Ternyata Mahesa Jenar pria yang lamban dalam urusan percintaan
NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
336
DEMIKIANLAH untuk beberapa saat tak sepatah katapun yang keluar dari
mulutnya. Bahkan kemudian agaknya Rara Wilis yang mula-mula dapat menguasai
perasaannya yang memang telah dipersiapkan sejak lama. Kakang Mahesa Jenar,
yang selama ini tersimpan di dalam dadaku adalah perasaan terima kasih yang tak
terhingga atas pertolongan Kakang, yang pada saat itu aku tidak sempat
mengucapkannya.
Mahesa Jenar mengangguk sedikit, jawabnya, Lupakanlah itu Wilis. Sebagaimana
kewajiban kita, manusia yang hidup diantara manusia adalah saling menolong.
Meskipun hatinya sendiri berkata lain. Berkata tentang keindahan yang sempurna
yang memancar dari tubuh gadis itu. Gadis yang pada saat terakhir telah
membanting-banting perasaannya, setelah ia terpaksa membunuh ayah gadis itu.
Rara Wilis tidak menjawab sepatah katapun selain wajahnya terkulai jatuh di
lantai. Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada Sarayuda yang terbaring dengan
lesunya, menunggu gadis itu. Untuk sesaat Mahesa Jenar jadi bimbang. Apakah ia
akan tetap pada pendiriannya ? Menyerahkan kebahagiaan itu kepada Sarayuda...?
Dalam pada itu terbersitlah suatu ketetapan di hatinya, meskipun hati itu
sendiri akan terpecah. Biarlah ia mengorbankan dirinya kalau dengan demikian
sebuah jiwa akan tertolong. Jiwa yang sangat berharga bagi beribu-ribu jiwa lain
di daerah kekuasaannya.
Katanya kemudian diantara desah jantungnya yang semakin cepat, Wilis...
seseorang menanti kau. Masuklah.
Seseorang...? katanya bertanya.
Mahesa Jenar mengangguk, lalu jawabnya, Ya, seseorang.
Kau...? desaknya.
Mahesa Jenar menggeleng lemah. Lemah sekali.
Rara Wilis menjadi ragu. Seseorang mencarinya, dan orang itu bukan Mahesa Jenar.
Akhirnya terdengar suara Mahesa Jenar, Masuklah Wilis.
Untuk sesaat Wilis masih tetap tegak di muka pintu. Seolah-olah ia tidak kuasa
menggerakkan kakinya untuk melangkah masuk. Wajahnya tampak membayangkan
kebimbangan hatinya.
Maka kemudian Mahesa Jenar yang melangkah keluar, dengan langkah berat sambil
membangunkan Wilis yang sedang tenggelam dalam keraguan. Masuklah Wilis.
Seseorang memerlukan kau datang. Mudah-mudahan kau membawa udara segar baginya.
Meskipun Rara Wilis masih tetap ragu, namun ia pun perlahan-lahan melangkah
masuk ke dalam ruangan itu. Perlahan-lahan seperti orang yang masuk ke daerah
yang sama sekali asing baginya.
Ketika Rara Wilis bergerak, Mahesa Jenar melangkah pula menjauhi pintu itu.
Ruangan yang semula dipergunakan Panembahan Ismaya untuk menerima rombongan itu,
kini telah sepi. Tak seorang pun berada di sana. Panembahan Ismaya, Kanigara,
Arya Salaka dan Karang Tunggal, bahkan Widuri pun telah tidak nampak lagi.
Bagaimanapun Mahesa Jenar mencoba untuk mengendapkan perasaannya namun terasa
seolah-olah sesuatu melonjak-lonjak di dalam dadanya. Karena itulah ia dengan
gelisah berjalan mondar-mandir seperti laki-laki yang gelisah menanti kelahiran
anak pertamanya.
Beberapa kali ia mencoba melupakan kegelisahannya dengan mengamati berbagai
benda yang menghiasi ruangan itu. Beberapa patung kecil, tergantung beberapa
macam clupak lampu minyak kelapa. Di tiang-tiang ruangan itu tampak juga
bergantungan beberapa macam topeng dari berbagai jenis.
