NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
406
DALAM kecerahan pagi itu tampaklah orang-orang yang duduk di atas sebuah
bale-bale besar di rumah Paniling masih belum berkisar dari tempatnya. Mereka
masih dengan asiknya mendengarkan kisah dari orang tua yang berjubah abu-abu itu.
Sementara itu, tiba-tiba orang yang berjubah abu-abu itu berkata. Radite,
biarlah aku melepaskan jubah abu-abuku, supaya orang-orang yang lewat di muka
rumahmu ini tidak menjadi keheran-heranan melihat pakaianku yang tidak biasa di
pedukuhanmu ini.
Dengan tergoboh-gopoh Radite mempersilahkan orang tua itu masuk ke dalam sebuah
ruangan untuk berganti pakaian. Untunglah bahwa hal itu segera dilakukan, sebab
ketika matahari telah semakin naik di atas punggung-punggung perbukitan,
tampaklah jalan-jalan pedukuhan itu mulai sibuk. Beberapa orang telah mulai
turun ke sawah dengan binatang-binatang kesayangan mereka, menjelang saat tanam
padi.
Demikianlah, ketika beberapa orang lewat di muka pondok di ujung pedukuhan itu,
mereka melihat dua ekor kuda tertambat di halaman. Karena itu teringatlah mereka,
bahwa kemarin mereka melihat dari celah-celah pintu mereka, dua orang berkuda
lewat di jalan pedukuhan itu. Karena itu sesuai dengan watak-watak mereka yang
sederhana dan penuh rasa kekeluargaan, mereka pun merasa berkepentingan pula
dengan penunggang-penunggang kuda itu. Meskipun demikian mereka terheran-heran
pula ketika mereka melihat bekas-bekas tanaman yang terinjak-injak di halaman.
Ketika beberapa orang menjenguk ke dalam rumah itu, dilihatnya beberapa orang
duduk-duduk di atas bale-bale besar bersama-sama dengan Ki Paniling dan Ki Darba.
Karena itu dengan ramahnya mereka menyambut kehadiran mereka. Dengan
tergopoh-gopoh pula Paniling dan Darba mempersilakan mereka masuk dan
memperkenalkan mereka yang masih dapat mengenal Mahesa Jenar. Karena itu
terdengar suara orang itu. He, kakang Paniling bukankah ini kemanakanmu yang
beberapa tahun yang lalu pernah datang kemari?
Ki Paniling tersenyum lebar, jawabnya, Otakmu agaknya baik sekali. Ya, ialah
kemenakan yang beberapa tahun yang lalu pernah datang kemari.
Kemudian sambil tertawa-tertawa bangga atas pujian itu, orang itu bertanya
seterusnya, Dan siapakah yang dua lagi?
Ia juga kemanakanku, sahut Paniling, Dan yang satu lagi...
Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Bagaimana ia mesti menyebut gurunya. Untunglah
bahwa gurunya segera menyahut, Aku adalah kakaknya. Ayah anak-anak ini.
O... terdengar beberapa orang bergumam. Lalu berkata salah seorang
diantaranya, Selamatlah Kakang berkunjung ke pedukunan ini. Mudah-mudahan
Kakang krasan pula, dan sudi singgah ke rumah tetangga-tetangga di sebelah.
Pasti, pasti, jawab guru Radite itu. Aku akan tinggal beberapa hari
di sini. Dan aku akan singgah di rumah kalian apabila waktuku memungkinkan.
Demikianlah terjadi percakapan yang akrab dan semanak di antara mereka.
percakapan yang sama sekali tidak dibumbui oleh maksud-maksud lain daripada apa
yang mereka percakapkan. Penduduk pedukuhan itu sama sekali tidak mengenal
cara-cara yang dilapisi oleh sifat berpura-pura. Dada mereka tak ubahnya seperti
sebuah kitab lontar yang terbuka. Setiap orang yang berkepentingan akan langsung
dapat membacanya kata demi kata. Demikianlah huruf itu membentuk kata-kata serta
kalimat-kalimat.
Demikianlah maksud serta isi dari kitab itu
sebenarnya.
Tetapi mereka tidak lama berada di tempat itu.
