NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
No. 421
BANTARAN menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba
menebak, siapakah orang yang telah mencoba menyelamatkan dirinya itu. Tetapi
tiba-tiba ia menjadi cemas atas keselamatan orang itu. Dua orang pemimpin
rombongan orang-orang Pamingit itu bukanlah orang yang dapat diajak berbicara.
Mereka adalah Temu Ireng dan Talang Semut. Dua orang yang lebih suka
mempergunakan tangannya daripada mulutnya. Apalagi pengakuan orang itu hanya
akan mendatangkan bencana saja baginya. Sebab orang yang bernamaTemu Ireng dan
Talang Semut itu telah mengenal siapakah orang yang bernama Bantaran, sehingga
pengorbanannya akan menjadi sia-sia. Sebab akhirnya mereka masih akan mencari
orang yang dikehendakinya. Karena itu Bantaran ingin meloncat maju untuk
mencegah pengorbanan yang dianggapnya akan sia-sia saja.
Tetapi ketika ia sudah bersiap untuk meloncat dan berteriak, tiba-tiba seseorang
menggamitnya. Ketika ia menoleh, ia terperanjat bukan kepalang, sampai ia
tergeser dari tempatnya. Demikian terperanjatnya Bantaran, sampai beberapa saat
ia tak dapat berkata-kata.
Baru setelah debar jantungnya berkurang, terdengarlah ia berdesis, ”Tuan...
Bukankah Tuan....”
”Ssst... jangan kau sebut nama itu,” potong orang yang menggamitnya.
Bantaran mengangguk angguk cepat. Namun ia masih agak bingung menanggapi
kehadiran orang yang sama sekali tak disangka-sangka itu.
”Tuan...” sambungnya
sambil tergagap, ”Kenapa Tuan tiba-tiba saja berada di tempat ini...?”
Orang itu, yang tak lain adalah Mahesa Jenar, tersenyum lebar. ”Bantaran...
ketika sepuluh orang berkuda itu datang, kau agaknya tetap tenang. Tetapi ketika
kau lihat aku, kau menjadi kebingungan.”
Bantaran mencoba memperbaiki jalan nafasnya sambil menjawab, ”Sebab bagiku
kehadiran Tuan lebih berkesan di hati, daripada monyet-monyet dari Pamingit itu.”
Sekali lagi Mahesa Jenar tertawa kecil. Kemudian katanya memperingatkan Bantaran
pada keadaannya kini, ”Apalagi orang-orang Pamingit itu akan menangkap kau.”
Bantaran tersadar akan bahaya yang mengancam. Tetapi bersamaan dengan itu
kembali ia teringat kepada orang aneh yang mengaku dirinya Bantaran itu.
Karena di sampingnya sekarang ada Mahesa Jenar maka disampaikannya keheranannya
itu kepadanya. ”Tuan, aku menjadi heran, ketika seseorang mengaku bernama
Bantaran, dan dengan beraninya menghadapi Temu Ireng.”
Mahesa Jenar dan Bantaran bersama-sama mengangkat wajah, memandang ke arah orang
yang menamakan dirinya Bantaran, yang sekarang telah dekat benar dengan Temu
Ireng dan Talang Semut.
Dalam pada itu terdengar Bantaran meneruskan, ”Agaknya orang itu belum
mengenal siapakah mereka berdua, ditambah dengan delapan orang lainnya.”
”Jangan risaukan orang itu,” sahut Mahesa Jenar.
Bantara menoleh sambil mengerutkan keningnya. ”Kenalkah Tuan dengan orang itu?”
Mahesa Jenar mengangguk, tetapi ia masih tetap memandang kepada orang yang
menamakan diri Bantaran, yang sekarang sudah berdiri tepat di hadapan Temu Ireng.
”Siapakah dia...?” desak Bantaran.
”Paman guruku,” jawab Mahesa Jenar singkat.
”O....” Suara Bantaran seolah-olah terpotong di kerongkongan. Baru
kemudian ia meneruskan, ”Alangkah bodohnya aku. Kalau demikian sepuluh orang
itu sama sekali tidak akan berarti.”
Mahesa Jenar tidak sempat memperhatikan kata-kata Bantaran, sebab pada saat itu
ia melihat Temu Ireng melangkah maju. Kemudian terdengarlah suaranya mengguntur,
”Kaukah yang bernama
Bantaran...?”
