426
MAHESA JENAR dan Kebo Kanigara segera berangkat ke bukit kecil yang dinamai oleh penghuninya Karang Tumaritis. Ketika matahari telah sampai di atas kepala mereka, sampailah mereka di atas bukit kecil itu. Perjalanan mereka di atas punggung kuda seakan-akan merupakan tamasya yang menyenangkan.
Kedatangan mereka disambut dengan meriah oleh penghuni bukit
kecil itu.
Para cantrik dan endang. Lebih-lebih lagi, betapa gembira
hati Endang Widuri yang telah beberapa lama ditinggalkan oleh
ayahnya. Untunglah bahwa saat itu ia sudah mempunyai kawan bermain
yang dapat melayaninya, yaitu Rara Wilis. Arya Salaka pun menjadi
sangat gembira. Sebab hanya dialah yang mengetahui, walaupun
hanya sedikit, bahwa apa yang dilakukan oleh gurunya beserta
Kebo Kanigara adalah tugas yang berbahaya. Ketika mereka sudah
beristirahat beberapa lama, bertanyalah Kebo Kanigara kepada
anaknya, "Widuri, apakah Panembahan dalam keadaan sehat...?"
Dengan manjanya Widuri menjawab, "Yang aku ketahui,
sepeninggal ayah, Panembahan mengurung dirinya di dalam sanggar
sampai berhari-hari. Tak seorang pun yang diperkenankan ikut
serta. Bahkan makanan pun telah dibawanya sendiri sejak Panembahan
mulai dengan samadinya."
Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tahulah
ia, dan juga Mahesa Jenar tahu, bahwa sebenarnya Panembahan Ismaya
pada saat itu sedang pergi meninggalkan padepokan untuk menyusulnya
ke Pudak Pungkuran, dimana ia bersama-sama dengan Mahesa Jenar
sedang menemui Radite dan Anggara.
"Apakah beliau sekarang masih berada di dalam sanggar?"
tanya Kanigara kemudian.
Widuri menggeleng. Jawabnya, "Sudah hampir seminggu
Panembahan wudhar dari samadinya."
Sambil memandang kepada Mahesa Jenar, Kebo Kanigara berkata,
"Kalau demikian, baiklah kita menghadap."
Mahesa Jenar menyetujuinya pula. Dan ketika mereka sudah melangkah
sampai luar pintu pondok, menyusullah Arya Salaka sambil berbisik,
"Paman, Panembahan agak menyesal ketika aku katakan tentang
kepergian Paman berdua."
Kanigara dan Mahesa Jenar terhenti. Tetapi kemudian mereka berdua
tersenyum.
Jawab Kanigara, "Kami akan mencoba menjelaskan kepada
Panembahan."
"Mudah-mudahan Panembahan dapat mengerti," sahut
Arya Salaka.
"Aku kira demikian," sahut Mahesa Jenar. "Nanti
sesudah kami menghadap, aku beritahukan kepadamu."
Arya Salaka mengangguk, tetapi hatinya masih juga gelisah. Jangan-jangan
Panembahan masih tetap kecewa terhadap gurunya serta Kebo Kanigara.tetapi
ia sudah tidak berani bertanya lagi.
Ketika Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar sampai di rumah kediaman
Panembahan Ismaya, Panembahan tua itu ternyata sedang duduk dihadap
beberapa orang cantrik tertua. Agaknya ada sesuatu yang sedang
mereka perbincangkan. Ketika dilihatnya kedatangan Kabo Kanigara
dan Mahesa Jenar, maka dengan perasaan gembira mereka berdua
disambutnya serta segera dipersilakan masuk.
"Marilah Angger berdua... beberapa hari aku menjadi gelisah
atas kepergianmu berdua. Syukurlah kalau kau berdua tidak menemui
halangan sesuatu."
Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar mengangguk hormat, sebagai
pernyataan bakti mereka kepada Panembahan tua itu.
"Agaknya kalian berdua menjadi gembira karena perjalanan itu...? Ternyata wajah kalian bertambah segar," sambung Panembahan Ismaya.
Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar tidak menjawab. Mereka hanya menundukkan
muka mereka. Sebab tak ada yang akan mereka katakan, karena Panembahan
Ismaya telah mengetahui seluruhnya.
