NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
361
KETIKA mengetahui bahwa ternyata pimpinan pasukan gabungan dari Pamingit
dan gerombolan golongan hitam, Mahesa Jenar melihat bahwa pasukannya tidak
mungkin lagi dapat tertolong apabila pertempuran diteruskan. Karena itu,
diputuskannya untuk perlahan-lahan menarik diri, dan apabila mungkin besok dapat
disusun kembali dengan gelar yang menguntungkan. Tetapi belum lagi ia memberikan
aba-aba, tampaklah sayap-sayap pasukannya menjadi kacau balau.
Ternyata Sima Rodra Tua sudah tidak dapat lebih lama lagi bertahan melawan orang
yang berjubah abu-abu itu. Malahan tidak itu saja. Orang yang berjubah abu-abu
itu masih dapat melakukan tekanan-tekanan berat pada Jaka Soka dan bahkan Bugel
Kaliki, disamping lawannya sendiri.
Hal inilah yang kemudian memaksa Sima Rodra untuk menghindar sebelum binasa.
Sebab menurut perhitungannya, ia tidak mungkin lagi dapat melawan orang itu.
Dengan demikian, untuk keselamatannya dan keselamatan namanya sebagai seorang
tokoh sakti, lebih baik ia melarikan diri dengan tidak memperdulikan barisannya.
Yang diusahakan pada saat itu adalah untuk mencoba menyelamatkan anak
perempuannya, Janda Sima Rodra Muda. Tetapi agaknya ia sama sekali tidak diberi
kesempatan bergerak oleh lawannya. Dengan demikian usaha satu-satunya itupun
tidak dapat dilakukan.
Demikianlah maka Sima Rodra itu secepat ia dapat,
meloncat meninggalkan arena. Bahkan kemudian ternyata tidak saja Sima Rodra,
tetapi juga Bugel Kaliki. Ia bertempur semata-mata atas permintaan sahabatnya
itu, disamping kepentingannya sendiri yang tidak terlalu penting. Sebab ia dapat
melakukannya di saat lain. Ketika diketahuinya bahwa sahabat yang membawanya itu
menghilang dari pertempuran, iapun tidak merasa perlu untuk bertempur lebih lama
lagi. Apalagi, ia dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal
terjadi apabila ia berkelahi terus.
Karena itu segera iapun membenamkan dirinya dalam gelombang pertempuran itu dan
seterusnya menghilang. Dengan demikian, maka kacaulah laskar yang berada di
dalam pasukan-pasukan kedua orang itu, yang semula merupakan gading-gading dari
gelar Dirata Meta, yang kemudian berubah menjadi gelar Gelatik Neba. Karena
kekacauan itulah maka satuan pasukan Pamingit dan Gunung Tidar menjadi rusak
sama sekali. Beberapa orang kemudian berbuat seperti pimpinan mereka. Berusaha
melarikan diri mereka masing-masing.
Melihat kekacauan yang timbul di dalam barisannya, Galunggung masih berusaha
untuk memberikan aba-aba. Maksudnya, supaya pasukannya mundur dengan teratur.
Tetapi usahanya sia-sia. Jaka Soka yang merasa ditinggalkan oleh orang-orang
sakti diatasnya, merasa menjadi terlalu kecil pula, sehingga dengan demikian
iapun sedapat mungkin menyelamatkan diri.
Dalam kekacauan pertempuran itu, Kebo Kanigara kehilangan jejak lawannya.
Apalagi cahaya bulan muda itu sama sekali tidak mampu menembus tebalnya kabut
yang masih mengepul tebal. Sedangkan orang yang berjubah abu-abu itu agaknya
sama sekali tidak bernafsu untuk mengejar lawannya.
Di bagian lain, sepasang Uling yang bertempur dengan Mahesa Jenar masih sempat
mempertahankan kerampakan orang-orangnya. Meskipun mereka kemudian juga
melarikan diri, namun mereka tetap masih merupakan sebuah kesatuan. Bahkan
beberapa orangnya yang berani, selalu berusaha untuk melindungi pimpinan mereka
dari kejaran Mahesa Jenar, sehingga akhirnya mereka berhasil menghilang dibalik
kepulan debu yang tebal.
