Gajahsora.Ne
NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
326
MENDENGAR kata-kata yang terucapkan oleh mulut Sarayuda itu semuanya jadi
terdiam. Pandan Alas, Mahesa Jenar dan Kanigara seolah-olah terpesona oleh
pancaran perasaan mereka atas peristiwa itu agak berlainan. Pandan Alas, gurunya,
tiba-tiba menjadi berbangga hati melihat ketetapan hati muridnya yang penuh
kejantanan. Wanita bagi seorang laki-laki adalah tidak ubahnya pusaka, yang
kalau perlu rela bertaruh nyawa.
Kanigara dan Mahesa Jenar pun mula-mula mengaguminya. Tetapi kemudian sebagai
laki-laki berhati jantan, tersentuhlah perasaan mereka. Karena itulah maka dada
Mahesa Jenar bergelora hebat. Hampir ia melepaskan, perhitungan untuk memenuhi
kepuasan hatinya. Sedangkan Kanigara menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh
Sarayuda sudah terlalu sukar untuk mendapat perubahan bentuk. Ia sudah bertekad
bulat, apapun yang akan terjadi.
Demikianlah Sarayuda berdiri dengan gagahnya pada kedua kakinya yang kokoh kuat.
Satu tangannya tergantung di sisi tubuhnya, sedang tangannya yang lain melekat
di hulu pedangnya. Dengan suatu keyakinan yang pasti ia menanti akibat dari
kata-katanya.
Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan. Pada saat Mahesa Jenar sedang berjuang
untuk tidak tenggelam dalam arus perasaannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa
lirih tertahan. Alangkah terkejut mereka yang mendengar suara itu. Hampir saja
keempat orang bersama-sama bergerak dalam satu kejapan mata menghadap ke arah
suara itu. Diantara mereka yang mula-mula berteriak adalah Kanigara. Suaranya
lantang mengandung penjelasan, Kau Karang Tunggal.... Agaknya penyakitmu
kambuh lagi. Datanglah kemari.
Mendengar nama itu disebutkan, Mahesa Jenar terkejut pula. Apalagi ketika ia
melihat dua anak muda muncul dari balik gerumbul di sebelah. Anak muda itu
adalah Putut Karang Tunggal dan Arya Salaka. Dengan tunduk ketakutan mereka
berjalan mendekati Kanigara. Sedang tangan Karang Tunggal masih melekat di
mulutnya.
Dengan suara gemetar menahan marah, Kanigara berkata, Apa yang kau lakukan
itu Karang Tunggal? Aku kira kau telah benar-benar sembuh dari penyakitmu.
Melihat sikapmu beberapa bulan terakhir aku sudah senang. Tetapi agaknya kau
belum dapat melupakan kelakuanmu yang keterlaluan itu.
Karang Tunggal dan Arya Salaka masih diam ketakutan. Kemudian terdengarlah
Mahesa Jenar berkata kepada muridnya, Kenapa kau datang kemari Arya...?
Arya Salaka menjadi gemetar. Ia belum melupakan kelakuan gurunya yang tiba-tiba
berubah menjadi kasar setelah mereka berada di dalam goa, tetapi sebelum ia
menjawab, terdengar suara Putut Karang Tunggal menyahut, Adi Arya Salaka
tidak bersalah, Paman. Akulah yang membawanya kemari. Tetapi aku sama sekali
tidak sengaja mengintip pertemuan ini.
Tutup mulutmu! bentak Sarayuda yang hatinya lebih parah dari semuanya. Tidak
hanya Karang Tunggal yang terkejut mendengar bentakan itu, tetapi juga semua
yang hadir. Kanigara yang semula akan marah kepada Karang Tunggal, tiba-tiba
menjadi urung. Sebab bagaimanapun ia sama sekali tidak senang kalau ada orang
yang membentak-bentak kemenakannya itu.
Karang Tunggal ternyata benar-benar mempunyai sifat yang aneh. Kalau mula-mula
Mahesa Jenar melihat sikapnya yang halus sopan itu agaknya seperti apa yang
dimaksud oleh Kanigara sebagai penyakit yang setiap saat dapat kambuh kembali.
Sebab ternyata ketika Sarayuda membentaknya, justru ia mengangkat wajahnya.
Karena itu segera ia tunduk kembali dan dengan sudut matanya ia memandang mata
Kanigara.