Tetapi Mahesa Jenar tidak sempat memperhatikan benda-benda itu satu demi satu.
Meskipun ia melihat semuanya itu, namun seolah-olah tidak sadar pada
penglihatannya. Bahkan kemudian dengan lesunya dibantingnya dirinya pada sebuah
batu hitam tempat duduk di dalam ruangan yang sepi itu.
Di luar, matahari yang terik seakan-akan membakar padas-padas pegunungan yang
memantulkan sinarnya kemerah-merahan. Daun-daunan yang menjadi tertunduk lesu
seperti segan memandang sinar matahari yang agaknya tak bersikap bersahabat.
Beberapa daun kering meluncur lepas dari pegangannya oleh ketuaannya, dan
berguguran di tanah.
Mata Mahesa Jenar lepas lewat pintu langsung menusuk ke daerah matahari yang
silau, terbanting di batu-batu padas yang kepanasan. Alangkah panasnya udara.
Beberapa tetes peluh menetes dari dahinya. Kemudian dengan lesu pula Mahesa
Jenar berdiri dan melangkah ke arah pintu keluar.
Di depan pintu ia tertegun heran. Pada mula-mula ia datang ke padepokan itu, di
ruang ini pula ia mengagumi pertamanan yang asri, yang terbentang di hadapan
rumah kecil itu. Bahkan ia mengagumi pula kesejukan udara yang dilemparkan oleh
pepohonan yang pepat rimbun itu ke dalam rumah.
Tetapi kenapa tiba-tiba sekarang udara di sini menjadi panas sekali? Akhirnya ia
sadar bahwa udara yang panas itu tidak dilontarkan oleh udara pegunungan kecil
itu, tetapi agaknya ditimbulkan dari dalam dirinya sendiri yang gelisah.
Tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut, ketika ia menoleh dilihatnya Rara Wilis berlari
keluar ruangan dan menjatuhkan dirinya di atas tempat duduk batu hitam.
Seterusnya ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis
sejadi-jadinya.
Melihat keadaan itu, Mahesa Jenar menjadi bertambah gelisah. Cepat-cepat ia
memasuki ruangan tempat Sarayuda berbaring. Tetapi ia menjadi agak tenang ketika
melihat Sarayuda masih bernafas dengan teratur. Bahkan ketika ia melihat Mahesa
Jenar datang kepadanya, dengan tersenyum ia berkata, Aku bertambah segar,
Mahesa Jenar.
Syukurlah Sarayuda, jawab Mahesa Jenar singkat.
Bagiku, semuanya telah selesai, sambung Sarayuda.
337
MAHESA JENAR memandang wajah Sarayuda dengan tajamnya. Senyumnya masih
saja membayang di wajahnya yang sudah menjadi kemerah-merahan.
Aku mengharap demikian, jawab Mahesa Jenar, tetapi hatinya terasa pedih.
Kemudian Sarayuda berkata, Mahesa Jenar, sekarang aku akan dapat tidur
nyenyak. Mudah-mudahan aku lekas sembuh dan dapat kembali ke Gunung Kidul,
meskipun kekuatanku belum pulih benar.
Aku ikut berdoa, Sarayuda, sahut Mahesa Jenar kosong, sekosong dadanya saat
itu.
Sarayuda menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia berusaha untuk memejamkan
matanya.
Dengan gerak-gerak yang kaku, Mahesa Jenar melangkah keluar dari ruangan itu.
Sampai di depan pintu kembali ia melihat Rara Wilis masih menangis sambil
menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dengan tak sengaja Mahesa Jenar
berjalan mendekatinya.
Kemudian hampir berbisik Mahesa Jenar bertanya, Kenapa kau menangis Wilis...?
Mendengar suara Mahesa Jenar, tangis Rara Wilis agak mereda. Dengan isak yang
ditahan, ia mengangkat wajahnya. Matanya yang basah memandang Mahesa Jenar
dengan persoalan. Meskipun demikian hati Mahesa Jenar masih saja berdebar-debar
memandang wajah yang basah itu, seperti memandang bulan disaput awan. Tetapi
Rara Wilis tidak menjawab pertanyaan Mahesa Jenar. Sehingga beberapa saat mereka
saling berdiam diri.
