Nagasasra dan Sabukinten

Pameran kedahsyatan Cunda Manik dari perguruan Pandan Alas, Gunung Kidul

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

331

DEMIKIAN pula ayam jantan dari Pengging yang bernama Karebet itu, menjadi semakin marah atas kelakuan lawannya. Karena itu apapun yang terjadi, ia bertekad untuk bertempur mati-matian. Sehingga ketika Arya Salaka telah meloncat minggir, anak muda itu tegak berdiri dengan gagahnya, dengan kaki renggang dan dada menengadah. Wajahnya menjadi semakin cerah, melampaui cerahnya fajar. Sedangkan cahaya merah kebiru-biruan yang menyorot dari matanya yang bulat cemerlang itu menjadi semakin menyala-nyala.

Tiba-tiba Sarayuda yang telah bersiap pula, merasakan keanehan yang ada pada lawannya. Sekarang ia melihat sorot mata yang ajaib. Juga ia semakin merasakan bahwa serangan-serangannya menjadi seolah-olah lenyap tak berbekas. Tetapi akibat dari tanggapannya atas kenyataan yang dihadapinya itu menjadikannya semakin mata gelap. Ia sudah tidak dapat berpikir lain, kecuali membinasakan lawannya. Karena itulah maka tiba-tiba ia berbuat sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, baik oleh Mahesa Jenar, Kanigara maupun gurunya sendiri Ki Ageng Pandan Alas.

Sarayuda yang dibakar oleh api kemarahan yang menyala-nyala di dalam dadanya, tiba-tiba berdiri tegak. Wajahnya terangkat dan matanya menjadi redup setengah terpejam. Ia menyalurkan segala tenaganya dilambari dengan pemusatan pikiran untuk kemudian meletakkan satu tangannya di atas dada, sedangkan tangan lainnya menjulur ke depan lurus-lurus. Itulah suatu sikap untuk melepaskan ilmunya yang dahsyat, ilmu pamungkas Cundha Manik, dari Perguruan Pandan Alas.

Mahesa Jenar pernah menyaksikan kedahsyatan ilmu itu, bahkan ia pernah menempurnya dengan aji Sasra Birawa. Akibatnya adalah mengerikan sekali. Sekarang, beberapa tahun kemudian, pastilah Cunda Manik itu menjadi bertambah dahsyat. Karena itu, ia menjadi pucat, dan melintaslah seleret bayangan yang mengerikan. Sebab bagaimanapun teguhnya ilmu Lembu Sekilan yang belum sempurna itu namun karena nafsu kemarahan yang tidaklah mungkin anak itu dapat bertahan diri terhadap kedahsyatan aji Cunda Manik. Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak mau melihat pembunuhan yang tidak adil hanya karena nafsu kemarahan yang tak terkendalikan.

Dengan demikian ketika ilmu Cunda Manik itu telah terhimpun di dalam tangannya serta ketika dilihatnya Sarayuda telah siap meloncat dan mengayunkan tangannya, Mahesa Jenar pun segera meloncat dengan garangnya menghadang langkah Sarayuda tepat di depan Putut Karang Tunggal dengan satu tangan bersilang di hadapan dadanya, satu tangan terangkat tinggi-tinggi. Sedang sebelah kakinya ditekuknya ke depan, siap untuk melawan Cunda Manik itu dengan ajinya yang telah jauh meningkat, Sasra Birawa.

Dalam pada itu bayangan lain pun telah melontar pula, dekat di sampingnya, juga berusaha berdiri diantara Sarayuda dan Putut Karang Tunggal, bahkan agak lebih cepat sedikit darinya dengan sikap yang sama. Satu tangan bersilang, tangan yang lain terangkat tinggi-tinggi, sedang sebelah kakinya ditekuk ke depan. Itulah Kanigara yang juga berusaha melindungi kemenakannya dengan jenis ilmu yang sama, Sasra Birawa yang sempurna.

Dalam sekejap mata Sarayuda melihat pula kedua orang yang telah berdiri berjajar rapat di hadapan lawannya. Namun segalanya telah terlanjur. Ilmu itu telah terhimpun dan siap dilontarkan.

