Gajahsora.Net
NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
321
MAHESA JENAR Jenar masih belum menjawab. Tetapi Kanigara pun tidak
meneruskan kata-katanya. Dengan malasnya ia bangkit dan kemudian berjalan
mondar-mandir. Akhirnya ia berhenti dan memasang telinganya baik-baik.
“Kau mendengar suara tembang?” tiba-tiba ia bertanya.
Mahesa Jenar kemudian mencoba menangkap setiap suara yang menyusup ke dalam
pondok kecil itu. Jawabnya kemudian, “Ya aku dengar. Jauh sekali.”
“Kau tahu tembang apa itu?” tanya Kanigara pula.
Sekali lagi Mahesa Jenar memperhatikan suara lagu yang hanya lamat-lamat sampai.
Ketika ia sudah mendapat suatu kepastian, hatinya menjadi berdebar-debar. “Dandanggula,”
desisnya.
“Ya, Dandanggula,” ulang Kanigara. “Sudah beberapa malam
berturut-turut aku mendengar lagu itu dari arah yang berbeda-beda.”
Tiba-tiba Mahesa Jenar berdiri tegak. Mula-mula ia ragu-ragu untuk mengatakan
sesuatu. Tetapi karena sinar mata Kanigara yang seolah-olah mendesaknya,
akhirnya ia berkata, “Kau kenal orang itu.”
“Ki Ageng Pandan Alas,” jawab Mahesa Jenar.
“Pandan Alas?” tanya Kanigara pula, tetapi ia tidak terkejut. “Aku
kagumi suaranya. Meskipun ia sudah tua, namun suaranya masih mengingatkan aku
kepadanya belasan tahun yang lalu. Ya sahabat ayahku.”
Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.
“Apakah yang dicarinya?” kata Kanigara kosong, meskipun ia sudah mengerti
jawabnya. Sebab ia tahu betul bahwa Pudak Wangi, yang nama sebenarnya Rara Wilis,
adalah cucu orang tua itu.
“Ia pasti mengira bahwa aku masih disini. Dengan demikian ia mengharap aku
datang kepadanya mengembalikan cucunya yang dikiranya benar-benar aku larikan,”
jawab Mahesa Jenar.
Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia bertanya, “Nah terserah
kepadamu. Apakah gadis itu akan kau kembalikan apa tidak.”
“Kenapa baru beberapa hari ini ia datang?” tanya Mahesa Jenar, seolah-olah
kepada dirinya sendiri.
“Mungkin ia menunggu sampai rombongan Sima Rodra itu meninggalkan bukit ini,
setelah mencarimu dengan sia-sia,” jawab Kanigara.
“Tidakkah Kakang menangkap mereka?” tanya Mahesa Jenar pula.
“Aku juga bersembunyi. Panembahan Ismaya tidak mau melihat pertumpahan
darah di atas padepokan Karang Tumaritis,” jawabnya.
Mahesa Jenar tidak bertanya lebih lanjut tentang gerombolan Sima Rodra dan Jaka
Soka.
Pikirannya sedang dikacaukan oleh suara tembang itu. Ia menjadi bimbang, apakah
sebaiknya ia datang menemui atau tidak.
Di dalam kebimbangan itu, ia mendengar suara Dandang Gula itu semakin jelas.
Suara itu tiba-tiba menyusul ke dalam dada Mahesa Jenar, membawa suatu kenangan
pada masa-masa yang silam. Yang mula-mula diingatnya adalah, Ki Ageng Pandan
Alas pernah marah kepadanya ketika ia meninggalkan Rara Wilis tanpa pamit. Ia
tahu betapa sakit hati orang tua itu, oleh tuduhannya yang barangkali sama
sekali tak beralasan tentang cucunya. Tetapi bagaimanapun juga, ia merasa bahwa
tidak enaklah rasanya menerima kemarahan itu.
Didalam kesepian malam itu, semakin mengumandanglah suara Ki Ageng Pandan Alas.
