NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
431
JALADRI masih tetap ragu-ragu. Ia tidak berani menebak satu diantaranya. Meskipun apabila Arya Salaka ada diantaranya, yang paling mungkin adalah pemuda yang gagah itu. setelah beberapa lama ia menimbang-nimbang, akhirnya ia menjawab, "Aku tidak tahu Tuan Arya Salaka. Pada saat meninggalkan Banyubiru masih terlalu kecil bagi yang ada sekarang."
Meskipun demikian mata Jaladri tidak lepas dari pemuda tegap yang duduk bersila sambil menundukkan mukanya.
Mahesa Jenar tertawa pendek, demikian pula Kebo Kanigara. Tetapi dengan demikian,
Rara Wilis, Widuri, Wanamerta, dan bahkan Arya Salaka sendiri. Jaladri mempunyai
dugaan yang benar. Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak segera membenarkan
dugaan itu.
Dengan tegak berdiri ia berkata, "Jaladri...
antarkanlah kami sekarang kepada Bantaran."
"Baik Tuan," jawab Jaladri cepat, seperti demikian saja meloncat dari
mulutnya.
Kemudian Mahesa Jenar berkata kepada Wanamerta, Kebo Kanigara dan kawan-kawan seperjalanannya. "Marilah, kita selesaikan perjalanan kita yang tinggal beberapa langkah saja."
Semuanya segera mempersiapkan diri mereka pula. Dan sesaat kemudian mereka meneruskan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi.
Jaladri lebih dahulu telah mengirimkan dua orangnya untuk mendahului dan memberitahukan kedatangan Mahesa Jenar, agar Bantaran dapat mempersiapkan sambutan sekadarnya.
Demikianlah, tidak terlalu lama, mereka telah sampai ke daerah Candi Gedong Sanga, di lereng Gunung Ungaran. Oleh Jaladri, mereka dibawa menyusup ke sebuah hutan yang tidak terlalu lebat. Di dalam hutan yang tipis itu terdapatlah sebuah barak besar dikelilingi beberapa barak kecil. Itulah perkemahan laskar Banyubiru yang dipimpin oleh Bantaran dan Penjawi.
Ketika Mahesa Jenar sampai ke tempat itu, sibuklah mereka mengadakan penyambutan. Berdesak-desakan mereka berebut muka, sehingga Mahesa Jenar dan kawan-kawan tidak dapat bergerak maju lagi.
Sampai Bantaran berdiri dan berteriak, "Berilah jalan supaya mereka dapat masuk ke dalam pondok ini."
Demikianlah akhirnya Mahesa Jenar dan kawan-kawannya dipersilakan masuk ke dalam pondok yang terbesar itu. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Dan di sanalah pemimpin-pemimpin laskar itu telah siap menanti.
Mahesa jenar dan kawan-kawannya dipersilakan duduk di ujung pertemuan itu. Tetapi demikian ia mulai memperhatikan satu demi satu dari setiap wajah di dalam ruangan itu, tiba-tiba ia terkejut ketika melihat yang duduk berjajar di samping Penjawi.
Karena itu segera Bantaran memperkenalkan kedua orang itu kepada Mahesa Jenar. "Tuan, barangkali Tuan belum mengenalnya. Mereka adalah orang baru di sini. Tetapi mereka melihat kebenaran perjuangan kami. Karena itu mereka di pihak kami."
Tiba-tiba meloncatlah dari mulut Mahesa Jenar sapaan yang akrab, "Kakang Mantingan dan Wirasaba, adakah kalian telah lama berada di tempat ini?"
Dalang Mantingan dan Wirasaba menganggukkan kepalanya. Terdengarlah Mantingan menjawab, "Sudah... Adi. Aku sudah beberapa bulan bergaul dengan anak-anak Banyubiru, meskipun kadang-kadang aku juga memerlukan kembali ke Wanakerta atau Prambanan bersama-sama dengan Adi Wirasaba."
Teringatlah Mahesa Jenar pada saat mereka baru saja menyaksikan bahkan terlibat dalam suatu bentrokan melawan golongan hitam yang sedang mempersiapkan sebuah pertemuan di daerah Rawa Pening. Pada saat itu Mahesa Jenar dengan empat orang teman, yaitu Mantingan, Wirasaba, Gajah Alit dan Paningron, harus bertempur melawan seluruh kalangan hitam dari angkatan sebayanya, yang kemudian mendapat bantuan dari Sima Rodra tua dan Pasingsingan.