Karena sawah serta ladang mereka selalu menunggu. Menunggu uluran tangan para
petani yang dengan setia dan tekun menggarapnya. Tanpa banyak persoalan. Mereka
bekerja untuk memetik hasilnya. Karena itu mereka sadar bahwa apabila mereka
tidak bekerja, maka mereka pun akan kelaparan. Dengan demikian mereka tidak
pernah berpikir lain daripada kesejahteraan pedukuhan mereka, tergantung atas
kesanggupan serta kemauan mereka bekerja.
Dan seandainya ada orang lain, yang berbelas
kasihan memberi kepada pedukuhan itu kesejahteraan yang melimpang-limpah, maka
pastilah itu bukan hal yang sewajarnya. Pastilah dengan demikian mereka
mempunyai pamrih. Setidak-tidaknya orang-orang dari pedukuhan itu akan terikat
oleh suatu perasaan berhutang budi. Dan dengan demikian hilanglah sebagian,
meskipun hanya sebagian kecil, kemerdekaan serta kedaulatan mereka atas diri
sendiri.
Karena itulah maka mereka bekerja keras dengan
penuh kegembiraan dan terima kasih. Terima kasih kepada Tuhan yang telah
melimpahkan tenaga dan tanah garapan bagi mereka.
Namun ketika mereka meninggalkan halaman rumah
itu, ada juga yang sempat bertanya, Bapak Paniling, kenapakah
tanaman-tanaman Bapak rusak bekas terinjak-injak?
Paniling agak binggung untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi akhirnya diketemukan juga jawabnya. Akh, semalam kuda tamu-tamuku itu lepas dari ikatannya. Terpaksalah kami beramai-ramai menangkapnya.
Mereka percaya saja pada keterangan itu. Bahkan beberapa orang menjadi geli
karenanya. Tetapi apabila mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, pastilah
mereka mempunyai tanggapan yang akan sangat jauh berbeda.
Demikianlah ketika para petani meninggalkan rumah
Ki Paniling, kembali perhatian mereka tertuju kepada orang tua yang sekarang
sudah tidak lagi mengenakan jubah abu-abu. Tetapi orang tua itu kini mengenakan
baju lurik merah coklat serta ikat kepala yang kehijau-hijauan.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah mengenal wajah orang itu dengan baiknya sebagai seorang Panembahan. Tetapi kali ini, dalam pakaian yang lain, tidak seperti yang biasa dipakainya, yaitu jubah putih, tampaklah bahwa wajah itu menjadi semakin segar. Cahaya matanya tidak saja tampak dalam dan damai, seperti biasa, yang seolah-olah menjangkau jauh ke alam yang tidak kasat mata. Tetapi mata itu kini memancar dengan terangnya menyorot ke depan, ke masa yang akan datang. Ke masa yang tidak terlalu jauh. Maka seolah-olah terjadilah suatu paduan antara masa depan yang dekat dengan masa yang tak teraba oleh pancaindera.
407
KETIKA suara sendau dan tawa para petani sudah hilang di kejauhan, orang tua itu agaknya merasa perlu untuk melanjutkan keterangannya. Karena itu ia mulai berkata, Anak-anakku sekalian. Demikianlah tuah dari kedua keris yang sedang kau cari itu. Ia baru bermanfaat bagi pemiliknya apabila jiwa keris itu sudah luluh dalam dirinya. Pertandanya bahwa keris itu kehilangan kecemerlangannya. Ia kuningan. Tetapi kedua keris itu menjadi tak ubahnya seperti besi biasa saja. Sama warnanya dengan sebuah pisau dapur saja. Sedang apabila jiwa kedua keris itu luluh pada diri seseorang, maka orang itu akan memiliki sifat-sifat khusus yang meresap ke dalam dirinya. Kyai Nagasasra mempunyai watak disuyuti oleh kawula. Dicintai dan disegani oleh rakyat. Dengan demikian ia akan mencinta kasih Tuhan, perikemanusiaan, memberi perlindungan kepada orang yang kehujanan dan kepanasan, memberi makanan kepada orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, memberi tuntunan bagi yang kehilangan jalan. Sedang Kyai Sabuk Inten mempunyai watak seperti watak lautan. Luas tanpa tepi. Menampung segala arus sungai dari manapun datangnya. Menerima dengan tadah banjir yang bagaimanapun besarnya. Namun gelombangnya dapat menunjukkan kedahsyatan dan kesediaan bergerak dan bahkan selalu bergerak. Watak yang demikianlah yang memungkinkan seseorang dapat menemukan yang belum pernah diketemukan. Dan karenanyalah kesejahteraan rakyatnya dapat dijamin. Kesejahteraan lahir dan batin. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengalirkan airnya yang ditampung dapat beriak dengan manisnya, namun dapat bergulung-gulung dengan dahsyatnya, seolah-olah lautan itu sedang mendidih.
