Nagasasra dan Sabukinten

Lebur Sakethi vs Sasrabirawa

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

366

DENGAN  kerasnya Sawung Sariti terlempar. Meskipun ia memiliki ketangkasan bergerak, namun kemudian ia terbanting juga di tanah. Hanya karena ketahanan tubuhnya yang luar biasa, tulang punggungnya tidak patah. Bahkan dengan suatu hentakan ia berhasil melepaskan tangannya dan berguling menjauhi Arya. Kemudian dengan tangkasnya ia melenting berdiri. Namun terasa pula betapa rasa sakit telah mengganggu pinggangnya.

Demikianlah, perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Masing-masing telah mengerahkan segenap tenaganya untuk mengalahkan lawannya. Namun sampai sedemikian jauh mereka masih tetap dalam keadaan seimbang. Sedang mereka yang menyaksikan perkelahian itu, kadang-kadang harus menahan nafas dengan hati yang berdebar-debar.

Arya Salaka dan Sawung Sariti berkelahi dengan penuh nafsu. Dengan segala ilmu yang mereka miliki, mereka ingin segera menyelesaikan pertempuran itu, namun agaknya pertempuran itu masih akan berlangsung lama.

Untuk itu, ternyata mereka mempunyai beberapa perbedaan pengalaman. Sawung Sariti adalah seorang yang manja. Yang hidup dalam lingkungan yang tidak banyak memerlukan tenaganya. Sedang Arya salaka menjalani hampir seluruh hidupnya dengan bekerja keras, berjalan dari matahari terbit sampai terbenam, membenamkan dirinya dalam kancah lumpur sawah bersama para petani. Mengarungi lautan sebagai anak nelayan di pantai Tegal Arang.

Karena itulah Arya Salaka mempunyai ketahanan jasmaniah yang lebih daripada Sawung Sariti. Dengan demikian maka ketika bulan yang masih muda itu menenggelamkan dirinya, tampaklah bahwa tenaga Sawung sariti yang bagaimanapun kuatnya setelah demikian lama dengan nafsu penuh berjuang, menjadi surut. Meskipun tenaga Arya Salaka surut pula, namun hal yang demikian nampak lebih jelas pada lawannya.

Agaknya Sawung Sariti merasakan hal itu pula. Karena itu ia menjadi gelisah. Ia tidak mau mengalami kekalahan dari kakaknya, meskipun bagaimanapun juga. Bahkan ia menjadi heran kalau kakaknya dapat mengimbangi kekuatannya setelah ia digala mati-matian oleh kakeknya, Ki Ageng Sora Dipayana. karena kegelisahannya itulah akhirnya ia mengambil suatu keputusan yang menentukan.

Maka ketika Sawung Sariti telah merasa semakin lelah, segera ia ingin mengakhiri pertempuran. Dipusatkannya segenap pancainderanya dalam suatu perhatian, disalurkannya nafasnya dengan teratur untuk menemukan kebulatan kekuatan dalam pancaran ilmu yang pernah diterimanya, Lebur Sakethi. Direntangkannya tangannya ke samping dengan kaki setengah langkah yang ditekuk pada lututnya.

Semua yang melihat sikap itu menjadi terkejut. Apalagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang telah mengenal kedahsyatan ilmu Ki Ageng Sora Dipayana itu. Hampir saja mereka bergerak untuk mencegahnya.

Namun dengan berdebar-debar mereka terpaksa membatalkan niatnya. Sebab mereka telah berjanji untuk menyerahkan penyelesaian itu kepada Arya Salaka. Disamping itu mereka menjadi bertambah kecewa terhadap Sawung Sariti yang telah mempergunakan ilmu dahsyat itu sebagai alat penyelesaian dengan keluarga sendiri, untuk mempertahankan keserakahan dan ketamakan.

Arya Salaka sendiri terkejut pula melihat sikap Sawung Sariti. Untunglah bahwa gurunya pernah memperkenalkan bentuk-bentuk ilmu yang dahsyat itu, sehingga segera ia mengenal bahwa Sawung Sariti telah mempersiapkan ilmu Lebur Sakethi. Dengan demikian Arya pun dengan cepatnya berpikir. Ia telah mendapat pesan wanti-wanti dari gurunya untuk tidak mempergunakan ilmu Sasra Birawa dalam sembarang keadaan.

