NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
371
DADA Mahesa Jenar berdesir mendengar tembang itu. Suatu gambaran tentang
manusia idaman. Manusia sejati, yang bersemboyan, berusaha sebaik-baiknya untuk
mengenal bentuk-bentuk hawa nafsu, untuk mencapai kesempurnaan lahir dan batin.
Dengan penuh prihatin dan memeras diri. Berjuang untuk kesejahteraan dunia
dengan segala isinya. Menuju ke arah masyarakat yang tata tentram kerta raharja.
Dengan tanpa sadarnya Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat
dengan isi tembang itu. Demikianlah hendaknya manusia. Namun agaknya manusia
yang demikian itu masih harus dilahirkan. Manusia yang dapat mengenal dengan
seksama segala bentuk-bentuk nafsu, serta menghindarinya, untuk mencapai
kesempurnaan lahir dan batin. Tetapi jelas dikatakan oleh tembang itu, bahwa
manusia itu tidak menunggu datangnya tata masyarakat yang diidamkan, tetapi
manusia yang demikian harus berjuang untuk mencapainya. Mahesa Jenar meraba
dadanya.
Di sinilah kadang-kadang letak persimpangan jalan yang berbahaya. Harus ditarik
garis yang jelas antara berjuang untuk masyarakat yang dicitakan, dengan
unsur-unsur nafsu yang menyusup kedalamnya tanpa disadari. Dalam pada itu,
tiba-tiba Mahesa Jenar memandang jauh kepada dirinya sendiri. Ia telah sekian
lama berjuang untuk satu cita-cita yang menurut keyakinannya akan dapat
mendatangkan keteguhan pemerintahan yang seterusnya akan dapat menciptakan
masyarakat yang dicita-citakan.
Dan bersyukurlah ia bahwa sampai saat ini sama sekali tidak timbul nafsu di
dalam dirinya, seperti golongan hitam yang juga sedang berjuang dengan tujuan
yang sama. Menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Tetapi
bagi mereka, penemuan itu sama sekali bukan suatu perjuangan untuk menegakkan
pemerintahan, tetapi bahkan mereka menganggap bahwa siapa yang menemukan
sepasang keris itu, akan mampu menguasai golongannya dan dengan kekuatan mereka,
mereka dapat merebut tahta Demak.
Untunglah bahwa keris itu sudah dapat direnggutnya dari tangan mereka, meskipun
kini keris itu masih harus dicarinya kembali. Mahesa Jenar menegakkan kepalanya,
untuk mencoba mengetahui dari manakah suara tembang itu dilontarkan. Tetapi
untuk beberapa lama ia tidak berhasil. Suara itu seolah-olah bergulung-gulung
dari segala arah membentur dan melontar kembali dari tebing-tebing bukit di
sekitarnya. Bahkan akhirnya ia merasa, bahwa ia tak akan berhasil menemukannya.
Dengan demikian Mahesa Jenar dapat kesimpulan bahwa suara tembang itu telah
dilontarkan oleh seorang sakti yang sengaja membingungkannya. Bahkan dalam
penilaiannya orang itu pasti lebih sakti dari Ki Ageng Pandan Alas.
Dalam tingkatannya sekarang, ia sama sekali tidak akan mengalami banyak
kesulitan untuk dapat berdiri sejajar dengan orang tua itu. Tetapi orang ini,
yang berdendang dengan asiknya, bukanlah orang sejajarnya.
Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu yang baru
saja menampakkan diri di hadapannya. Dengan demikian ia menduga bahwa orang
itulah yang telah melagukan tembang dimalam yang sunyi itu. Maka, kemudian
Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk tidak mencarinya lebih lanjut. Sebab
usahanya pasti akan sia-sia saja, sebelum orang itu atas kehendak sendiri
menunjukkan tempatnya berada.
Tetapi yang tumbuh kemudian didalam dada Mahesa Jenar adalah dugaan-dugaan yang
bersimpang siur tentang orang itu. Orang yang aneh dalam pandangan matanya.
Meskipun dalam sepintas lalu, orang itu benar-benar mirip dengan bentuk
Pasingsingan, namun ia pasti bahwa orang itu sama sekali bukan Pasingsingan.
Kalau orang itu juga berjubah abu-abu dan juga memakai wajah yang bukan wajah
aslinya, mungkin hanyalah suatu kebetulan saja, meskipun kebetulan yang masih
meragukan.
