NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
396
KEBO Kanigara tidak menunggu Paniling menjawab kata-katanya. Cepat ia mendahului
melangkah keluar pintu, diikuti oleh Mahesa Jenar. Sementara itu Paniling
menjadi ragu pula ketika dilihatnya kedua tamunya lenyap dibalik pintu, terjun
ke dalam gelapnya malam. Sekali lagi tangannya menekan dadanya untuk mencoba
mencari kembali pikirannya yang bening. Namun akhirnya ketika dilihatnya Darba
telah meloncat pula keluar pintu, dengan ragu iapun keluar.
Di luar ia melihat Kanigara telah bersiap. Bahkan demikian ia melangkah keluar,
terdengarlah Kebo Kanigara berteriak, ”Hati-hatilah, hai orang yang bernama
Radite. Aku datang untuk membunuhmu.”
Demikian suara itu lenyap ditelan angin malam, tampaklah tubuh Kanigara dengan
garangnya melayang menyerang Ki Paniling.
Paniling yang sebenarnya bernama Radite terkejut sekali mendapat serangan yang
demikian tiba-tiba, cepat dan luar biasa kuatnya. Dengan demikian dapat mengukur
betapa sakti lawannya. Dalam pada itu timbul pula pertanyaan dalam dirinya,
tentang orang yang mengaku bernama Tumenggung Surajaya.
Tetapi ia sempat banyak berpikir. Lawannya bergerak demikian cepat dan berbahaya.
Karena itu iapun segera harus melayaninya.
Maka segera terjadilah perkelahian yang dahsyat. Perkelahian antara dua orang
sakti yang sukar dicari bandingnya. Dalam pada itu segera terasa oleh Kebo
Kanigara bahwa Radite benar-benar seorang yang benar-benar sakti. Seorang yang
telah mencapai tingkatan yang sangat tinggi dalam meresapi ilmunya.
Meskipun orangtua itu tidak tampak terlalu banyak bergerak, namun setiap
gerakannya mengandung unsur-unsur yang sangat berbahaya.
Sebaliknya setelah mereka bertempur beberapa saat, Radite pun menjadi heran atas
lawannya yang masih muda itu. Dalam usia yang baru menjelang pertengahan abad
telah memiliki ilmu yang sedemikian sempurna. Bahkan kadang-kadang sangat
membingungkan. Apalagi ketika Radite melihat beberapa unsur gerak yang
dikenalnya dengan baik. Unsur-unsur gerak dari sahabatnya almarhum Ki Ageng
Pengging Sepuh. Meskipun dalam beberapa hal telah banyak mengalami perubahan,
namun unsur-unsur pokok masih jelas sebagaimana pernah dilihatnya dahulu.
Demikianlah kemudian pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Dua
orang yang sakti, yang dengan ilmu-ilmunya sedang berjuang untuk menguasai
lawannya. Karena Kanigara masih belum berkenalan sebelumnya maka ia dapat
bertempur dengan baik tanpa segan-segan. Dan karena itu pula, pertempuran itu
pun menjadi seru sekali.
Darba dan Mahesa Jenar melihat pertempuran itu dengan kagumnya. Bahkan Darba pun
akhirnya melihat pula persamaan antara orang yang menamakan dirinya Tumenggung
Surajaya itu dengan Ki Ageng Pengging Sepuh. Karena itu ia bertanya dalam
otaknya, siapakah orang itu dan apakah hubungannya dengan Ki Ageng Pengging
Sepuh serta Mahesa Jenar. Tetapi disamping itu ia menjadi sangat heran, bahwa
Mahesa Jenar berkeras hati menyangka bahwa keris-keris pusaka Demak berada di
tempat mereka. Bahkan akhirnya Darba menyangka bahwa orang itu pasti mempunyai
garis keturunan ilmu dengan Mahesa Jenar, dan orang itu sengaja diajaknya untuk
mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Dalam pada itu Mahesa Jenar tidak mau untuk menjadi penonton saja. Ia pun harus
ikut dalam persoalan yang diharapkan akan memecahkan beberapa persoalan yang
penting dalam hidupnya dan masa depannya. Karena itu ketika Darba sedang asik
memperhatikan pertempuran antara Radite dan Kebo Kanigara, berteriaklah Mahesa
Jenar, ”Paman Anggara... karena Paman Anggara ikut pula dalam usaha
menyembunyikan pusaka-pusaka Istana itu, maka Paman pun harus menerima
hukumannya.”