Orang tua itu berhenti sejenak. Ia memandang berkeliling lalu melemparkan sorot
matanya yang damai itu lewat lubang pintu dan jatuh di atas tanah berdebu di
halaman. Sekali-kali ia menarik nafasnya dalam-dalam. Seolah-olah ada sesuatu
yang kurang pada tempatnya. Kemudian terdengarlah ia melanjutkan, Sayang,
bahwa kedua keris itu masih harus dilengkapi dengan yang satu lagi. Kyai
Sengkelat. Keris itupun sekarang sudah lenyap dari perbendaharaan istana.
Kyai Sengkelat? sela Mahesa Jenar hampir berteriak.
Orang tua itu mengangguk, jawabnya, Ya, Kyai Sengkelat.
Tidak saja keris-keris itu tidak mau luluh pada diri seseorang, tetapi
keris-keris itu ternyata lolos dari tempat penyimpanannya. Padahal Sengkelat pun
tidak kalah pentingnya. Ia memiliki watak yang lengkap dari watak seorang
prajurit. Prajurit yang setia dan patuh akan kewajibannya, yang bekerja dan
berjuang bukan untuk kepentingan diri. Tetapi seorang prajurit akan berjuang
untuk tanah tumpah darah serta rakyatnya, dengan penuh kejujuran dan tanpa
pamrih, dalam lingkaran kebaktian dan cinta kasih Yang Maha Agung.
Suasana kemudian menjadi hening sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan
sendiri. Mahesa Jenar yang dengan bekerja keras dan mati-matian berusaha untuk
menemukan Kyai Sabuk Inten, bahkan usahanya itu belum dapat dikatakan berhasil
sepenuhnya, tiba-tiba ia mendengar bahwa Kyai Sengkelat pun sedang lolos dari
simpanannya.
Sedang Kebo Kanigara, sebagai seorang keturunan
Brawijaya, menjadi sedih pula. Bagaimanapun juga, ia masih selalu merindukan
kebesaran yang pernah dicapai oleh Majapahit dahulu.
Tiba-tiba terdengarlah Kebo Kanigara bertanya, Tuan,
tidak adakah hulubalang Istana yang dapat berusaha untuk menemukan keris-keris
itu?
Orang tua itu kemundian tersenyum. Jawabnya, Tidak kurang banyaknya para prajurit Demak yang disebar ke segenap penjuru. Bukankah Mahesa Jenar pernah juga bertemu dengan Gajah Alit dan Panigron? Juga bukankah Arya Palindih pernah diutus ke Banyubiru untuk menemukan keris-keris itu? Bahkan sampai sekarangpun masih banyak dari para perwira Demak yang berkeliaran mencari pusaka-pusaka itu."
Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun jelas terbayang di dalam
kepalanya, bahwa para prajurit Demak itu akan menjadi selalu kecewa, karena
mereka tidak akan dapat menemukan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Agaknya
Kyai Sengkelat pun masih terlalu sulit untuk diketahui tempatnya.
Sebenarnya tidaklah terlalu banyak orang yang
mengetahui hilangnya pusaka-pusaka itu. Sebab memang hal itu dirahasiakan. Yang
boleh mengetahui hanyalah orang-orang terbatas saja. Tetapi ada di antara mereka
yang bertugas, terutama dari pejabat-pejabat rahasia Demak sendiri, mempunyai
pamrih atas pusaka-pusaka itu. Sebab mereka mempunyai pengertian yang salah,
seolah-olah siapa saja yang memiliki pusaka itu, dengan sendirinya akan dapat
menduduki tahta.
Orang tua itu kembali membetulkan letak duduknya.
Dan sekali-kali menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan, Padahal,
segala sesuatu sangat tergantung kepada orang itu sendiri. Dan tergantung
padanya pulalah pusaka-pusaka keraton itu dapat luluh atau tidak ke dalam
dirinya. Itulah yang biasa disebut orang -wahyu-. Dan wahyu itu bukanlah semacam
permainan dadu dengan mempertaruhkan keberuntungan, tetapi untuk dapat menerima
wahyu maka seseorang harus mempersiapkan dirinya sebagai wadah dari watak dan
sifat-sifat wahyu itu. Karena itulah maka untuk menerima wahyu seseorang harus
bekerja keras, mesu raga dengan penuh keprihatinan.
