Nagasasra dan Sabukinten

Ki Paniling dan Ki Darba

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

391

SEMENTARA itu Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar telah jauh meninggalkan Padepokan Karang Tumaritis. Mereka pergi ke arah timur dan kadang-kadang mereka mengarah ke utara, dengan tujuan Banyubiru.

Perjalanan itu memang agak jauh. Lewat tanah-tanah yang berbatu-batu tajam dan kadang-kadang mereka harus mendaki lereng-lereng terjal. Untunglah bahwa sebelum mereka menempuh perjalanan itu mereka sempat singgah di Gedangan untuk mendapatkan dua ekor kuda yang baik.

Dengan kuda itulah mereka menempuh perjalanan. Diiringi oleh derap kaki-kaki kuda mereka yang berirama menyentuh batu-batu padas di bawah sinar matahari pagi, setelah mereka beristirahat beberapa lama. Burung-burung yang hinggap di batang-batang pohon liar memandang kedua penunggang kuda itu dengan kagumnya. Seolah-olah mereka sudah mengenalnya dengan baik, bahwa kedua orang itu adalah dua orang perkasa yang sedang dalam perjalanan yang berbahaya.

Namun demikian, wajah-wajah mereka itu tampak betapa cerahnya secerah matahari pagi, yang memandang jalan yang terbentang di hadapannya dengan penuh keyakinan. Meskipun batu-batu padas menjorok menghadang perjalanan mereka, mereka sama sekali tidak mempedulikannya.

Demikianlah kuda-kuda itu berlari dengan kecepatan sedang. Beberapa saat kemudian mereka menyusup hutan-hutan yang tidak begitu lebat. Tetapi semakin mereka menyusup ke jantung hutan itu, terasa bahwa hutan itu menjadi semakin padat. Meskipun demikian perjalanan mereka sama sekali tidak terganggu. Kuda-kuda mereka pun seolah-olah terpengaruh oleh kebesaran tekad para penunggangnya.
Ketika matahari menjadi terik, seakan-akan ingin membakar hutan itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menghentikan perjalanan mereka, pada saat mereka menjumpai air. Mereka segera membiarkan kuda-kuda mereka minum, sedang mereka berduapun beristirahat pula. Setelah puas, barulah mereka meneruskan perjalanan kembali.

Tujuan mereka yang sebenarnya bukanlah kota Banyubiru. Banyubiru bagi Mahesa Jenar hanyalah merupakan ancar-ancar ke arah tujuannya. Karena beberapa orang Banyubiru telah mengenalnya, maka ia sengaja memasuki kota itu, setelah malam menjadi gelap.

Dari Banyubiru, Mahesa Jenar menyusup ke utara. Melewati hutan-hutan yang tidak begitu lebat untuk kemudian membelok ke arah Timur. Mendaki lambung Bukit Gajahmungkur dan seterusnya menyusur sepanjang lerengnya ke utara.

Pada sebuah puncak kecil dari bukit-bukit yang merentang membujur ke utara itu Mahesa Jenar berhenti.

”Kakang Kanigara, di sini aku pernah berkelahi melawan orang-orang dari golongan hitam hampir seluruhnya,” kata Mahesa Jenar.

”Siapa saja?” tanya Kebo Kanigara.

”Sima Rodra muda suami istri, sepasang Uling, Lawa Idjo dan Lembu Sora,” jawab Mahesa Jenar.

”Jaka Soka...?” tanya Kanigara pula.

”Tidak. Ia sedang bertengkar dengan Lembu Sora saat itu,” jawab Mahesa Jenar pula.

”Dapatkah kau mengatasi keadaan?”

”Tidak. Aku hampir saja mati. Untunglah aku terperosok ke dalam jurang karena pertolongan seseorang.”

”Bagaimana ia menolongmu?”

”Ia adalah orang yang cukup sakti untuk meruntuhkan tebing dimana pada saat itu aku sedang terdesak.”

Kanigara tersenyum. Hebat juga orang yang telah menolongnya itu.