Anggara yang sehari-hari menamakan dirinya Darba, terkejut. Apakah yang
dikehendaki Mahesa Jenar...? Dan ketika ia melihat Mahesa Jenar bersiap untuk
menyerangnya, ia menjadi bertambah heran. Beberapa tahun yang lalu ia pernah
bertemu dengan orang itu. Ilmunya tak lebih dari tingkatan seorang murid
dibandingkan dengan ilmunya. Meskipun Anggara tak pernah merendahkan orang lain,
namun terhadap Mahesa Jenar tidaklah sewajarnya kalau ia terpaksa bertempur.
Karena itu Darba pun menjawab, ”Angger Mahesa Jenar... biarlah pamanmu Radite
mempertahankan nama baiknya sekaligus namaku. Sebaiknya kita tidak usah ikut
serta dalam perselisihan ini. Meskipun barangkali kau juga mengemban tugas
sebagai seorang prajurit seperti Tumenggung Surajaya itu pula, Mahesa Jenar...
namun biarlah pertempuran mereka itu yang menentukan nasibmu. Kalau Kakang
Radite binasa karena benar-benar berdosa terhadap negara, biarlah nanti aku kau
binasakan pula. Tetapi kalau ternyata Kakang Radite tidak bersalah, aku harap
kau menerima pula kenyataan itu. Dan untuk seterusnya kau tidak lagi menganggap
kami menyembunyikan pusaka-pusaka itu.”
Mendengar jawaban Anggara, Mahesa Jenar menjadi ragu. tetapi ketika ia melihat
pertempuran antara kebo Kanigara dan Radite menjadi bertambah seru dan berbahaya,
ia tidak mau tinggal diam. Dengan ikut sertanya dalam pertempuran itu ia
mengharap segala sesuatunya akan menjadi jelas pula. Apakah ia telah menempuh
jalan yang benar atau tidak. Karena itu sekali lagi ia berteriak, ”Paman
Anggara terserahlah kepadamu. tetapi Rangga Tohjaya wajib melakukan kewajibannya.”
Selesai dengan kata-katanya, segera Mahesa Jenar meloncat dan langsung menyerang
dada Anggara dengan kecepatan luar biasa. Melihat serangan Mahesa Jenar, Anggara
mau tidak mau secara naluriah terpaksa meloncat mengelak.
Sebenarnya Anggara masih ingin memperingatkan Mahesa Jenar. Tetapi demikian
Mahesa Jenar gagal dengan serangan pertamanya, langsung ia berputar dan
meluncurkan kakinya ke arah lambung Anggara dengan dahsyatnya. Serangan kedua
ini benar-benar tidak disangka-sangka. Sedang Mahesa pun bergerak dengan
kecepatan penuh. Sebenarnya maksudnya hanya untuk meyakinkan Anggara bahwa dalam
tingkatannya yang sekarang, ia telah cukup dewasa untuk bertempur melawannya.
Tetapi tanpa disengaja, serangannya itu benar-benar telah membahayakan lawannya,
sehingga ia menjadi terkejut sendiri ketika melihat Anggara benar-benar tidak
sempat menghindar.
397
ANGGARA yang tidak menduga sebelumnya, bahwa Mahesa Jenar mampu bergerak secepat
itu, benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk menghindar. Karena itu,
segera ia menekuk kakinya, sedikit merendahkan tubuhnya, sambil melindungi
lambungnya dengan sikunya untuk menangkis serangan Mahesa Jenar. Dengan demikian
maka terjadilah benturan yang sengit antara kaki Mahesa Jenar dengan siku
Anggara. Akibatnya mengejutkan. Bahkan tidak diduga-duga oleh Mahesa Jenar dan
juga oleh Anggara. Dalam benturan yang terjadi, Anggara dan Mahesa Jenar
masing-masing terdorong surut.