Seorang tokoh sakti sahabat gurunya yang pernah kecewa terhadapnya. Namun
tiba-tiba diingatnya pula, pertama kali ia mendengar suara itu. Pada saat
jiwanya sudah berada di ujung tangan seorang tokoh hitam yang menamakan dirinya
Pasingsingan, yang sebenarnya bernama Umbaran, maka terdengarlah suara itu. Dan
karena suara itu pula agaknya Umbaran mengurungkan niatnya untuk membunuhnya.
Karena itu tiba-tiba terasalah bahwa bagaimanapun juga orang tua itu pernah
menyelamatkannya.
“Aku akan datang kepadanya,” gumamnya seolah-olah belum merupakan suatu
kepastian.
Kanigara tersenyum. “Datanglah. Jangan kau bawa dahulu cucunya. Barangkali
ada beberapa hal yang akan kau bicarakan dengan orang tua itu. Sebab
sepengetahuanku, ada orang ketiga yang berdiri diantara kau dan gadis itu,”
katanya.
Mahesa Jenar memandang Kanigara dengan tajamnya. Ia agak heran mengapa orang itu
mengetahui hampir segala seluk beluk hidupnya.
Tetapi ia tidak bertanya sesuatu ketika dilihatnya Kanigara tersenyum sambil
berkata pula, “Jangan memandang aku begitu tajam. Aku jadi takut karenanya.
Nah, pergilah. Kalau kau tak keberatan aku akan ikut serta.”
“Tidak, sama sekali tak keberatan,” jawab Mahesa Jenar.
“Akulah satu-satunya orang yang berhak jadi wakil orang tuamu,” sambung
Kanigara sambil tertawa pendek.
“Ah...” Mahesa Jenar tidak meneruskan.
“Kenapa kau mengeluh?” tanya Kanigara seperti bersungguh-sungguh.
“Tidak,” sahut Mahesa Jenar. “Suara tertawa Kakang yang lunak itu amat
memusingkan kepalaku.”
Sekali lagi Kanigara tertawa. “Ayolah,” katanya.
322
MEREKA berdua pergi menembus hitam malam ke arah suara Ki Ageng Pandan
Alas yang seolah-olah melingkar-lingkar menyusur lereng-lereng bukit Karang
Tumaritis. Tetapi karena telinga Kanigara dan Mahesa Jenar sedemikian tajamnya,
maka segera mereka mengetahui darimana datangnya sumber suara itu.
Ketika jarak mereka sudah tidak begitu jauh lagi, segera mereka berhenti. Mereka
menunggu sampai Pandan Alas selesai dengan lagunya. Tetapi agaknya orang tua itu
sudah mengetahui kehadirannya, sehingga belum lagi kalimat yang terakhir
diucapkan ia sudah berhenti.
Perlahan-lahan ia bangkit dari tempat duduknya, seonggok batu padas. Sapanya,
Agaknya kau datang juga Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar dan Kanigara bersama-sama berdiri sambil membungkuk hormat.
Sebelum mereka menjawab Pandan Alas meneruskan, Sudah beberapa hari aku
mencarimu dengan caraku ini. Sebab aku yakin bahwa kau sudah mengenal suaraku.
Baru sekarang aku dapat datang Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar. Maafkanlah,
mudah-mudahan aku tidak mengecewakan.
Pandan Alas tertawa pendek. Kemudian iapun duduk pula diatas sebuah batu.
Duduklah, katanya. Mungkin percakapan kita tidak segera selesai.
Mahesa Jenar dan Kanigara pun segera duduk pula di muka orang tua itu. Di dalam
gelap malam, terasalah bahwa Ki Ageng Pandan Alas sedang mencoba mengetahui
siapakah kawan Mahesa Jenar itu. Namun agaknya ia belum mengenalnya sehingga
akhirnya ia bertanya, Mahesa Jenar, tidakkah aku kau perkenalkan dengan
sahabatmu itu?
Mahesa Jenar tersadar dari kekeliruannya. Tetapi sebelum ia menjawab, Kanigara
sudah mendahului. Baiklah aku memperkenalkan diriku Ki Ageng. Aku adalah
salah seorang sahabat Panembahan Ismaya. Namaku Putut Karang Jati.