Kakang... akhirnya terdengar Rara Wilis berkata, Alangkah sulitnya
hidup yang harus aku tempuh. Banyak masalah yang berkembang diluar kemauanku
sendiri.
Memang demikianlah agaknya, jawab Mahesa Jenar. Banyak hal yang harus
kita lakukan, meskipun kadang-kadang bertentangan dengan perasaan sendiri. Namun
demikian setiap perbuatan hendaknya dilandasi dengan tujuan yang bersih.
Demikianlah apa yang akan kita lakukan nanti. Dan demikian pulalah keputusanku.
Rara Wilis mengerutkan keningnya. Matanya yang mengaca itu tiba-tiba memancarkan
pertanyaan-pertanyaan. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh
Mahesa Jenar. Sehingga kemudian Rara Wilis terpaksa bertanya, Apakah maksudmu
Kakang?
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan Rara
Wilis. Malah ia bertanya, Wilis, apakah kau menangis karena sedih atau karena
kau terharu atas masa depanmu yang gemilang?
Rara Wilis menggelengkan kepala. Kemudian jawabnya, Aku tidak tahu Kakang.
Mata Mahesa Jenar kemudian menatapnya tajam-tajam, seperti akan menembus dada
Wilis. Dada seorang gadis yang sedang bergelora. Yang sejenak kemudian
meneruskan kata-katanya, Kakang... aku bergaul dengan Kakang Sarayuda sejak
kecil. Aku mengenalnya sebagai seorang yang paling dekat diantara kawan-kawanku.
Apalagi kemudian setelah meningkat lebih besar lagi, menjelang masa dewasa kami.
Ia selalu dekat dengan Kakek.
Kemudian Sarayuda lenyap dari kampung halaman kami. Ternyata ia ikut dengan
Kakek dan berguru kepadanya. Pada suatu saat ia muncul kembali di kampung kami.
Sarayuda telah berubah menjadi seorang pemuda yang perkasa.
Ia datang untuk mengusir perempuan yang mengganggu ketenteraman kami.
Mengganggu ayah serta keluarga kami. Agaknya ia mendapat tugas dari Kakek.
Tetapi sayang, ia datang terlambat. Ayah telah pergi meninggalkan kami bersama
perempuan jahat itu, yang ternyata kemudian menetap di Gunung Tidar dan
menamakan diri mereka suami-istri Sima Rodra muda di bawah perlindungan Sima
Rodra tua dari Lodaya.
Sejak saat itu Sarayuda sekali datang, sekali lenyap kembali. Namun agaknya ia
dapat merebut hati seluruh penduduk daerah kami. Ternyata kemudian ia terpilih
menjadi Demang.
Mendengar cerita itu tubuh Mahesa Jenar menjadi gemetar. Dadanya berdesir hebat.
Setiap kata Rara Wilis tentang keperkasaan Sarayuda, bahkan setiap kata yang
menyebut nama laki-laki itu terasa seperti ujung-ujung duri yang menusuk-nusuk
jantungnya. Dan tiba-tiba saja ia seperti orang yang ingin melarikan diri dari
cerita itu. Cepat-cepat ia melangkah ke pintu dan dengan kakunya berdiri
berpegangan uger-uger-nya seolah-olah ia takut bila kakinya yang bergetar itu
tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya.
Rara Wilis mengikutinya dengan sinar yang memancar dari matanya yang bulat.
Tetapi ia tidak tahu apakah yang menggelegak di hati laki-laki itu. Karena itu
ia masih melanjutkan ceritanya, Kemudian datanglah masa itu. Masa dewasa kami,
masa dimana dada kami dipenuhi impian-impian masa depan. Tetapi sebagian dari
masa itu sama sekali tak dapat aku nikmati.
Sebab masa-masa itu aku sedang dihadapkan pada suatu kenyataan pahit. Ibuku
meninggal dunia. Dan aku terpaksa meninggalkan kampung halaman, mencari kakekku
untuk menyangkutkan diri dalam limpahan kasih sayang. Seperti pada masa
kanak-kanakku. Akhirnya aku bertemu kembali dengan Sarayuda. Dan seperti yang
Kakang ketahui, Kakang Sarayuda mengharapkan sesuatu dariku, tidak sebagai adik
seperguruannya, tetapi sebagai seorang laki-laki terhadap seorang wanita.