Kanigara yang kecewa atas kelancangan Sarayuda, kemudian menjadi acuh tak acuh.
Ia tidak jadi mencegah kemenakannya untuk tidak berbuat yang aneh-aneh. Bahkan
kemudian dengan tidak peduli ia duduk kembali.
Mahesa Jenar mengerti perasaan yang bergetar di dalam hati Kanigara. Karena itu
ia menjadi bertambah gelisah. Jangan-jangan persoalannya menjadi lain. Meskipun
ia juga menyesali tindakan Sarayuda yang berlebihan itu.
Ki Ageng Pandan Alas terkejut pula mendengar Sarayuda membentak Karang Tunggal
justru pada saat orang yang menyebut dirinya Karang Jati, yang pasti mempunyai
hubungan satu sama lain itu sedang marah pula kepada anak muda itu. Ia mengerti
sepenuhnya seperti Mahesa Jenar juga, kenapa Kanigara kemudian menjadi
acuh tak acuh. Karena itu segera ia mencoba mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
Sudahlah Sarayuda. Serahkanlah anak itu kepada yang berwenang. Bukankah
Karang Jati dapat mengajarnya untuk tidak mengganggu kita lagi?
Tetapi agaknya pikiran Sarayuda telah benar-benar kacau. Sebab kemudian ia
menjawab, Putut Karang Jati itu hanya dapat membentak-bentak marah saja,
tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu terhadap orangnya yang sudah berbuat salah.
Bukankah ia mengintip dan kemudian menertawakan aku? Menertawakan kata-kataku...?
Kemudian kepada Kanigara ia berkata, Karang Jati, dapatkah kau sedikit
memberi pelajaran kepada orangmu itu? Atau barangkali kau perlu bantuanku?
Kata-kata itu semakin tidak menyenangkan perasaan Kanigara. Maka dijawabnya
kata-kata Sarayuda dengan berterus terang, Tuan, mula-mula aku marah kepada
anakku. Tetapi aku kecewa kepada sikap Tuan, bahwa Tuan ikut memarahinya.
Sarayuda menjadi tersinggung perasaannya. Ia telah biasa marah kepada setiap
orang yang tidak memenuhi perintahnya, di daerahnya. Karena itu, ketika ia
mendengar jawaban Kanigara yang berterus terang menyesalinya itu, ia sama sekali
tidak mau mendengarkan. Bahkan dengan semakin marah ia berkata, Lalu apa
maumu? Mestikah aku membiarkan anak yang katamu anakmu itu menghina aku?
Menertawakan aku? Baiklah katakan kepadaku bahwa kau tidak mampu mengajarnya.
Dan, katakan pula kepadaku bahwa kau perlu bantuanku untuk mengajarnya. Ayo...
katakan supaya aku tidak kau anggap salah lagi kalau aku mengajarnya sedikit
kesopanan.
327
KANIGARA menganggap bahwa kata-kata Sarayuda itu sudah berlebih-lebihan.
Karena itu bagaimanapun ia menyabarkan diri namun ia menjadi jengkel pula
karenanya. Maka kemudian dijawabnya. Terserahlah kepada Tuan, kalau Tuan
mempunyai waktu untuk mengajarnya. Itu kalau Tuan merasa mampu.
Dada Mahesa Jenar berdesir mendengar jawaban Kanigara, sebab dengan demikian
berarti bahwa ia mengijinkan Karang Tunggal melayani Sarayuda. Bagi Mahesa Jenar
ada dua hal yang menggelisahkan. Pertama, apakah Karang Tunggal tidak akan
mengalami cidera, sebab pada saat itu Sarayuda sedang dalam puncak kemarahannya,
sehingga sulitlah baginya untuk mengendalikan dirinya, meskipun ia hanya
berhadapan dengan anak-anak. Kedua, bagaimanakah pendapat Panembahan Ismaya yang
sama sekali tak menghendaki adanya kekerasan. Apalagi dilakukan oleh seorang
yang selalu berada di dekatnya, Putut Karang Tunggal.
Tetapi ia tidak dapat berpikir lebih jauh, sebab pada saat itu terdengarlah
Sarayuda tertawa, meskipun sama sekali bukan karena perasaan gembira. Di
sela-sela tertawanya ia berkata, Baiklah, sekarang kau yang menghina aku. Kau
sangka aku tidak mampu mengajar anakmu. Meskipun andaikata anakmu kekasih
dewa-dewa.