323
PANDAN ALAS menarik nafas dalam-dalam. Dirinyalah sekarang yang berada
dalam puncak kesulitan. Ia tahu benar hubungan yang belit-membelit antara
satu-satunya cucu yang sangat disayanginya, murid pertama yang dikasihaninya dan
Mahesa Jenar seorang yang dikenal sebagai ksatria yang utama, bahkan yang telah
menyelamatkan cucunya dari tangan Jaka Soka sampai dua kali dalam pengertiannya.
Meskipun ia pernah merasa kecewa terhadap sikap Mahesa Jenar yang perasaannya
mudah patah dalam hubungan itu, namun ia tidak pernah benar-benar marah
dan melepaskan perasaan kagumnya. Tetapi muridnya itupun merupakan harapan masa
datang bagi perguruannya disamping Pudak Wangi sendiri.
Sekarang ia melihat suatu benturan perasaan telah terjadi. Apalagi ketika
tiba-tiba ia mendengar Sarayuda berkata, Guru, apakah Guru sudah menyatakan
kepada Mahesa Jenar, agar Pudak Wangi dikembalikan kepada perguruan Pandan Alas?
Pandan Alas menjadi bingung. Sedang Mahesa Jenar dan Kanigara menjadi tidak
begitu senang melihat sikap itu.
Dalam kecemasannya, kemudian Pandan Alas berkata, Sarayuda, biarlah kita
bicarakan segala sesuatunya dengan baik. Bukankah kita sudah tidak mempunyai
pekerjaan lain?
Tetapi agaknya Sarayuda tidak setuju, jawabnya, Ki Ageng, aku telah terlalu
lama meninggalkan pekerjaanku. Dalam waktu kira-kira satu tahun, aku sudah dua
kali menemui Ki Ageng. Kali ini aku ingin semuanya selesai dengan segera. Supaya
aku dapat segera pula kembali ke Gunung Kidul dengan suatu ketetapan hati.
Aku mengerti Sarayuda, jawab Pandan Alas. Tetapi tidak perlukah kiranya
kalau pembicaran kita inipun menjadi tergesa-gesa. Sebab seandainya kau mundur
satu haripun aku kira tidak begitu besar pengaruhnya.
Sarayuda tidak dapat membantah lagi. Karena itu ia diam, meskipun perasaannya
bergetar terus.
Duduklah Sarayuda... Pandan Alas mempersilahkan.
Dengan gerak kosong Sarayuda duduk pula diantara mereka. Namun tampaklah bahwa
ia gelisah.
Ki Ageng Pandan Alas... kata Mahesa Jenar kemudian, Maafkanlah bahwa
aku tidak dapat mempersilahkan Ki Ageng pada tempat yang lebih baik, sebab
akupun orang asing di sini.
Tidak apalah Mahesa Jenar, sahut Pandan Alas. Tetapi disamping itu terasa
kaki Kanigara menginjak kaki Mahesa Jenar. Katanya, Akulah tuan rumah di sini.
Karena itu kalau tuan-tuan sudi, marilah aku persilahkan singgah di pondokku.
Yang cepat-cepat menjawab adalah Sarayuda, katanya, Terimakasih Putut Karang
Jati, bukankah namamu Putut Karang Jati?
Ya, ya Tuan, jawab Kanigara.
Tak ada bedanya. Di sini atau di pondokmu, sambung Sarayuda.
Pandan Alas yang sedianya akan memenuhi ajakan itu menjdi terdiam. Tetapi
kecemasannya semakin membelit hati. Ia berpikir keras untuk dapat menyelesaikan
masalah cucunya dengan baik, tanpa suatu singgungan perasaan di kedua belah
pihak. Tetapi rasa-rasanya tidaklah mungkin. Meskipun demikian ia harus berusaha.
Ki Ageng... desak Sarayuda kemudian, Marilah kita bicarakan apa yang
seharusnya kita bicarakan, meskipun bagiku tak ada lagi persoalan. Bagiku
hanyalah ada satu permintaan yang aku tujukan kepada yang terhormat, Kakang
Mahesa Jenar, untuk menyerahkan murid perguruan Pandan Alas kepada yang berhak.