Karena itu ia menjadi tidak peduli lagi siapakah yang akan binasa karenanya, apakah dirinya sendiri, Putut yang telah dianggap menghinanya, ataukah Mahesa jenar, ataukah orang yang bernama Karang Jati itu. Maka dengan mata yang hampir terpejam ia meloncat dengan dahsyatnya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar dan Kanigara telah mulai menjulurkan kekuatannya lewat sisi telapak tangan untuk menerima aji yang dahsyat itu, kembali mereka dikejutkan oleh bayangan lain yang dengan dahsyatnya mendahului membentur Sarayuda dengan kekuatan yang luar biasa pula. Sehingga terjadilah bentrokan kekuatan yang mengerikan sekali. Akibatnya pun sangat mengejutkan. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dan Kanigara masih sempat mengendorkan diri sehingga mereka pun tidak perlu ikut serta dalam benturan yang terjadi, dan tidak terduga-duga itu.

Sarayuda, karena akibat benturan itu terlempar jauh ke belakang dan terbanting di atas batu karang. Suara tubuhnya ambruk hebat. Dan setelah itu ia sama sekali tidak bergerak lagi.

Sementara itu bayangan yang membenturnya, yang tidak lain adalah gurunya sendiri, Ki Ageng Pandan Alas, segera berlari-lari memburunya, dan langsung berjongkok di sampingnya.

Kanigara, Mahesa Jenar, Karang Tunggal dan Arya Salaka terguncang hatinya. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa akhir peristiwa itu demikian. Benturan langsung antara murid dan gurunya dengan akibat yang tak diduga pula.

Perlahan-lahan mereka berjalan mendekati Ki Ageng Pandan Alas yang duduk tertunduk di samping muridnya. Wajahnya suram sesuram seorang ayah yang kehilangan anaknya tersayang. Bahkan dari mata orang tua itu membayangkan titik-titik air yang berkilat-kilat kena lemparan cahaya matahari pagi.

Dari bibirnya yang bergetaran terdengarlah suaranya yang terputus-putus, Sarayuda... kenapa kau sampai kehilangan akal, sehingga aku terpaksa mencegahmu...? Aku pernah mengharap kau menjadi sambungan yang kuat dari perguruanku. Sekarang....

Wajah orang tua itu menjadi semakin suram. Matanya yang kemudian terangkat dan memandang kepada Mahesa Jenar, Kanigara, Putut Karang Tunggal dan Arya Salaka, yang telah berjongkok pula mengitari tubuh Sarayuda yang gilang-gilang bermandikan cahaya matahari.

Angin pagi yang bertiup lambat seolah-olah ikut serta terbenam dalam duka yang mendalam.

 


332

MEREKA yang berada di tempat itu, merasakan betapa hati orang tua itu terpecah-pecah. Murid utamanya, yang dengan penuh harapan diasuhnya sekuat tenaga, kini terbaring di hadapannya justru karena tangan sendiri.

Anak-anakku sekalian... kata orang tua itu kemudian dengan suara yang dalam, Maafkanlah muridku.

Yang mendengar perkataan itu menjadi semakin terharu. Betapa orang tua itu berhati jantan. Yang melihat masalah di hadapannya dengan jujur meskipun dadanya serasa hancur.

Perlahan-lahan orang itu dengan tangannya yang lemah karena guncangan yang hebat, meraba-raba dada Sarayuda. Tiba-tiba terbersitlah suatu cahaya di matanya. Dengan cepat Ki Ageng Pandan Alas menempelkan telinganya untuk mendengarkan detak jantung muridnya. Dengan suara yang gemetar ia berkata, Anakmas aku masih mendengar jantungnya berdetak.

Tiba-tiba yang mendengar seruan itu, di dalam hatinya timbul pula semacam perasaan gembira, sehingga mereka bergeser setapak maju. Namun sesaat kemudian orang itu kembali menjadi muram. Gumamnya, Tetapi detak jantung itu sudah terlalu lemah. Dan aku bukanlah seorang ahli dalam hal ini.

Tak sepatah katapun yang dapat diucapkan oleh Mahesa Jenar, Kanigara, apalagi Putut Karang Tunggal dan Arya Salaka. Hanya di wajah Karang Tunggal terbayang pula penyesalan yang dalam.

