Nagasasra dan Sabukinten

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

386

TEPAT pada saat-saat terakhir, dengan sisa tenaga yang ada Arya menarik tombak pusaka kebesaran Banyubiru, dan dengan sepenuh nafsu kemarahannya ditekankan ujung tombak itu ke dalam perut lawannya. Terdengarlah suara menggelegak sesaat. Setelah itu terasa tarikan cambuk yang membelit lehernya menjadi semakin kendor. Sadarlah Arya bahwa ia berhasil membunuh Uling Kuning dengan tombaknya. Karena itu dilepaskannya belitan kakinya, dan setelah air di sekitarnya dipenuhi dengan merahnya darah, ia berusaha untuk berenang ke permukaan air. Namun tenaganya sudah sedemikian lemahnya. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi pada saat ia berhasil menegakkan kepalanya ke permukaan air terasa bahwa matanya menjadi berkunang-kunang.

Ketika Arya mencoba memandang bintang-bintang yang gemerlapan di langit, maka yang tampak seolah-olah mendung yang tebal menggantung di udara. Hitam dan kelam. Yang diingatnya pada saat terakhir adalah menyarungkan tombaknya yang baginya sama harganya dengan kepalanya, kembali ke dalam sarungnya. Sesudah itu semuanya seperti lenyap dari ingatannya.

Ketika ia tersadar, terasa seolah-olah sebuah mimpi yang indah membayang di hadapannya. Meskipun tubuhnya masih terasa dingin oleh pakaiannya yang basah, namun dilihatnya beberapa orang duduk di sekitarnya, pada sebuah balai-balai besar. Sebuah lampu minyak yang terang, menyala-nyala dengan riangnya, seolah-olah ikut serta bergembira untuk keselamatan Arya Salaka.

Ketika ia sempat mengamat-amati wajah-wajah di sekitarnya, tampaklah gurunya yang sedang merenunginya dengan seksama. Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta, Wiradapa dan beberapa orang lagi yang dikenalnya sebagai orang-orang Gedangan.

Demikian ia mulai menggerakkan matanya, tampaklah keriangan membersit di wajah-wajah mereka yang dengan kecemasan menungguinya. Apalagi Mahesa Jenar. Dengan tergopoh-gopoh ia bergerak maju dan dengan hati-hati ditempelkannya kupingnya pada dada Arya untuk mendengarkan detak jantung anak itu. "Arya..." bisiknya.

Arya mencoba tersenyum, namun kulit wajahnya serasa membeku.
"Kakang Wiradapa..." kata Mahesa Jenar perlahan-lahan. Pinjamilah anak ini pakaian kering.

Dengan tergesa-gesa Wiradapa bangkit, dan sesaat kemudian ia telah kembali dengan pakaian-pakaian kering. Dengan kain panjang, tubuh Arya diselimuti rapat-rapat, dan kemudian dilepaskannya pakaian-pakaiannya yang basah. Sesaat kemudian terasa tubuhnya menjadi agak hangat. Tetapi dalam pada itu, ingatannya masih belum pulih benar. Ia masih belum mengerti dimana ia berada. Dinding-dinding ruangan itu nampaknya masih kabur serta dilapisi selaput yang buram.

Dengan susah payah akhirnya terdengar ia berdesis, "Di manakah aku sekarang...?"

"Kau berada di Kelurahan Gedangan, Arya. Tenangkan pikiranmu. Semuanya sudah selesai," sahut Mahesa Jenar.

"Uling Kuning...?" bisiknya perlahan.

"Ia tidak akan mengganggumu lagi," jawab Mahesa Jenar.

"Jadi, aku berhasil...?" sambungnya.

"Ya, kau berhasil," jawab Mahesa Jenar pula.

Arya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengarlah ia bergumam, "Tuhan Maha Besar."

Yang mendengar gumaman Arya itu menjadi terharu. Mereka semakin yakin bahwa anak itu tidak saja akan menjadi seorang yang berjiwa besar, tetapi ia juga akan menjadi seorang pemimpin yang saleh. Seorang pemimpin yang akan membawa rakyatnya berjalan sepanjang jalan Allah.