Sekali lagi perasaan Ki Ageng Pandan Alas terguncang. Namun iapun menyambung,
Mahesa Jenar, aku belum mendengar jawabmu. Apakah yang akan kau lakukan, setelah
kau berhasil membebaskan cucuku dari tangan Sima Rodra dan Bugel Kaliki?
Tidak demikian Ki Ageng.... Sarayuda menyanggah. Ia merasa bahwa kata-kata
gurunya itu terlalu menguntungkan Mahesa Jenar, sambungnya, Itu terlalu
berlebih-lebihan. Kecuali kalau Ki Ageng bermaksud untuk terlalu berendah diri.
Sebab ketika Mahesa Jenar membawa Pudak Wangi, tak seorangpun dapat menghalangi.
Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki terikat dalam pertempuran dengan Ki Ageng,
sedang janda Sima Rodra muda dan Jaka Soka bertempur melawan aku.
Ki Ageng Pandan Alas menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar adat muridnya.
Sebagai seorang Demang di daerahnya, segala kemauannya hampir tak terbantah.
Mendengar sanggahan muridnya itupun Pandan Alas hanya dapat menarik nafas
dalam-dalam.
Namun dalam pada itu Mahesa Jenar dan Kanigara menjadi semakin tidak senang
terhadap kata-kata Sarayuda, meskipun mereka berdua dapat mengerti sepenuhnya,
bahwa semuanya itu terdorong oleh suatu perasaan ketakutan. Takut akan
kehilangan adik seperguruannya, cucu gurunya. Tetapi bagaimanapun juga hati
Mahesa Jenar menjadi kalut. Kalau Demang yang kaya raya itu tidak dapat dicegah
tindakannya, sehingga ia berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya, maka ia tidak
tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Dengan keadaan yang sekarang, maka Sarayuda bukanlah lawannya. Tetapi kalau
sampai Sarayuda dikalahkannya di hadapan gurunya sendiri, maka akibatnya akan
lain. Ki Ageng Pandan Alas pasti tidak dapat menyaksikan kekalahan muridnya.
Bagaimanapun juga perguruan Pandan Alas pasti mempunyai harga diri. Kalaupun
terjadi demikian, perasaannyapun akan tersayat pula. Sebab terhadap dirinya
sendiri ia tidak dapat mengingkari. Ia tidak ingin melepaskan Pudak Wangi kali
ini.
324
ANGIN malam berhembus lemah. Di langit bintang gemintang gemerlapan tiada
henti-hentinya. Sekali dua kali tampaklah seleret bintang berpindah tempat
menggores langit. Sekejap saja, lalu lenyap terbenam dalam pelukan selembar awan.
Suara jengkerik masih saja bersahutan di sela-sela kemersik daun kering yang
diterbangkan angin pegunungan.
Keempat orang yang duduk saling berhadapan itu untuk beberapa saat saling
berdiam diri. Mereka masing-masing tenggelam dalam angan-angannya sendiri.
Yang mula-mula memecahkan kesepian adalah Sarayuda, Masihkah ada yang kau
nanti Kakang Mahesa Jenar?
Tidak ada, jawab Mahesa Jenar kosong.
Kalau demikian, marilah, serahkan Pudak Wangi kepada gurunya, sahut
Sarayuda.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia menjadi bingung. Tetapi
akhirnya ia berkata kepada Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng, Pudak Wangi adalah
cucu Ki Ageng, dan murid Ki Ageng. Karena itu yang paling berhak menentukan
adalah Ki Ageng sendiri.
Bagus... sahut Sarayuda tiba-tiba, Sekarang kita nantikan putusan Ki
Ageng Pandan Alas.
Pandan Alas menjadi bertambah bingung. Benar-benar ia dihadapkan pada satu
keharusan memilih yang amat sulit, seperti ceritera tentang buah bersayap yang
jatuh dipangkuan seorang gadis. Dimakan bapa mati, tidak dimakan ibu mati.
Tetapi kemudian Pandan Alas menemukan persoalan yang sewajarnya. Karena itu ia
ingin berbicara wajar, tidak dengan aling-aling. Ia tahu benar bahwa masalah
yang dikemukakan Sarayuda pun sebenarnya bukan masalah perguruan, tetapi terlalu
bersifat pribadi.