Mahesa Jenar terpaksa menghentikan pengejarannya dan kembali kepada induk
pasukannya. Namun sampai di bekas tempat pertempuran itu, ia terkejut ketika ia
masih melihat dua orang yang bertempur mati-matian. Mereka, kedua orang itu,
yang sejak semula tidak menghiraukan peperangan yang baru saja terjadi, sampai
kini masih saja bergulat diantara hidup dan mati. Mereka itu adalah Janda Sima
Rodra Muda melawan Rara Wilis dengan pakaian laki-lakinya, yang dalam bentuknya
itu ia lebih senang disebut Pudak Wangi.
Janda Sima Rodra sebenarnya menyadari pula bahwa pasukan Pamingit dan Gunung
Tidar tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Bahkan sebenarnya iapun ingin ikut
serta lenyap bersama mereka. Namun agaknya usahanya dapat digagalkan oleh Rara
Wilis yang menahannya dengan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan perempuan
yang ganas itu. Kata Rara Wilis ketika ia melihat Harimau Betina itu sedang
mencari jalan keluar, "Ibu yang baik.... Jangan hentikan permainan itu.
Bukankah sewajarnya kalau seorang ibu mengajari anaknya bermain. Jangan takut
orang lain akan turut campur. Persoalan kita adalah persoalan pribadi, sehingga
aku tidak mau ada orang lain yang ikut dalam persoalan ini."
"Bohong!" jawab janda itu, "Kau akan menjebak aku."
Rara Wilis tertawa menyakitkan hati. Katanya, "Aku bukan jenismu, yang suka
berdusta. Kau akan dapat melihat padaku, satunya kata dan perbuatan. Kalau kau
memang tidak berani berhadapan dengan cara ini, lebih baik kau berjongkok
dibawah telapak kakiku, untuk mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dengan senang
hati aku akan memaafkanmu."
Sebagai seorang yang telah lama terbenam dalam lumpur, Janda Sima Rodra merasa
dihinakan oleh seorang gadis yang kebetulan adalah anak tirinya. Karena itu, ia
menjadi mata gelap. Ia menjadi sama sekali tidak menaruh perhatian kepada
keadaan sekelilingnya. Biarlah seandainya kemudian orang-orang lain akan
mengeroyoknya. Asal ia lebih dahulu dapat menyobek mulut perempuan yang
menghinanya itu.
Setelah itu, hidup matinya tidak berharga lagi baginya, seandainya ia harus mati
ditengah-tengah musuh-musuhnya. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Rara Wilis
berteriak nyaring kepada orang-orang yang mengerumuninya setelah pasukan dari
Pamingit dan Gunung Tidar meninggalkan arena, "Jangan ada seorangpun yang
mencampuri urusan ini, sebab persoalan kami bukanlah persoalan kalian. Juga
jangan sesalkan siapapun yang akan binasa diantara kami. Sebab kami telah
memilih cara seorang ksatria dalam penyelesaian masalah kami, masalah yang
terjadi antara anak dan ibu tirinya yang durhaka."
362
SETIAP dada mereka yang mendengar suara itu berdesir. Bahkan Janda Sima
Rodra yang ganas itu menjadi semakin kagum juga pada keberanian lawannya yang
jauh lebih muda darinya. Tetapi karena itulah ia menjadi lebih bernafsu untuk
membinasakan gadis yang sombong itu. Sehingga dengan demikian Harimau Liar
Berbisa itu bertempur semakin garang. Kuku-kukunya yang dibalut logam berbisa,
mengembang dan menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Kesepuluh ujung jari itu
kemudian seolah-olah mengurung setiap kesempatan menghindar bagi Rara Wilis.
Sebaliknya, Rara Wilis telah menyimpan dendam di dalam dada hampir sepanjang
umurnya. Tiba-tiba pada saat itu, terbayanglah dengan jelas betapa perempuan itu
datang kepada ayahnya. Sekali-kali ia menggertak dengan kasarnya, sekali-kali
merayu dengan manisnya. Dan karena itulah ayahnya dapat dijebak dalam
perangkapnya.
Terbayang pula betapa ibunya, seorang perempuan lugu, menangis memeluknya pada
umurnya yang masih sangat muda. Jelas menerawang di dalam otak Rara Wilis, pada
saat-saat perempuan itu memarahinya kalau ia menyusul ayahnya. Bahkan memukul
dan mencambuknya. Namun ayahnya sama sekali tidak membantunya. Sehingga akhirnya
sampailah keluarga Rara Wilis berada pada puncak kesengsaraan. Ayahnya terusir
oleh tetangga-tetangganya. Kemudian karena sedih dan malu, ibunya, satu-satunya
orang didunia ini yang dapat dijadikan tempat untuk menyangkutkan cinta,
meninggal dunia. Lebih dari itu, perempuan itu kemudian ternyata telah menyeret
ayah Rara Wilis dan membenamkannya ke dalam lumpur bersama-sama dengan diri
perempuan itu sendiri, yang memang berasal dari dalam lumpur paling kotor.