Tetapi keadaan ini gawat sekali. Kalau ia sampai tersentuh Lebur sakethi tanpa matek aji Sasra Birawa, ia yakin bahwa dadanya akan rontok. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah segera bersiaga lahir batin. Diangkatnya satu tangannya tinggi-tinggi, tangan yang lain menyilang di dada, sedang satu kakinya diangkat serta ditekuk ke depan. Tepat pada saat ia selesai dengan pemusatan tenaganya, dilihatnya Sawung Sariti telah meloncat maju dengan melingkarkan kedua tangannya yang kemudian bersama-sama mengarah ke kepalanya.

Arya tidak mau binasa dalam keadaan yang mengerikan. Karena itu ia pun segera dengan mengerahkan segenap kekuatan ilmunya, Sasra Birawa.

Maka segera terjadilah benturan dari dua macam ilmu yang dahsyat itu. Sasra Birawa berbenturan dengan Lebur Sakethi. Dua macam ilmu keturunan dari dua orang sahabat yang pernah berjuang bersama-sama melawan kejahatan. Namun sampai pada keturunannya, ilmu itu terpaksa berbenturan dalam perjuangan yang benar-benar diantara hidup dan mati.

Beberapa tahun lampau kedua ilmu itu pernah pula berbenturan diatas Gunung Tidar. Namun pada saat itu benturan terjadi karena salah paham. Apalagi waktu itu mereka yang berkepentingan merasa mempertaruhkan barang yang paling berharga, yaitu keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Mahesa Jenar pada saat iti sama sekali belum pernah mengenal Gajah Sora, dan sebaliknya, kecuali setelah mereka siap menghantamkan ilmu-ilmu itu.

Sekarang, hal serupa terjadi. tetapi latar belakang persoalannya jauh berbeda. Sekarang, benturan itu terjadi karena persoalan hak. Banyubiru bagi Arya Salaka adalah tanah pusaka, tanah tercinta.

Demikianlah, akibat benturan itupun dahsyat sekali. Arya Salaka dan Sawung Sariti sama-sama terlempar jauh ke belakang, dan seterusnya mereka jatuh terguling-guling. Untunglah bahwa kedua anak muda itu belum memiliki kedua macam ilmu itu dengan sempurna. Sehingga karena itulah maka ketahanan tubuh mereka dalam pemusatan ajian masing-masing masih dapat bertahan sehingga mereka tidak hancur karenanya.

Meskipun demikian untuk beberapa saat mereka terpaksa membiarkan diri mereka terbaring tak bergerak. Seolah-olah tenaga mereka terlepas dari sendi-sendinya.

 



367

DALAM hal yang demikian, kembali ketahanan tubuh Arya Salaka tampak lebih besar dari Sawung Sariti. Ialah yang mulai dapat menggerakkan tubuhnya dan perlahan-lahan bangun. Dengan susah payah ia berhasil duduk dan bersandar pada kedua belah tangannya.

Baru sesaat kemudian tampak Sawung Sariti mulai bergerak-gerak pula. Namun karena nafsunya yang meluap-luap itulah agaknya ia memaksa tubuhnya untuk segera dapat bangkit berdiri. Mahesa Jenar menjadi tidak tahan lagi melihat perkelahian itu, sehingga dicobanya untuk melerainya. Katanya, "Anakku berdua... sudahilah pertempuran itu. Tidakkah ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah kalian dengan tidak usah menumpahkan darah?"

Tetapi Sawung Sariti adalah seorang anak yang sombong. Yang dalam hidupnya sehari - hari seolah - olah tak seorangpun yang berani membantah kemauannya.

Karena itu meskipun keadaan tubuhnya sangat tidak menguntungkan, namun ia menjawab,"Paman sudah menyerahkan masalah kami kepada kami berdua. Kalau Paman tidak rela murid Paman binasa, suruhlah orang lain membantunya."

Sekali lagi perasaan Mahesa Jenar tersentuh. Namun betapapun pedihnya ia masih menyabarkan diri. Katanya lebih lanjut, "Apakah yang dapat kalian peroleh dengan perkelahian itu? Kunci persoalannya tidak terletak pada kalian. Tetapi pada ayah-ayah kalian. Sedang ayah kalian adalah dua bersaudara seayah-seibu. Adakah pantas kalau kalian terpaksa bertempur mati - matian? Kalau ada persoalan biarlah kita bicarakan, sedang kalau ada masalah marilah kita pecahkan."

