NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
411
HAMPIR saja aku meloncat dan membunuh orang itu pula, kalau tidak tiba-tiba
saja semua orang tegak memandang ke suatu arah dan hampir bersamaan membungkuk
dengan hormatnya. Agaknya Baginda datang pula ke tempat itu. Pada saat itu
keringat dingin telah mengaliri segenap tubuhku. Aku tidak tahu apakah
sebenarnya maksud kedatangan baginda. Tetapi aku sudah menduga bahwa pasti ada
hubungannya dengan perkelahian yang baru saja terjadi. Dan apa yang aku duga
adalah benar. Baginda yang telah tampak sedemikian tuanya itu memandangku dengan
sinar mata yang marah. Meskipun terdengar Baginda berkata-kata dengan sabar dan
perlahan-lahan, namun bagiku setiap kata Baginda terdengar sebagai meledaknya
guruh diatas kepalaku. Kata Baginda, ”Adikku... apakah yang terjadi adalah sama
sekali diluar dugaanku. Aku bergembira bahwa salah seorang keluarga terdekatku
sudi datang berkunjung kepadaku. Kepada orang yang sudah hampir dilupakan. Namun
tiba-tiba kau membuat hatiku semakin parah karena kelakuanmu.”
Hampir menangis aku berjongkok di kaki Baginda. Dengan terputus-putus aku
mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya tersimpan di dalam kepalaku.
Tetapi keteranganku itu agaknya terdengar aneh sekali. Meskipun Baginda tidak
membantahnya, namun aku yakin bahwa Baginda sama sekali tidak percaya. Bahkan
kemudian Baginda dengan berdiam diri meninggalkan tempat itu. Karena itulah aku
menjadi semakin tersiksa. Tersiksa oleh berbagai perasaan yang menghujam hati.
Dengan terbunuhnya Tumenggung yang curang itu, menyebabkan gerombolannya semakin
marah. Mereka kemudian tidak mau menunggu lebih lama lagi. Mereka menjadi takut
kalau gerakan mereka akan segera diketahui. Disamping itu mereka agaknya takut
pula kalau aku juga akan mengadakan gerakan untuk melawannya. Akhirnya
terjadilah dimalam yang mengerikan itu. Beberapa orang prajurit kepercayaan raja
mati terbunuh. Mereka disergap dengan tiba-tiba oleh gerombolan orang-orang
tamak yang sudah hampir gila itu. Dalam keadaan yang demikian, sekali lagi aku
kehilangan pengamatan diri. Kembali aku berbuat kesalahan. Bahwa aku tidak lebih
dahulu menunggu perintah Baginda. Ketika aku mendengar keributan langsung aku
menyerbu, melibatkan diri dalam perkelahian itu. Akibatnya, beberapa orang
terbunuh. Orang-orang yang dengan sengaja ingin merebut harta kekayaan Baginda.
Namun agaknya apa yang aku lakukan itu tidak berkenan pula di hati Baginda.
Bahkan beberapa orang dari pihak lain pun menyalahkan aku. Mereka takut kalau
kepercayaan Baginda akan berkisar kepadaku. Sekali lagi Baginda berkata kepadaku
dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Adikku Raden Buntara... aku tidak akan
menyalahkan kau. Jiwa muda yang tersimpan didalam dadamu memang memerlukan
penyaluran. Aku hanya ingin menunjukkan beberapa kenyataan kepadamu. Sebelum kau
datang ke tempat ini pesanggrahanku yang terpencil ini, selalu diliputi oleh
suasana damai. Tetapi dengan kehadiranmu di sini, keadaan menjadi lain.
Terserahlah atas penilaianmu terhadap kenyataan itu.”
Aku menjadi semakin berduka atas pernyataan Baginda itu. Beberapa orang segera memencilkan aku seolah-olah akulah orangnya yang selalu membuat ribut. Satu-satunya sahabatku di tempat itu adalah jajar tua yang dapat mengetahui keadaan yang senyatanya. Ia melihat kenyataan yang sebenarnya. Dan hanya jajar tua itulah yang melihat, bahwa aku telah berjuang untuk keselamatan Baginda beserta rombongannya. Tetapi sekali lagi hatiku terluka.
Lebih parah dari luka-luka yang terdahulu.