Karena angan-angan itulah maka Rara Wilis telah membulatkan tekadnya. Perempuan
itu atau dirinya sendiri yang binasa dalam pengabdian kepada kesetiaan terhadap
ibunya, terhadap keluarganya, serta kesetiaan kepada tekadnya untuk melenyapkan
sumber kejahatan. Baginya, perempuan yang demikian jauh lebih berbahaya daripada
laki-laki yang bagaimanapun garangnya. Perempuan yang dapat berlaku manis dan
merayu, bermodalkan parasnya yang cantik, namun kemudian menyeret korbannya ke
jurang yang paling dalam sampai tidak dapat timbul kembali.
Terdorong oleh perasaan itulah maka kemudian Rara Wilis bertempur dengan gagah
berani. Bahkan tenaganya seolah-olah menjadi berlipat-lipat. Meskipun demikian,
mereka yang menyaksikan, Kebo Kanigara, Wanamerta, kemudian menyusul Mahesa
Jenar dan orang yang berjubah abu-abu yang berdiri agak jauh beserta seluruh
laskar Gedangan, terpaksa beberapa kali menahan nafas. Sebab ternyata Harimau
Betina itu benar-benar mempunyai cara bertempur yang berbahaya. Sesekali ia
meloncat menerkam dengan garangnya. Tetapi kemudian dengan teguhnya berdiri
menanti serangan-serangan lawannya.
Demikianlah dalam beberapa saat kemudian tampaklah bahwa Harimau Betina itu
memang lebih berbahaya daripada lawannya yang sama sekali tak bersenjata.
Apalagi Janda Sima Rodra selain memiliki senjata-senjata yang melekat di
ujung-ujung jarinya yang berjumlah sepuluh, ia memang memiliki pengalaman yang
lebih luas. Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi kurang adil. Meskipun
tampaknya Janda itu tidak bersenjata, namun hakekatnya, kuku-kunya itulah
senjata andalannya.
Tetapi tak seorangpun berani mencampuri pertempuran itu. Setiap usaha untuk
mencampurinya, akan dapat menimbulkan akibat yang kurang baik. Sebab, Rara Wilis
akan dapat tersinggung perasaannya, dan merasa direndahkan. Karena itu yang
dapat mereka lakukan hanyalah menyaksikan pertempuran yang berlangsung di bawah
cahaya bulan yang remang-remang sambil sekali-sekali menahan nafas.
Apalagi, ketika mereka telah bertempur lebih lama lagi. Janda Sima Rodra sudah
terlalu biasa melakukan pertempuran-pertempuran kasar dan lama, sedangkan Rara
Wilis hampir belum pernah mengalami pertempuran yang sedemikian lamanya. Sehari
penuh.
Dengan demikian tampaklah bahwa tenaga Rara Wilis menjadi bertambah lemah. Hanya
karena kemauannya yang sangat kuatlah yang menjadikannya kuat bertahan. Meskipun
demikian terasa pula olehnya, bahwa perempuan liar itu memiliki beberapa
kelebihan daripada Wilis. Sehingga sambil bertempur terpaksa Rara Wilis mencari
titik-titik kekuatan lawannya. Akhirnya ditemukannya apa yang dicarinya itu.
Kelebihan itu terletak pada kuku-kukunya yang sangat berbahaya seperti yang
pernah dikatakan oleh Mahesa Jenar. Pada beberapa saat yang lalu ia pernah pula
bertempur dengan janda itu, namun kemudian Janda Sima Rodra agaknya telah tekun
menambah kekuatannya, sehingga sambaran kuku-kukunya itu menjadi jauh lebih
berbahaya.
Oleh penemuannya itu, maka terasalah olehnya, bahwa wajarlah kalau ia selalu
terdesak oleh lawannya. Sebab dengan mengenakan salut logam di ujung kuku-kukunya
itu berarti bahwa ia telah melawan seseorang yang bersenjata dengan tangan hampa.