Dalam usianya yang semuda itu, sudah tampaklah sifat-sifat Arya Salaka yang cemerlang. Jauh dari kesombongan dan nafsu membalas dendam. Cinta kepada manusia dan kemanusiaan, serta memandang alam ini dengan penuh cinta kasih pula.

Demikianlah setelah mengucapkan kata-kata itu hati Arya menjadi tenteram. Tetapi bersamaan dengan perasaan itu, tubuhnya mulai berasa betapa penat dan sakitnya. Tulang-tulangnya serasa berderak-derak patah, serta sendi-sendinya seperti terlepas. Luka di lengan serta lambungnya menjadi pedih sekali. Cambuk Uling itu telah menyobek kulitnya. Disamping itu, lehernyapun terasa nyeri. bekas-bekas cambuk Uling Kuning masih meninggalkan bekas-bekas goresan merah. Meskipun demikian Arya Salaka berusaha untuk melupakan semua sakit-sakit yang dideritanya.

Tetapi suatu pekerjaan yang berat, bahkan sangat berat telah diselesaikan. Melenyapkan Uling Putih dan Uling Kuning sekaligus. Kemudian tahulah ia, bahwa Mahesa Jenarlah yang telah menolongnya, ketika ia pingsan di tengah-tengah telaga, setelah ia berkelahi melawan Uling Kuning. Gurunya itu datang tepat pada saatnya, yang kemudian menyambarnya dan menariknya ke tepi. Kalau saja Mahesa Jenar terlambat beberapa saat saja, mungkin iapun telah binasa seperti Uling Kuning.

Ketika orang-orang yang mengerumuninya mengetahui bahwa keadaannya telah berangsur baik, maka satu demi satu mereka meninggalkan tempat itu. Yang tinggal kemudian hanya beberapa orang saja. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta dan Wiradapa.

Dengan pertolongan beberapa orang, Kebo Kanigara mendapatkan beberapa macam daun-daunan serta akar-akar yang diperlukan untuk mengobati luka Arya. Untunglah bahwa dalam beberapa hal Kebo Kanigara telah belajar pada Panembahan Ismaya, sehingga dengan cekatan ia dapat mengobati luka-luka itu.

Beberapa saat kemudian tampaklah keadaan Arya Salaka berangsur baik. Bahkan kemudian ia sudah dapat tidur. Dengan demikian ia dapat beristirahat lahir dan batin.      



387

DEMIKIANLAH, untuk beberapa hari Arya perlu beristirahat benar-benar untuk menyembuhkan luka-lukanya serta memulihkan tenaganya. Sebab setelah ia bertempur mati-matian, terasa seolah - olah tenaganya telah terhisap habis.

Dalam saat-saat itu, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berusaha menjadikan orang-orang Gedangan lebih masak lagi. Sebab untuk seterusnya tidaklah selalu Mahesa Jenar, Arya Salaka dan Kebo Kanigara akan dapat berada di tempat itu. Meskipun menurut perhitungan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, musuh tidak akan datang kembali. Orang-orang yang berkepentingan langsung dengan daerah Gedangan telah binasa. Sedangkan laskar Pamingitpun menurut dugaan Mahesa Jenar tidak akan segera kembali. Mereka pasti harus mempertimbangkan kekuatan yang ada di daerah kecil ini.

Mereka pada saat-saat yang lalu pasti tidak akan menduga bahwa di daerah ini ada orang-orang seperti Kebo Kanigara dan bahkan orang yang berjubah abu-abu, yang tanpa diduga-duga datang menolong.

Setelah Arya sudah pulih kembali kesehatan serta tenaganya, maka mulailah mereka mempertimbangkan apa yang akan dilakukan seterusnya. Menurut pertimbangan Kebo Kanigara, maka yang sebaik baiknya adalah menghadap Panembahan Ismaya dan melaporkan apa yang telah terjadi serta menyatakan keselamatan diri.

