menengok kepada kawan-kawannya dan seperti orang minta pertimbangan ia berkata, ”Apakah yang sebaiknya kami lakukan atas orang-orang ini?”
”Terserah Ki Lurah,”
jawab salah seorang diantara mereka.


Hem....” ia menarik nafas. ”Ki sanak, kami merasa perlu untuk memberi pelajaran kepada kalian, sekaligus memberi peringatan kepada Ki Ageng Lembu Sora. Kalau ia akan tetap berkeras kepala, nasib rakyatnya akan tidak menyenangkan. Sekali lagi aku memberi kesempatan kepada kalian untuk menunjukkan kepada kami di mana kedua keris itu disimpan. Menilik sikap, pakaian dan keadaan kalian, kalian adalah orang-orang penting di Banyubiru ini. Tetapi kalau kalian tetap tidak mau bicara, maka kalian akan menjadi orang pertama yang akan kami jadikan korban. Kalian akan kami bunuh dengan cara yang mengerikan. Mata kalian akan kami copot dari batok kepala kalian. Dada kalian akan kami silang dengan pisau dan isi perut kalian akan kami tumpahkan keluar. Nah, bukankah itu mengerikan? Setiap hari akan kami lakukan hal yang serupa sampai kepala daerahmu atau seseorang mau mengatakan kepada kami, baik karena ketakutan maupun karena ia ingin hadiah, di mana kedua keris itu berada.”

Semua yang mendengar kata-kata itu terkejut. Apalagi Wanamerta, Bantaran dan Penjawi sebagai orang-orang Banyubiru yang sebenarnya. Penjawi, yang paling muda diantara mereka, adalah orang yang berdarah paling panas. Ia segera mendesak maju. Sebenarnya ia dapat membiarkan saja hal itu berlaku di Banyubiru. Sebab itu adalah tanggungjawab Lembu Sora pada saat ini. Sedang mereka sendiri pada saat itu agaknya mungkin sekali untuk menyelamatkan diri. Tetapi sebagai seorang yang berangan-angan masa depan yang gemilang bagi rakyat Banyubiru, ia tidak dapat berpangku tangan.