NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
401
TERDENGAR orang berjubah itu tertawa pendek. Lalu sahutnya, ”Radite, kau
agaknya terlalu cemas melihat bayanganmu sendiri. Bagiku, dosamu tidak sebesar
yang kau duga sendiri. Sudah aku katakan bahwa kalau aku tidak ingin menjumpaimu
lagi itu karena kekerdilan jiwaku sendiri. Jiwa orang tua yang merindukan masa
lampau itu tetap menjadi kebanggaannya. Bahkan kalau mungkin, menjadi kebanggaan
setiap orang Radite dan Anggara, ternyata apa yang cemerlang di masa lampau
tidaklah selalu yang cemerlang masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan ini
akhirnya harus aku yakini meskipun tidak semua yang berasal dari masa lampau itu
harus dilupakan dan disisihkan.
Namun satu hal yang bagiku tetap harus tak berubah dari masa ke masa. Dari masa
lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Bahwa apa yang kita lakukan
seharusnya kita abdikan dengan penuh kasih dan cinta kepada manusia dan
kemanusiaan. Bukan sebaliknya manusia dan kemanusiaan kita abdikan pada diri
kita, pada kepentingan kita pribadi. Demikianlah manusia akan mencerminkan kasih
dan cinta Tuhan.”
Tidak hanya Radite dan Anggara yang meresapi kata-kata orang berjubah itu. Juga
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendengarkan kata demi kata dengan seksama.
Sehingga untuk sesaat mereka lupa pada kepentingan mereka sendiri.
Sementara itu terdengar orang berjubah itu meneruskan, "Dan karena itulah
agaknya aku datang kemari. Kalau pada saat-saat lampau tak sepantasnya
orang-orang muda menyeret orang-orang tua ke dalam satu persoalan, namun
sekarang ternyata aku terseret kemari karena pokal anak-anak muda.”
Radite dan Anggara terkejut mendengar kata-kata itu. tanpa disengaja mereka
menoleh kepada Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang masih duduk disamping mereka.
Namun ketika didengarnya kata-kata orang berjubah itu, mereka pun mengangkat
wajah mereka.
Dan orang berjubah itu pun meneruskan, ”Aku terpaksa datang kemari karena aku
tidak mau melihat permainan yang berbahaya.”
Radite dan Anggara menjadi semakin tercengang. Sedangkan Mahesa Jenar dan Kebo
Kanigara terpaksa menundukkan wajah. Dalam pada itu terdengar kelanjutan
kata-kata orang berjubah itu, ”Nah Radite... katakanlah kepadaku sekarang,
apakah kau menyimpan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten...?”
Bukan main terkejutnya. Tidak hanya Radite dan Anggara. Tetapi juga Mahesa Jenar
dan Kebo Kanigara. Dengan tergagap terdengar Radite menjawab, ”Guru, aku sama
sekali tidak menyimpan kedua pusaka itu. seandainya demikian, buat apakah
kiranya kedua pusaka itu bagiku?”
Orang berjubah itu menoleh kepada Mahesa Jenar dan bertanya kepadanya, ”Aku
dengar, kau berkeras menuduh bahwa kedua pusaka itu berada di tempat ini.”
Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan itu.
Karena itu dengan ragu-ragu ia menjawab, ”Ya Tuan... memang aku menyangka
bahwa kedua keris itu berada di sini.”
”Nah...” jawab orang berjubah itu, ”Radite dan Anggara telah menjawab
bahwa kedua pusaka itu tidak berada di tempat ini. Kau harus percaya, sebab
sepengetahuanku, Radite dan Anggara tidak pernah berbohong.”
Kembali Mahesa Jenar kebingungan. Sesekali ia menoleh kepada Kebo Kanigara.
Tetapi Kebo Kanigara agaknya sedang berpikir. Karena itu akhirnya Mahesa Jenar
terpaksa menjawab, ”Tuan... memang sebenarnya aku tidak ingin menemukan keris
itu di sini.”
”Lalu apakah maksudmu sebenarnya...?” desak orang berjubah itu.
Sekali lagi Mahesa Jenar ragu. Sedangkan Radite dan Anggara pun menjadi bingung.
