NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
346
SEKALI lagi dada Mahesa Jenar berdesir. Lebur Sekethi adalah kesaktian
yang luar biasa dahsyatnya. Aji itu dapat disejajarkan dengan aji Cundha Manik
dari Perguruan Pandan Alas, Sasra Birawa dari Perguruan Pengging. Karena itu Ki
Ageng Lembu Sora yang memiliki kekuatan melampaui manusia biasa dengan pedangnya
yang tidak berukuran lumrah pasti akan menjadi seorang yang luar biasa pula.
Juga anaknya yang cerdik itu, pasti akan menjadi anak yang sangat berbahaya.
Mahesa Jenar kemudian menjadi menyesal pada keadaan, sehingga Ki Ageng Sora
Dipayana dapat terseret dalam keadaan yang pasti tidak dikehendaki sendiri.
Tetapi kemudian diingatnya bahwa orang tua itu sendiri berkata kepadanya, bahwa
Lembu Sora adalah anak kesayangan istrinya. Tidak mustahil kalau karena keadaan
itu Lembu Sora dapat memanfaatkannya dengan baik.
“Agaknya...” lanjut Wanamerta, “Kakang Sora Dipayana lebih percaya
kepada cerita Lembu Sora bahwa Anakmas Gajah Sora telah tidak ada lagi. Dengan
licinnya ia berpura-pura mengutus seseorang ke Demak untuk mendapat berita
kematiannya. Sebab dalam perjalanan ke Demak, pada saat Anakmas Gajah Sora
ditangkap, Laskar Banyubiru telah mengadakan suatu serangan secara tiba-tiba.”
“Suatu cerita atas kebohongan yang maha besar,” sahut Mahesa Jenar,
“Sebab aku menyaksikan semuanya itu. Bahkan aku tahu pasti bahwa yang menyerang
pasukan Demak adalah orang-orang Lembu Sora sendiri.”
Mendengar bantahan Mahesa Jenar itu, Wanamerta tersenyum. Lalu katanya,
“Kami, Laskar Banyubiru, mengetahui kebohongan itu. Sebab andaikata apa yang
dikatakan itu benar, kamilah orang-orangnya yang disebutnya Laskar Banyubiru,
atau setidak-tidaknya aku mengetahui orang-orang itu.”
“Tidakkah Paman Wanamerta mengatakan hal itu kepada Paman Sora Dipayana?”
tanya Mahesa Jenar.
“Aku sudah mencobanya,” jawab Wanamerta. “Tetapi agaknya keteranganku
itu diragukan. Bahkan beberapa saat kemudian Ki Ageng Lembu Sora mulai bertindak
memperkokoh kedudukannya di Banyubiru. Beberapa orang telah disingkirkan.
Sawungrana sebagai kau ketahui telah dibinasakan. Sebelum itu Pandan Kuning
telah dilenyapkan pula.”
“Paman Pandan Kuning...?” potong Arya Salaka hampir berteriak.
Wanamerta mengangguk kosong. Wajahnya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis umur
menjadi semakin berkerut-kerut. “Ya, Pandan Kuning hilang beberapa saat
sebelum Sawungrana. Kemudian datang giliran Bantara dan Panjawi,” tegasnya.
“Juga kedua paman itu...?” kembali Arya berteriak.
“Untunglah bahwa kedua orang itu sempat mempertahankan dirinya, meskipun
kemudian harus meninggalkan Banyubiru,” lanjut Wanamerta.
Mendengar kata-kata terakhir itu, tiba-tiba Arya meloncat maju. Sambil berdiri
tegak di atas kedua kakinya yang kuat, anak itu menengadahkan wajahnya yang
keras penuh gelora yang terlontar dari dadanya. Ia menjadi demikian marahnya
sampai tubuhnya seperti orang kedinginan. Kemudian ia berkata dengan suara
gemetar, “Tidakkah seorang pun dapat mencegah perbuatan itu...? Eyang
Wanamerta, aku tidak akan menunggu sampai mereka datang mencari aku. Aku yang
akan datang ke Banyubiru. Aku yakin bahwa sebagian besar dari penduduk Banyubiru
masih setia kepada ayah Gajah Sora. Aku akan datang atas nama pimpinan tanah
Perdikan Banyubiru yang sebenarnya.”