Pada suatu pagi aku ketemukan jajar tua, sahabatku itu terguling di tanah di
depan pondoknya tanpa nyawa. Sebuah luka menggores di lehernya.
Pada saat itu darahku tiba-tiba mendidih.
Hampir saja otakku tak dapat aku kendalikan lagi. Untunglah bahwa pengalaman
pahit selama ini agaknya dapat mengekang segala tingkah lakuku. Dengan sedih aku
mencoba untuk memberitahukan kematian itu kepada beberapa orang. Namun tak
seorangpun menaruh perhatian kepada jajar tua yang dianggap sama sekali tak
berarti itu. Bahkan karena ia benci kepadaku. Karena itu aku tak dapat berbuat
lain daripada menguburkan mayat itu sendiri. Sendiri.
Dengan segala peristiwa yang sangat
menyakitkan hati itulah kemudian aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat
itu kembali ke Demak. Melaporkan apa yang sudah terjadi. Aku mengharap agar
Sultan dapat menjernihkan suasana. Menjernihkan hubungan yang gelap antara aku
dengan Baginda Brawijaya beserta orang-orang di sekitarnya.
Tetapi apa yang terjadi kali ini tak dapat aku
pikul lebih jauh lagi. Ketika aku menghadap Baginda Sultan Demak, beliau berkata,
juga dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Paman, aku sudah mendapat laporan lengkap
tentang Paman. Ayahanda Prabu telah mengirim utusan kemari sebelum paman datang.
Beliau merasa menyesal bahwa segala sesuatu yang kurang pada tempatnya telah
terjadi. Apalagi persoalan itu bersumber pada persoalan seorang istri, yang
karena keadaan menjadi sedemikian buruknya. Paman tidak saja membunuh suaminya,
tetapi karena Paman, maka terjadilah bentrokan antara sahabat-sahabat laki-laki
itu dengan beberapa orang prajurit yang memihak kepada Paman. Karena itu Paman
bukanlah seorang utusan seperti yang aku harapkan. Bahkan sebaliknya, Paman
telah menjadikan Ayahanda Prabu semakin jauh daripadaku.”
Dadaku hampir pecah mendengar tuduhan itu. Tetapi aku tidak dapat menyangkalnya.
Satu-satunya orang yang mengetahui keadaan yang sebenarnya telah meninggal.
Yaitu jajar tua yang bermuka jelek, namun berhati bersih sebersih air yang baru
memancar dari sumbernya. Adapun nama dari jajar tua itu adalah Pasingsingan.”
Yang mendengarkan ceritera Panembahan Ismaya itu
tersentak dalam duduknya. Mereka hampir bersamaan mengulangi nama itu. ”Pasingsingan.”
”Ya,” sahut
Panembahan Ismaya. ”Jajar tua itulah yang sebenarnya bernama Pasingsingan.
Aku pahatkan nama itu pada dinding-dinding hatiku.”
Mahesa Jenar, Kanigara dan kedua murid orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
412
MAHESA JENAR, Kanigara dan kedua murid orang tua itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Sementara itu Panembahan Ismaya meneruskan, ”Ketika aku sudah
tidak mendapat kesempatan lagi untuk membersihkan namaku, maka aku menjadi
sangat malu. Aku merasa bahwa wajahku tak patut lagi berada ditengah-tengah para
satria Demak. Karena itulah maka akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri
dari padanya. Mengasingkan diri di tempat yang jauh.”
Akhirnya aku menemukan suatu lembah yang pantas bagi tempat pengasinganku. Di lembah itulah akhirnya aku bertapa. Mencoba untuk mendapat imbangan dari segala perasaan yang menekan dadaku. Kalau kadang-kadang aku ingin melihat kesibukan manusia, aku datang ke desa-desa di sekitar lembah itu. Namun rasa-rasanya setiap orang muak memandang wajahku, sehingga akhirnya aku terpaksa mengenakan sebuah kedok. Demikianlah aku dengan prihatin hidup tidak sebagai manusia yang sewajarnya. Aku hidup benar-benar seperti seekor kelelawar. Yang muncul dalam saat-saat menusia tenggelam dalam mimpi. Bahkan akhirnya ada orang yang menyangka aku hantu. Hantu bertopeng dan berjubah abu-abu.