Demikianlah kemudian mereka terpaksa minta diri kepada orang-orang Gedangan, setelah mereka mengalami suka duka bersama, berjuang bersama. Tentu saja orang-orang Gedangan menjadi kecewa atas perpisahan itu. Tetapi perpisahan itu harus terjadi, sebagaimana matahari akan tenggelam pada senja hari setelah sehari penuh sinarnya memancari permukaan bumi. Demikianlah pula setiap pertemuan pasti akan diikuti dengan perpisahan. Cepat atau lambat. Karena tak ada sesuatu yang kekal di muka bumi ini. Setiap kali selalu ada perubahan-perubahan dan putaran-putaran peristiwa. Seperti berputarnya bola bumi itu sendiri. Sekali sebagian wajahnya menjadi terang benderang karena cahaya matahari tetapi sekali menjadi gelap oleh bayangannya sendiri.

Kepada orang-orang Gedangan Mahesa Jenar mencoba untuk menjelaskan hal itu. Kemudian katanya mengakhiri karena itu selagi kita berada ditempat yang terang. janganlah kita bersombong diri. Janganlah kita menganggap bahwa di sana ada dunia yang gelap, yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak berhak menikmati terangnya sinar matari. Tetapi dalam keadaan demikian, kita justru harus mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa kita masih berkesempatan untuk memandang udara yang cerah. Sebab pada saat yang lain, kitapun akan sampai pada daerah yang kelam. Pada saat yang demikian kita harus berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menerangi hati kita menjelang masa depan yang cerah.

Akhirnya Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Arya Salaka, Endang Widuri dan Wanamerta terpaksa dilepas pergi, meskipun dengan berat hati. Meskipun demikian, mereka berkesempatan untuk mengadakan sekedar selamatan perpisahan, meskipun sederhana.

Demikianlah ketika cerahnya matahari pagi sedang memercik di atas dedaunan, berjalanlah sebuah rombongan yang kecil meninggalkan desa Gedangan menuju ke pebukitan Karang Tumaritis. Di sepanjang jalan tidaklah banyak yang mereka percakapkan, sebab kepala mereka masing-masing dipenuhi oleh kenangan-kenangan atas peristiwa yang baru saja terjadi.

Tetapi tidaklah demikian dengan Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Selain kenangan-kenangan yang sekali-sekali membayang di dalam ingatannya, mereka juga berangan-angan tentang masa depan. Tentang Sawung Sariti beserta ayahnya Ki Ageng Lembu Sora. Tentang daerah perdikan Banyubiru. Dan yang tidak kalah pentingnya, tentang pusaka-pusaka Demak, Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dengan diketemukannya kedua keris itu, maka banyak hal yang sekaligus dapat diurai. Sebab keadaan Ki Ageng Gajah Sora pun sebagian tergantung pada keris-keris itu.

Yang juga terlintas di dalam otak Mahesa Jenar adalah cara penyelesaian yang secepat-cepatnya mengenai Banyubiru. Tidaklah sepantasnya kalau Arya Salaka masih harus menyembunyikan diri terus-menerus. Karena itu bagi Mahesa Jenar, sebaiknya Arya Salaka yang datang ke Banyubiru, dan dengan berterus terang menyatakan diri sebagai pengganti ayahnya, kepala daerah perdikan Banyubiru.

Tetapi pelaksanaan rencana itu haruslah diolah semasak-masaknya. Sebab setiap kesalahan akan dapat menimbulkan akibat yang sama sekali tidak diharapkan.

Demikianlah rombongan kecil itu berjalan menyusur jalan-jalan pegunungan dengan tenangnya. Sekali-kali mereka harus meloncat-loncat di atas batu-batu padas. Dan dengan demikian mereka telah mengejutkan burung-burung liar yang sedang bertengger di atas karang-karang terjal yang menjorok di tebing-tebing pegunungan.

Pada saat rombongan kecil, yang terdiri dari Kebo Kanigara beserta putrinya Endang Widuri. Mahesa Jenar, Rara Wilis, Arya Salaka dan Wanamerta sampai di Padepokan Karang Tumaritis, mereka melihat Panembahan Ismaya sedang duduk dikerumuni beberapa orang cantrik. Agaknya Panembahan itu sedang bercakap-cakap atau berceritera tentang suatu hal yang sangat menarik. Sebab tidaklah lazim Panembahan Ismaya memberi wejangan dan pelajaran dengan cara yang demikian.