Untunglah pada saat itu muncul Radite dan Anggara yang menyelamatkan mereka berlima. Pada saat itu ia memang berpesan kepada Mantingan untuk berusaha melihat-lihat keadaan Banyubiru. Agaknya Mantingan benar-benar melaksanakan pesan Radite dan Anggara, bahkan akhirnya mengambil keputusan untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
Kemudian sibuklah pertemuan itu dengan pernyataan keselamatan masing-masing. Wanamerta yang menjadi semakin terharu melihat anak-anak Banyubiru yang masih setia kepada pimpinannya itu, malahan menjadi seperti patung. Ia hanya dapat mendengarkan percakapan-percakapan yang semakin ramai dan gembira, dan sesekali menoleh kesana kemari, tanpa tujuan.
Tiba-tiba dari sela-sela keriuhan percakapan itu terdengarlah Bantaran bertanya, "Tuan. bukankah Tuan telah menyanggupkan kepada kami untuk membawa Arya Salaka...?"
Mahesa Jenar tertawa. Memang, ia menanti pertanyaan itu, sehingga dengan sengaja tidak memperkenalkan kawan-kawan seperjalanannya. Karena itu baru kemudian ia menjawab untuk memperkenalkan mereka.
"Saudara-saudaraku dari Banyubiru.... Baiklah aku memperkenalkan kawan seperjalananku satu persatu."
Kemudian sambil menunjuk, Mahesa Jenar meneruskan, "Ini, yang duduk di sebelahku adalah Rara Wilis, seorang gadis yang lebih senang menamakan dirinya Pudak Wangi, cucu seorang sakti bernama Pandan Alas. Di sampingnya adalah Endang Widuri, putri Kakang Kebo Kanigara yang duduk di sebelahnya. Dan yang seorang lagi adalah Bagus Handaka."
Semua mata mengikuti jari Mahesa Jenar. Namun ketika sampai orang yang terakhir, ia tidak menyebut nama Arya Salaka, anak-anak Banyubiru menjadi bertanya-tanya dalam hati.
Bahkan kemudian terdengar suara Penjawi, "Lalu bagaimanakah dengan Arya Salaka...?"
Tetapi seperti juga Jaladri, Penjawi memandang Arya Salaka yang disebut bernama
Bagus Handaka itu tanpa berkedip. Sebab pada masa kanak-kanaknya, dengan
Penjawi-lah Arya Salaka paling banyak bergaul.
Karena itu sedikit banyak ia masih dapat mengenal wajah itu, meskipun sudah jauh berbeda.
432
MAHESA JENAR tidak menjawab, ia hanya tertawa kecil. Dan karena itulah maka Penjawi tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan cepatnya ia berjalan jongkok ke arah Arya Salaka dan dengan suara parau ia berkata hampir berteriak sambil memukul-mukul lengan Arya yang sudah menjadi sekeras baja itu. "Arya, alangkah mengagumkan kau. Benar-benar kau telah menjadi seekor banteng muda yang luar biasa kuatnya. Ah, alangkah malunya aku, yang semakin lama menjadi semakin kering."
Bersamaan dengan itu tiba-tiba, hampir meledaklah suara membahana, "Arya Salaka telah datang, Arya Salaka telah datang."
Kemudian tampaklah laskar Banyubiru itu berdesak-desakan di pintu pondok sehingga pintu itu seolah-olah akan mereka tumbangkan karena menghalang-halangi mereka yang ingin melihat kehadiran Arya Salaka diantara mereka. Semua yang menyaksikan peristiwa itu menjadi sangat terharu. Bahkan Rara Wilis sampai menekan dadanya karena tiba-tiba terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Sedang Endang Widuri tiba-tiba menjadi sangat bangga. Ia tidak tahu kenapa perasaan itu begitu saja tumbuh di dalam dadanya, seolah-olah dirinyalah yang mendapat sambutan sedemikian hangatnya.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, meskipun tidak kalah terharu, namun mereka berdua telah dapat mengendalikan perasaan mereka, sehingga mereka tetap duduk dengan tenang.