Karena itu, Rara Wilis menjadi tidak ragu-ragu lagi. Dengan gerak yang cepat,
sekejap kemudian di tangannya telah tergenggam sehelai pedang yang tipis.
Seterusnya dengan lincahnya ia menggerakkan pedang itu melingkar-lingkar
membingungkan, dengan ilmu pedang khusus ajaran perguruan Pandan Alas.
Janda Sima Rodra terkejut melihat kilatan pedang itu. Apalagi kemudian
disaksikannya ilmu pedang yang sangat berbahaya. Ujung pedang itu nampaknya
selalu bergetar membingungkan. Tetapi ia adalah seorang yang berpengalaman
melawan hampir segala jenis senjata. Karena itu sesaat kemudian ia telah dapat
mengendalikan diri dalam keseimbangan gerak-gerak lawannya. Meskipun demikian,
kekuatan Rara Wilis kini bertambah karena tajam pedangnya itu. Dengan demikian
ia menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi bertambah sengit dan
cepat. Karena kilatan sinar bulan, pedang yang diputarnya cepat-cepat itu
seolah-olah telah berubah menjadi ribuan mata pedang gemerlapan menusuk dari
segenap arah.
363
DALAM keadaan yang demikian, Janda Sima Rodra menjadi semakin gelap mata.
Serangan-serangannya menjadi bertambah cepat, namun menjadi semakin kehilangan
pengamatan. Apalagi ketika gerakan-gerakan Rara Wilis menjadi semakin mapan,
makin terdesaklah Janda Sima Rodra.
Akhirnya Harimau Betina itu menjadi putus asa. Sambil
mengaum nyaring ia menyerang dengan tenaga yang ada padanya. Mahesa Jenar, Kebo
Kanigara dan yang lain-lain menjadi terkejut melihat serangan yang ganas itu.
Sebab bila Rara Wilis lengah sedikit saja, dadanya pasti dapat dirobek oleh
lawannya. Tetapi untunglah bahwa dengan pedang di tangan, Rara Wilis menjadi
agak tenang, sehingga pengamatannya atas lawannya menjadi semakin jelas pula.
Maka ketika Janda Rodra menerkamnya, segera Rara Wilis meloncat ke samping, dan
sambil merendahkan diri, tangannya bergerak dengan cepat, sehingga pedang tipis
itu terjulur lurus ke depan. Demikianlah ujung pedang tipis itu terasa menyentuh
sesuatu dan tanpa sadar pedang itu telah tenggelam ke dada lawannya dibarengi
teriakan yang mengerikan.
Rara Wilis adalah seorang yang telah menerima ilmu yang cukup banyak. Namun
dalam perjalanan hidupnya ia sama sekali tidak bermimpi bahwa pada suatu saat,
dengan pedang di tangannya, akan ditembusnya dada seseorang. Memang, ia
bercita-cita untuk dapat membalas sakit hatinya dengan melenyapkan perempuan
yang telah menyeret ayahnya ke dalam lembah kehinaan. Namun, ketika
angan-angannya itu kini dapat diwujudkan, dengan membenamkan pedang ke
dada perempuan itu, hatinya berguncang keras. Bagaimanapun kehalusan perasaannya
sangat terpengaruh karena itu. Apalagi kemudian ketika dilihatnya darah segar
menyembur dari luka di dada ibu tirinya. Maka tiba-tiba Rara Wilis pun menjerit
sambil melompat mundur. Ia tidak sempat menarik pedangnya, karena kedua belah
tangannya kemudian menutupi wajahnya. Bahkan sesaat kemudian ia terhuyung-huyung
jatuh. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dengan cekatan meloncat menangkapnya. Dan
ternyata kemudian Rara Wilis pingsan.
Beberapa orang segera menjadi ribut. Dipijit-pijitnya kening gadis itu oleh Kebo
Kanigara. Dan kemudian digerak-gerakkannya tangannya setelah pakaiannya
dikendirkan. Ternyata tubuh gadis itu telah basah kuyup oleh keringat.
Maka atas anjuran beberapa orang, dipapahnya Rara wilis kembali mendahului ke
pedukuhan, diantar oleh beberapa orang, dengan pesan apabila ada sesuatu yang
penting agar diberi tanda-tanda dengan kentongan.
Tinggalah kemudian diantara mereka, mayat Janda Sima Rodra. Seorang perempuan
yang telah menggemparkan masyarakat karena kelakuan-kelakuannya yang kotor.
