Nagasasra dan Sabukinten

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

No. 416

PEREMPUAN itu masih berdiam diri, berdiri seperti patung. Namun dengan demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat memandangnya lebih jelas. Dari sinar matanya, mereka dapat menduga bahwa karena sesuatu penderitaan, orang itu agaknya menjadi agak terganggu kesadarannya. Meskipun tidak begitu berat.


Ketika kemudian dilihatnya dari mata perempuan itu menitik butiran-butiran air. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi yakin bahwa sesuatu benar-benar telah menghimpit perasaannya. Ternyata mereka tidak perlu terlalu lama berteka-teki ketika terdengar seorang laki-laki berkata dengan kasarnya, ”Suamimu tak berani pulang, Nyai. Demikianlah hukuman bagi pemberontak. Dan bayimu yang mati itu tidak akan bisa hidup lagi. Apalagi ikut bersenang-senang bersama kami sekarang, tak ada tempat bagi laki-laki semacam suamimu itu.”

Air mata di wajah perempuan itu menjadi semakin deras. Agaknya ia dapat mengerti, bahwa suaminya tidak berada di tempat itu.

Kemudian terdengarlah suara lain yang bertanya, ”Siapakah dia?”

”Istri Penjawi,” jawab suara yang lain lagi.

”O, karena itulah ia masih muda dan cantik,” sahut suara yang pertama. ”Kalau begitu kenapa tidak saja ia kau ajak menari...?”


”Tidak mau. Ia baru saja kematian bayinya. Mungkin dua tiga hari lagi,”
sahut suara lain yang disusul dengan gelak tertawa orang banyak.

Diantara suara yang riuh, di sela-sela suara gamelan yang semakin menggila itu tiba-tiba terdengarlah suara yang berat mengatasi yang lain. Katanya, ”Aku tidak percaya kalau ia tidak mau. Ataupun kalau ia tidak mau, seret saja ia ke arena.”

Oleh suara yang berat itu, tiba-tiba semua terdiam. Dan semua mata memandang ke arah suara itu. Seorang yang tinggi besar dan berwajah kasar berdiri bertolak pinggang di pinggir arena. Sedang bola matanya dengan tajam memandang istri Penjawi itu seperti hendak meloncat dari kepalanya. Sambungnya, ”Ternyata ledek Banyubiru tak ada yang secantik ledek-ledek dari Pamingit. Dan perempuan itu agaknya akan bisa setidak-tidaknya menyamainya.”


Orang yang berwajah kasar itu maju beberapa langkah ke arah perempuan muda yang disebut istri Penjawi, yang kemudian menjadi ketakutan. Apalagi ketika orang itu meneruskan kata-katanya. ”Sayang bahwa wajah yang cantik itu tidak mendapat pemeliharaan.”

Ketika orang yang tinggi besar dan berwajah kasar itu melangkah terus, keadaan segera menjadi tegang. Tetapi beberapa orang yang mabok mulai tertawa-tawa kembali dan menganggp bahwa apa yang akan terjadi merupakan suatu tontonan yang menyenangkan. Namun beberapa orang lain, yang kepalanya juga sudah mulai pening-pening, segera merasa tersinggung. Bahkan seorang yang sudah setengah mabuk berteriak, ”Hei, monyet dari Pamingit. Jangan ganggu orang Banyubiru. Aku sendiri sudah lama jatuh cinta kepadanya. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan. Nah, sekarang suaminya mungkin sudah mampus ditelan macan. Karena itu, perempuan itu akan aku ambil sebagai istriku yang muda.”


Orang yang bertubuh tinggi besar itu menoleh. Dilihatnya seseorang yang bertubuh sedang, namun kokoh kuat seperti orang hutan berjalan mendekatinya. Tampak bibir orang Pamingit itu bergerak-gerak mengejek. Kemudian terdengar ia menjawab, ”Jangan terlalu kasar berkelakar sahabat. Orang Banyubiru harus menghormati orang-orang Pamingit. Sebab Banyubiru sekarang berada di bawah pemerintahan Pamingit. Kalau kau tidak mau mati, jangan ganggu aku. Biarkan orang Pamingit berbuat sesuka hatinya. Bahkan istrimu pun kalau aku kehendaki harus kau serahkan.”

Mata orang Banyubiru yang kokoh kuat itu segera menyala marah. Dengan membentak-bentak ia menjawab, ”Jangan banyak mulut. Pergi atau kau akan segera jadi bangkai.”