Karena kelakuannyalah maka semua itu terjadi. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa hanya karena ia tidak dapat menahan tertawanya saja, maka ia terpaksa menyaksikan seorang guru dan murid saling berbenturan dan mengakibatkan malapetaka.

Dalam pada itu, Kanigara yang telah agak lama tinggal di bukit Karang Tumaritis, bersama-sama dengan seorang Panembahan yang ahli pula dalam hal pengobatan, sedikit banyak dapat pula melakukannya.

Maka dengan suara yang dalam ia mencoba meminta, Ki Ageng Pandan Alas, kalau memang masih ada detak di dalam dada Sarayuda, ijinkanlah aku mencoba untuk memperlancar jalan darahnya.

Dengan mata yang suram Ki Ageng Pandan Alas memandang Kanigara. Tetapi kemudian ia mengangguk lemah. Segera Kanigara bangkit dan berdiri dengan kaki terbuka di atas tubuh Sarayuda. Perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya untuk menolongnya menyalurkan pernafasan dan peredaran darahnya. Setelah itu, perlahan-lahan pula ia memijit-mijit dada.

Pada saat itulah Ki Ageng Pandan Alas dengan jelas dapat melihat siapakah yang berdiri di hadapannya, yang menamakan dirinya Putut Karang Jati itu. Ia adalah seorang yang bertubuh tegap besar, berwajah bening yang memancarkan kelembutan hati. Karena itulah ia menjadi semakin curiga, bahwa orang itu hanyalah seorang Putut yang sejak semula memang mengabdikan diri pada Panembahan di bukit ini. Dengan tidak sengaja, matanya segera merayapi Putut muda yang baru saja bertempur dengan muridnya. Seorang muda yang memiliki tanda-tanda keajaiban. Juga terhadap anak ini ia selalu bertanya-tanya di dalam hati. Siapakah gerangan mereka itu sebenarnya.

Ketika itu ia melihat Sarayuda mulai dapat menyalurkan nafas perlahan-lahan serta detak jantungnya menjadi semakin lancar pula. Namun demikian apabila ia tidak segera mendapat pertolongan yang semestinya, keadaannya sangat membahayakan.

Karena itulah maka Kanigara berkata, Ki Ageng Pandan Alas, apabila Ki Ageng tidak berkeberatan, perkenankanlah aku membawa murid Ki Ageng ini menghadap Panembahan, supaya ia dapat disembuhkan dari keadaan yang sekarang ini.

Ki Ageng Pandan Alas yang menaruh harapan masa depan perguruannya, sudah tentu menghendaki muridnya dapat disembuhkan. Karena itu dengan senang hati ia menjawab, Anak Putut Karang Jati, aku sangat berterima kasih apabila Panembahan Ismaya berkenan menyembuhkan Sarayuda.

Kemudian oleh persetujuan itu, segera Kanigara mengajak mereka semua untuk menghadap Panembahan. Tetapi tiba-tiba terdengarlah Putut Karang Tunggal berkata, Paman, apakah aku harus ikut menghadap pula? Aku telah menyanggupi Adi Arya untuk membawanya berkeliling bukit kecil ini.

Kanigara melihat ketakutan anak nakal itu terhadap Panembahan Ismaya. Karena itu ia menjawab, Ayolah. Kau jangan berbuat sekehendakmu saja. Arya akan sabar menunggu sampai besok, lusa bahkan seminggu dua minggu lagi. Malahan kaulah yang seharusnya mengangkat tubuh Sarayuda, dan memapahnya menghadap Panembahan.

Karang Tunggal sama sekali tak berani membantah kata-kata pamannya. Dengan dada berdebar-debar ia membungkuk dan mengangkat murid Pandan Alas itu pada kedua tangannya dan membawanya mengikuti pamannya yang berjalan di depan bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Ki Ageng Pandan Alas. Sedang Arya Salaka berjalan dengan kepala tunduk di sampingnya. 

Beratkah tubuh itu Kakang? tanya Arya Salaka.

Dengan tersenyum kecut Karang Tunggal menjawab, Cukupanlah.

Dapatkah aku membantu? sambung Arya.

Sekali lagi Karang Tunggal tersenyum kecut. Tak usahlah.