Semua yang menyaksikan tingkah laku Arya Salaka itu dadanya menjadi bergetar.
Agaknya dalam dada anak itu benar-benar mengalir darah kepemimpinan yang kuat
dengan penuh rasa tanggung jawab, meskipun masih dipengaruhi oleh masa remajanya
yang melonjak-lonjak. Lebih - lebih Wanamerta. Sekali lagi hatinya dirangsang
oleh perasaan haru yang mendalam, sehingga kembali matanya tampak mengaca.
Tetapi ia adalah seorang yang telah banyak merasakan pahit manisnya kehidupan.
Juga dialah yang paling mengetahui keadaan Banyubiru yang sebenarnya.
Karena itu dengan sabarnya Wanamerta mencoba menenangkan hati Arya Salaka.
“Duduklah cucuku Arya Salaka. Kau benar-benar seperti ayahmu pada saat-saat
seumur kau ini. Tetapi dalam segala tindakan haruslah dipikirkan sampai
titik-titik yang sekecil-kecilnya, untung dan ruginya.”
Arya kemudian menjadi tersadar dari gelora hatinya, sehingga ditundukannya
wajahnya. Ia kemudian menjadi agak malu kepada dirinya sendiri, yang seolah-olah
menjadi seorang perkasa yang tak terlawan. Sedang di dekatnya duduk orang-orang
seperti gurunya Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, dan yang lain.
Kemudian bahkan keadaan menjadi hening. Yang terdengar hanyalah angin pegunungan
yang berdesir di dedaunan. Udara malam yang dingin terasa mengusap tubuh. Sesaat
kemudian barulah Wanamerta mulai berbicara kembali, “Anakmas Mahesa Jenar...
terserahlah atas segala pertimbangan Anakmas. Apakah yang sebaiknya kita lakukan.”
Mahesa Jenar sekali lagi mengerutkan keningnya. Meskipun sebelum ia sampai ke
Banyubiru beberapa tahun lalu tidak ada sangkut pautnya dengan tanah perdikan
itu, namun sekarang tiba-tiba ia seakan-akan menjadi orang yang ikut
bertanggungjawab. Tetapi ia tidak akan menyingkirkan diri dari kepercayaan
Wanamerta kepadanya. Juga ia sendiri pernah menyatakan kesanggupannya untuk
membantu segala kesulitan yang mungkin timbul atas tanah perdikan itu kepada
Gajah Sora. Tentang Ki Ageng Sora Dipayana, Mahesa Jenar menduga pastilah
ada sebab-sebab lain kenapa orang tua itu berbuat demikian.
Sementara itu kembali terdengar Wanamerta meneruskan, “Kelakuan Anakmas Lembu
Sora tidak berhenti sampai sekian. Yang terakhir adalah usahanya untuk
menyingkirkan aku pula. Tetapi agaknya ia menemui kesulitan sehingga rencana itu
tertunda-tunda. Sedang aku sendiri sempat pula berusaha untuk menjaga diriku.
Sampai kemudian aku mendengar khabar akan usahanya untuk mencari kembali Anakmas
Mahesa Jenar dan cucuku Arya Salaka. Demikianlah, Anakmas, keadaan Banyubiru.
Sedemikian rumitnya sehingga aku tidak sabar menunggu sampai besok.”
347
MAHESA Jenar kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. beberapa saat
kemudian ia menjawab seperti orang bergumam kepada diri sendiri, “Tetapi
agaknya mereka tidak akan ke Gedangan. Sebab Sima Rodra itu tahu pasti bahwa aku
dan Arya Salaka telah meninggalkan pedukuhan itu. Bahkan merekapun telah pernah
mengepung bukit kecil ini.”
“Tetapi mereka tidak menemukan Anakmas di sini,” sahut Wanamerta. “Aku
telah mendengar hal itu pula. Namun agaknya Anakmas Sawung Sariti masih menduga
bahwa Anakmas dan Cucu Arya berada di sekitar Gedangan dan Karang Tumaritis.”
Masalahnya ternyata akan menjadi luas. Menyangkut daerah Gedangan dan sekaligus
padepokan yang damai ini. Beberapa saat yang lalu, daerah yang seolah-olah tidak
pernah tersentuh tangan - tangan dari luar padepokan ini telah dikacaukan oleh
kedatangan gerombolan orang-orang Sima Rodra untuk mencarinya, sekarang agaknya
akan mengalami keributan sekali lagi.