Tetapi tiba-tiba Panembahan Ismaya berkata kepada para cantrik,
"Cantrik-cantrik sekalian... aku perkenankan kalian
meninggalkan ruangan ini. Sediakanlah makan siangku. Aku ingin
setelah ini makan bersama-sama dengan Kanigara dan Mahesa Jenar."
Maka mundurlah para cantrik dari ruangan itu, untuk mempersiapkan
makan siang Panembahan Ismaya.
Sepeninggal para cantrik, barulah Panembahan bertanya segala
sesuatu mengenai perjalanan kembali Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.
Dan kepada Panembahan itu diceritakan pula bagaimana keadaan
Banyubiru sekarang. Kemunduran dalam segala bidang, terutama
kemunduran akhlak.
"Panembahan..." kata Mahesa Jenar kemudian, "Menurut pertimbanganku, segala sesuatu yang terjadi di Banyubiru itu harus segera dihentikan, dengan mengembalikan Arya Salaka ke sana. Atau lebih-lebih kalau mungkin Kakang Gajah Sora."
Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa ditagih
janji, sebab merasa berkesanggupan untuk membebaskan Gajah Sora.
Tetapi untuk melaksanakan kesanggupan itu agaknya tidak terlalu
mudah.
Karena itu ia menjawab, "Kau benar Mahesa Jenar. Bawalah
Arya Salaka lebih dahulu. Aku masih belum dapat membebaskan ayahnya.
Aku harap hal itu segera terjadi. Dan bukankah akan sangat menggembirakan
kalau Gajah Sora nanti dapat kembali ke Banyubiru setelah Banyubiru
dapat dipulihkan...?
Dan apa yang terjadi sebelum itu, seolah-olah hanya suatu peristiwa
dalam mimpi, meskipun mimpi yang menyedihkan."
Mahesa Jenar masih merenungkan masalah-masalah yang akan dihadapinya.
Kalau saja tidak ada persoalan yang lebih besar, yang akan langsung
mempengaruhi pemerintahan Demak, maka cara yang semudah-mudahnya
untuk membebaskan Ki Ageng Gajah Sora adalah menyerahkan kembali
Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Tetapi ternyata cara itu tidak dapat ditempuhnya. Sebab Banyubiru
bagi Demak hanyalah merupakan sebagian saja dari seluruh persoalan.
Namun ia percaya kepada Panembahan Ismaya. Panembahan itu pasti
akan menemukan suatu cara untuk membebaskan Gajah Sora. Dengan
atau tanpa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
427
SYUKURLAH kalau kalau nanti Gajah Sora dapat menjumpai tanah
perdikan sudah pulih kembali, meskipun belum seluruhnya. Tetapi
setidak-tidaknya Gajah Sora merasa bahwa ia kembali ke tanahnya
sendiri, seperti pada saat ditinggalkan.
Kemudian diceritakan pula oleh Mahesa Jenar pertemuannya dengan
Bantaran, salah seorang pemimpin laskar Banyubiru, serta pasukannya
di sekitar Candi Gedong Sanga.
Akhirnya Panembahan Ismaya menyetujui permintaan Mahesa Jenar
untuk mengajak Kanigara serta dalam usahanya mengembalikan Banyubiru
ke dalam tangan Arya Salaka. Sebab tanpa orang-orang yang lebih
tua itu, Arya Salaka tidak akan mampu melakukan pekerjaan berat
itu.
"Tetapi kau jangan terlalu tergesa-gesa, Mahesa Jenar..."
Panembahan Ismaya menasihati, "Sebab apa yang akan
dilakukan oleh Arya Salaka adalah pekerjaan yang sulit. Mula-mula
kau harus berusaha untuk menjelaskan masalahnya tanpa pertumpahan
darah. Kau dapat membawa laskar yang dipimpin Bantaran hanya
untuk membuat keadaan seimbang, supaya keseimbangan itu diperhitungkan
pula oleh Lembu Sora. Sebab apabila ia hanya berhadapan dengan
kalian berdua beserta Arya Salaka, maka mereka pasti akan berkeras
kepala.
Selain daripada itu, kau harus mempersiapkan Arya Salaka untuk
menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi. Lahir dan batin.
Supaya dalam setiap keadaan hatinya tidak terguncang dan kehilangan
keseimbangan."
Demikianlah Mahesa Jenar mendapat banyak sekali bekal yang perlu
baginya untuk memenuhi kesanggupannya kepada Ki Ageng Gajah Sora,
pada saat orang itu pergi meninggalkan Banyubiru, dan menitipkan
anaknya kepadanya.