Pertunjukan itu segera terhenti karena ribut-ribut yang terjadi. Beberapa ledek yang sedang menari-nari dengan tenangnya berjalan ke tengah-tengah jajaran gamelan dan duduk diantara para niyaga. Mereka sama sekali tidak menunjukkan perasaan cemas atau takut.

Hal yang demikian sudah sering terjadi. Tetapi ketika mereka mendengar bahwa pertengkaran itu terjadi antara orang Pamingit dan Banyubiru, perhatian mereka agaknya tertarik juga.

Salah seorang ledek dengan memanjangkan lehernya, berusaha melihat mereka yang bertengkar, lalu bertanya, ”Siapakah yang bertengkar?”

Terdengarlah seorang niyaga menjawab, ”Jiwala dengan orang Pamingit


Ketika ledek itu berhasil melihat orang Pamingit yang tinggi besar berwajah kasar itu, ia tertawa sambil menyubit kawannya. ”Hei, agaknya Si Saraban yang bertengkar dengan Jiwala. Apakah kau tidak membantunya...?”

”Peduli apa?” jawab kawannya, seorang ledek yang berhidung pesek. ”Kemarin ia sanggup memberi aku uang, tetapi sampai sekarang ia tidak menepati janjinya.”

Sekali lagi mereka menjengukkan kepalanya. Lalu dengan mengerutkan keningnya, ledek yang berhidung pesek itu berkata, ”Gila. Bukankah mereka mempertengkarkan istri Penjawi itu?”
Sekali lagi kawannya mencubitnya sambil tertawa. ”He, kau agaknya mendapat saingan. Kalau Saraban menang, kaulah yang harus berkelahi melawan istri Penjawi itu.”

Kawannya tidak menjawab, tetapi ia semakin merengut.


Mendengar percakapan itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpaksa menahan nafas. Tetapi hatinya mengeluh. Sampai sedemkian jauh orang-orang Banyubiru terperosok ke dalam jurang yang mengerikan.
Dalam pada itu, orang Banyubiru yang bernama Jiwala itupun sudah berdiri di hadapan Saraban. Dengan bertolak pinggang ia memandang orang Pamingit itu dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Sedang orang Pamingit itu mengawasinya dengan marah. Tetapi sebentar-sebentar mereka berdua terpaksa menengok ke arah perempuan yang kekurus-kurusan dan berdiri dengan gemetar di pinggir tanah lapang itu. Ternyata sedemikian ketakutan, sampai istri Penjawi itu tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Dalam pada itu sekali lagi Saraban membentak, ”Pergi. Jangan halang-halangi aku.”


No. 417

JIWALA tidak menjawab, tetapi dengan tangkasnya ia menyerang perut Saraban. Namun agaknya Sarabanpun bukan orang yang dapat diremehkan. Demikian tangan Jiwala terulur ke arah perutnya, dengan cepatnya ia memiringkan tubuhnya dan sekaligus kakinya menyambar dada lawannya. Jiwala yang sedang mabuk itu tidak sempat menghindarkan dirinya, sehingga terasa kaki orang yang bertubuh tinggi besar itu mendorong tubuhnya kuat-kuat.


Demikianlah ia terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Agaknya tendangan orang Pamingit itu cukup keras, karena ternyata setelah bersusah payah berusaha barulah Jiwala dapat bangun.

Namun ia sudah tidak berani lagi mendekati orang Pamingit yang bernama Saraban itu.

Melihat geraknya, segera Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tahu, bahwa orang Pamingit itu bukan lawan Jiwala. Menurut dugaan mereka, Saraban pasti termasuk orang yang cukup baik kedudukannya, bahkan mungkin ia adalah salah seorang pimpinan laskar Pamingit.

Perkelahian itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Sebab ketika Jiwala tidak berani lagi mendekati lawannya, tak seorangpun lagi yang mengganggu Saraban. Bahkan tiba-tiba terdengar seseorang berbisik. ”Salah Jiwala sendiri, kenapa ia melawan orang itu. Bukankah ia pengawal Ki Ageng Lembu Sora?”

Mendengar bisikan itu, dada Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berdesir. Tentulah orang Banyubiru itu tidak akan dapat mengalahkannya. Kemudian terdengarlah orang lain berbisik pula, ”Kalau Jiwala tidak sedang mabok, tentu ia tidak berani berbuat demikian.”

