Nagasasra dan Sabukinten

Kantong menyan kena sepak

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

381

TERNYATA kedua orang itu benar-benar luar biasa. Untunglah bahwa pada saat itu, ia telah banyak menerima tuntunan langsung atau tidak langsung, sehingga dengan demikian ia dapat melawan Uling Putih dengan sebaik-baiknya. Bahkan kemudian ternyata bahwa ia berhasil mendesaknya. Apalagi setelah ia mengalami pijatan-pijatan di seluruh permukaan tubuhnya, terasa sekali betapa ia bertambah segar, kuat dan lincah. Tenaganya dapat melontar bebas tanpa sesuatu rintangan.

Uling Putih kemudian mengumpat-umpat di dalam hati. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Arya Salaka memiliki keteguhan serta ketangguhan yang sedemikian besarnya. Karena itu ia menjadi bertambah marah. Dikerahkannya segenap ilmunya. Tetapi ia harus menghadapi suatu kenyataan, bahwa setelah ia memeras diri, ia tetap tidak mampu untuk menundukkan lawannya.

Akhirnya ia menjadi gelisah. Bahkan ia mengharap agar adiknya melihat kesulitannya. Ia tidak dapat berteriak memintanya ikut bertempur sebab ia masih memperhatikan harga dirinya. Namun apabila keadaan memaksa, ia tidak akan pedulikan lagi, apalagi dengan demikian ia dianggap licik atau apapun.

Tetapi sebelum ia benar-benar minta adiknya menolongnya, dalam sekilas ia melihat Uling Kuning perlahan-lahan mendekati gadis kecil yang sedang asik melihat perkelahian itu. Dalam pada itu timbulah suatu harapan padanya. Mudah-mudahan gadis itu ditangkap oleh adiknya. Kalau gadis itu kemudian menjerit, saatnya tiba, Arya Salaka pasti akan lengah. Dan pada saat itu saat yang sebaik-baiknya untuk menghancurkannya.

Pada saat itu, malam telah turun perlahan-lahan. Warna-warna merah di langit telah lenyap disapu oleh warna-warna kelam. Bulan  telah mulai menampakkan dirinya kembali diantara taburan bintang-bintang. Awan yang tipis bertebaran disana-sini menghias langit.

Perhatian Endang Widuri sebenarnya memang sedang tertumpah pada perkelahian yang sengit antara Arya Salaka melawan Uling Putih. Dengan keheran-heranan ia melihat Arya Salaka melontarkan diri, membelit dan kemudian meloncat dengan garangnya menghantam lawannya.

Tetapi ia mengerti pula bahwa Uling Putih pun mempunyai kekuatan yang cukup untuk dapat mempertahankan dirinya. Ia bergerak setapak-setapak, bergeser, meloncat dan berputar untuk menjaga agar ia tetap dapat menghadapi Arya Salaka yang seperti bayangan saja. Sekali muncul di sana, kemudian muncul di tempat lain. Kalau saja lawannya bukan orang yang cukup kuat, maka ia pasti akan menjadi pening dan kebingungan.

Semakin lama pertempuran itu menjadi semakin seru. Arya Salaka semakin mendesak lawannya pula. Melihat peristiwa itu Endang Widuri menjadi gembira, sehingga gadis itu tersenyum-senyum sendiri. Bahkan ia kadang-kadang bergerak pula seperti anak-anak mendengar gamelan. Sekali ia bergeser maju, sekali ke samping. Bahkan kadang-kadang ia meremas-remas tangannya sendiri dengan kuatnya.

Tetapi ketika Uling Putih telah benar-benar terdesak, tiba-tiba tangannya menarik tali yang membelit pinggangnya. Demikian tali yang besar itu terurai, tampaklah bahwa sebenarnya yang membelit pinggangnya itu adalah sebuah cemeti. Arya Salaka tertegun melihat cambuk yang lemas di tangan Uling Putih. Ia tahu benar bahwa cambuk itulah senjata andalannya. Dengan demikian ia harus berhati-hati menghadapinya.

Ketika itulah Uling Putih itu menyerang dengan garangnya. Cambuknya berdesing-desing dengan dahsyatnya. Sebuah sambaran mendatar mengarah ke dada Arya Salaka.