Tak seorang pun dapat mencegahnya lagi. Ki Ageng Pandan Alas pun tidak. Apalagi
memang orang tua itu tidak berusaha mencegahnya, ketika ia mendengar Kanigara
meragukan kemampuan muridnya. Hanya saja ia selalu waspada, kalau-kalau Sarayuda
akan berbuat keterlaluan terhadap Putut Karang Tunggal.
Dalam pada itu, mula-mula Karang Tunggal menjadi ragu-ragu. Ia tidak mengerti
apa maksud pamannya itu. Sehingga dengan wajah yang bertanya-tanya ia memandang
Kebo Kanigara tanpa berkedip minta penjelasan. Untuk beberapa saat Kanigara
menunggu perkembangan suasana. Ketika ia sudah tahu benar bahwa Ki Ageng Pandan
Alas tidak mencegah muridnya, maka kemudian ia pun mengangguk kecil kepada Putut
Karang Tunggal.
Putut Karang Tunggal tiba-tiba menjadi gembira sekali. Matanya yang bulat
bercahaya itu menjadi berseri-seri. Sejak mengunjungi pamannya di bukit kecil
itu, ia merasa sangat terkekang. Ia mulai dapat melemaskan tulang-tulangnya
ketika ia mendapat kawan bermain, Arya Salaka. Tetapi apa yang dilakukan adalah
sangat terbatas, sekarang ia mendapat kawan bermain. Barangkali dengan orang itu
ia akan dapat bertindak lebih leluasa lagi.
Meskipun demikian dengan tersenyum-senyum ia mengangguk hormat kepada Sarayuda
yang sudah mulai melangkah mendekatinya dengan gigi yang gemeretak dan mulut
terkatup rapat. Tuan, yang dipinggangnya tergantung perguruan Pandan Alas...
perkenankan aku minta maaf. Sebenarnya aku sama sekali tidak bermaksud
menertawakan Tuan. Hanya karena kelakuan Tuan-lah sebenarnya, maka aku tidak
berhasil menahan geli.
Hati Sarayuda yang sedang marah, mendengar kata-kata itu seperti disiram api.
Telinganya seketika menjadi panas, dan bibirnya bergetaran.
Mahesa Jenar tidak menduga sama sekali bahwa Putut Karang Tunggal akan berkata
demikian, sehingga hampir saja ia melangkah maju untuk mencegahnya. Tetapi
diurungkan ketika Kanigara menggamit tangannya sambil menggelengkan kepalanya.
Meskipun demikian hati Mahesa Jenar menjadi
sangat berdebar-debar. Ia telah melihat persoalannya membelok dari arah semula.
Sebab sebelum hal ini terjadi, ia masih dapat mengerti tuntutan perasaan
Sarayuda. Tetapi kemudian agaknya ia sudah dikendalikan oleh nafsu yang terlepas
dari pengamatan pikiran.
Sarayuda yang sudah berada dalam puncak kemarahannya itu, segera meloncat dan menampar mulut Karang Tunggal dengan suatu gerakan yang cepat sekali. Melihat gerak tangan Sarayuda, hati Mahesa Jenar berdesir. Sebab gerakan itu sedemikian cepat sehingga tak mungkin untuk dihindari.
Tetapi apa yang disaksikan sangat mengguncangkan hatinya. Ia melihat pukulan itu
menyambar pipi Karang Tunggal, bahkan ia melihat suatu benturan yang keras.
Namun demikian Karang Tunggal sama sekali tak tergetar. Bahkan dengan suatu
gerak yang cepat pula ia meloncat mundur menjauhi. Juga gerak itu sangat
mengagumkan.
Putut Karang Tunggal dapat bergerak mundur dengan
tangkas, seolah-olah tidak menggerakkan anggota badannya.
Demikian herannya sehingga Mahesa Jenar bergeser
maju selangkah, seolah-olah ia ingin melihat bahwa suatu kenyataan yang aneh
telah terjadi di hadapannya. Agaknya demikian juga Ki Ageng Pandan Alas, yang
memandang perkelahian itu dengan mulut ternganga.
Sarayuda yang sedang terbakar hatinya, tidak
begitu memperhatikan kenyataan yang aneh itu. Bahkan ia menjadi semakin bernafsu
ketika ia merasa serangannya yang pertama itu gagal. Sehingga kemudian ia pun
menyerang lebih dahsyat lagi. Sekarang Putut Karang Tunggal telah siap untuk
menerima serangan Sarayuda, sehingga ia tidak menjadi sasaran saja. Dengan cepat
ia mengelak dan dengan cepat pula ia membalas serangan Sarayuda dengan serangan
yang cepat pula.