Demikianlah ternyata Saraban kemudian akan dapat berbuat sekehendak hatinya. Kembali dengan wajah yang menakutkan, ia memandang istri Penjawi yang berdiri gemetar. Ternyata ia benar-benar menjadi ketakutan dan kehilangan akal, sehingga ia sama sekali tidak berpikir untuk melarikan diri. Mula-mula ia mengharap bahwa ada orang yang menolongnya, tetapi dengan jatuhnya Jiwala, harapannya menjadi lenyap.

Mula-mula Saraban itu masih memandang berkeliling. Agaknya ia masih mencari lawan untuk menunjukkan kekuatannya. Ketika tak seorangpun yang berani mengganggu lagi, barulah setapak demi setapak ia mendekat.

Nyi Penjawi menjadi semakin ketakutan. Setapak ia mundur, tetapi dua tapak Saraban melangkah maju, sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat.

Dalam pada itu, beberapa orang yang semula tertawa-tawa kini menjadi terdiam. Bagaimanapun juga, di dalam sudut hati mereka yang paling dalam, tersirat juga rasa kasihan. Kasihan kepada istri Penjawi yang sedang ditinggal suaminya menyingkir, karena Lembu Sora akan membinasakannya. Ditambah lagi, baru beberapa minggu ia kehilangan bayinya.

Sekarang tiba-tiba seorang laki-laki berwajah kasar, dengan rakusnya ingin merampas kecantikannya. Apalagi orang itu adalah orang Pamingit.

Tetapi tak seorangpun yang berani berbuat sesuatu. Sebab tak seorangpun yang merasa mampu mengalahkan Saraban. Sedang untuk maju bersama-sama pun mereka tidak berani. Sebab dengan demikian, orang-orang Pamingit pasti akan beramai-ramai menyerang mereka. Meskipun sebenarnya mereka tidak bersalah, karena melindungi seseorang yang diperlakukan tidak adil, namun orang Pamingit dapat saja membuat alasan-alasan.


Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menyaksikan semua peristiwa itu dengan wajah yang tegang. Ketika Saraban tinggal beberapa langkah saja jaraknya dari Nyi Penjawi, Mahesa Jenar tidak dapat membiarkan hal yang kotor itu berlangsung.

Tetapi ketika ia sudah bergerak, terasa Kebo Kanigara menggamitnya sambil berbisik, ”Duduklah Mahesa Jenar. Biarlah aku selesaikan masalah ini. Sebab belum ada di antara mereka yang mengenal aku. Sedang kau agaknya telah dikenal oleh beberapa orang di sini.”

Mendengar bisikan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar mengurungkan niatnya. Ia membiarkan Kebo Kanigara perlahan-lahan berdiri. Tetapi ketika selangkah ia maju, mereka bersama dikejutkan oleh sebuah suara yang berat parau dari kegelapan di belakang perempuan yang kekurus-kurusan itu. Katanya, ”Saraban, jangan berlagak jantan sendiri. Orang Banyubiru tidak semuanya berjiwa betina. Cobalah kau maju selangkah lagi, namamu akan terhapus dari deretan nama-nama pengawal Lembu Sora. Dan bangkaimu akan dikubur dengan segala macam kutuk dan caci.”


Saraban ternyata terkejut juga mendengar suara itu. Dengan tidak disadarinya sendiri, ia menghentikan langkahnya. Matanya yang liar dibukanya lebar-lebar untuk mengetahui, siapakah yang dengan sombong mencoba menghalang-halangi niatnya. Dalam pada itu, dari dalam gelap, muncullah sebuah bayang-bayang, yang dengan tetap melangkah maju. Sesaat kemudian tampaklah di bawah cahaya lampu yang samar, seorang laki-laki dengan mata yang menyala-nyala karena marah, berdiri diantara laki-laki yang bernama Saraban dengan perempuan yang kekurus-kurusan, yang sedang meneteskan air mata putus asa. Orang itu tidak setinggi dan sebesar Saraban. Namun tubuhnya tampak kuat seperti baja.

Ketika Saraban mengenal wajah orang itu, ia menggeram. Dan bersamaan dengan itu terdengar Mahesa Jenar berdesis sambil berdiri karena terkejut, ”Bantaran....”

”Bantaran....” ulang Kebo Kanigara yang terpaksa menghentikan langkahnya. ”Siapakah dia?”