Dengan tangkasnya Arya membungkuk dalam-dalam, serta dengan sekali berputar, kakinya menyambar perut Uling Putih. Namun Uling Putih sempat menarik dirinya setapak mundur. Bersamaan dengan itu, ia telah sempat menarik cambuknya mendatar pula. Kali ini Arya tidak dapat membungkuk lebih rendah lagi.

Tetapi ia harus meloncat mundur. Uling Putih tidak mau memberinya kesempatan. Dengan loncatan yang panjang ia memburu Arya sambil mengayunkan cambuknya sendhal pancing. Arya yang mengetahui betapa bahaya yang mengancam apabila ia sampai terkena pukulan itu, segera meloncat kesamping.

Ketika ujung cemeti itu berdesing disamping telinganya, ia melontar dengan cepatnya maju dekat sekali dengan lawannya. Dengan sekuat tenaganya ia menghantam dada lawannya. Uling Putih terkejut melihat gerakan yang cepat dan tak terduga-duga itu.

Dengan tangan kirinya ia mencoba menahan tangan Arya, sedang tangan kanan memutar cambuknya cepat-cepat untuk menyerang dalam jarak yang pendek itu.

Demikianlah dengan kerasnya tangan Arya menghantam tangan kiri Uling Putih yang mencoba melindungi dadanya. Pukulan itu demikian kerasnya sehingga terdengarlah Uling Putih mengaduh tertahan. Tangan kirinya ternyata tidak mampu menahan tekanan tangan lawannya, sehingga bagaimanapun juga, terasa sesuatu mendesak dadanya. Desakan itu demikian kuatnya, sehingga ia terlontar mundur dan kemudian jatuh terguling.

Tetapi dalam pada itu, Uling Putih agaknya memang ahli memainkan senjatanya. Meskipun pada saat itu Arya berdiri hampir melekat tubuhnya, ujung cambuknya berhasil juga menyentuh pundaknya, sehingga terasalah betapa nyerinya, dan bahkan terasa bahwa kulitnya terkelupas.

Arya menyeringai menahan pedih. Tanpa disengaja tangannya meraba tempat yang terluka itu. Terasa betapa darahnya yang hangat mengalir. Dalam pada itu Uling Putih segera melenting berdiri. Namun terasa betapa dadanya semakin sesak.

Baik Uling Putih maupun Arya Salaka telah mencapai puncak kemarahannya. Mereka masing-masing telah merasakan betapa tubuh mereka telah berhasil disakiti oleh lawannya. Maka terdengarlah Uling Putih menggeram penuh dendam. Matanya yang menyala merah menjadi semakin liar. Arya Salaka pun kemudian menggigil karena kemarahan. Jantungnya berdebar keras, sedang tangannya bergetaran, siap untuk menghancurkan lawannya.



382

Uling Putih yang telah dapat menguasai dirinya kembali, segera melangkah maju. Ia telah melihat hasil serangannya pada lengan lawannya. Dengan demikian ia menjadi sedikit berbesar hati. Mudah-mudahan luka ditangan Arya itu dapat mempengaruhi keteguhan hatinya. Tetapi ia salah harap.Karena luka itu Arya malah menjadi semakin garang. Bahkan tiba-tiba tangannya yang gemetar telah menggenggam pusaka kebesaran tanah perdikan Banyubiru, Kyai Bancak.

Demikianlah pertempuran itu berkobar kembali. Cambuk Uling Putih berputar seperti baling-baling.

Bergulung-gulung seolah-olah ingin melibas lawannya dan membenamkan kedalamnya. Demikian dahsyatnya Uling Putih memainkan senjatanya sehingga terdengarlah angin mendesing-desing
menggoyang daun-daun pepohonan di sekitarnya serta merontokkan daun-daun kering yang sudah tidak mampu lagi berpegangan di batang-batangnya lebih erat lagi. Tetapi ia berhadapan dengan murid keturunan dari perguruan Pengging yang telah mengalami pembajaan diri yang luar biasa beratnya.