Apalagi ketika kemudian terdengar Wiradapa berkata, “Adimas Mahesa Jenar,
agaknya aku tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan hidup mati rakyatku
kepada Adimas. Sebab aku tahu apa yang akan terjadi seandainya kami, orang-orang
Gedangan sendiri yang harus mempertahankan diri atas dendam Sawung Sariti yang
menemui kegagalan di desa kami, dan sekaligus dendam yang tersimpan di dada
Janda Sima Rodra atas kematian suaminya.”
Mahesa Jenar dapat mengerti sepenuhnya keadaan itu. Karena itu ia harus
menemukan suatu cara untuk mengatasi keadaan.
Tiba-tiba bertanyalah ia kepada Wanamerta, “Paman..., di manakah Bantaran dan
Panjawi sekarang?”
“Aku sudah mencoba untuk menghubungi,” jawabnya. Mahesa Jenar menjadi
semakin tertarik pada keterangan itu, katanya, “Apakah Paman berhasil...?”
Wanamerta menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Sayang..., tidak. Tetapi
setidak-tidaknya aku pernah mendengar kabar tentang kedua orang itu. Agaknya
mereka telah berhasil menyusun barisan meskipun masih terlalu lemah. Bahkan
diantara mereka ada beberapa orang yang belum kami kenal, yang datang dari
daerah Candi Jonggrang. Ia menggabungkan dirinya karena ia sudah mengenal
beberapa hal mengenai keadaan Banyubiru."
“Siapa orang itu...?” tanya Mahesa Jenar.
“Aku belum tahu pasti,” jawab Wanamerta. “Menurut pendengaran
diantaranya bernama Mantingan dan Wirasaba.”
“Mantingan dan Wirasaba...?” ulang Mahesa Jenar hampir berteriak.
Wanamerta mengangguk. Namun ia menjadi keheranan. Agaknya Mahesa Jenar pernah
mendengar nama-nama itu. Karena itu ia bertanya, “Adakah Anakmas pernah
mengenal mereka?”
Mahesa Jenar mengangguk lemah. Jawabnya, “Ya, aku pernah mengenal mereka.
Mantingan memang pernah datang ke daerah Banyubiru. Ia tahu mengenai persoalan
Arya. Aku pernah mengatakan kepadanya.”
“Syukurlah,” gumam Wanamerta, “Ada juga kawan-kawan yang akan membantu
kami.”
Kembali suasana dicekam oleh kesepian. Masing-masing dengan angan-angannya
sendiri. Kebo Kanigara yang sejak tadi berdiam diri, nampak juga berpikir. Sebab
ia pun akhirnya akan langsung berkepentingan seandainya pasukan Sawung Sariti
tiba.
Panembahan Ismaya sama sekali tidak menghendaki kekerasan. Namun apakah ia akan
tinggal diam seandainya sekali lagi ada orang lain yang ingin merusakkan
kedamaian bukit ini.
Sedang Mahesa Jenar ternyata kemudian tidak pula dapat meningggalkan Kebo
Kanigara. Sebab dalam anggapannya, sepeninggal gurunya, maka Kebo Kanigara yang
dijumpainya kemudian itu, dapat dianggap sebagai gantinya, meskipun umurnya jauh
dibawah umur gurunya.
Karena itu maka kemudian terdengar Mahesa Jenar berkata, “Bagaimana sebaiknya
Kakang Kanigara...?”
“Kapankah kira-kira Sawung Sariti akan membawa orang-orangnya...?” ia
bertanya langsung kepada Wanamerta.
“Segera Anakmas,” jawab Wanamerta, “Pada saat aku berangkat, semua
persiapan sudah selesai.”
Kanigara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Mereka datang dengan
pasukan, Mahesa Jenar.
Kau tidak akan dapat melawannya seorang diri, atau bersama-sama dengan dua
tiga orang saja.”
“Ya,” sahut Mahesa Jenar, “Aku juga harus melawannya dengan pasukan.”
Tiba-tiba menyelalah Lurah Gedangan, “Adimas Mahesa Jenar, meskipun sedikit
ada juga laskar di Gedangan. Apabila mereka berada dalam pimpinan yang kuat, aku
kira mereka tidak akan terlalu mengecewakan. Bagaimanapun juga mereka akan
menyerahkan dirinya untuk mempertahankan kampung halamannya.”