Yang paling tidak dapat mengendalikan perasaannya
adalah Wanamerta.
Dalam kesempatan itu, ia merasa bahwa seolah-olah ia telah sampai pada puncak
kebahagiaan. Bahkan dengan serta merta terlontar kata-kata dari mulutnya, "Aku
tidak keberatan seandainya sekarang juga aku mati, sebab aku telah menyaksikan
angger Arya Salaka kembali kepada anak-anak Banyubiru yang setia kepada
kebenaran atas hak pada tanah mereka."
Sedang Arya Salaka sendiri malah menjadi bingung. Ia biasa hidup seperti seekor burung yang bebas lepas di udara, yang seolah-olah tidak mempunyai suatu ikatan apapun. Ia tidak biasa menerima pujian dan sanjungan. Apalagi sikap memanjakan diri. Dan sekarang tiba-tiba terdengarlah teriakan-teriakan nyaring di dalam maupun di luar ruangan itu menyebut namanya. Memuji-mujinya dan bahkan ada diantaranya yang mengaguminya, seolah-olah dirinya menjadi seorang pahlawan yang baru memenangkan perang.
Karena itulah maka tubuhnya menjadi gemetar. Wajahnya bertambah lama bertambah pucat, dan keringat dingin telah memenuhi seluruh tubuhnya. Mahesa Jenar yang bijaksana dapat merasakan keadaan itu. Karena itu segera ia berkata keras-keras, untuk mengatasi segenap keriuhan itu.
"Saudara-saudara rakyat Banyubiru yang setia.... Atas nama Arya Salaka, aku ucapkan terima kasih atas sambutan kalian. Tetapi aku minta janganlah kalian menyambut kedatangannya dengan berlebih-lebihan. Sebab sikap yang demikian akan besar pengaruhnya, meskipun aku yakin akan keteguhan hati Arya Salaka, namun bersikaplah sewajarnya. Dengan demikian, segala sesuatu akan berlangsung dengan wajar pula. Tanpa berlebih-lebihan, tanpa pengaburan atas nilai yang sebenarnya. Dengan demikian saudara-saudara tidak akan mudah menjadi kecewa apabila ada hal-hal yang tidak seperti saudara harapkan."
Suara Mahesa Jenar itu ternyata dapat menenangkan suasana di dalam ruangan itu, namun di luar ruangan masih saja terjadi keributan dan teriakan-teriakan. Mereka agaknya tidak puas sebelum dapat memandang wajah anak kepala daerah mereka yang telah mereka anggap hilang itu.
Karena itu mereka masih saja berusaha untuk dapat berdiri di pintu. Dengan demikian akhirnya Mahesa Jenar merasa perlu untuk menenangkan mereka dengan membawa Arya Salaka keluar.
Maka berkatalah ia kepada Bantaran dan Penjawi, "Biarlah Arya Salaka berdiri di depan pintu sebentar, agar mereka menjadi puas."
Bantaran dan Penjawi menyetujui, serta mempersilakan Arya Salaka untuk berdiri sebentar, menerima sambutan dari rakyat.
Maka berkatalah Mahesa Jenar kepada Arya Salaka, "Marilah kita berdiri di
muka pintu itu sebentar Arya Salaka, dan berkatalah sepatah dua patah kata
kepada rakyatmu."
Arya Salaka menjadi semakin gelisah. Ia lebih tenang pada saat ia berhadapan dengan Uling Kuning dan Uling Putih daripada waktu itu. Dengan tergagap ia menjawab, "Paman sajalah yang berbicara kepada mereka, atau Kakang Penjawi."
Mahesa Jenar tersenyum, katanya, "Mereka tidak akan mau mendengarkan siapa saja yang akan berbicara selain kau."
Keringat Arya Salaka semakin banyak mengalir. Tetapi ia tidak dapat membantah lagi ketika Mahesa Jenar kemudian berdiri dan menarik tangannya. Dengan jantung yang berdegupan Arya Salaka digandeng oleh Mahesa Jenar berjalan ke arah pintu diikuti oleh Penjawi, Bantaran, Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Widuri.