"Kami sedang memecahkan masalah kami dengan cara seorang laki-laki," jawab Sawung Sariti dengan angkuhnya.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya sambil mengusap dadanya, seolah-olah ia sedang menekan hatinya supaya tidak hanyut terseret oleh arus perasaannya. Bahkan ia berkata pula, "Sawung Sariti... kejantanan seorang laki-laki tidak saja diukur dengan keprigelannya bertempur, tetapi juga harus dinilai dengan keluhuran budi. Dengan demikian barulah penilaian kita sempurna. Keluhuran budi itu dapat dicerminkan oleh tujuan serta pelaksanaan untuk mencapai tujuan itu."

"Kau jangan menggurui aku Paman," potong Sawung Sariti, "Sebab aku sudah tahu semuanya itu. Ketahuilah, bahwa tujuanku bukan sekadar membinasakan Arya Salaka, tetapi tujuan yang lebih jauh lagi adalah ketenteraman hidup rakyat Banyubiru dan Pamingit."

"Bagus, Sawung Sariti..." sahut Mahesa Jenar. "Demikian hendaknya seorang pemuka dan pemimpin. Namun ketahuilah bahwa aku yakin, AryaSalaka pun berhasrat demikian pula. Apakah salahnya kalau kalian dapat bekerja bersama dalam batas - batas yang ditentukan oleh kemampuan kalian masing-masing?"

Sawung Sariti terdiam sesaat. Kata-kata Mahesa Jenar memang mengandung kebenaran. Kalau apa yang dilakukan selama ini adalah untuk ketenteraman hidup rakyatnya, maka sebaiknya tidak perlu ia mengejar-ngejar Arya Salaka, apalagi membunuhnya.

Tetapi tiba-tiba kembali nafsunya melonjak-lonjak. Nafsu untuk berkuasa atas tanah perdikan Banyubiru yang sebenarnya adalah hak Arya Salaka. Karena itu segera ia menjawab, "Paman, aku hanya dapat bekerja bersama dengan orang-orang yang tahu diri serta tahu menempatkan dirinya."
"Tidakkah Arya dapat berbuat demikian?"
tanya Mahesa Jenar.

Pada saat itu dada Arya rasa-rasanya sudah akan pecah. Ia tidak tahan lagi mendengar pembicaraan itu, yang seolah-olah baginya hanya tersedia di dalam sudut belas kasihan Sawung Sariti.

Terdorong oleh darah remajanya yang sedang bergelora, berteriaklah Arya Salaka mengatasi suara Mahesa Jenar yang hampir melanjutkan perkataannya, "Paman, biarlah Adi Sawung Sariti memilih cara yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah ini."

Mahesa Jenar dapat mengerti sepenuhnya, bahwa Arya Salaka merasa harga dirinya tersinggung. Namun demikian ia masih mencoba berkata, "Tak ada masalah yang tak dapat terpecahkan diantara kalian, sebagai keturunan bersama dari Ki Ageng Sora Dipayana."

Nama itu memang untuk sementara dapat mempengaruhi perasaan mereka. Namun agaknya masalah haus kekuasaan telah menjamah seluruh relung-relung hati Sawung Sariti. Karena itu ia sudah tidak mau berbicara lagi. Meskipun tubuhnya masih belum segar benar namun ia telah bertekad untuk menyelesaikan pertempuran itu.

Tetapi karena aji Lebur Sakethi-nya mendapat perlawanan yang seimbang, ia memilih cara lain untuk membinasakan Arya Salaka dengan kecepatannya memainkan pedang. Maka dalam sekejap mata, tampaklah sinar mata pedang berkilat-kilat didalam gelap malam, dibawah gemerlipnya bintang gemintang di langit yang kelam.