Namun demikian aku tetap percaya pada keadilan. Keadilan yang maha tinggi, yang
terletak di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku yakin, bahwa meskipun pada
saat-saat itu aku seolah-olah hilang dari percaturan manusia, namun aku yakin,
bahwa pada suatu saat aku akan kembali. Kembali ditengah-tengah pergaulan hidup.
Meskipun bukan Buntara, tetapi setidak-tidaknya cita-citaku, berlanjut dari
hidupku akan berada di tengah-tengah manusia dalam keadaan yang baik.
Akhirnya saat itu tiba. Ketika aku melihat seorang pemuda dalam perjalananku
yang memang sering aku lakukan, beserta seorang anak laki-laki yang memiliki
wajah yang cerah, tiba-tiba aku merasa bahwa padanya aku dapat menumpangkan
harapan. Padanya aku ingin ikut serta dengan menyerahkan tekad untuk kembali
berada di tengah manusia. Karena itulah aku selalu membayanginya. Kalau bukan
aku sendiri, aku menyuruh Kanigara untuk mengikutinya. Apalagi ketika aku
melihat, bahwa orang muda itu memiliki keturunan ilmu yang sama dengan Kanigara.
Demikianlah akhirnya aku berhasil membawa Mahesa Jenar ke bukit kecil yang aku
namakan Karang Tumaritis beserta muridnya Arya Salaka. Aku ingin memberinya
bekal-bekal dalam usahanya menjelang hari-harinya yang akan datang. Tidak saja
Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi juga berbagai macam ilmu sekadarnya.
Tetapi agaknya otaknya terlalu jernih. Sehingga bersama-sama dengan Kanigara ia justru memaksa aku untuk mempercepat membuka diri. Untunglah bahwa segala sesuatunya bagiku sudah terasa matang. Sehingga meskipun aku dipaksa untuk membuka diri, tidak banyaklah pengaruhnya bagi semua rencana-rencana yang sudah aku siapkan.
Yang mendengar ceritera itu seolah-olah terpaksa menahan napasnya. Ternyata
bahwa Panembahan Ismaya telah lama membayangi Mahesa Jenar. Teringatlah Mahesa
Jenar, pada saat ia hampir kehilangan akal, ia telah dicegat oleh laki-laki
berjubah abu-abu itu untuk meluruskan kembali jalannya.
Juga di pantai Tegal Arang, seseorang telah
mengingatkan tekadnya untuk menemukan Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Dan
orang itu agaknya bukan Panembahan Ismaya, tetapi Kebo Kanigara, dimana ia
sempat menuntun Arya Salaka dalam beberapa hari untuk menjadikan anak itu
bertambah masak. Tetapi ternyata Kebo Kanigara sendiri tidak mengerti
keseluruhan dari tugasnya.
Sementara itu Panembahan Ismaya meneruskan, ”Dalam jarak yang cukup panjang, diantara masa-masa aku melenyapkan diri dari istana, sampai saat terakhir ini, banyaklah pengalaman yang aku jumpai. Bahkan terlalu banyak. Di dalam hidupku muncullah orang-orang seperti Umbaran, yang mula-mula aku sangka orang yang berhati baik, namun akhirnya, ternyata bahwa ia telah menambah hidupku menjadi semakin buruk.
Kemudian datanglah Radite dan Anggara. Kepadanya aku mula-mula menaruh harapan. Tetapi kembali Umbaran merusak jalan hidup mereka. Sehingga Radite akhirnya tergelincir dan mengalami masa-masa seperti yang pernah aku alami. Mengasingkan diri di Pudak Pungkuran ini. Untunglah bahwa ia menemukan ruang gerak yang dapat menolong kepahitan masa lampaunya. Juga kemudian aku jumpai Kanigara dengan gadis kecilnya. Aku bawa ia ke Karang Tumaritis. Tetapi agaknya ia lebih cinta pada anak gadisnya daripada masa depannya sendiri. Sehingga seolah-olah, seluruh hidupnya telah diserahkan buat hari kemudian anaknya.
Dan karena sifat kebapaan yang sedemikian
dalamnya itulah, aku tidak sampai hati untuk memisahkannya dari anaknya,
meskipun aku dapat menjamin masa depan anak itu. Karena itu, tugas yang aku
bebankan padanyapun bukanlah tugas yang panjang-panjang. Sehingga ia akan selalu
berada disamping gadis kecil yang sudah tak beribu lagi itu. Sehingga akhirnya
aku dijumpai Mahesa Jenar beserta Arya Salaka. Meskipun dalam garis hubungan
keluarga, ia tidak dekat Kanigara, namun karena ia berasal dari istana pula,
maka aku mengharap agak banyak dari padanya. Mudah-mudahan Mahesa Jenar tidak
akan menyia-nyiakan harapanku itu.”