Bagi Mahesa Jenar yang sejak semula mengagumi kesaktian kedua tokoh murid
Pasingsingan itu, menjadi heran bahwa kekuatan yang ada pada dirinya, setelah ia
bekerja keras untuk menemukan inti sari dari ilmunya, dapat mengimbangi kekuatan
Anggara. Sedangkan Anggara menjadi heran dan bertanya-tanya di dalam hati,
siapakah yang telah mengubah Mahesa Jenar dalam waktu-waktu terakhir ini menjadi
seorang yang demikian kuatnya. Tetapi karena itulah maka akhirnya Anggara
menjadi sadar, bahwa Mahesa Jenar benar-benar telah memiliki bekal untuk
melakukan tugasnya. Dengan demikian. Anggara kemudian benar-benar telah bersiap
menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Sesaat kemudian kembali Mahesa Jenar menyerang dengan cepatnya. Tetapi kali ini
Anggara telah dapat mengetahui, bahwa Mahesa Jenar sekarang bukanlah Mahesa
Jenar beberapa tahun lalu, ketika bersama-sama dengan Mantingan, Wiraraga, Gajah
Alit dan Paningron bertempur melawan Sima Rodra tua dari Lodaya dan Pasingsingan.
Ketika itu Mahesa Jenar berlima tidak lebih daripada lima ekor tikus melawan dua
ekor kucing yang ganas. Tetapi tikus itu kini telah berubah tidak saja sebagai
seekor kucing yang ganas, namun benar-benar telah berubah menjadi seekor harimau
yang garang.
Karena itulah maka Anggara pun menyambut serangan Mahesa Jenar dengan penuh
kewaspadaan. Kewaspadaan seorang sakti yang mempunyai perbendaharaan pengalaman
seluas lautan.
Demikianlah di ujung padukuhan kecil yang sepi itu terjadilah dua lingkaran
pertempuran yang sengit. Dua pasang orang-orang sakti. Namun karena kepercayaan
mereka pada diri sendiri, serta sifat-sifat kejantanan yang mereka miliki, maka
pertempuran itu tidak banyak menimbulkan keributan. Masing-masing bertempur
dengan berdiam diri. Hidup atau mati mereka sepenuhnya mereka percayakan kepada
sumber hidup mereka.
Tetapi pertempuran itu sendiri merupakan pertempuran yang dahsyat tiada taranya.
Kebo Kanigara memiliki ketangguhan seperti seekor banteng yang kuat tiada
taranya. Sepasang kakinya yang kokoh telah membawakan tubuhnya pada
keadaan-keadaan yang menguntungkan. Kadang-kadang kedua kaki itu tampak
seolah-olah tertancap dalam-dalam membenam di tanah tempatnya berpijak, seperti
batu karang yang kokoh kuat berdiri dengan tegaknya. Namun kemudian kakinya itu
pula dapat berloncatan dengan lincah dan kecepatan yang mengagumkan.
Sebaliknya, Radite pun mempunyai keistimewaan yang sukar ada bandingnya.
Meskipun kadang-kadang seakan-akan ia hanya bergeser setapak demi setapak, namun
kadang-kadang seakan-akan kakinya seakan-akan tidak berpijak di atas tanah.
Dengan tangan yang mengembang ia berloncatan kesana kemari, seperti seekor
Garuda yang dengan garangnya bertempur mati-matian, mempertahankan serangannya.
Di tempat lain, tampak Mahesa Jenar dengan gigihnya bertempur melawan Anggara,
murid Pasingsingan yang termuda. Namun murid termuda inipun memiliki ilmu yang
luar biasa tingginya. Sebagai seekor naga yang bersayap, ia menyerang Mahesa
Jenar dari segala jurusan. Menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Tangan dan
kakinya seolah-olah telah berubah menjadi sayap menyebar angin maut.
Namun Mahesa Jenar adalah seorang yang luar biasa pula. Dengan mesu dhiri serta
meraga-sukma tanpa seorang penuntun langsung ia berhasil menemukan intisari dari
ilmu perguruan Pengging. Ditambah dengan kecerdasan otaknya yang cemerlang
seperti bintang di langit, serta usahanya untuk menyesuaikan diri dengan alam,
telah menjadikan ilmu dari perguruan Pengging itu suatu ilmu yang tiada
bandingnya. Dengan demikian, maka iapun telah berusaha secermat-cermatnya,
menyesuaikan diri untuk melawan Anggara yang bertempur sebagai seekor naga
bersayap.
Demikianlah Mahesa Jenar berusaha pula untuk dapat mengimbangi lawannya. Sebagai
seekor burung rajawali ia berjuang dengan dahsyatnya. Tangannya yang hanya
sepasang itu seolah-olah berubah menjadi puluhan bahkan ratusan pasang sayap
yang mengibas bersama-sama, menimbulkan desing angin yang menderu-deru,
disamping kaki-kakinya yang menyambar-nyambar ke segenap bagian tubuh lawannya.