”Salah seorang kepercayaan Ki Ageng Gajah Sora yang bersama-sama dengan Penjawi terpaksa menyingkir dari Banyibiru.”

”Kalau begitu...” sahut Kanigara, ”Aku tak perlu mengganggunya.”
”Aku kira demikian,”
jawab Mahesa Jenar.


Dengan demikian Kanigara mengurungkan langkahnya, tetapi mereka mencari tempat untuk menyaksikan peristiwa yang mendebarkan hati itu.


419

SEKALI lagi tangan Bantaran terayun deras sekali. Namun agaknya Saraban melihat arah sambaran tangan lawannya. Dengan sisa tenaganya ia menghindar ke samping. Dengan demikian serangan Bantaran tidak mengenai sasarannya. Bahkan tubuhnya terbawa beberapa langkah maju, terseret oleh ayunan tangannya. Saraban melihat kesempatan itu. Dengan sekuat tenaga yang masih ada ia memukul tengkuk Bantaran.

Namun Bantaran yang masih segar ternyata sudah dapat memperbaiki kedudukannya menghadapi serangan itu. Demikian tangan Saraban terjulur, dengan kecepatan kilat tangan itu ditangkapnya sambil memutar tubuhnya dan merendahkan diri. Bantaran menjangkau kepala Saraban dari atas pundaknya. Dengan menghentakkan kekuatan. Bantaran menarik orang Pamingit yang bertubuh besar itu, sehingga melontar dengan kerasnya, dengan kaki terputar ke atas. Kemudian dengan gemuruhnya tubuh Saraban terbanting di tanah.

Semua orang yang menyaksikan kesudahan dari perkelahian itu menahan nafasnya. Meskipun orang-orang Banyubiru menjadi cemas atas peristiwa itu, namun mereka di dalam hatinya bangga juga atas keunggulan orang Banyubiru atas orang Pamingit.

Bantaran yang telah berhasil menjatuhkan lawannya, berdiri dengan tegap di depan tubuh Saraban yang sudah tak berdaya lagi untuk bangkit. Sekali lagi ia memandang berkeliling, ke arah wajah-wajah orang Banyubiru yang berdiri di sekitar tempat perkelahian itu. Dan sekali lagi wajah-wajah orang Banyubiru itu terbanting di tanah yang ditumbuhi rumput dengan suburnya.

Dalam pada itu terdengarlah suara Bantaran parau, ”Saudara-saudaraku, rakyat Banyubiru. Aku menyesal atas semua yang telah terjadi di tanah perdikan ini. Kalian ternyata telah terbius oleh pemanjaan nafsu yang tak terkendali. Tetapi dengan peristiwa ini, kalian tidak akan dapat untuk seterusnya berpangku tangan. Sebab kawan-kawan orang Pamingit itu tidak akan tinggal diam. Dan akibatnya akan dapat kalian rasakan. Untuk seterusnya kalian hanya dapat memilih, menangkap aku, lalu menyerahkan kepada Lembu Sora, yang dengan demikian kalian akan bebas dari pembalasan dendam, atau bangkit melawan kekuasaan Pamingit atas tanah kita sambil menunggu kehadiran pemimpin kita Ki Ageng Gajah Sora atau putranya Arya Salaka.”

Tak seorangpun yang menyatakan pendapatnya. Dan memang demikianlah perasaan mereka yang mendengar kata-kata Bantaran. Sebagian diantara mereka menjadi malu atas kelakuan mereka, tetapi memang ada juga diantaranya yang di dalam hatinya mengumpati Bantaran. Sebab dengan perbuatannya itu, pastilah akan terjadi hal-hal yang sama sekali tak dikehendaki. Orang-orang Pamingit pasti akan datang ke tempat itu dan mengaduknya. Menangkapi orang-orang yang dicurigainya, memukuli mereka tanpa alasan untuk melampiaskan dendam mereka.

Belum lagi gema suara Bantaran itu lenyap, tiba-tiba terdengarlah derap beberapa ekor kuda dengan kencangnya menuju ke tanah lapang itu. Mendengar derap yang berdatangan Bantaran tampak terkejut. Segera ia tahu apakah yang sebentar lagi akan terjadi. Meskipun demikian ia tetap tenang. Dan dengan tenang pula ia berkata lantang, ”Rupa-rupanya ada juga pengkhianat-pengkhianat di Banyubiru ini. Dan agaknya mereka telah melaporkan kehadiranku.”