Segala sesuatunya menjadi jelas bagi Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan kedua murid Pasingsingan itu. Tetapi justru karena itu Mahesa Jenar tidak lagi menjadi gelisah atas pusaka-pusaka keraton yang hilang itu. Sebab meskipun ia berada di tangan seseorang, seseorang yang mempunyai pamrih sekalipun, tidaklah ia akan selalu berhasil setelah memiliki kedua pusaka itu.
Meskipun demikian untuk meyakinkan diri sendiri, bertanyalah Mahesa Jenar, Tuan,
aku sudah dapat memahami semua keterangan itu. Namun meskipun demikian, untuk
menenteramkan perasaanku sendiri, aku ingin mendapat penjelasan yang pasti,
apakah kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten ada pada Tuan.
408
SEKALI lagi orang itu tersenyum. Sambil mengangguk ia menjawab, Benar...
Mahesa Jenar. Kedua keris itu ada padaku. Jangan takut. Bagiku kau adalah
lantaran yang sebaik-baiknya untuk menyerahkan kembali kedua pusaka itu ke Demak
kelak apabila kita sudah mendapat gambaran, siapakah yang paling sesuai untuk
menjadi wadah dari wahyu itu. Meskipun demikian segala sesuatu masih tergantung
atas kebenaran yang terringgi. Adakah Tuhan memperkenankan atau tidak. Sebab
Tuhan-lah Maha Penentu dari segala kejadian.
Yang tiba-tiba menjadi persoalan di dalam otak Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara
kemudian adalah Ki Ageng Gajah Sora. Ia akan dapat dibebaskan apabila kedua
keris itu sudah dapat diketemukan. Sebab dengan demikian akan dapat dibuktikan
apakah ia bersalah atau tidak. Sedang menurut orang tua itu, penyerahan kembai
keris-keris itu masih memerlukan waktu. Lalu bagaimanakah yang akan terjadi
dengan Gajah Sora itu...? Karena persoalan itu bertubi-tubi menghantam dinding
kepalanya, akhirnya Mahesa Jenar memberanikan diri bertanya, Tuan... Masih
ada sesuatu yang sangat mengganggu perasaanku, yaitu masalah Kakang Gajah Sora.
Dengan demikian maka ia tidak akan segera mendapatkan penyelesaian.
Orang tua itu, yang pernah mengenakan gelar Pasingsingan itu, mengerutkan
keningnya. Persoalan itu bagi Banyubiru bukan persoalan yang kecil. Sebab
persoalan itu bagi Banyubiru akan menentukan garis sejarah masa depan Banyubiru,
meskipun tidak seluruhnya. Untunglah Gajah Sora meninggalkan seorang anak
laki-laki yang dapat dibanggakan, Arya Salaka. Karena itu ia berkata, Mahesa
Jenar... sebaiknya kalian tidak usah menunggu Gajah Sora. Bawalah Arya Salaka ke
dalam tugas sucinya. Aku kira ia cukup mampu untuk melakukan, meskipun kau harus
selalu berada di sampingnya. Sedangkan Ki Ageng Gajah Sora... serahkan saja
kepadaku.
Sekali lagi suatu pertanyaan membersit di dalam hati Mahesa Jenar, bahkan juga di dalam hati Kebo Kanigara dan kedua murid Pasingsingan itu. Mereka mendapatkan suatu firasat yang mengatakan bahwa orang tua itu bagaimanapun pasti mempunyai hubungan sambut rapat dengan Sultan Trenggana atau pemerintah Demak.
Akhirnya Kebo Kanigara tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk mengetahui
keadaan orang tua itu lebih banyak lagi, sehingga kemudian ia berkata, Tuan,
telah bertahun-tahun aku tinggal di Bukit Karang Tumaritis, bersama-sama dengan
Tuan dalam kedudukan Tuan sebagai seorang Panembahan bergelar Panembahan Ismaya.