Setelah makan siang bersama-sama dengan Panembahan Ismaya
dan Kebo Kanigara, maka segera Mahesa Jenar minta diri untuk
beristirahat. Namun demikian ia tidak dapat melepaskan diri dari
persoalan-persoalan yang selalu membelit hatinya, persoalan Banyubiru.
Agaknya Arya Salaka pun hampir tidak sabar menanti Mahesa
Jenar. Ketika ia melihat gurunya itu datang, segera ia bertanya,
apakah Panembahan Ismaya marah kepadanya.
Dengan tersenyum Mahesa Jenar menjawab, "Panembahan
bukanlah orang yang dapat marah. Apakah kau pernah melihat Panembahan
marah?"
Arya menggeleng, tetapi ia menjawab, "Aku selalu cemas bahwa Panembahan akan marah untuk pertama kalinya kepada Paman dan Paman Kanigara."
Mahesa Jenar tertawa kecil. Kemudian sahutnya, "Tidak.
Panembahan tidak marah. Ia hanya memberi aku dan Kakang Kanigara
nasihat. Dan nasihat-nasihat itu akan sangat berguna bagiku dan
Kakang Kanigara."
Sejak saat itu Mahesa Jenar mencoba untuk memberi penjelasan
kepada Arya Salaka untuk melengkapi pengetahuannya tentang keadaan
sebenarnya yang terjadi di Banyubiru. Karena Arya Salaka sekarang
menurut anggapan Mahesa Jenar telah cukup siap untuk mengetahui
segala-galanya, maka Mahesa Jenar kini tidak lagi menyembunyikan
sesuatu.
Juga dijelaskan apa yang sekarang terjadi kalau keadaan yang
demikian dibiarkan berlarut-larut.
Arya Salaka mendengarkan semua penjelasan itu dengan menekan
dada. Ia telah dapat merasakan betapa jeleknya keadaan Banyubiru
sepeninggal ayahnya.
Hampir setiap malam ia duduk bercakap-cakap dengan Mahesa
Jenar, yang kadang-kadang ditemani Kebo Kanigara, Rara Wilis
dan Endang Widuri. Apa yang mereka percakapkan selalu berkisar
pada masalah Banyubiru. Apalagi kalau Wanamerta berkesempatan
untuk ikut serta berbicara. Banyak sekali cerita yang dapat membakar
dada Arya Salaka.
Sebagai orang tertua, yang pada saat Gajah Sora meninggalkan
Banyubiru menerima tanda pemerintahan Pusaka Kyai Bancak, dan
yang selajutnya kehadirannya di Banyubiru oleh Ki Ageng Lembu
Sora sama sekali tidak diperhitungkan, bahkan disingkirkan dengan
satu cara yang keji, ia benar-benar sakit hati.
Disamping semua penjelasan, untuk mempersiapkan Arya Salaka
menghadapi keadaan-keadaan di Tanah Perdikan yang sudah kira-kira
lima tahun ditinggalkan, ia selalu menerima pula tuntunan-tuntunan
lahiriah. Setiap hari ia masih harus berlatih sekeras-kerasnya.
Menambah pengetahuan tata pertempuran dan olah senjata.
Dalam keadaan yang demikian, terasalah betapa perkembangan
jasmaniah Arya Salaka menjadi bertambah cepat setelah orang aneh
yang mengenakan jubah memijiti hampir seluruh tubuhnya pada suatu
malam, setelah ia bertempur melawan Sawung Sariti.
Untunglah bahwa di bukit kecil itu ia mempunyai banyak kawan
berlatih.
Endang Widuri yang memiliki cabang keturunan ilmu yang sama
dengan ilmunya. Rara Wilis dari Perguruan Pandan Alas. Serta
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.
Meskipun sebenarnya Arya Salaka kadang-kadang bertanya di
dalam hati tentang persamaan yang sedemikian dekatnya antara
Kebo Kanigara dengan gurunya, Mahesa Jenar, namun pertanyaan
itu tetap disimpannya. Sejalan dengan itu, kadang-kadang ia menjadi
heran pula, bahwa ilmu gurunya sendiri agaknya menjadi jauh berkembang,
seolah-olah berkembang dengan sendirinya. tetapi juga keheranan
ini disimpannya di dalam hati.