”Siapakah dia?”

”Dialah yang aku sebut-sebut bernama Radite.
”

Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, ”Jadi... orang yang sebenarnya berhak menamakan diri Pasingsingan itukah?”

”Ya.”

Kemudian mereka terdiam untuk beberapa saat. Angin malam berhembus perlahan mengusap wajah-wajah yang segar itu. Kanigara memandang berkeliling. Di sebelah Barat tampak berkilat-kilat memantulkan cahaya bulan, permukaan air Rawa Pening yang tenang seperti kaca. Sedikit ke arah barat tampaklah seperti gelombang hitam, batang-batang padi yang bergerak-gerak tersentuh angin.

”Inikah daerah yang harus dipimpin oleh Arya Salaka kelak?” tanya Kebo Kanigara.

”Ya. Membujur ke barat dan menjorok ke utara sepanjang tepi Rawa Pening,” jawab Mahesa Jenar.
Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya sekali lagi. Memang Banyubiru adalah tanah yang patut diperebutkan. Daerah yang subur dan memiliki sungai-sungai yang cukup, sehingga sawah ladangnya tidak saja selalu tergantung pada jatuhnya hujan.

Sesaat kemudian kembali mereka meneruskan perjalanan. Ketika mereka sampai di sebuah hutan kecil, mereka berhenti untuk melepaskan lelah.

Ketika matahari pagi mulai menerangi punggung-punggung bukit, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mulai dengan perjalanannya kembali. Kuda-kuda mereka nampaknya menjadi segar dan berlari-lari dengan riangnya. Hutan-hutan di daerah ini bukanlah merupakan hutan-hutan yang lebat. Sebab hampir setiap hari daerah ini dirambah oleh orang-orang yang mencari kayu.

Kaki-kaki kuda Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terdengar berderap-derap dalam irama angin pagi. Debu yang putih tipis mengepul-ngepul dilemparkan oleh kaki-kaki kuda itu. Tetapi sesaat kemudian telah lenyap terhambur oleh hembusan angin.

Demikianlah mereka menempuh perjalanan pada hari terakhir. Mereka mengharap bahwa malam nanti mereka telah sampai pada arah yang harus mereka tuju.



392

DI daerah ini perjalanan mereka tidaklah dapat begitu lancar. Karena Mahesa Jenar masih harus mengingat-ingat jalan manakah yang pernah ditempuhnya dahulu. Sebab baru sekali ia pernah ke tempat yang ditujunya sekarang. Itu saja pada arah yang berlawanan. Untunglah bahwa ketajaman ingatannya cukup terlatih untuk mengenal daerah-daerah baru. Sebagai seorang prajurit, hal yang sedemikian adalah sangat berguna.

Mereka sampai ke tempat tujuan ketika matahari masih tampak tergantung di langit sebelah barat. Meskipun sinarnya sudah tidak begitu kuat, namun pantulan cahaya ujung-ujung dedaunan nampak berkilat-kilat. Alangkah segarnya alam.

Karena itu mereka masih harus beristirahat kembali sambil menunggu matahari itu membenamkan diri, sebelum mereka memasuki daerah yang disebut oleh penghuninya Pudak Pungkuran.

Demikianlah, sambil beristirahat mereka memperbincangkan apakah yang kira-kira akan terjadi. Mereka mengharap bahwa mereka menempuh jalan yang benar. Dalam pada itu merekapun masih harus menilai-nilai diri. Terutama Mahesa Jenar. Apakah dalam tingkatannya yang sekarang ia sudah dapat menempatkan dirinya sejajar dengan angkatan gurunya.