Maka kemudian ia ingin menerapkan persoalannya pada tempat yang sebenarnya.
Katanya, Anakku berdua. Sarayuda dan Mahesa Jenar. Marilah kita berbicara
antara hati, perasaan dan pikiran. Marilah kita berbicara dengan bahasa yang
sewajarnya. Aku, sebagai seorang yang telah kenyang berjemur panas matahari,
pernah juga merasakan betapa kisruhnya perasaan yang sedang bergulat melawan
pikiran. Nah, kalian berdua, kenapa kalian tidak berterus terang saja, bahwa
kalian berdua sama-sama menghendaki Pudak Wangi, bukan sebagai murid Pandan Alas
tetapi sebagai seorang gadis yang bernama Rara Wilis...?
Kata-kata itu langsung menusuk perasaan Mahesa Jenar dan Sarayuda. Mereka
menjadi terdiam karenanya. Sebab apa yang dikatakan oleh orangtua itu adalah
hakekat dari perasaan mereka masing-masing.
Kanigara yang mendengarkan pembicaraan itu menjadi tersenyum kecil. Ia memuji di
dalam hati kebijaksanaan Ki Ageng Pandan Alas, yang dapat melepaskan diri dari
persoalan yang sulit. Tetapi dengan demikian ada juga bahayanya. Sebab apabila
persoalan mereka menjadi keras, sulitlah dihindarkan. Karena dengan demikian Ki
Ageng Pandan Alas telah menghadapkan kedua orang itu langsung.
Tetapi kemudian Ki Ageng Pandan Alas melengkapi pendapatnya, Anakku berdua...
kalau kalian setuju dengan pendapatku maka keputusan terakhir tidak ada padaku.
Sebab masalahnya bukan masalah antara guru dan murid. Menurutku pendapatku,
keputusan terakhir berada di tangan Wilis sendiri.
Hati Mahesa Jenar dan Sarayuda bergetar bersama-sama. Mereka merasakan kebenaran
kata-kata Pandan Alas. Tetapi dengan demikian Sarayuda merasa aneh terhadap
sikap gurunya. Bagi Pandan Alas, Mahesa Jenar adalah orang lain. Orang yang
dijumpainya di perjalanan hidup tanpa sentuhan-sentuhan tertentu seperti
beribu-ribu orang lainnya. Dirinya adalah murid orang tua itu.
Murid yang sudah bertahun-tahun menyerahkan diri serta masa depannya kepadanya.
Sekarang, dalam persoalan ini, gurunya itu sama sekali tidak memberikan
keuntungan apapun kepadanya. Sebab Ki Ageng Pandan Alas itu seolah-olah sudah
tidak mau turut mencampuri masalah itu.
Karena itu, bagaimanapun juga timbullah suatu tuntutan batin, bahwa seharusnya
gurunya itu berada di pihaknya. Sebab apabila demikian masalahnya akan mudah
sekali. Mahesa Jenar harus mengembalikan Pudak Wangi. Seterusnya Pandan Alas
menyerahkan Pudak Wangi kepadanya.
Tuntutan batin itu sedemikian kuatnya sehingga akhirnya ia tidak dapat
merendamnya lagi. Maka kemudian meledaklah kata-katanya, Ki Ageng Pandan
Alas, sebenarnya Ki Ageng dapat mempermudah persoalan ini. Meskipun apa yang
dikatakan Ki Ageng Pandan Alas itu benar seluruhnya, bahwa hakekatnya,
masalahnya adalah masalah pribadi. Namun keputusan Ki Ageng pun akan merupakan
keputusan yang menentukan. Pudak Wangi tidak akan menanyakan banyak masalah bila
Ki Ageng menjatuhkan keputusan. Sedang Mahesa Jenar pun tidak akan mengganggu
gugat. Dalam segala bentuk.
Dada Kanigara berdesir. Apa yang diduganya agaknya akan menjadi kenyataan.