Kecuali ia seorang penjahat, ternyata Janda Sima Rodra juga seorang yang
mempunyai kebiasaan yang mengerikan. Sebagaimana bekas-bekasnya pernah ditemukan
oleh Mahesa Jenar di Prambanan. Kebiasaan berpesta dengan upacara-upacara yang
memuakkan diantara mereka, gerombolan hitam, terutama gerombolan Sima Rodra.
Upacara yang hampir tak dapat dipercaya berlaku diantara mahluk yang bernama
manusia.
Pada saat yang demikian, bekas arena pertempuran itu menjadi sepi. Sesepi daerah
kuburan. Beberapa orang laskar Gedangan berdiri dengan kaku memandang
tubuh-tubuh yang bergelimpangan dari keduabelah pihak. Suasana menjadi bertambah
ngeri ketika terdengar di sana-sini suara rintihan yang menyayat hati. Maka
kemudian keluarlah perintah dari Mahesa Jenar untuk memelihara orang-orang yang
terluka dari pihak manapun.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar menjadi gelisah, bahwa sejak tadi ia sama sekali
belum melihat Arya Salaka diantara mereka. Karena itu Mahesa Jenar menjadi
gelisah. Sejak semula perhatiannya terikat penuh pada pertempuran antara Janda
Sima Rodra dan Rara Wilis. Sedang pada saat itu tak seorang pun yang masih
tampak di daerah bekas pertempuran, selain mereka yang masih bergerombol itu.
"Ada yang kau cari...?" terdengar Kebo Kanigara bertanya, ketika
dilihatnya Mahesa Jenar melayangkan pandangan berkeliling.
"Arya..." jawab Mahesa Jenar pendek.
Serentak mereka yang mendengar jawaban Mahesa Jenar itu tersadar, bahwa anak itu
memang sejak tadi tidak mereka lihat. Dengan demikian mereka pun menjadi gelisah.
Lebih-lebih Wanamerta, selain Mahesa Jenar sendiri.
"Siapakah yang berada di sayap kanan bersama anak itu?" teriak Mahesa
Jenar.
Seorang yang bertubuh pendek kegemuk-gemukan, dengan sebuah parang di tangan,
menjawab, "Aku... Tuan."
"Kau melihat anak muda itu...?" tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.
"Ya, aku melihat anak muda itu memimpin barisan kami," jawabnya pula.
"Di mana ia sekarang...?" desak Mahesa Jenar.
Orang yang bertubuh pendek itu berpikir sejenak untuk mengingat apa yang
dilihatnya. Kemudian katanya, "sejak matahari terbenam aku tidak
menyaksikannya lagi."
"Lalu siapa yang memegang pimpinan?" tanya Mahesa Jenar seterusnya.
"Ya, sejak saat itulah anak muda itu hilang dari antara kami, sejak ia
memberikan perintah untuk menjadikan sapit kanan, khusus dalam gelar Jaring
Gumelar," jawab orang itu.
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Anak itu ternyata benar-benar cerdas, dengan
memilih gelar khusus bagi pasukannya. Karena dengan gelar itu sapit kanan akan
menjadi lincah. Namun aneh bahwa untuk seterusnya anak buahnya tidak melihatnya
lagi.
"Adakah anak itu terikat dengan lawan?" tanya Mahesa Jenar kemudian.
"Ya, Tuan..." jawab orang bertubuh pendek kegemuk-gemukan itu, "Aku
lihat hal itu. Anak muda itu bertempur melawan anak muda yang sebaya, bertubuh
kuat gagah seperti anak muda yang memimpin kami, Arya Salaka."
"Sawung Sariti..." desis Mahesa Jenar. Meskipun demikian dadanya menjadi
berdebar-debar. Anak itu adalah murid Ki Ageng Sora Dipayana. Apakah dalam
pertempuran itu Arya dapat dikalahkan...? Karena itu debar di dada Mahesa Jenar
makin bertambah.
364
"MARILAH kita cari," kata Mahesa Jenar kemudian, sambil melangkah
dengan cepatnya ke arah bekas arena sayap kanan, diikuti beberapa orang termasuk
Kebo Kanigara, Wanamerta, dan tidak ketinggalan Widuri pun mengikutinya dengan
berlari-lari kecil.