Ketika salah seorang cantrik melihat kedatangan rombongan itu, serta memberitahukan kepada Panembahan Ismaya, maka dengan tergopoh-gopoh Panembahan tua itu berdiri dan menyambut. Dipersilahkannya rombongan itu duduk pula bersama-sama dengan para cantrik.

Yang pertama-tama ditanyakan adalah keselamatan mereka yang baru saja datang menghadap.
Kebo Kanigaralah yang mewakili menjawab setiap pertanyaan Panembahan Ismaya, serta menyampaikan bakti mereka bersama-sama.



388

PANEMBAHAN Ismaya mendengarkan semua ceritera Kebo Kanigara dengan penuh perhatian. Kata demi kata seolah-olah dicernakan kembali didalam otaknya untuk dapat menangkap saripatinya.
"Syukurlah kalau kalian selamat," katanya kemudian, namun wajahnya tampak muram.
"Karena pangestu Panembahan," jawab Kebo Kanigara.
"Sebenarnya aku telah mendengar apa yang terjadi di Gedangan, dari tembang-rawat-rawat bakul sinambi wara. Juga seorang cantrik yang sedang turun untuk menukarkan hasil pertanian kami, mendengar pula ceritera tentang pertempuran yang terjadi di Gedangan."

Panembahan Ismaya berhenti sejenak. Wajahnya yang muram itu menatap dengan tajam ke arah mata Kebo Kanigara yang kemudian menundukkan kepalanya.

"Dan aku mendengar pula..." sambung Panembahan Ismaya, "Bahwa pada kedua belah pihak jatuh korban."

"Ya."
jawab Kanigara pendek sambil masih menekurkan kepalanya.

"Dalam setiap perselisihan dan kekerasan akan jatuh korban," sambung Panembahan Ismaya bergumam seperti kepada dirinya sendiri. "Besar atau kecil, seperti apa yang baru saja terjadi."

Sekali lagi Panembahan tua itu berhenti, menelan ludahnya. Lalu kemudian ia berkata kepada salah seorang cantrik, "Kenapa belum kalian sajikan minuman untuk para tamu ini?"

Seorang  cantrik segera berdiri dan pergi ke belakang untuk menyiapkan minuman bagi rombongan yang memang kehausan itu. Setelah mengucapkan kata-kata itu. Panembahan Ismaya tidak meneruskan kata-katanya. Bahkan kemudian tampaklah ia menundukkan wajahnya. Agaknya ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya.

Yang melihat hal itu, tak seorangpun yang berani mengucapkan sepatah katapun. Meskipun hati mereka diliputi oleh berbagai pertanyaan namun mulut mereka terkatub rapat.

Baru beberapa saat kemudian Panembahan tua itu berkata, "Anak-anakku semua. Baru saja aku memperkatakan angger Arya Salaka. Aku dengar bahwa angger mengalami peristiwa yang hampir menyeretnya kedalam kesulitan."

Arya Salaka membungkukkan badannya, dan dengan hormatnya ia menjawab, "Benar Panembahan. Tetapi Tuhan yang Maha Murah telah membebaskan aku dari cengkeraman maut."

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lirih, "Angger, baru saja memperkatakan angger dengan para cantrik. Peristiwa seperti apa yang terjadi atas daerah Perdikan Banyubiru itu telah berulang kali terjadi. Dalam lingkungan yang besar dan dalam lingkungan yang lebih kecil. Pertentangan yang terjadi diantara keluarga sendiri."

Panembahan Ismaya berhenti sesaat, seolah-olah hendak menunggu sampai kata-katanya meresap kedalam otak bocah itu. Kemudian ia meneruskan, "Baru saja aku berceritera kepada para cantrik. Ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah aku dengar dari mulut ke mulut, atau yang pernah aku baca dari lontar-lontar. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali menusuk jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan penuh keprihatinan, akhirnya dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu."

"Kisah tentang kebesaran Baginda Erlangga di Jawa Timur adalah satu diantaranya. Dengan susah payah baginda Erlangga berusaha untuk membina persatuan dari seluruh kerajaannya."