Maka sesaat kemudian terjadilah perkelahian yang
sengit. Suatu perkelahian antara dua orang yang memiliki kecepatan bergerak yang
mengagumkan. Seperti apa yang pernah disaksikan oleh Mahesa Jenar, Putut Karang
Tunggal dengan lincahnya menari-nari seperti melihat lawannya dari arah yang
sama sekali tak terduga-duga.
Tetapi Sarayuda bukan anak kecil yang kagum
melihat burung terbang di udara. Ia telah hampir masak dalam ilmunya. Ilmu yang
ditakuti lawan dan disegani kawan. Apalagi ia sendiri telah menempuh pengalaman
luas, sehingga dengan demikian ilmunya menjadi bertambah sempurna. Karena itulah
maka ia sama sekali tidak menjadi bingung. Kemana bayangan Karang Tunggal
meluncur, Sarayuda telah siap untuk menghadapinya.
Bahkan semakin lama serangannya semakin mengerikan. Kalau semula ia masih belum mempergunakan segenap kecakapannya, maka setelah ia bertempur beberapa lama maka dengan sendirinya segenap ilmunya dikerahkannya pula.
328
MESKIPUN demikian apa yang dilakukan
Sarayuda sama sekali bukanlah semacam seseorang yang mengajari sedikit kesopanan
kepada Karang Tunggal. Tetapi benar-benar telah terlibat dalam satu perkelahian
dengan seorang yang sama sekali tidak diduganya akan dapat mengimbanginya dengan
sangat baik.
Karena itu Sarayuda menjadi semakin heran, marah
dan benci bercampur aduk. Ia menjadi heran karena anak itu benar-benar tidak
diduganya mempunyai kemampuan yang sedemikian tinggi. Dan karena itulah ia
menjadi marah sekali. Ia merasa bahwa anak itu dengan sengaja telah menghinanya
dan menariknya ke dalam suatu pertentangan.
Karena itulah maka ia tidak mau lagi mengekang dirinya. Seperti badai yang
dahsyat, serangan Sarayuda kemudian datang bergulung-gulung, mengerikan sekali.
Pandan Alas yang menyaksikan pertempuran itu
dengan mulut ternganga menjadi tersadar, bahwa masalahnya bukanlah masalah
main-main lagi. Seperti Sarayuda, ia pun tidak mengira sama sekali bahwa anak
yang nakal itu dapat bertempur sedemikian gigihnya. Sehingga timbullah suatu
kecurigaan di dalam hatinya, bahwa ia benar-benar hanya seorang Putut yang
mengabdikan hidupnya kepada seorang Panembahan di daerah terasing seperti Karang
Tumaritis, dimana segala sesuatunya lebih diberatkan pada masalah-masalah
rohaniah.
Pandan Alas semakin curiga pula pada orang yang mengaku bernama Karang Jati itu. Kalau saja anaknya dapat berbuat demikian, apakah kira-kira yang dapat dilakukan oleh ayahnya...? Karena itu mau tidak mau Pandan Alas harus mawas diri. Meskipun sebenarnya ia malu mencampuri perkara anak-anak, tetapi siapa tahu kalau masalahnya menjadi berlarut-larut.
Dalam pada itu ia telah hampir melupakan Mahesa
Jenar. Bahwa sebenarnya dengan orang itulah ia berkepentingan, sehingga ia
datang ke padepokan di atas bukit kecil ini.
Sementara itu pertempuran antara Karang Tunggal yang tidak lain adalah Mas Karebet yang juga dikenal dengan nama Jaka Tingkir, yang telah diramalkan oleh seorang Wali yang waskita, Sunan Kalijaba, bahwa kelak akan menduduki tahta kerajaan, melawan murid tertua dan terpercaya dari Perguruan Pandan Alas, yang terkenal sebagai seorang sakti dari Klurak.
Keduanya memiliki pegangan yang kuat serta pengalaman yang luas. Karena itu semakin lama pertempuran itu menjadi semakin dahsyat.