Tiba-tiba Mahesa Jenar merasa, suatu beban yang
sangat berat terpikul di atas pundaknya. Beban yang masih samar-samar. Apakah
yang harus ia lakukan untuk memenuhi harapan Panembahan tua itu. Karena itu ia
sambil membungkukkan kepalanya, bertanya kepadanya, ”Panembahan, apakah
agaknya yang harus aku lakukan untuk memenuhi harapan Panembahan itu?”
Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, ”Hampir setiap orang telah melupakan nama Buntara. Mereka yang sekali dua kali teringat nama itu, terutama bagi mereka yang telah lanjut usia, akan mencibirkan bibir mereka. Tetapi itu tidak penting. Sebagaimana tekadku sejak masa mudaku, bagiku yang penting adalah keselamatan negeri diatas segala-galanya. Demikianlah hendaknya kau Mahesa Jenar. Adalah suatu kebetulan bahwa aku dapat menyimpan pusaka-pusaka yang hilang itu, yang justru akan dapat membantu membina kesejahteraan negara, dengan menyerahkannya kepada orang yang tepat. Nah, Mahesa Jenar, pekerjaan yang aku harap dapat kau lakukan, adalah mengadakan penilaian atas kedua keturunan yang sudah aku katakan kepadamu, kelak. Tetapi itu tidak berarti bahwa kau hanya menjadi penonton saja, namun dalam saat-saat yang perlu, kau harus ikut pula.”
Dengan demikian segala sesuatu kini menjadi jelas, kenapa Panembahan Ismaya
bernama Pasingsingan dan kenapa ia sangat menaruh perhatian atas tata
pemerintahan Demak.
413
SETELAH orang tua itu menarik nafas panjang, ia mulai lagi berkata, ”Mahesa
Jenar, ternyata kau telah melakukan pekerjaan itu. Bahkan apabila kelak ada
seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan, disuyudi oleh para
kawula serta berjiwa seperti jiwa lautan, karena memiliki Kyai Nagasasra dan
Kyai Sabuk Inten, yang akibatnya akan membawa kesejahteraan bagi tanah tumpah
darah ini, sebagian adalah karena perjuanganmu. Perjuangan yang telah kau
lakukan sejak lama. Perjuangan yang tak dikenal oleh siapapun. Sebab perjuangan
yang kau lakukan adalah perjuangan yang khusus. Tetapi aku percaya akan
kebesaran jiwamu. Meskipun namamu kelak tidak akan dipahatkan di batu-batu
ataupun tertulis di lontar-lontar kitab babad, namun kaulah hakekat dari
kemenangan itu.”
Mendengar penjelasan itu, tiba-tiba bulu-bulu kuduk Mahesa Jenar meremang.
Memang sejak semula ia sama sekali tidak bermimpi untuk mendapat tanda jasa di
dadanya. Atau namanya digoreskan di pintu-pintu gerbang kota, serta di
jalan-jalan raya. Yang diimpikan adalah kesejahteraan rakyat di bumi tercinta
ini. Kesejahteraan lahir dan batin. Jasmaniah dan rohaniah.
Dalam pada itu, terdengar Panembahan Ismaya meneruskan,
”Karena itu Mahesa Jenar, sebagian besar dari pekerjaanmu itu
sudah selesai. Kau tidak perlu lagi bersusah payah mencari Kyai Nagasasra dan
Kyai Sabuk Inten, sebab kedua pusaka itu sudah di tanganku. Sementara itu, kau
dapat menyelesaikan pekerjaanmu yang lain. Kau telah berjanji kepada sahabatmu
Ki Ageng Gajah Sora untuk menuntun anaknya. Nah, lakukanlah itu baik-baik.
Bawalah anak itu pada suatu tugas yang besar. Memperoleh kembali tanah pusaka
baginya. Sementara itu biarlah aku berusaha mendapatkan kembali kebebasan Gajah
Sora itu.”