Kata-kata Rara Wilis itu bagi Mahesa Jenar terasa menusuk jantungnya semakin
pedih. Sehingga kemudian dengan suara gemetar, tanpa menoleh ia menyahut,
Perasaan yang lumrah, yang dapat timbul di dalam setiap dada.
Ya, potong Rara Wilis. Perasaan yang lumrah. Dan perasaan itu sedemikian
dalamnya menggores di hati Kakang Sarayuda.
Sekarang Mahesa Jenar tidak kuasa lagi menahan perasaannya. Ia telah bertekad
untuk meninggalkan impiannya terhadap gadis yang baginya memiliki keindahan yang
tanpa cela itu. Tetapi untuk mendengarkan cerita itu terasa seolah-olah
keindahan yang telah dilepaskannya itu diperagakan di hadapannya.
338
TIBA-TIBA Mahesa Jenar membalikkan tubuh, dan dengan mata yang tajam ia
memandang Rara Wilis yang menjadi keheran-heranan melihat sikap Mahesa Jenar.
Apalagi kemudian terdengarlah suaranya menggeram, Wilis, katakan...
katakanlah kepadaku bahwa kau juga mencintainya. Dan kau menerima keadaan ini
dengan dada terbuka, bahkan kau merasa bahwa kau menghadapi masa gemilang. Masa
yang bahagia sebagai istri Demang yang kaya raya, yang disuyuti oleh beribu-ribu
orang.
Kemudian terdengar suara Mahesa Jenar merendah, Wilis... aku akan ikut
bahagia bila aku melihat kau menjadi bahagia. Bahkan aku siap untuk berbuat
apapun untuk ikut serta mempertahankan kebahagiaanmu itu, kalau seandainya
orang-orang semacam Jaka Soka mengganggu ketenteraman hidupmu.
Setelah itu Mahesa Jenar tidak kuasa lagi meneruskan kata-katanya. Namun
kata-kata itu ternyata sangat mengejutkan hati Rara Wilis, sampai ia meloncat
berdiri dengan wajah yang memancarkan seribu satu pertanyaan. Demikianlah untuk
sesaat Rara Wilis tidak tahu apa yang akan dikatakan. Baru kemudian terdengarlah
ia berkata dengan bibir yang gemetar, Kakang, apakah kata-kataku tidak pada
tempatnya...?
Mahesa Jenar menundukkan kepalanya. Dan dengan suara yang gemetar ia menjawab,
Aku akan dapat menyaksikan kau berbahagia, Wilis. Tetapi aku tidak dapat
mendengar itu dari kau sendiri. Aku minta janganlah kau menambah hatiku jadi
terpecah-pecah.
Kening Rara Wilis jadi berkerut. Tiba-tiba ia mengerti apa yang tersimpan di
dalam hati Mahesa Jenar. Namun demikian ia ingin meyakinkan, Kakang Mahesa
Jenar... apakah yang telah terjadi padamu...? Adakah kau bermaksud melarikan
diri...?
Mahesa Jenar tersentak. Melarikan diri...? desisnya.
Mata Rara Wilis jadi bercahaya. Namun cahayanya bukan cahaya yang bening, tetapi
cahaya yang memancarkan kepedihan yang tumbuh di hatinya. Lalu katanya, Kau
akan mengulangi kata-katamu beberapa tahun yang lalu? Akan kau katakan juga
sekarang bahwa kau akan menjadi seorang pahlawan dalam bercinta. Kakang, kita
sudah bertambah dewasa. Umur kita telah melampaui masa yang seindah-indahnya
dalam hidup kita.
Dan sekarang kau masih terbenam dalam cahaya purnama yang baru mengembang.
Kakang, haruskah aku mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak berakar di dalam
dadaku, karena aku ingin menuruti kemauanmu. Tidak Kakang.