Dengan teka-teki yang masih berkecamuk di kepalanya itulah Mahesa Jenar
melangkah kembali ke padukuhan Gedangan. Di sepanjang perjalanannya, ia sama
sekali tak dapat melepaskan diri dari persoalan orang berjubah abu-abu itu.
Ketika ia sampai di padukuhan, dilihatnya di rumah Wiradapa masih lengkap duduk
mengelilingi pelita minyak, Kebo Kanigara beserta anaknya di belakangnya,
Wanamerta yang tampak sangat kelelahan, serta beberapa orang lainnya, yang
kemudian mempersilahkan Mahesa Jenar untuk duduk diantara mereka.
Kepada mereka itu Mahesa Jenar minta untuk tetap bersiaga dan memberikan
beberapa petunjuk apabila besok pertempuran masih harus dilakukan. Setelah itu
maka segera ia minta diri untuk beristirahat, malahan ia menasehatkan kepada
orang-orang lain untuk beristirahat pula. Setelah Mahesa Jenar membersihkan
dirinya, terasalah bahwa tubuhnya menjadi segar kembali. Apalagi setelah ia
mengisi perut sekadarnya. Tubuhnya yang telah diperas sehari penuh itu merasa
sehat dan kekuatannya telah utuh seperti semula.
Sebelum ia memasuki ruangannya di bagian depan rumah Wiradapa, mula-mula ia
perlu menengok keadaan Rara Wilis. Ketika ia masuk dilihatnya Rara Wilis duduk
bercakap-cakap dengan Widuri.
Melihat kedatangan Mahesa Jenar, segera Widuri berdiri untuk meninggalkan
ruangan itu, tetapi cepat Wilis menangkap lengannya. "Mau kemana kau Widuri?"
"Tidur, Bibi," jawab gadis itu.
"Bukankah kau akan menemani aku malam ini?" sahut Rara Wilis.
Widuri berhenti. Tetapi ia termangu-mangu.
"Bukankah kau sudah berjanji...?" Wilis meneruskan, Widuri mengangguk.
"Nah, kalau begitu, kau tidak boleh pergi," sambung Mahesa Jenar.
Widuri tidak jadi meninggalkan ruangan itu, tetapi ia duduk kembali disamping
Rara Wilis.
"Silahkan masuk Kakang...." Wilis mempersilahkan. Tetapi Mahesa Jenar
menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan terlalu lama tinggal di ruang itu, sebab
ia perlu beristirahat.
"Aku hanya ingin melihat apakah kau telah baik kembali Wilis," kata
Mahesa Jenar.
"Pangestumu Kakang," jawab Wilis.
"Syukurlah dan tidurlah. Siapa tahu tenaga kita masih diperlukan besok atau
lusa," sambung Mahesa Jenar. Setelah itu segera ia minta diri untuk pergi ke
ruang tidurnya
372
DI dalam ruangan itu dilihatnya lampu minyak yang terayun-ayun
dipermainkan angin yang menyusup lubang-lubang dinding bambu. Cahaya yang
dilontarkan membuat bayang-bayang yang selalu bergerak-gerak pula. Sebuah
bayangan hitam yang terlukis di dinding tampak seperti sebuah lukisan hitam yang
berguncang-guncang. Itulah bayang-bayang Arya Salaka yang masih saja duduk
dipembaringannya memeluk lutut.
Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar masuk, segera ia membetulkan letak
duduknya. Wajahnya masih nampak suram setelah mengalami peristiwa yang membentur
langsung lubuk hatinya yang paling dalam, bahkan agaknya mandi pun Arya Salaka
masih belum sempat.
Melihat keadaan Arya Salaka, hati Mahesa Jenar terketuk kembali. Ia tahu apakah
yang dirasakan oleh anak murid satu-satunya itu. Karena itu maka ia mencoba
untuk meredakannya. "Katanya Jangan banyak kau pikirkan apa yang sudah kau
lakukan Arya. Menurut pendapatku kau telah melakukan hal yang sebaik-baiknya."
Arya Salaka mengerutkan keningnya. Meskipun tampak perubahan di wajahnya, tetapi
tidaklah begitu jelas. Namun ketika ia menyahut, terasalah bahwa ia belum yakin
akan kata-kata gurunya. "Paman, tidakkah aku mengecewakan Paman?"
"Kenapa aku harus kecewa Arya?" tanya Mahesa Jenar.
"Aku tidak dapat membunuhnya. Tidak dapat," jawab Arya sambil beberapa
kali menggelengkan kepalanya.