Setelah itu kembali mereka berdiam diri. Tak seorangpun diantara mereka yang mengucapkan sepatah katapun. Namun di dalam keheningan pagi itu, dada Ki Ageng Pandan Alas masih saja bergejolak. Disamping kecemasannya atas keselamatan muridnya, ia jadi benar-benar berpikir tentang orang yang nenamakan Putut Karang Jati dan Karang Tunggal. Yang paling mengherankan baginya adalah bahwa Karang Jati dalam keadaan yang terjepit, telah menyiapkan pula ilmu yang mirip dengan ilmu Mahesa Jenar yang dahsat peninggalan almarhum sahabatnya, Ki Ageng Pengging Sepuh.

Kedatangan rombongan itu, dengan seorang yang tak sadarkan diri di tangan Putut Karang Tunggal, sangat mengejutkan penghuni padepokan yang damai itu. Para cantrik segera bertanya-tanya di dalam hati, apakah yang telah terjadi, dan siapakah yang pingsan di tangan kepala para cantrik itu. Demikian pula agaknya Panembahan Ismaya. Dengan tergopoh-gopoh ia menerima kedatangan mereka dengan penuh pertanyaan di wajahnya yang lembut.

 


333

SEGERA rombongan itu dipersilakan masuk dan dibaringkannya tubuh Sarayuda di atas sebuah pembaringan kayu.

Panembahan Ismaya melihat keadaan yang mengkhawatirkan. Karena itu ia tidak sempat untuk bertanya-tanya. Tetapi yang mula-mula dilakukan adalah merawat Sarayuda. Beberapa bagian tubuhnya dipijit-pijit serta kemudian dengan hati-hati sekali diminumkannya semangkuk kecil obat cair ke dalam mulut Sarayuda.

Suasana untuk sesaat jadi hening dan tegang. Masing-masing terikat pada keadaan Sarayuda yang masih terbaring diam. Namun nafasnya telah mulai nampak mengalir teratur.

Akhirnya beberapa saat kemudian tubuh itu mulai hangat kembali. Cahaya yang merah perlahan merambat ke wajahnya. Dengan demikian maka keselamatannya semakin dapat diharapkan.

Sejalan dengan itu menjalar pula perasaan syukur di dada Pandan Alas dan semuanya yang menyaksikan. Bahkan Putut Karang Tunggal yang semula menjadi marah kepada Sarayuda, kini dengan penuh harapan mengikuti perkembangan keadaan murid Pandan Alas itu.

Mudah-mudahan Tuhan menyelamatkan jiwanya, guman Panembahan Ismaya. Namun menilik keadaannya ia telah berangsur baik. Nafasnya telah mengalir dengan teratur. Meskipun agaknya untuk beberapa bulan ia harus benar-benar beristirahat untuk segera dapat memulihkan kembali kesehatan serta kekuatan tubuhnya.

Betapa besar terimakasihku kepada Tuhan, yang telah mengampuni jiwa muridku dengan lantaran Panembahan, sahut Ki Ageng Pandan Alas.

Perlahan-lahan Panembahan Ismaya menoleh kepada Ki Ageng Pandan Alas. Untuk beberapa saat ia memperhatikannya lalu kemudian ia bertanya, Siapakah Anakmas yang terluka ini...?
Muridku, Panembahan,
jawab Pandan Alas.

Panembahan Ismaya mengangguk-angguk. Kemudian katanya, Biarlah Anakmas ini beristirahat. Marilah kita duduk di ruang sebelah.

Kemudian ditinggalah Sarayuda seorang diri terbaring. Matanya masih terpejam, tetapi wajahnya sudah nampak merah.

Di ruang sebelah, mulai Panembahan Ismaya bertanya-tanya. Apakah yang sudah terjadi dan siapakah guru dan murid yang belum dikenalnya itu. Maka berceritalah Kebo Kanigara, segala sesuatu yang menyangkut peristiwa itu. Diceritakan pula hubungan antara Mahesa Jenar, Sarayuda dan Pudak Wangi yang dititipkan di padepokan itu oleh Mahesa Jenar setelah ia berhasil menyelamatkannya dari tangan Sima Rodra. Namun Mahesa Jenar sendiri geli mendengar keterangan itu.