Ketahuilah bahwa sejak kepergianmu tanpa pamit beberapa tahun yang lalu, aku
sudah mencobanya. Mencoba mengisi sebagian hatiku yang lenyap bersamamu dengan
seorang yang bernama Sarayuda. Tetapi aku tidak berhasil Kakang. Kakang Sarayuda
bagiku adalah saudara tua yang penuh kasih sayang kepada adiknya. Dan tahukah
kau apa yang baru saja dikatakan kepadaku...?
Mahesa Jenar seperti terpaku berdiri di tempatnya. Kata-kata Rara Wilis itu
dengan tajamnya menusuk menembus tulang sungsum. Tetapi bersamaan dengan itu,
tumbuh pula di dalam dadanya suatu perasaan yang melonjak-lonjak, sehingga
tubuhnya kemudian menjadi menggigil. Dari mulut Rara Wilis sendiri sekarang ia
mendengar, bahwa gadis itu menaruh harapan sepenuhnya kepadanya. Tetapi justru
karena itulah malahan ia terbungkam, sampai kembali terdengar suara Rara Wilis
meneruskan, Kakang Mahesa Jenar, aku tidak peduli apakah yang akan kau
katakan tentang diriku. Tetapi aku merasa bahwa beban yang menyumbat dadaku kini
telah aku tuangkan. Seluruhnya. Dan dadaku kini telah terbuka bagimu.
Terserahlah kepadamu akan nilai-nilai yang kau berikan kepadaku. Kepada seorang
gadis yang membuka hatinya kepada seorang laki-laki, di hadapan wajahnya.
Wilis... desis Mahesa Jenar, tetapi ia tidak dapat meneruskan sebab kembali
Wilis memotong, Nah Kakang. Sekarang kalau kau akan pergi, pergilah.
Tinggalkan aku sendiri. Katakan kepada bukit-bukit kecil itu, kepada
karang-karang dan batu-batu, kepada angin dan pepohonan, kepada bulan dan
bintang, bahwa seorang laki-laki telah pergi dengan hati terpecah belah untuk
memberi kesempatan orang lain menikmati kebahagiaan, sedang orang lain itu sama
sekali tidak menghendaki. Tetapi jangan katakan hal itu kepada seseorang yang
akan kau jumpai dalam pelarianmu, sebab kau akan ditertawakan. Mungkin orang itu
akan mengikutimu untuk melihat kapan kau akan membunuh dirimu.
Wilis... potong Mahesa Jenar hampir berteriak. Namun kali inipun suara Rara
Wilis mengatasinya, Jangan takut melihat bayangan wajahmu yang pucat, serta
jangan takut kau melihat hatimu yang sama sekali tidak memancarkan kejujuran.
Mahesa Jenar tertunduk lesu. Ia tidak ingin memotong kata-kata gadis itu lagi.
Bahkan sekarang, ia melihat pada sorot mata Rara Wilis, bayangan tentang dirinya.
Tentang seorang laki-laki yang berkelana di padang yang tandus, penuh batu-batu
karang yang tajam dan pendakian yang terjal di bawah terik matahari yang
membakar kulitnya yang berwarna tembaga. Yang dalam kehausan, melemparkan
seteguk air yang segar dingin dari mangkuk ditangannya. Tetapi kemudian
laki-laki itu sendiri menjadi hampir mati kehausan.
Tidak, katanya tiba-tiba. Aku tidak menuang air itu di atas batu-batu
yang mati. Tetapi aku tuangkan air itu ke dalam mulut seseorang yang hampir mati
kehausan pula.
Rara Wilis mencoba menangkap kata-kata yang tiba-tiba saja terlontar dari mulut
Mahesa Jenar itu. Namun dalam sesaat ia telah dapat mengerti maksudnya. Karena
itu ia menyahut. Lalu kau sendiri yang akan mati. Tetapi jangan harapkan
seseorang datang padamu dan menaburkan bunga di atas tubuhmu.
Mahesa Jenar tidak dapat lagi menipu dirinya sendiri. Ia tidak lagi dapat
memungkiri kata-kata Rara Wilis. Namun demikian ia berusaha untuk mematahkan
pengakuannya itu. Dengan wajah yang tegang kaku ia memutar tubuhnya membelakangi
Rara Wilis lalu cepat-cepat ia ingin meninggalkan ruangan itu.