Kemudian ruangan itu menjadi hening. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas
mereka yang duduk di dalamnya sambil mengurai gagasan masing-masing. Sehingga
kemudian suasana itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya dalam nada yang
jauh berbeda dari semula. Katanya, ”Nah, Paniling, Darba dan kedua
kemanakannya. Aku sudah selesai berceritera. Sekarang berilah aku kesempatan
untuk mengenal desamu yang sepi ini.”
Mendengar kata-kata itu Paniling seperti orang
yang terbangun dari mimpi yang mengasyikkan. Dengan tergagap ia menjawab,
”Baik, baiklah Guru.”
”Jangan panggil aku Guru. Di sini aku adalah kakakmu,” potong Panembahan
Ismaya. ”Namaku....” ia berhenti mengingat-ingat, lalu lanjutnya,
”Siapakah kau akan menyebut diriku kalau tetangga-tetanggamu
bertanya namaku?”
Paniling tidak segera menjawab. Ia tidak tahu, nama apakah yang baik diterapkan
pada orang yang menyebut dirinya kakaknya itu.
Tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, ”Among Raga.”
Panembahan Ismaya tertawa, jawabnya, ”Ah, seolah-olah aku hanya mementingkan masalah-mnasalah jasmaniah belaka. Tetapi nama itu baik. Memang kau pandai mencari nama. Baiklah aku pakai nama itu di sini, meskipun isi kata itu sendiri tidak begitu mapan bagiku.”
Kanigara sadar, bahwa memang nama itu tidak begitu menyenangkan, namun ia masih
juga membela diri. ”Tetapi Panembahan, bukankah nama
itu akan menjadi aling-aling dari keadaan Paman yang sesungguhnya. Bukankah di
sini Panembahan ingin menampakkan diri dalam ujud jasmaniahnya saja, tetapi
bukan dalam ujud keseluruhan.”
Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya,
”Baiklah, aku tidak keberatan.”
Demikianlah, untuk sehari-dua Panembahan Ismaya tinggal di rumah muridnya. Ia
mencoba memenuhi harapan tetangga-tetangga Paniling, untuk sekali dua kali
berkunjung ke rumah mereka berganti-ganti. Dengan penuh kesederhanaan Panembahan
Ismaya, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bergaul dengan mereka.
Meskipun demikian, apabila malam datang, serta
pondok di ujung padukuhan itu telah menutup pintunya, selalu terjadilah
pembicaraan-pembicaraan yang jauh berbeda dengan setiap pembicaraan yang
sederhana dengan para tetangga mereka. Tetapi di belakang pintu tertutup itu,
Panembahan Ismaya selalu memberi kepada keempat orang yang terdekat dari padanya
itu berbagai ilmu dan pengetahuan. Lahir dan batin. Bahkan diceriterakan pula
bagaimana ia memiliki segala macam kesaktian. Memang sejak masa mudanya, ia
selalu berusaha untuk mendapatkan berbagai macam ilmu.
Sebab dalam kekisruhan yang terjadi, pada akhir kejayaan Majapahit, ia selalu
mengira bahwa dengan kekuatan jasmaniah kejayaan itu dapat dibina kembali.
Karena itulah ia mencoba untuk mendapatkan
kekuatan-kekuatan itu. Setelah ia terpaksa meninggalkan lingkungan kesatriaan,
usaha itu semakin diperdalam. Namun jiwanya telah berbeda. Ia ingin menemukan
segala bentuk kekuatan untuk mencapai tujuan. Panembahan tua itu mengakui, bahwa
mula-mula memang dikandung maksud untuk menunjukkan kebersihan dirinya dengan
kekuatan. Ia ingin membuat hal yang aneh-aneh dengan memaksa orang untuk
berlutut di hadapannya. Dan kepada orang-orang itu ia akan memaksakan
kehendaknya.
Meskipun dasar kehendak itu selalu baik dan
bermanfaat bagi beberapa orang, namun cara-cara dan sifat kepahlawanan cengeng
itu akhirnya tidak memberinya kepuasan. Dan akhirnya maksud-maksud itu sama
sekali diurungkan. Bahkan semakin banyak ilmu yang dihirupnya, semakin jauhlah
ia dari sifat-sifat itu.
Dan akhirnya malahan ia membawa dirinya dengan luka-luka di hati untuk mengasingkan diri di lembah yang jauh dari lingkungan manusia. Di situlah ia menerima Umbaran sebagai muridnya, tetapi orang itu kemudian dimintanya meninggalkan tempat itu.