Orang yang bediri di hadapannya, yang sebenarnya adalah Kebo Kanigara, menjawab
dengan tenangnya, ”Ya, akulah Bantaran.”
Sekali lagi temu Ireng memandang orang yang berdiri di hadapannya itu tanpa
berkedip. Kemudian terdengarlah ia tertawa terbahak-bahak, tertawa untuk
menegaskan kemarahannya yang hampir memecahkan dadanya. Dan ketika suara tertawa
itu tiba-tiba terhenti, terdengarlah ia berkata dengan kerasnya kepada kawannya
yang masih berada di atas kudanya. ”Hai... Adi Talang Semut, agaknya mataku
telah rusak. Coba katakan kepadaku, adakah orang ini Bantaran...?”
Orang-orang yang berada di tanah lapang itu hatinya menjadi tegang.
Mereka sama sekali belum pernah mengenal orang
aneh yang mengumpankan dirinya itu. Tetapi disamping itu, orang-orang yang
mula-mula mengumpati Bantaran di dalam hati, menjadi malu. Kalau orang yang
belum mereka kenal saja bersedia melindungi pemimpin Banyubiru itu, bukankah
kewajiban orang Banyubiru sendiri untuk berbuat lebih banyak lagi?
Dalam pada itu Talang Semut tidak kalah marahnya. Ia mendorong kudanya maju
mendekati Kebo Kanigara. Semakin dekat ia dengan Kanigara, semakin teganglah
setiap wajah yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pula kalah tegangnya wajah
Bantaran.
Bahkan sampai ia menggigit bibirnya sendiri. Talang Semut ternyata tidak
menjawab pertanyaan Temu Ireng dengan kata-kata. Sedemikian marahnya ia, karena
ia merasa dipermainkan oleh orang yang belum dikenalnya, yang disangkannya juga
orang Banyubiru yang ingin melindungi pemimpinnya, sehingga Talang Semut merasa
tidak perlu bertanya-tanya lagi. Maka ketika kudanya telah dekat benar dengan
tubuh Kebo Kanigara, diangkatnya cambuknya tinggi-tinggi sambil menggeram keras.
Cambuk itu sekali menggeletar di udara, dan seterusnya dengan derasnya menyambar
tengkuk Kebo Kanigara. Hampir semua orang yang menyaksikan peristiwa itu
seakan-akan berhenti bernafas.
422
TALANG SEMUT bagi orang Banyubiru tak ubahnya
seperti hantu peminum darah. Sekali ia turun tangan, maka hampir dapat
dipastikan bahwa korbannya tak akan dapat lagi melihat matahari terbit.
Demikianlah mereka menyangka bahwa orang yang mengaku bernama Bantaran itu akan
menjadi korban kemarahan Talang Semut.
Tetapi sekejap kemudian, dada mereka terguncang menyaksikan akibat perbuatan
Talang Semut. Bahkan beberapa orang menjadi tak begitu percaya kepada mata
mereka. Sebab apa yang mereka saksikan sama sekali diluar dugaan mereka.
Ketika cambuk itu melayang ke arah tubuhnya, Kebo Kanigara meloncat dengan
tangkasnya, menangkap tangkai cambuk itu. Dengan keras sekali ia menariknya.
Tetapi agaknya Talang Semut memegang cambuk itu sedemikian eratnya, sehingga
cambuk itu tak terlepas dari tangannya. Tetapi ternyata kekuatan Talang Semut
bukanlah tandingan Kebo Kanigara, sehingga ketika Kanigara menariknya lebih
keras lagi, tubuh Talang Semut-lah yang ikut terseret dari kudanya.
Karena Talang Semut tidak menduga, maka untuk sesaat ia kehilangan akal.
Ketika ia sadar, tangan Kebo Kanigara telah memegang bagian depan bajunya
sedemikian erat, dan sebuah pukulan melayang tepat ke arah pelipisnya. Semuanya
itu berlangsung sedemikian cepatnya sehingga Talang Semut tidak mempunyai
kesempatan sama sekali untuk membela diri. Yang terjadi kemudian adalah
pelipisnya seolah-olah membentur dinding baja. Begitu kerasnya sehingga
tiba-tiba saja matanya menjadi berkunang-kunang. Sesaat kemudian ia sama sekali
tidak sadarkan diri, dan tubuhnya yang sudah tak berdaya itu jatuh terkulai di
tanah.