339
TIBA-TIBA Mahesa Jenar mendengar isak yang seolah-olah meledak begitu
hebatnya. Ketika ia sekali lagi menoleh, ia melihat Rara Wilis sambil menangis
terduduk di atas sebuah batu hitam yang beralaskan kulit kayu. Dan kembali kedua
telapak tangannya menutupi wajahnya yang basah karena air mata.
Melihat keadaan itu Mahesa Jenar tertegun sejenak. Bahkan diluar sadarnya
perlahan-lahan ia berjalan mendekatinya. Namun ia menjadi bertambah bingung, dan
tidak tahu apa yang akan dilakukan. Maka kemudian yang dapat dikatakannya
hanyalah beberapa kata yang serak, Wilis, kenapa kau menangis lagi?
Sekali ini, seolah-olah Rara Wilis tidak mendengar kata-katanya, bahkan
tangisnya menjadi semakin keras. Dan karena itu Mahesa Jenar menjadi semakin
gelisah.
Wilis, katanya kemudian sekenanya saja, Jangan menangis demikian.
Apabila seseorang melihat keadaanmu itu, maka akan timbul berbagai prasangka
yang mungkin kurang menyenangkan.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Rara Wilis mencoba mengangkat wajahnya.
Meskipun tangisnya masih belum berhenti.
Diantara isaknya terdengar ia berkata, Kakang, aku tidak akan menahanmu lagi.
Pergilah seandainya itu akan membawa kepuasan bagimu.
Hati Mahesa Jenar sekali lagi terlonjak. Namun ia melihat bahwa apa yang
diucapkan oleh Rara Wilis itu sama sekali bukanlah yang dimaksud sebenarnya.
Karena itu ia bertanya, Begitukah yang kau kehendaki Wilis...?
Bibir Rara Wilis bergerak melukiskan sebuah senyum yang pahit diantara tangisnya.
Lalu jawabnya, Aku mencoba berbuat seperti apa yang kau lakukan. Menipu diri
sendiri.
Kata-kata itu tepat menyusup ke dalam relung hati Mahesa Jenar yang paling dalam.
Sekarang benar-benar ia tidak dapat melarikan diri lagi. Ia merasa seperti
seseorang yang terjun ke dalam arena perkelahian, yang harus memilih salah satu
diantara dua, membunuh atau dibunuh.
Tetapi tiba-tiba ia teringat kata-kata Rara Wilis tentang Sarayuda. Maka dengan
serta merta ia bertanya Wilis, kau tadi bertanya kepadaku, apakah aku tahu
apa yang dikatakan oleh Sarayuda?
Rara Wilis mengangguk.
Tentu aku tidak tahu Wilis, sambung Mahesa Jenar, Kau mau mengulang
kata-kata itu...?
Tak ada gunanya, jawab Rara Wilis.
Mahesa Jenar tertegun sebentar, lalu katanya, Mungkin ada. Kalau kau tak
berkeberatan katakanlah.
Rara Wilis memandang wajah Mahesa Jenar yang basah oleh keringat dingin itu
dengan seksama, seolah-olah ia ingin melihat setiap garis yang tergores padanya.
Kemudian dengan perlahan-lahan ia berkata, Kakang dengarlah apa yang dikatakan
Kakang Sarayuda kepadaku. Memang semula aku ingin mengatakan kepadamu, dan aku
sudah mengambil ancang-ancang. Sebab aku adalah seorang gadis. Tetapi agaknya
hatimu terlalu mudah tersentuh sehingga aku terpaksa melampaui batas-batas
keterbukaan hati seorang gadis.
Rara Wilis berhenti sejenak, lalu meneruskan, Kakang, tadi Kakang Sarayuda
berkata kepadaku, bahwa aku harus memaafkannya atas segala perlakuannya yang
telah melampaui perlakuan seorang kakak terhadap adiknya. Ia mengharap bahwa aku
akan dapat melupakan itu semua, sebab katanya, ... sepantasnya ia menjadi kakak
yang baik.
Mahesa Jenar mendengar kata Rara Wilis itu seperti beratus guntur yang
menggelegar di depan telinganya. Bahkan kemudian seolah-olah ia menjadi orang
yang lelap terbenam dalam alam impian. Dan di dalam mimpi itu ia mendengar suara
Rara Wilis meneruskan, Tetapi, Kakang, aku tahu bahwa hatinya remuk karena
itu. Ia mencintaiku sejak lama.