Mahesa Jenar dan Kanigara bersama-sama mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya
mereka sependapat bahwa kemungkinan untuk mempergunakan laskar Gedangan tidak
dapat dihindari lagi.
Tetapi diantara mereka tampaklah Arya Salaka menundukkan kepalanya. Didalam
hatinya melilitlah suatu perasaan sesal yang dalam. Ia menyesal pada keadaannya
yang kurang baik. Ia menyesal pada keadaan keluarganya. Satu-satunya pamannya
yang seharusnya memberi pengayoman kepadanya, justru telah mengkhianatinya.
Dalam pada itu malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang di langit berkedipan
dengan lelahnya. Embun malam satu-satu mulai menggantung di dedaunan.
Sesaat kemudian dipersilahkanlah tamu-tamu itu untuk beristirahat. Sedang di
ruang itu kemudian tinggallah Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Rara Wilis. Namun
pembicaraan mereka masih belum berkisar sama sekali dari masalah pasukan-pasukan
Pamingit yang bakal datang.
“Mahesa Jenar...” kata Kebo Kanigara, “Kau adalah seorang bekas
prajurit yang mumpuni. Aku kira dalam hal ini kau lebih berpengalaman daripadaku.
Karena itu, aku minta kau mengusahakan agar apa yang akan terjadi nanti tidak
mengganggu ketenteraman hidup di atas bukit kecil ini.”
348
MAHESA JENAR nampak berpikir keras. Akhirnya ia menjawab, “Kakang...,
aku kira pasukan itu akan benar-benar merupakan pasukan yang kuat. Karena itu,
menurut perhitunganku, sebaiknya kami tidak menunggu pasukan itu sampai datang
di daerah bukit ini atau pedukuhan Gedangan. Tetapi sebaiknya kami harus
menyongsong pasukan itu. Kami sergap mereka di perjalanan. Mudah-mudahan mereka
tidak akan menduga bahwa hal itu akan terjadi.”
Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya rencana itu baik. Karena
itu jawabnya, “Bagus.... Aku sependapat dengan kau. Daerah yang
berbukit-bukit ini akan banyak memberikan keuntungan pada kita.”
Demikianlah akhirnya mereka bersepakat, bahwa mereka tidak akan menanti
pasukan Pamingit itu sampai ke daerah ini, tetapi mereka akan mempergunakan
laskar dari Gedangan untuk menyongsongnya.
Malam itu hampir tak ada seorang pun yang dapat tidur. Apalagi Arya Salaka.
Kepalanya dipenuhi oleh berbagai masalah yang menghentak-hentak. Namun ia
bersyukurlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, bahwa meskipun pamannya sendiri
sampai hati untuk membinasakan, tetapi diletakkan-Nya orang lain, yang
sebenarnya tidak ada sangkut paut apapun, untuk melindunginya.
Pagi itu, ketika di timur fajar merekah, Kanigara telah menghadap Panembahan
Ismaya. Diuraikan semuanya yang didengar dari Wanamerta, Wiradapa dan Mahesa
Jenar tentang kemungkinan kemungkinan yang bakal terjadi. Tampaklah betapa pedih
hati orang tua itu. Sebenarnya ia sama sekali tidak mau melihat atau mendengar
tentang pertempuran-pertempuran dan perkelahian-perkelahian.
“Panembahan...” Kanigara mencoba menjelaskan, “Apa yang akan kami
lakukan adalah suatu usaha untuk menghindarkan pertumpahan darah yang dapat
mengganggu ketenteraman bukit kecil ini. Karena itu dengan terpaksa kami harus
menyambut kedatangan mereka sejauh mungkin dari tempat ini. Sebab kalau tidak,
akibatnya akan tidak menyenangkan sekali. Jauh lebih tidak menyenangkan dari
kedatangan rombongan yang kemarin mengepung bukit ini.”
Panembahan Ismaya tidak dapat mengatasi keterangan Kanigara lagi. Karena itu
katanya, “Terserahlah kepadamu Kanigara. Tetapi janganlah menjadi kebiasaan,
bahwa sesuatu masalah, harus diselesaikan dengan pertumpahan darah.”