Ternyata, ketika pertempuran itu telah berlangsung beberapa lama, kekuatan
mereka tampak berimbang. Kebo Kanigara benar-benar dapat mengimbangi kesaktian
murid Pasingsingan yang pernah mendapat kepercayaan untuk mempergunakan topeng
yang terkenal sebagai wajah Pasingsingan, pernah memiliki pula jubah abu-abu
serta akik kelabang sayuta beserta sebuah pisau belati panjang kuning gemerlapan,
yang bernama Kyai Suluh.
Radite bukan seorang yang sombong, yang menganggap kesaktiannya tanpa tanding.
Namun terhadap orang ini, yang menamakan diri Tumenggung Surajaya, ia menjadi
heran. Ilmu orang itu pasti bersumber pada ilmu seketurunan dengan sahabatnya
Pengging Sepuh. Namun ia menjadi heran, bahwa orang ini benar-benar dapat
menguasainya dengan baik, bahkan memiliki perkembangan-perkembangan yang
mengagumkan.
Menurut pengertiannya, Ki Ageng Pengging Sepuh hanya mempunyai seorang murid,
yang bernama Mahesa Jenar, dan bergelar Rangga Tohjaya. Dalam pada itu,
keheranannya, dalam pengamatannya yang hanya sepintas, tidak segera dapat
menguasai Mahesa Jenar yang menyerangnya. Bahkan dalam beberapa lama,
pertempuran mereka masih tetap dalam keadaan seimbang.
398
TAPI justru karena itulah, maka akhirnya mereka benar-benar telah mengerahkan
segenap tenaga serta kemampuan mereka. Pertempuran itu benar-benar telah menjadi
semakin seru dan dahsyat. Bahkan yang tampak kemudian hanyalah bayangan-bayangan
hitam di dalam gelapnya malam, yang berloncat-loncatan, berputar-putar semakin
lama semakin cepat. Yang akhirnya menjadi seolah-olah dua pasang Wisnu dalam
bentuknya yang hitam cemani, menari-nari dengan lincahnya, mengungkapkan sebuah
tarian maut yang mengerikan.
Sementara itu, malam menjadi semakin dalam. Orang-orang di pedukuhan kecil yang
sepi itu, yang mula-mula mengintip dari balik pintu-pintu mereka, ketika mereka
tidak mendengar apapun lagi, maka mereka sama sekali tidak merasa tertarik untuk
mengetahui lebih banyak tentang dua orang berkuda yang menyusur jalan-jalan
sempit di padepokan mereka. Mereka hanya mengira, bahwa kedua orang itu adalah
perantau-perantau yang memasuki mulut lorong dari satu arah dan keluar dari
mulut lorong di arah lain. Mereka berhenti di ujung padepokan mereka, dan
kemudian bertempur mati-matian dengan orang cikal bakal pedukuhan itu.
Kalau saja mereka mengetahui hal itu, apapun yang terjadi, pastilah mereka akan
membantunya. Namun kalau mereka sempat menyaksikan pertempuran itu, mereka akan
menjadi keheran-heranan, bahwa orang-orang yang setiap hari mereka panggil Ki
Paniling dan Ki Darba, yang hanya mereka kenal sebagai seorang petani yang rajin,
mampu bertempur sedemikian dahsyatnya, bahkan pasti diluar kemampuan pengamatan
mereka, atau malahan mereka akan jatuh pingsan karenanya.
Demikianlah pertempuran itu masih belum tampak akan berakhir. Masing-masing
sudah berjuang dengan sepenuh tenaga, namun seolah-olah mereka bertempur melawan
hantu yang tak dapat disentuhnya.
Dalam saat-saat yang demikian itulah, terlintas di dalam otak masing-masing,
suatu cara penyelesaian yang lebih cepat. Sudah pasti mereka mengerti bahwa
setiap orang sakti memiliki ilmu-ilmu simpanan yang tak akan dipergunakan dalam
sembarang waktu. Bagi Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar, dalam hal yang demikian
tidaklah sewajarnya mempergunakan ilmu-ilmu pamungkas mereka. Sebaliknya, Radite
dan Anggara pun tak terlintas di dalam otak mereka untuk mengakhiri pertempuran
dengan ilmu terakhir.