”Mahesa Jenar...” kata Kebo Kanigara, ”Menurut pendapatku, kau benar-benar sudah mencapai tingkatan ayah Pengging Sepuh. Bahkan andaikata ayah Pengging Sepuh itu masih ada sekarang, belum tentu ayah dapat menang bertempur melawanmu. Sebab tenagamu masih penuh, disamping pengalamanmu yang aneh-aneh yang barangkali tidak terlalu banyak orang lain mengalami. Kesenanganmu bersama muridmu mengamat-amati gerak-gerik binatang adalah sangat berguna bagi ilmumu. Dan bukankah kau telah pernah membuktikannya pula untuk melawan Sima Rodra tua.
Kekalahan Sima Rodra adalah karena ia hanya mengagumi ketangkasan dan kekuatan seekor harimau. Sedang kau tidak. Kau mengagumi ketangkasan harimau tetapi kau mengagumi pula kelincahan seekor kijang, bahkan seekor kelinci sekalipun.
”

Mahesa Jenar tersenyum mendengar pujian itu. Jawabnya, ”Terima kasih Kakang. Dan bukankah itu berkat hadirnya seorang Mahesa Jenar palsu di kaki bukit Karang Tumaritis?”

Kanigara tersenyum pula. ”Aku hanya merupakan lantaran supaya kau sudi sedikit membuang waktu untuk mendalami ilmumu. Tidak saja berjalan dari satu daerah ke daerah yang lain, meskipun kehadiranmu di daerah-daerah itu ternyata sangat berguna pula.”

Sementara itu langit telah bertambah buram. Dan sesaat kemudian lenyaplah cahaya matahari yang terakhir. Meskipun kemudian bulan muncul pula di langit, namun sinarnya tidaklah terlalu cerah.
Pada saat yang demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara meneruskan perjalanan mereka, memasuki sebuah pedukuhan kecil yang masih belum banyak mengalami perubahan seperti empat atau lima tahun yang lalu.

Ketika mereka sampai di depan sebuah rumah di ujung pedukuhan kecil itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera meloncat turun dan kemudian menambatkan tali kudanya pada sebatang pohon.
Mereka sama sekali tidak memperdulikan wajah-wajah yang terheran-heran mengintip dari sela-sela daun pintu hampir dari setiap rumah, ketika penduduk di pedukuhan terpencil itu mendengar derap dua ekor kuda di jalan-jalan mereka. Hal yang demikian adalah jarang sekali, bahkan hampir belum pernah terjadi.

Ketika penghuni rumah di ujung jalan itu mendengar langkah kuda di halaman, maka segera tampaklah ia membuka pintu rumahnya. Sebuah wajah yang telah meninggalkan usia pertengahan menjelang saat-saat senja dalam edaran hidupnya, menjenguk keluar. Mula-mula tampak keningnya berkerut. Lalu kemudian membayanginya sebuah senyuman yang jernih.

Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya. Wajah yang ditandai oleh dahi yang lebar, bibir yang tebal, dan hidung yang besar, serta rambut yang mulai memutih, namun dari bawah dahinya memancarkan sinar matanya yang bersih lembut.

Ketika orang itu dengan tergopoh-gopoh datang menyongsongnya, Mahesa Jenar membungkuk hormat serta berkata, ”Selamat malam Kiai. Mudah-mudahan kedatanganku tidak mengejutkan Kiai.”

”Tidak, tidak Angger. Aku senang kau sudi menjenguk aku kembali
,” jawabnya.

Kemudian Mahesa Jenar memperkenalkan Kebo Kanigara sebagai seorang Putut dari Padepokan Karang Tumaritis dan bernama Putut Karang Jati.

”Marilah Angger berdua, marilah masuk,” ajaknya.

Kemudian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengikuti orang tua itu memasuki rumahnya. Belum lagi mereka mulai dengan sebuah percakapan, tiba-tiba sebuah tubuh yang tinggi kekurus-kurusan berkulit merah tembaga terbakar oleh teriknya matahari, namun bermata terang seterang bintang-bintang di langit, telah berdiri di muka pintu. Dengan sebuah tawa yang memancar langsung dari dadanya ia menyambut kedatangan Mahesa jenar. Katanya, ”Aku tidak mimpi apapun malam tadi, serta siang tadi burung-burung prenjak tidak berkicau. Tetapi tiba-tiba membayanglah teja di langit.”