Putut Karang Tunggal tidak lagi nampak sebagai seorang anak muda yang sedang
tumbuh, tetapi ia benar-benar telah siap menjadi seorang laki-laki yang lincah,
tegap, kuat dan perkasa. Sedang lawannya adalah seorang yang telah lama menjadi
seorang ternama, apalagi di daerahnya.
Mahesa Jenar lah yang pada saat itu menjadi
paling gelisah dan bingung. Tidak saja ia kagum atas apa yang dilihatnya pada
Karang Tunggal, tetapi ia bingung pula atas perkembangan masalah yang menjurus
pada hal-hal yang sama sekali tak dikehendaki. Namun ia masih sempat berdiri
keheranan melihat gerak-gerak keturunan dari Perguruan sela seperti yang pernah
dikenalnya dengan baik dan yang telah disaksikan pula sewaktu Karang Tunggal
berlatih dengan Arya Salaka.
Tetapi ketika pertempuran itu menjadi semakin
dahsyat, segera tampaklah berbagai macam ilmu bercampur aduk menjadi satu dan
bersenyawa demikian serasinya, terbayang dalam gerakan Karang Tunggal. Malahan
kadang-kadang tampaklah hal-hal yang tidak mungkin dapat terjadi. Dengan
demikian ia dapat mengetahui bahwa anak itu benar-benar memiliki ilmu yang jauh
lebih lengkap daripada apa yang pernah disaksikan.
Sedangkan yang paling mengherankan adalah, hampir setiap serangan Sarayuda, bagaimanapun tepatnya mengenai sasaran, namun anak itu seolah-olah tidak merasakan sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Ditambah lagi dengan gerak loncatnya yang aneh.
Ketika Sarayuda menyerangnya dengan garang ke
arah kepala, Karang Tunggal terpaksa merendahkan diri, sekaligus ia mendapat
serangan kaki ke arah lambung, dan sekaligus gerak yang aneh, ia dapat melontar
mundur sambil berjongkok. Gerakan ini adalah gerakan yang sulit. Namun anak itu
dapat melakukannya dengan sederhana dan wajar.
Kanigara melihat keheranan yang terbayang di wajah Mahesa Jenar. Meskipun ia
nampaknya masih acuh tak acuh saja, tetapi sebenarnya ia pun mengagumi
kemenakannya itu. Kemenakannya yang nakal dan sulit dikendalikan sehingga ibu
angkatnya Nyi Ageng Tingkir menjadi bersedih atas kelakuannya.
Dengan kegemarannya pergi meninggalkan rumahnya
sampai berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan menyusur hutan dan padang,
bahkan menyepi ke daerah-daerah yang tak pernah dikunjungi manusia, menempuh
daerah-daerah bahaya dan sengaja masuk ke dalam sarang-sarang penjahat, telah
menjadikan Karebet seorang yang benar-benar tertempa lahir dan batin.
Akhirnya Mahesa Jenar tidak tahan lagi untuk
tetap menyaksikan saja keperkasaan Karang Tunggal, sehingga akhirnya ia
perlahan-lahan pergi mendekati Kanigara, untuk menanyakan beberapa hal mengenai
anak yang aneh itu.
Ketika Mahesa Jenar telah berdiri di sampingnya,
dengan mata yang tak berkedip memandang perkelahian itu, Kanigara mengetahui
maksudnya. Maka sebelum Mahesa Jenar bertanya, Kanigara telah berbisik lirih,
Apakah kau menjadi heran?
Mahesa Jenar mengangguk.
Jangan heran... Kanigara melanjutkan,
Meskipun aku sendiri tidak tahu dari mana ia mendapatkannya. Tetapi ia memiliki
ilmu yang disebutnya Lembu Sekilan.
Lembu Sekilan...? ulang Mahesa Jenar. Ilmu yang pernah dimiliki oleh Empu
Mada?
Demikian. Karena itu ia seolah-olah menjadi kebal. Meskipun ilmu itu belum
sempurna. Ia masih dapat dikenai serangan yang cukup tajam dari ilmu yang kuat.
Apalagi ia nanti dapat menyempurnakan ilmu itu. Setidak-tidaknya mendekati apa
yang dimiliki oleh Gajah Mada. Maka ia pun akan menjadi orang yang tak
terkalahkan seperti Gajah Mada.
329
MAHESA JENAR menggeleng-gelengkan kepala. Seorang anak yang masih semuda
itu telah memiliki suatu jenis ilmu yang sudah jarang sekali terdapat diantara
para sakti sekalipun. Karena itulah maka ia melihat serangan Sarayuda yang tepat
dapat mengenainya, tetapi sama sekali tak menggetarkan kulitnya.