Ketika Arya muncul di muka pintu, meledaklah tepuk tangan riuh, dibarengi dengan teriakan-teriakan yang menyebut-nyebut nama anak kepala daerah perdikan Banyubiru itu. Sedang Arya Salaka sendiri berdiri terpaku tanpa bergerak.
Terdengarlah kemudian Mahesa Jenar berbisik di
telinganya,
"Berbicaralah, Arya...."
Arya menjadi semakin bingung. Maka bisiknya pula, "Apakah yang harus aku
bicarakan?"
"Ucapkanlah pernyataan terima kasih kepada mereka dan katakan bahwa kau masih
lelah sehingga kau perlu segera beristirahat. Karenanya pembicaraan yang agak
panjang kau tunda sampai besok," jawab Mahesa Jenar berbisik-bisik.
Mula-mula Arya Salaka masih tetap gelisah
menghadapi keadaan yang tidak disangka-sangkanya itu. Tetapi tiba-tiba dari
jantungnya meledaklah perasaan tanggungjawabnya, didorong pula oleh darah
kepemimpinan yang mengalir dalam tubuhnya.
433
No. 433
ARYA SALAKA kemudian berhasil menguasai dirinya dan memperoleh keseimbangan. Sehingga dengan demikian ia menjadi agak tenang. Maka dicobanya untuk menyampaikan pernyataan terima kasih kepada rakyat yang menyambutnya itu.
Namun bagaimanapun juga, suaranya masih terdengar gemetar.
"Saudara-saudaraku dari Banyubiru. Yang pertama-tama akan aku sampaikan kepada kalian, adalah pernyataan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sambutan kalian yang sama sekali tidak aku duga. Seterusnya, karena aku masih sangat lelah perkenankanlah aku beristirahat dahulu. Besok pembicaraanku akan aku perpanjang lagi."
Mahesa jenar tersenyum mendengar uraian Arya Salaka yang masih terasa bongkah-bongkah itu. Meskipun demikian kata-kata itu cukup untuk dapat menenangkan rakyatnya. Namun masih juga terdengar teriakan-teriakan yang meminta Arya untuk berbicara lebih banyak lagi.
Kemudian tampillah Bantaran, yang meminta kepada rakyat Banyubiru yang tetap teguh pada pendiriannya itu, untuk memberi kesempatan kepada Arya Salaka beristirahat.
"Nah saudara-saudaraku..." katanya, "Sekarang berilah kesempatan tamu-tamu kita beristirahat. Juga kalian dapat beristirahat sekarang, kecuali mereka yang bertugas. Sebab di hadapan kalian terbentanglah lautan yang penuh dengan badai dan taufan yang harus kalian renangi.
Siapa tahu, besok atau bahkan nanti, kalian harus sudah menerjuninya."
Dengan demikian maka anak-anak Banyubiru itu kemudian perlahan-lahan meninggalkan pintu barak dimana Arya Salaka masih berdiri bersama dengan kawan-kawan seperjalanannya. Namun kemudian Bantaran tidak mempersilakannya masuk kembali, tetapi mereka dipersilakan untuk pergi ke pondok yang lebih kecil, yang telah dipersiapkan untuk mereka.
Meskipun demikian, karena mereka sama sekali tidak menduga bahwa di dalam rombongan itu akan terdapat dua orang gadis, maka dengan tergesa-gesa mereka terpaksa menyiapkan tempat lain untuk keperluan itu. Demikianlah mereka kemudian dipersilakan beristirahat di tempat masing-masing.
Mantingan dan Wirasaba memerlukan mengunjungi Mahesa Jenar, meskipun hanya sebentar, untuk berkenalan lebih dekat lagi dengan Arya Salaka dan Kebo Kanigara. Setelah itu maka ditinggalkannya mereka bertiga, setelah dipersilakan mereka makan sekadarnya.
Sedang Wanamerta segera terjun ke dalam lingkungan anak-anak Banyubiru yang sudah lama terpisah dengannya, dan kemudian tidur bersama mereka. Malam itu rasanya berjalan demikian cepat. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka segera tenggelam ke dalam mimpi. Demikian juga di dalam pondok yang lain. Rara Wilis dan Endang Widuri yang dikawani oleh Nyi Penjawi, segera tertidur pula.