Kemudian diceritakan pula bahwa beberapa malam kemudian didengarnya suara tembang yang sebenarnya adalah suara Ki Ageng Pandan Alas, kakek Pudak Wangi yang sedang mencari cucunya.

Dan kemudian tanpa meninggalkan peristiwa yang terkecil pun Kanigara menceritakan pula pertengkaran dan akhirnya perkelahian yang terjadi antara Sarayuda dan Karang Tunggal, sehingga akhirnya guru Sarayuda sendiri terpaksa mencegah muridnya yang akan mempergunakan senjata pamungkasnya yang sangat berbahaya.

Panembahan Ismaya mendengarkan uraian Kebo Kanigara dengan seksama. dan sambil mengerutkan keningnya ia memandang Putut Karang Tunggal dengan penuh penyesalan.

Katanya kemudian, Ki Sanak yang bijaksana, maafkanlah kelakuan orang-orangku yang sama sekali tidak bersikap baik. Untunglah bahwa Ki Ageng Pandan Alas telah mencegahnya. Kalau tidak, barangkali Putut Karang Tunggal akan mengalami cidera karena kenakalannya. Bahkan Ki Ageng telah mengorbankan murid sendiri.

Tak seorang pun yang berani mengangkat wajah. Kanigara, Karang Tunggal maupun Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Apalagi Mahesa Jenar merasa bahwa sumber dari persoalan itu adalah persoalannya dengan Sarayuda.

Apalagi ketika Panembahan Ismaya melanjutkan, Dengan demikian kehadiranmu di tempat itu sama sekali tak berarti Kanigara, bahwa kau tidak dapat mencegah semuanya itu terjadi.
Kanigara menjadi semakin menundukkan wajahnya.

Tetapi akibat kata-kata itu tajam sekali bagi Ki Ageng Pandan Alas yang telah sekian lama berteka-teki tentang orang yang menamakan dirinya Putut Karang Jati itu. Apalagi setelah ia menyaksikannya mempersiapkan aji Sasra Birawa. Dan sekarang ia mendengar Panembahan Ismaya menyebutnya Kanigara.

Segera Pandan Alas teringat seseorang beberapa tahun lampau, pada saat ia masih bergaul dengan sahabatnya Ki Ageng Pengging Sepuh, guru Mahesa Jenar. Ia teringat jelas putra sahabatnya itu yang kemudian menjadi saudara muda seperguruannya sendiri. Bahkan yang memiliki ilmu yang lebih masak daripadanya. Karena ia jarang menjumpainya maka ia tidak begitu mengenalnya. Dan sekarang orang itu ada di depannya. Kanigara. Ya... Kebo Kanigara.

Karena itu tiba-tiba ia menjadi gemetar. Dan dengan suara yang berat ia bertanya, Panembahan, apakah Anakmas Kebo Kanigara putra Pangeran Handayaningrat...?

Pangeran Ismaya mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, Inilah orangnya.

Tiba-tiba Ki Ageng Pandan Alas yang sudah tua itu mengangguk hormat kepada Kanigara sambil berkata, Maafkan Anakmas Kebo Kanigara. Aku agaknya terlalu pikun untuk mengenal sahabat-sahabatku kembali. Agaknya Anakmas terlalu lama meninggalkan ayahanda, sehingga sejak masa hidup ayahanda aku sudah tidak pernah menjumpai Anakmas lagi.

Kanigara membalas hormat pula kepada Pandan Alas. Lalu jawabnya, Kita sudah terlalu lama tidak bertemu, Ki Ageng.
Untunglah...
sambung Pandan Alas, Bahwa aku telah mencegah muridku.
Kalau saja aku terlambat, aku kira muridku itu telah menjadi lumat.


334

KANIGARA mengerutkan keningnya. Juga Panembahan Ismaya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun. Yang terdengar kemudian adalah pertanyaan Ki Ageng Pandan Alas, Aku memang sudah menduga bahwa yang bernama Karang Jati adalah mengandung suatu rahasia meskipun hanya sekadar sebagai suatu olok-olok saja. Namun terhadap Karang Tunggal pun aku curiga pula.