Tetapi dengan demikian ia semakin cemas. Untunglah bahwa Sarayuda pun memiliki
ketangkasan yang luar biasa, sehingga Karang Tunggal terlalu sulit untuk
menyentuh kulitnya. Meskipun demikian kemarahan Sarayuda setiap saat menjadi
semakin menyala-nyala. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri, kepada gurunya
dan kepada semua orang yang menyaksikan. Bahwa melawan seorang anak-anak itu
saja ia tak berhasil mengalahkan. Karena itulah maka kemudian ia benar-benar
bertempur dengan seluruh tenaga, kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Ia kini
tidak merasa lagi berkelahi sekadar sebagai suatu pernyataan marah, tetapi ia
telah bertempur benar-benar diantara hidup dan mati.
Itulah sebabnya maka mereka yang menyaksikannya
tidak dapat tetap acuh tak acuh. Kanigara pun kemudian bangkit berdiri, dan
mengikuti jalannya perkelahian dengan seksama.
Tetapi yang beranggapan lain dari semuanya adalah
Arya Salaka. Ia pun menjadi gembira sekali dapat menyaksikan pertempuran yang
dahsyat itu. Meskipun dalam beberapa hal ia menjadi keheran-heranan melihat
gerak-gerak yang belum pernah disaksikan, namun ia dapat mengikuti sebagian
besar dengan baik. Setelah ilmunya sendiri meningkat dengan pesatnya, maka ia
kemudian tidak lagi mengagumi Sarayuda sebagai seorang yang terlalu tangguh.
Sebab apabila gurunya mengijinkan, dalam tingkatannya yang sekarang ia pun
bersedia untuk melawannya, meskipun barangkali tidak sebaik Putut Karang Tunggal.
Karena itu Arya Salaka melihat pertempuran yang
hebat itu dengan bergeser-geser mengikuti setiap geseran titik pertempuran.
Bahkan kadang-kadang ia berlari-lari mengelilingi untuk mengambil sudut
pandangan yang jelas. Karena ia sendiri sering melakukan latihan dengan Karang
Tunggal maka ia dapat melihat betapa berbahayanya gerak serangan yang
dilakukannya. Apalagi ketika pertempuran itu telah berlangsung lama. Tidak hanya
Arya Salaka, tetapi semua yang hadir di sekitar arena pertempuran itu
menyaksikan suatu hal yang tak terduga sebelumnya.
Ketika Sarayuda tidak lagi mengekang dirinya, dan
bertempur dengan segenap tenaganya dan kemampuannya, maka Putut Karang Tunggal
pun menanggapinya. Maka dalam saat-saat terakhir, ternyata ia berhasil mendesak
lawan dengan hebatnya. Gerakannya menjadi semakin cepat dan lincah. Sebaliknya
Sarayuda tenaganya sudah mulai surut setelah diperas habis-habisan.
Kemudian terjadilah hal yang sangat mengejutkan.
Putut Karang Tunggal yang akhirnya juga menjadi kehilangan kesabaran, tiba-tiba
dari matanya yang bulat memancar seolah-olah cahaya merah kebiru-biruan. Cahaya
yang mempunyai pengaruh luar biasa sebagai pancaran gaib yang melontar dari
dalam dirinya. Bersamaan dengan itu geraknya pun menjadi semakin garang sebagai
topan yang mengalir deras dibarengi petir yang menyebar maut.
Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang tua yang
penuh pengalaman dalam perjalanan hidupnya. Banyak hal yang pernah dilihat dan
dirasainya. Hal-hal yang kasar, yang halus, yang kasat mata dan yang tidak.
Itulah sebabnya maka ketika ia melihat sorot mata Putut Karang Tunggal yang
seakan-akan memancarkan cahaya merah kebiru-biruan itu, hatinya tergetar cepat.
Segera ia dapat merasakan suatu kegaiban dari cahaya itu. Apalagi yang
dilihatnya benar-benar suatu hal yang tak mungkin terjadi dalam keadaan yang
wajar.
Seorang anak muda yang memiliki ketangkasan demikian mengagumkan. Tidak saja
melampaui muridnya, namun apabila ia benar-benar marah, ia tidak tahu apa yang
akan terjadi dengan Sarayuda.