Namun kemudian ternyata aku sama sekali masih belum mengenal Tuan. Sebab
ternyata aku masih belum mengetahui apa yang Tuan lakukan apabila Tuan sampai
berbulan-bulan meninggalkan padepokan kami. Juga ternyata karena
keterangan-keterangan Tuan, aku malahan menjadi semakin banyak menyimpan
pertanyaan-pertanyaan tentang Tuan. Karena itu seandainya Tuan tidak keberatan
sejalan dengan pernyataan Tuan untuk tidak berahasia lagi, khususnya terhadap
kami, apakah Tuan tidak keberatan apabila Tuan menyatakan kepada kami siapakah
Tuan serta dari manakah Tuan sebenarnya.
Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya,
berkatalah ia dengan suara yang dalam dan perlahan, Kebo
Kanigara dan kalian yang lain... apakah ada perlunya aku menyatakan diri serta
asal-usulku? Sebab apa yang sudah terjadi itu tidak akan banyak pengaruhnya bagi
masa yang akan datang.
Karena Mahesa Jenar pun ingin sekali mendengar keterangan itu, ia pun
mendesaknya, Bahwa masa lampau selalu penting bagi
masa kini maupun masa depan. Apa yang terjadi sekarang karena telah terjadi
sesuatu pada masa-masa lampau. Karena itu kami tidak akan dapat meninggalkan
angkatan dari masa lampau. Alangkah kerdilnya jiwa kami apabila kami memperkecil
arti angkatan-angkatan sebelum kami. Meskipun bukan berarti bahwa kami akan
selalu menggantungkan diri padanya. Namun pengalaman-pengalaman adalah mahaguru
yang sangat baik. Hasil-hasil yang pernah dicapai serta cara-cara untuk
mencapainya. Juga kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan adalah suatu cermin
untuk mengenal cacat wajah sendiri.
Kembali orang itu mengangguk-angguk. Matanya yang sejuk itu sekali lagi
terlempar ke atas tanah berdebu di halaman. Matahari kini telah semakin tinggi
menggantung di langit yang biru bersih. Daun-daun yang hijau segar tampak
berkilat-kilat memantulkan cahayanya yang cerah.
Orang tua yang menamakan diri Panembahan ismaya itu masih berdiam diri.
Tampaknya ia agak ragu-ragu. Namun akhirnya diceritakanlah kepada Mahesa Jenar,
Kebo Kanigara dan kedua muridnya itu tentang dirinya. Anak-anakku
sekalian.... Baiklah aku menuruti permintaanmu. Tetapi jangan kau ceritakan
kepada orang lain dari apa yang akan kau dengar.
Ia berhenti sejenak untuk mendapat kesan bahwa mereka yang akan mendengarkan
ceritanya benar-benar tidak akan mengatakan kepada orang lain. Sejenak kemudian
ia meneruskan, Yang mula-mula boleh kau ketahui, namaku yang sebenarnya yang
diberikan oleh ayah dan ibuku, adalah Buntara, lengkapnya Raden Buntara.
Mendengar nama itu, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara
dan kedua muridnya bersama-sama tergerak hatinya. Bahkan tiba-tiba Kebo Kanigara
mengangkat wajahnya serta memandang orang tua itu tajam-tajam. Memandang segenap
bagian tubuhnya seolah-olah di dalamnya tersimpan sesuatu yang sangat menarik
perhatiannya. Agaknya orang tua itu merasa betapa Kebo Kanigara tertarik pada
namanya. Karena itu ia bertanya, Adakah sesuatu yang menarik dari nama itu,
Kanigara...?
Kanigara mengerutkan keningnya. Otaknya bekerja
keras untuk mengingat-ingat nama-nama yang pernah didengarnya. Akhirnya seperti
orang terperanjat ia menjawab, Ya... nama itu sangat menarik bagiku.
Orang tua itu tersenyum, lalu katanya, Apakah yang menarik?
409
KANIGARA kembali menarik alisnya. Ketika kemudian ia teringat sesuatu, hampir
berteriak ia berkata, Raden Buntara, bukankah Raden
Buntara itu adik Sultan Brawijaya Pamungkas dari seorang garwa ampeyan...?
Sekali lagi orang tua itu tersenyum. Katanya, Kau pernah mendengar nama itu?
Ya, jawab Kanigara, Aku pasti pernah
mendengarnya. Ayahku pernah menyebut-nyebut nama itu.
Tentu, sahut orang tua itu. Ayahmu
pasti pernah menyebut-nyebut namaku. Aku adalah pamannya yang paling dekat
dengan ayahmu itu.
Kalau demikian Tuan lah Eyang Buntara yang pernah aku dengar namanya, kata Kanigara sambil membungkuk hormat. Hormat sekali.