Sekali lagi Panembahan Ismaya dan Kanigara bersama-sama mengernyitkan keningnya. Sedang Karang Tunggal sendiri kemudian menjadi berdebar-debar meskipun baginya sama sekali tak bedanya apakah ia dipanggil Putut Karang Tunggal, Karebet atau Jaka Tingkir.

Ki Ageng... jawab Kebo Kanigara kemudian, Kalau aku menyebut diriku Putut Karang Jati adalah karena aku tinggal bersama-sama Panembahan di bukit ini. Adapun nama itu adalah nama yang aku pergunakan sebagai Putut. Sedang Karang Tunggal pun demikian. Sebagai seorang Putut ia bernama Karang Tunggal. Tetapi apabila Ki Ageng ingin mengetahuinya, aku kira ia tidak keberatan.

Lalu kepada Karang Tunggal ia berkata, Bukankah begitu Karang Tunggal?

Karang Tunggal mengangguk kaku.

Nah, Ki Ageng... Kanigara melanjutkan, Ia adalah seorang Putut yang baik, tetapi ia adalah seorang anak nakal. Senakal ayahnya, yang pasti Ki Ageng pernah mendengarnya.

Ki Ageng Pandan Alas mengangguk-angguk dengan penuh perhatian.

Anak itulah peninggalan adikku, Kebo Kenanga. Namanya Karebet, sambung Kanigara. Dan selama ia tinggal di bukit ini ia mendapat kehormatan untuk menjadi pimpinan para cantrik. Baginya oleh Panembahan Ismaya diberikan nama Putut Karang Tunggal.

Sekali lagi Pandan Alas mengangguk-angguk. Kemudian sahutnya, Pantaslah kalau ia cucu Ki Ageng Pengging Sepuh. Aku melihat keajaiban yang tersembunyi di dalam tubuhnya.

Aku hanya melihat kenakalannya,
potong Panembahan Ismaya. Kenakalan yang aku kira sudah berkurang. Tetapi agaknya pada suatu saat akan dengan mudahnya timbul kembali.

Kembali kepala Karang Tunggal tertunduk. Sindiran yang langsung mengenainya.

Sementara itu tubuh Sarayuda yang terbaring di ruang sebelah ternyata sudah mulai tampak bergerak gerak.

Panembahan Ismaya kemudian bersama dengan mereka yang hadir di ruang itu segera mendekatinya. Dengan hati-hati Panembahan Ismaya meraba tubuh yang sudah semakin segar itu. Dan beberapa saat kemudian Sarayuda dengan lemah membuka matanya. Alangkah gembira hati gurunya. Tidak itu saja. Juga Kanigara, Mahesa Jenar dan lainnya pun bergembira.

Apalagi ketika kemudian dengan sangat perlahan terdengar dari sela-sela bibirnya yang gemetar Sarayuda berkata, Guru....

Segera Ki Ageng Pandan Alas mendekatinya dan mendekatkan kupingnya ke mulut Sarayuda. Aku di sini, Sarayuda... bisiknya.

Sarayuda melihat gurunya membungkukkan kepalanya di hadapan wajahnya. Dengan sayu ia mencoba tersenyum dan melanjutkan kata-katanya, Apakah aku masih hidup...?

Tentu Sarayuda, tentu...
jawab Pandan Alas.

Air... desis Sarayuda.

Belum lagi Pandan Alas melanjutkan permintaan itu, Karang Tunggal telah meloncat untuk mengambil air yang kemudian setetes demi setetes air itu diteteskan ke mulut Sarayuda dan langsung ditelannya.
Dengan tetesan air itu Sarayuda merasa tubuhnya menjadi semakin segar. Karena itulah wajahnya menjadi semakin semringah pula.

Terimakasih, desisnya.

Istirahatlah Anakmas, bisik Panembahan Ismaya.

Mata Sarayuda yang masih redup memandang Panembahan Ismaya dengan herannya. Ia belum pernah mengenalnya. Panembahan tua itu segera mengetahui apa yang terkandung di dalam hatinya. Maka segera ia berkata, Mungkin Anakmas heran melihat kehadiranku di sini. Jangan pikirkan itu dahulu. Beristirahatlah supaya tubuh Anakmas menjadi baik.