Dibekali dengan sakit dan lapar. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Baginda dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha. Tetapi yang kemudian terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan didalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada sendiri. Terutama Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kediri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama."

"Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan kadang sendiri, yaitu Jayasaba. Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan-perselisihan itu? Kediri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kediri pada jaman Baginda Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak dapat diketahui."

"Ken Arok, yang kemudian bergelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah belah. Pertengkaran-pertengkaran timbul. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Pengikut-pengikut Anusapati dari darah Tunggul Ametung melawan golongan Tohjaya dari darah Sang Amurwabhumi dengan isterinya yang kedua Ken Umang. Juga mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini kecuali kelemahan dan mendorong diri sendiri ke tepi jurang keruntuhan. Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling berdesak-desakan, datanglah Kertanegara. Tetapi tanpa disangka-sangka, di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapatlah Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari. Juga Singasari kemudian runtuh. Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya."

"Kesatuan dan persatuan dapat dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada. Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar dari negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan masih banyak lagi."

Sekali lagi Panembahan Ismaya berhenti untuk sesaat. Arya mendengar ceritera Panembahan Ismaya itu dengan penuh perhatian. Beberapa dari ceritera itu pernah didengarnya dari gurunya. Namun kali ini rasa-rasanya ceritera itu lebih meresap daripada yang pernah didengarnya.



389

PANEMBAHAN Ismaya meneruskan, "Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Gajah Mada dan Baginda Hayam Wuruk, Majapahit seolah-olah kehilangan alas. Perang yang timbul diantara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi. Sebab Adipati Blambangan merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri. Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama 5 tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu mengembangkan sayapnya kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Adipati-adipati dan Bupati-bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang terpecah belah."

"Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Nah, dalam hal ini anakmas Mahesa Jenar akan lebih banyak tahu daripada aku. Namun satu hal yang sekarangs angat mencemaskan. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan yang aku dengar sekarang ini sedang dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen."

Panembahan Ismaya mengakhiri ceriteranya. Pandangan matanya yang lunak beredar dari wajah yang satu ke wajah yang lain. Sedangkan mereka yang mendegarkan ceritera itu, dengan cermatnya mengikuti setiap persoalan. Apalagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Mereka tidak mendengar kisah itu sebagai kisah melulu. Kisah yang harus disesali bahwa hal-hal yang menyedihkan itu telah terjadi.

Tetapi lebih daripada itu, masa yang lampau itu hendaknya menjadi cermin atas masa datang perpecahan demi perpecahan, perselisihan demi perselisihan antara keluarga sendiri. Dan itu terjadi sekarang. Ya, sekarang ini. Dan ini mengancam keselamatan kerajaan Demak.

Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Demikian pula Kebo Kanigara sebagai seorang bangsawan cucu dari salah seorang yang pernah merajai Majapahit, hatinya tersentuh pula.

Arya Salaka yang tidak mengerti terlalu jauh tentang ceritera itu berusaha untuk menghubungkan dengan peristiwa di daerahnya, Banyubiru. Setiap kali ia merasa, bahwa memang hal yang serupa telah terjadi. Dalam lingkungan yang kecil, Tanah Perdikan Banyubiru. Namun demikian ia tidak tahu, bagaimana seharusnya ia memecahkan masalah yang dihadapinya. Tetapi ia tidak perlu bingung. Sebab nanti akan dapat menanyakan itu kepada gurunya.

Dalam keheningan itu tiba-tiba terdengar Panembahan Ismaya berkata dengan nada yang berbeda, "Nah anak-anak sekalian. Aku terlalu tergesa-gesa untuk berceritera, sampai aku lupa bahwa kalian sedang lelah dan perlu beristirahat. Karena itu, silahkan kalian membersihkan diri, dan kemudian biarlah para cantrik melayani kalian makan bersama. Akupun perlu beristirahat setelah terlalu lama bermain-main dengan para cantrik."

Kemudian ditinggalkannya Kebo Kanigara beserta rombongannya oleh Panembahan Ismaya untuk mengaso di dalam sanggarnya.