Mahesa Jenar tersenyum sambil membungkuk hormat pula kepada orang itu. Demikian pula Kebo kanigara. Melihat kedua orang itu, segera Kebo Kanigara mengetahui, bahwa meskipun mereka berpakaian petani seperti kebanyakan petani, namun kedua orang itu pasti bukanlah sembarang petani. Karena itu segera ia dapat menebak, bahwa kedua orang itulah yang oleh Mahesa Jenar dimaksud bernama Paniling dan Darba, atau yang bernama sebenarnya Radite dan Anggara.



393
DARBA selanjutnya meneruskan, ”Ketika aku mendengar derap kuda, aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang yang terperosok ke pedukuhan kecil ini? Tetapi beberapa orang yang sempat mengintip dari celah-celah pintu berkata kepadaku, bahwa orang berkuda itu menuju ke rumah Kakang Paniling. Karena itulah aku segera datang kemari. Dan dugaanku benar. Bahwa pasti orang yang datang dari jauhlah yang telah mengunjungi rumah ini.”

”Demikianlah Paman...” jawab Mahesa Jenar. Dan kepada Darba pun Mahesa Jenar memperkenalkan Putut Karang Jati.

Demikianlah mereka setelah masing-masing mengucapkan salam selamat, mulailah Paniling dan Darba bertanya-tanya mengenai keadaan Mahesa Jenar selama ini tanpa prasangka apapun. Namun Mahesa Jenar hanya berusaha menjawab beberapa hal saja.

Akhirnya Paniling dan Darba merasa bahwa sikap Mahesa Jenar agaknya kurang wajar. Karena itu kemudian Paniling bertanya ”Angger, aku sangka kedatangan Angger mengandung suatu keperluan yang penting, yang barangkali agak tergesa-gesa. Nah, angger. Katakanlah. Kalau saja kami berdua dapat menolong kesulitan angger, biarlah kami berusaha untuk menolongnya.”

Sesaat Mahesa Jenar menjadi ragu-ragu. Beberapa kali ia memandang kepada Kebo Kanigara. Tetapi karena Kebo Kanigara sedang menundukkan mukanya, merenungi lantai, maka ia tidak melihatnya.

Akhirnya Mahesa Jenar memutuskan untuk melaksanakan rencananya. Meskipun dengan dada yang berdebar-debar. Tetapi ia berdoa agar segala sesuatu dapat berlangsung dengan baik.

Maka kemudian berkatalah ia, ”Paman berdua... benarlah dugaan Paman. Aku datang dengan suatu keperluan yang penting. Meskipun dengan berat hati, namun terpaksalah aku akan melakukan kewajibanku, kewajiban kepada negara dan rakyat.”

Paniling dan Darba bersama-sama mengerutkan keningnya. Mereka menduga-duga, apakah yang akan dilakukan oleh Mahesa Jenar berdasarkan atas kewajibannya kepada negara dan rakyat?

”Paman...” Mahesa Jenar meneruskan, ”Setelah beberapa tahun aku berkeliling hampir seluruh sudut negeri ini untuk mencari kedua keris Demak yang lenyap seperti yang pernah aku katakan dahulu, dan sama sekali aku tidak menemukan jejaknya, maka berdasarkan pengamatanku, atas seseorang yang mengambil keris itu langsung dari Banyubiru, akhirnya aku berkesimpulan, bahwa tidak ada orang lain yang demikian saktinya, melampaui kesaktian Pasingsingan, serta berjubah abu-abu seperti Pasingsingan pula, selain salah seorang dari kedua paman ini. Paman Radite atau Paman Anggara.”

Perkataan Mahesa Jenar yang diucapkan kata demi kata dengan jelasnya itu, bagi Paniling dan Darba, seolah-olah menggelegarnya berpuluh-puluh guntur bersama-sama diatas kepala mereka. Sehingga dengan demikian, malahan seolah-olah tidak sepatah katapun yang dapat mereka tangkap dengan jelas. Karena itu dengan agak ragu-ragu pada pendengarannya, Paniling bertanya, ”Angger, apakah yang Angger katakan itu?”