Sejak kami meningkat dewasa. Namun agaknya suatu kenyataan harus dihadapinya.
Yaitu, bahwa ia bersaing dengan orang yang tidak dapat dikalahkannya dengan
jalan apapun juga. Karena itu, sebagai seorang laki-laki yang dapat mengukur
dirinya, serta seorang laki-laki yang hidupnya berjejak di atas tanah, dengan
ikhlas ia berkata kepadaku, ... Wilis, pilihlah jalanmu sendiri. Jangan hiraukan
aku.
Rara Wilis berhenti sejenak menelan ludahnya, baru ia meneruskan. Tetapi
Kakang, aku melihat keikhlasan membayang di wajahnya. Setelah ia berceritera
tentang kesalahan yang dilakukannya dengan tidak menghiraukan nasehat kakek dan
sebagainya, ia akhiri kata-katanya, ... Wilis, mudah-mudahan kau menemukan hari
depan yang gemilang.
Sekali lagi Rara Wilis berhenti. Terasa di lehernya sesuatu yang menyumbat,
sehingga dengan terputus-putus ia meneruskan, Aku menjadi kasihan kepadanya
kakang, justru karena ia melepaskan aku dengan penuh keikhlasan. Namun aku tidak
dapat memaksa diriku untuk menganggapnya lain daripada seorang kakang yang baik.
Mahesa jenar masih berdiri seperti patung, namun suatu pergolakan yang dahsyat
berputar di dalam dadanya. Suatu gejolak perasaan yang melanda dinding-dinding
jantungnya sehingga seolah-olah akan pecah karenanya.
340
KEMUDIAN terdengar Rara Wilis meneruskan, Kemudian Kakang di sini, di
hadapanku, dimana aku menaruh suatu harapan atas masa depan. Di sini aku berada
dalam keadaan yang sebaliknya. Kepadamu aku selalu mencoba untuk melenyapkan
setiap kenangan. Apalagi setelah Kakang Mahesa Jenar membunuh ayahku yang selama
ini aku cari. Tetapi kembali aku tidak dapat memaksa diriku menutup suatu
kenyataan di dalam diriku atas kenangan yang muncul dalam setiap saat.
Kenangan yang menjadi semakin jelas apabila aku berusaha untuk melenyapkannya.
Tetapi aku ternyata menjumpai suatu kenyataan yang lain. Aku melihat sekali lagi,
atas apa yang pernah aku alami. Seseorang telah berusaha melepaskan aku lagi.
Namun bedanya, keikhlasanmu lain dengan keikhlasan Kakang Sarayuda.
Dimana pada saat terakhir Kakang Sarayuda telah menemukan cahaya yang menyoroti
hatinya, yang dengan demikian ia dapat membaca perasaan yang tergores di dalam
dadaku. Tetapi kau, Kakang..., kau mencoba untuk menghapus goresan itu. Bahkan
goresan di dalam dadamu sendiri, dan menggantinya dengan bunyi-bunyi yang lain.
Suara Rara Wilis kemudian tenggelam dalam tangisnya.
Mahesa Jenar tiba-tiba seperti terbangun dari kelelapannya. Dengan penuh gejolak
di dalam dadanya, tiba-tiba ia meloncat dan berlari ke dalam ruangan dimana
Sarayuda terbaring. Apa yang dikatakan Rara Wilis tentang laki-laki itu sangat
berkesan di hatinya. Bahkan dengan demikian ia menjadi ingin mendengarnya dari
mulut Sarayuda sendiri.
Mendengar langkah Mahesa Jenar, Sarayuda membuka matanya. Dan ketika dilihatnya
Mahesa Jenar berdiri di sampingnya dengan nafas yang terengah-engah, tergoreslah
sebuah senyuman di bibir Sarayuda. Senyum yang memancar dari lubuk hatinya.
Sarayuda... terloncatlah kata-kata yang terbata-bata dari mulut Mahesa
Jenar. Kenapa kau lakukan itu...?