Demikianlah kemudian merekapun segera menempati tempat mereka masing-masing seperti pada saat mereka berada di tempat itu. Dan untuk waktu-waktu seterusnya, kembalilah mereka menjadi bagian dari masyarakat kecil di atas bukit Karang Tumaritis.

Kebo Kanigara kembali dalam kedudukannya sebagai seorang Putut bersama Mahesa Jenar dan Arya Salaka, Wilis dan Widuri pun kembali pula hidup diantara para Endang di padukuhan itu.
Tetapi dalam pada itu, ada yang selalu menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar. Ceritera Panembahan Ismaya tentang keadaan Demak sekarang sangat menarik perhatiannya. Ia selalu menghubung-hubungkan ceritera itu dengan pusaka-pusaka Demak yang hilang. Yaitu Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Apakah kalau pusaka itu diketemukan, dan kemudian dimiliki oleh salah seorang dari garis keturunan itu, keadaan lalu jadi tenang?

Dalam pada itu tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu, yang pernah datang ke Banyubiru dan mengambil kedua keris itu. Lebih daripada itu. Mahesa Jenar teringat dengan gamblangnya seorang yang berjubah abu-abu pula, yang dijumpainya di perjalanannya pada saat ia sedang kehilangan akal. Pada saat hatinya seolah-olah pecah karena hubungannya dengan Rara Wilis yang pada saat itu diantarkan oleh Sarayuda. Pada saat ia meninggalkan Arya Salaka di perjalanan dan berusaha untuk melupakan anak itu. Pada saat itu dijumpainya orang yang berjubah abu-abu itu. Teringat dengan jelasnya orang itu berkata kepadanya, ketika ia bertanya di mana kedua keris itu berada. Katanya, Mahesa Jenar, kedua keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu. Lalu orang berjubah itu meneruskan, Hati-hatilah kelak kau memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan Trenggana dan Keturunan Sekar Seda Lepen.

Pilihlah siapa diantara mereka yang mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negara. Kepadanya keris itu kau serahkan.   



390

SUARA itu seolah-olah kini terngiang kembali dalam telinganya. Suara orang yang berjubah abu-abu. Tiba-tiba ia menghubungkan pesan orang berjubah abu-abu itu dengan ceritera Panembahan Ismaya.

Dua garis keturunan yang diam-diam mengandung pertentangan, garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

Hati Mahesa Jenar kemudian menjadi berdebar-debar. Apakah hubungannya antara ceritera Panembahan Ismaya dan orang yang berjubah abu-abu itu. Dan apakah sebabnya maka orang yang berjubah abu-abu itu tiba-tiba saja muncul di dalam pertempuran yang terjadi beberapa saat yang lalu, ketika pasukannya sedang dalam keadaan yang sangat berbahaya? Persoalan-persoalan itu selalu melingkar-lingkar di dalam relung dada Mahesa Jenar, bahkan kemudian telah mendorongnya untuk menilai setiap keadaan paling kecilpun dalam usahanya untuk menemukan jawaban teka-teki yang selalu mengganggu otaknya itu. Malahan lebih daripada itu, ia sudah bertekad untuk menemukan suatu kepastian, bahwa orang yang berjubah abu-abu dan orang yang menamakan dirinya Panembahan Ismaya pastilah ada tali yang menghubungkan mereka itu. Dalam usahanya itu mula-mula Mahesa Jenar tidak ingin berkata kepada seorangpun. Untuk sementara ia ingin bekerja sendiri.

Dihubung-hubungkannya semua yang pernah dilihat dan didengarnya, yang pernah dialami dan pernah dihayati selama ini. Meskipun dalam beberapa hari kemudian tak ada sesuatu yang menjelaskan dugaannya, namun dengan sabarnya ia bekerja terus. Sebab apabila hal itu bisa dipecahkan, akan terbukalah beberapa masalah sekaligus. Tetapi akhirnya kepada Kebo Kanigara, seorang yang telah banyak memberi bantuan kepadanya dalam pencapaiannya atas taraf peresapan ilmunya lebih sempurna lagi, Mahesa Jenar ternyata tidak dapat berahasia.