Bahkan telah mendapat pertolongan dari seorang ahli tata nadi memperbaiki letak otot-otot serta syaraf-syarafnya. Sehingga Arya Salaka dapat mempergunakan segenap tenaganya dalam lontaran-lontaran kekuatan tanpa dipengaruhi oleh penggunaan tenaga cadangan di dalam tubuhsendiri. Apalagi kini di tangannya telah tergenggam tombak sipat kandel yang dapat melipatgandakan kemampuannya melawan Uling Putih itu.

Dalam keremangan cahaya bulan, tampaklah gulungan sinar keputih-putihan melingkar-lingkar mengerikan yang seolah-olah sedang berusaha untuk melanda sinar yang menyala kebiru-biruan. Itulah cahaya tombak Kyai Bancak. Namun sinar yang kebiru-biruan itu selalu berhasil menghindarkan dirinya, dan bahkan sekali-sekali dengan dahsyatnya menyusup langsung ke pusat gulungan sinar putih itu. Dengan demikian maka tampaklah betapa Arya Salaka dapat mengimbangi lawannya dengan baik.

Bahkan kemudian Uling Putih terpaksa memeras keringat habis-habisan untuk dapat mengimbangi permainan tombak bertangkai pendek, sependek tangkai pedang, yang digerakkan oleh tangan yang kokoh kuat dan terlatih baik.

Dengan demikian pertempuran itu menjadi semakin sengit. Dan sejalan dengan itu perhatian Endang Widuri pun menjadi semakin terikat. Ia menjadi semakin kagum atas ketangkasan Arya Salaka. Kalau beberapa saat yang lalu, ia pernah berlatih bersama-sama dengan anak muda itu, maka sekarang dengan penuh keheranan ia melihat Arya Salaka telah melangkah jauh kedepan. Pada waktu Arya bertempur melawan Sawung Sariti pun, tenaganya masih belum sedahsyat sekarang ini. Tetapi ia tidak tahu bahwa di dalam tubuh Arya, baru saja terdapat beberapa perubahan tata nadi yang sangat menguntungkannya.

Tetapi karena keasyikannya melihat pertempuran itulah maka ia sama sekali tidak menduga bahwa Uling Kuning telah menjadi semakin dekat, semakin dekat di belakangnya.

Maka, tiba-tiba saja dirasanya sepasang tangan yang kuat telah memegang kedua belah lengannya. Dengan demikian Endang Widuri menjadi terkejut sekali, sehingga tanpa disengaja ia memekik kecil.

Saat itulah yang memang ditunggu-tunggu oleh kedua Uling bersaudara itu. Sebab dengan demikian mereka mengharap Arya akan menjadi lengah. Dan apa yang mereka harapkan itu benar-benar terjadi. Arya terkejut mendengar suara Widuri. Tetapi ia tidak menjadi lengah karenanya. Untuk dapat mengetahui keadaan gadis itu. Arya Salak meloncat jauh-jauh ke belakang.

Meskipun demikian, karena perhatiannya sebagian terampas oleh peristiwa lain, maka terasalah sebuah sengatan pedih di pinggangnya. Ternyata sekali lagi Uling Putih berhasil mengenainya dengan cambuknya yang sangat berbahaya. Terdengarlah Arya berdesis menahan sakit. Meskipun demikian ketika jaraknya telah menjadi agak jauh dari lawannya, ia sempat juga memandang kearah Widuri yang berdiri tidak begitu jauh dari titik perkelahian itu.

Tetapi yang terjadi kemudian, sama sekali tidak seperti yang diharapkan oleh sepasang Uling dari Rawa Pening itu. Luka di pinggang Arya itu ternyata telah membakar semangat Arya lebih dahsyat lagi. Dengan menyeringai menahan pedih, ia menggeram penuh kemarahan.

Meskipun demikian otaknya masih dapat bekerja dengan baik. Ia tidak mau terlibat dalam pertempuran yang liar.

Uling Kuning, yang berhasil menangkap Widuri tanpa diketahui sebelumnya, agaknya menjadi menyesal sekali. Ketika ia memegang lengan gadis itu, ia terlalu berhati-hati, seperti seorang yang memegang sebuah permainan ringkih, sehingga ia takut kalau merusakkannya.