Meskipun Pandan Alas belum pernah berkenalan,
apalagi mempelajari semacam ilmu yang dimiliki oleh Putut Karang Tunggal, namun
sebagai seorang yang banyak mengetahui berbagai macam ilmu, ia pun dapat menerka
bahwa ilmu yang dipergunakan Karang Tunggal adalah ilmu yang luar biasa.
Bahkan ia pun telah menduga bahwa Putut Karang
Tunggal memiliki ilmu yang hampir merupakan dongengan, Lembu Sekilan. Sebab
apapun yang dilakukan Sarayuda, dan tampak benar-benar mengena, namun anak itu
seolah-olah sama sekali tak merasakannya. Meskipun dalam beberapa kali, apabila
Sarayuda berhasil melontarkan serangan yang tajam dan sepenuh tenaga, tampak
juga betapa Karang Tunggal bertegang wajah, menerapkan ilmunya dengan sepenuh
usaha.
Dengan demikian Pandan Alas dapat menduga bahwa
ilmu Putut Karang Tunggal itu masih belum sempurna. Tetapi yang pernah
didengarnya, seperti yang pernah didengar oleh hampir semua tokoh-tokoh sakti,
yang mersudi olah jaya kawijaya guna kasantikan, bahwa Lembu Sekilan adalah
salah satu ilmu yang pernah dimiliki Maha Patih Gajah Mada.
Berdasarkan apa yang disaksikan itulah maka akhirnya Pandan Alas merasa bahwa
bagaimanapun hebatnya Sarayuda, namun ia tak akan berhasil menandingi anak muda
yang perkasa dan luar biasa itu. Karena itu ia memutuskan untuk mencegah
Sarayuda bertempur lebih lama lagi. Maka kemudian terdengarlah ia berkata
nyaring, Sarayuda... cukuplah.
330
MAHESA JENAR dan Kanigara terkejut mendengar seruan itu. Namun dalam hati
mereka menaruh hormat kepada orang tua yang bijaksana itu. Kalau semula mereka
menyangka bahwa apabila ada salah mengerti padanya, persoalan pasti akan
berlarut-larut. Tetapi ternyata Pandan Alas telah berbuat suatu hal yang terpuji.
Dengan demikian maka persoalannya akan dapat dibatasi.
Karena itu, Kebo Kanigara yang juga cukup
bijaksana segera memanggil kemenakannya. "Karang Tunggal... sudahlah.
Mintalah maaf kepadanya, supaya kau dibebaskan dari kemarahannya."
Putut Karang Tunggal yang bagaimanapun nakalnya, apalagi pada saat itu, hatinya
sedang dipenuhi oleh perasaan marah, namun benar-benar takut kepada pamannya.
Karena itu dengan sangat kecewa ia terpaksa memenuhi perintahnya. Dengan satu
lontaran mundur yang jauh ia melepaskan diri dari libatan lawannya.
Tetapi tidaklah demikian Sarayuda. Hatinya telah diamuk oleh suatu perasaan yang
tak dapat diurai lagi. Bercampuraduknya segala macam perasaan yang dapat
membakar dadanya. Marah, benci, dendam, dan segala macam. Sehingga dengan
demikian meskipun ia mendengar suara gurunya, namun ia sama sekali tak menaruh
perhatian.
Sebagai seorang yang mempunyai kekuasaan yang cukup besar, ia sama sekali tidak
mau namanya menjadi cacat. Apalagi dalam perkelahian yang memerlukan segenap
pemusatan pikiran dan kekuatan, ia seolah-olah tidak dapat melihat
keajaiban-keajaiban yang dipancarkan lawannya, meskipun dalam beberapa hal ia
merasa heran juga kalau serangan-serangannya seolah tak pernah dapat menyentuh
kulit lawannya. Tetapi justru karena itulah ia menjadi semakin bernafsu,
berjuang mati-matian.
Demikianlah, ketika Sarayuda melihat Putut Karang Tunggal melontarkan diri surut,
ia sama sekali tidak menjauhkan dirinya, bahkan ia pun memburunya dan sekaligus
melontarkan suatu serangan yang dahsyat.