Karena itu, mereka telah mempersiapkan diri mereka untuk mengadakan pertempuran
yang lama. Sebab mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan maupun kecepatan
bergerak serta unsur-unsur gerak yang dapat membingungkan lawan-lawan mereka,
sebab ternyata apa yang mereka lakukan selalu dapat diimbangi oleh setiap pihak.
Meskipun demikian pertempuran itu masih tetap berlangsung dengan sengitnya.
Sebab bagaimanapun juga mereka tetap berusaha untuk setidak-tidaknya tidak
dikalahkan oleh lawan masing-masing. Tetapi justru dalam hal yang demikian
itulah kadang-kadang orang terpaksa untuk berpikir lebih banyak. Dan dalam
keadaan yang terpaksa demikian itulah kadang-kadang muncul
kesanggupan-kesanggupan yang tidak pernah dirasakan ada di dalam dirinya.
Kesanggupan yang malahan dapat mengejutkan diri sendiri.
Demikian pula apa yang terjadi dalam kancah pertarungan itu. Kebo Kanigara dan
Mahesa Jenar yang masih memiliki masa depan yang lebih panjang dari lawan-lawan
mereka, dapat memanfaatkan pertempuran itu dengan baiknya. Dalam masa-masa yang
masih memungkinkan perkembangan yang menanjak terus, mereka selalu berusaha
untuk melengkapi ilmunya dengan apapun yang mereka ketemukan dalam perjalanan
hidup mereka. Namun dengan satu bekal yang tak akan tanggal dari hati mereka,
bahwa ilmu-ilmu mereka harus mereka amalkan untuk kebajikan. Kebajikan bagi
tanah tumpah darah, kebajikan bagi rakyat yang hidup di atasnya, serta kebajikan
bagi umat manusia.
Ketika kemudian terdengar kokok ayam jantan bersahut-sahutan menjelang lingsir
malam pertempuran itu masih berlangsung terus. Namun demikian tak seorangpun
penduduk padukuhan itu yang mendengar keributan itu. Pertempuran yang sengit itu
berlangsung dengan tertibnya. Sama sekali tidak nampak kekasaran-kekasaran
seperti yang pernah terjadi, ketika Mahesa Jenar dalam tingkatannya pada waktu
itu bertempur melawan Jaka Soka, Lawa Ijo atau Sima Rodra. Tetapi dalam keadaan
yang terasa tertib itu melontarlah pukulan-pukulan yang dahsyat dan penuh
mengandung bahaya.
Dalam keadaan yang demikian, ketika keempat orang sakti itu sedang terbenam
dalam arus pertempuran yang merampas segenap perhatian mereka, tiba-tiba
terasalah udara yang aneh mengalir mengusap tubuh mereka. Udara yang seakan-akan
mengandung pengaruh yang tajam, yang langsung menyusup ke dalam tulang sungsum,
sehingga dengan demikian tenaga mereka seolah-olah ikut serta terhembus oleh
aliran udara aneh itu.
Demikianlah perlahan-lahan tenaga mereka menjadi semakin lemah. Bahkan kemudian
seperti lenyap sama sekali. Dengan penuh keheranan, mereka masih tetap berusaha
untuk mempertahankan diri mereka sekuat tenaga. Sebab mula-mula mereka mengira
bahwa kesaktian lawan-lawan mereka telah mempengaruh tenaga mereka. Tetapi
ketika serangan-sernagan lawanpun menjadi jauh susut, akhirnya mereka mengetahui,
bahwa sesuatu telah terjadi. Sesuatu diluar lingkaran pertempuran itu.
Mereka berempat adalah orang-orang yang cukup sakti. Yang tanggap akan
kejadian-kejadian di dalam maupun di luar diri mereka sendiri. Karena itu,
ketika mereka merasa bahwa suatu kekuatan diluar kemampuan mereka, telah
mempengaruhi diri mereka, segera mereka menghentikan pertempuran itu. Dengan
sekuat tenaga jasmaniah dan batiniah, mereka berusaha untuk menyelamatkan
sisa-sisa tenaga mereka.
Tetapi pengaruh dari udara yang aneh itu demikian besarnya, sehingga tiba-tiba
saja, mereka tidak saja merasa tenaga mereka susut, namun mereka juga merasa,
bahwa mereka telah dipengaruhi oleh kantuk yang luar biasa.