Senyum Sarayuda semakin jelas membayang wajahnya yang jernih. Kemudian jawabnya
lirih, Kau keberatan...?
Mahesa Jenar tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan nafasnya menjadi
semakin cepat mengalir.
Mahesa Jenar... bisik Sarayuda, Akhirnya aku merasa bahwa kata-katamu
mengandung kebenaran. Yang kita persoalkan adalah seseorang yang memiliki
perasaan seperti kita.
Karena itu, akhirnya aku insaf bahwa aku adalah seorang yang terlalu
mementingkan diri sendiri. Yang melihat segala masalah seolah-olah berkisar di
sekitar dan berpusat pada diriku. Namun syukurlah bahwa Tuhan memberi petunjuk,
sehingga aku menemukan jalan yang wajar.
Mahesa Jenar menundukkan kepala, dan dari bibirnya terdengarlah ia berkata,
Sarayuda, aku telah salah sangka terhadapmu.
Sarayuda tertawa perlahan, lalu katanya, Aku mendengar semua pembicaraanmu
dengan Wilis. Kakang Mahesa Jenar, jangan lukai hatinya. Ia mempunyai lagi
sangkutan kasih sayang, selain kakeknya yang tua itu. Sedang darimu ia
mengharapkan kesegaran cinta yang selama ini hanya pernah didengarnya dari
cerita-cerita kesejukan cinta antara Kama dan Ratih, antara Arjuna dan Sumbadra,
antara Panji dan Kirana.
Mahesa Jenar tidak menjawab. Ia hanya menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan
demikian seolah-olah ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan
mencoba memenuhi permintaan Sarayuda itu.
Nah, Mahesa Jenar... Sarayuda meneruskan, Datanglah kepadanya. Kalau
kau mau melaksanakan pesanku, aku akan menjadi lekas sembuh. Dan aku akan dapat
menyaksikan hari bahagiamu yang akan datang.
Terimakasih Sarayuda, jawab Mahesa Jenar kaku.
Lalu perlahan-lahan seperti orang yang kehilangan kesadaran ia berjalan keluar.
Ketika ia melangkah pintu, ia melihat Rara Wilis masih duduk di atas batu hitam
itu. Namun tiba-tiba gadis itu di matanya telah berubah menjadi permata yang
gemilang, permata yang melekat pada sebuah cincin yang seakan-akan telah
melingkar di jarinya.
Rara Wilis yang mendengar langkah Mahesa Jenar, menoleh pula ke arah pintu. Ia
pun terkejut ketika melihat wajah Mahesa Jenar yang menjadi cerah, seperti
cerahnya langit musim kemarau. Ia sudah berpuluh bahkan beratus kali melihat
wajah itu. Wajah yang memancarkan sifat-sifat kejantanan yang lembut. Tetapi
kali ini seolah-olah ia menemukan sesuatu yang lain pada wajah itu. Menemukan
yang selama ini dicarinya.
Tiba-tiba Rara Wilis tersadar. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri. Malu
kepada penemuannya.
Meskipun kemudian tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, namun ratusan bahkan ribuan kalimat yang menggetar di udara langsung menyentuh hati masing-masing. Sehingga dalam keheningan itu terjalinlah suatu ikatan yang semakin teguh antara dua buah hati yang sebenarnya sudah sejak lama bertemu.
Di luar terdengar burung-burung berkicau dengan riangnya. Nyanyiannya membubung tinggi, hanyut bersama angin pegunungan, menyapu wajah padepokan yang tenang sejuk itu.
Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengarlah
suara tertawa yang bening, disusul dengan langkah-langkah kecil berlari-larian.
Lalu terdengarlah suara kerikil berjatuhan.
Bukan salahku, teriak suara yang nyaring.
Jangan nakal Widuri, jawab suara yang lain.
Widuri tidak menjawab, tetapi suara tertawanya yang renyah kembali menggetar,
dan kembali terdengar langkahnya berlari-lari.
Sampai di depan pintu, Widuri tertegun. Dilihatnya Rara Wilis dan Mahesa Jenar
masih di tempatnya masing-masing seperti patung. Bahkan gadis kecil itu melihat
mata Rara Wilis masih kemerah-merahan.