Tetapi ia sama sekali tidak menduga, bahwa gadis kecil itu tidak ubahnya sebagai seekor lebah kuning yang manis namun sengatnya sangat berbahaya.

Demikian Endang Widuri merasa tangkapan pada lengannya, ia menjadi sadar bahwa Uling Kuning telah menyerangnya. Tetapi otaknya yang cerdas merasakan betapa tangan Uling Kuning itu terlalu hati-hati meraba kulitnya. Itulah sebabnya, maka dengan satu gerakan merendah, sambil memutar tubuhnya setengah lingkaran, kakinya dengan cepatnya telah berhasil mengenai perut Uling Kuning bagian bawah.

Uling Kuning sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian dapat terjadi, sehingga ia sama sekali tidak bersiaga. Karena itu terdengarlah ia mengaduh kesakitan. Bahkan kekuatan Endang Widuri cukup melemparkannya beberapa langkah dan kemudian membantingnya jatuh ke tanah.

Untunglah Uling Kuning telah mempunyai cukup pengalaman. Dengan cepatnya ia meloncat berdiri dan mencoba menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Namun demikian, kaki gadis kecil, puteri Ki Kebo Kanigara, yang telah dibekali dengan pengetahuan yang cukup, terasa telah menggoncangkan isi perutnya. Perasaan mual berputar-putar mengganggu sekali, seolah-olah isi perutnya diaduk dengan hebatnya.



No. 383

BELUM lagi Uling Kuning benar-benar sadar atas apa yang terjadi, dilihatnya gadis kecil itu melayang dengan lincahnya, menyerang seperti semburan air hujan yang datang ke segenap bagian tubuhnya. Uling Kuning terpaksa surut beberapa langkah. Namun demikian ia mempunyai cukup kesempatan untuk membetengi dirinya dengan tangkisan-tangkisan yang rapat. Tetapi Endang Widuri cukup lincah dan cekatan untuk membingungkannya.

Ketika Arya Salaka melihat bahwa Endang Widuri ternyata telah berhasil menolong dirinya sendiri, ia menjadi berbesar hati. Ia percaya bahwa gadis itu akan mampu untuk menahan serangan Uling Kuning dalam waktu yang cukup lama. Ia mengharap bahwa keadaan akan memungkinkannya untuk membantu.

Apalagi ketika dilihatnya Uling Kuning menjadi gelisah karena serangan pertama kaki Widuri yang tepat mengenai bagian bawah perutnya. Ternyata bahwa akibat dari serangan itu sangat menguntungkan. Sebab untuk seterusnya tenaga Uling Kuning sangat terpengaruh oleh perasaan muak dan sakit yang melilit-lilit di dalam rongga perutnya.

Tetapi Arya tidak mempunyai kesempatan lebih lama lagi untuk menilai pertempuran antara Widuri dan Uling Kuning. Sebab pada saat itu Uling Putih telah menyerangnya pula, bagaikan badai yang datang bergulung-gulung. Tetapi agaknya badai itu menghantam gunung yang tegak dengan perkasanya, serta tak setapakpun bergeser dari tempatnya.

Demikianlah di tempat yang sepi itu telah terjadi dua lingkaran pertempuran. Uling Putih yang menyesal, bahwa ia tak berhasil mempergunakan saat yang ditunggu-tunggu menjadi semakin marah. Cambuknya berputar-putar semakin cepat. Tetapi lawannya menjadi semakin garang pula. Luka di lengan dan lambung Arya telah menambahnya semakin teguh.

Ujung tombaknya yang bercahaya kebiru-biruan, mematuk-matuk ke segenap bagian tubuh lawan seolah-olah menjadi beribu-ribu mata tombak yang datang dari segala arah. Sejalan dengan itu, dada Uling Putih terasa menjadi semakin sesak. Beberapa kali ia meloncat menjauhi lawannya untuk mendapat kesempatan menarik nafas dalam-dalam. Namun lawannya bukan pula seorang yang tidak mengetahui keadaannya. Karena setiap ia berusaha untuk mendapat kesempatan itu, Arya Salaka selalu dengan garangnya mendesak maju.