Raden Buntara mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, Kanigara,
kau benar. Aku adalah orang yang kau maksud itu. Tetapi jangan panggil aku Eyang
Buntara. Panggilah aku Panembahan Ismaya.
Sekali lagi Kebo Kanigara membungkukkan kepala dengan takzimnya. Bahkan kemudian
Mahesa Jenar, Radite dan Anggara pun membungkuk hormat. Hormat kepada seorang
yang mereka segani. Tetapi lebih dari itu, orang tua itu ternyata adalah adik
Baginda Brawijaya pamungkas.
Untuk sesaat suasana ditelan oleh kesepian. Berbagai perasaan muncul di dalam
kepala masing-masing. Sehingga kemudian kesunyian itu dipecahkan oleh suara
Panembahan Ismaya. Tetapi kemudian aku terlibat dalam berbagai persoalan,
sehingga aku merasa perlu untuk mengasingkan diriku dari dunia ramai.
Sekali lagi orang tua itu berhenti untuk menarik
nafas dan membetulkan duduknya. Kemudian disambungnya lagi, Ketika itu
terjadi perbedaan paham yang bersumber pada perbedaan kepercayaan. Pada waktu
itu aku sudah mencoba untuk meyakinkan bahwa kepercayaan bukanlah sumber yang
tak dapat dibendung. Namun agaknya Sultan merasa bahwa ia lebih baik
mengundurkan diri dari tahta serta meninggalkan istana. Tetapi Raden Patah pun
sama sekali tidak mau memperkosa kekuasaan Majapahit. Karena itu sebelum Prabu
Brawijaya itu menyerahkan kekuasaan. Dan ternyata Prabu Brawijaya memberikan
izin itu, meskipun ia sudah berada di perjalanan. Ketika Raden Patah kemudian
memegang pimpinan kerajaan, dipindahkannya pusat kerajaan dari Majapahit ke
Demak, sehingga dengan demikian berakhirlah suatu rangkaian pemerintahan yang
berpusat di Majapahit.
Pada saat itu Prabu Brawijaya, diiringi oleh beberapa orang pergi berkelana dari satu tempat ke lain tempat. Beliau berjalan menyusur pantai selatan menuju arah matahari terbenam. Akhirnya sampailah beliau ke daerah Bukit Seribu, yang juga terkenal dengan nama Gunungkidul.
Setelah berhenti sejenak, orang tua itu meneruskan, Meskipun
aku adalah adik Brawijaya, namun umurku agak terpaut banyak daripadanya. Bahkan
dengan Raden Patah pun agaknya aku tidak lebih tua. Karena itu, pada suatu saat
Raden Patah memerintahkan kepadaku, bahwa ia mengharap dapat menerima kunjungan
ayahanda Baginda. Bahkan mengharapkan Prabu Brawijaya menghentikan perantauannya
dan menetap di suatu tempat yang dikehendakinya. Dengan susah payah aku menyusur
bekas perjalanan Baginda. Bertanya dari suatu tempat ke tempat lain. Dengan
demikian dapatlah banyak yang dilihat dan banyaklah yang dapat didengar, tentang
hidup dan penghidupan. Tentang alam dan seluk-beluknya, untuk melengkapi
pengetahuannya menjelang masa langgeng.
Kembali orang tua itu meneruskan ceritanya, Tetapi
terjadilah hal yang sama sekali tak terduga-duga. Seorang tumenggung yang ikut
serta dalam rombongan Baginda merasa curiga atas kehadiranku. Tumenggung itu
menyangka bahwa aku datang dengan pamrih. Kalau aku dianggap lawan yang harus
dibunuh, maka aku tidak akan sakit hati. Tetapi yang tidak dapat aku terima
adalah sangkaan yang bukan-bukan atas diriku dalam persoalan-persoalan yang
memalukan. Ia menganggap bahwa aku sengaja mendekatkan diriku kepada Baginda
untuk dapat mengetahui di mana kekayaan Baginda yang dibawa sebagai bekal
perjalanan, disimpan. Ia menuduh bahwa aku ingin memiliki harta kekayaan itu.
Dan yang lebih parah lagi, ia mempergunakan istrinya yang ikut serta dalam
perjalanan itu untuk memancing persoalan. Dengan susah payah aku selalu mencoba
untuk menghindarkan diri dari setiap bentrokan yang mungkin timbul. Namun ketika
akhirnya aku ketahui bahwa sebenarnya ialah yang bermaksud jahat atas Baginda
dan harta bendanya, aku tidak dapat membiarkannya.