Ia tidak mengerti arah jawaban Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar sendiri, yang mula-mula sudah merencanakan segala sesuatu dengan
lengkap dan urut, namun di hadapan orang berjubah abu-abu itu semuanya menjadi
terpecah-pecah kembali. Seolah-olah ia kehilangan ingatan atas segala rencana
yang telah disusunnya bersama Kebo Kanigara. Meskipun demikian satu hal yang
dapat dijadikan pegangan. Orang berjubah abu-abu itu kini sudah datang.
Karena itu ia tidak perlu berbelit-belit lagi. Dan ketika ia melihat Kebo
Kanigara mengangguk kecil, berkatalah Mahesa Jenar, "Tuan yang berjubah
abu-abu, kalau aku datang kemari dan memaksakan suatu perselisihan kepada Paman
Radite dan Paman Anggara, sebenarnya adalah karena Tuan. Sebab sejak semula aku
pun sudah percaya bahwa kedua keris itu sama sekali tidak berada di tempat ini,
tetapi berada pada seseorang yang sakti, yang mengenakan jubah abu-abu mirip
dengan jubah yang pernah dan selalu dipakai oleh Pasingsingan.”
Radite dan Anggara tersentak bersama-sama mendengar kata-kata itu. Mula-mula
jantungnya berdebar-debar, tetapi kemudian jantung itu menjadi seolah-oleh
berhenti bekerja. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Bagaimanapun
mereka menyadari bahwa sementara ini mereka telah dipergunakan oleh Mahesa Jenar
untuk memancing kehadiran gurunya.
Tetapi sebelum ia sempat berkata sesuatu, terdengarlah Mahesa Jenar berkata
kepada mereka, ”Paman berdua... ampunkan kami. Kami sama sekali tidak
bermaksud menyakiti hati Paman berdua. Apalagi sampai ada oertempuran yang
sebenarnya antara hidup dan mati. Apa yang kami lakukan benar-benar suatu
permainan yang berbahaya. Namun penuh dengan tanggungjawab atas kedua pusaka
yang hilang itu.”
Perasaan aneh menjalar dalam dada Radite dan Anggara. Bahkan kemudian mereka
tidak tahu, bagaimana seharusnya mereka menanggapi kejadian itu. Dalam keadaan
yang demikian terdengarlah orang berjubah itu tertawa lirih. Katanya, ”Aku
kagum pada kecerdasanmu Mahesa Jenar. Rupanya kau pernah mendengar bahwa Radite
dan Anggara adalah murid Pasingsingan. Kau pernah melihat bahwa orang yang
membawa kedua keris itu pun berjubah abu-abu seperti Pasingsingan. Nah, kau
yakin bahwa apabila kau bertempur melawan Radite dan Anggara, pastilah orang
berjubah abu-abu itu datang meleraimu. tetapi bagaimana kalau aku berpendirian,
biarlah kau berdua dibinasakan oleh Radite dan Anggara?”
402
HAMPIR saja Mahesa Jenar menjawab bahwa ia berusaha untuk tidak terbinasakan,
karena keseimbangan yang telah dicapainya setelah ia mesu raga. Sedangkan
Kanigara adalah seorang yang cukup sakti untuk mengimbangi Radite. Tetapi niat
itu diurungkan, karena dengan demikian, meskipun ia tidak bermaksud apa-apa,
agaknya akan nampak bahwa ia menyombongkan dirinya.
Dan karena beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, orang berjubah abu-abu itu
meneruskan, seolah-olah mengerti perasaan Mahesa Jenar. "Atau kalau kalian
merasa bahwa kesaktian kalian berimbang, bagaimanakah kalau seandainya aku tidak
mengetahui apa yang terjadi di sini?"
Karena perkataan itu, seolah-olah Mahesa Jenar mendapat tuntunan untuk
menjawabnya, "Tuan... aku yakin bahwa Tuan akan mengetahui apa yang akan
terjadi di sini. Sebab kehadiran Tuan pada pertempuran di Gedangan, serta usaha
Tuan untuk menyempurnakan tata nadi Arya Salaka menunjukkkan kepadaku bahwa Tuan
selalu hadir di dalam saat-saat yang gawat. Sedangkan aku yakin pula bahwa Tuan
tidak akan membiarkan salah satu pihak dari kita yang sedang bertempur menjadi
binasa. Sebab Paman Radite dan Paman Anggara adalah murid-murid Tuan yang
terpercaya. Meskipun akhirnya Tuan merasa perlu untuk menjauhinya, namun Tuan
tidak akan tega sampai sejauh-jauhnya. Sebaliknya, apakah Tuan dapat melihat
kami, aku dan Kakang Kebo Kanigara, binasa...?"