Kepada lawannya yang sangat berbahaya itu, Arya sama sekali tidak mau memberi kesempatan sama sekali. Bahkan kemudian, tiba-tiba ia teringat pada suatu pagi yang cerah di Banyubiru. Pada saat ia berhasil menangkap seekor Uling dari Rawa Pening.

Pada saat itu Mahesa Jenar berkata kepadanya, bahwa bukan Uling seperti yang ditangkapnya itulah yang berbahaya di daerah sekitar Rawa Pening, tetapi sepasang Uling yang sekarang berhadapan melawannya itulah yang dicemaskan. Diingatnya pada saat itu, ia seolah-olah berjanji kepada Mahesa Jenar, bahwa sepasang Uling itupun kelak akan dibunuhnya.

Sepasang Uling yang selalu membayangi kekuasaan ayahnya di Banyubiru.

Bahkan telah berterus terang kepadanya, bahwa sepasang Uling itupun sekarang sedang dalam perjuangan untuk dapat merebut kedudukan ayahnya itu lewat segala macam lekuk-liku dan cara-cara yang licik. Karena itu, dada Arya Salaka menjadi semakin menggelegak. Baginya tidak ada pilihan lain daripada berusaha untuk memenuhi harapannya, membinasakan sepasang Uling yang berhati hitam itu.

Dengan demikian, kebulatan tekadnya itu seolah-olah telah mempengaruhi tenaganya. Ia seolah-olah telah mendapat tenaga yang maha besar mengalir lewat pembuluh-pembuluh darahnya ke segenap bagian tubuhnya.

Karena itu, maka apa yang terjadi kemudian sangat mengejutkan lawannya. Dengan penuh keyakinan di dalam dadanya, Arya melanda lawannya seperti ombak lautan yang digoncangkan badai. Dengan garangnya, segulung demi segulung, berturut-turut menghantam tebing, yang akhirnya akan runtuh berguguran.

Demikianlah Uling Putih akhirnya merasakan, bahwa tekanan serangan Arya Salaka menjadi semakin dahsyat. Bahkan tiba-tiba ketika ia sedang mati-matian mempertahankan dirinya, terasa tangannya yang memegang cambuk itu bergetar. Dan apa yang dilihatnya sangat mengejutkannya.
Ternyata ujung cambuknya telah terpotong oleh ketajaman tombak Arya Salaka. Dengan demikian, Uling Putih menjadi cemas. Satu-satunya senjata yang selama ini dibangga-banggakannya telah terpotong. Ia menjadi bertambah cemas lagi ketika ia melirik ke arah adiknya.

Dalam sekilas Arya menyaksikan gadis itu dapat melawan Uling Kuning dengan baiknya setelah UlingKuning dikenainya lebih dahulu. Dengan demikian ia tidak dapat mengharap Uling Kuning akan dapat membantunya. Tetapi Uling Putih adalah seorang yang berhati batu. Meskipun pertempuan yang telah berlangsung itu mengatakan kepadanya bahwa Arya Salaka bukanlah anak-anak yang hanya dapat bermain loncat-loncatan, namun ia telah bertekad untuk memenangkan pertempuran itu dan membunuhnya. Karena itu ia menjadi semakin buas. Geraknya semakin lama menjadi semakin liar.

Dalam keadan yang demikian itulah Arya benar-benar berusaha menguasai keadaan. Ia bertempur dengan hati-hati. Ia tidak saja mempergunakan tenaganya, tetapi ia memperhitungkan pula setiap keadaan dan kemungkinan.

Demikianlah, ketika bulan muda telah membenamkan dirinya di balik punggung pegunungan, terdengarlah suatu jeritan ngeri mengumandang membentur dinding-dinding bukit. Jerit ngeri yang patah. Dan kemudian disusul dengan suara tubuh yang jatuh terbanting.

Sesaat kemudian kembali malam terlempar ke dalam suasana yang sepi, Arya Salaka tampak tegak berdiri dengan tangan yang gemetar memegang Kiai Bancak yang berlumuran darah. Darah Uling Putih yang kini terbaring tak bernafas di hadapannya. Yang terdengar pada saat itu hanya dengus nafas Arya Salaka yang melonjak-lonjak.