Pingsan.
Temu Ireng melihat peristiwa itu terjadi di depan hidungnya. tetapi ia
seolah-olah terpukau oleh suatu kekuatan gaib. Bermimpi pun ia tidak. Bahwa ada
orang yang dapat sedemikian mudahnya mengalahkan Talang Semut. Yang pernah
didengar Temu Ireng adalah, orang yang paling sakti di Banyubiru adalah Ki Ageng
Sora Dipayana. Dan orang yang telah melakukan suatu keajaiban itu adalah seorang
yang masih terhitung muda.
Tiba-tiba Temu Ireng sampai pada suatu kesimpulan bahwa hal itu terjadi atas
kesalahan Talang Semut sendiri. Sebab agaknya ia kurang berhati-hati. Dengan
demikian ia kehilangan kesiagaan diri. Karena itulah kemudian dengan menggeram
Temu Ireng mencabut goloknya, dan dengan berteriak keras ia langsung menyerang
Kebo Kanigara.
Dalam pada itu Dadahan beserta kawan-kawannya telah menyaksikan bagaimana Talang
Semut dijatuhkan oleh orang yang mengaku bernama Bantaran. Karena itu mereka
tidak mau membiarkan Temu Ireng bertempur seorang diri. Dengan demikian mereka
beramai-ramai menyerang Kebo Kanigara.
Namun Kebo Kanigara adalah seorang yang hampir sempurna dalam ilmunya. Ilmu tata
berkelahi dari keturunan ilmu perguruan Pengging. Karena itu, meskipun kemudian
empat orang menyerangnya bersama-sama dari atas punggung kuda, namun ia sama
sekali tidak gugup. Bahkan kemudian dengan lincahnya ia menyambut setiap
serangan yang datang.
Dengan demikian, terjadilah suatu pertempuran yang ribut. Empat orang berkuda
bertempur melawan seorang yang meloncat-loncat dengan lincahnya diantara derap
kaki kuda. Bahkan kemudian keempat penunggang kuda itu kadang-kadang menjadi
bingung, karena kuda-kuda mereka saling melanggar.
Sesekali kalau Kebo Kanigara sempat, ditusukkanlah jari-jarinya yang kuat itu ke
perut salah satu kuda yang bersimpang-siur di sekitarnya, sehingga dengan
terkejut kuda itu meringkik dan melonjak-lonjak.
Beberapa penunggang kuda yang lain masih berusaha untuk dapat mengawasi seluruh
tanah lapang, supaya orang yang sesungguhnya dicari tidak melepaskan diri. Namun
dalam pertempuran itu, orang-orang yang berada di tanah lapang menjadi kacau
balau. Mereka berlarian kesana kemari tak tentu tujuan, menghindarkan diri dari
kemungkinan terinjak oleh kaki-kaki kuda yang seolah-olah menjadi liar.
Dalam keadaan yang demikian itulah Mahesa Jenar berbisik kepada Bantaran, ”Bantaran...
masih adakah keluarga Penjawi yang lain yang perlu diselamatkan dari kemarahan
orang Pamingit kelak, atau barangkali keluargamu sendiri...?”
”Keluargaku... tidak Tuan. Mereka semua telah mengungsikan diri. Sedang keluarga
Penjawi pun sudah tidak ada, kecuali seorang kakek, ayah Nyi Penjawi itu,”
sahut Bantaran.
”Nah, kalau demikian, pergilah kepada kakek itu,” sambung Mahesa Jenar,
”Supaya ia tidak memikul tanggungjawab atas peristiwa ini. Sebab mungkin
besok atau lusa, Saraban benar-benar menjadi gila. Juga orang-orang yang menjadi
malu atas kekalahannya dari Paman Guru itu.”
Bantaran mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, ”Lalu bagaimanakah
dengan Tuan dan Nyi Penjawi...?”
”Tinggalkan Nyi Penjawi ini padaku,” jawab Mahesa Jenar. ”Nanti kita
dapat bertemu di tepi Sendang Putih. Kuda kami, kami tinggalkan di sana.”
Sekali lagi Bantaran mengangguk.