414
BEBERAPA tahun kemudian datanglah Radite dan Anggara. Sehingga suatu saat, ia merasa bahwa ilmu-ilmu yang pernah dicapainya itu tak akan berarti apa-apa bagi manusia apabila tidak diamalkan. Dengan demikian ia mengharap Radite untuk mewakilinya dengan topeng dan jubah abu-abu. Dengan mempergunakan nama Pasingsingan, mulailah Radite mengamalkan ilmunya. Sedang Anggara untuk sementara dimintainya memelihara pertapaannya selama ia melenyapkan diri dari kedua muridnya untuk menyaksikan hasil pengamalannya dari jarak yang cukup jauh. Tetapi ia menjadi kecewa ketika Radite kemudian tergelincir.
”Bagimu Mahesa Jenar...” akhirnya Panembahan Ismaya minta, ”Jadikanlah
semua itu bekal bagimu.”
Demikianlah yang mereka lakukan dari hari ke hari. Bergaul dengan para petani disiang hari, dan menambah bekal hidup mereka di malam hari. Sehingga akhirnya, ketika Panembahan Ismaya memandang segala sesuatunya telah cukup, maka setelah ia bermohon diri kepada para tetangga, pergilah ia meninggalkan padukuhan Pudak Pungkuran mendahului Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, setelah ia berpesan kepada Radite. ”Radite, seseorang yang membiarkan kejahatan berlangsung tanpa berusaha untuk menghalang-halangi maka orang yang demikian itu dapat dianggap telah ikut membantu berlangsungnya kejahatan.”
Mula-mula Radite tidak mengerti maksud pesan itu. Tetapi beberapa waktu kemudian
barulah ia sadar, bahwa ia sama sekali tidak berbuat sesuatu terhadap saudara
seperguruannya yang terang-terangan telah melakukan berbagai kejahatan. Yaitu
Umbaran. Karena itu, tiba-tiba ia merasa bahwa gurunya telah memaafkan segala
kesalahannya, bahkan mempercayakan kepadanya, untuk menghentikan segala
kejahatan yang selalu dilakukan oleh Umbaran dengan nama Pasingsingan. Hidup
atau mati. Dengan demikian tiba-tiba beban yang selama ini menghimpit hatinya,
seolah-olah berguguran, rontok tanpa bekas. Terasalah kemudian betapa ringan
perasaannya kini. Dan dengan penuh tekad ia berjanji, bahwa ia akan melakukan
pesan itu sebaik-baiknya.
Beberapa hari kemudian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera mohon diri
pula, kembali ke Karang Tumaritis. Kebo Kanigara telah merasa sedemikian
rindunya kepada putrinya yang ditinggalkannya beberapa hari, sedang Mahesa Jenar
pun ingin segera menemui muridnya untuk mengajaknya memulai dengan suatu tugas
yang berat, kembali ke Banyubiru.
Dalam perjalanan pulang, Mahesa Jenar dan kebo Kanigara memerlukan singgah
sebentar di kota Banyubiru. Ketika malam turun perlahan-lahan di lereng-lereng
bukit Telamaya, mereka berdua menambatkan kuda mereka agak jauh di luar kota.
Dengan berjalan kaki mereka menyusuri jalan-jalan kota. Satu-dua masih tampak
pintu rumah yang terbuka. Lampu minyak yang suram melemparkan cahanyanya
berpencaran menusuk gelap malam. Bahkan di belakang regol halaman yang masih
ternganga, masih tampak beberapa orang laki-laki duduk-duduk sambil
bercakap-cakap.
Banyubiru dalam penglihatan Mahesa Jenar tidak
banyak mengalami perubahan. Jalan-jalan yang itu-itu juga menjalar dari satu
ujung ke ujung yang lain. Bangunan-bangunan tidak banyak bertambah, bahkan
beberapa banjar tampak tak terpelihara. Tempat-tempat ibadah pun agaknya menjadi
bertambah suram. Tetapi ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sampai di ujung
jalan kota, mereka terkejut ketika mereka melihat obor terpancang di
tengah-tengah lapangan. seperangkat gamelan telah siap pula di tempat itu.
Beberapa orang telah mulai ramai mengerumuninya.