Sekali lagi hati Mahesa Jenar tergetar. Ia merasa tidak dapat berbuat lain, daripada menyaksikan kembali perkelahian yang sengit antara Arya Salaka dan Sawung Sariti. Perkelahian diantara keluarga sendiri yang pada hakekatnya tidak banyakb erarti dalam percaturan tata pemerintahan di Banyubiru kelak. Sebab beberapa orang Banyubiru telah mendengar bahwa Arya Salaka masih hidup dan akan kembali ke tanah pusakanya. Sehingga apabila ternyata kemudian Arya Salaka tidak kembali, maka para pemimpin Banyubiru pasti akan mengurai persoalan itu. Dan dengan demikian, ketenteraman yang diharapkan tidak akan dapat diwujudkan. Yang akan terjadi kemudian adalah penindasan terhadap orang-orang yang ingin membela pemimpin mereka. Bahkan kebenaran Gajah Sora pun pasti akan tersingkap pula, setelah Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dapat diketemukan.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah benar-benar suatu pertempuran yang sengit.

Ketika Arya Salaka melihat gemerlapnya sinar pedang di tangan Sawung Sariti, maka segera iapun mencabut tombaknya yang diberinya sebuah tangkai pendek.

Tombak yang merupakan pertanda kebesaran pemerintahan Banyubiru pada masa lampau, bernama Kyai Bancak.

 



368
DEMIKIANLAH sekali lagi, Arya Salaka dan Sawung Sariti menyabung nyawanya.

Dua  bayangan yang bergerak-gerak dengan cepatnya, timbul-tenggelam diantara gemerlapnya sinar pedang, dan cahaya kebiru-biruan dari ujung tombak yang bernama Kyai Bancak.

Kembali perkelahian itu berkobar dengan serunya. Bahkan kali ini di tangan masing-masing tergenggam senjata yang dapat menyobek kulit daging. Sawung Sariti benar-benar dapat mewarisi keahlian bermain pedang dari ayahnya, sedang Arya Salaka dengan cepatnya dapat mengimbangi.

Tombaknya yang bertangkai pendek itu mematuk-matuk berbahaya sekali ke segenap bagian tubuh Sawung Sariti.

Tetapi ketika pertempuran itu telah berlangsung beberapa lama, kembali terasa, tenaga Sawung Sariti telah jauh susut. Karena itu ketangkasannyapun menjadi berkurang. Demikianlah, maka ketika Sawung Sariti mempergunakan segenap sisa tenaganya untuk menyerang lawannya, Arya Salaka berhasil menghindar kesamping. Arya sama sekali tidak membalas menyerang tubuh Sawung Sariti, tetapi dipukulnya pedang yang hanya berjarak beberapa kilan dari tubuhnya itu dengan sekuat tenaganya. Sawung Sariti sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya akan berbuat demikian. Karena itu pedangnya bergetar sehingga tangannya terasa pedih.

Sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, sekali lagi Arya menghantam pedang itu. Kali ini Arya Salaka berhasil. Pedang itu dengan kerasnya terlontar lepas dari tangan Sawung Sariti.
Mengalami peristiwa itu, dada Sawung Sariti bergoncang. Segera ia meloncat mundur untuk mempersiapkan diri melawan tanpa senjata. Tetapi Arya dengan tangkasnya meloncat pula, bahkan lebih cepat dari Sawung Sariti yang hampir kehabisan tenaga. Apa yang terjadi kemudian adalah ujung Tombak Kyai Banyak telah melekat di dada anak muda yang sombong itu.


Semua yang menyaksikan peristiwa itu, menahan nafasnya. Suasana menjadi tegang. Semuanya menunggu apa yang akan dilakukan Arya Salaka dengan tombak pusaka dari Banyubiru itu.

Tetapi bagaimanapun juga, terpaksa mereka mengagumi pula ketabahan hati Sawung Sariti. Meskipun di dadanya telah melekat ujung tombak lawannya, yang dalam sekejap mata dapat membunuhnya, namun anak itu sama sekali tidak menjadi takut. Bahkan terdengar giginya gemeretak sebagai ungkapan kemarahan hatinya, dan sesaat kemudian terdengar ia berkata, "Ayo, Kakang Arya Salaka. Bunuhlah aku dengan tombak kebesaran Banyubiru itu."