Kanigara menundukkan kepala. Perkataan Panembahan Ismaya itu merupakan suatu
peringatan langsung kepadanya, bahwa bagaimanapun juga, Panembahan itu lebih
senang apabila setiap persoalan dapat diselesaikan dengan musyawarah.
Tetapi keadaan kali ini adalah sedemikian sukarnya untuk diatasi dengan jalan
itu. Masalahnya adalah pertentangan kepentingan yang sama sekali berlawanan.
Satu pihak ingin menelan suatu daerah yang sama sekali bukan haknya, sedang satu
pihak yang lain ingin mempertahankan haknya atas daerah itu.
Apapun alasannya kemudian, tetapi hakekatnya adalah perkembangan dari masalah
itu juga.
Demikianlah, maka mereka yang merasa berkepentingan segera mempersiapkan dirinya.
Baik jasmaniah maupun rohaniah. Mereka masing-masing telah membulatkan tekad,
untuk melawan kekuatan yang merupakan pengejawantahan dari keserakahan itu
dengan mati-matian.
Pagi hari itu juga, Wanamerta, Wiradapa dan Mahesa Jenar, dibawa menghadap
Panembahan Ismaya. Kecuali untuk memperkenalkan diri, sekaligus mereka mohon
pangestu untuk menjalani kewajiban luhurnya. Setelah mendapat beberapa petunjuk
dan nasehat, segera mereka meninggalkan bukit kecil itu, menuju ke Gedangan.
Kanigara, Rara Wilis, Arya Salaka tidak ketinggalan. Bahkan Widuri pun tidak mau
berpisah dengan ayahnya. Karena itu, iapun ikut serta dalam rombongan kecil itu.
Ketika mereka sampai di padukuhan Gedangan, segera terjadilah kesibukan. Mahesa
Jenar mulai mengatur segala persiapan yang diperlukan. Laskar Gedangan dibaginya
dalam beberapa kelompok. Dalam waktu yang singkat ia harus sudah dapat membentuk
laskar itu menjadi laskar yang siap untuk bertempur melawan laskar yang
mempunyai pengalaman luas dalam peperangan.
Yang dapat membantunya dalam pembentukan dan persiapan itu hanyalah Kanigara dan
Wanamerta. Sebab meskipun Wilis dan Arya mempunyai ilmu yang cukup, namun mereka
belum berpengalaman dalam gelar perang. Mereka hanya memiliki kemampuan dalam
hal berkelahi seorang lawan seorang.
Meskipun demikian, Mahesa Jenar dapat memanfaatkan pula Arya Salaka. Dilatihnya
anak itu untuk menjadi salah seorang pimpinan kelompok. Sedang kelompok-kelompok
yang lain diserahkannya kepada Wanamerta, Kanigara dan dirinya sendiri.
Pada hari kelima, sejak mereka mulai mengadakan persiapan-persiapan, datanglah
seseorang berkuda ke pedukuhan itu. Ternyata orang itu adalah salah seorang yang
ditugaskan oleh Wanamerta untuk mengamati gerak-gerik pasukan Pamingit. Menurut
laporannya, pasukan Pamingit telah mulai bergerak.
Mereka mengambil jalan selatan, lewat Gunung Tidar dan kemudian menyusur
hutan-hutan yang tak begitu lebat diantara gunung Sumbing dan Sindara, untuk
kemudian sampai ke Wanasaba. Dari sana mereka menyusun panjatan langsung dan
menyebarkan orang-orangnya mencari Mahesa Jenar dan Arya Salaka.
Mendengar laporan itu Mahesa Jenar berpikir keras. Mereka harus mengusahakan
agar pasukan dari Pamingit yang bergabung dengan gerombolan Gunung Tidar itu
datang bersama-sama, supaya rencana penyergapan dapat berlangsung.
Demikianlah sambil mencari jalan sebaik-baiknya untuk menjebak pasukan dari
Pamingit itu, mereka dengan semangat yang menyala-nyala melatih diri. Siang dan
malam tak henti-hentinya.
Disamping itu, setiap orang berusaha untuk meningkatkan kemampuan perseorangan
pula. Tidak saja laskar Gedangan, tetapi juga Arya Salaka, Rara Wilis, bahkan
Mahesa Jenar sendiri. Mereka dalam waktu-waktu yang luang, betapapun sempitnya,
selalu dipergunakan sebaik-baiknya.