Sarayuda rupanya sudah terlalu sulit untuk mengendalikan kata-katanya yang
memancarkan kesulitan pula untuk mengendalikan perasaannya. Sedang Mahesa Jenar
sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Meskipun ia tidak begitu senang
mendengar segala-galanya, baik sikap maupun kata-kata Sarayuda. Namun karena ia
mempunyai keyakinan yang semakin teguh tentang dirinya maka dipandangnya
Sarayuda semakin lama semakin bertambah kecil.
Justru karena itulah maka akhirnya ia merasa bahwa ia sama sekali tidak perlu
melayani. Karena itulah maka Mahesa Jenar menjadi semakin tenang.
Sebaliknya, Pandan Alas merasa bahwa Sarayuda telah mendesaknya untuk mengambil
keputusan sesuai dengan kehendaknya sendiri, serta berusaha untuk memaksanya
menyingkirkan Mahesa Jenar dengan kekerasan. Sehingga dengan demikian ia menjadi
semakin cemas.
Apalagi ketika Sarayuda mendesaknya pula, Masih adakah yang meragukan Ki
Ageng...?
325
SARAYUDA.... jawab Ki Ageng Pandan Alas, Kalau demikian maka
soalnya memang sangat sederhana. Tetapi masalahnya lain. Tidak sesederhana itu.
Pudak Wangi adalah seorang seperti kita, mempunyai perasaan. Ia barangkali
memang tidak akan menanyakan dengan hati terbuka. Mungkin ia akan menjalani
keputusan itu hanya sekadar sebagai cucu atau murid yang patuh. Kalau demikian
maka hidup anak itu seterusnya akan menjadi kering tanpa cita-cita dan harapan.
Ia akan menjalani kehidupan ini tanpa hati. Ia akan melihat matahari terbit
seperti memang seharusnya demikian setiap hari, setiap pagi tanpa gairah. Serta
ia akan merasa bahwa purnama di setiap pertengahan bulan itu bukan miliknya
tetapi milik mereka yang berbahagia.
Untuk beberapa saat kemudian mereka kembali terdiam. Kata-kata Pandan Alas
adalah kata-kata yang penuh pengalaman hidup. Penuh pengertian akan harapan,
cita-cita dan cinta.
Namun selanjutnya, cinta Sarayuda ternyata tidak dapat membedakan ujung serta
pangkal.
Demikianlah arus cinta yang bergelora di dalam dada Demang kaya raya itu.
Meskipun kata-kata gurunya itu mula-mula menggetarkan hatinya, namun kemudian
tertindih perasaan itu dengan suatu gelora yang lebih dahsyat.
Kemudian katanya, Ki Ageng, ternyata bijaksana. Aku keberatan kalau
seandainya Adi Pudak Wangi yang harus menentukan, siapakah diantara kita yang
dikehendakinya. Namun demikian seterusnya ia harus mempertimbangkan pula
ketenteraman diri. Karena itulah Pudak Wangi harus menilai, kecuali kenangan
atas masa lalu serta harapan dan cita-cita bagi masa datang. Juga harus
dipertimbangkan apakah kita masing-masing akan dapat melindungi dirinya.
Beberapa titik keringat dingin telah mengalir di
punggung Ki Ageng Pandan Alas. Namun demikian ia merasakan kebenaran kata-kata
Sarayuda sebagai laki-laki, meskipun ia tidak seluruhnya melihat keharusan
penjelasan yang demikian.
Kalau saja Pudak Wangi dapat melihat manfaat dari keunggulan ilmu, maka soalnya
akan dapat dipecahkan dengan cara demikian. Tetapi ia sudah tidak dapat melihat
cara lain, yang harus diyakinkan adalah, bahwa dengan demikian soalnya harus
selesai. Tanpa perasaan dendam dan benci. Karena bagaimanapun, Sarayuda adalah
muridnya. Ia bergaul dengan muridnya itu sejak Sarayuda menjelang dewasa. Ia
telah bekerja keras agar muridnya kelak dapat memanfaatkan ilmu yang diturunkan
itu sebaik-baiknya. Kalau saja muridnya dan Mahesa Jenar dapat menepati cara
penjelasan itu dengan jujur, serta Pudak Wangi menyetujuinya serta melihat
manfaatnya. Tetapi apakah demikian ...?