"Justru karena itu aku mengagumimu," potong Mahesa Jenar.
Arya memandang gurunya dengan mata yang memancarkan keraguan. Namun ia kenal
betul watak gurunya. Kalau ia berkata demikian, maka hatinyapun akan berkata
demikian pula. Karena itu ia menjadi terharu. Bahkan mata itu kemudian menjadi
berkilat-kilat memantulkan sinar pelita karena air yang membayang didalamnya.
"Sudahlah Arya. Jangan kau terbenam dalam angan-angan. Bagiku kau telah
bertindak benar dan terpuji. Sekarang beristirahatlah. Mandilah supaya kau
menjadi segar. Dan adakah kau telah makan?"
Arya Salaka menggeleng.
"Nah, pergilah ke belakang. Mandi dan mintalah kepada Bibi Wiradapa makan
secukupnya. Siapa tahu besok kita masih harus bekerja keras."
Arya tidak menjawab. Tetapi ia berdiri dan dengan gontai melangkah keluar
ruangan.
Dengan segar Arya pergi ke perigi. Sesaat kemudian terdengarlah gerit timba yang
digerakkan oleh Arya, disusul dengan suara guyuran air yang dingin segar.
Dalam pada itu, ketika Arya sedang menikmati sejuknya
air, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah bayangan orang berjubah yang berdiri di
belakangnya. Arya menjadi terkejut dan agak bingung. Dalam keadaannya sekarang,
selagi ia tidak berpakaian, sulitlah agaknya untuk melawan seandainya orang itu
tiba-tiba menyerang. Meskipun demikian ia harus bersiaga. Tetapi sampai beberapa
lama orang itu berdiri diam mematung.
Dalam pada itu Arya ingin mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Cepat ia
meloncat untuk menyambar, setidak-tidaknya kainnya. Namun ia menjadi terkejut
pula ketika orang itu sudah menghadangnya dengan sama sekali tak diketahuinya,
kapan ia melontarkan diri. Karena hal itu, segera Arya Salaka mengetahui bahwa
orang yang berjubah itu pasti seorang tokoh sakti. Tiba-tiba ia teringat gurunya
pernah berceritera tentang seorang yang berjubah abu-abu dan bertopeng jelek.
Yaitu Pasingsingan. Apakah orang ini Pasingsingan, guru Lawa Ijo?
Tetapi orang ini sama sekali tidak mempergunakan topeng yang jelek, meskipun
wajahnya tampaknya juga tidak wajar. Dengan demikian Arya Salaka menjadi
berdebar-debar.
Tiba-tiba orang itu melangkah maju, setapak demi setapak, seperti seekor kucing
yang sedang merunduk seekor tikus. Dalam keadaan itu, Arya Salaka tidak dapat
berbuat lain daripada bersiaga untuk melawan. Bahkan kemudian ia lupa akan
keadaan dirinya yang sama sekali tidak berpakaian itu. Ia tidak mau mati di
tangan seorang yang bagaimanapun juga saktinya tanpa perlawanan.
Maka ketika orang yang berjubah itu sudah sedemikian dekat, Arya pun telah siap
melakukan hal-hal yang perlu untuk melindungi dirinya. Dalam keremangan malam
Arya melihat orang itu perlahan-lahan menjulurkan tangannya. Demikian
perlahan-lahan sehingga agaknya itu bukanlah suatu serangan.
Namun Arya tidak mau tertipu. Iapun perlahan-lahan surut beberapa langkah.
Tetapi kemudian orang itu meloncat dengan cepatnya untuk menangkap pinggangnya.
Arya yang telah siap itupun segera meloncat menghindar dan bahkan dengan sekuat
tenaga ia membalas menyerang dengan kakinya ke arah lambung orang yang belum
dikenalnya itu. Kalau saja pada saat ia bertempur melawan orang-orang Paningit,
tidak berada di sayap kanan, maka setidak-tidaknya ia dapat melihat orang yang
berjubah abu-abu yang sekarang berdiri di hadapannya itu. Namun seandainya
demikian iapun pasti tidak mau diserang tanpa sebab dan pasti akan melawannya.
Tetapi anehnya, meskipun ia telah merasa menghindarkan diri dan bahkan menyerang
orang itu dengan sekuat tenaga, namun agaknya bagi orang berjubah abu-abu itu,
gerakannya sama sekali tidak berarti. Sehingga apa yang diketahuinya,
pinggangnya benar-benar telah dapat ditangkap. Tangan orang itu terasa demikian
kerasnya seperti sebuah himpitan besi yang tak dapat direnggangkan.