Disamping itu...” lanjut Mahesa Jenar, ”Aku ingin mendapat keterangan
darimu tentang pasukan-pasukan yang telah kau persiapkan bersama-sama dengan
Penjawi. Mungkin sebentar lagi kita memerlukannya.”
”Baiklah Tuan,” sahut Bantaran.
”Hati-hatilah,” bisik Mahesa Jenar kemudian. ”Aku harap kita dapat
bertemu sebelum fajar.”
Setelah berpesan kepada Nyi Penjawi, untuk mengikuti segala petunjuk Mahesa
Jenar, Bantaran kemudian ikut serta menghanyutkan diri dalam kekacauan yang
terjadi. Demikian pula Mahesa Jenar, dengan menggandeng Nyi Penjawi, berusaha
mencari kesempatan untuk melepaskan diri dari daerah tanah lapang yang terkutuk
itu.
No. 423
USAHA Mahesa Jenar itu tidaklah terlalu sukar.
Dalam puncak kekacauan, kelima orang berkuda yang berusaha mengawasi orang-orang
di tanah lapang itu ternyata tidak dapat menguasai keadaan. Ditambah dengan
usaha Kebo Kanigara menyeret titik pertempuran itu semakin ke tengah, sehingga
keadaan menjadi semakin kacau. Akhirnya beberapa orang berbondong-bondong
berlarian meninggalkan lapangan itu tanpa menghiraukan apapun juga.
Meskipun kelima orang Pamingit itu berusaha untuk tetap menahan orang-orang itu
di lapangan, namun usaha mereka tidak berhasil. Bahkan akhirnya mereka terpaksa
melepaskan orang-orang berlarian kesana kemari, karena kuda-kuda mereka
seolah-olah menjadi gila di kejutkan oleh teriakan-teriakan orang-orang yang
ketakutan.
Sesaat kemudian, lapangan itu telah menjadi kosong, kecuali Kebo Kanigara yang
masih harus bertempur melawan orang-orang berkuda dari Pamingit itu. Apalagi
kini kelima orang yang lain, yang tidak berhasil menahan orang-orang Banyubiru
di lapangan, ingin menumpahkan kemarahan mereka kepada orang yang menamakan
dirinya Bantaran. Sebab orang itulah sumber dari kekacauan dan kegagalan mereka
menangkap Bantaran.
Dalam pada itu, Kebo Kanigara merasa bahwa tugasnya telah selesai. Ia yakin
bahwa Bantaran dan Mahesa Jenar telah berhasil menyelamatkan Nyi Penjawi. Karena
itu ia harus segera mengakhiri pertempuran. Demikianlah Kebo Kanigara mulai
bertempur dengan sepenuh tenaga. Ia tidak saja menghindari serangan-serangan
orang Pamingit itu, tetapi iapun telah mulai menyerang mereka. Ketika seekor
kuda dengan penunggangnya yang garang bersenjata sebilah pedang yang gemerlapan
menyerangnya, Kebo Kanigara tidak saja menghindari serangannya, tetapi tiba-tiba
iapun meloncat keatas punggung kuda itu. Lawan-lawannya yang menyaksikan
perbuatannya menjadi heran, bahkan menjadi kebingungan untuk beberapa saat,
lebih-lebih penunggang itu sendiri. Ketika ia masih belum sadar, terasalah
sebuah pukulan yang dahsat mengenai tengkuknya. Sesudah itu, tubuhnya dengan
kerasnya terlempar dari punggung kudanya dan seterusnya tak sadarkan diri.
Sedang pedangnya yang gemerlapan kini telah berada di tangan Kebo Kanigara.
Maka mulailah Kebo Kanigara bertempur melawan delapan orang, tetapi kini dengan
pedang ditangan. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka Kebo
Kanigara selalu dapat menempatkan dirinya pada keadaan yang menguntungkan.
Dengan tangan kiri memegang kendali kuda, sedang dengan tangan kanan ia
mengayun-ayunkan pedangnya berputar-putar dahsyat. Ia dapat mempergunakan hampir
seluruh tanah lapang itu sebaik-baiknya. Sekali-sekali ia melarikan kudanya
menjauhi lawan-lawannya. Kemudian dengan tangkasnya ia memutar kudanya
cepat-cepat untuk menghadapi lawannya yang paling depan.