Dalam saat-saat ia mempertimbangkan segala segi yang mungkin terjadi,
terdengarlah Sarayuda mendesaknya, Bukankah usulku adil?
Ki Ageng Pandan Alas menarik nafas panjang. Ia memandang muridnya dengan tajam,
seolah-olah melihat apakah ia sudah siap. Pada saat-saat terakhir memang ia
selalu menambah beberapa pokok pengetahuan kepada Sarayuda untuk menambah
kekuatannya lahir dan batin. Kalau sampai ditempuh jalan yang dikehendaki,
adakah ia tidak akan memalukan?
Mula-mula ia merasa bahwa Mahesa Jenar yang dilihatnya pada saat ia membebaskan
Pudak Wangi adalah luar biasa. Tetapi kemudian ia mempertimbangkan juga pendapat
Sarayuda.
Meskipun ia tidak menutup mata bahwa sebenarnya Mahesa Jenar telah mencapai
tingkatan yang lebih tinggi, namun benar-benar pada saat itu orang-orang lain
sedang terikat di tempat masing-masing.
Setelah Pandan Alas mempertimbangkan beberapa segi dan kemungkinan, kemudian ia
ingin menawarkan usul Sarayuda kepada Mahesa Jenar dan Pudak Wangi. Mahesa Jenar
sendiri pada saat itu dihinggapi pula oleh berbagai perasaan. Tetapi
bagaimanapun ia harus mengambil suatu ketetapan. Tetapi belum lagi ia dapat
suatu keputusan apapun, terdengarlah Pandan Alas bertanya kepadanya, Anakmas
Mahesa Jenar, bagaimanakah pertimbanganmu atas usul Sarayuda?
Mahesa Jenar membetulkan duduknya. Kemudian dijawabnya perlahan sekali, Ki
Ageng, aku masih menyangsikan apakah seseorang dapat mempengaruhi perasaan yang
paling dalam dengan berkelahi.
Mendengar jawaban itu, Sarayuda terkejut, sehingga ia terloncat berdiri.
Jangan berpura-pura Mahesa Jenar. Kau adalah murid utama almarhum Pangeran
Handayaningrat yang bergelegar Ki Ageng Pengging Sepuh. Buat apa kau berguru
kepadanya kalau kau tidak melihat manfaatnya orang berkelahi?
Sarayuda.... jawab Mahesa Jenar. Aku memang melihat manfaat orang
berkelahi. Aku juga melihat bahwa orang dapat memaksakan kehendaknya dengan
berkelahi. Dengan keunggulan ilmu tata pertempuran. Tetapi manfaat itu hanyalah
manfaat lahiriah. Tetapi katakan kepadaku Sarayuda yang perkasa, dapatkah kau
mengubah ketetapan hati seseorang atau suatu hubungan perasaan dengan
perkelahian? Sarayuda... hubungan yang ada diantara kita adalah hubungan yang
saling bertali. Seandainya, seandainya Sarayuda... Seandainya seseorang terpaksa
memilih salah satu diantara kita karena keunggulannya, tetapi sebenarnya hatinya
terikat kepada yang lain, apa katamu? Aku tidak mau, meskipun kemudian aku
terpilih. Aku tidak mau menerima seseorang hanya ujud jasmaniahnya, tanpa hati
dan perasaan pasrah yang tulus.
Omong kosong! potong Sarayuda. Sejak kapan hatimu menjadi sekecil hati
perempuan? Agaknya kau seorang yang mendamba cinta sebagai mahkota bidadari di
sorga yang mulus tanpa cela. Mahesa Jenar, aku bukan seorang yang cengeng, yang
merajuk dalam bercinta. Sejak dewasa, di pinggangku telah tergantung pedang
perguruan Pandan Alas. Dengan pedang aku mendapat kekuatan di Gunung Kidul.
Sekarang, dengan pedang pula aku ingin melengkapi kamukten-ku. Dengan pedang aku
ingin menemukan cinta.
Suara Sarayuda bergetar seperti guruh yang menggelegar di lereng pegunungan,
berkumandang melingkar-lingkar di lembah-lembah sekitarnya. Kata-kata yang
diucapkan itu adalah tekad yang sudah tak dapat ditawar lagi.
G