Sudah tentu bahwa dalam keadaan demikian tidak saja Arya Salaka
sendiri yang berhasil memperkuat dirinya lahir-batin, tetapi
juga kawan-kawannya berlatih. Mereka ternyata saling menerima
dan memberi. Ilmu pedang yang luar biasa lincahnya, dari perguruan
Pandan Alas, dalam keserasiannya dengan ilmunya. Sebaliknya,
keteguhan serta gerak-geraknya yang kuat dapat mempengaruhi keterampilan
Rara Wilis. Sedangkan kenakalan Endang Widuri pun kadang-kadang
dapat memberi banyak ilham kepada Arya, sehingga dalam ilmunya
kadang-kadang sifat itu terungkap dalam gerak-gerak yang tampaknya
tidak masuk akal dan kurang berhati-hati, namun sebenarnya mempunyai
segi-segi yang mengelabuhi lawan.
428
KETIKA segala sesuatunya telah dirasa cukup, sampailah Mahesa
Jenar pada taraf terakhir dari pekerjaannya menjelang keberangkatan
mereka ke Banyubiru, yaitu mematangkan jiwa Arya Salaka menghadapi
segala macam kemungkinan. Kemungkinan yang paling menyenangkan
sampai kemungkinan terakhir yang dapat saja terjadi. Yaitu gugur
dalam menunaikan kewajiban sucinya.
Tetapi jiwa Arya memang sudah mendapat tempaan yang luar biasa
sejak bertahun-tahun terakhir. Kesulitan hidup yang hampir setiap
hari dijalani, sulit lahir-batin, adalah bekal yang baik dalam
pekerjaannya itu. Disamping itu, Mahesa Jenar tidak pula lupa
menunjukkan, bahwa apa yang akan dilakukan itu adalah suatu usaha.
Usaha yang wajib diperjuangkan oleh manusia untuk mencapai cita-citanya,
namun segala keputusan terakhir dari semua masalah, terletak
ditangan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Demikianlah, akhirnya Mahesa Jenar menyampaikan segala macam
persiapan dan anggapannya, bahwa segala sesuatunya sudah cukup,
kepada Panembahan Ismaya. Bersamaan dengan itu, ia mohon diri
bersama muridnya untuk menunaikan kewajibannya, serta sekali
lagi ia mohon kepada Panembahan untuk mengizinkan Kebo Kanigara
pergi bersamanya.
Panembahan Ismaya memandang Mahesa Jenar dengan hampir tak berkedip.
Ini adalah suatu masalah yang paling rumit, yang selalu tumbuh
hampir setiap saat. Alangkah menyedihkan, bahwa seseorang melakukan
persiapan sampai seteliti-telitinya untuk melakukan tindakan
kekerasan.
Padahal, seharusnya setiap bentuk kekerasan pasti harus ditentang.
Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan kenyataan, bahwa diantara
anak manusia di dunia ini masih saja ada yang sama sekali tidak
menghiraukan kemanusiaannya, yang dengan segala macam cara, menindas
manusia-manusia yang lain.
Dan terhadap manusia-manusia yang demikian itu, wajarlah bahwa ada usaha-usaha untuk mencegahnya. Usaha terakhir pencegahan itu adalah dengan cara yang sama sekali menyimpang dari tuntutan cinta kasih manusia. Sebab kadang-kadang yang harus dilakukan adalah nampaknya berlawanan dengan ungkapan cinta kasih itu sendiri. Yaitu kekerasan, perkelahian dan bahkan kadang-kadang persoalan hidup dan mati.
Karena persoalan-persoalan yang sedemikian itulah, maka selalu timbul pertentangan di dalam diri. Pertentangan antara hakekat dari pengabdian diri terhadap manusia sebagai tempat untuk meletakkan pengabdian yang tertinggi dengan penuh cinta kasih sebagaimana Tuhan melimpahkan cinta kasihnya kepada manusia, serta kenyataan bahwa manusia itu sendiri telah menodainya.
Di sinilah kadang-kadang dijumpainya persimpangan jalan antara
tujuan dengan cara pengabdian. Namun demikian bukanlah segala
cara dapat dibenarkan untuk mencapai tujuan. Sebab dalam hal
yang demikian kaburlah batas antara tujuan yang hendak dicapai
dengan mengorbankan tujuan itu sendiri, sebagai puncak pengabdian.