Dengan penuh keinginan untuk mengetahui, Mahesa
Jenar dan Kebo Kanigara mendekati lapangan itu. Kepada seorang anak yang lewat
di sampingnya, Mahesa Jenar bertanya, ”Apakah Banyubiru sedang ada perayaan?”
Anak itu memandang Mahesa Jenar dengan heran.
Kemudian anak itu malah ganti bertanya, ”Apakah Bapak bukan penduduk
Banyubiru...?”
Mahesa Jenar ragu sebentar. Tetapi ia harus menjawab agar tidak menimbulkan kecurigaan. Karena itu katanya, Bukan, Nak. Aku bukan penduduk Banyubiru. Aku datang dari Pangrantunan.”
”Pangrantunan...?” Anak itu tiba-tiba terkejut.
Kembali Mahesa Jenar ragu. Namun ia mengangguk.
”Ya, kenapa...?”
”Tidak apa-apa,” jawab anak itu. ”Beberapa hari yang lalu beberapa orang Pangrantunan juga datang kemari. Mereka adalah saudara-saudara ibuku. Menurut paman-paman itu, Pangrantunan sekarang kembali kacau. Mereka ketakutan karena Simarodra tua sering mengunjungi pedukuhan itu. Apakah betul demikian...? Dan apakah betul Simarodra tua itu menuntut lebih banyak dari Simarodra dahulu?”
”Betul, Nak...” jawab Mahesa Jenar sekenanya, namun karena itu ia ingin
lebih banyak tahu. Karena itu ia bertanya, ”Siapakah
pamanmu itu? Dan apakah yang dilakukan di sini...?”
”Pamanku bernama Reksadipa. Ia datang untuk melaporkannya kepada Ki Ageng
Lembu Sora,” jawab anak itu.
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu sahutnya, ”Hem... jadi kau
kemenakan Kakang Reksadipa.” Kemudian Mahesa Jenar berhenti sebentar.
”Lalu apa katanya ketika ia kembali ke Pangrantunan?”
415
ANAK itu menjawab, ”Tidak apa-apa. Tetapi Paman
mengeluh. Katanya Ki Ageng Lembu Sora sedang akan mempertimbangkan. Tetapi itu
tidak bijaksana. Sebab menurut Paman, keadaan sudah sangat gawat. Dan rakyat
pangrantunan sendiri tidak mampu untuk melawan mereka, meskipun rakyat
Pangrantunan tidak takut.”
Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Memang letak Pangrantunan yang seolah-olah
berhadapan dengan Gunung Tidar itu sangat tidak menguntungkan. Tetapi menghadapi
hal sedemikian tidakkah Ki Ageng Lembu Sora Dipayana dapat berbuat sesuatu...?
Namun kepada anak itu sudah pasti Mahesa Jenar tidak bertanya demikian. Karena
itu ia bertanya tentang obor dan gamelan yang sudah siap di lapangan itu.
Katanya, ”Nak, ada apakah dengan keramaian itu?”
”Itu bukan keramaian,” jawabnya. ”Dahulu Paman Reksadipa juga bertanya demikian. Gamelan itu memang setiap hari berada di sana. Orang-orang sekarang sedang bersenang senang karena panenan kemarin meskipun tidak memuaskan. Mereka setiap malam mengadakan tayub di lapangan itu.”
”Di lapangan terbuka...? Tiba-tiba Mahesa Jenar menyela.
”Ya,” jawab anak itu.
”Setiap orang boleh ikut. Kalau siang mereka mengadu ayam. Juga di tempat itu.”
”O....” Tiba-tiba Mahesa Jenar mengeluh. Alangkah jauh kemunduran yang dialami oleh tanah perdikan ini.
Meskipun Kanigara tidak mengerti seluruh persoalan yang berputar di dalam kepala
Mahesa Jenar, namun sedikit banyak ia pun mengerti. Tayub setiap malam dan
mengadu ayam setiap hari adalah gejala-gejala kehancuran suatu daerah.
Ketika beberapa lama Mahesa Jenar berdiam diri,
berkatalah anak itu, ”Sudahlah Paman, aku akan pulang. Hari telah malam.”
Anak itu tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar. Demikian ia selesai berbicara segera ia menghambur ke dalam gelap. Di kelokan jalan, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih melihat anak itu singgah di sebuah warung untuk membeli sesuatu.
”Itulah Kakang... gambaran Banyubiru saat ini. Suram dan mengerikan.