Dalam hal yang demikian, Mahesa Jenar telah melupakan sama sekali orang yang
berjubah abu-abu, yang sebenarnya banyak menarik perhatiannya. Namun masalah
Arya Salaka baginya merupakan masalah yang tidak kalah pentingnya.
Tetapi ketika baru saja ia melangkah beberapa langkah, dilihatnya orang berjubah
abu-abu itu berlari mendahuluinya, seakan-akan ada sesuatu yang penting dalam
usahanya untuk mencari Arya Salaka.
Demikianlah, beberapa orang yang lain pun segera berlari-lari pula. Sementara
itu Widuri pun telah berada di dalam bimbingan tangan ayahnya, sambil menggerutu,
"Kenapa kau ikut juga, Widuri...? Lebih baik kau kembali ke Gedangan
bersama-sama bibi Wilis."
Widuri tertawa kecil, lalu jawabnya, "Sebenarnya akupun sudah terlalu lapar."
"Nah, kembalilah biar seseorang mengantarmu," sahut ayahnya.
"Akulah yang akan mengantarnya kalau seseorang ingin pulang kembali,"
jawab anak itu sambil tertawa.
"Jangan sombong," potong ayahnya, "Pulanglah."
"Tidak mau," jawab gadis tanggung yang nakal itu.
Kalau sudah demikian Kebo Kanigara tidak akan dapat memaksanya lagi. Terpaksa ia
menggandeng anaknya sambil berlari mengikuti Mahesa Jenar.
Orang yang berjubah abu-abu itu
masih saja berlari ke suatu arah. Seolah-olah ada yang menunggunya di sana.
Sedangkan Mahesa Jenar masih selalu berada di belakangnya.
Tiba-tiba dalam pada itu, dalam garis arah yang dituju oleh orang berjubah
abu-abu itu, tampaklah dalam keremangan cahaya bulan yang kekuning-kuningan, dua
bayangan yang selalu bergerak-gerak dengan cepatnya. Oleh ketajaman matanya,
segera Mahesa Jenar dapat menangkap bayangan itu. Bayangan dari dua orang yang
sedang bertempur diantara hidup dan mati.
Melihat kedua orang yang bertempur itu dada Mahesa Jenar bergetar. Karena itu
seakan-akan mempercepat langkahnya, sehingga semakin lama bayangan itu
seakan-akan menjadi semakin besar dan jelas. Akhirnya Mahesa Jenar dapat
meyakinkan dirinya, bahwa yang bertempur mati-matian itu adalah Arya Salaka
melawan Sawung Sariti.
Dalam pada itu, ketika Mahesa jenar telah melihat muridnya bertempur, kembali
perhatiannya terampas habis, sehingga ia melupakan pula orang yang berjubah
abu-abu itu. Dengan demikian ketika ia dengan penuh perhatian berlari-lari
mendekati titik pertempuran itu, ia tidak lagi dapat mengetahui ke mana orang
yang berjubah abu-abu itu pergi.
Ketika Mahesa Jenar beserta beberapa orang lain tiba, untuk sesaat terhentilah
pertempuran itu. Sawung Sariti meloncat beberapa langkah surut sambil berkata
mengejek, "Kakang Arya Salaka, lihatlah orang-orangmu datang. Tidakkah lebih
baik kalau mereka kau suruh bertempur pula melawan aku bersama-sama dengan
Kakang...?"
Sekali lagi Mahesa Jenar merasa tidak senang sama sekali atas kesombongan itu.
Meskipun demikian dibiarkannya muridnya menjawab. Katanya, "Adakah kau
bermaksud demikian?"
"Tentu," jawab Sawung Sariti. "Dengan demikian aku akan dapat
menyelesaikan pekerjaanku sekaligus."
"Sayang," sahut Arya salaka, "Aku berkehendak lain. Aku ingin kau lebih
lama bekerja di sini. Mengalahkan kami satu demi satu, kalau kau mampu."
"Apakah sulitnya?" potong anak yang sombong itu.
Arya Salaka tersenyum, katanya, "Kalau kau harus menyelesaikan pertempuran
melawan aku seorang sampai satu hari satu malam, misalnya, berapa hari kau
perlukan untuk melawan sekian banyak orang satu demi satu?"
Aku tidak peduli, jawab Sawung Sariti. Meskipun demikian, mungkin aku
dapat memaafkan yang lain-lain, sebab mereka tidak bersalah kepadaku.