”Maafkanlah aku Paman,” Mahesa Jenar menjelaskan, ”Bahwa aku akhirnya berkesimpulan. Keris -keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten agaknya berada di tangan paman salah seorang atau kedua-duanya.”

Paniling dan Darba bersama-sama menarik nafas panjang. Untunglah bahwa umur mereka yang telah lanjut, menyebabkan mereka dapat mengendapkan setiap perasaan yang paling pedih sekalipun.

Dengan sareh terdengar Paniling menjawab, ”Angger, beberapa tahun yang lampau telah aku katakan, bahwa akupun ikut merasa sedih atas lenyapnya kedua keris itu. Tetapi orang yang berjubah abu-abu itu bukanlah salah seorang diantara kami. Apakah pamrih kami dengan menyimpan kedua keris itu...? Kami telah merasa berbahagia hidup di padepokan ini bersama-sama dengan para petani. Sebab mereka adalah orang-orang yang berhati terbuka. Demikian yang dikatakan, demikian pulalah yang dipikirkan. Di sini aku merasa bahwa hidup kami telah penuh dengan arti.”

”Paman...”
jawab Mahesa Jenar, ”Sekali lagi aku mohon maaf. Tetapi sayang Paman, bahwa aku tidak dapat berkesimpulan lain daripada itu.”

Darba menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan mata yang suram ia berkata, ”Bagaimana aku dapat menduga yang demikian Angger. Kami sama sekali tidak melihat adanya suatu keuntungan apapun dengan menyimpan kedua keris itu. Sedang kami tahu, bahwa orang lain sangat memerlukannya. Seandainya kedua keris itu ada pada kami, maka dengan senang hati akan kami serahkan kepada Angger Mahesa Jenar.”

”Paman, aku tidak tahu siapakah yang berdiri di belakang Paman. Aku juga tidak tahu, apakah Paman mempunyai seorang calon untuk merebut tahta.”

Kembali Paniling dan Darba terkejut bukan buatan. Perlahan-lahan tanpa disadarinya mereka mengelus dada. Katanya, ”O... Ngger.... Jangan berpikiran demikian. Aku berdua sama sekali tidak mempunyai seorang muridpun. Juga kami berdua tidak mempunyai anak keturunan. Apalagi membayangkan seseorang untuk menduduki tahta kerajaan. Sungguh Ngger, mimpi pun aku tidak berani.”

Mahesa Jenar tertawa dingin. Sahutnya, ”Aku sudah bertanya kepada lebih dari seratus orang. Semuanya menjawab seperti jawaban Paman berdua itu. Apalagi Paman berdua adalah dua orang sakti yang hampir tak ada bandingnya di dunia ini.”

Sekali lagi Paniling dan Darba menarik nafas dalam-dalam. Terdengarlah Darba menjawab dengan nada sedih, ”
Angger Rangga Tohjaya... Angger seharusnya bijaksana. Seandainya kami berdua benar-benar sakti seperti apa yang Angger sebutkan. Namun mustahillah bahwa kami berdua akan dapat menguasai seluruh prajurit dan pengawal kerajaan, meskipun kami menyimpan sipat kandel Demak. Yaitu Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”


394

MAHESA JENAR tertawa semakin keras. ”Hampir setiap anak kecilpun mengetahui, bahwa dengan berpegangan pada kedua sipat kandel itu Paman berdua mengharapkan seluruh istana akan tunduk dengan sendirinya tanpa kekerasan.”

”Angger...” potong Paniling, ”Pandanglah wajah-wajah kami yang telah mulai berkeriput ini. Apakah terbayang nafsu duniawi yang berlebih-lebihan? Kalau demikian maka kami adalah orang-orang tua yang paling berdosa di dunia ini. Kami yang telah bertekad untuk meninggalkan segala nafsu duniawi dan berusaha untuk menenteramkan diri serta mendekatkan diri pada sesembahan kami yang langgeng. Tuhan Yang Maha Besar.”

Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya. Dengan tajam ia memandang Paniling dan Darba berganti -ganti. Lalu katanya dengan lantang, ”Aku tidak percaya, bahwa kalian sudah tidak mempunyai pamrih duniawi lagi. Dan ketahuilah, bahwa pada wajah kalian memang terbayang nafsu yang berlebih-lebihan.”

Paniling dan Darba tersentak mendengar jawaban itu. Beberapa saat wajah mereka menjadi tegang. Tetapi sesaat kemudian wajah-wajah itu menjadi semakin sayu. Dengan nada yang sedih terdengar Paniling menjawab, ”Jadi, adakah Angger Mahesa Jenar tetap pada pendirian Angger, menyangka bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten ada pada kami...?”

”Ya,” jawab Mahesa Jenar tegas.

”Kalau demikian, lalu apakah yang akan Angger lakukan?” lanjut Paniling.

”Serahkanlah keris-keris itu kepadaku.” Suara Mahesa Jenar menjadi semakin tegas.

”Sayang, kami tidak dapat melakukan karena tidak ada yang dapat kami serahkan,” jawab Paniling pula.

”Aku akan membuktikan bahwa keris itu berada di tempat ini,” potong Mahesa Jenar.

Paniling dan Darba menggeleng-gelengkan kepala. Untuk beberapa lama mereka saling berpandangan. Sampai akhirnya terdengarlah Paniling menjawab dengan suara yang agak dalam, ”Kalau Angger ingin membuktikan, kami persilakan dengan senang hati.”

Mahesa Jenar menjadi tidak sabar lagi. Ia ingin Paniniling dan Darba menjadi marah. Karena itu ia membentak seperti membentak pesakitan, ”Hai paman berdua, jangan coba berputar-putar lagi. Aku dapat bertindak lunak. Tetapi aku juga dapat berbuat kasar. Jangan membantah lagi. Berdirilah dan tunjukkan kedua keris itu, di mana kau sembunyikan.”

Dahi Paniling dan Darba menjadi bertambah berkerut. Akhirnya dengan lemah terdengar Paniling menjawab, ”Angger... barangkali Angger benar. Bahwa aku telah berbuat diluar tahuku sendiri. Kalau demikian terserahlah kepada Angger. Kalau Angger ingin menghukum kami berdua, hukumlah. Lakukanlah yang Angger anggap paling benar dan adil. Kami tidak akan ingkar. Kalau Angger menganggap bahwa kami sepantasnya dihukum mati, dipancung atau digantung, lakukanlah itu. Kami akan menjalani penuh keiklasan dan kami akan tersenyum pada saat akhir kami.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Demikian agaknya Kebo Kanigara. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa kedua orang itu sudah demikian iklasnya menghadapi maut sekalipun, untuk membuktikan betapa bersih mereka.

Karena itu Mahesa Jenar menjadi bingung. Ternyata ia tidak berhasil membuat kedua orang itu marah dan menantangnya berkelahi. Bahkan kemudian Mahesa Jenar menjadi terharu sehingga terpaksa menundukkan kepala.

Apalagi ketika terdengar Darba melanjutkan kata-kata Paniling, ”Anakmas agaknya mempunyai wewenang untuk bertindak. Baik sebagai seorang yang setia pada keyakinannya atau bahkan barangkali Anakmas sekarang benar-benar sedang mengemban tugas sebagai seorang prajurit. Kalau dengan menjalani tindak kekerasan, kami dapat melapangkan tugas Angger maka kami akan merasa bahagia karenanya.”

Mahesa Jenar kemudian tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan. Ia sudah berusaha untuk memancing kemarahan kedua orang itu, namun ternyata sia-sia.