Sarayuda kembali mencoba tersenyum. Kemudian matanya beredar kepada Mahesa Jenar, Kanigara, Arya Salaka dan Putut Karang Tunggal. Tetapi wajahnya sama sekali tidak memancarkan perasaan marah dan dendam. Bahkan kemudian kembali ia tersenyum, senyum yang ikhlas. Lalu katanya, Guru, di manakah aku sekarang ini?

Kau berada di Padepokan Karang Tumaritis, Sarayuda. Kau berada di dalam perawatan Panembahan Ismaya ini,
jawab Ki Ageng Pandan Alas.

Ki Ageng Pandan Alas, maafkanlah aku, katanya kemudian.

Jangan berpikir yang aneh-aneh, Sarayuda, potong Pandan Alas. Ikutilah nasehat Panembahan supaya tubuhmu bertambah baik.

Terimakasih,
jawabnya. Aku akan beristirahat sebaik-baiknya. Tetapi aku lebih dahulu akan minta maaf kepada kalian. Pada kesempatan ini. Kepada Ki Ageng, kepada Kakang Mahesa Jenar, kepada Putut Karang Jati, Karang Tunggal, dan Arya Salaka.

Tak ada kesalahan yang kau lakukan Sarayuda. Perbedaan pendapat dan persamaan kepentingan adalah lumrah, sehingga akibat yang timbul karena itu pun lumrah pula,
jawab Ki Ageng Pandan Alas.

 


335

SARAYUDA menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian tubuhnya menjadi bertambah segar. Angin pagi yang perlahan-lahan mengalir, mengusap wajahnya dengan lembut. Aku merasa bahwa apa yang aku lakukan telah melanggar nasehat guru. Karena itulah aku merasa bersalah, kata Sarayuda meneruskan.

Baiklah, jawab gurunya, Aku maafkan kesalahan itu. Dan aku yakin, Sarayuda, bahwa yang lainpun akan memaafkanmu.

Sekali lagi pandangan Sarayuda beredar berkeliling, seolah-olah ia ingin mendapatkan kebenaran kata-kata gurunya.

Mahesa Jenar yang dapat meraba pertanyaan yang terpancar dari mata itu segera berkata, Sarayuda. Marilah kita saling memaafkan. Saling melupakan apa yang pernah kita lakukan. Leburlah semua kesalahan yang ada diantara kita.

Sekali lagi Sarayuda menarik nafas dalam-dalam. Leburlah kesalahan kita. Tetapi persoalan kita belum selesai, sahutnya.

Mereka yang mendengar kata-kata itu, jantungnya bertambah cepat berdenyut. Dalam keadaan yang sedemikian Sarayuda masih mempersoalkan masalah yang rumit itu. Mahesa Jenar dengan demikian menganggap bahwa dalam keadaan yang bagaimanapun Sarayuda akan tetap pada pendiriannya. Maka tiba-tiba runtuhlah hatinya. Ia tidak sampai hati mengecewakan orang yang sedang bertahan terhadap maut.

Bagaimanapun ia mempunyai kepentingan buat diri sendiri, namun Mahesa Jenar adalah seorang yang berhati lembut. Karena itu, ia lebih baik berkorban kepentingan diri, daripada melihat Sarayuda berputus asa, dan seterusnya tidak menghendaki lagi dirinya dapat sembuh kembali dari luka-luka dalamnya itu. Kalau demikian halnya, maka tak ada obat di dunia ini yang mampu menolongnya.

Maka kemudian dengan hati berat dan kata-kata yang bergetar ia berkata, Sarayuda... jangan pikirkan aku lagi. Jagalah ketenteraman hatimu agar kau dapat segera sembuh kembali. Dan apa yang kau idamkan selama ini akan dapat kaucapai. Kelengkapan dari kamuktenmu. Lupakan aku. Aku tidak akan menghalangimu lagi.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, hampir semuanya tersentak. Kanigara, Pandan Alas, Karang Tunggal dan Arya Salaka. Bahkan Panembahan Ismaya pun mengerutkan keningnya pula. Perkataan yang demikian itu sama sekali tidak mereka duga sebelumnya. Meskipun demikian, terutama Pandan Alas merasakan pengaruh kata-kata itu dalam relung hatinya yang paling dalam. Ia menjadi semakin yakin, betapa jernih hati laki-laki itu. Sehingga tiba-tiba terasa di dadanya, sesuatu yang menyumbat pernafasannya.