Demikianlah Arya Salaka dalam sekejap telah hampir tak berdaya. Meskipun kedua
tangannya bebas, namun karena himpitan itu terasa seolah-olah tenaganya lenyap,
seperti tulang belulangnya terlepas dari tubuhnya. Tetapi Arya bukan orang yang
lekas berputus asa. Dengan sisa tenaganya ia melawan sejadi-jadinya. Kaki dan
tangannya bergerak sedapat-dapat untuk menyerang. Bahkan ia berusaha dengan
kedua jari-jari tangannya menyerang mata orang itu. Namun usahanya sama sekali
tak berarti.
Tangan yang menjepit pinggangnya itu semakin lama terasa semakin keras dan
sejalan dengan itu tenaganya menjadi semakin surut semakin surut. Bahkan
akhirnya tubuhnya menjadi tidak lebih dari selembar kain yang sama sekali tidak
dapat digerakkan atas kemauan sendiri.
373
DEMIKIANLAH Arya Salaka kini tidak dapat berbuat lain daripada menunggu
apa yang bakal terjadi. Hanya matanyalah yang dapat memancarkan cahaya kemarahan
yang meluap-luap. Sedangkan mulutnya sama sekali tidak berhasil mengeluarkan
suara. Meskipun dalam keadaan yang demikian kesadarannya sama sekali tidak
terganggu. Ia dapat merasa dan mengetahui apa yang terjadi atas dirinya.
Setelah Arya tidak mampu untuk berbuat apapun, maka kemudian orang itu
melepaskan jepitannya perlahan-lahan. Kemudian dengan kedua tangannya Arya
dipapahnya kedalam kelam, dibawah daun-daun yang lebat rimbun di halaman
belakang rumah Wiradapa.
Ditempat itu perlahan-lahan Arya diletakkan berbaring. Seperti seorang bayi,
bahkan lebih dari itu, sebab ia sama sekali tidak mampu menggerakkan jarinya
sekalipun.
Kemudian ia melihat orang itu berdiri tegap di sampingnya. Diangkatnya kepala
sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya. Namun yang terdengar hanyalah
kemerisik daun yang digoyangkan angin, serta bunyi-bunyi jangkrik bersahutan
dengan suara bilalang. Sedang malam semakin bertambah malam jua.
Padukuhan Gedangan telah terbenam dalam kesunyian yang lelap. Hampir setiap
orang telah nyenyak tertidur, kecuali beberapa orang yang bertugas ronda. Mahesa
Jenar yang telah membaringkan dirinya sama sekali tidak curiga tentang keadaan
Arya Salaka. Ketika ia sudah tidak mendengar guyuran air, ia hanya mengira bahwa
Arya sedang pergi ke dapur untuk minta makan kepada Nyai Wiradapa. Karena itulah
maka ia sama sekali tidak memperhatikannya lagi.
Dalam pada itu, malahan kenangan Mahesa Jenar kembali melontar kepada orang yang
berjubah abu-abu yang telah menyelamatkan laskarnya dari kehancuran. Ia mencoba
untuk menghubung - hubungkan orang itu dengan orang-orang yang pernah dikenalnya.
Orang-orang yang aneh-aneh dan orang-orang yang telah menyisihkan diri dari
pergaulan.
Diingatnya nama-nama Radite dan Anggara. Kedua-duanya adalah murid Pasingsingan,
yang bahkan Radite adalah orang yang sebenarnya berhak mempergunakan gelar
Pasingsingan beserta tanda kebesarannya. Namun sebagai manusia ia mengalami
kekhilafan, sehingga akhirnya ia merasa bahwa hidupnya seolah-olah tak berarti
lagi. Ia merasa bahwa setiap dosa yang dibuat oleh Umbaran, orang yang kemudian
memiliki tanda-tanda serta pusaka-pusaka Pasingsingan adalah akibat dari dosanya.
Tetapi dalam penilaian Mahesa Jenar, Radite dan Umbaran tidaklah jauh terpaut,
bahkan mungkin masih berada dalam deretan yang sejajar dengan gurunya, dengan Ki
Ageng Sora Dipayana, dengan Ki Ageng Pandan Alas. Sehingga dengan demikian ia
tidak akan dapat melampaui Kebo Kanigara. Tetapi orang yang datang itu adalah
orang yang terpaut banyak daripadanya, yang telah menemukan inti dari ilmu
perguruan Pengging. Sehingga dengan demikian orang itu pasti bukan salah seorang
diantara Radite maupun Anggara.