349
PADA hari yang keduabelas, sekali lagi datang seorang berkuda. Orang itu
juga salah seorang petugas Wanamerta. Ia datang dengan membawa laporan bahwa
orang-orang Pamingit bersama-sama rombongan dari Gunung Tidar telah berada di
sekitar Wanasaba. Bahkan mereka sudah bergeser lagi sedikit ke utara. Dari sana
mereka berusaha untuk menyebar orang-orangnya di seluruh daerah pegunungan ini
sampai ke daerah-daerah di sekitarnya. Sebab menurut mereka, usaha ini harus
merupakan usaha yang terakhir. Arya Salaka haus dapat ditangkap hidup atau mati.
“Siapa yang ikut dalam rombongan itu?” tanya Mahesa Jenar.
“Sawung Sariti, Janda Sima Rodra, Jaka Soka...” jelas orang itu.
“Juga Jaka Soka?” tanya Mahesa Jenar kembali.
“Ya, agaknya iapun merasa mempunyai kepentingan,” jawab orang itu.
Mendengar keterangan itu, meremanglah bulu-bulu kuduk Rara Wilis. Sekarang
sebenarnya ia sudah tidak perlu takut lagi apabila ia harus berhadapan dengan
orang itu sebagai lawan, meskipun ia masih kalah pengalaman. Namun
setidak-tidaknya ia akan dapat menjaga dirinya. Meskipun demikian, apabila ia
mendengar nama itu, tubuhnya terasa juga meremang. Sebab ia sudah terlanjur
ngeri mendengar nama itu.
“Orang lain lagi...?” desak Mahesa Jenar.
“Yang mengerikan diantaranya mereka terdapat Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki,”
jawabnya.
“Sudah kami duga sebelumnya,” sahut Mahesa Jenar.
Oleh keterangan-keterangan itu, maka Mahesa Jenar harus menyesuaikan rencanya.
Tetapi belum lagi ia dapat menemukan pemecahan yang baik, tiba-tiba pada hari
kelimabelas datanglah seroang dengan keterangan yang mengejutkan. Katanya,
“Sebuah rombongan kecil telah menyusur lambung Gunung Perahu, menuju ke daerah
ini juga. Mereka dipimpin langsung oleh Sepasang Uling dari Rawa Pening.
Wanamerta mengerutkan keningnya. Dari wajahnya yang tua itu, memancarlah api
kemarahan tiada terhingga. “Sungguh merupakan usaha gila-gilaan. Uling itu
akan bersyukur juga kalau Banyubiru jatuh ke tangan Lembu Sora. Sebab dengan
demikian ia akan semakin leluasa bergerak di daerah Rawa Pening,” katanya
geram.
“Bukan itu saja Paman...” potong Mahesa Jenar, “Tetapi sebentar lagi
daerah-daerah itu akan
ditelannya. Pamingit oleh Sima Rodra, dan Banyubiru oleh sepasang Uling itu.”
Kembali terdengar gigi orang tua itu menggeretak. Lembu Sora baginya tidak
kurang dan tidak lebih dari seorang yang sama sekali mengabdi kepada kepentingan
sendiri, yang bahkan tega mengorbankan saudara tuanya.
Tetapi mereka tidak cukup dengan mengumpat-umpat saja. Untuk mengatasi bahaya
yang akan datang, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya harus bersiaga. Mereka
menempatkan beberapa orang untuk dapat mengawasi setiap gerakan yang
mencurigakan.
Ketika Mahesa Jenar telah merasa bersiap, maka ia tidak perlu lagi menunggu
lebih lama. Bahkan kalau mungkin ia melawan rombongan itu satu demi satu. Sebab
apabila kekuatan kedua rombongan itu bergabung, akan merupakan kekuatan yang
mungkin sulit untuk diimbangi. Namun meskipun demikian, pantang ia menyingkirkan
diri. Sebab dengan demikian ia akan membebankan segala dendam kepada penduduk
Gedangan.
Maka yang mula-mula dilakukan adalah memancing pertempuran dengan rombongan
Sawung Sariti secepatnya. Tetapi cara yang mula-mula dipikirkan, untuk mencegat
rombongan itu, terpaksa dipertimbangkan kembali. Sebab setiap saat rombongan
Uling dapat datang dari jurusan lain.