Kau belum mengatakan kepadaku, apakah salahku, sahut Arya Salaka. Sebab
kau begitu saja menyerang aku.
Sawung Sariti tertawa pendek, jawabnya, Kenapa beberapa waktu lalu kita
bertempur di Gedangan ini pula? Nah, ketahuilah bahwa apa yang aku lakukan
sekarang adalah kelanjutan dari persoalan itu.
Terdengar Arya Salaka tertawa pula. Katanya, Supaya aku tidak dapat
mengatakan kemana Paman Sawungrana kau singkirkan...?
Wajah Sawung Sariti berubah menjadi semburat merah. Apalagi diantara orang-orang
yang datang kemudian terdapat Wanamerta. Meskipun demikian ia menjawab, Kau
benar. Dan setiap orang yang tidak mau berjanji untuk merahasiakan hal itu
kepada orang-orang Banyubiru akan aku binasakan juga.
Bagus... jawab Arya Salaka, Mulailah.
Sekali lagi Sawung Sariti memandang orang-orang yang berjajar mengelilinginya
satu demi satu. Seolah-olah ia sedang menghitung waktu yang akan diperlukan
untuk membinasakan mereka itu seorang demi seorang. Namun ketika terpandang
olehnya wajah Mahesa Jenar yang tenang teguh, serta seorang laki-laki di
sampingnya dengan seorang gadis tanggung yang cantik di tangannya, hati Sawung
Sariti tergetar.
365
SAWUNG Sariti merasa perlu untuk meyakinkan bahwa Mahesa Jenar tidak akan
melibatkan diri dalam pertempuran. Katanya. Paman Mahesa Jenar, apakah Paman
juga tertarik pada permainan ini? Kalau benar demikian aku persilakan Paman
membantu kakang Arya Salaka.
Mahesa Jenar tahu arah bicara anak itu. Jawabnya, Kau tak perlu berkecil hati
Sawung Sariti. Meskipun kami bukan orang-orang yang memiliki gelar ksatria,
namun kami mengenal sifat-sifat kejantanan. Apalagi terhadap anak-anak seperti
kau ini.
Sawung Sariti merasa tersinggung karenanya. Meskipun demikian ia menjadi
berbesar hati bahwa ia telah mendapat jaminan, bahwa ia dibiarkan bertempur
seorang melawan seorang dengan Arya Salaka. Karena itu ia meneruskan, Nah
kalau demikian relakan murid Paman ini binasa karena ketamakannya.
Mahesa Jenar tidak menjawab. Namun terpaksa ia menahan hatinya yang sama sekali
tidak senang atas kata-kata itu. Juga Arya Salaka merasa tidak perlu
berkata-kata lagi. Karena itu, segera ia mempersiapkan diri untuk meneruskan
pertempuran yang telah berjalan demikian panjangnya.
Sawung Sariti pun bersiap pula. Mulutnya terkatup rapat, tangannya bersilang di
depan dadanya. Kemudian dengan sebuah loncatan yang cepat ia mulai menyerang.
Geraknya lincah dan tangkas sesuai dengan ajaran-ajaran yang pernah diterimanya
dari seorang guru yang mumpuni. Dimodali dengan tubuhnya yang kokoh kuat serta
otak yang cerdas licin. Namun lawannya bukan pula anak larahan. Tetapi ia adalah
murid seorang yang berhati jantan dan bertekad baja, serta telah mengalami
tempaan yang luar biasa beratnya untuk mewarisi ilmu keturunan Ki Ageng Pengging
Sepuh, tidak saja dari Mahesa Jenar, tetapi juga dari Kebo Kanigara langsung.
Karena itulah maka perkelahian yang terjadi merupakan perkelahian yang sengit
dan seimbang. Kedua-duanya dapat bergerak dengan lincahnya sambar-menyambar, dan
keduanya dapat bertahan dengan tangguh melawan setiap serangan. Mereka saling
desak-mendesak berganti-gantian silih ungkih singa lena.
Pukulan tangan Sawung Sariti menyambar-nyambar berdesingan, namun Arya Salaka
dengan tangkasnya selalu dapat menghindari. Namun sekali-sekali tangan itu
berhasil pula mengenai tubuhnya. Demikianlah pada suatu saat sebuah sambaran
tangan Sawung Sariti hinggap di dada Arya Salaka sedemikian kerasnya sehingga
Arya terdorong surut. Tetapi Sawung Sariti tidak mau membiarkan kesempatan itu.