"Kenapa tidak...?" terdengar orang berjubah itu menyahut.
"Kalau demikian..." tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, "Tuan pasti tidak
akan melerai kami. Membiarkan kami bertempur terus. Dan apabila kami binasa,
selesailah persoalan Tuan, tetapi kalau kami menguasai keadaan, Tuan akan datang
membantu Paman Radite dan Paman Anggara, tetapi ternyata yang terjadi tidaklah
demikian."
"Kau yakin bahwa aku tidak akan berbuat demikian?" jawab orang berjubah
abu-abu itu.
"Bukankah kau masih berada di tempat ini, dan aku masih belum berbuat sesuatu?
Nah, agaknya kau telah mempercepat tindakan-tindakan yang akan aku lakukan.
Ketahuilah bahwa kau benar. Aku datang untuk membantu Radite dan Anggara
mebinasakan kalian berdua."
Radite dan Anggara menjadi semakin bingung. Persoalan yang agaknya menjadi
semakin berbelit-belit. Ia menjadi bertambah terkejut lagi ketika tiba-tiba Kebo
Kanigara tertawa. Tiba-tiba saja ia menemukan sifat-sifat yang sudah sangat
dikenalnya pada orang berjubah abu-abu itu.
Karena itu tiba-tiba pula ia berkata hampir berteriak, "Nah, Tuan yang
berjubah abu-abu... lakukanlah apa yang Tuan kehendaki. Namun aku ingin
meninggalkan pesan buat anakku Arya Salaka di Padepokan Karang Tumaritis."
Orang berjubah itu terdiam. Bahkan tampak beberapa jengkal ia surut ke belakang.
Namun kemudian ia berkata, "Aku tidak kenal Arya Salaka dari Karang Tumaritis.
Kalau yang kau maksud itu adalah anak yang pernah aku tolong, memperbaiki tata
nadinya, maka aku tidak ada hubungan sama sekali dengan anak itu."
Sekarang Mahesa Jenar sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Karena itu maka ia
ikut berteriak,
"Nah, Tuan... aku yakin bahwa Tuan tidak berani mengganggu kami. Sebab di
belakang kami berdiri seorang yang maha sakti pula seperti Tuan, yang bermukim
di gunung Karang Tumaritis, bernama Panembahan Ismaya. Seorang Panembahan yang
sangat gemar mengumpulkan dan menyimpan hampir segala jenis topeng-topeng serta
pahatan kayu."
Sekali lagi Radite dan Anggara terkejut. Bahkan darahnya seolah-olah mengalir
semakin cepat, ketika ia mendengar Mahesa Jenar berkata, bahwa seolah-olah
menantang gurunya. Di samping itu ia menjadi heran pula bahwa ada orang lain
yang disebut maha sakti, apalagi sampai gurunya tidak berani bertindak karena
orang itu.
Setelah perasaan mereka terguncang-guncang untuk kesekian kalinya, kembali
Radite dan Anggara menjadi tercengang ketika tiba-tiba gurunya tertawa. Tertawa
hampir terkekeh-kekeh. Dalam keadaan yang demikian semakin jelaslah, betapa tua
usia orang yang berjubah abu-abu itu.
Katanya kemudian, "Mahesa Jenar, adakah orang yang kau sebutkan maha sakti
itu gurumu?"
"Bukan," jawab Mahesa Jenar, "Tetapi Panembahan Ismaya adalah seorang
Panembahan yang tak ada duanya di kolong langit ini. Aku sangat tertarik pada
topeng-topengnya yang beraneka ragam. Ada yang kasar dan jelek, namun penuh
menyimpan watak yang sejuk damai. Tetapi ada pula yang tampak cerdik, namun jauh
dari sifat-sifat kesombongan. Dan salah satu yang sangat menarik bagiku adalah
yang Tuan pakai sekarang ini."
Orang berjubah abu-abu itu terdengar menggeram. Namun sama sekali tidak
menakutkan. Bahkan kemudian katanya kepada Radite dan Anggara, "Anak-anakku,
agaknya kalian menjadi pening mendengar kata-kata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.