Demikianlah ketika pada suatu hari beberapa orang
pengawas dapat menangkap seorang yang dicurigai, Mahesa Jenar berhasrat untuk
melakukan maksudnya.
Setelah Mahesa Jenar mempersiapkan pasukannya dalam kesiagaan penuh,
dipanggilnya orang tangkapan itu menghadap. Maka bertanyalah ia kepadanya,
“Siapakah kau?”
“Aku seorang perantau, Tuan..., yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain
untuk menyambung hidup,” jawabnya.
Mahesa Jenar tersenyum, lalu katanya, “Dari manakah asalmu?” Orang itu
ragu sebentar, kemudian jawabnya, “Banyubiru, Tuan.”
“Bagus...” desis Mahesa Jenar. “Katakan kepadaku siapakah kepala daerah
perdikanmu?” Kembali orang itu ragu. Namun akhirnya ia menjawab pula, “Ki
Ageng Lembu Sora.”
“Bagus, kau berkata sebenarnya,” sahut Mahesa Jenar. “Di mana sekarang
Lembu Sora itu?”
“Di Banyubiru, Tuan” jawabnya.
“Di mana anaknya?” desak Mahesa Jenar.
Orang itu diam merenung. Tampaklah wajahnya mulai gelisah.
“Di mana?” bentak Mahesa Jenar.
“Di Pamingit, Tuan” jawabnya.
“Kau mulai tidak berkata sebenarya,” sahut Mahesa Jenar.
“Aku akan mencoba memaksamu supaya kau tidak berkata demikian.”
350
ORANG itu menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika tiba-tiba Mahesa Jenar
minta seseorang memanggil Wanamerta. Demikian Wanamerta muncul, mengalirlah
keringat dingin di punggung orang itu. Sebagai seorang laskar Pamingit, ia
pernah mengenal Wanamerta sebagai orang kedua di Banyubiru, yang harus selalu
berhubungan dengan Ki Ageng Lembu Sora dalam hal pemerintahan, meskipun ada
usaha-usaha untuk menyingkirkannya.
Melihat orang itu, Wanamerta tersenyum. Ia pun sekali dua kali pernah melihat
orang itu. Karena itu bertanyalah Wanamerta, “Aku mengucapkan selamat atas
kedatanganmu Ki Sanak.”
Keringat dingin di punggungnya menjadi semakin banyak mengalir. Ia sama sekali
tidak menduga bahwa Wanamerta berada di tempat itu. Karena itu ia sama sekali
tidak dapat menjawab sapanya. Sehingga kembali terdengar Wanamerta meneruskan,
“Aku sudah lama menunggu salah seorang sanak keluarga dari Pamingit yang
sudah menengokku di sini. Sekarang agaknya ada juga yang datang, malahan agaknya
dalam jumlah yang cukup banyak.”
Orang itu masih berdiam diri. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan. Sebab
agaknya Wanamerta telah mengetahui gerakan yang dilakukannya.
“Ki Sanak...” kata Mahesa Jenar kemudian, “Kau tidak usah takut.
Bukankah kau mendapat perintah untuk mencari Arya Salaka...?”
“Tidak Tuan,” jawab orang itu bergetar mencoba menutupi kesalahannya.
“Jangan bohong. Aku tidak apa-apa. Bahkan aku akan membantumu. Katakan kepada
pimpinanmu, bahwa apa yang dicarinya masih ada di Gedangan. Tidak usah ia
mencari kemana-mana. Juga tidak usah ke Karang Tumaritis.”
Orang itu menjadi semakin bingung. Apalagi dalam pada itu tiba-tiba dilihatnya
Wanamerta menarik belati dari pinggangnya.
“Ampun..., ampun tuan....” teriak orang itu.
Wanamerta tersenyum, katanya, “Ki Sanak. Telah sekian lama aku menahan diri.
Sekarang aku ingin menumpahkan kemarahanku kepadamu. Bukankah kau salah seorang
dari mereka yang telah mengeruhkan suasana Banyubiru...?”
“Tidak Tuan, aku hanya sekedar mendapat perintah,” jawab orang itu ketakutan.
Dalam pada itu Mahesa Jenar pun kemudian menjadi cemas. Ia tidak berhasrat untuk
menciderai orang yang hanya merupakan seorang pesuruh saja. Apalagi dengan
demikian, maksudnya untuk memancing pertempuran akan tertunda.