399
RADITE adalah yang tertua diantara mereka berempat. Ialah orang yang memiliki
pengalaman yang terbanyak. Pengalaman yang kadang-kadang hampir tak masuk akal
sekalipun pernah dijumpainya. Karena itulah maka segera ia mengenal bentuk
aliran udara yang aneh itu. Karena itu terdengar ia berdesis perlahan, ”Alangkah
kuatnya sirep ini.”
Anggara dan Kebo Kanigara pun mengenal pula, bahwa seseorang dapat mempergunakan
pengaruh kekuatan batin atas orang lain. Bahkan apabila ditekuni, dapatlah orang
itu melahirkan suatu ilmu sirep semacam ini.
Sedang Mahesa Jenar sendiri pernah mengalami betapa pengaruh sirep itu dapat
melenyapkan kesadaran seseorang, sehingga orang yang berada di dalam lingkungan
itu dapat seolah-olah tidur nyenyak sekali. Ketika itu ia sedang bertugas di
Istana, beberapa tahun yang lampau. Ia pernah mengalami pengaruh sirep yang
dilontarkan oleh Lawa Ijo. Kecuali itu diatas Gunung Tidar, ketika ia berusaha
untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, ia pernah
terkena arus sirep itu pula. Sirep yang disebarkan oleh Gajah Sora, namun yang
sebenarnya telah dapat dilenyapkan oleh Sima Rodra tua, kalau saja pada saat itu
seorang yang bernama Titis Anganten dari ujung timur tidak membantunya.
Sekarang, kembali ia mengalami pengaruh sirep. Seandainya kekuatan sirep ini
sama dengan kekuatan sirep yang pernah mempengaruhinya, maka dalam tingkatannya
yang sekarang ini, kekuatan sirep itu tidak akan banyak pengaruhnya. Tetapi
ternyata kekuatan sirep yang sekarang jauh lebih besar dari yang pernah
mempengaruhinya dahulu. Bahkan dalam tingkatannya yang sekarang hampir-hampir ia
tidak mampu untuk mempertahankan kesadarannya. Apalagi tenaganya.
Dalam keadaan yang demikian, akhirnya mereka berempat hanya dapat duduk bersila
sambil mengheningkan diri, berusaha untuk tetap dalam keadaan sadar.
Malam yang kelam masih saja terserak di permukaan bumi. Di daun-daun pepohonan
bergayutan titik-titik yang setetes demi setetes berjatuhan mengusik
rumput-rumput kering yang bertebaran disana-sini dengan liarnya. Suasana
kemudian menjadi hening sepi. Lamat-lamat di kejauhan terdengar suara-suara
jangkrik seperti teriakan bayi yang kehausan susu ibunya.
Dalam pada itu, ketika mereka sedang tekun berjuang untuk tidak kehilangan
kesadaran, tiba-tiba melayanglah sebuah bayangan yang hitam, yang kemudian
dengan cepat sekali, seolah-olah tidak menyentuh tanah, telah berdiri di hadapan
mereka. Dan bersamaan dengan itu, terasa bahwa pengaruh sirep itupun menjadi
semakin kendor, bahkan kemudian dengan cepatnya lenyap dari diri mereka berempat.
Meskipun mereka terkejut pula atas kehadiran seseorang tanpa diduganya lebih
dahulu, namun mereka sempat pula menarik nafas lega atas kebebasan mereka dari
ikatan udara yang aneh itu.
Ketika mereka telah sempat memperhatikan bayangan yang berdiri di hadapan mereka,
tahulah mereka bahwa orang itu adalah orang yang mengenakan jubah yang hanya
tampak kehitam-hitaman di dalam gelap malam, namun dalam pada itu Mahesa Jenar
segera mengenal, bahwa orang itu adalah orang yang selalu dikenalnya mengenakan
jubah abu-abu.
Karena itu segera terpancarlah cahaya yang cerah dari wajahnya. Demikian pula
Kebo Kanigara, sehingga tanpa disengajanya ia bergeser sejengkal maju.
Adapun Radite dan Anggara, ketika melihat orang yang berjubah itu tegak di
hadapan mereka seperti patung, terlonjaklah dada mereka. Tiba-tiba saja tubuh
mereka menjadi bergetar dan nafas mereka menjadi semakin cepat beredar. Karena
pada tubuh yang tegak mematung di hadapannya itu, seolah-olah terpancarlah suatu
kenangan atas masa silam. Suatu kenangan dari masa yang gemilang dari seorang
yang menamakan dirinya Pasingsingan.