Tetapi biarkanlah mereka berkicau sesukanya."
Radite dan Anggara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka sebenarnya ingin
penjelasan. Disamping itu tiba-tiba mereka mendengar nama Kebo Kanigara
disebut-sebut. Baik oleh Mahesa Jenar maupun oleh gurunya. Karena itu
terdengarlah Radite berkata, "Benar Bapa, aku benar-benar menjadi pening.
Namun sudilah kiranya Bapa memberi penjelasan."
Orang berjubah abu-abu itu tertawa. Katanya, "Radite, sebaiknya aku kau
persilahkan masuk ke dalam pondokmu dahulu bersama kedua tamu-tamumu yang aneh
ini."
Radite kemudian merasa diingatkan atas kewajibannya sebagai tuan rumah. Karena
itu dipersilahkannya gurunya beserta kedua tamu yang membingungkan itu masuk ke
dalam rumahnya.
403
SETELAH mereka duduk melingkari lampu minyak jarak, diatas sebuah bale-bale yang
besar, mulailah orang berjubah itu berkata, ”Radite dan Anggara... kau kenal
aku karena kau adalah murid-muridku yang seolah-olah telah merupakan bagian dari
hidupnya sendiri. Tetapi kau melihat wajahku selalu tertutup oleh sebuah topeng
yang kasar dan jelek, yang kemudian dipakai oleh Umbaran. Dan karena itulah
agaknya kau belum pernah melihat wajahku yang sebenarnya. Meskipun demikian,
dengan wajah yang lainpun kau segera dapat mengenal aku pula. Demikian pula
agaknya Kebo Kanigara yang meskipun aku mengenakan pakaian yang belum pernah
dilihatnya, namun karena pergaulan kami yang sudah lama, maka iapun segera dapat
mengenal aku pula. Sedangkan Mahesa Jenar, akan segera mengenal aku karena
perhitungan-perhitungan otaknya yang cemerlang. Sehingga karena pokalnya kau
benar dapat dipancingnya malam ini. Dan kalian adalah umpan-umpannya.”
Radite dan Anggara memang sudah merasakan hal itu. Namun peristiwa seterusnya
adalah terlalu aneh baginya. Apalagi orang yang disebut Kebo Kanigara, yang
mula-mula menamakan dirinya Tumenggung Surajaya itupun telah banyak bergaul
dengan gurunya. Apakah iapun berguru pada orang yang dahulu bernama Pasingsingan
itu? Tetapi kalau demikian, maka unsur-unsur pokok ilmu mereka pasti bersamaan.
Sedangkan orang itu justru bersumber pada cabang perguruan Pengging.
Dalam pada itu, orang yang berjubah abu-abu itu agaknya mengerti akan isi hati
Radite dan Anggara, karena itu ia meneruskan, ”Satu-satunya cara bagi Mahesa
Jenar untuk dapat bercakap-cakap dengan orang yang berjubah abu-abu ini, yang
dilihatnya dengan mata kepala sendiri telah mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten
dari Banyubiru, adalah dengan cara ini. Bertempur dengan murid-muridnya. Dengan
demikian orang yang berjubah abu-abu ini pasti tidak hanya sekadar
memperlihatkan diri untuk melerai atau memihak kepadanya saja, sebab
lawan-lawannya adalah murid orang berjubah abu-abu itu sendiri.”
Tiba-tiba Radite menggeser duduknya ke dekat Mahesa Jenar dan menepuk bahunya
keras-keras sambil berkata, ”O, ngger, ngger. Pandai benar kau buat hati
orang tua kalang kabut. Hampir saja aku kehilangan pengamatan diri. Sebab
persoalan yang Angger berdua paksakan kepada kami adalah langsung menyinggung
luka hati yang paling parah. Itulah sebabnya aku tak dapat menahan diri lagi.”
”Maafkan kami Paman,” sela Kebo Kanigara, ”Sebab kami tahu betapa sabar
dan alimnya Paman berdua, sehingga mula-mula kami menemui kesulitan untuk
membuat paman berdua marah. Maka terpaksalah kami agak melampaui batas-batas
kesopanan. Tetapi kami harap Paman percaya, bahwa bukanlah demikian maksud kami
yang sebenarnya.”