Dalam pada itu Kebo Kanigara yang sebenarnya terharu pula atas keiklasan kedua orang itu untuk pasrah diri, tiba-tiba tertawa nyaring. ”Hai orang-orang yang berjiwa kerdil... buat apa kami membunuh kalian? Ketahuilah bahwa sebenarnya aku adalah seorang petugas dari Istana. Akulah yang bernama Tumenggung Surajaya. Kalau kalian tidak mau menyerahkan kedua keris itu sekarang, maka kalian akan kami bawa menghadap ke Istana Demak. Aku berwenang untuk menghukum kalian, dan hukuman yang aku rencanakan adalah mengikat leher kalian, serta menggiring kalian keliling kota. Setiap orang yang berpapasan harus mengucapkan kata-kata penghinaan terhadap kalian. Perempuan dan anak-anak harus melempari kalian dengan batu. Sedang laki-laki dapat berbuat sekehendaknya atas kalian.”

Mahesa Jenar sendiri terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga tanpa disengaja ia mengawasi Kebo Kanigara dengan tajamnya. Namun Kanigara masih saja tertawa, malahan semakin keras.



395

BAGAIMANAPUN jernihnya hati yang tersimpan di dalam dada Paniling dan Darba, namun mereka adalah manusia juga. Manusia yang memiliki kesadaran diri atas derajadnya sebagai manusia. Karena itu, ketika mereka mendengar kata-kata hinaan tamunya, dada mereka terasa bergetar juga.

Dalam pada itu agaknya Darba yang lebih muda daripada Paniling, yang mula-mula merasa bahwa kelakuan tamu mereka sudah berlebihan. Dengan nafas yang semakin cepat beredar, beberapa kali ia menelan ludahnya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan diri supaya ia tidak melakukan hal-hal yang dapat mengotori diri mereka.

Baru beberapa saat kemudian, sambil membungkuk hormat Darba berkata, ”Tuan... maafkanlah kami. Kalau kami tidak mengetahui sebelumnya bahwa yang sudi datang ke pondok kami adalah seorang tumenggung. Karena itu terimalah sembah bekti kami berdua.”

Kebo Kanigara tertawa masam. Jawabnya, ”Aku sama sekali tidak membutuhkan segala macam upacara yang tak berarti itu. Kedatanganku adalah untuk kepentingan yang jauh lebih besar daripada salam yang akan menyenangkan hatiku.”

”Bukan itulah maksud kami,” potong Darba yang nafasnya semakin berdesakan di dalam rongga dadanya. ”Tetapi memang seharusnyalah kami menghormati Tuan. Hanya sayanglah bahwa Tuan telah menjalankan pekerjaan agak kurang bijaksana.”

”Apa...?” bentak Kebo Kanigara sambil membelalakkan mata. ”Kau bilang aku kurang bijaksana...? Hai orang-orang yang tak berarti, berjongkoklah dan cium telapak kakiku sambil mengucapkan permohonan maaf atas kelancangan mulutmu.”

Paniling yang berdada luas lautan pun kemudian menjadi tidak senang. Bahkan Mahesa Jenar sendiri menganggap bahwa Kebo Kanigara sudah agak terlalu jauh. Namun Mahesa Jenar sadar, kalau tidak demikian maka kedua orang itu pasti tidak akan dapat marah.

”Baiklah, aku mohon maaf,” sahut Darba, ”Namun biarlah aku tidak usah berjongkok dan mencium telapak kaki Tuan. Sebab barangkali aku sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu.”

Mata Kebo Kanigara menjadi semakin terbelalak. ”Patuhi perintah, hai orang tua yang tak malu,” teriaknya. ”Sekarang aku menjadi tidak percaya bahwa kalianlah yang bernama Radite dan Anggara. Sebab kalian tidak lebih daripada sisa-sisa orang paria yang berkeliaran sejak zaman pemerintahan Majapahit. Kalian tidak pantas mendapat pelayanan sebagaimana aku menjadi manusia yang paling hina sekalipun dari sisa-sisa golongan sudra.”