Dengan demikian ia dapat memancing pertempuran
melawan orang-orang Pamingit itu hampir satu persatu. Dan satu persatu pula
mereka dapat dirobohkan. Pedang ditangannya itu seolah-olah merupakan patuk
seekor burung garuda yang bertempur melawan delapan ekor serigala.
Sekali-sekali garuda itu terbang tinggi, kemudian menukik cepat, dan dengan
paruhnya yang runcing tajam, dibinasakannya serigala itu satu persatu.
Demikianlah akhirnya pedang Kanigara itu telah berhasil melukai orang kelima
dipundak kanannya. Demikian hebat luka itu, sehingga akhirnya seperti keempat
orang yang lain, orang itu jatuh tersungkur ditanah, dengan tubuh lemas tak
berdaya.
Kini tinggallah tiga orang lagi. Tentu saja ketiga orang itu mengerti bahwa
lawannya bukanlah manusia setingkat mereka. Kalau semula mereka, delapan orang,
tidak mampu mengalahkannya, apalagi kini tinggal 3 orang lagi. Bagaimanapun juga
beraninya orang-orang Pamingit itu, namun mereka harus melihat suatu kenyataan,
bahwa mereka bertiga tidak akan mungkin memenangkan pertempuran itu.
Karena itu selagi nyawa mereka masih tinggal didalam tubuh, serta selagi darah
mereka masih belum tertumpah, maka tidak ada cara lain yang lebih baik daripada
menghindarkan diri dari tanah lapang itu secepat-cepatnya.
Untunglah kalau mereka sempat datang kembali dengan membawa bantuan. Syukurlah
kalau Sawung Sariti atau lebih-lebih Ki Ageng Lembu Sora sendiri, yang kebetulan
sedang berada di Banyubiru dapat menyaksikan ketangkasan orang itu.
Maka setelah mereka masing-masing berpikir dan mengambil suatu keputusan, yang
seolah-olah diatur bersama, maka ketika salah seorang daripadanya memutar
kudanya dari tanah lapang itu sambil memperingatkan kawan-kawannya, bahwa lebih
baik menyelamatkan diri serta membawa bantuan lebih banyak lagi, segera
menghamburlah ketiga ekor kuda itu dengan penunggangnya meninggalkan Kebo
Kanigara secepat mungkin.
Kebo Kanigara memandang ketiga orang yang meninggalkan gelanggang itu sambil
mengusap peluhnya. Kemudian matanya berkisar dari satu tubuh ketubuh yang lain,
yang masih terkapar ditanah lapang itu. Ia mengharap agar kemudian kawan-kawan
mereka segera datang dan merawat luka-luka mereka. Sebab Kebo Kanigara sama
sekali tidak bermaksud membunuh mereka semua. Kalau diantara terpaksa ada yang
menghembuskan napas penghabisan, itu adalah diluar kemauannya. Sebab dalam
bermain dengan air, pastilah ada diantaranya yang terpercik dan menjadi basah
karenanya.
Setelah itu, segera Kebo Kanigara teringat kepada Mahesa Jenar dan Bantaran.
Dengan Mahesa Jenar ia berjanji untuk segera kembali ketempat kuda-kuda mereka
tertambat. Karena itu sebelum keadaan menjadi lebih buruk, segera Kebo Kanigara
meloncat dari kudanya, dan berlari lewat jalan semula, pergi ke Sendang Putih.
Ia terpaksa menyusur jalan-jalan sempit dan halaman-halaman kosong seperti yang
dilaluinya semula, karena ia tidak mengenal daerah dan jalan-jalan lain di
Banyubiru.
Tetapi dengan demikian, beruntunglah ia, karena sesaat kemudian lamat-lamat ia
mendengar derap kuda, jauh lebih banyak dari semula, menuju ketanah lapang
dimana ia baru saja bertempur. Karena itulah ia segera mempercepat larinya
supaya tidak terkejar oleh orang-orang yang pasti akan mencarinya.
424
NAGASASRA DAN SABUK INTEN
Karya SH. Mintarja
No. 424
KANIGARA menyusup ke semak-semak, mengambil jalan
yang memotong. Ia menjadi agak lega dan memperlambat larinya. Apalagi ia
terpaksa berusaha mengenal kembali jalan setapak yang dilaluinya itu, supaya ia
tidak tersesat. Beberapa lama kemudian sampailah ia di tempat mereka berjanji
untuk bertemu.