Dalam pada itu, tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada Arya Salaka. Anak itu
sudah terlalu lama pergi. Terlalu lama bagi seorang yang hanya mandi dan makan
saja.
Setelah ia menyabarkan diri beberapa saat lagi, akhirnya perasaan Mahesa Jenar
menjadi semakin tidak enak. Karena itu, iapun bangkit dan berjalan mondar-mandir
di dalam ruang tidurnya. Sekali dua kali ia masih mencoba untuk menanti saja
kedatangan anak itu, tetapi kemudian ia menjadi tidak sabar. Bahkan kemudian ia
menduga bahwa pasti terjadi sesuatu yang tidak wajar. Untung kalau saja anak itu
pergi berjalan-jalan untuk menenangkan dirinya.
Maka dengan perlahan-lahan agar tidak mengejutkan orang-orang lain yang tertidur
nyenyak, Mahesa Jenar berjalan ke halaman belakang. Dadanya berdesir ketika ia
melihat lampu dapur telah padam. Sehingga jelas bahwa anak itu tidak ada di sana.
Kemudian Mahesa Jenar pergi ke perigi, meskipun ia menduga bahwa anak itu sudah
tidak ada di sana. Tetapi tiba-tiba dadanya bergelora cepat sekali. Ia menemukan
pakaian Arya lengkap diatas sebuah batu di tepi sumur itu. Pakaiannya saja. Lalu
kemanakah anak itu pergi? Pasti tidak mungkin kalau Arya sengaja meninggalkan
pakaian di sana, meskipun seandainya ia berganti dengan pakaian lain.
Karena itu Mahesa Jenar mendapat kesimpulan bahwa Arya telah mengalami suatu hal
yang tidak wajar, yang bahkan mungkin berbahaya. Menilik keadaannya, serta tidak
adanya sesuatu yang didengarnya, maka Mahesa Jenar menjadi berteka-teki. Ia
menjadi heran kepada dirinya sendiri ketika tanpa sadarnya ia menjengukkan
kepalanya ke dalam perigi, ke dalam lingkaran yang hitam kelam. Seolah-olah ia
sedang mencari Arya Salaka di sana.
Suatu pikiran gila, gerutu Mahesa Jenar. Tak mungkin Arya berbuat demikian,
apapun yang dihadapinya.
Dengan demikian maka kesimpulan yang terakhir, yang mengganggu otaknya adalah,
bahwa Arya telah mendapat bahaya dari seseorang yang jauh melampaui ketangguhan
anak muda itu.
Dengan kesimpulannya itu Mahesa Jenar menjadi marah sekali. Siapakah yang telah
berani mengganggu murid satu-satunya itu? Murid yang diharapkan untuk dapat
mewarisi ilmu serta mengembangkannya. Bahkan murid yang keselamatannya menjadi
tanggung jawabnya atas permintaan ayah anak itu sendiri.
Mahesa Jenar mencoba untuk menemukan jawabnya. Namun ia menjadi bingung. Tidak
mungkin kalau hal itu dapat dilakukan oleh sepasang Uling dari Rawa Pening.
Meskipun kedua Uling itu menyerangnya bersama, namun pasti akan terjadi
perkelahian yang cukup lama untuk memberinya kesempatan mendengar dan membantu.
Tetapi apa yang terjadi adalah sangat mengagumkan. Anak itu agaknya begitu saja
hilang sebelum ia sempat berbuat sesuatu.
Darah Mahesa Jenar menjadi semakin bergelora. Untuk beberapa saat ia berdiri
diatas kedua kakinya yang renggang. Wajahnya sedikit terangkat. Dicobanya untuk
menangkap setiap suara yang berdesir di sekitarnya.
Namun ia tidak mendengar sesuatu. Juga matanya yang tajam, setajam mata burung
hantu itupun tidak dapat menangkap sesuatu yang mencurigakan. Karena itu ia
menjadi gelisah. Kemana agaknya Arya Salaka harus dicari...?
374
SAMBIL berpikir keras, Mahesa Jenar demikian saja melangkah meninggalkan
tempat itu. Yang mula-mula dilakukan adalah berjalan berkeliling halaman.