Orang-orang yang berdiri di tanah lapang itu segera menjadi gelisah. Beberapa orang telah bersiap untuk melarikan diri. Tetapi mereka sama sekali tidak mendapat kesempatan. Sebab dalam waktu yang sangat singkat, beberapa orang berkuda telah datang dan langsung mengepung tanah lapang itu di empat penjuru.

Bantaran masih dalam sikapnya yang tenang, memandang berkeliling. Kepada kira-kira sepuluh-duabelas orang yang masih berada di atas punggung kuda mereka. Wajah para penunggang kuda itu tampak garang-garang, sedang di tangan mereka masing-masing tergenggam senjata. Ada yang berupa tombak, pedang atau macam-macam senjata yang lain.

Dua orang diantara mereka, mendorong kuda mereka agak ke depan. Rupa-rupanya dua orang itu adalah pemimpin rombongan. Salah seorang daripadanya terdengar berteriak dengan suara yang nyaring, ”Hai orang-orang Banyubiru yang tak tahu diri. Katakanlah kepada kami, siapakah diantara kalian yang bernama Bantaran.”

Bantaran masih tegak di tempatnya. Tetapi karena kekacauan yang timbul, karena beberapa orang yang ingin melarikan diri, maka di sekitarnyapun telah berdiri beberapa orang dengan tubuh gemetar sehingga orang-orang berkuda itu tidak segera dapat melihat tubuh Saraban yang terkapar di tanah.
Suara pemimpin rombongan berkuda yang bergeletar memenuhi tanah lapang itu untuk beberapa lama tidak mendapat jawaban. Karena itu ia mengulangi, ”Ayo... katakanlah kepada kami, siapakah diantara kalian yang bernama Bantaran. Kalau tidak ada diantara kalian yang mau menunjuk batang hidungnya, maka semuanya yang berada di tanah lapang ini akan kami bawa. Sesudah itu janganlah kalian mengharap untuk bertemu kembali dengan anak istri kalian.” Bantaran menarik nafas dalam-dalam sambil menekan dadanya. Sudah tentu ia tidak menghendaki sekian banyak orang menjadi korban untuk dirinya. Meskipun demikian sekali dua kali tampaklah ia menoleh ke arah Nyi Penjawi yang berdiri tidak jauh di belakangnya.


420


AGAKNYA, Nyi Penjawi itulah yang memberati hati Bantaran. Sebagai seorang sahabat Penjawi, ia tidak akan tega melihat nama perempuan itu dinodai.

Sebelum Bantaran mengambil suatu sikap, tiba-tiba seorang diantara dua orang berkuda itu meloncat turun dan menyambar baju orang yang bertubuh sedang tetapi tampak otot-ototnya menonjol seperti orang hutan. Sambil membentak-bentak orang itu bertanya, ”Siapa namamu...

Dengan tergagap orang yang masih agak mabok itu menjawab, ”Gonjang, Tuan.”


”Kenalkah kau dengan orang yang bernama Bantaran?” tanya orang Pamingit seterusnya.


Untuk beberapa saat Gonjang berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengarlah jawabannya di luar dugaan. Orang yang suka mabok dan berbuat tidak sepantasnya itu ternyata memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Sebagai orang Banyubiru ia merasa berkewajiban melindungi Bantaran. Karena itu jawabnya, ”Kenal Tuan. Aku kenal betul dengan orang itu.”

”Nah kalau begitu tunjukkanlah orangnya kepada kami,” desak orang Pamingit itu.

Kemudian terdengarlah jawabnya yang mengejutkan hati orang-orang di tanah lapang itu. ”Sudah sejak berbulan-bulan ia tidak pernah menampakkan dirinya, Tuan. Karena itu aku tidak dapat menunjukkannya kepada Tuan.”


Tiba-tiba mata orang Pamingit itu seolah-olah akan meloncat dari batok kepalanya. Ternyata jawaban itu sama sekali tidak diduganya. Karena itu ia menjadi marah sekali. Ketika tangannya yang memegang baju Gonjang diguncang-guncangkan, Gonjang pun ikut terguncang seperti sebatang pohon yang diputar-putar badai. Sambil membentak-bentak lebih kasar orang Pamingit itu sekali lagi bertanya, ”Ayo katakanlah kepada kami, yang mana diantara kalian yang bernama Bantaran.”

”Betul Tuan... ia tidak berada di sini sekarang,” jawab Gonjang tergagap.