Di situ telah menanti Mahesa Jenar, Bantaran, Nyi Penjawi dan seorang kakek tua
ayah Nyi Penjawi.
Dengan tersenyum Mahesa Jenar menyambut kedatangan Kebo Kanigara, katanya,
”Sudah puaskah Kakang bermain-main dengan orang Pamingit?”
Sambil duduk di samping Mahesa Jenar, Kanigara menjawab sambil tersenyum pula,
”Mereka adalah kawan bermain yang baik. Orang-orang Pamingit itu ternyata
ahli menunggang kuda.”
Dengan tersenyum pula Mahesa Jenar menjawab, ”Sayang mereka tidak dapat
bermain-main dengan senjata sebaik mereka naik kuda.”
Kemudian dengan lesu Kanigara berkata seperti kepada diri sendiri, ”Aku
terpaksa melukai beberapa orang diantaranya. Sebab aku tidak dapat bermain-main
dengan senjata sebaik diantara mereka yang terbunuh.”
Mahesa Jenar sama sekali tidak menyahut. Ia tahu betul perasaan Kebo Kanigara,
bahwa bukanlah pada tempatnya, dalam keadaan yang demikian, dimana ia tidak
mempunyai persoalan langsung dengan orang-orang Pamingit itu, tangannya terpaksa
menumpahkan darah. Tetapi dalam keadaan yang
demikian, tak seorangpun yang akan dapat menyalahkannya. Apalagi Bantaran.
Sebagai seorang pemimpin laskar Banyubiru, ia menjadi keheran-heranan, bahwa
dalam pertempuran yang berlangsung itu, dimana seorang harus melawan 10 orang
bersama-sama, masih juga menyesal kalau ia terpaksa membunuh lawannya.
Sesaat kemudian keadaan menjadi sunyi.
Masing-masing membiarkan angan-angannya mengembara ke daerah yang berbeda-beda.
Kemudian terdengarlah kembali Mahesa Jenar
berkata kepada Bantaran, ”Bantaran... aku masih ingin mendapat beberapa
keterangan tentang laskarmu dan laskar Penjawi. Sebab mau tidak mau, apabila Ki
Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti tetap pada pendiriannya, kita akan
memerlukannya.”
Bantaran menggeser duduknya, kemudian menjawabnya, ”Laskar kami sebenarnya
tidaklah begitu banyak, Tuan. Apalagi sampai saat ini kami sama sekali tidak
mendapat bimbingan yang baik. Apakah artinya kami berdua. Aku dan Penjawi.
Sedang yang kami hadapi adalah Ki Ageng Lembu Sora dan putranya, Sawung Sariti.
Sedangkan tingkat keterampilan kami tidaklah lebih daripada pengawal-pengawal
Lembu Sora itu.”
”Tetapi bagaimanakah dengan tekad mereka...?” sela Mahesa Jenar.
”Itulah yang mendorong kami untuk tetap berjuang. Mereka ternyata bersedia
menunggu pemimpin mereka. Ki Ageng Gajah Sora atau putranya, Arya Salaka yang
hilang itu.”
”Bagaimanakah dengan Wanamerta?” Mahesa Jenar mencoba bertanya.
”Orang tua itupun telah meninggalkan Banyubiru.” jawab Bantaran. ”Tetapi kami
belum mengetahuinya, di mana ia berada.”
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, ”Bantaran,
agaknya Wanamerta benar-benar belum berhasil mencari hubungan dengan kalian.
Ketahuilah bahwa Wanamerta telah berhasil menyusul putra Ki Ageng Gajah Sora.”
”Arya Salaka...?” potong Bantaran terkejut.
”Ya,” jawab Mahesa Jenar, ”Dan selama ini Arya salaka dalam keadaan
selamat.”
”Syukurlah,” sahut Bantaran. ”Memang demikianlah berita yang pernah aku
dengar, meskipun aku belum meyakini sebelumnya. Sekarang karena Tuan yang
mengatakannya, maka aku dapat mempercayainya.”
”Dari mana kau dengar berita itu?” tanya Mahesa Jenar.
”Aku tidak jelas sumbernya,” jawab Bantaran. ”Tetapi aku kira dari
orang-orang Pamingit. Sebab aku dengar mereka sedang mencari untuk membunuhnya.