Menyabung ayam di siang hari dan tuak di malam hari,” kata Mahesa Jenar
kepada Kebo Kanigara.
”Kesalahan yang tak boleh dibiarkan lebih lama
lagi,” jawab Kebo Kanigara.
Kemudian kedua orang itu bersepakat untuk menyaksikan tari tayub yang sebentar lagi akan diselenggarakan di lapangan itu.
Demikianlah, ketika hari menjadi semakin gelap, di tanah lapang itu menjadi
semakin banyak orang. Beberapa orang niyaga pun telah bersiap di belakang
seperangkat gamelan. Sehingga sesaat kemudian suara gamelan telah mulai mengalun,
menggoncang kesepian malam, yang kemudian disusul dengan suara waranggana
memanjat tinggi. Namun terasalah bahwa suasananya bukanlah suasana yang sopan.
Sebentar kemudian ternyata bahwa memang
demikianlah yang terjadi. Beberapa orang lelaki segera muncul di gelanggang.
Menari dan berdendang. Sedang dari mulut mereka menyebar bau tuak. Disusul
dengan munculnya beberapa orang ledek di tengah-tengah arena itu.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara duduk tidak
seberapa jauh dari tempat itu. Namun mereka mencari tempat yang gelap, dimana
cahaya obor tidak menyentuhnya, karena bayang-bayang beberapa orang yang berdiri
menonton.
Ketika malam menjadi semakin dalam, suasana di tengah tanah lapang itu pun menjadi semakin riuh. Beberapa orang telah menjadi pening karena mabok. Bahkan beberapa orang telah kehilangan kesadaran dan berbuat hal-hal yang aneh-aneh di arena itu. Beberapa penari wanita yang telah terlatih melayani mereka dengan baiknya, sehingga suasana di arena itu betul-betul menjadi suasana gila-gilaan.
Dalam keadaan yang demikian tidak mustahil kalau
sampai terjadi bentrokan-bentrokan dan perkelahian-perkelahian diantara mereka,
karena mereka telah kehilangan pengamatan diri.
Di tepi arena, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara
melihat beberapa orang yang sibuk berjualan. Apa saja yang dapat mereka jual.
Makanan, minuman dan tembakau. Mereka sama sekali tidak menaruh perhatian pada
suasana yang berlangsung di sekitarnya. Yang penting bagi mereka adalah bahwa
dagangan mereka laku, dan mereka mendapat uang sebanyak-banyaknya. Para penjual
yang terdiri laki-laki dan perempuan, menghanyutkan diri saja dengan keadaan.
Bersenda-gurau, berteriak-teriak melayani orang-orang mabok atau kelelahan.
Namun orang itu tak sempat menghitung lagi berapa uang yang harus mereka
bayarkan. Asal mereka menggenggam uang logam, mereka lemparkan begitu saja
kepada penjualnya, perempuan-perempuan muda yang merajuk dengan manjanya.
Tetapi tiba-tiba mata Mahesa Jenar dan Kebo
Kanigara sempat melihat seorang perempuan yang berdiri tegak agak di kejauhan.
Nampaknya ia ragu-ragu untuk mendekati tempat itu. Tetapi kemudian
perlahan-lahan ia melangkah maju. Ketika ia menjadi semakin dekat, dan seleret
sinar lampu para penjual menyambar wajahnya, tampaklah bahwa perempuan itu
memiliki ciri-ciri yang lain dari setiap perempuan yang berada di tanah lapang
itu. Wajahnya yang sayu pucat dan tubuhnya yang kekurus-kurusan, seolah-olah
mencerminkan perasaannya yang sedih.
Ketika beberapa orang melihatnya, segera mereka
melemparkan pandangan mata mereka. Tetapi ada juga orang yang dengan nada
mengejek berteriak, ”Marilah Nyai. Apakah yang kau cari...?”
Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi segera
matanya memandang berkeliling, kepada hampir semua orang yang berdiri di sekitar
arena itu. Seakan-akan ia sedang mencari seseorang diantara wajah-wajah itu.
”Anakmu tidak berada di sini, Nyai,”
teriak salah seorang, yang kemudian disusul dengan gelak tawa.
”Carilah anak itu di tengah rimba,” sambung suara yang lain. ”Mungkin
ia berada bersama bapaknya.” Kembali terdengar suara bergelak-gelak.