Cepat ia meloncat maju dan sekali lagi menyerang dengan kakinya ke arah lambung
ketika Arya masih belum dapat menjaga keseimbangannya dengan baik.
Ketika Arya melihat serangan itu, ia tidak dapat berbuat lain daripada
melindungi lambungnya dengan tangan, namun karena desakan yang keras, serta
keseimbangannya yang belum pulih benar. Sekali lagi Arya terdorong, bahkan lebih
keras sehingga ia jatuh berguling. Sekali lagi Sawung Sariti mendesak maju.
Dengan sebuah loncatan ia berusaha untuk menerkam dan menindih Arya. Kedua
tangannya terjulur ke depan ke arah leher lawannya.
Pada saat yang demikian Arya melihat bahaya yang bakal datang apabila lawannya
benar-benar dapat mencekik serta menindih tubuhnya. Maka ketika ia melihat tubuh
itu melayang ke arahnya, segera ia menelentang dan dengan sekuat tenaganya ia
mendorong tubuh itu dengan kedua kakinya tepat pada bagian bawah perutnya.
Demikianlah Sawung Sariti terdorong keras ke depan, melampaui tubuh Arya Salaka.
Namun Sawung Sariti mempunyai ketangkasan yang cukup pula. Dengan berguling ia
dapat menyelamatkan tubuhnya dari benturan yang keras. Bahkan ia segera dapat
loncat berdiri. Tetapi pada saat itu Arya telah siap pula. Bahkan ia berhasil
mendahului menyerang. Dengan sebuah loncatan yang panjang Arya memukul rahang
lawannya. Kali ini Sawung Sariti tidak berhasil menghindar.
Dengan sebuah sentakan yang keras, kepala terangkat sambil tergetar mundur.
Dengan penuh nafsu Arya sekali lagi melangkah serta mengayunkan tangannya ke
arah perut lawannya. Terdengarlah suara yang tersekat di kerongkongan, dan tubuh
Sawung Sariti terbungkuk ke depan. Namun ketika Arya mengulangi serangannya,
dengan cepatnya Sawung Sariti demikian saja menjatuhkan dirinya. Kali ini tangan
Arya terayun diatas kepala lawannya tanpa menyinggungnya. Sehingga malahan
tubuhnya terseret oleh kekuatannya sendiri.
Pada saat itulah Sawung Sariti menghantam dadanya dengan kakinya yang kokoh.
Suaranya gumebruk seperti terhantam batu. Sekali lagi Arya terlontar mundur. Dan
sekali lagi Sawung Sariti mendesaknya dengan pukulan-pukulan. Sehingga akhirnya
punggung Arya membentur dinding karang yang tegak di belakangnya.
Pada saat yang demikian Arya tidak lagi dapat melangkah surut. Karena itu ketika
Sawung Sariti menghantamnya, Arya melawannya dengan sebuah tendangan mendatar.
Maka terjadilah suatu benturan yang keras. Arya Salaka dapat menekankan
punggungnya pada karang di belakangnya, sehingga ia seolah-olah mendapat
tambahan kekuatan. Dengan demikian Sawung Sariti terdorong mundur beberapa
langkah. Meskipun demikian terasa betapa pedihnya punggung Arya, yang ternyata
menjadi luka karena tajamnya karang-karang itu. Bahkan kemudian terasa cairan
hangat meleleh perlahan-lahan di bawah bajunya yang tersobek.
Darah.
Mengalami peristiwa itu Arya menjadi semakin marah. Karena itu ia menjadi
bertambah garang. Serangannya yang datang kemudian menjadi bertambah berbahaya.
Dengan melontarkan diri ia maju menyerang dada. Tetapi Sawung Sariti telah siap.
Sehingga dengan cepat ia meloncat ke samping, dan membalas menyerang dengan
sebuah pukulan ke arah muka lawannya.
Melihat lawannya lepas, Arya menarik serangannya, dan ketika ia melihat tangan
Sawung Sariti melayang ke wajahnya, secepat kilat tangan itu ditangkapnya.
Dengan membalikkan diri serta menekuk lututnya sedikit, Arya menarik tangan itu
keras-keras diatas pundaknya, dan dengan dorongan pundak itu Arya melemparkan
tubuh lawannya ke depan
.
Dikumpulkan oleh Mimbar Seputro
Updated 31 May 2000
http://gajahsora.net
G