Bahkan yang kami dengar Arya Salaka selalu bersama-sama dengan Tuan.”
”Berita itu benar. Hampir seluruhnya. Bahkan Sawung Sariti sendiri sudah untuk
kedua kalinya berusaha membunuh Arya Salaka dengan tangannya.”
Mendengar keterangan itu, Bantaran mengangkat kepalanya. Bagaimanapun ia merasa
tersinggung atas kelakuan Sawung Sariti.
Maka katanya, ”Untunglah bahwa Arya Salaka dapat Tuan selamatkan.”
”Ia telah dapat menyelamatkan dirinya sendiri,” jawab Mahesa Jenar.
Bantaran menjadi heran mendengar jawaban itu. Sawung Sariti pada saat-saat
terakhir telah menjadi seorang pemuda yang tangguh, berkat tuntunan kakeknya, Ki
Ageng Sora Dipayana. Meskipun seandainya Arya Salaka mendapat tuntunan dari
Mahesa Jenar, apakah anak itu akan dapat
menyamai ketangguhan Sawung Sariti. Sebab Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang
yang sukar dicari tandingnya. Tetapi Bantaran tidak mau menanyakannya. Ia takut
kalau-kalau dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan Mahesa Jenar.
Dalam pada itu Mahesa Jenar meneruskan, ”Yang penting bagimu Bantaran,
peliharalah tekad dan kesetiaan laskarmu terhadap perjuangan yang telah
dirintisnya. Dalam waktu yang singkat aku akan membawa Arya Salaka ke
tengah-tengah mereka.”
425
TIBA-TIBA dada Bantaran terasa seolah-olah
mengembang karena kegembiraan. Kalau Arya Salaka berada di tengah-tengah mereka
maka laskarnya akan menjadi laskar yang bertekad baja, yang tidak lagi
memperhitungkan hidup dan mati yang memang diluar kekuasaan manusia.
”Karena itu...” Mahesa Jenar meneruskan, ”Bersiaplah menghadapi masa
yang menentukan.”
”Baiklah Tuan,” jawab Bantaran mantap. ”Akan kami khabarkan hal ini
kepada mereka supaya mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan itumempunyai
arti bagi tanah perdikan mereka.”
”Kalau demikian, ke manakah aku harus membawa Arya Salaka...?” sahut Mahesa
Jenar.
”Ke Gedong Sanga, Tuan,” jawab Bantaran cepat. ”Di sekitar candi itu
kami menempatkan laskar kami.”
”Baiklah. Dan beruntunglah aku dapat bertemu dengan kau
di sini, sehingga aku mendapat banyak bahan untuk saat-saat terakhir.”
Demikianlah, mereka mengakhiri pembicaraan.
Setelah sekali lagi Mahesa Jenar berjanji akan
membawa Arya ke Candi Gedong Sanga, maka bersama dengan Kebo Kanigara ia minta
diri untuk segera kembali ke Karang Tumaritis, dimana Arya Salaka pasti telah
menunggunya.
Bersamaan dengan itu, berangkat jugalah Bantaran lewat jalan-jalan hutan membawa
istri Penjawi beserta ayahnya untuk berkumpul kembali dengan laskarnya, setelah
beberapa hari ia berkeliaran di daerah sekitar Banyubiru untuk melihat
perkembangan daerah itu.
Namun kali ini dengan bangga ia akan dapat berkata kepada laskarnya tentang apa
yang disaksikannya di Banyubiru, pertemuannya dengan Mahesa Jenar yang tanpa
diduga-duganya. Serta yang terakhir bahwa mereka boleh mengharap, dalam waktu
singkat Mahesa Jenar akan membawa Arya Salaka ke
tengah-tengah mereka.
Dalam perjalanan kembali ke Karang Tumaritis, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tak
henti-hentinya memperbincangkan kemunduran-kemunduran yang terjadi di Banyubiru.
Kemunduran dalam segala bidang. Namun mereka masih menduga-duga apakah sebabnya
Ki Ageng Sora Dipayana masih berdiam diri. Demikianlah mereka menempuh
perjalanan, melintasi padang-padang rumput, hutan hutan yang tidak begitu lebat,
mendaki lambung-lambung bukit, serta menuruni lereng-lerengnya, untuk kemudian
sampai ke daerah persawahan yang membentang luas di hadapan mereka, setelah
mereka
bermalam di bawah bentangan langit biru.