Putut Karang Tunggal tak mengira hal yang demikian itu terjadi. Ia tidak menduga
sama sekali bahwa ia akan mendapat serangan justru pada saat ia mengundurkan
dirinya. Karena itulah ia tidak bersiaga. Ilmunya yang bernama Lembu Sekilan
yang belum sempurna benar itu sudah mulai dikendorkan. Karena itulah maka ketika
ia menerima serangan yang tak diduganya, terasalah seolah-olah sebuah bukit
karang berguguran menimpanya pada saat ia sedang lelap tidur.
Itulah sebabnya, bagaimanapun ia berusaha menerapkan ilmunya Lembu Sekilan,
namun dalam waktu yang mendadak itu tidak banyak berarti. Meskipun berhasil
menolongnya dari cidera, tetapi ia terlempar juga beberapa langkah dan
terbanting jatuh. Ternyata ilmunya itu masih belum mampu bekerja sendiri apabila
sebuah perangsang menyentuhnya.
Semua yang menyaksikan kelakuan Sarayuda itu terkejut. Dada mereka berdebaran,
dan darah mereka seperti berhenti mengalir. Bahkan Kanigara dan Mahesa Jenar
menjadi seolah-olah terpaku di tempatnya dan tidak percaya atas apa yang
dilihatnya. Ki Ageng Pandan Alas pun kemudian sampai terloncat maju, dan dengan
lantangnya berteriak, "Sarayuda... sadarkah kau bahwa kau telah berlaku
kurang bijaksana?"
Sekali lagi Sarayuda tak mau mendengar suara gurunya. Bahkan masih saja ia
meloncat dan menyerang Putut Karang Tunggal yang sedang berusaha untuk bangkit.
Karena itulah maka keadaannya menjadi sangat berbahaya.
Untunglah otaknya cerdas dan cepat. Segera ia menghentikan geraknya. Ia lebih
baik tetap berjongkok, namun dengan sekuat tenaga diterapkannya ilmunya Lembu
Sekilan. Meskipun demikian serangan Sarayuda yang ganas itu menggoncangkan
tubuhnya sehingga hampir saja ia terjatuh kembali.
Pada saat Sarayuda akan mengulangi serangannya kembali, tiba-tiba meloncatlah
bayangan dengan cepat menyerangnya dari lambung. Meskipun kecepatannya tidak
dapat disamakan dengan kecepatan karang Tunggal, namun terasa betapa kuat
serangan itu. Karena itu Sarayuda segera memutar tubuhnya, dan mengurungkan
serangannya atas Putut Karang Tunggal.
Bayangan itu adalah Arya Salaka yang telah memiliki ilmu yang maju dengan
pesatnya. Karena itulah maka sekali lagi Sarayuda terkejut. Anak yang kedua ini
tidak kurang berbahayanya, karena itu ia menghadapinya dengan sepenuh tenaga.
Pada saat itulah Kanigara dikecewakan oleh Sarayuda. Kalau mula-mula ia ingin
mencegah kemenakannya supaya tidak menyelesaikan pertempuran itu, sekarang ia
berpikir sebaliknya. Biarlah anak nakal itu menghajar orang yang sama sekali tak
tahu diri.
Sebaliknya, Mahesa Jenar menjadi terkejut dan cemas melihat Arya Salaka
melibatkan diri dalam perkelahian itu. Namun demikian ia menjadi keheranan juga,
bahwa muridnya itu dapat bertempur demikian baiknya sehingga sama sekali tak
diduganya. Tetapi Arya Salaka tidak perlu berjuang terlalu lama. Sebab pada saat
itu Putut Karang Tunggal telah bersiap kembali. Maka sesaat kemudian
terdengarlah ia berteriak nyaring, "Adi Arya Salaka, minggirlah. Aku tidak
mau diperlakukan demikian. Biarlah kami berhadapan sebagai seorang laki-laki
dengan laki-laki."
Suara Putut Karang Tunggal itu pun mengherankan pula. Getarannya bagaikan
getaran guruh yang menggelegar menggoyangkan bukit-bukit kecil yang bertebaran
di sana-sini. Bahkan suara itu seolah-olah telah mengejutkan matahari yang
sedang tidur dengan nyenyaknya di balik cakrawala. Karena itu, di ujung timur
fajar mulai menjenguk dan melemparkan cahayanya yang kemerahan.
Agak jauh di Padepokan Karang Tumaritis di puncak bukit itu, terdengarlah suara
ayam jantan yang berkokok bersahutan. Seolah-olah mereka sedang membanggakan
diri masing-masing dengan berteriak, Ini dadaku, mana dadamu...?