Di luar pondok itu, tampaklah beberapa orang berjaga-jaga dengan cermatnya. Sebab dalam tanggapan mereka, keselamatan gadis-gadis itu sangat tergantung kepada penjagaan yang mereka lakukan. Ketika mereka terbangun pada pagi harinya, dan kemudian keluar dari pondok masing-masing, tampaklah betapa cerahnya matahari pagi.
Sinar-sinarnya yang menembus daun-daun pepohonan terpercik di atas tanah lembab, membuat gambaran-gambaran yang menyenangkan. Seolah-olah gambaran anak-anak yang dengan lincahnya berloncat-loncatan dengan penuh kegembiraan menyambut hari yang bakal datang. Sedang angin pagi mengalir lambat membawa udara sejuk segar.
Pada hari itu Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka diantar oleh Bantaran, Penjawi, Mantingan, Wirasaba dan Wanamerta melihat-lihat keadaan di sekitar barak-barak itu. Melihat persiapan-persiapan yang mereka lakukan. Dari mereka itulah Mahesa Jenar mengetahui bahwa sebagian besar rakyat Banyubiru tetap menanti kedatangan kepala daerah perdikan mereka. ternyata dengan bantuan yang mengalir tak henti-hentinya. Meskipun dengan bersembunyi-sembunyi mereka dapat mengirimkan makanan, pakaian dan senjata. Bahkan anak-anak Banyubiru telah mendapat perkakas yang cukup untuk membuka hutan.
Karena itulah rombongan itu bukan saja rombongan orang-orang yang menyingkirkan diri, namun mereka termasuk perintis-perintis pula dalam perluasan daerah pertanian Banyubiru. Sebab disamping mempersiapkan diri mereka untuk datang kembali ke Banyubiru, mereka ternyata telah membuka hutan dan membuat tanah pertanian.
Pada hari-hari berikutnya, Mahesa Jenar, Arya Salaka dan kawan-kawannya sempat melihat kesiapsiagaan anak-anak Banyubiru itu. Mereka mendapat kesempatan untuk melihat anak-anak Banyubiru itu berlatih.
Mula-mula Mahesa Jenar menjadi heran melihat kemajuan yang pesat dibandingkan masa-masa Banyubiru beberapa tahun yang lalu. Justru setelah mereka didorong ke tengah-tengah hutan. Tetapi keheranan itu kemudian lenyap ketika ia melihat Mantingan dan Wirasaba berada diantara mereka. Agaknya kedua orang itu, disamping Penjawi dan Bantaran, yang telah bekerja mati-matian untuk melatih anak-anak Banyubiru itu.
Melihat tingkat pengetahuan laskar Banyubiru itu, Arya Salaka pun berbangga pula. Ternyata bahwa mereka lebih maju daripada laskar Gedangan. Sebaliknya, apa yang diduga Bantaran sebelumnya ternyata benar-benar terjadi. Dengan kehadiran Arya Salaka, laskar Banyubiru merasa mendapat suatu karunia yang tiada taranya. Mereka menjadi semakin teguh pada tekadnya. Kembali ke Banyubiru.
Tetapi meskipun demikian Bantaran, Penjawi dan
beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru itu masih tetap bimbang. Bukan karena
meragukan kesetiaan laskarnya, yang menurut penilaiannya telah menyerahkan diri
mereka bulat-bulat sampai tetes darah terakhir. Tetapi sebagai seorang pemimpin,
mereka berkewajiban menilai kekuatan mereka sendiri untuk diperbandingkan dengan
kekuatan lawan mereka.
434
MEREKA harus tidak menutup mata terhadap kenyataan yang ada. Mereka harus memperhitungkan bahwa laskar Pamingit yang bergabung dengan sebagian orang-orang Banyubiru yang tidak setia terdapatlah nama-nama besar seperti Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Disamping itu Bantaran dan kawan-kawannya selalu meragukan apakah kira-kira yang akan dilakukan Ki Ageng Sora Dipayana apabila benar-benar terjadi bentrokan antara dua kekuatan itu. Di pihaknya, ia yakin bahwa Kebo Kanigara dapat diketengahkan. Bantaran pernah melihat sendiri, paman guru Mahesa Jenar itu berhasil menyelamatkan diri setelah bertempur melawan sepuluh orang pengawal Lembu Sora. Tetapi bila Ki Ageng Sora Dipayana melibatkan diri dalam perselisihan itu, apakah Kebo Kanigara dapat mengimbanginya?