Sebenarnya darah Arya Salakapun telah cukup panas. Dan dalam keadaan yang demikian dapat saja ia menggerakkan tangannya beberapa jengkal. Dengan demikian Sawung Sariti pun akan binasa. Namun tiba-tiba, ketika ia telah memilki kunci kemenangan, tampaklah pada wajah Sawung Sariti sebuah bayangan atas masa lampaunya. Masa kanak-kanaknya.

Dimana mereka berdua dengan anak itu bermain bersama di Rawa Pening kalau kebetulan Sawung Sariti berada di Banyubiru. Sebaliknya mereka kadang-kadang berkuda bersama mendaki bukit-bukit kecil di Pamingit untuk mencari buah-buahan, yang kemudian dimakan bersama.

Diingatnya dengan jelas, alangkah rukunnya pergaulan kanak-kanak yang masih jauh dari pamrih dan nafsu keangkaramurkaan. Pada saat itu seolah-olah tidak ada batas antara milik mereka berdua, permainan mereka berdua, bahkan sampai suka-duka mereka berdua.

Kalau kebetulan Arya Salaka sedang dimarahi oleh ayah bundanya, dengan penuh kesayangan seorang adik Sawung Sariti selalu menghiburnya. Sebaliknya apabila Sawung Sariti sedang bersedih hati, Arya Salaka selalu berusaha untuk meredakannya. Pada saat yang demikian, mereka merasa seolah-olah dunia ini milik mereka berdua, dan tak ada tangan yang akan mampu memisahkan kerukunan mereka sebagai seorang kakak dan adik sepupu.

Tetapi tiba-tiba sekarang mereka harus berhadapan sebagai lawan. Lawan yang harus bertempur berebut nyawa. Alangkah jauh bedanya. Masa kini dan masa kanak-kanak yang tinggal dapat dikenangnya. Masa dimana hati mereka belum dikotori oleh nafsu dan dendam.

Dalam pada itu Sawung Sariti menjadi heran ketika ujung tombak yang sudah melekat di dadanya itu masih belum menghujam masuk. Apalagi ketika lamat-lamat dalam kegelapan malam ia melihat Arya memejamkan matanya serta menggelengkan kepalanya. Seolah-olah ia sedang berusaha mengusir kenangan yang mengganggunya pada saat itu.

Memang pada saat itu Arya Salaka sedang berusaha untuk mengenyahkan bayangan-bayangan masa kanak-kanaknya. Namun ia tidak berhasil. Ketika ia memejamkan matanya, justru bayangan itu semakin jelas. Bayangan dua orang anak-anak yang berlari-lari sambil berteriak-teriak nyaring dan berbimbingan tangan.

Tiba-tiba kenangan itu dipecahkan oleh Suara Sawung Sariti dengan tataknya, "Kenapa tidak kau lakukan itu sekarang Kakang? Adakah kau takut melihat darah yang akan menyembur dari luka di dadaku?"
Arya tidak menjawab. Tetapi tangannya menjadi gemetar. "Jangan berlaku seperti perempuan cengeng," sambung Sawung Sariti.

Namun Arya masih diam saja. Memang dalam perkembangan mereka banyak mengalami pengaruh yang berbeda, sehingga watak merekapun menjadi jauh berbeda pula. Dengan demikian suasana menjadi bertambah tegang. Wajah-wajah yang berada di sekitar kedua anak muda yang berdiri berhadapan itu menjadi tegang pula. Dengan dada yang berdenyut keras mereka menunggu apakah yang akan terjadi.

Namun agaknya Mahesa Jenar yang telah lama bergaul dengan Arya dapat meraba perasaan yang menjalari kepala anak itu. Bahkan kemudian ia berdoa, mudah-mudahan Arya mengambil keputusan lain. Sehingga ia tidak membunuh saudara sepupunya itu dengan tangannya sendiri.

Dan apa yang diharapkan itu terjadilah. Tiba-tiba dengan suara gemetar Arya berkata, "Adi Sawung Sariti, jangan berkata demikian. Mungkin benar aku tidak akan berani melihat darah yang menyembur dari luka di dadamu, karena kau adalah adikku, yang pernah mengalami keindahan masa kanak-kanak bersama-sama. Nah, Adi Sawung Sariti, pulanglah. Dan berpikirlah baik-baik agar masalah diantara kita dapat kita selesaikan tanpa pertumpahan darah. Baik darah kita sendiri maupun darah rakyat kita."