Ya, pada saat Radite berhak mengenakan jubah yang berwarna abu-abu, seorang yang
berhak mengenakan topeng yang meskipun kasar dan jelek namun dari padanya
terpancar suatu harapan bagi setiap orang yang menyaksikannya. Karena dibalik
wajah yang kasar dan jelek itu tersembunyi suatu pengabdian yang luhur tanpa
pamrih. Tetapi keluhuran serta kemurnian pengabdian itu kemudian menjadi lebur.
Dan setelah itu nama Pasingsingan menjadi hancur. Nama Pasingsingan dengan
cepatnya meluncur hanyut ke dalam lumpur, karena pokal seorang saudara
seperguruannya yang bernama Umbaran.
Tiba-tiba kembali Radite terlempar pada suatu anggapan, bahwa dirinyalah sumber
dari segala bencana dan noda yang kemudian melekat dan mengotori jubah abu-abu,
topeng yang kasar dan jelek namun mamancarkan harapan damai serta nama yang
menggetarkan, ”Pasingsingan.”
Dan sekarang di hadapannya berdiri seseorang yang mengingatkannya kepada dirinya
beberapa tahun yang silam. Tetapi yang pasti baginya orang yang berjubah itu
bukanlah Umbaran. Sebab bagaimanapun saktinya Pasingsingan, yang berasal dari
orang yang bernama Umbaran itu, namun tidaklah mungkin ia mampu menciptakan
suasana sedemikian seramnya.
400
TIBA-TIBA Radite teringat akan sumber dari nama Umbaran. Sumber dari
mahluk-mahluk yang kemudian menyebut dirinya Pasingsingan. Teringatlah ia pada
saat ia menerima warisan jubah abu-abu serta segala kelengkapannya yang demikian
saja berada di dalam ruang tidurnya. Teringatlah ia ketika orang yang mewariskan
benda-benda itu kemudian lenyap tak berbekas. Yang kemudian datang kembali
ketika nama Pasingsingan itu telah ternoda dan berkata kepadanya ”Bahwa tak
ada gunanya untuk mencoba memperbaiki nama yang telah terbenam didalam arus
ketamakan, kedengkian dan kejahatan.”
Radite adalah seorang tua yang mempunyai mata hati yang tajam. Demikian pula
adiknya, Anggara. Karena itu tiba-tiba tergoreslah suatu tanggapan batin yang
tak dapat diketahui dari mana datangnya yang mengatakan padanya, bahwa
kemungkinan satu-satunya orang yang berdiri di hadapannya itu adalah gurunya
Pasingsingan Sepuh. Karena itu, seperti orang berjanji, Radite dan Anggara
tiba-tiba bersama-sama berjongkok dan membungkukkan kepala mereka dengan
takzimnya.
Orang yang berjubah abu-abu itu mundur beberapa langkah ke belakang. Wajahnya
yang kosong dan pucat, sama sekali tak menampakkan sesuatu kesan. Apalagi
didalam gelap malam, wajah itu seolah-olah sama sekali tidak bergerak.
Dalam pada itu tiba-tiba terdengarlah suara Radite serak, ”Guru...
ampunkanlah kami, atas segala ketikdaksopanan kami. Sebab kami sama sekali tidak
menduga bahwa kami masih berhak untuk memandang wajah guru karena dosa-dosa kami.”
Orang yang berjubah abu-abu itu terdengar menggeram. Lalu terdengarlah suaranya
seolah-olah bergulung-gulung di dalam perutnya, ”Radite dan Anggara,
demikianlah, sejak aku kau kecewakan, aku memang sudah berhasrat untuk tidak
menjumpaimu lagi. Sebab setiap aku memandang wajahmu, tergoreslah kembali luka
di hati ini. Bagaimanapun aku berusaha untuk bersikap sebagai seorang yang
berjiwa besar, namun ternyata aku bukanlah orang yang berjiwa demikian. Meskipun
aku tidak membebankan semua kesalahan kepadamu, namun dengan menghindari
pertemuan itu, aku berhasrat untuk melupakan segala-galanya yang pernah terjadi.