Kemudian Bantaran harus menilai Mahesa Jenar pula. Dahulu, sepengetahuannya, Mahesa Jenar memiliki ilmu setingkat dengan Gajah Sora. Ki Ageng Gajah Sora sendiri pernah mengatakan. Tetapi sekarang Ki Ageng lembu Sora pesat sekali maju. Ia mendapat tuntunan yang tiada henti-hentinya dari Ki Ageng Sora Dipayana, sehingga Lembu Sora sekarang telah melampaui kakaknya, Gajah Sora. Sedang Mahesa Jenar, apakah yang diperolehnya selama ini, meskipun berada di lingkungan paman gurunya?
Apalagi kemudian pimpinan laskar Banyubiru harus memperhitungkan pula Arya Salaka, yang mau tidak mau akan berhadapan kepentingan dengan Sawung Sariti. Apa yang mereka lihat sekarang, Sawung Sariti benar-benar telah menjadi seorang pemuda yang luar biasa.
Ia dengan beraninya menghadapi lawan-lawannya sebagai seekor ayam jantan di arena pertarungan. Selain itu ia dapat bergerak dengan sangat lincahnya seperti seekor burung sariti di udara. Apalagi ia pun telah mendapat tempaan dari kakeknya. sehingga anak muda itu benar-benar memiliki ilmu yang menakutkan.
Meskipun dari Wanamerta, Bantaran telah mendengar apa yang pernah terjadi antara Arya Salaka dan Sawung Sariti, namun ia menganggap bahwa Sawung Sariti kemudian telah lebih maju lagi dengan pesatnya, disamping dugaan-dugaan bahwa Wanamerta agak terlalu bangga terhadap Arya Salaka. Dalam pada itu pimpinan laskar Banyubiru itu tidak mengada-ada. Namun sebagai pemimpin ia harus bertindak hati-hati. Meskipun demikian ia tidak sampai hati untuk mengatakannya kepada Mahesa Jenar yang kemudian diharap akan dapat memimpin laskar Banyubiru.
Yang dapat mereka lakukan kemudian hanyalah sebuah pernyataan untuk meminta Mahesa Jenar memimpin laskar Banyubiru. Sebab mau tidak mau mereka harus mengakui bahwa Mahesa Jenar kecuali memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada setiap orang yang ada, mereka juga mengetahui bahwa Mahesa Jenar adalah bekas seorang perwira prajurit Demak. Tentu saja Mahesa Jenar tidak menolak. Bahkan ia merasa mendapat jalan untuk menentukan cara laskar Banyubiru berbuat. Ia ingin membuat laskar Banyubiru laskar yang kecuali baik dalam tata cara bertempur, juga harus merupakan laskar yang baik dalam bertindak. Di dalam atau di luar lingkaran pertempuran.
Maka sejak saat itulah Mahesa Jenar mengambil pimpinan dari tangan Bantaran dan Penjawi. Dan sejak itu pula Mahesa Jenar menyelenggarakan latihan yang lebih teratur untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Demikianlah, akhirnya Mahesa Jenar sampai pada suatu saat dimana ia menganggap bahwa waktunya telah tiba untuk berbuat sesuatu ke arah penyelesaian masalah Banyubiru. Karena itulah maka segera mengadakan persiapan-persiapan terakhir.
Dalam pada itu adalah diluar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba datanglah seorang yang ditugaskan untuk tinggal di Banyubiru, yang mengabarkan bahwa Banyubiru, sebuah desas-desus yang tersebar luas mengatakan bahwa keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten kini berada di Banyubiru.
Mahesa Jenar terkejut mendengar khabar itu. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten jelas berada di tangan Panembahan Ismaya. Tetapi kenapa tiba-tiba orang mendesas-desuskan bahwa keris itu berada di Banyubiru...?