 



369

SAWUNG Sariti mencibirkan bibirnya. Jawabnya, "Kalau kau tidak membunuh aku sekarang, Kakang... kau akan menyesal. Sebab akulah kelak yang akan membunuhmu."

Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Namun tangannya yang memegang tombak itu masih saja gemetar. Katanya kemudian hampir berdesis, "Aku harap kau akan mengubah pendirianmu. Akan kau temukan kelak kebenaran kata-kataku. Tak ada persoalan diantara kita, apabila kita berdiri di tempat kita masing-masing. Sehingga dengan demikian kita dapat memberikan tenaga dan pikiran kita untuk kepentingan tanah kelahiran serta kedamaian dan ketenteraman hidup rakyat kita. Dimana kita dilahirkan, dan untuk siapa kita berbakti."

Mendengar kata-kata Arya Salaka, Sawung Sariti menarik keningnya. Sekali terlintas di dalam otaknya, kebenaran kata-kata itu, seperti apa yang didengarnya dari Mahesa Jenar.  Tetapi dalam keadaan yang demikian, muncullah kembali kebengalannya. Sebagai seorang yang mempunyai harga diri terlalu tinggi, ia tidak mau menyerah dan minta maaf. Malahan terdengar jawabnya, "Kakang Arya Salaka. Pertimbangkan sekali lagi. Apakah untungmu membebaskan aku. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa aku tetap akan membunuhmu dalam keadaan yang bagaimanapun."

Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi pening mendengar kata-kata Sawung Sariti. Bahkan beberapa orang menjadi tidak sabar lagi. Kenapa anak yang sedemikian sombongnya tidak dibunuh saja.

Namun Arya berpikir lain. Kelakuannya banyak dipengaruhi oleh tingkah laku Mahesa Jenar. Apalagi yang berdiri di hadapannya itu adalah adik sepupunya. Maka dengan tidak berkata-kata lagi, ditariknya ujung tombaknya dan langsung disarungkannya. Kemudian ia melangkah mundur.

Gigi Sawung Sariti masih terdengar gemeretak. Marahnya sama sekali tidak mereda. Apalagi ia merasa mendapat penghinaan dari kakak sepupunya. Karena itu darahnya justru menjadi meluap-luap.

Dendamnya menjadi semakin bersusun-susun didalam hatinya yang kelam. Pada saat itu ia masih tetap berdiri dengan gagahnya. Matanya memandang tetap kepada Arya Salaka. Hanya kadang-kadang saja mata itu menyambar wajah-wajah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Bahkan sempat pula ia menangkap pancaran mata yang bulat segar dari seorang gadis tanggung yang bernama Endang Widuri.

Demikianlah Sawung Sariti telah membakar perasaan mereka yang menyaksikan peristiwa itu. Beberapa orang berpendirian bahwa orang yang demikian sombongnya itu lebih baik dibinasakan saja sebelum menjadi lebih berbahaya lagi. Namun Arya Salaka sendiri mengharap, mudah - mudahan adiknya itu dapat menemukan kembali jalan kebenaran. Menyadari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Dengan demikian ia akan menemukan penyelesaian tanpa menanam dendam yang lebih dalam dari cabang keturunan Ki Ageng Sora Dipayana, sehingga kelak tidak akan mengganggu kedamaian hidup berdampingan sebagai dua orang bersaudara yang memerintah atas tanah masing-masing. Pamingit dan Banyubiru.

Arya Salaka sendiri telah berusaha keras untuk menyimpan dendam atas hilangnya ayahnya Gajah Sora, serta berusaha untuk melupakannya. Sebab apabila dendam dituntut dengan dendam, maka dendam itu sendiri akan menjalar turun-temurun. Dan habislah manusia di dunia ini terbenam dalam arus pembalasan demi pembalasan.

Beberapa orang menjadi keheran-heranan ketika malahan Arya Salaka memutar tubuhnya dan kemudian melangkah pergi menjauhi adiknya yang masih berdiri tegap tanpa bergerak. Tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sama sekali tidak menyesal. Bahkan mereka merasa berbangga hati atas keluhuran budi yang memancar dari rongga dada muridnya, meskipun kemudian mereka masih mendengar Sawung Sariti berkata, "Kakang jangan mengharap hatiku menjadi cair oleh sikapmu kali ini. Bagaimanapun juga kau tidak akan dapat kembali menjamah daerah perdikan Banyubiru."