Radite mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian bertanyalah ia, ”Tetapi
kenapa Angger menyinggung-nyinggung Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?”
”Sebab memang kedua keris itulah yang kami cari,” jawab Kebo Kanigara.
”Dan terhadap orang yang kami harapkan hadir kemudian, kami menaruhkan harapan
sepenuhnya atas kedua pusaka itu. Karena orang yang berjubah abu-abu itupun tahu
pasti bahwa kedua keris itu tidak berada di sini.”
Radite menarik nafas dalam-dalam, sedang Anggara pun kemudian tertawa lirih,
katanya,
”Alangkah bingungnya aku kemudian. Baru sekarang aku
menjadi jelas. Alangkah bodohnya orang-orang tua ini, yang hanya pantas untuk
menjadi penunggu burung di sawah-sawah.”
”Tetapi...” tiba-tiba Radite menyela, ”Siapakah sebenarnya Angger ini,
yang menamakan dirinya Tumenggung Surajaya, namun yang kemudian disebut oleh
Bapa Guru dengan nama Kebo Kanigara...?”
Orang berjubah abu-abu itu tersenyum. Katanya,
”Itulah kesenangannya. Membingungkan orang lain dengan nama-nama yang dibuatnya.
Ia pernah menamakan diri Putu Karang Jati waktu ia menemui Pandan Alas.”
”Pandan Alas...?” ulang Radite dan Anggara hampir berbareng. ”Ki Ageng
Pandan Alas dari Klurak...?”
”Ya,” jawab orang yang berjubah abu-abu itu. ”Dan sekarang ia menamakan
dirinya Tumenggung Surajaya. Dan orang yang suka berganti nama itu tidak lain
adalah seorang yang menganut ilmu perguruan Pengging. Sebagaimana kau lihat,
Mahesa Jenar pun memiliki nama yang aneh pula. Di Gedangan mula-mula ia dikenal
bernama Manahan. Barangkali memang demikianlah kebiasaan anak-anak Ki Ageng
Pengging Sepuh.”
”Aku sudah menduga,” sela Radite, ”Bahwa Angger ini pasti seorang murid
yang sempurna dari perguruan Pengging.”
”Tidak saja murid,” sahut orang berjubah abu-abu itu, ”Tetapi ia adalah
anak Handayaningrat itu, dan bahkan adik seperguruannya.”
Radite dan Anggara bersama-sama mengerutkan keningnya. Tahulah ia sekarang
kenapa ia memiliki kesaktian yang mengagumkan. Yang dapat mengimbangi ilmu yang
dimiliki oleh Radite sendiri.
Tetapi dalam pada itu terdengarlah Mahesa Jenar berkata, ”Tuan benar. Memang
anak-anak perguruan Pengging suka berganti nama. Tetapi agaknya Tuan lupa bahwa
seorang yang bernama Radite pernah bernama Pasingsingan dan pernah bernama
Paniling. Seorang yang bernama Anggara pun memiliki nama lain, yaitu Darba.
Tetapi lebih daripada itu, seorang lain yang pernah bernama pula Pasingsingan,
ternyata memiliki nama yang lain, Panembahan Ismaya.”
Bagaimanapun juga, orang berjubah abu-abu itu tergeser beberapa jengkal. Namun
wajahnya yang pucat sama sekali tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sinar
pelita yang menggapai-gapai dengan gelisahnya, membuat bayangan-bayangan yang
bergerak-gerak di dinding.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Paniling dan Darba masih juga terkejut.
Apakah sangkut-paut antara Pasingsingan dengan Panembahan Ismaya...?
404
TIBA-TIBA tampaklah orang berjubah abu-abu itu melepas ikat kepalanya. Dan
karena itu tampaklah di bawah rambutnya yang telah memutih, suatu garis yang
memisahkan antara kulit kepalanya dengan kulit wajahnya.
“Sekarang aku tidak perlu bersembunyi-sembunyi lagi,” bisiknya. “Sebab
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah mengetahui semuanya dengan jelas. Dan
bagiku, sekarang sudah tidak ada gunanya lagi memiliki bermacam-macam nama dan
kedudukan.”