Mula-mula kepada orang yang membawa khabar itu Mahesa Jenar menanyakan, kira-kira dari manakah sumber berita itu. Tetapi orang itu pun sama sekali tidak mengetahui. Namun ia dapat mengatakan bahwa karena itulah maka di Banyubiru timbul kegelisahan. Sebab adanya desas-desus itu akan banyak akibat yang dapat terjadi. Karena itulah Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah didesak oleh keadaan untuk bertindak lebih cepat. Ia masih teringat jelas bahwa golongan hitam pun sangat memerlukan keris-keris itu. Sebenarnya ia sama sekali tidak percaya, bahwa kedua keris itu dengan tiba-tiba saja berada di Banyubiru, sebab ia yakin bahwa tak seorang pun yang dikenalnya, dapat melampaui segala macam ilmu yang dimiliki
Panembahan Ismaya. Seandainya dua-tiga orang
sakti sekalipun yang datang ke Bukit Karang Tumaritis, pasti orang-orang itu
tidak akan berhasil mendapatkan Kyai Nagasasra dan Kyai sabuk Inten, apalagi
orang-orang Banyubiru. Biarpun mereka datang bersama-sama. Ki Ageng Sora
Dipayana, Ki Ageng lembu Sora dan Sawung Sariti beserta seluruh laskarnya.
Karena itu ia akhirnya sampai suatu kesimpulan bahwa di belakang desas-desus itu
pasti tersembunyi suatu maksud.
435
SETELAH Mahesa Jenar berunding dengan Kebo
Kanigara, ia memutuskan untuk segera membawa Arya Salaka ke Banyubiru. Sudah
barang tentu Mahesa Jenar bertindak menurut caranya, yang merupakan pancaran
dari wataknya. Ia tidak segera membawa pasukannya ke Banyubiru sekaligus dalam
persiapan tempur dengan mempergunakan gelar perang, tetapi ia mengharap bahwa
segala sesuatu dapat diselesaikan menurut cara yang baik.
Mula-mula Bantaran, Penjawi, bahkan Wanamerta heran melihat kelunakan sikap Mahesa Jenar itu. Bahkan mereka menduga bahwa di dalam hati Mahesa Jenar meragukan kekuatan laskarnya. Karena itulah maka mereka mengajukan pertimbangan lain. Mereka mendesak agar Mahesa Jenar memaksa dengan kekuatan untuk mengusir Lembu Sora dari Banyubiru. Sebab mereka tidak melihat cara lain yang dapat dipergunakan selain cara itu.
Mahesa Jenar memahami sepenuhnya perasaan yang bergolak di dalam dada Bantaran, Penjawi dan anak-anak Banyubiru, yang terpaksa menyingkir dari kampung halaman mereka sendiri. Mereka telah mengalami tekanan lahir batin. Kepahitan yang selama ini harus mereka telan, telah menyebabkan mereka menjadi dendam. Apalagi mereka merasa bahwa mereka telah melakukan tindakan kebenaran. Mempertahankan hak atas tanah mereka.
Mereka dikejar-kejar, dimusuhi, ditangkap dan segala macam usaha yang lain untuk menakut-nakuti agar mereka melepaskan kesetiaan mereka kepada tanah mereka. Tetapi ternyata lebih baik bagi mereka menyingkirkan diri, meninggalkan kampung halaman, untuk tetap mempertahankan pendirian mereka.
Mempertahankan kesetiaan mereka terhadap tanah
pusaka mereka, terhadap tanah tercinta.
Karena itu Mahesa Jenar harus bersikap hati-hati terhadap mereka. Ia tidak dapat
demikian saja memaksa mereka untuk melepaskan dendam mereka. Tetapi ia harus
berusaha menumbuhkan dari dalam diri mereka masing-masing, pengertian tentang
apa yang akan mereka lakukan.
Dengan penuh kebijaksanaan berkatalah Mahesa Jenar kepada Bantaran, Penjawi beserta para pemimpin laskar Banyubiru, "Saudara-saudaraku... kalau kalian gagal untuk menginjakkan kaki kalian beserta Arya Salaka kembali ke Banyubiru, akulah orang yang pertama-tama akan menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya. Dan akulah orangnya yang akan menerjunkan diri, mengorbankan segala yang ada padaku untuk kepentingan kalian. Sebab aku telah menerima penyerahan dari kakang Gajah Sora atas putranya, Arya Salaka, beserta segala kelengkapan atas dirinya. Diantaranya kedudukan kepala daerah perdikan Banyubiru. Karena itu percayalah bahwa aku akan bekerja keras untuk melaksanakan pekerjaan itu."