Pedukuhan yang tampak di hadapan mereka, seperti pulau-pulau yang tersembul dari
lautan, adalah pedukuhan Gedangan. Oleh hembusan angin yang cepat-cepat lambat,
butir-butir padi yang sudah mulai menguning tampak seperti wajah lautan yang
berombak-ombak. Jauh di ujung desa tampaklah beberapa puluh orang perempuan
seperti semut yang terapung-apung, sudah mulai menuai padi.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat semuanya itu dengan wajah yang cerah.
Mereka ikut bersama-sama dengan para petani Gedangan, merasa gembira bahwa hasil
jerih payah mereka selama beberapa bulan kini sudah dapat dipetik hasilnya.
Lebih daripada itu, Mahesa Jenar melihat benar-benar kemajuan yang telah dicapai
oleh pedukuhan kecil ini dalam bidang pertanian. Setelah puas memandang sawah
yang terbentang di hadapan mereka itu,
segera mereka menarik kekang kuda masing-masing, dan berjalanlah kuda-kuda
mereka seenaknya. Burung-burung liar yang terkejut karena suara telapak kaki
kuda itu, beterbangan terpencar-pencar. Sedang butiran-butiran padi yang penuh
berisi, seolah-olah merundukkan batang-batang mereka kepada kedua orang yang
baru datang itu.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bagi orang-orang Gedangan adalah orang-orang yang
sangat dihormati. Karena mereka berdua telah banyak memberikan jasa mereka
kepada pedukuhan kecil itu. Karena itu ketika seseorang melihat kehadiran mereka,
ia segera berlari-lari melaporkannya
kepada pejabat-pejabat pedukuhan, sehingga sesaat kemudian ributlah pendapa
kelurahan Gedangan. Mereka segera bersiap-siap untuk menyambut kedatangan
tamu-tamu mereka.
Ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sampai di halaman kelurahan, bahkan mereka
menjadi terkejut. Mula-mula mereka heran, apakah yang terjadi di kelurahan itu
sehingga banyak orang hilir-mudik kesana kemari. Tetapi ketika akhirnya mereka
mengetahui duduk perkaranya, mereka menjadi geli. Hal yang sedemikian itu
sebenarnya sama sekali tak mereka kehendaki.
Sebab apa yang mereka lakukan tidak lebih dan tidak kurang daripada melakukan
kewajiban mereka, sebagai manusia yang mengabdikan diri pada sumbernya serta
hasil pancaran dari sumber itu.
Tetapi rakyat Gedangan itu menjadi kecewa ketika mereka mengetahui bahwa Mahesa
Jenar dan Kebo Kanigara tidak dapat terlalu lama tinggal di pedukuhan mereka,
sebab suatu kewajiban yang penting telah menanti.
Mereka hanya dapat bermalam satu malam saja, untuk seterusnya mereka minta diri
meneruskan perjalanan ke Karang Tumaritis. Sedangkan kuda-kuda yang dipinjamnya,
masih belum mereka kembalikan, bahkan Mahesa Jenar telah berpesan apabila
diperlukan mereka masih akan meminjamnya
lebih banyak lagi nanti.
”Berapa ekor lagi yang akan Tuan perlukan...?” tanya Wiradapa.
”Lima atau enam ekor,” jawab Mahesa Jenar kepada Lurah Gedangan itu.
”Baiklah Tuan, kuda-kuda itu akan kami sediakan sejak hari ini,” sahut
Wiradapa, dan seterusnya ia berkata, ”Kecuali itu, perkenankan kami
mengundang Tuan berdua beserta sahabat dan putra-putra Tuan untuk mengunjungi
pedukuhan kami ini pada akhir bulan.”
”Apakah keperluan kalian...?” tanya Mahesa Jenar.
”Kami akan mengadakan upacara bersih desa. Sebagai pernyataan terimakasih dan
kegembiraan kami atas karunia Tuhan yang telah menjadikan sawah-sawah kami
bertambah subur serta tanaman-tanaman kami selamat dari gangguan hama.”
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersenyum. ”Baiklah,” jawab mereka hampir
bersamaan.