Bersamaan dengan itu, terkelupaslah kulit yang tipis dari wajah orang berjubah
abu-abu itu. Kulit kayu yang dipahatnya halus-halus menyerupai benar wajah
seseorang. Terhadap topeng itu tak seorangpun yang terkejut. Apalagi Mahesa
Jenar, yang jauh sebelumnya telah mengenal bahwa orang berjubah abu-abu itu
tidak memiliki wajah sewajarnya, melainkan mengenakan topeng. Dan topeng itu
jauh berbeda dengan topeng yang pernah dipakainya pada saat ia bernama
Pasingsingan.
Dari balik topeng itu muncullah wajah orang berjubah abu-abu itu. Wajah seorang
tua yang lunak damai. Meskipun berkerut-kerut namun kesegaran masih memancar
dari wajahanya. Wajah yang sudah dikenal oleh Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.
Memang orang itulah Panembahan Ismaya.
Radite dan Anggara tiba-tiba merasa terharu. Terharu karena mereka berkesempatan
mengenal wajah gurunya. Wajah yang selama ini menjadi teka-teki. Bahkan mereka
menduga bahwa seumur hidup mereka tak akan sempat memandang wajah itu. Namun
suatu hal yang mengejutkan mereka berdua, bahwa orang berjubah abu-abu itu
tidaklah setua yang mereka duga. Umurnya tidak banyak terpaut banyak dengan umur
mereka sendiri.
Meskipun demikian Radite dan Anggara membungkukkan kepalanya sambil berkata
dengan hormatnya, “Bapa Guru... aku merasa mendapatkan suatu kurnia juga
tiada taranya, bahwa Bapa Guru telah berkenan memberi kesempatan kepada kami
untuk lebih mengenal Bapa.”
Orang yang berjubah abu-abu, yang pernah bernama Pasingsingan dan kemudian
menjauhkan diri dari kesibukan dunia ramai di Bukit Karang Tumaritis dan bernama
Panembahan Ismaya itu tersenyum. “Semua permulaan akan ada akhirnya. Hanya
yang tidak bermula sajalah yang tidak akan berakhir. Yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Di hadapan kalian berempat aku merasa seolah-olah aku telah mencapai segala
cita-cita serta idamanku, sejak aku menamakan diriku Pasingsingan.”
Ketika orang yang berjubah abu-abu dan menamakan dirinya Panembahan Ismaya dalam
bentuknya yang lain itu berhenti sejenak, suasana menjadi hening. Tak seorang
pun yang berkata-kata. Mereka sedang terbenam dalam arus perasaan masing-masing.
Mereka mencoba menghubung-hubungkan apa yang pernah terjadi atas orang berjubah
abu-abu itu sehingga ia terpaksa mempergunakan topeng hampir seumur hidupnya.
Sedangkan sebagai Panembahan Ismaya, ia menyepi di sebuah bukit kecil dan
menjauhkan diri dari pergaulan.
Tetapi tak seorangpun yang berani bertanya. Mereka takut kalau ada hal-hal yang
dapat menyinggung perasaannya. Namun tanpa mereka duga, orang itu berkata dengan
sendirinya, “Mungkin apa yang terjadi atas diriku agak mengherankan.
Bertopeng seumur hidup dan menyepi hampir seumur hidup pula.”
Keterangan itu akan menarik bagi Radite dan Anggara. Bahkan juga bagi Mahesa
Jenar dan Kebo Kanigara.
Tetapi tiba-tiba orang berjubah abu-abu itu membelokkan percakapan kepada Mahesa
Jenar.
“Mahesa Jenar... sekarang kau sudah bertemu dengan orang yang berjubah
abu-abu, yang mengambil kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari
Banyubiru. Dan karena pengotak-atikmu bersama Kebo Kanigara,
menghubung-hubungkan semua yang pernah kalian alami, akhirnya kalian mengambil
kesimpulan bahwa orang berjubah abu-abu itulah Panembahan Ismaya. Lalu apakah
keperluanmu dengan aku?”
Mahesa Jenar menelan ludahnya beberapa kali. Mula-mula ia agak bimbang untuk
langsung menyampaikan keperluannya. Tetapi ia yakin bahwa sebenarnya orang tua
itu pun sudah mengerti pula. Karena itu ia mencoba mengelak, “Tuan... apakah
aku masih perlu mengatakan keperluanku? Aku kira Tuan telah mengetahui
selengkapnya.”