Arya mempercepat langkahnya. Ia tidak mau mendengarkan lagi lagu yang menyakitkan hati itu, supaya ia tidak mengubah keputusannya. Karena itu ketika ia mendengar Sawung Sariti meneruskan kata-katanya, ia berteriak, "Pergilah, dan ambil pedangmu. Bunuhlah aku kelak kalau kau sudah merasa mampu. Aku akan merasa bahagia kelak, kalau aku binasa ndhepani tanah pusaka serta rakyat tercinta. Demi mereka, aku bersedia untuk mati."

Setelah itu ia tidak menoleh lagi. Langkahnya menjadi semakin cepat. Bahkan ia tidak menghiraukan lagi orang-orang yang berdiri berjajar mengelilinginya. Ia tidak peduli apakah orang lain akan membenarkan pendiriannya atau tidak.

Demikianlah Arya Salaka dengan langkah tetap langsung menuju ke Gedangan. Beberapa orang berjalan mengiringinya dengan berbagai perasaan menggayut hati. Meskipun ada diantara mereka yang menjadi kecewa, namun disela-sela perasaan itu, kagumlah mereka atas kebesaran jiwa anak muda itu.

Mereka yang tidak mengetahui latar belakang dari peristiwa itu hanya menganggap, betapa tinggi jiwa kejantanannya. Sebagai seorang laki-laki jantan ia tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya lagi.

 



370
SAWUNG Sariti memandang iring-iringan itu sampai lenyap dibalik tabir kegelapan malam. Beberapa kali ia menarik nafas. Kemudian ia melangkah maju, dan kemudian membungkuk memungut pedangnya. Dengan tajam diamat-amatinya pedang kebanggaannya itu. Seolah-olah ia sedang bertanya pada benda itu, kenapa kali ini ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Bahkan dibeberapa bagian dilihatnya pedangnya mengalami kerusakan. Karena itu ia menjadi kagum atas ketajaman dan kekerasan baja bahan tombak yang bernama Kyai Bancak.

Setelah ia menyarungkan pedangnya, dilayangkan pandangannya berkeliling. Baru kemudian terasa betapa sepinya. Perlahan-lahan ia melangkah dan berjalan menjauhi tempat dimana ia hampir saja binasa.

Sesaat kemudian arena itu menjadi sunyi. Sunyi sekali. Namun didalam kegelapan malam, masih ada seorang yang berdiri diantara mayat-mayat yang masih bergelimpangan di sana-sini. Orang itu adalah Mahesa Jenar. Ia tidak turut serta dengan orang-orang lain kembali ke Gedangan.

Tetapi ia berhenti beberapa tonggak dari desa itu. Ia tahu bahwa dalam keadaan yang demikian, Arya lebih senang duduk sendiri. Merenung dan menimbang-nimbang apa yang sudah dan akan dilakukan. Karena itu lebih baik ia tidak mengganggu. Kebo Kanigara telah lebih dahulu kembali ke Gedangan mengantar anaknya yang kelaparan bersama dengan Wanamerta dan orang-orang lain.

Namun pada saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak merasa lapar. Beberapa kali ia membungkuk mengamat-amati mayat-mayat yang terbujur lintang diarena. Ada diantaranya yang sudah tua, tetapi ada diantara yang masih sangat muda. Sekali dua kali terpaksa ia mengusap dadanya. Sekian banyak orang melepaskan nyawanya, hanya karena ketamakan beberapa orang yang ingin memegang kekuasaan. Berbahagialah mereka yang mati dalam tugas suci mereka. Tetapi sayanglah jiwa yang melayang sebagai korban nafsu yang tak terkendali.

Demikianlah malam bertambah kelam. Di langit masih tampak berterbangan kelelawar mencari mangsa. Sedang di kejauhan terdengar gonggongan anjing liar mengerikan.
Mahesa Jenar masih saja berdiri tegak di dalam gelapnya malam diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Matanya memandang jauh, ke arah bintang-bintang di langit. Namun hatinya dipenuhi oleh pertanyaan-ternyataan tentang esok. Apakah kira-kira yang akan terjadi? Adakah pasukan dari Pamingit dan rombongan orang-orang golongan hitam itu akan kembali lagi menyerang? Ataukah mereka sudah merasa bahwa mereka tak berhasil?