Dalam hal yang demikian itu, apabila segala macam cara dapat
dibenarkan, maka akan timbullah fitnah, kebiadaban, kekejaman
dan kesewenang-wenangan, yang justru menghilangkan nilai tertinggi
dan tujuannya, yaitu manusia.
Terhadap Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, Panembahan Ismaya
tidak tedheng aling-aling. Dan karena itulah maka Panembahan
Ismaya sendiri masih mempergunakan dua bentuk selama ini. Orang
berjubah abu-abu yang sakti dan seorang Panembahan yang menjauhkan
diri dari daerah keduniawian.
Mendengar uraian itu Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar hanya dapat
menundukkan wajah mereka dengan takzimnya. Namun didalam dada
mereka bergolaklah pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan.
Pertanyaan tentang diri mereka, tentang Arya Salaka yang terusir
dari Banyubiru, dan tentang hak yang sudah terampas dari tangannya.
Namun meskipun pertanyaan itu tidak terucapkan, agaknya Panembahan Ismaya dapat mengertinya. Karena itu katanya, "Karena itu Mahesa Jenar, kau harus dapat mencari keserasian dari cara dan tujuan pengabdian. Dan dari sinilah nanti akan tampak, bahwa seseorang memiliki ketinggian budi yang tidak sama. Ada orang yang berbudi luhur dan berjiwa besar dan ada orang yang berbudi rendah dan berjiwa kecil.
Ada orang yang mengumandangkan nilai-nilai kemanusiaan, namun akan seribu satu macam semboyan, tetapi nilai-nilai kemanusiaan itu tercermin dalam tindak tanduknya sehari-hari. Seorang yang menganggap dirinya pendukung nilai-nilai kemanusiaan, tetapi ia mengorbankan manusia untuk mempertahankan kepentingan diri sendiri yang dipancangkannya di atas tumpukan bangkai-bangkai.
Namun sebaliknya ada orang yang dengan berdiam diri membangun
nilai-nilai itu dalam lingkungan yang jauh dari pamrih untuk
mencemerlangkan diri.
429
SETELAH berhenti sejenak, Panembahan Ismaya meneruskan, "Karena itulah Mahesa Jenar, aku tidak dapat mencegah Arya Salaka untuk mengambil haknya kembali. Untuk mengambil kekuasaan yang ada di Banyubiru dari tangan adik atau pamannya. Sedang kekuasaan itu sendiri bukanlah hal yang selalu baik atau tidak baik. Hampir semua orang di dunia ini menginginkan kekuasaan. Dalam bentuk yang besar atau dalam ujud yang lebih kecil serta dalam lingkungan yang kecil pula.
Namun yang harus dinilai kemudian adalah bagaimana kekuasaan
itu dipergunakan."
Kemudian Panembahan Ismaya meneruskan lagi, "Akhirnya, bahwa manusia yang mempunyai kekuasaan itulah, yang menentukan bentuk dari kekuasaan yang berada di dalam tangannya. Apakah ia mengabdikan kekuasaan itu untuk nilai-nilai kemanusiaan ataukah dengan kekuasaannya ia justru menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan itu."
Setelah berhenti sejenak, Panembahan kembali berkata, "Mahesa Jenar, aku harap kau dapat memahaminya. Selanjutnya aku mengharap, bahwa Arya Salaka akan dapat mendengarnya pula darimu. Karena kau adalah gurunya, maka aku kira kaulah orang paling dekat di hatinya. Kaulah yang akan dapat memberitahukan kepadanya, bahwa kekuasaan yang berada kembali ditangannya nanti harus menemukan titik sasaran yang benar. Seperti tombak lambang kebesaran Banyubiru yang dibawanya itu.
Tombak itu dapat dipergunakannya untuk melindungi diri serta orang lain. Namun tombak itu di tangan orang yang tidak bertanggungjawab dapat dipergunakan untuk membunuh kawan seiring. Nah Mahesa Jenar, pergilah. Ingat, pengabdianmu harus kau tujukan kepada manusia. Tidak kepada kedudukan, harta benda dan nafsu. Dan pengabdianmu itu merupakan unsure terpenting dari kebaktianmu yang tertinggi. Bakti dengan tulus ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa."