Kalau-kalau ada hal-hal yang mencurigakan yang dapat dipakainya untuk bahan
pencariannya. Dalam hal ini, ia sama sekali tidak ingin mengganggu orang lain.
Ia ingin mencarinya seorang diri. Baru apabila ia tidak berhasil, ia akan minta
pertolongan Kebo Kanigara.
Tetapi tiba-tiba, ketika ia baru mendapat separo dari perjalanan kelilingnya itu
ia terhenti. Perlahan-lahan didengarnya nafas seseorang yang mengalir dengan
teratur. Mahesa Jenar mencoba untuk meyakinkan pendengarannya. Perlahan-lahan ia
melangkah setapak maju. Dan benarlah. Ia telah mendengar nafas seseorang.
Menilik tarikannya yang teratur itu, Mahesa Jenar dapat menduga bahwa di halaman
itu terdapat seseorang yang tertidur. Karena itu ia menjadi bertanya-tanya di
dalam hati. Adakah Arya Salaka yang tertidur di situ...? Anehlah kalau demikian.
Bagaimanapun letih serta kantuknya, tetapi tidak mungkin bahwa ia tidak sempat
berpakaian, lalu begitu saja menjatuhkan diri dan tertidur di situ.
Karena itu, ia tidak membiarkan dirinya mendapatkan sesuatu hal yang tak
dikehendaki. Jangan-jangan hal yang serupa telah menyeret Arya kedalam bencana,
karena ia kurang hati-hati atas suara desah nafas yang dikiranya orang yang
sedang tertidur nyenyak.
Dengan demikian malahan Mahesa Jenar menjadi bersiaga penuh. Setiap saat ia
dapat bertindak. Bahkan setiap saat, apabila ia benar-benar berhadapan dengan
bahaya yang besar, ilmunya Sasrabirawa siap untuk dilontarkan. Setelah beberapa
saat ia menunggu dengan tidak ada perubahan apapun, kembali ia maju setapak.
Sekali lagi setapak demi setapak dengan penuh kewaspadaan.
Akhirnya suara desah nafas itu sudah sedemikian dekatnya. Dengan hati-hati
sekali Mahesa Jenar bergerak beberapa jengkal maju. Matanya tajam
dipergunakannya sebaik-baiknya menembus daerah yang gelap pekat karena daun-daun
yang rimbun. Perlahan-lahan seolah-olah muncul dari daerah yang hitam sesosok
tubuh yang terbujur diam. Melihat tubuh itu Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar.
Sejengkal lagi ia bergeser maju. Dengan demikian tubuh yang nampak lamat-lamat
itu menjadi semakin jelas. Dan apakah yang nampak kemudian sangat mengejutkannya.
Ketika tubuh itu menjadi jelas segera Mahesa Jear dapat mengenalnya. Tubuh itu
adalah tubuh Arya Salaka. Dan dari tubuh itu pulalah Mahesa Jenar dapat
mendengar desah nafasnya yang teratur. Nafas orang yang sedang tidur nyenyak.
Meskipun tubuh yang terbaring tanpa pakaian itu adalah Arya Salaka namun Mahesa
Jenar tidak tergesa-gesa mendekatinya. Ia masih belum tahu pasti, apakah tidak
ada hal-hal yang berbahaya. Baru setelah beberapa saat tidak terdengar sesuatu
selain nafas Arya, Mahesa Jenar melangkah perlahan-lahan mendekati. Ketika ia
meraba tubuh anak itu, terasa bahwa tubuh itu tetap hangat seperti biasa.
Demikian tubuh Arya tersentuh tangan Mahesa Jenar, tampaklah anak itu terkejut.
Cepat ia meloncat bangkit dan bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi ketika yang dilihat berdiri dihadapannya adalah Mahesa Jenar, iapun
segera mengendorkan perasaannya.
Dalam keadaan yang penuh dengan tanda tanya. Mahesa Jenar berkata, "Kau
tertidur Arya?"
Arya menganggukkan kepalanya.
"Tetapi kenapa pakaianmu kau tinggalkan...?" Mahesa Jenar meneruskan.
Arya terkejut mendengar teguran itu. Ia baru merasa bahwa ia masih belum
mengenakan pakaiannya. Karena itu segera ia meloncat berlari ke perigi. Mahesa
Jenar menjadi semakin heran. Namun kemudian ia pasti, bahwa sesuatu telah
terjadi.