Sekarang Darba sudah tidak dapat membiarkan dirinya dihina lebih jauh. Apalagi ketika disebut sebutnya nama Radite dan Anggara. Namun yang selama ini disembunyikan untuk tidak dilekati oleh noda. Karena itu tiba-tiba matanya menjadi bercahaya kembali. Cahaya yang memancar kemerah-merahan karena marah yang terpendam di dalam dada. Kemudian katanya, ”Terserahlah kepada Tuan. Namun sayang bahwa aku tidak ingin berbuat seperti yang Tuan maksudkan.”

Wajah Kebo Kanigara tampak benar-benar menjadi merah. Dengan garangnya ia melangkah ke arah Paniling yang duduk di hadapannya. Sambil menunjuk kepada Darba yang berada di depan pintu, ia berteriak, ”Hai kau tua bangka, suruh adikmu melakukan perintahku.”

Perlahan-lahan Paniling menggelengkan kepalanya. Terdengar suaranya lirih namun terasa betapa getaran kemarahan melontar hampir tak terkendali. ”Tidak, Tuan. Aku tidak dapat menyuruhnya berbuat demikian.”

”Lakukan perintahku,”
ulang Kebo Kanigara. ”Atau aku harus datang kepadamu dengan membawa seorang perempuan seperti yang dilakukan Umbaran untuk memaksamu?”

Kata-kata Kanigara itu langsung menyentuh luka yang paling dalam. Karena tajamnya lebih daripada segala macam kata hinaan. Tiba-tiba tanpa disengaja Paniling telah tegak berdiri. Matanya memancar merah serta nafasnya berkejar-kejaran melalui lubang hidungnya yang besar. Kemudian terdengarlah kata-katanya bergetar. Kata-kata seorang jantan yang pernah bergelar Pasingsingan. Yang pernah merantau dari satu tempat ke tempat lain untuk mengamalkan kebajikan. Karena itulah maka kata kata-kata itupun mempunyai pengaruh yang luar biasa atas Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar. ”Angger berdua... aku sudah mengatakan apa yang aku ketahui dan apa yang iklaskan. Tetapi Angger berdua minta terlalu banyak dariku. Karena itu biarlah aku berikan yang paling berharga yang ada padaku, yaitu namaku Radite. Tetapi nama itu agak berbeda dengan nama Paniling, seorang petani yang tidak berharga. Tuan boleh berbuat sekehendak Tuan atas seorang petani yang bernama Paniling dan Darba. Tetapi tidak demikian atas nama Radite dan Anggara. Nah, Tuan... apakah yang tuan-tuan kehendaki sekarang, ambillah. Tetapi jangan mengharap Tuan dapat mengambilnya begitu saja. Nama itu adalah sama berharganya dengan nyawa kami.”

Hati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tergetar mendengar kata-kata itu. Apalagi ketika mereka melihat sikap Paniling dan Darba yang tiba-tiba telah berubah. Sikapnya kemudian benar-benar meyakinkan bahwa kedua orang itu adalah orang-orang sakti yang jarang dicari bandingannya.

Namun Kebo Kanigara adalah seorang sakti pula. Seorang yang masih cukup muda untuk berkembang terus, namun yang telah melampaui kesaktian ayahnya sendiri, Ki Ageng Pengging Sepuh. Sedangkan Mahesa Jenar telah menemukan inti ilmu Perguruan Pengging. Apalagi mereka telah melakukan semuanya itu dengan sengaja. Sengaja memancing pertengkaran dan pertempuran dengan orang yang bernama Radite dan Darba, murid terpercaya dari Pasingsingan Sepuh.

Demikianlah kemudian Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar telah tegak pula. Dengan bentakan-bentakan marah, Kebo Kanigara berkata, ”Bagus... bagus.... Begitulah seharusnya orang yang bernama Radite berkata. Aku, Tumenggung Surajaya, kepercayaan Sultan Demak, serta Adi Rangga Tohjaya pasti akan melakukan tugasnya dengan baik. Nah, keluarlah. Biar aku renggut nama kebanggaanmu dengan usaha seorang laki-laki.”