Agaknya Wanamerta mengetahui perasahaan Mahesa Jenar itu. Maka katanya,
“Jangan takut Ki Sanak. Aku tidak akan membunuhmu. Tetapi aku ingin membuat
suatu kenang-kenangan padamu, bahkan suatu bukti bahwa kau telah melakukan
kewajibanmu dengan baik.”
Sehabis berkata demikian, Wanamerta yang sudah tua itu meloncat dengan garangnya,
dan hampir tak dapat diikuti gerakannya, tiba-tiba di dahi orang itu telah
terdapat dua goresan bersilang. Baru kemudian disusul oleh sebuah jeritan
kesakitan. Dari luka itu mengalirlah darah yang merah segar.
Mahesa Jenar sendiri terkejut melihat hal itu. Namun ia tidak dapat mencegahnya.
Ia menyadari betapa geram orang tua itu terhadap Lembu Sora dan orang-orangnya.
“Nah...” kata Wanamerta kemudian, “Pergilah. Katakan kepada Sawung Sariti,
bahwa Arya Salaka dan Mahesa jenar masih berada di Gedangan. Bahkan Wanamerta
yang tua pun berada di sana. Dengan demikian kau akan mendapat tanda jasa atas
hasil pekerjaan yang kau lakukan.”
Bagaimanapun juga orang itu adalah seorang laki-laki. Karena itu ia menjadi
tersinggung sekali atas perlakuan itu. Dihina terasa pedih sekali, sedang darah
yang mengucur dari luka itu telah membasahi baju serta kainnya, membuat
gambaran-gambaran merah yang mengerikan.
Tetapi dalam pada itu ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melawan Wanamerta dan
Mahesa Jenar. Maka yang dapat dilakukan kemudian hanyalah mengumpat
habis-habisan, “Tuan-tuan telah menghina aku. Ini berarti bahwa Tuan-tuan
telah menghina pimpinanku. Jangan Tuan mengira bahwa Tuan akan luput dari
hukumannya. Tunggulah Tuan.... Aku akan kembali sekali lagi dan menggoreskan
silang ke dahi Tuan.”
Sekali lagi Wanamerta tersenyum aneh, jawabnya, “Pergilah sebelum aku
menambah kenang-kenangan pada tubuhmu. Katakan kepada pemimpinmu, bahwa
seandainya mereka yang datang, pada dahi merekalah aku akan membuat tanda silang
itu.”
Penghinaan itu sudah melampaui batas. karena itu, orang itu sudah tidak mau
menunggu lagi. Cepat ia meloncat lari secepat-cepatnya kembali menghadap Sawung
Sariti.
Sepeninggal orang itu, segera Mahesa Jenar mengatur pasukannya. Sebab orang yang
dilukai oleh Wanamerta itu pasti akan menambah-nambah cerita. Dan kalau demikian
maka keadaan akan menguntungkan sekali. Sehingga Mahesa Jenar tidak harus
melawan dua rombongan dari jurusan yang berbeda sekaligus, dibawah pimpinan
masing-masing, orang-orang buas yang sakti.
Demikianlah apa yang diharapkan itu datanglah.
Pada pagi berikutnya, seorang pengawas melaporkan bahwa dari arah selatan
tampaklah barisan berobor, mendekati Gedangan. Itulah barisan Sawung Sariti.
Mahesa Jenar cepat menyiapkan orang-orangnya. Ia sendiri beserta Kanigara
memimpin laskar yang langsung akan melawan pasukan yang datang, sedang Arya dan
Wanamerta dibantu oleh Wiradapa diperintahkannya untuk kemudian menyerang dari
sayap kiri dan kanan. Dengan demikian Mahesa Jenar dan Kanigara akan dapat lebih
dahulu memilih lawan-lawannya. Apabila Bugel Kaliki dan Sima Rodra berada dalam
pasukan itu juga, seharusnya kedua orang itu menjadi kewajiban Mahesa Jenar dan
Kanigara.
Untunglah bahwa di Karang Tumaritis, Mahesa Jenar atas tuntunan tidak langsung
dari Kebo Kanigara, telah menemukan inti dari ilmunya, setelah ia berhasil
ngraga sukma. Dengan demikian ia tidak perlu lagi gentar menghadapi Si
Bongkok dari Gunung Cerme atau Harimau Liar dari Lodaya itu.