Kepada Kebo Kanigara diceriterakannya semua yang pernah dialami dan semua dugaan yang tersimpan di dalam dadanya. Mendengar semuanya itu, Kanigara mengerutkan keningnya tinggi-tinggi. Wajahnya berubah menjadi tegang. Dan dengan hati-hati ia menjawab, "Mahesa Jenar, meskipun aku telah agak lama tinggal di padepokan ini, namun banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Panembahan Ismaya. Yang aku ketahui adalah, Panembahan Ismaya memang sering meninggalkan padepokan ini. Seterusnya aku tidak tahu."

Mahesa Jenar dapat mempercayai kata-kata Kebo Kanigara itu. Sebab orang yang berjubah abu-abu itu pasti tidak menginginkan seorangpun mengetahui keadaan sebenarnya. Dalam pada itu tiba-tiba Mahesa Jenar mendapatkan suatu pikiran yang barangkali akan dapat memperjelas persoalan. Dan ketika pikirannya itu disampaikan kepada Kanigara, ia menjadi tersenyum dan menjawab, "Mahesa Jenar, otakmu benar-benar terang. Dan beruntunglah semua pengalaman yang pernah kau alami dapat kau pergunakan sebaik-baiknya. Aku sependapat dengan rencanamu, dan aku akan membantumu."



Kemudian bersepakatlah mereka untuk mencoba memecahkan teka-teki yang rumit itu. Kali ini mereka akan menempuh jalan yang sedikit berbahaya. Namun apabila jalan yang dilewatinya benar, akan terpecahkanlah persoalan itu.

Demikianlah pada suatu malam, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara meninggalkan Padepokan Karang Tumaritis. Kepada Rara Wilis dan Endang Widuri, mereka berpesan bahwa mereka akan menempuh suatu perjalanan yang agak panjang, untuk menyelesaikan banyak persoalan, sehingga mereka tidak perlu ikut. Sedang kepada Arya Salaka, dipesankan untuk menyampaikan kepergian mereka besok pagi, langsung kepada Panembahan Ismaya, tidak kepada orang lain. Juga tidak kepada Rara Wilis dan Endang Widuri.

Ketika pada pagi harinya Arya Salaka menyampaikan pesan itu kepada Panembahan Ismaya, panembahan tua itu tiba-tiba mengerutkan keningnya.

Wajahnya berubah membayangkan kecemasan. Kepada Arya, ia bertanya, "Arya... kapankah mereka berangkat?"

"Semalam Panembahan,"
jawab Arya.

"Kenapa mereka tidak mengatakan keperluannya itu kepadaku?"

"Kedua paman itu takut kalau Panembahan tidak mengijinkan. Sebab Panembahan selalu tidak memperkenankan paman-paman itu untuk melakukan kekerasan untuk mencapai maksudnya, apabila tidak terpaksa sekali."

Kembali Panembahan Ismaya mengerutkan keningnya. Namun karena kebijaksanaannya, Arya tidak dapat mengerti tanggapan apa yang menjalar dalam dada orang tua itu.

"Arya..." kata Panembahan pula, "Adakah paman-pamanmu itu yakin bahwa mereka akan menemukan apa yang dicarinya?"

"Ya Eyang... kedua paman itu yakin bahwa yang dicarinya itu ada di sana,"
jawab Arya.

"Seharusnya mereka minta ijin dulu kepadaku," gumamnya, lalu katanya meneruskan, "Tetapi semuanya sudah terlanjur. Kaulah sekarang yang harus menggantikan kedua pamanmu menuntun para cantrik dan semua penghuni padepokan ini."

Demikianlah Panembahan tua itu menyesali perbuatan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Dalam hal ini, Arya Salaka pun menjadi heran. Apakah salahnya kalau kedua pamannya minta ijin lebih dulu? Kalau masalahnya benar-benar penting, apalagi menyangkut kedua keris pusaka Demak itu, pasti Panembahan Ismaya akan mengijinkan. Tetapi Arya Salaka tidak mau berpikir terlalu panjang. Kalau kedua pamannya itu berbuat demikian, pastilah ada hal yang memaksa mereka melakukan itu.