”Bohong!” bentak orang Pamingit itu. ”Aku mendapat laporan bahwa ia berada di tanah lapang ini sekarang.”


”Nah, kenapa Tuan tidak bertanya kepada orang yang melaporkan itu saja...?” sahut Gonjang.
Orang Pamingit itu tidak menjawab lagi. Tetapi sebuah pukulan yang keras melayang ke wajah Gonjang. Dengan kerasnya orang itu terdorong ke belakang, dan kemudian terjatuh dengan kerasnya. Terdengarlah ia mengerang kesakitan. Namun meskipun demikian ia tidak juga menunjukkan siapakah diantara mereka yang bernama Bantaran.


Tetapi dalam pada itu, ternyata Gonjang adalah orang yang cerdik. Ia telah mencoba memancing orang Pamingit itu untuk menunjukkan kepada orang-orang Banyubiru, siapakah yang sebenarnya tidak berkhianat. Namun agaknya orang Pamingit itu pun telah berjanji untuk melindungi pengkhianat itu, sehingga orang itu tidak dibawanya serta.

Bantaran yang menyaksikan peristiwa itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia menjadi bimbang, justru karena ia sedang berusaha untuk melindungi istri Penjawi. Kalau saat itu ia dapat ditangkap, maka bila Saraban nanti sadar kembali, nasib istri Penjawi itupun sudah dapat dibayangkan. Sebab untuk melawan sepuluh orang berkuda itu agaknya di luar kemampuannya.

Bantaran hampir mengenal satu demi satu orang-orang Pamingit yang akan menangkapnya. Temu Ireng, Talang Semut, Dadahan, dan orang-orang setingkatnya. Seandainya tak seorang diantara orang Banyubiru yang mau menunjukkannya, namun kalau orang-orang Pamingit itu meneliti satu demi satu orang yang berada di tanah lapang itu, meskipun makan waktu lama, akhirnya dirinya akan diketemukan juga. Sebab orang-orang Pamingit itu pun telah mengenalnya seperti ia mengenal mereka.

Belum lagi Bantaran mendapat suatu cara yang sebaik-baiknya, orang Pamingit itu telah menangkap seorang lagi. Seorang muda yang berwajah tampan, berkumis sebesar lidi. Pakaiannya terbuat dari kain lurik yang mahal. Tetapi demikian ia diseret ke depan, tubuhnya tiba-tiba serasa lumpuh. Dan ketika orang Pamingit itu membentaknya, ia menjadi pingsan.

Akhirnya Bantaran mengambil suatu ketetapan untuk menyatakan dirinya di hadapan orang-orang Pamingit itu sebelum jatuh korban lebih banyak lagi. Ia akan mencoba melawan dan menimbulkan kekacauan, sementara itu ia berharap Nyi Penjawi sempat melarikan diri.

Tetapi ketika Bantaran bermaksud membisiki Nyi Penjawi tentang maksudnya itu, tiba-tiba diantara sekian banyak orang yang berdiri di tanah lapang itu muncullah seseorang yang bertubuh sedang, tegap dan berdada bidang. dengan suara yang berat namun penuh wibawa ia berkata nyaring, ”Hai, orang-orang Pamingit.... Inilah Bantaran.”

Semua yang berada di tanah lapang terkejut mendengar pengakuan itu. Untuk sesaat kembali tanah lapang itu menjadi hening sunyi. Sesunyi tanah pekuburan.


Tetapi dalam pada itu semua mata bergerak ke arah seorang yang berjalan perlahan-lahan namun pasti, menyibak orang-orang yang berada di depannya, menuju ke arah dua orang yang agaknya memimpin rombongan orang-orang Pamingit itu.

Ketika mereka melihat orang itu, sekali lagi mereka terkejut. Dan yang lebih terkejut adalah Bantaran sendiri. Orang-orang Banyubiru menjadi bertanya-tanya di dalam hati, siapakah orang yang telah dengan beraninya menamakan dirinya Bantaran di hadapan sepuluh orang Pamingit yang garang-garang itu...?

Sesaat kemudian Bantaran menjadi sadar, bahwa seseorang telah mencoba melindunginya. Namun orang itu belum pernah dilihatnya.

”Nyai...” bisik Bantaran kepada Nyi Penjawi, ”Adakah ia orang baru...?”

Nyai Penjawi menggelengkan kepalanya. ”Aku belum pernah melihatnya, Kakang.”