Panembahan Ismaya berhenti sejenak. Pandangannya yang jauh menatap cahaya
matahari yang menari-nari di daun-daun dan ranting-ranting pepohonan di luar,
seolah-olah mencari lembah peristiwa-peristiwa masa lalu pada bayang-bayang yang
selalu bergerak di batang-batang kayu.
Setelah menarik nafas panjang, ia kembali meneruskan, Kemudian akulah yang
sengaja membuat persoalan. Atau tegasnya aku sengaja menanggapi
persoalan-persoalan yang dibuatnya. Agaknya darah mudaku pada saat itu sangat
mempengaruhi jalan pikiranku, sehingga karena itu aku telah membuat suatu
kesalahan. Seperti yang sekali dua kali pernah dilakukan, istri Tumenggung itu
sengaja datang ke pondokku di belakang rumah yang dipergunakan sebagai
pesanggrahan sederhana. Pada saat-saat sebelumnya, apabila perempuan itu datang,
aku selalu pergi menghindar jauh-jauh. Sebab aku sudah dapat mengetahui maksud
kedatangannya. Tetapi kali ini aku sengaja menemuinya.
410
AKU ingin mendengar apa yang akan dikatakannya kepadaku, meskipun aku sudah
dapat menduganya lebih dahulu. Ternyata dugaanku tidak jauh menyimpang.
Perempuan itu mula-mula mencela suaminya, kemudian memuji-muji aku sebagai
seorang pemuda yang gagah, tampan dan berani. Kemudian dengan solah yang
dibuat-buat, ia mulai mengatakan tentang ketidakpuasannya terhadap suaminya, dan
yang terakhir, yang tidak aku duga-duga bahwa sedemikian jauh pertentangan yang
ingin dibuatnya, adalah perempuan itu minta tolong kepadaku, supaya aku membunuh
suaminya. Tentu saja dengan pura-pura mengharap, supaya aku akan menggantikan
suami itu.
Sayang jawabku kepada perempuan itu berterus terang Aku sudah tahu
permainan yang harus kau lakukan. Bukankah dengan demikian setiap orang akan
menuduh aku merebut isteri orang. Suamimu mengharap aku akan menyerangnya. Siang
atau malam, apabila laki-laki itu tampaknya sedang lengah. Namun sebenarnya ia
telah siap membunuhku, sebab kau sudah memberitahukan kepadanya. Kalau laki-laki
itu sudah berhasil melawan aku dalam suatu perkelahian, maka setiap orang akan
meludah dihadapanku. Hidup atau mati. Nah, kalau demikian katakanlah kepadanya.
Kalau ia menghendaki suatu perkehalian, suruhlah ia menantang aku sebagai
seorang laki-laki. Ada atau tidak ada persoalan.
Wajah perempuan itu menjadi merah. Tetapi agaknya ia memang perempuan yang
cerdik. Aku mengharap ia akan marah, dan berlari menyampaikan kata-kataku kepada
suaminya. Tetapi ia tidak berbuat demikian. Wajahnya yang merah itu sesaat
kemudian telah cerah kembali. Sambil tersenyum-senyum ia mendekati aku. Katanya
Kau laki-laki jujur. Sayang kau masih terlalu muda untuk menanggapi
persoalan. Agaknya Raden belum mengenal aku sungguh-sungguh.
Mula-mula aku menjadi gemetar ketika tiba-tiba perempuan itu meraba tubuhku. Bahkan kemudian aku menjadi muak. Dan karena itulah aku berbuat kesalahan. Sebenarnya lebih baik sekali aku berlari jauh-jauh meninggalkan tempat itu. Tetapi aku tidak berbuat demikian. Ketika aku tidak dapat menahan perasaan muak yang bergolak di dalam dadaku, perempuan itu aku dorong keras-keras dan jatuh terbanting dilantai. Karena itulah maka tiba-tiba terdengar ia berteriak-teriak. Mula-mula aku menyangka bahwa ia berteriak karena kesakitan. Tetapi dugaanku itu ternyata keliru. Perempuan itu sama sekali tidak berteriak karena kesakitan. Ternyata beberapa saat kemudian terdengarlah langkah beberapa orang berlari-lari. Beberapa diantaranyalangsung masuk ke dalam pondok. Hampir pecah kepalaku pada saat itu ketika aku mendengar perempuan itu berteriak Lelaki gila. Aku diseretnya kemari dengan kasarnya. Semua mata terarah kepadaku. Diantaranya adalah sepasang mata laki-laki tamak, suami dari perempuan gila itu. Sambil menggeram mengerikan ia bertanyakepada isterinya dengan suara mengguntur.