Melupakan gelar Pasingsingan yang sudah sejak berpuluh tahun sebelumnya dipupuk
dan disiangi, untuk kemudian dapat berkembang dengan harumnya. Tetapi, kemudian
karena sifat-sifat yang sebenarnya alami dari setiap manusia, maka semuanya itu
menjadi hancur. Sifat-sifat alami yang tanpa kesadaran serta pengarahan yang
benar, maka kaburlah batas antara manusia yang berakal budi dengan mahluk-mahluk
lainnya, yang hanya mengenal sifat-sifat alami melulu sebagai naluri.”
Radite dan Anggara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Mereka sama sekali tidak
berani menatap wajah orang yang berdiri di hadapannya. Mereka merasakan
benar-benar betapa kata-kata orang itu langsung menembus jantung mereka. Dan
karena kata-kata itu pula kemudian Radite dan Anggara menjadi yakin
seyakin-yakinnya bahwa tidak mungkin ada orang lain yang dapat berbuat, bersikap
dan berkata kepadanya sedemikian itu selain Pasingsingan Sepuh. Karena itu maka
sekali lagi Radite menundukkan kepalanya sambil berkata parau, ”Guru, telah
sekian lama aku menanti, bahwa pada suatu saat aku akan dapat membersihkan
dosa-dosaku dengan menjalani hukuman yang dapat guru jatuhkan kepadaku. Dan
sekarang aku mendapat kesempatan untuk bertemu. Karena itulah aku mohon, guru
sudi berbuat sesuatu atas diriku sebagai suatu pernyataan penyesalanku yang
tiada terhingga.”
”Radite...” jawab orang yang berjubah itu, ”Pengakuan atas kesalahan
yang tiada dibuat-buat, yang diucapkan dengan jujur dan ikhlas adalah suatu
hukuman yang seberat-beratnya. Sebab, hukuman bukanlah sekadar menyakiti,
menyiksa atau penderitaan-penderitaan lain. Tetapi tujuan dari pada hukuman yang
sebenarnya adalah mencegah terulangnya kesalahan itu. Kalau seseorang, dengan
ikhlas dan jujur telah mengakui kesalahannya dan berusaha dengan sepenuh hati
untuk tidak berbuat kesalahan-kesalahan lagi, maka menurut pendapatku tidak
adalah hukuman lain yang wajib ditimpakan atasnya.”
Sekali lagi kata-kata orang berjubah itu meresap ke dalam setiap relung dada
Radite maupun Anggara, seperti meresapnya rasa sejuk dari percikan air yang
telah wayu sewindu. Meskipun demikian, karena beban perasaan yang terasa sangat
berat menghimpit hati, Radite mencoba sekali lagi mendesak, ”Guru, bukankah
hal yang demikian setidak-tidaknya akan dapat menjadi suri tauladan, bahwa
Radite mengalami hukuman atas kesalahannya? Sebab apabila ada kesalahan yang
lepas dari hukuman, maka ada kemungkinan orang lain akan melakukan hal yang sama
dengan harapan untuk membebaskan diri pula dari setiap hukuman.”
Terdengarlah orang yang berjubah itu tertawa lirih. Jawabnya, ”Radite, aku
tahu bahwa kau ingin mengurangi tanggungan perasaanmu. Tetapi ketahuilah, bahwa
dengan penyesalan serta keikhlasanmu mengakui kesalahanmu itu adalah hukuman
yang sudah cukup berat. Sedang apabila ada orang lain yang dengan sengaja
berbuat kesalahan, kepadanyalah hukuman harus dibebankan, bahkan dua kali lipat
dari yang seharusnya.”
Radite menjadi terdiam. Untuk beberapa saat suasana kembali dicekam oleh
kesepian. Dalam pada itu timbul pulalah berbagai pertanyaan di dalam dada Radite
dan Anggara. Kalau gurunya pada saat yang tiba-tiba tanpa diduga-duganya itu
hadir di hadapannya, apakah maksudnya? Ia tidak ingin memberi hukuman kepadanya,
sebaliknya gurunya itu telah bertekad untuk tidak menjumpainya lagi. Tetapi
sekarang orang itu ada disini. Baru kemudian teringatlah oleh Radite bahwa
disampingnya ada orang lain dari perguruan lain. Yaitu Mahesa Jenar dan orang
yang menamakan dirinya Tumenggung Surajaya. Apakah kedatangan gurunya itu ada
sangkut-pautnya dengan mereka itu?. Karena itu kemudian bertanyalah ia, ”Guru,
kalau demikian apakah aku berhak mempersilahkan guru untuk singgah ke dalam
pondokku?”