384
TETAPI Arya Salaka tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan tubuh lawannya itu lebih lama lagi. Sebab tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan yang meloncat lari. Itulah Uling Kuning yang setelah tertegun sejenak bersama lawannya, Endang Widuri, yang seperti terpesona, menjadi sadar bahwa bahaya maut telah mengancamnya. Karena itu ia akan berusaha untuk menghindarkan dirinya. Tetapi Arya telah melihat bayangannya.

Dengan secepat kilat dikejarnya Uling Kuning itu. Terhadap orang-orang yang demikian itu Arya tidak dapat berbuat lain kecuali membinasakan. Itulah sebabnya maka Arya sama sekali tidak mau lagi memberi kesempatan kepada Uling Kuning untuk meloloskan diri.

Demikian pula Endang Widuri. Ia tidak mau pula ketinggalan. Maka segera iapun berlari mengejar kedua bayangan yang berlari berkejar-kejaran. Namun kedua bayangan itu kemudian lenyap menyusup ke dalam semak-semak. Untuk seterusnya Endang Widuri kehilangan jejak. Karena itu ia menjadi bingung. Ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Sedang jalan kembalipun tak diketahuinya pula. Untuk beberapa saat Endang Widuri berdiri termangu-mangu.

Tiba-tiba, ketika ia sedang mencari-cari jalan terdengarlah gemersik daun di belakangnya. Cepat ia meloncat memutar tubuhnya, dan berdiri dengan teguhnya diatas kedua kakinya yang renggang setengah langkah serta tangannya yang disilangkan di muka dadanya, siap untuk menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Dalam sepi malam, terdengar langkah itu semakin jelas. Bahkan kemudian dilihatnya dalam gelap malam dua bayangan yang berjalan dengan tetap ke arahnya.

Endang Widuri yang baru saja bertempur melawan Uling Kuning, masih saja merasa dipengaruhi oleh suasana perkelahian. Karena itu ia menyambut kedatangan dua bayangan itu dengan sikap yang garang, siap untuk bertempur. Tetapi kemudian ia terkejut ketika didengarnya sebuah tawa yang lunak, yang sudah terlalu sering didengarnya.

"Ayah...!" teriaknya sambil berlari menyambut kedatangan bayangan yang sudah semakin dekat.

"Apa yang kau kerjakan di sini?" tanya Kebo Kanigara.

"Berkelahi," jawab gadis itu.

"Hem... desis ayahnya. Aku memang sudah mengira. Apalagi ketika aku jumpai sesosok mayat dibalik semak-semak di sebelah."

"Kakang Arya telah membunuhnya,"
jawab Widuri.

Kebo Kanigara memandang wajah Mahesa Jenar, kawannya berjalan dengan wajah yang berkerut. Ia ingin mengetahui bagaimanakah pendapatnya mengenai muridnya.

"Aku sudah menduga pula, bahwa anak itu akan membunuhnya pada suatu saat. Dan sekarang hal itu sudah dilakukannya," gumam Mahesa Jenar seperti kepada dirinya sendiri.

"Darimana ayah dan Paman Mahesa Jenar tahu bahwa kami berada di sini?" tanya Widuri.

"Ketika hari sudah gelap, dan kau berdua tidak juga datang, aku menjadi cemas. Seseorang telah melihat kau berjalan ke arah ini sore tadi. Dan yang terakhir teriakan seseorang, yang mungkin adalah teriakan Uling Putih pada saat dadanya disobek oleh tombak Arya, telah menuntun aku kemari. Tepat pada saat kami datang, kami melihat kau berlari-lari. Karena itulah maka aku dapat menemukan kau di sini," jawab ayahnya.

"Tetapi aku kehilangan jejak Kakang Arya Salaka," sahut Widuri.

"Marilah kita cari. Agaknya ia akan terlibat pula dalam pertempuran melawan Uling Kuning. Padahal tenaganya sudah jauh susut karena kelelahan," potong Mahesa Jenar.