Hai perempuan rendah. Apa kerjamu disini?
Dengan suara tergagap perempuan itu menjawab aku tidak
sengaja datang kemari. Aku berjalan dihadalaman untuk memetik sirih. Tetapi
tiba-tiba aku diseret oleh laki-laki itu dengan laku seekor binatang kelaparan.
Kembali laki-laki itu mengeram. Kemudian dengan pandang mata yang mengerikan
pula ia bertanya kepadaku. Kau hinakan nama isteriku
Raden. Sayang bahwa suaminya adalah seorang laki-laki yang mempunyai harga diri.
Kalau kau inginkan dia, marilah kita selesaikan dengan cara seorang laki-laki.
Aku menjadi ragu. Untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya agaknya sama
sekali tidak ada gunanya. Karena itu aku mengambil keputusan untuk menerima
tantangannya. Bukankah aku memang ingin membuat perhitungan dengan Tumenggung
itu? Namun sayang, sangatlah sayang. Bahwa tak seorangpun yang mengerti keadaan
sebenarnya. Tak seorangpun yang mengerti isi hatiku yang sesungguhnya, kecuali
seorang jajar tua yang sangat setia kepada baginda. Dan jajar itu pulalah yang
mengetahui segala seluk beluk pokal Tumenggung itu. Ia pulalah yang mendengar
dengan telinganya sendiri, bagaimana Tumenggung itu mengadakan
pertemuan-pertemuan dengan para Menteri yang sependapat dengan pikirannya.
Tetapi ia hanyalah seorang jajar yang tidak berarti. Karena itu, apa yang
didengar dan diketahuinya itu tak dapat dipercaya oleh siapapun meskipun ia
sudah pernah mengajukannya kepada baginda lewat seorang bupati dalam yang boleh
dipercaya. Bahkan akhirnya Bupati itu yang semula tertarik kepada ceriteranya
berkata kepadanya Jajar, agaknya kau terlalu letih.
Karena kau bermimpi buruk.
Akulah orang yang pertama-tama menaruh perhatian sepenuhnya atas
keterangannya. Ia langsung berkata kepadaku, kepada adik baginda. Ia
mengharapkan keselamatan baginda dapat terjamin.
Akhirnya terjadilah perkelahian itu. Perkelahian yang ditunggui oleh beberapa orang saksi.
Tumenggung itu agaknya yakin bahwa ia akan
dapat membunuhku. Dengan demikian rencananya tidak akan terhalang. Ia memang
pernah mengenal aku sebelumnya, dan aku pernah mengenalnya pula, sebagai seorang
Tumenggung dalam susunan keprajuritan Majapahit. Justru dalam kesatuan pengawal
raja.
Namun perkelahian itu berakhir sebaliknya. Akupun kemudian kehilangan pengamatan
diri, sehingga tanpa aku sadari, laki-laki itu terbunuh oleh tanganku. Mula-mula
aku merasa bhawa akibatnya tidak akan terlalu jauh. Aku akan berusaha meyakinkan,
bahwa apa yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti yang diduga oleh banyak orang.
Tetapi aku tidak mempunyai kesempatan.
Untuk beberapa saat Panembahan Ismaya berhenti berceritera. Matanya yang memancar damai itu kemudian tampak sayu dan redup. Agaknya kenangan masa silam itu tidak begitu menyenangkan. Kemudian ia meneruskan. Ketika pertempuran itu berakhir beberapa orang sahabat Tumenggung itu mengangkat mayatnya pergi, sedang beberapa orang lain dengan pandangan yang aneh berkata kepadaku. Nah, Raden. Tuan sekarang berhak memiliki perempuan itu.
Tentu saja aku terkejut. Karena itu aku jawab Aku tidak perlukan perempuan
itu.
Beberapa orang itu mencibirkan bibirnya. Kata salah seorang diantaranya . "Hm, agaknya tuan mau bermain-main saja dengan isteri orang. Tetapi kemudian tuan mengingkari kewajiban tuan.