Tetapi yang lebih terguncang lagi adalah perasaan Sarayuda. Wajahnya segera berubah hebat. Bahkan hampir saja ia mencoba bangun. Untunglah bahwa Panembahan Ismaya segera mencegahnya.

Namun demikian dari matanya memancarlah cahaya yang aneh. Sesaat kemudian setelah hatinya agak teratur iapun berkata, Kakang Mahesa Jenar. Aku bukan bermaksud demikian. Kemudian dengan mata sayu dan kata-kata yang dalam ia meneruskan, Adakah Wilis di sini?.

Tanpa disadari Mahesa Jenar menjawab, Ada Sarayuda. Ia berada di bukit ini.

Wajah Sarayuda menjadi bertambah jernih. Sambungnya, Mahesa Jenar, bolehkan aku bertemu?

Masih di luar sadarnya Mahesa Jenar menjawab, Tentu Sarayuda. Apakah kau ingin menemuinya?
Ya, kalau kau tidak keberatan, tolonglah bawalah ia kemari, sebab aku sama sekali tidak dapat bangun untuk datang kepadanya,
jawabnya kemudian.

Barulah Mahesa Jenar sadar, bahwa ia sendiri tidak tahu di mana Rara Wilis berada. Karena itu ia menjadi kebingungan. Dalam kegelisahannya itu terdengarlah Kanigara menolongnya. Kau tak perlu pergi sendiri Mahesa Jenar, biarlah Widuri menjemputnya.

Terima kasih Kakang,
jawab Mahesa Jenar.

Kemudian berjalanlah Kanigara keluar untuk mencari Widuri.

Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening. Masing-masing terpaku pada masalah yang sulit ini. Masalah yang selalu terulang pada setiap masa dan setiap jaman. Masalah yang tak akan habis-habisnya selama dunia masih terkembang. Selama manusia masih ingin membina hari kemudian sebagai miliknya serta milik anak cucunya.

Demikian Tuhan mengkaruniakan perasaan cinta dan kasih kepada manusia, sebagaimana perasaan cinta dan kasih-Nya yang menjelmakan dunia beserta isinya. Namun sayanglah bahwa manusia kadang-kadang tidak berhasil menanggapi kurnia yang indah itu dengan sewajarnya. Bahkan ada diantara anak manusia yang ingin mengembangkan rasa cinta kasih Tuhannya dengan landasan dendam dan nafsu. Sehingga dengan demikian kaburlah batas antara cinta dan nafsu, antara kasih dan dendam.
Demikianlah untuk sejenak mereka terbenam dalam kesepian. Barulah kemudian Panembahan Ismaya yang bijaksana berkata, Ki Sanak Pandan Alas, Arya Salaka dan Karang Tunggal, marilah kita tinggalkan ruangan ini, biarlah Anakmas Sarayuda beristirahat.

Pandan Alas yang tua itupun segera menangkap maksudnya, sehingga bersama-sama dengan Arya Salaka dan Putut Karang Tunggal, merekapun meninggalkan ruangan itu.

Tinggallah Mahesa Jenar dengan kakunya berdiri disamping pembaringan Sarayuda, yang menenteramkan hatinya dengan memejamkan matanya. Agaknya ada sesuatu yang bergelora didalam dadanya, yang baru akan dikatakannya apabila Wilis telah datang.

Sesaat kemudian, apa yang dinantikan datanglah. Yang mula-mula terdengar adalah suara gadis kecil yang renyah dan bersih, sebersih air yang baru memancar dari sumbernya, Paman, inilah bibi.

Seperti disentakkan Mahesa Jenar memutar tubuhnya, menghadap pintu. Dan apa yang dilihatnya adalah Rara Wilis tidak dalam pakaian seorang laki-laki, tetapi ia telah mengenakan pakaian wanita. Bergetarlah seketika dada Mahesa Jenar oleh perasaan yang menyelip-nyelip tak dapat dikendalikan.