Mereka tidak berkata-kata lagi. Tetapi segera mereka melangkah menyibak daun-daun yang pekat, yang menghadang di hadapan mereka. Dengan matanya yang tajam, Mahesa Jenar dapat melihat bekas-bekas ranting yang tersibak patah-patah oleh injakan dan sentuhan tubuh Uling Kuning dan Arya Salaka, yang berkejar-kejaran. Dengan demikian meskipun agak sulit dan perlahan-lahan, Mahesa Jenar dapat mencari jejak mereka berdua.

Ternyata perjalanan itu cukup panjang. Ketika mereka telah hampir tidak sabar lagi, tiba-tiba kaki mereka menginjak tanah yang gembur basah. Semakin lama semakin dalam. Dan sejalan dengan itu, semak-semaknya pun menjadi bertambah tipis.

"Tanahnya mengandung air," desis Mahesa Jenar.

"Aku kira kita sampai ke rawa atau telaga," sahut Kebo Kanigara.

Apa yang mereka perkirakan adalah benar. Sesaat kemudian mereka sampai ke daerah yang ditumbuhi batang-batang ilalang, dan kemudian di hadapan mereka terbentang telaga yang tidak terlampau luas. Agaknya Uling Kuning berusaha melarikan diri dengan bersembunyi di telaga itu.

Ketika mereka sudah berdiri di tepi telaga, serta melayangkan pandangan berkeliling, tiba-tiba terlihatlah sesuatu yang bergerak-gerak di dalam telaga itu.



385

DEMIKIAN Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat bayangan itu, segera mereka mengerti bahwa yang bergerak-gerak itu pastilah Arya Salaka dan Uling Kuning yang sedang bertempur di dalam air. Untuk sesaat Mahesa Jenar tertegun. Ia menjadi cemas melihat pertempuran di dalam air itu. Apalagi Kebo Kanigara. Sebab mereka tahu bahwa hampir sepanjang hidupnya Uling Kuning berada di sekitar tanah yang berawa-rawa, sehingga baginya, air merupakan tempat berlindung yang terbaik.

Kemudian Widuri pun melihat perkelahian itu, namun baginya tidaklah demikian jelas, apakah yang terjadi.

Sementara itu, Arya Salaka yang tidak mau melepaskan Uling Kuning, terpaksa mengejarnya pula terjun ke dalam telaga. Ia sadar bahwa Uling Kuning berharap, lewat telaga itu ia akan mampu melepaskan dirinya. Atau kalau terpaksa ia terlibat di dalam perkelahian, maka perkelahian di dalam air akan banyak memberinya keuntungan. Dan apa yang diharapkan itu terjadilah. Arya tidak peduli lagi apa yang akan terjadi, meskipun ia terpaksa berkelahi di dalam air.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Disamping mereka harus berjuang untuk tidak terbinasakan oleh lawan, mereka juga harus menjaga diri mereka supaya tidak tenggelam.
Uling Kuning adalah seorang yang seolah-olah dapat hidup di dalam air. Tangan dan kakinya benar-benar dapat dipergunakan dengan baik seperti itik mempergunakan sayap serta kakinya, atau binatang air mempergunakan sirip-siripnya. Karena itu, ia dapat dengan lincahnya bertempur.

Namun sayang bahwa perasaan muak dan nyeri di dalam perutnya tidak juga mau hilang. Apalagi yang dihadapi adalah Arya Salaka. Uling Kuning tidak pernah mimpi bahwa anak itu pernah hidup sebagai anak nelayan di pantai Tegal Arang. Bahkan meskipun tidak begitu lama, namun Arya telah memiliki pengalaman yang cukup untuk menaklukan air. Tidak hanya air setenang air telaga itu, tetapi air yang sedang murka sekalipun.

Arya Salaka pernah terjun ke dalam gelombang yang ganas untuk menyelamatkan alat-alat penangkap ikannya bersama-sama kawan-kawannya. Bahkan darah pelaut yang mengalir di dalam tubuh ayahnya, ternyata mengalir pula di dalam tubuhnya. Pada masa kanak-kanaknya ia telah berani berkelahi dengan seekor uling yang cukup besar di dalam rawa. Sedang pada saat ia menginjak dewasa, ia menerjunkan diri dalam dunia kehidupan nelayan.