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menundukkan wajahnya semakin dalam. Tak ada satu patah kata pun yang sisip dari hatinya, dari pendiriannya. Memang demikianlah tujuan pengabdian yang selama ditempuhnya. Karena itu, setiap kata yang diucapkan oleh Panembahan Ismaya itu telah mempertebal keyakinannya. Di dalam hati ia berjanji untuk menuangkan pengertiannya itu sejauh-jauhnya kepada Arya Salaka. Sebab di tangan Arya Salakalah letak kekuasaan Banyubiru di masa datang.
Rombongan itu mula-mula singgah di Gedangan untuk mendapat pinjaman kuda, disamping mereka memenuhi undangan Wiradapa untuk mengunjungi upacara bersih desa. Upacara yang diselenggarakan setiap para penduduk Gedangan selesai dengan musim menuai padi. Demikian pula kali ini. Mereka bersuka ria karena panenan mereka berhasil.
Pada malam itu, ketika rombongan Mahesa Jenar bermalam di
Gedangan, suasana desa itu benar-benar meriah. Mereka menyelenggarakan
peralatan bersama di sebuah tanah lapang kecil di tengah-tengah
desa mereka. Setiap keluarga datang dengan membawa ancak berisi
berbagai macam makanan. Nasi beserta lauk-pauknya dan bermacam-macam
jenis masakan yang lain. Bahkan ada yang membawa jodhang penuh
dengan masakan yang enak.
Makanan juadah, jenang alot, tasikan, sagon, lapis dan sebagainya.
Maka apabila upacara-upacara adat telah selesai, maka segera makanan mereka itu dibagi bersama-sama dan dimakan bersama-sama pula. Demikianlah, peralatan itu benar-benar merupakan peralatan yang meriah. Sedangkan hampir seluruh desa mereka dihiasi dengan janur-janur kuning yang mereka sangkutkan di setiap regol halaman. Dan di hadapan regol desa mereka letakkan hiasan yang termeriah, dengan janur-janur kuning, daun topengan dan daun-daun yang berwarna-warni. Merah, kuning, hijau dan berbelang-belang. Demikian pula dinding yang melingkari desa mereka serta sepanjang dinding halaman rumah-rumah, terpancang berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus oncor yang menjadikan desa mereka terang-benderang seolah-olah siang.
Anak-anak Gedangan pun mendapat bagian pula. Semalam suntuk mereka tidak tidur. Setelah mereka lelah berlari-larian kesana kemari, mereka dapat menikmati pertunjukan wayang beber. Pertunjukan yang mengisahkan kepahlawanan, yang dipetik dari ceritera Mahabarata.
Demikianlah rombongan kecil Mahesa Jenar dapat ikut pula menikmati kemeriahan malam bersih desa di Gedangan itu. Mereka ikut serta bergembira bersama-sama penduduk Gedangan dan kemudian ikut serta dengan mereka mengunjungi pertemuan di pendapa Kelurahan serta menikmati upacara tari-tarian sebagai pernyataan terima kasih pula atas panenan mereka yang berhasil.
Tetapi dalam pada itu, Arya Salaka menjadi semakin trenyuh di dalam hati. Teringatlah segala kemeriahan upacara di Tanah Perdikan Banyubiru pada masa kecilnya. Pada masa ayahnya masih memimpin tanah itu. Dan karena itulah tekadnya menjadi semakin bulat. Ia harus mendapatkan kembali tanah itu. Ia berjanji di dalam hatinya, apabila ia harus mewakili ayahnya dalam pemerintahan tanah perdikan itu, yang dilakukannya harus menguntungkan rakyatnya. Membina kembali Banyubiru dalam segala seginya. Dan ia harus dapat menjadikan Banyubiru sebagai idaman ayahnya. Menjadikan Banyubiru gemah ripah lohjinawi kertaraharja. Dimana setiap orang dapat menikmati kesuburan tanah kampung halamannya, dimana setiap orang dapat menikmati cerahnya matahari dan bulatnya bulan di malam hari. Menikmati ketenteraman hidup dan tanpa kegelisahan menjelang hari tuanya. Cukup sandang, cukup pangan. Sejahtera lahir dan batin.
Setelah mereka bermalam dua malam di Gedangan, rombongan kecil
itu melanjutkan perjalanan. Mereka diantar oleh hampir segenap
penduduk Gedangan sampai ke regol desa mereka. Dengan penuh kebanggaan
mereka memandang debu yang mengepul dilemparkan oleh derap kaki-kaki
kuda yang berlari seenaknya. Seolah-olah mereka melihat rombongan
pasukan berkuda yang tak terkalahkan menuju ke medan pertempuran.