Setelah Mahesa Jenar sekali lagi memperhatikan keadaan sekelilingnya, serta
tidak ada sesuatu yang mencurigakan, iapun segera berjalan mengikuti arah
langkah Arya Salaka. Sampai di tepi sumur, Arya segera menyambar pakaiannya. Ia
tidak sempat membersihkan debu serta tanah lembab yang melekat pada tubuhnya.
Setelah Arya lengkap berpakaian, Mahesa Jenar tidak segera bertanya tentang apa
yang telah terjadi atasnya, tetapi diajaknya Arya untuk masuk kembali ke dalam
ruang tidurnya, setelah Arya menolak membangunkan Nyai Wiradapa untuk minta
disediakan makan buatnya.
Baru setelah mereka duduk di pembaringan, Mahesa Jenar segera bertanya kepada
anak muridnya, apakah sebabnya anak itu telah melakukan suatu pekerjaan yang
aneh. Tidur di halaman belakang, di bawah daun-daun yang lebat rimbun serta sama
sekali tidak berpakaian.
Arya sendiri mula-mula heran, bahwa ia telah tertidur di halaman belakang tanpa
pakaian sama sekali. Diingatnya kembali apa yang telah terjadi atasnya.
Perlahan-lahan sekali, semakin lama menjadi semakin jelas tampak kembali apa
yang pernah dialaminya. Maka diceriterakannya apa saja yang terjadi atas dirinya.
Pada saat ia sedang mandi, dan tiba-tiba muncullah seorang berjubah menangkapnya.
375
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Lalu sambil mengangguk-angguk iabertanya,
"Apa yang dilakukan atasmu ketika kau telah terbaring di bawah daun-daun yang
lebat itu, dan adakah ia berkata sesuatu kepadamu?". Setelah mengingat-ingat
sebentar Arya menjawab, "Ya, Paman.... Memang ada yang dikatakan kepadaku.
Ketika itu pendengaranku sudah menjadi lamat-lamat. Sebab pada saat itu terasa
bahwa kantukku tiba-tiba menjadi tidak tertahan lagi." Arya berhenti
sebentar, lalu ia meneruskan. "Mula-mula dipijitnya seluruh tubuhku. Dari
ubun-ubun sampai ke ujung ibu jari kakiku. Mula-mula terasa betapa sakitnya.
Setiap jari-jari orang itu menyentuh kulitku terasa seolah - olah seluruh
tubuhku menjadi nyeri tak terhingga. Namun aku sama sekali tidak bisa
mengucapkan sepatah katapun, bahkan berdesispun tidak. Tetapi semakin lama
perasaan sakit itu menjadi semakin berkurang. Bahkan akhirnya pijitan itu terasa
nyaman sekali. Sehingga aku menjadi ngantuk bukan buatan. Sesaat sebelum aku
tertidur aku masih mendengar orang itu berkata, "Arya Salaka, kau telah terlalu
lama menyiksa tubuhmu dengan pekerjaan-pekerjaan berat. Namun kau sama sekali
tidak memelihara urat-urat darah serta otot-ototmu. Dengan demikian kau telah
menyia-nyiakan sebagian dari tenaga dahsyat yang sebenarnya dapat kau ikut
setakan dalam setiap lontaran tenaga."
Sekali lagi Arya berhenti, kemudian, "Sesudah itu aku tidak ingat apa-apa
lagi sampai Paman membangunkan aku."
Dada Mahesa Jenar berdebar-debar mendengar ceritera Arya. Ia memang pernah
mendengar suatu ilmu yang dapat dipergunakan memperkokoh tubuh seseorang serta
memperbesar tenaganya denga membuka segenap saluran yang ada di dalam tubuh.
Memperlancar jalan darah serta memperbaiki letak otot - ototnya sehingga pada
orang itu tidak lagi diperlukan tenaga untuk mengatasi kesulitan - kesulitan di
dalam tubuh sendiri. Dengan demikian segenap cadangan tenaga apabila diperlukan
dapat dipergunakan seluruhnya dan disalurkan lewat bagian-bagian tubuh yang
dikehendaki.
Tetapi masih belum jelas, apakah orang itu telah memperlakukan Arya demikian
atau sebaliknya, membuat beberapa rintangan di dalam tubuhnya sehingga dalam
pelontaran tenaga akan dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan. Karena itu segera
ia bertanya, "Arya, bagaimanakah rasanya tubuhmu sekarang?" Tanpa sadar
Arya mengamat-mati tubuhnya sendiri. Kakinya, tangannya, lengannya dan
jari-jarinya. Semula ia sama sekali tidak memperhatikan, apakah ada perubahan -
perubahan di dalam dirinya.