Karena itu, dengan tidak diduga oleh Uling Kuning, Arya Salaka pun dengan dahsyatnya berhasil menyerang lawannya dari arah yang membingungkan. Sekali-kali ia melenyapkan diri dari permukaan air, kemudian muncullah ia di tempat yang tak terduga-duga. Seandainya musuhnya bukan seorang yang memang sejak kecil hidup bergulat dengan air, maka Arya pasti akan dengan mudahnya dapat membinasakan. Tetapi sekarang ia menemukan lawan yang seimbang.

Maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Air di sekitar tempat itu menjadi seolah-olah mendidih. Buih-buih yang putih bergolak dengan hebatnya diantara bayangan hitam yang timbul-tenggelam bersama-sama. Bahkan kedua bayangan itu akhirnya seolah-olah berpadu menjadi satu dan bergolak bukan main hebatnya.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara beserta Endang Widuri yang berdiri di tepi telaga menjadi cemas. Apalagi ketika tiba-tiba bayangan yang hitam itu lenyap seperti ditelan putaran air yang melingkar-lingkar.

Mahesa Jenar kemudian menjadi tidak sabar lagi menunggui saja di tepi telaga. Karena itu segera ia melepas baju serta kainnya. Hanya dengan celana saja Mahesa Jenar meloncat pula ke dalam air, dan berenang cepat-cepat ke arah kedua bayangan itu tenggelam.

Sementara itu Arya berjuang mati-matian melawan maut. Uling Kuning benar-benar tangguh bertempur di dalam air. Tangannya benar-benar dapat melilit seperti seekor Uling yang melilit korbannya.

Untunglah bahwa Arya memiliki tenaga raksasa, sehingga dengan pukulan-pukulan yang keras, ia selalu dapat membebaskan diri dari belitan Uling Kuning. Namun akhirnya usaha Uling Kuning itu berhasil.

Seperti gila ia tidak menghiraukan sama sekali pukulan-pukulan terakhir yang dilontarkan oleh Arya Salaka yang tenaganya semakin lama semakin kendor. Bahkan tiba-tiba terasa sesuatu menjerat di lehernya.

Ternyata Uling Kuning telah berhasil mengurai cambuk lemasnya, dan berhasil membelit leher Arya dengan senjatanya itu. Dengan demikian seolah-olah nafas Arya menjadi tersumbat. Ia meronta sekuat tenaga, namun tenaga Uling Kuning itu semakin erat menarik belitan cambuknya pada leher Arya. Dalam keadaan demikian Arya menjadi marah bukan buatan dan mengamuk sejadi-jadinya.

Dengan kakinya ia menangkap tubuh Uling Kuning dan tidak mau melepaskannya lagi. Sedang kedua tangannya berusaha untuk mencekik leher lawannya. Namun sayang ia tidak berhasil. Meskipun demikian kakinya menjadi seperti terkunci dan dengan kerasnya membelit perut lawannya.

Perasaan muak dan nyeri pada perut Uling Kuning menjadi semakin hebat. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menahan perasaan itu. Sebab pada hematnya, sebentar lagi Arya pasti sudah tidak akan dapat bernafas dan dengan demikian ia akan bebas.

Dalam keadaan yang demikian itulah mereka bersama-sama berputar-putar dan akhirnya bersama-sama tenggelam. Bagi Arya tidak ada jalan lain kecuali mati bersama-sama daripada mati seorang diri. Itulah sebabnya, ketika terasa senjata Uling Kuning membelit lehernya semakin keras, kakinya pun menjadi semakin keras menekan perut lawannya itu, supaya Uling Kuning ikut serta terseret ke dalam air. Sedang tangannya berusaha untuk mengurangi tekanan lilitan cambuk di lehernya.

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba ia teringat bahwa pada saat ia menerjunkan diri ke dalam air. Kiai Bancak telah disarungkannya.

 

 

Dikompilasi oleh Mimbar Seputro
Updated 4 Juni 2000
http://gajahsora.net