430
SETELAH Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan rombongannya bermalam satu malam, maka pada hari berikutnya ketika matahari telah condong ke barat, sampailah mereka di daerah pegunungan Sumawana. Suatu daerah pegunungan yang menurut dongeng rakyat, adalah pegunungan dimana Prabu Dasamuka ditimbun dengan tanah oleh Pahlawan Kera yang berbulu putih, Hanoman. Karena kepercayaan itulah maka di daerah pegunungan itu, tidak diperkenankan membawa tuak atau semacam minuman keras yang lain. Sebab apabila ada orang yang melanggar pantangan itu, Prabu Dasamuka, yang tidak dapat mati, akan menggeram dan mengguncang-guncang gunung yang menimbuninya, sebab tuak adalah jenis minuman yang sangat digemarinya.
Rakyat yang hidup di daerah itu, meskipun sangat jarang, tidak pernah takut seandainya Prabu Dasamuka itu dapat menjebol tanah yang menimbuninya. Sebab di dekatnya adalah bukit yang terkenal bernama Kendalisada. Di bukit itulah Hanoman bertapa dan sekaligus menunggui gunung yang dipakainya untuk menimbun tubuh Prabu Dasamuka.
Ketika rombongan kecil itu sampai di sekitar bukit Sumawana, mereka menghentikan perjalanan mereka. Daerah ini sudah dekat benar dengan daerah Candi Gedong Sanga. Karena itu mereka harus berhati-hati. Sebab apabila ada salah paham, mungkin akan menimbulkan hal-hal yang tidak mereka kehendaki. Karena itu mereka tidak maju lagi, tetapi mereka bermaksud bermalam di daerah itu.
Pada malam itulah Mahesa Jenar berhasrat memancing orang-orang Banyubiru yang bersembunyi di sekitar daerah itu dibawah pimpinan Bantaran dan Penjawi. Karena itu, maka ketika malam telah turun dengan kelamnya, segera Mahesa Jenar menyalakan api sebesar-besarnya. Ia yakin bahwa laskar Pamingit tidak akan sampai berkeliaran sedemikian jauhnya, apalagi mereka mengerti bahwa sebagian laskar Bantaran dan Penjawi ada di sekitar daerah Banyubiru.
Dan apa yang diharapkan terjadilah. Ketika mereka sedang menikmati jadah sisa bekal mereka dari Gedangan yang mereka panggang di atas api, tiba-tiba terdengarlah gemersik daun-daun di sekitarnya. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan hampir semua orang dalam rombongan itu mengetahuinya, namun mereka masih berpura-pura tidak mendengarnya.
Sebentar kemudian terdengarlah beberapa orang berloncatan
dengan senjata di tangan.
Dengan lantangnya seorang yang memimpin laskar itu berkata, "Ki
Sanak, aku harap Ki Sanak tidak melawan. Kami tidak ingin berbuat
jahat, tetapi kami ingin mengetahui siapakah kalian."
Mahesa Jenar mengangkat mukanya. Ia sama sekali tidak berkata
apa-apa.
Sambil tersenyum ia mengangkat tangannya menunjuk Wanamerta yang
duduk di sudut perapian sambil membenamkan dirinya di dalam kainnya.
Ketika orang itu melihat Wanamerta, tiba-tiba wajahnya jadi
tegang.
Untuk beberapa saat ia bahkan berdiam diri seperti patung,
tetapi tiba-tiba ia meloncat dan berjongkok di hadapannya sambil
berteriak, "Kiai, adakah benar ini Kiai Wanamerta."
Orang tua itu tersenyum. Tersenyum lucu sekali. Tetapi semua orang yang menyaksikannya menjadi ikut terharu ketika di sela-sela senyumnya tampak diantara pelupuk mata orang tua itu membayang butiran-butiran air mata.
Serta dengan suara parau ia menjawab, "Ya, inilah
Wanamerta yang tua. Bukankah kau Jaladri?"
"Ya," sahut pemimpin laskar itu. "Bagaimanakah
Kiai dapat sampai di tempat ini?"
"Hemm...." desis Wanamerta, lalu katanya,
"Kenalkah kau dengan Anakmas Mahesa Jenar?"