“Mahesa Jenar...” jawab orang berjubah itu, “Lebih baik kau tidak
mengira-ira. Katakanlah, dan aku akan menjadi jelas, tanpa kira-kira lagi.”
Sekali lagi Mahesa Jenar menelan ludahnya. Lalu dengan suara yang parau ia
menjawab, “Tuan... sebenarnya aku hanya ingin mengetahui di manakah
keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten itu berada.”
“Hanya itu...?” sahut orang berjubah itu.
“Dan apabila Tuan berkenan, aku ingin menerima kedua pusaka itu, kembali
untuk menyelesaikan beberapa masalah antara aku dan kakang Gajah Sora di satu
pihak, dan Pemerintahan demak di lain pihak.
“Hanya itu...? Hanya supaya kau dapat kembali ke Istana dan Gajah Sora dapat
dibebaskan?”
“Tidak,” jawab Mahesa Jenar tergesa-gesa. “Bukan hanya itu. Tetapi aku
tidak mau menyembunyikan pamrih itu supaya aku tidak menjadi penipu atas diri
sendiri. Sebab apabila aku hanya mengatakan bahwa aku ingin mengembalikan kedua
pusaka itu demi kelangsungan pemerintahan, maka aku telah menyembunyikan
beberapa bagian darinya, yaitu pamrih pribadi.”
405
ORANG berjubah abu-abu itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu jawabnya,
”Kau memang jujur dan berterus terang. Tetapi kau terlalu tergesa-gesa. Sudah
beberapa kali aku isyaratkan kepadamu, bahwa sekarang ini sedang ada
pertentangan yang tajam terjadi di Demak. Antara keturunan Sultan Trenggana dan
keturunan Sekar Seda Lepen. Karena itu kau masih harus menilai siapakah diantara
mereka yang patut mendapat sipat kandel itu. Kalau kau muncul sekarang dengan
pusaka-pusaka itu, maka akibatnya akan menjadi lebih parah lagi. Mereka menjadi
semakin bernafsu dalam pertentangan-pertentangan yang akan timbul. Kedua pusaka
itu akan merupakan penyebab pula, karena mereka merasa perlu untuk memilikinya.
Dengan demikian kau membantu menimbulkan persoalan-persoalan baru yang akan
menambah ketegangan. Bahkan akan dapat menimbulkan pertumpahan darah diantara
para perwira, bintara dan tamtama. Kalau demikian yang terjadi, maka tinggal
menunggu besok atau lusa, Demak pasti akan binasa. Sebab yang akan berhadapan
sebagai lawan dalam pertentangan itu adalah kekuatan-kekuatan Demak sendiri.
Baik yang berpihak kepada keturunan Sekar Seda Lepen maupun yang berpihak kepada
Sultan Trenggana. Setiap jiwa yang melayang karenanya adalah kerugian yang harus
ditanggung oleh Demak sendiri. Karena itu janganlah suasana menjadi bertambah
tegang. Mudah-mudahan mereka dapat memecahkan persoalan itu dengan baik. Dengan
musyawarah diantara kekuatan-kekuatan saka guru Demak sendiri.”
Mendengar keterangan itu, Mahesa Jenar menundukkan kepala dalam-dalam. Demikian
pula Kebo Kanigara. Sedangkan Radite dan Anggara mendengarkan dengan penuh
perhatian.
”Dengan demikian...” orang berjubah abu-abu itu meneruskan, ”Setiap
orang Demak akan dapat mencurahkan tenaganya untuk kesejahteraan negeri.
Membangun tempat-tempat ibadah dan pendidikan, surau-surau dan langgar.
Disamping itu setiap prajurit Demak akan berkesempatan untuk menumpas habis
golongan-golongan yang tidak senang melihat Demak menjadi bulat. Maka setelah
itu akan terjalinlah kesatuan hati rakyat. Ketenteraman hidup dengan berbakti
kepada Tuhan Yang Maha Esa tanpa mendapat gangguan dalam pangkuan tanah tumpah
darah yang gemah ripah lohjinawi, tata titi tentrem kertaraharja, tanpa
bibit-bibit pertentangan yang ditaburkan di hari ini, yang akan tumbuh dan
menjadi lebat di hari kemudian.”