Meskipun demikian adalah menjadi kewajiban Mahesa Jenar untuk tetap waspada dan bersiaga sepenuhnya. Sekali-sekali dilayangkan pandangan matanya ke arah pedukuhan Gedangan yang lamat-lamat meremang, seperti bayangan yang kelam menggores di wajah langit. Mahesa Jenar menarik nafas. Pedukuhan itu tampak betapa damainya dalam kelelapan tidurnya. Seolah-olah tidak pernah terjadi keributan sama sekali. Tetapi disini. Bukti-bukti itu dihadapinya. Mayat dan bau darah.

Menghadapi kenyataan itu, darah Mahesa Jenar berdesir. Namun ia sadar sesadar-sadarnya bahwa kehadirannya di dunia ini bukanlah sekadar untuk menjadi umpan nafsu dan ketamakan. Tetapi sebagai manusia, ia wajib menegakkan kebenaran dengan usaha-usaha menurut jalan yang dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika Mahesa Jenar sedang tenggelam dalam angan-angannya, tiba-tiba di kejauhan tampaklah sebuah bayangan yang melintas dengan cepatnya. Mahesa Jenar menjadi terkejut karenanya.
Tetapi dalam tangkapannya yang hanya sekilas itu, tahulah ia bahwa bayangan itu adalah orang yang berjubah abu-abu, yang dalam pertempuran yang terjadi beberapa saat sebelum itu, merupakan penyelamat yang menentukan. Timbullah keinginannya untuk mengenal orang itu dari dekat. Karena itu segera ia meloncat dan berlari secepat-cepatnya ke arah bayangan yang melintas itu.

Namun ternyata Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasil. Yang terbentang di hadapannya hanyalah wajah malam yang hitam kelam. Sedangkan bayangan itu sama sekali sudah tidak ada lagi.
Meskipun demikian perhatiannya kini telah berpindah dari pertempuran yang baru saja terjadi kepada orang yang berjubah abu-abu itu. Siapakah gerangan orang yang telah menjadi teka-teki sampai bertahun-tahun itu? Kalau saja saat itu Ki Ageng Gajah Sora ada disampingnya, maka ia akan dapat mencari pertimbangan, bahwa pasti orang itulah yang telah mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru.

Tetapi apakah gerangan maksud yang sebenarnya? Dan kenapakah orang itu tiba-tiba saja muncul pada saat dirinya terancam bahaya? Bahaya yang hampir saja tak dapat dihindarkan. Apalagi dalam pertanggungjawabannya terhadap seluruh anak buahnya. Tetapi bayangan itu kini sudah lenyap. Yang tinggal hanyalah beberapa masalah, pertanyaan-pertanyaan dan teka-teki yang bercampur baur berputar-putar di dalam otak Mahesa Jenar. Campurbaur antara gambaran - gambaran hari esok serta kenangan hari kemarin yang kadang-kadang tak dapat ditemukan sendi-sendi penyambungnya.

Dalam pada itu sekali lagi Mahesa Jenar terkejut. Kali ini lamat-lamat ia mendengar suara tembang. Jauh sekali, meskipun setiap kata yang terlontar dapat didengarnya dengan jelas. Mahesa Jenar menjadi termangu-mangu. Siapakah yang berdendang di tengah malam, diantara bau mayat dan darah ini...? Mula-mula pikirannya terbang kepada Ki Ageng Pandan Alas. Namun ternyata suara itu lain. Bukan suara yang sudah sering didengarnya.

Ketika dendang itu telah genap satu bait, ternyata terdengar diulangnya kembali. Kata demi kata didengarnya dengan seksama.

"Memanising manungsa sejati, sesantine mring laku utama, lukita mesu budine, meruhi hawa lan napsu, mrih sampurna lair lan batin, kanti atapa brata, gegulang mrih hayu, hayuningrat sak isinya, rumantine rinakit budi pakarti, tata gatining jalma."

 

 

Dikompilasi dari harian Kedaulatan Rakyat oleh:
Mimbar Seputro
Updated 2 Juni 2000

G