Tetapi ketika Mahesa Jenar bertanya kepadanya, terpaksa ia memperhatikan setiap
perasaan yang lain di dalam dirinya.
Tentang peredaran darahnya, detak jantungnya serta sendi - sendi anggota
badannya. Tiba-tiba saja ia merasa betapa segar darah yang mengalir di dalam
tubuhnya, merambat sampai kesegenap ujung rambut di seluruh badannya. Setiap
anggota badannya terasa menjadi betapa ringannya. Dan dengan demikian ia dapat
bergerak bertambah cepat dan lincah. Detak jantungnya yang lunak teratur serta
sendi-sendi anggota badannya yang licin, namun seakan-akan bertambah kokoh.
Demikianlah akhirnya ia berkesimpulan bahwa kini ia telah mendapat suatu
perasaan yang luar biasa. Yang bahkan ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan.
Sehingga yang dapat diucapkan hanyalah beberapa kata saja.
"Tubuhku menjadi bertambah baik Paman."
Jawaban itu sendiri tidak begitu meyakinkan bagi Mahesa Jenar. Tetapi wajah Arya
yang berseri, caranya menggerakkan tangan dan kakinya, serta betapa tampak anak
itu keheran-heranan sendiri, adalah jawaban yang cukup jelas. Jawaban yang telah
mengandung suatu ceritera bahwa tubuh Arya kini telah berbeda dengan tubuh Arya
beberapa saat yang lalu.
Anak itu agaknya kini telah memiliki kesempurnaan tata nadi dalam tubuhnya.
Mahesa Jenar sendiri meras bahwa selama ini ia telah memaksa anak itu bekerja
keras, berlatih, berkelahi, berjalan dan berlari setiap hari. Namun ia tidak
dapat melakukan hal yang lain bagi tata nadi anak itu.
Meskipun ia sendiri dahulu pernah juga mempelajari beberapa pengetahuan mengenai
urat dan jalan darah, namun apa yang dapat dilakukan tidak lebih dari daripada
saling memijit sesama prajurit apabila mereka sedang kelelahan. Baik didalam
latihan-latihan maupun didalam pertempuran-pertempuran yang sebenarnya.
Tetapi tidaklah demikian yang terjadi atas Arya. Orang yang berjubah itu tidak
sekadar memijit Arya supaya Arya tidak lagi merasa lelah. Lebih daripada itu.
Orang itu telah menolong Arya untuk dapat mengerahkan segenap tenaga yang
tersimpan didalam tubuhnya yang tegap kekar itu. Meskipun mula-mula Mahesa Jenar
merasa cemas bahwa yang terjadi adalah sebaliknya, namun terhadap orang yang
berjubah abu-abu yang belum dikenalnya itu, ia telah menumpahkan kepercayaan
bahwa tidaklah mungkin ia akan berbuat jahat terhadap Arya.
Bersamaan dengan itu, makin kuatlah dugaan yang telah tumbuh di dalam dadanya,
bahwa orang itupun sama sekali tidak bermaksud jahat atas perbuatannya mengambil
kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru, meskipun akibat
hilangnya kedua keris itu sangat dahsyat atas tanah perdikan dilereng bukit
Telamaya itu.
Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri. Namun tak habis-habisnya ia
mengagumi tubuh muridnya yang sedang menginjak dewasa itu. Selama ini meskipun
hampir setiap saat, siang dan malam, ia tidak pernah terpisah darinya, tetapi
seolah-olah baru sekarang ia melihat alangkah gagahnya anak ini. Anak Ki Ageng
Gajah Sora, yang dalam usianya yang masih sangat muda itu telah dapat
mencerminkan kebesaran jiwa yang diwarisinya dari orang tuanya, serta pendidikan
yang diberikannya.
Arya yang merasa selalu dipandangi oleh gurunya, menjadi tertunduk. Namun ia
merasa bahwa gurunya sama sekali tidak menyesal atas kejadian yang baru saja
dialami. Karena itu iapun tidak perlu mencemaskannya lagi. Bahkan perasaan yang
segar yang memancar didalam tubuhnya, telah menumbuhkan suatu harapan dalam
dirinya. Harapan atas masa depan yang lebih baik.
Dikompilasi dari Harian Kedaulatan Rakyat
Oleh: Mimbar Seputro
Updated 2 Juni 2000