Ketika orang berjubah abu-abu itu berhenti, terdengarlah kokok ayam bersahutan
menyambut datangnya fajar. Fajar yang tidak akan dapat ditunda oleh siapapun. Ia
akan datang apabila saatnya datang. Biarpun ayam jantan tidak berkokok.
Demikianlah kekuasaan Tuhan yang melampaui segenap kekuasaan yang ada.
Mahesa Jenar sadar akan ketergesaannya. Ia agaknya kurang dapat menanggapi
setiap ajaran isyarat yang diberikan, baik oleh seorang yang berjubah abu-abu
yang dijumpainya dahulu di jalannya yang hampir sesat dan kehilangan akal maupun
oleh orang itu juga dalam pakaiannya sebagai seorang Panembahan.
Namun demikian masih saja ada beberapa hal yang belum dapat dipahami, apakah
dengan diketemukannya keris itu justru tidak dapat menghentikan persengketaan
antara dua golongan besar itu. Tetapi disamping itu timbul pula
pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut di dalam dadanya. Juga di dada Kebo Kanigara
dan kedua murid Pasingsingan itu. Demikian besar minat orang yang berjubah
abu-abu itu terhadap persatuan dan kesatuan Demak, sehingga mustahil kalau ia
tidak memiliki sangkut-paut yang sangat rapat dengan kedua golongan itu.
Meskipun demikian, meski berbagai pertanyaan bergelut di dalam dada setiap orang
yang duduk di dalam lingkaran kecil itu, namun tak seorang pun yang
menyatakannya. Agaknya orang berjubah abu-abu itu sudah merasa perlu untuk
menyatakan dirinya tanpa satu pertanyaan pun.
Dalam sesaat orang tua berjubah itu berdiam diri, memandangi setiap wajah dari
keempat orang yang dengan penuh minat mendengarkan ceritanya. Dan ketikasambaran
matanya hinggap pada wajah Mahesa Jenar, tertangkaplah banyak sekali persoalan
yang ingin dikatakannya. Namun tak sepatah katapun yang terloncat dari mulutnya.
Orang tua yang berjubah abu-abu itu agaknya dapat merasakan persoalan-persoalan
itu.
Karena itu ia meneruskan, ”Mahesa Jenar... seandainya salah seorang dari
mereka memiliki kedua keris itu sekalipun, tidaklah dapat dianggap sebagai suatu
jaminan bahwa persengketaan mereka akan mereda. Sebab dengan memiliki kedua
keris itu tidaklah berarti bahwa ia mutlak dapat memegang pemerintahan di Demak,
selama jiwa orang itu masih belum menjadi luluh dengan jiwa kedua keris itu.
Apabila seseorang telah benar-benar dapat menguasai, serta jiwa kedua keris itu
luluh dalam dirinya, barulah ia mendapat sipat kandel yang sebenarnya. Selama
masih ada jarak antara seseorang dengan keris itu, maka selama itu keris-keris
yang keramat itu sama sekali tak akan berguna. Karena itulah maka meskipun orang
yang berjubah abu-abu sebagaimana kau lihat, berhasil menyimpan kedua keris itu,
seandainya, ia ingin memegang tampuk pemerintahan Demak, hal itu tidak akan
dapat dicapainya. Sebab jiwa keris itu tidak dapat luluh ke dalam dirinya. Juga
orang-orang dari golongan hitam itupun akan tidak mempunyai sesuatu arti,
apabila mereka memiliki kedua pusaka Demak itu.”
Kembali orang tua itu berhenti. Di luar, cahaya matahari pagi telah memercik
hinggap di dedaunan. Burung-burung dengan riangnya berkicau bersahutan.
Demikianlah Padepokan yang
sepi itu seolah-olah telah terbangun dari tidurnya. Namun halaman-halaman rumah
penduduk padepokan itu masih tampak sepi. Satu-dua orang yang telah muncul dari
ambang pintunya, dengan tergesa-gesa pergi ke sungai, sedang yang lain dengan
sibuknya menyalakan api untuk merebus air. Di sana-sini terdengar jeritan
anak-anak kecil yang memanggil ibunya, ketika mereka terbangun dari tidurnya
yang nyenyak, seolah-olah mereka kecewa kehilangan mimpi yang segar.