Setelah menarik nafas sejenak, Mahesa Jenar meneruskan, "Tetapi berilah aku kesempatan menyelesaikan menurut cara yang akan aku tempuh. Pertama-tama aku akan berusaha untuk menempuh jalan yang sebaik-baiknya. Lembu Sora adalah adik Gajah Sora. Aku masih ingin melihat bahwa masih ada hubungan dari mereka berdua. Hubungan yang sangat dekat. Mereka dialiri darah dari sumber yang sama. Apabila cara ini tidak berhasil, barulah aku akan mempergunakan cara lain. Membawa kalian serta. Tetapi ingat, bahwa apa yang kalian lakukan bukanlah pembalasan dendam. Yang akan kalian lakukan adalah mengambil hak kalian kembali. Hak atas tanah kalian dan hak atas pimpinan daerah kalian. Karena itu maka yang harus kalian lakukan adalah sesuai dengan tujuan itu. Jangan ada diantara kalian yang mempergunakan kesempatan ini untuk kepentingan diri sendiri. Melepaskan dendam pribadi kepada orang-orang yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perjuangan kalian mengambil kembali kampung halaman kalian. Kesetiaan kalian."
Selanjutnya Mahesa Jenar mengatakan, "Aku percaya bahwa kalian akan dapat menunjukkan kebesaran jiwa kalian, yang dengan demikian akan menunjukkan pula perbedaan antara kalian dengan orang-orang yang berjiwa kerdil, yang hanya mengenal kepentingan diri daripada kepentingan bersama. Dengan demikian pekerjaan kalian hanya terbatas sampai hak atas tanah perdikan itu kembali. Seterusnya kalian tidak perlu berbuat apa-apa lagi, yang barangkali malah akan menyuramkan nama kalian. Yang harus kalian ingat pula, bahwa kecuali kalian dan orang-orang Pamingit itu masih ada orang-orang yang termasuk di dalam barisan golongan hitam.
Tidak mustahil kalau mereka akan mengambil setiap kesempatan, mengail di air keruh. Kalau kalian kemudian terlibat dalam permusuhan yang berlarut-larut, maka dengan senangnya mereka akan datang dan membangun istana kemenangan dia atas bangkai-bangkai kalian tanpa bersusah-payah lagi."
Bantaran, Penjawi, Wanamerta beserta para pemimpin laskar Banyubiru menundukkan kepala mereka. Mereka mengerti sepenuhnya apa yang baru saja didengarnya. Di dalam hati mereka terbersitlah pengakuan atas kebenaran kata-kata itu.
Tiba-tiba mereka menjadi sadar bahwa orang-orang Pamingit, lebih-lebih orang
Banyubiru itu sendiri, adalah saudara-saudara mereka. Ada diantara mereka yang
berkakak, beradik, berkemenakan dan bersepupu dengan orang-orang Pamingit.
Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar meneruskan, "Saudara-saudaraku... kalian harus dapat menempatkan diri kalian dalam tindakan kalian kali ini. Sekali lagi aku ingatkan, marilah kita ambil hak kita, milik kita sendiri. Selebihnya tidak. Apalagi apa yang dinamakan pembalasan dendam."
Pemimpin-pemimpin Banyubiru itu masih tetap berdiam diri, namun tanpa mereka sadari, mereka telah mengangguk-anggukkan kepala mereka sebagai suatu pernyataan setuju atas segala uraian Mahesa Jenar. Sehingga kemudian Mahesa Jenar megakhiri pertemuan itu. Dengan minta doa restu kepada segenap laskar Banyubiru, ia minta diri untuk pergi ke Banyubiru. Beberapa orang dimintanya ikut serta untuk menyaksikan apa yang akan mereka bicarakan. Diantaranya adalah Wanamerta, Bantaran, Penjawi, dan Kebo Kanigara.
Kali ini Mahesa Jenar menganggap belum waktunya
membawa serta Arya Salaka. Rombongan ini tidak lebih daripada sebuah rombongan
utusan dari Arya Salaka selaku orang yang berhak atas daerah perdikan Banyubiru,
mengadakan pembicaraan pendahuluan mengenai hari kemudian Banyubiru.